You’re My Destiny [Chap3]

youre my destiny

Tittle: You’re My Destiny
Genre : Sad, Romance, School Life, Family
Type : Chaptered
Author : Park Mi-Rin (yongyongri)
Poster and Vid Teaser : Mi-nji Art
Rating : PG -15
Main Cast : Park Jiyeon “Jiyeon T-ara” , Lee Chanhee “Chunji Teen Top” , Lee Donghae “Super Junior”, Kwon Yuri “Yuri Girls Generation”
Support Cast : Lee Ha Yi “Lee Hi”, Bae Suzy “Suzy Miss A”, Kim MyungSoo “L Infinite”, Son Naeun “Naeun A-Pink”
Backsong : A- Pink – NoNoNo, Jessica SNSD – One Person

Prev : Teaser || Chap 1 || Chap 2 ||

Oia, yang mau lihat vid teasernya langsung aja ya here >>>

beri komentar juga buat teasernya😀 kamsa :*

 

***

 

chunji menunduk lemas berjalan masuk kedalam kelas dengan memikul tasnya. ia melemparkan tasnya ke meja dan duduk di kursinya. Ia menoleh ke arah samping dan belum mendapati jiyeon datang pagi itu. chunji membenamkan wajahnya di lipatan kedua tangannya dan kembali terbayang-bayang masa lalunya.

 

*flashback*

“gendut…gendutt … Gendutt”ejek sekumpulan anak kecil pada seorang gadis manis di hadapannya.

“yakh!! Aku tidak gendut!!”ucap gadis perempuan itu.

“jiyeon gendut..jiyeon gendut..”

“sudah ku bilang! Aku tidak gendut!!!”anak gadis itu tetap merengek.

“kau benar, dia benar-benar gendut!!! Ahahha”teriak salah satu anak lelaki lagi yang duduk tepat didepan jiyeon.

“chunji? Aku tidak gendut!!!”ucap jiyeon mulai meneteskan airmatanya karna terus saja di ejek-ejek oleh teman-temannya.

“okh?”ucap chunji mulai terlihat takut.

“yakh! !  Chunji!  Kau membuatnya menangis”tuduh semua teman-temannya.

“kenapa aku? Bukankah kalian yang mengejeknya?”ucap chunji mengelak.

“nappeun..”ucap jiyeon berlari keluar dari kelas.

“aigoo, cepat kejar dia dan minta maaf padanya!”ujar teman-temannya.

 

Tanpa banyak berfikir chunji pun mengejar jiyeon dengan rasa bersalah. Chunji mendapati jiyeon tengah duduk dibawah arena bermain tengah menekuk badannya dan terus terisak.

 

“mianhae~”ucap chunji yang seketika membuat suara isakan itu berhenti.

Chunji duduk dihadapannya, dan gadis manis itupun mulai keluar dari persembunyiannya.

“aku menyesal. Mianhae~”

namun jiyeon tetap saja diam dan terus memandangi chunji dengan tatapan bencinya.

“arra… Aku jahat. kau? Kau sebenarnya tidaklah gendut. Jeonmal? Kau adalah wanita tercantik di sekolah ini”ucap chunji membuat jiyeon tercengang.

“kau bohong…”

“anyii, jinjja anyii. Aku berkata jujur”

“jinjja?”

“hm”ucap chunji mengangguk.

“kau tak membohongiku?”

“hm”ucap chunji menggelengkan kepalanya.

“gumawo~”ucap jiyeon yang melepas pita di rambutnya dan memberikannya pada chunji.

“ige mwoya?”

“annyeong”ucap jiyeon yang mencium pipi chunji lalu berlari pergi.

 

Chunji yang syok hanya terdiam memegangi pipinya mulai tersenyum merasakan hal yang baru saja ia alami.

 

*endflashback*

 

“ahh jinjja! Dasar gendut! Tak berguna ahhh!! Memalukan!”ucap chunji yang mengacak-acak rambutnya.

“okh?”ucap jiyeon yang baru saja datang terkejut saat mendengar ucapan chunji. “memalukan? Apa …”

“ahh, bukan kau!”ucap chunji cuek dan kembali bersembunyi pada lipatan tangannya.

