[FF Freelance] You Should Be Mine (Chapter 12)

fanfiction 21

 

Title : You Should Be Mine [Chapter 12]

Author: J.A.Y/@yupitamrd

Genre: Romance, school life

Main Cast:

  1. EXO-K Kai
  2. EXO-K Baekhyun
  3. Jung Ahyeon (OC)
  4. Shin Seorin (OC)

Support Cast:

  1. EXO-M Luhan

Rating: PG-17

Length: 5,503 word

Disclaimer : FF ini milik saya! Dilarang keras mengcopy paste/plagiat FF ini. Ini FF pertama yang author buat. Jadi mungkin jika ada kekurangan tolong tinggalkan komentar agar author bisa mengkoreksi letak kesalahan nya dimana aja. FF ini juga sudah pernah diterbitkan di www.saykoreanfanfiction.wordpress.com www.readfanfiction.wordpress.com www.kpopsotoybanget.wordpress.com www.highschoolfanfiction.wordpress.com dan di page Facebook https://www.facebook.com/EXOFanFiction?ref=ts&fref=ts Terimakasih~😀

Happy Reading ^^ 

***********

You clearly are there, you still remain there just the same
I remember the pictures that I forgot all this time, small tremblings gush out of my body
It’s a bit sad that I can’t go back to those times

How much did you change while the clock’s springs were turning
I turned the last page that is written about you
But I have no courage to read it, I will erase the sad words
Our story is not be over
Because we will meet again

[Preview]

Kai menghapus jejak basah dipipi Ahyeon dengan lembut. Perlahan gadis itu mulai membuka matanya sedikit-demi sedikit. Pemandangannya sekarang berubah 180 derajat dari yang tadi. Kai bersikap sangat lembut. Namja itu bahkan sedang mengancingi kemeja dan blazernya satu per satu. Tidak ada unsur kekerasan sama sekali didalamnya.

“aku tidak tau apa yang membuat ku begitu terpikat oleh diri mu Jung Ahyeon. Kau sudah jelas-jelas adalah milik teman ku dan aku sudah secara terang-terangan menghianatinya” ucap Kai lirih.

Kai mulai mengecup kening Ahyeon dengan lembut. Tanpa sadar Ahyeon justru memejamkan matanya menikmati bibir Kai yang menempel dikeningnya. Ahyeon seperti merasakan kesedihan dari namja itu. Padahal ia juga tidak tau masalah apa yang tengah di alami Kai.

“maaf jika aku menakuti mu”

Kai mengecup sekilas bibir Ahyeon. Hanya sebuah kecupan singkat. Setelah itu Kai membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Ahyeon hanya terdiam menatap punggung lebar milik Kai yang semakin menjauh. Kenapa?? Kenapa rasanya ia tidak ingin namja itu pergi?

It always is harder to be left behind than to be the one to go…

[Preview End]

Ahyeon yang menginginkan agar namja itu pergi. Menjauh dan tidak akan mengganggu nya lagi. Ia harusnya merasa senang dengan ini. Tapi saat Kai memberikan ciuman terahkirnya,,,, rasanya berbeda. Ahyeon menyentuh bibir bawahnya dengan ujung jari telunjuknya. Tidak seharusnya ia merasakan ini.

Kai keluar dari kelas usang itu dan meninggalkan Ahyeon sendirian didalamnya. Semua tatapan mata tertuju padanya. Tapi Kai tidak terlalu peduli. Banyak yang berbicara tentang dirinya dan Ahyeon. Tidakkah ini aneh? Kai menyeret paksa Ahyeon kedalam kelas itu dan menutup pintunya. Banyak yang mempertanyakan ‘apa yang mereka lakukan didalam?’

Kai berjalan mendekat kearah sekumpulan yeoja yang tengah berbisik satu sama lain. Tanpa diberitahu namja itu tau apa yang sedang dibicarakan mereka.

“jika kalian mengganggunya kalian akan berurusan dengan ku” ucap nya dengan nada yang dingin.

Tidak ada yang berani melawan. Lagipula siapa yang berani melawan? Mereka tidak mau nasib mereka sama seperti Jang In Seuk dua tahun yang lalu. Kai menghajar habis In Seuk karena telah menuduh Kai yang merebut yeojachingu nya. Padahal gadis murahan itu yang datang sendiri kepada Kai. Sampai ahkirnya Jang In Seuk di keluarkan dari sekolah tanpa alasan yang jelas.

==================================

Ahyeon baru satu langkah menginjakkan kaki di dalam kelasnya. Ia sadar dirinya tengah diperhatikan oleh seisi kelas. Apalagi kalau bukan karena insiden tadi pagi. Setenang mungkin ia mencoba untuk tidak peduli. Ahyeon mengeluarkan earphone nya dari dalam tas. Tanpa sengaja buku agendanya ikut terjatuh kebawah. Buku itu terbuka dan menunjukan catatan di tanggal 21.

