[FF Freelance] A Love Poem

tumblr_mtsj1tixcr1sbd8nbo1_500

A Love Poem

by

Aletha

SJ’s Kyuhyun & OC’s Junghyun  ::  PG-15  ::  Vignette  ::  Romance, School Life

Summary: Junghyun tidak pernah bermimpi untuk berpacaran apalagi dekat dengan orang yang disukainya—Cho Kyuhyun. Namun peruntungannya berubah ketika ia iseng menulisi buku novelnya dengan sebuah puisi.

Annyeong^^ FF ini adalah hasil lamunan setelah mewek-mewek baca novel yang ada puisinya /? Terima kasih kepada CSJ ARTwork atas posternya yang cantik. Published too on  FanFiction Herere. Happy Reading^^

.

A Love Poem

.

“Kyaa! Lihat itu Cho Kyu Hyun!”

Aku menoleh cepat begitu mendengar nama itu didengungkan. Kulihat sekelompok siswi berdiri dengan kagum sambil menunjuk-nunjuk ke arah gerbang sekolah. Mereka terus bergumam kegirangan sambil melompat-lompat kecil.

Berisik dan mengganggu pemandangan. Seperti lalat.

Walaupun untuk sekolah kelas elit seperti ini, masih banyak siswa-siswinya yang—bisa dikatakan—over. Kenyataan ini sedikit tidak sesuai dengan yang kubayangkan ketika mau masuk sekolah ini. Aku pikir di sini isinya pria-pria keren dan gadis cantik yang anggun.

Namun aku tidak mau ambil pusing. Sebenarnya wajar saja kalau gadis-gadis itu bertingkah demikian. Siapa yang tidak akan berteriak ditelan kasmaran ketika melihat orang itu. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyu Hyun.

Kyu Hyun. Sebenarnya dulu kami satu SMP, sekelas pula. Tapi aku tidak terlalu dekat dengannya. Tidak kusangka namja itu bisa sepopuler, sekeren, dan setampan ini saat SMA.

Aku menghentikan langkahku dan menerawang ke arah gerbang sekolah. Ya, di sana Kyu Hyun baru tiba. Ia melangkah dirangkul oleh sahabatnya, Arashi—cowok Jepang itu. Mereka mengobrol sambil bersendau gurau, membuat Kyu Hyun menarik bibir dan mengumbar senyumannya.

Sontak saja kerumunan yang bertambah anggotanya itu semakin riuh. Senyuman Kyu Hyun itu memang ‘benar-benar’. Ia bisa membuat seorang gadis mimisan bahkan pingsan karena terpesona.

Dan aku seorang gadis, itu artinya termasuk aku juga.

Ya, aku menyukai namja itu. TAPI aku sama sekali tidak tertarik untuk mengutarakan, apalagi berpacaran dengan Kyu Hyun. Itu mungkin terdengar sedikit melankolis, tetapi percayalah sainganku terlalu berat. Gadis-gadis yang suka berdandan selayaknya model itu kadang kala bisa berubah menjadi gerombolan yakuza ketika ‘mangsa’-nya diganggu.

“Wah! Sunbaenim keren sekali!” pekik seorang adik kelas yang melintas di dekatku.

Aku tersadar dari lamunan pagiku. Aku berdehem lalu segera melanjutkan langkah ke kelas.

.A Love Poem.

Hari ini berjalan biasa-biasa saja, seperti biasanya. Ya, ‘biasa’ adalah nama tengahku. Dan ‘biasa’ juga adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkanku. Hidupku, penampilanku, pertasiku, semua biasa-biasa saja.

Jam pelajaran terakhir kosong karena gurunya sedang ada urusan. Aku hanya bisa memangku kepala di atas meja dengan lesu. Sejarah adalah pelajaran kesukaanku.

Aku mengedarkan pandanganku ke seantero kelas, semua dengan kesibukannya masing-masing. Aku tidak punya teman dekat, dan aku juga bukan tipe komunikatif. Oleh sebab itu aku sangat merasakan kejenuhan di sini.

Akhirnya aku mendorong kursiku ke belakang, lalu keluar dari kelas sambil menjinjing sebuah novel. Aku mendorong pintu perpustakaan dengan tenang, menyapa penjaganya, lalu mengambil posisi di sudut paling pojok ruangan ini. Aku duduk bersandar pada rak buku dan mulai membaca novel itu.

Novel ini bercerita tentang cinta yang tidak sampai karena sahabat tokoh utama menyukai pria yang sama. Aku sudah sampai di pertengahan cerita. Di mana si sahabat ingin menyatakan perasaannya pada si pria, dengan cara meminta dibuatkan puisi oleh si tokoh utama.