 

***

 

Saat istirahat sekolah jiyeon berjalan di lorong penyimpanan atau loker sekolah. Ia berhenti tepat dimana loker chunji berada. Ia tersenyum dengan hanya memandangi loker chunji.

 

“kenapa kau begitu punya sikap yang menyebalkan? Kau selalu membuatku bergetar namun tiap melihat sikapmu? Ahh aku merasa dunia benar-benar tak adil padaku!”ucap jiyeon bicara pada loker chunji.

 

Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari jas yang dipakainya. Membuka loker chunji dan meletakkannya disana.

 

“terima kasih telah menolongku!”ucap jiyeon memandangi sejenak kotak yang diletakkannya tadi.

 

Ia menutup loker tersebut namun di lain tempat chunji melihat hal tersebut. Awalnya ia tersenyum dan merasa senang, namun perasaannya berubah menjadi bimbang saat melihat kedua bodyguard yang tak jauh dari tempat jiyeon.

 

“kenapa kita harus memiliki perbedaan yang begitu jauh?”ucap chunji.

 

Chunji seperti itu karna ia benar-benar merasa trauma dengan apa yang pernah dialami oleh ayahnya.

 

*flashback*

yuri yang sedang berpakaian koki kini tengah asik membuat kue dan tak jauh dari sana seorang donghae memperhatikannya sambil tersenyum.

 

“aku melihatmu donghae~a! Jangan menatapku seperti itu”

“aku ketahuan..”ucap donghae kembali pada pekerjaannya.

“kau selalu ketahuan! Karna kau benar-benar mudah di tebak!”ejek yuri.

“anyi! kau hanya terlalu mencintaiku itulah kau seperti itu!”ucap donghae dengan pedenya.

“donghae Lee and Yuri Kwon! Silent Please!”ucap seorang koki yang tak lain adalah seorang guru mereka.

 

Donghae dan yuri saat itu sedang belajar disebuah sekolah koki yang khusus untuk cake di perancis. Mereka adalah sepasang kekasih sejak SMA dan memutuskan melanjutkan kuliah bersama di perancis. sebenarnya donghae lah yang menyusul yuri kesana. Yuri yang awalnya tertarik pada bidang fashion memutuskan berhenti dan memasuki sekolah yang sama dengan donghae saat mengetahui donghae memasuki sekolah cake di perancis.

 

Hal itulah awal kehancuran dari hubungan mereka, dimana saat ayah yuri mengetahui karna donghae yang berlatar belakang keluarga yang tak sama dengannya lah yuri keluar dari fashion. Ayahnya marah besar, bukan karna yuri berpindah kuliah tapi karna yuri memilih donghae sebagai orang yang dicintainya.

 

Sebulan sebelum kelulusan mereka, ayah yuri mengetahui hubungan mereka semakin dekat dan mereka bahkan tinggal bersama. Ayah yuri semakin marah dan mengecam donghae untuk menjauhi yuri kalau tidak ia takkan pernah melihat yuri lagi.

 

Hal itu membuat donghae sangat frustasi dan mulai menjauhi yuri. Yuri yang tak tau apa-apa merasa begitu frustasi ketika donghae begitu saja meninggalkannya. Namun entah mengapa Donghae kembali pada Yuri setelah seminggu kepergiannya dan berjanji takkan pernah meninggalkan Yuri dan menyerah pada hubungan mereka. Tapi apalah gunanya, Yuri bertunangan dengan Park Jung Soo sehari sebelum donghae datang menemuinya. Yuri tak menyerah dan akan membatalkan pertunangan itu bagaimana pun caranya tapi donghae merasa takdirnya dengan Yuri telah berubah dan tak mungkin dipertahankan.

 

“Donghae~a, aku sudah pulang. Kau dimana?” Tanya Yuri yang baru saja pulang.

“Kita sudah berakhir?!” Ucap Donghae yang membuat hati Yuri saat itu seakan hancur berkeping-keping.

 

Kakinya melemas, badanya seakan tak bertulang mendengar ucapan singkat Donghae yang begitu menyakitkan. Donghae keluar dari rumah dan meninggalkan Yuri begitu saja tanpa penjelasan apapun.