“apa yang kau lihat”

Ahyeon menoleh dan sudah mendapati Ji Eul yang duduk disebelahnya. Ia segera menutup buku itu dan memasukan kembali kedalam tas.

“bukan apa-apa” ucapnya sambil tersenyum.

“kau sudah menerima undangannya?” tanya Ji Eul.

“undangan apa?”

“bukankah malam ini Kris sunbae mengadakan pesta untuk club barunya itu”

Ahyeon menghela nafasnya. Ia ingat eommanya meminta agar ia tidak datang kepesta itu “aku tidak datang”

“mwo!?”

“aku akan bertemu dengan namja yang bernama Jongin malam ini”

Ji Eul menaikan kedua alisnya “Jongin?”

“dia yang akan dijodohkan dengan ku” gadis itu berbicara dengan nada yang begitu terlihat pasrah.

Ji Eul menyenderkan punggung nya pada sandaran kursi. Ia seperti pernah mendengar nama Jongin sebelumnya.

“dimana ya?” gumamnya pelan.

Ahyeon menoleh kearah Ji Eul “dimana apanya?”

“Jongin,,, aku seperti pernah mendengar nama itu”

Otaknya terus ia putar agar dapat mengingat nama itu. Ji Eul yakin sekali nama itu seperti tidak asing lagi di telinganya. Tapi dimana ia pernah tau nama itu?

“sudahlah,, lagipula yang bernama Jongin itu tidak hanya satu orang” ucap Ahyeon.

“Aishhh tunggu dulu, biarkan aku mengingat-ingat”

Disaat sedang berfikir suara bel masuk merusak konsentrasinya “ahh aku menyerah”

Ahyeon hanya menggeleng-geleng “jangan memaksakan dirimu”

“padahal aku berharap kau bisa berpasangan dengan Baekhyun malam nanti”

Ahyeon tersenyum menanggapinya. Ia juga berharap dengan hal yang sama dengan Ji Eul.

=============================

In Houston, Texas, Amerika Serikat

“apa kalian tidak bisa bekerja dengan benar!”

Orang yang sedang di teriakinya hanya diam tidak berkutik. Tuan Byun menghampiri manager keuangannya dan memberikan dokumen itu dengan kasar.

“kau harus mengurangi biaya nya”

“tapi presdir, Hutang kita tidak hanya sebesar $13 juta tetapi bertambah hingga sebesar $38 juta. Kami sudah memeriksa ulang semuanya, ada banyak special purpose entity (SPEs) dan kerjasama yang tidak tercatat dalam neraca yang kita memiliki”

Tuan Byun menggeram “cari jalan keluarnya atau kau akan ku pecat hari ini juga”

“bb..baik presdir”

Tuan Byun kembali kekursi kekuasaannya dan memegang kepalanya. Ia harus memikirkan cara agar Enron bisa selamat dari kebangkrutan. Enron adalah sebuah perusahaan energi Amerika yang berbasis di Houston, Texas, Amerika Serikat. Perusahaan ini didirikan pada 1930 sebagai Northern Natural Gas Company, sebuah konsorsium dari Northern American Power and Light Company, Lone Star Gas Company, dan United Lights and Railways Corporation.Enron sebelum tahun 2001 mempekerjakan sekitar 21.000 orang pegawai dan merupakan salah satu perusahaan terkemuka di dunia dalam bidang listrik, gas alam, bubur kertas dan kertas, serta komunikasi.

Tiga minggu yang lalu tuan Byun sudah mengajukan permohonan perlindungan akibat kebangkrutan yang melanda perusahaan nya. Kebangkrutan ini disebabkan kegagalan pada proses bisnis dan manajemen juga akibat adanya penipuan akuntansi yang sistematis, terlembaga, dan direncanakan.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya. Sedetik kemudian pegawai kepercayaannya masuk kedalam ruangannya.

“ini berkas yang anda minta presdir. Kami sudah memantau semuanya. Ada dua cara yang bisa mengeluarkan Enron dari masalah ini, pertama menjual aset-aset yang bermasalah. Menghilangkan aset tersebut dari neraca bisa mengurangi tekanan akibat utang dan menyembunyikan kinerja buruk investasi. Dengan ini kita dapat mendatangkan dana tambahan untuk membiayai kesempatan investasi baru. Kedua; memperoleh pendapatan untuk memenuhi laba yang sudah disyaratkan”

“apa ada cara lain? kita tidak bisa menjual semua aset itu kepada orang lain” ucap tuan Byun.