Aku membaca puisi indah itu. Begini bunyinya

Sirius, bintang yang paling terang

Menyinari langit malam, menabur keindahan

Dan betapa bersyukurnya aku memiliki mata

Untuk melihatnya di langit sana

Ia memelukku dalam hening

Mengisi kehausan akan cinta

Ia menyapaku dalam gelap

Memberi nyawa akan hidup

Seperti kuncup-kuncup harapan

Yang kutunggu mekarnya

Pabila engkau masih berdiri di sana

Izinkan aku mengatakannya

Tanpa sadar aku membaca ulang puisi itu beberapa kali. Membuatku semakin menghayatinya, menumbuhkan imajinasi dan lukisan-lukisan buram di kepalaku.

Membayangkan isi puisi itu seperti kisah hidupku sendiri, membuat wajahku memanas. Aku menempelkan tangan kananku pada pipi. Hangat, aku memperkirakan semburat merah di sana.

Kudapati diriku sendiri sedang tersenyum sipu. Imajinasiku sudah sampai ke langit ketujuh. Aku membayangkan diriku bersama dengan Kyu Hyun. Tidak seperti ketika ulangan eksakta, kali ini pikiranku bercabang ke mana-mana dengan mudahnya.

Aku tidak bisa menjelaskannya satu-satu. Semua berlalu berganti dengan cepat dan meninggalkan kegembiraan di hatiku. Seperti hujan, belaian asmara itu datang di setiap cipratannya.

Sebuah ide muncul di kepalaku. Bagiku puisi ini belum selesai, dan aku akan melengkapinya.

Segera kukeluarkan bolpoint yang selalu berdiam di saku jasku. Dan karena buku ini milikku sendiri, tanpa ragu aku mengukir sebuah kalimat di atasnya. Kupandangi tulisan hasil karyaku itu dengan bangga.

Pabila engkau masih berdiri di sana

Izinkan aku mengatakannya

Aku suka padamu Cho Kyu Hyun

“Jung Hyun?”

Aku tersentak, terlebih begitu mengenali suara itu. Dengan cepat aku menoleh, mataku langsung menangkap wajah rupawan itu berdiri di ambang rak buku. Aku membeku seketika.

“Sedang apa kau di sini?” ulang namja itu—Cho Kyu Hyun.

Aku mencoba mengembalikan duniaku. Membiarkan jarum jam kembali berputar setelah berhenti sesaat tadi. Kupaksa syaraf-syaraf motorikku untuk bekerja cepat. Aku berdiri dengan gelagapan sambil mengumpulkan udara.

“Ah, K-Kyu Hyun,” aku mengutuk bibirku yang tergagap ketika menghadap pria ini.

“Pak Ketua, ada masalah apa datang ke sini?” tanyaku sambil menjulukinya sesuai pangkat, Ketua OSIS. Setidaknya itu bisa sedikit mencairkan suasana.

Mendengar ucapanku barusan, Kyu Hyun tertawa kecil. Kemudian maju dua langkah lebih dekat. Rasanya aku seperti lilin yang didekati oleh api, meleleh.

Kyu Hyun merentangkan tangannya ke arahku. Dengan sigap aku memundurkan posisiku, debar jantung tidak dapat kuhindari. Namun perkiraanku meleset, dia merentangkan tangannya untuk mengambil sebuah buku di baris rak yang dekat dengan wajahku.

Aku membuang muka, menyembunyikan rasa maluku.

“Buat tugas kimia,” ujar Kyu Hyun sambil tersenyum lagi.

Oh, aku rasa udara di sekitarku terangkat ketika senyuman itu terulum. Gugup, aku langsung angkat bicara, “Ya sudah. Aku mau balik ke kelas.”

Aku segera mengambil langkah. Namun kecerobohanku lagi—dan sungguh bukan kesengajaan—aku menabrak pundak Kyu Hyun. Tanganku yang dari tadi gemetar ikut terkaget. Novelku terjatuh dan bercampur dengan buku-buku yang dibawa Kyu Hyun.

Aku masih menunduk, lalu dengan cepat kusambar sebuah buku dan melangkah pergi ke luar perpustakaan. Aku bisa menghirup udara normal kembali.

Sepanjang perjalanan menuju kelas, aku terus termenung. Aku menghitung berbagai kesalahan yang kubuat tadi. Padahal tadi itu kan kesempatan langka. Bisa bertemu Kyu Hyun empat mata tanpa gangguan gadis-gadis lalat itu.

Sekali lagi aku merasa menyesal, sekaligus senang ketika wajah Kyu Hyun kembali terlintas di pikiranku.

Saat aku sampai, kelas sudah kosong dan bersih. Aku hanya melangkah malas ke mejaku, lalu mengemasi barang-barangku.

“Keasikan baca novel, sampai nggak sadar sudah waktunya pulang,” gerutuku. Kutatap novelku itu sebelum kumasukkan ke dalam tas. Aku mendapati kesan yang sangat berbeda bahkan dari sampulnya. Di sana terdapat gambar bulatan warna-warni dengan rangkaian tertentu serta tulisan besar ‘SENYAWA’. Ini…kimia?!