 

“wae???”Teriak Yuri saat berusaha mengejar Donghae.

“Begitulah, terkadang orang akan merasa bosan dengan suatu hubungan” Ucap Donghae tanpa berbalik menatap Yuri.

“Berbaliklah! Dan katakan! Kau bilang takkan menyerah sampai akhir tapi apa?”

“Itu hanya kata-kata yang bisa berubah kapanpun!”Ucap Donghae yang semakin membuat Yuri semakin hancur.

“Donghae~a, ini benar-benar bukan dirimu!”

“Lalu bagaimana perasaanmu saat kau mengenakan cincin itu! Melepaskan cincin dariku dan lebih memilih cincin berlian yang di berikan tunanganmu yang kaya raya itu!” Ucap donghae dengan nada emosi berbalik menatap Yuri dengan airmata yang tengah berlinang deras dipelupuk matanya. “Kita baru berpisah seminggu untuk menenangkan diri masing-masing kau sudah bertunangan dengan orang lain! Kau tau! Aku bahkan tak bisa makan selama seminggu itu!”

“aku juga Donghae~a. Aku hampir mati tanpamu!”

“Jangan berbicara lagi! Jangan muncul dihadapanku lagi”

“Kenapa kau berkata seperti itu!”

“Baru seminggu? Kau sudah bertunangan. Bagaimana jika kau berkuliah lagi di bidang Fashion? Aku harus menunggumu selama bertahun-tahun? mungkin kau bahkan sudah memiliki anak!”

 

~plakkk

Tangan Yuri melayang keras kepipi Donghae. Donghae menunduk, dadanya sesak. Sedangkan Yuri memandangi tangannya yang baru saja menampar Donghae. Ia terjatuh ke tanah. Tubuhnya kembali melemas airmatanya semakin tumpah ruah.

 

“wae? Kenapa kau seperti ini?” Ucap Yuri bangkit dan berlari menjauh dari tempat Donghae.

 

Dan saat itulah Donghae dan Yuri terakhir bertemu.

 

*endflashback*

 

Chunji berjalan menuju lokernya dan membuka kotak kecil yang diletakkan oleh jiyeon. Terdapat sebuah jam mewah disana sesuai dengan style yang biasa dipakai oleh Chunji.

 

“Barang mewah? Apa mengekspresikan sesuatu hanya dengan barang mewah?” Ucap Chunji terlihat sedikit kecewa dengan hadiah yang diberikan Jiyeon.

 

Chunji masih memandangi kotak tersebut namun Suzy datang menghampirinya, dengan cepat ia menutup loker miliknya.

 

“wae?”

“Kau di panggil oleh Kangin Songsaenim! Palliwa! Kurasa kau akan habis kali ini. Yakh! Ketua kelas? Kenapa belakangan ini kau selalu saja bolos sekolah?” Omel Suzy.

“Suzy~a! Bukan urusanmu!” Ucap Chunji mengacak-acak rambut Suzy.

“yakh!!! Anak itu! Apa dia tidak tau bahwa mengacak rambut wanita itu adalah hal yang paling menyebalkan!”

 

Chunji berjalan menuju ruang guru untuk menemui Kangin songsaenim. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, bahwa hukuman itu akan datang kapan saja.

 

“Kau taukan apa yang kau lakukan?”Tanya Kangin songsaenim ketika Chunji baru saja membungkukkan badannya memberi salam.

“Ne, saem”

“Kau tau hukumanmu?”

“nde saem”

“baguslah! Saat bel berbunyi nikmatilah bolos sekolahmu di depan kelasmu! Kau mengerti? tetap disana sampai aku menyuruhmu pulang!”

“nde saem..”Ucap Chunji membungkuk lagi dan berjalan menuju kelasnya.

 

Bel berbunyi dan seluruh siswa memasuki kelas masing-masing tapi tidak dengan Chunji yang duduk di depan kelas sambil mengangkat tangannya akibat perbuatannya bolos sekolah dan juga bolos saat pelajaran Kangin Songsaenim.

 

Jiyeon melirik ke bangku sebelahnya yang masih kosong dengan beribu pertanyaan. Ia merasa tak tenang dan bangkit dari bangkunya dan ijin keluar dari kelas. Kagetnya dia saat melihat Chunji tengah duduk sambil menutup matanya dengan kedua tangan yang terangkat ke atas. Ia jongkok didepan wajah Chunji yang tengah terpejam.

 

“Yakh!! Lee Chunji! Ige mwoya?”

“ahh! Jinjja!” Ucap Chunji sedikit kaget dengan munculnya Jiyeon dihadapannya.

 

Chunji kembali menutup matanya dan menyuruh Jiyeon untuk kembali ke kelas.

 

“Masuklah!” Ucap Chunji.

“Kau menyuruhku? Anyi! Aku akan pergi keruang guru”

Chunji spontan membuka matanya dan menatap Jiyeon. “Yakh!! Apa yang kau lakukan di..!”

“Bukan urusanmu” Balas Jiyeon mengulurkan lidahnya ke arah Chunji.

“Ahh, jinjja!”

 

Jiyeon pun menarik nafas panjang saat melangkahkan kakinya memasuki ruang guru untuk mengakui kesalahannya sendiri pada Kangin songsaenim.

 

“Anak baru!” Panggil Kangin Songsaenim yang melihat Jiyeon berjalan ke arahnya.

“Saem!”

“Ada apa kau datang menemuiku di waktu belajar?”

“Hm.. Saem aku telah kabur dari sekolah kemarin!” Ucap Jiyeon mengakui kesalahannya.

“Mwo?” Ucap Kangin Songsaenim terkejut dengan pengakuan Jiyeon. “Yakh!! Kemarin bukankah sudah diselesaikan oleh Bodyguard-budyguardmu itu? Kau sakit jadi kau ijin pulang lebih awal” Bisik Kangin songsaenim agar tak terdengar guru-guru lain.

“Anyi! Aku melompat pagar di belakang sekolah” Ucap Jiyeon dengan polosnya.

“ehh?? Lupakan saja! Anggap saja aku tak pernah mendengar ucapanmu itu!”

“Saemm!!!” Teriak Jiyeon yang membuat yang ada di ruang guru melirik ke arah mereka.

“Aigoo, Jinjja! Baiklah! Cepat kelorong kelas dan angkat kedua tanganmu sampai pulang sekolah nanti! Kau mengerti?” Ucap Kangin yang mulai frustasi.

“Ahh? Benarkah? Kamsa hamnida saemm”

“Kau berterima kasih? Kau benar-benar sudah gila”

“hm..”

“aigoo…”

“saem yang terbaik!!” Ucap Jiyeon memberi salam hendak keluar dari ruang guru. “Oia, saem. Kau suka sepatu bermerk?” Bisik Jiyeon kembali mendekat ke Kangin songsaenim.

“Tentu saja! Aku punya banyak”

“Benarkah? Tapi kurasa yang saem kenakan saat ini sudah ketinggalan mode” Ejek Jiyeon.

“Anyii!! Tau apa kau tentang fashion!”

“Besok! Aku akan menunjukkan betapa hebatnya aku dibidang itu!” Ucap Jiyeon.

“Ahh, anak ini!”

“Annyeong saemm”Ucap Jiyeon keluar dari ruang guru.

 

Beberapa menit kemudian Jiyeon datang dan duduk di sebelah Chunji. Chunji yang merasa seseorang disebelahnya pun membuka matanya dan mendapati Jiyeon tengah tersenyum padanya.

 

“Annyeong”

“AHH!! Kau!!”

“Aku juga dihukum!” Ucap Jiyeon mengedip-ngedipkan matanya.

“Mwo?”

“Hm, Karna memanjat pagar dibelakang sekolah!”Ucap Jiyeon kembali tersenyum.

“Ahhh”Keluh Chunji menghela nafas panjang.

“hm…lalu? Apa yang harus kita lakukan sampai hukuman selesai?”

“Yakh! Naikkan tanganmu!”Perintah Chunji saat melihat jiyeon hanya duduk dan bermain dengan ponselnya.

“Pabo~ya!”

“Mworago?”