Saat itu juga kepalaku serasa kejatuhan meteor. INI BUKAN BUKUKU!

Berarti novel yang sudah kutulisi itu sekarang berada di tangan…

Aku mencakar wajahku sambil berteriak histeris. Oke, itu berlebihan. Tanpa sempat berpikir jauh, aku memutar tubuh dan berlari keluar kelas. Harapanku hanya satu, Kyu Hyun tidak membaca tulisan itu.

Namun tampaknya dewi keberuntungan sedang tidak memihakku. Baru saja aku ingin berlari ke perpustakaan, sosok Cho Kyu Hyun sudah berdiri di lorong yang tak jauh dari kelasku. Aku mematung, keringat dingin menetes.

“Oh, Jung Hyun-ah,” kata Kyu Hyun. Kali ini butuh beberapa detik untuk mengatur diriku, terutama mimik wajahku. Aku mengulum senyum kaku. Bola mataku meneliti tiap buku yang ada dalam jinjingan Kyu Hyun.

Itu! Buku bersampul orange-pink itu! Novel menyesatkan yang sudah kutulisi kata-kata terlarang. Kyu Hyun membawanya.

“Mm, buku ini—,” aku tersentak ketika Kyu Hyun mengangkat buku yang sedari tadi kupelototi. Denga cepat aku menyambar buku itu seperti beruang kelaparan.

“I-Ini bukuku,” ucapku. Hening sesaat ketika aku tenggelam dalam rantukanku sendiri. Perlahan aku memberanikan diri untuk menatapnya.

“Kau…kau tidak membacanya, kan?” tanyaku lirih.

Kulihat Kyu Hyun menatapku dengan ekspresi yang tidak dapat ditafsirkan. Aku menunggu dengan debar jantungku yang tidak beraturan.

“Aku baca.”

Seketika itu aku merasa terlempar ke Narnia dengan sebuah ketapel raksasa. Aku tidak bisa berpikir lagi. Otakku seperti bohlam redup yang jatuh, lalu pecah. Situasi ini…tidak bisa kukendalikan.

Dan instingku mengatakan, di saat seperti ini yang bisa kulakukan adalah melarikan diri. Ya, aku berbalik dan memijakkan kakiku ke depan, semakin lama semakin cepat seiring pipiku yang memerah.

“Jung Hyun-ah!” panggil Kyu Hyun, “Aku masih berdiri di sini.”

Apa… Apa dia bilang? Tanpa sadar aku sudah berhenti berlari. Mencoba memastikan telingaku belum bobrok.

“Aku masih berdiri di sini, Jung Hyun-ah,” ulang Kyu Hyun dengan lebih lembut.

Entah mendapat anugrah keberanian dari mana, aku memutar kepalaku, begitu pula tubuhku. Aku menatap Kyu Hyun dari kejauhan. Wajah tampannya, tampak sedikit tegang.

Saat itu juga malaikat-malaikat turun dari singgasana mereka di langit, menghampiriku. Menyayikan lagu-lagu nan indah yang menggema di seluruh dunia. Merayuku, seperti terhipnotis aku mengulang kembali puisi itu.

Pabila engkau masih berdiri di sana

Izinkan aku mengatakannya

“Aku suka padamu Cho Kyuhyun.”

Deg. Deg. Deg.

Saat ini pikiranku berjalan tiga kali lebih lambat dari biasanya. Yang kudengar hanya suara debar jantungku, juga dengungan-dengungan aneh. Sementara Kyu Hyun masih berdiri di sana tanpa reaksi.

Perlahan aku melihat wajah itu semakin dekat. Juga senyuman indah yang terlukis di sana. Tiba-tiba aku merasakan sebuah tarikan yang membawaku ke dalam pelukan Kyu Hyun. Seolah mengerti peta bagian tubuhku, Kyu Hyun mengulurkan tangnnya melingkupi punggung dan kepalaku.

“Aku juga suka padamu, Jung Hyun.”

Ah, ibu…apa ini mimpi? Kalau ini mimpi, aku tidak pernah ingin bangun.

“Aku suka padamu, Jung Hyun, sangat suka,” ulang Kyu Hyun dengan suarnya yang bening.

Saat itu aku menyadari kalau aku sedang terjaga. Ini bukan mimpi, ini kenyataan! Suka cita itu datang mengguyurku seperti ombak senja. Perlahan tanganku menelusuri punggung Kyu Hyun, membalas pelukannya.

Aku suka padamu Cho Kyu Hyun.

END

Eotte?

 

3 thoughts on “[FF Freelance] A Love Poem

  1. Hei demi apapun, ini keberuntungan yang sweet banget !!!! Like it >//<

    Anyeooooonggg salam kenal !!!🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s