“Apa yang kau lakukan? Ahh! Kangin Songsaenim takkan melihat jadi tidak usah menaikkan tanganmu bodoh!”Ejek Jiyeon meraih dangan Chunji dan menurunkannya.

“Kita pasti katauan nanti!”Omel Chunji kembali menaikkan tangannya.

“Takkan! Bodyguardku akan mengawasi Kangin songsaenim”

“Aigoo…”

 

Chunji hanya pasrah menurunkan tangannya dan mengikuti ide gila Jiyeon.

 

“okh? Benar?”

“mwo?”Tanya Chunji.

“Ini..”Ucap Jiyeon mengeluarkan beberapa makanan dari saku jasnya.

“Sejak pagi kau pasti belum makan jadi makanlah, waktu istirahat aku tak melihatmu dikantin”Ucap Jiyeon sambil tersenyum.

“aku kenyang”Ucap Chunji dan disaat bersamaan perutnya malah berbunyi.

“okh?”

“ahh jinjja!”

“Anggaplah aku tak mendengarnya”

“ye?”

“Makanlah”Ucap Jiyeon mendorong makanan lebih dekat ke Chunji.

 

Jiyeon bahkan membukakan Roti dan memberinya pada Chunji. Dengan membuang rasa malunya Chunji menerima roti pemberian Jiyeon. Saat Roti itu masuk ke mulut Chunji senyum diwajahnya benar-benar terlukis dengan baik, saat Chunji tersedak Ia juga tak lupa mengeluarkan sekotak susu dari sakunya dan ia berikan pada chunji.

 

“Apa jasmu itu seperti kantong doraemon?” Tanya Chunji.

“ye?”

“Doraemon? Anyi!? Ini lebih ajaib dari kantong seorang Doraemon”Ucap Jiyeon sambil terus cengengesan di depan Chunji.

“Lalu, apa kau dihukum juga untuk pelayanan siswa?”Tanya Chunji.

“Ye? Apa kau juga di hukum?”

“hm, 7 hari”

“7 hari? Huaahh”

“wae? Apa kau hanya 1 hari saja?”

“Ye? Aku juga seminggu”Ucap Jiyeon sambil tersenyum bodoh padahal dia hanya di hukun untuk duduk dan mengangkat tangan dan tak ada pelayanan siswa.

“kira-kira kesalahan apa yang harus ku buat agar aku bisa di hukum pelayanan umum selama 1 minggu?”Pikir Jiyeon sambil terus bermain dengan ponselnya.

 

Sejak tadi otaknya terus ia paksa untuk mencari akal namun tak kunjung memunculkan sebuah idepun karna ia sama sekali belum tau apa saja hukuman yang di terima di sekolah ini. Chunji hanya diam menatap Jiyeon yang tengah bermain game dengan smartphonenya namun terus melihat ke arah lain.

 

“yakh!”

“okh?”Ucap Jiyeon kaget spontan melihat ke arah Chunji.

“Waeyo?”

“Aniyo”Ucap Jiyeon cuek dan kembali berkutat dengan ponselnya. “membosankan!”keluhnya lagi.

 

Dan kali ini Chunji tetap dengan posisinya yang memejamkan matanya dengan kedua tangan yang ia lipat satu sama lain.

 

“Dia tertidur?”Ucap Jiyeon memandangi wajah Chunji sambil tersenyum menikmati moment langkah ini. “Melihatmu seperti ini ahh membuatku benar-benar merasa lega dan bahagia”Ucap Jiyeon dalam hati. “Aigoo! Kenapa datang saat seperti ini!”Omel Jiyeon yang masih ingin memandangi wajah Chunji yang terpejam namun bodyguardnya sudah memberi isyarat jika kangin songsaenim tengah berjalan ke arah mereka. “Irona”Ucap Jiyeon yang langsung memegang tangan Chunji dan Ia arahkan ke udara.

 

Chunji hanya dapat berkedip saat itu terjadi dan terus memandangi wajah Jiyeon dengan jelas dan amat dekat. Entah mengapa ia terus merasakan hal aneh saat itu.

 

“Bersikaplah seakan kau kelelahan”Ucap Jiyeon.

“Apa lagi sekarang?”Ucap Chunji dalam hati.

 

Yang benar saja Kangin Songsaenim kini tengah berjalan menuju tempat dimana Chunji dan Jiyeon dihukum.

 

“Yakh! Anak nakal! Apa kau menyesali perbuatan kalian”Tanya Kangin Songsaenim.

“Nde”Ucap Jiyeon bersemangat.

 

Jiyeon melirik ke arah Chunji yang sama sekali tak menjawab.

 

“Yakh! jawablah!”Bisik Jiyeon namun Chunji malah hanya mengangguk. “ahh Jinjja!”Keluh Jiyeon kesal.

“Yakh! Anak-anak cepat tulis surat penyesalan dan kembali kekelas”Ucap Kangin songsaenim.

 

Jiyeon bangkit dan hendak berjalan memasuki kelas. Chunji yang baru saja akan mengikuti Jiyeon dihalang oleh Kangin songsaenim dan menyuruhnya kembali duduk. Jiyeon menengok dan menatap tajam Kangin Songsaenim.

 

“Waeyo, Saem?”Tanya Jiyeon.

“Kau masuklah ke kelas!”Perintah kangin songsaenim.

“Shiroe!!!” Ucap Jiyeon yang sekarang duduk menaikkan tangannya di samping Chunji.

“Ahh Jinjja!!!”

“Masuklah!”Pinta Chunji.

“Shiroe! Kalau kau masuk ke kelas bersamaku, aku akan masuk. Tapi jika tidak aku akan tetap disini”

“Jiyeon~a”

“Shireo!!!”

“AHh, Kalau begitu cepatlah kalian masuk! Kau juga!”perintah Kangin songsaenim.

 

Jiyeon tersenyum tapi Chunji malah terlihat kesal dan masuk kelas meninggalkan Jiyeon lebih dulu. Jiyeon yang mendapat perlakuan itu hanya bisa menunduk memandangi Chunjiyang pergi begitu saja.

 

“Menyebalkan!!!”

 

***

Mood Jiyeon bertambah parah saat pulang sekolah, kakinya terasa sakit karna selama berjam-jam tadi duduk di hokum oleh Kangin songsaenim.

 

“Bahkan aku membiarkan kakiku sakit tapi dia masih cuek padaku? Benar-benar!! ahhh” Ucap Jiyeon kesal berjalan menuju mobil, dan kali ini lagi-lagi bodyguard yang berdiri membukakan pintu mobil menjadi sasaran tendangan kaki Jiyeon.

 

Sesampainya di rumahnya, Jiyeon keluar dari mobil menenteng tasnya memasuki rumah yang bisa di sebut sebagai istana itu. Jiyeon melemparkan tasnya kelantai begitu saja, dan disana pelayan dengan setia memungutnya dan mengikuti jiyeon berjalan menuju kamarnya.

 

“Putriku” Terdengar suara yang tak asing yang membuat Jiyeon spontan menengok kebelakang.

“Eomma..” panggil Jiyeon berlari kearah Ibunya yang tak lain adalah Yuri.

“Aigoo, Ada apa lagi?” Ucap Yuri menyerahkan secangkir the di tangannya kepada pelayan yang melihat perubahan mimik diwajah anaknya.

Jiyeon memeluk Ibunya. “Aku merasa lelah eomma”

“Lelah? Ini bukanlah gayamu Jiyeon~a”

Mereka berjalan menuju kamar Jiyeon.

“Eomma, Aku rasa aku mulai menyukai seseorang”

“Mwo? Apa mungkin kau mulai menyukai myu..”

“Anyi! Orang yang berbeda!”

“Jinjja? Apa dia yang membuatmu duduk mengangkat tangan di lorong sekolah?”

“Eomma..”Ucap Jiyeon yang tercengang dengan tebakan ibunya.

“Eomma benar bukan?”

“Itu tidak seperti itu”

“Kau mulai lagi dengan harga dirimu, biar eomma tebak. Bertepuk sebelah tangan?”

“Okh? Eomma!! Jinjja Bukan begitu!”

“Ahh lihatlah betapa paniknya dirimu”Ucap Yuri mengacak-acak rambut Jiyeon. “Meskipun begitu, jika kau yakin bertahanlah!”

“hm?”UCap jiyeon bingung menatap ibunya.

“Bertahanlah, Kau tau kisah eomma bukan?” Tanya Yuri.

Jiyeon mengangguk.

“Jadi bertahanlah jangan menyerah seperti eomma karna jika salah satu dari kalian bertahan ada kemungkinan ada sesuatu yang hebat yang akan terjadi”

“Apa maksud eomma”

“Suatu saat kau akan mengerti maksud eomma, jadi dengarkan Jika kau yakin padanya, maka bertahanlah dan tunggulah”Ucap Yuri mencium kening Jiyeon. “Eomma ke kamar dulu. Istirahatlah”Ucap Yuri.

“hm eomma, Jaljayoo”

“ne, Putriku”

 

Jiyeon memejamkan matanya dan bersandar pada sofa sejenak memikirkan perkataan ibunya. Seorang pelayan memasuki kamar Jiyeon setelah beberapa lama kemudian.

 

“Nona, Seseorang ingin menemui Anda”

“Jika itu Myungsoo katakan aku sedang lelah sekarang”

“Anyinmida”

“Geunde? Nughuseyeo?”

“Ireumi Lee Chunji, dia berkata dia adalah….”

Jiyeon bangkit ketika mendengar nama Chunji di sebutkan.

“teman sekelas anda dan kami sudah menyuruhnya pulang tapi ia tak ingin pulang sebelum bertemu nona, sudah hamper 3 jam dia menunggu kami pikir dia sudah pergi tapi…”sambung pelayannya

“mworago? 3 jam?”

“Tadi nona sedang…”

“Dimana dia sekarang?”

“Didepan Nona”

 

Jiyeon berlari keluar dari kamar dan bergegas menemui Chunji.

 

“ahh Jinjja! Rambutku! Ahh”Keluhnya merapikan rambutnya didepan lemari kaca di ruang tamunya. “apa dia dating meminta maaf karna perlakuannya tadi?” Tanya Jiyeon pada dirinya sendiri. “Huhh”Ucapnya menghela nafs panjang sebelum keluar menemui Chunji.

 

“Wae?” Tanya Jiyeon jutek.

“Ini” Ucap Chunji menarik tangan jiyeon dan menyerahkan sesuatu.

“Ige Mwoya?”

“Ini milikmu, Aku tak memerlukannya”Ucap Chunji lalu pergi.

“Mwo? Tapi…”

 

Chunji sama sekali tak membalik dan pergi begitu saja meninggalkan Jiyeon.

 

“Sekarang apa lagi ini?”Ucap Jiyeon yang melemparkan pemberian Chunji kelantai. “Harga diriku ahhh! Harga diriku!!” Omel Jiyeon yang hendak menginjak pemberian Chunji tadi tapi di halangi karna melihat sesuatu. “Apa ini?” Ucap Jiyeon Memungut sesuatu di lantai.

 

~”Jika memberiku sesuatu berilah sesuatu yang bermakna,  aku hanya menginginkan hal yang mudah dan sederhana, dapat dilihat dan sangat terlihat jelas, memiliki arti luas, dan hal itu yang akan membuat merasa senang, sesuatu yang takkan pernah diketahui oleh orang sepertimu..”

 

jika kau ingin memberiku sesuatu berikan hal seperti itu, jangan memberiku hal yang tidak berguna sama sekali bagi hidupku seperti benda bodoh yang kalian anggap yang paling segala-galanya di dunia ini. chunji ~

 

*udah panjang kan? Hehe pokoke aku menunggu komentar kalian*

 

10 thoughts on “You’re My Destiny [Chap3]

  1. Hahaha jiyeon lucu. Ohh jd gitu to kisah mrk berdua wkt kecil,sweet😄 dan ternyata chunji sdh suka jiyeon dr kecil tp sprtnya dia tdk terlalu berharap banyak karna mengingat kisah cinta ayahnya yg tragis dgn org kaya, kasian😦
    Btw yuri adlh eommanya jiyeon, semakin menarik nih. Gimana klau chunji n donghae tahu yah??? Penasaran, ditunggu lanjutannya yah😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s