“sebenarnya ada cara terahkir presdir”

“katakan”

“kita membutuhkan perusahaan eksternal untuk menutupi semua hutang-“

“kita pakai pilihan terahkir” ucap tuan Byun memotong pembicaraan pegawainya.

“tapi jika kita memakai pilihan terahkir,,, itu akan berdampak pada semua saham yang kita miliki”

“yang terpenting adalah bagaimana caranya agar semua hutang-hutang ini bisa tertutupi terlebih dahulu”

“baik presdir”

=========================

At Cheungdam High Shool

Seorin tidak bisa berkonsentrasi dengan materi yang diberikan Jang Songsaenim didepan kelas. Ia selalu mendengar dengungan suara dua orang yeoja penggosip yang duduk di belakangnya. Seorin meremas pulpen birunya dan meletakan diatas meja dengan kasar. Bagaimana ia bisa berkonsentrasi jika begini?

“bisakah kalian mengecilkan suara kalian?” ucap nya pelan kepada dua yeoja itu.

“kami sudah mengecilkannya”

“aku masih bisa mendengarnya” geram Seorin

“tutup saja kedua telinga mu”

‘sshhh!! Jika saja ini tidak ada Jang songsaenim akan ku tarik rambut kalian’ batinnya.

Seorin membalikkan tubuhnya lagi kearah papan tulis. Dengan perasaan yang masih tertahan, ia mencoba mengabaikan kedua yeoja itu.

Bisikan itu masih terdengar. Baru saja Seorin berniat akan membalik tubuhnya, tapi niat itu segera ia tahan saat mendengar nama orang yang ia kenal ada dalam topik hangat pembicaraan mereka. Ia memutuskan untuk menguping pembicaraan dua orang penggosip di belakangnya. Seorin menyandarkan punggungnya kebelakang agar ia bisa lebih jelas mendengar yang mereka ucapkan.

“mwo?? Kai membawa yeoja Baekhyun kedalam kelas itu”

“dan saat keluar ekspresi wajah yeoja itu sangat menyedihkan, kedua matanya sembab. Kurasa ia baru saja menangis”

“apa yang Kai lakukan ya?”

“aku tidak tau, mengintipnya saja tidak bisa”

“berapa lama mereka didalam?”

“sekitar 15 menit”

“yaaakk! Apa mereka lakukan?”

“jangan-jangan yeoja itu menggoda Kai didalam kelas itu”

“mworago! Aishhh! apa Baekhyun belum cukup untuknya”

“kurasa begitu,,, aissshh! aku ingin sekali mencekik leher yeoja itu”

Seorin tersenyum sinis mendengar mereka. Jadi Ahyeon yang mereka maksud. Seorin menarik tubuhnya kedepan dan mulai melanjutkan catatannya yang tertunda.

‘kau dalam masalah besar Jung Ahyeon’ batin Seorin.

Kringggg…

Bel istirahat sudah berbunyi. Jang songsaenim mengahkiri materi pembelajarannya. Semua murid langsung berbondong-bondong keluar.

“kau mau kekantin?” ajak Hyesung kepada Seorin.

“aku akan menyusul mu nanti”

“yasudah”

Hyesung sudah keluar kelas, sementara Seorin masih merapikan semua alat tulisnya. Setelah selesai merapikan semuanya gadis itu beranjak dari duduk nya dan tanpa sengaja ia melihat Kai yang lewat di depan kelasnya.

“Jongin-a” teriak Seorin.

Kai sontak langsung menoleh kearah suara yang meneriakinya. Dilihatnya Seorin sedang berlari-lari kecil menghampirinya.

“jangan memanggilku seperti itu” ucap Kai sarkatis.

“wae?? Sudah lama kan aku tidak memanggil mu seperti itu” ucap Seorin sambil menyenggol pelan lengan Kai.

Kai mendelik kesal kearah Seorin. Itu sangat tidak lucu. Dari dulu ia tidak suka jika ada yang sembarangan memanggil nama aslinya itu. Ia lebih suka jika teman-teman terdekatnya memanggilnya dengan panggilan ‘Kai’ daripada ‘Jongin’.

“kenapa kau sendiri?? mana yang lain?” tanya Seorin.

“jika yang kau maksud adalah Baekhyun, aku tidak tau” ucap Kai yang langsung pergi meninggalkan Seorin.

Seorin memutar tubuhnya dan bergumam tidak jelas dibalik Kai yang sedang memunggunginya.

“memangnya ada apa dengan nama Kim Jongin, lagipula itu lebih bagus dari pada ‘Kai’” gerutunya.

===========================

At Ahyeon’s Home

Nyonya Jung memasukkan beberapa pakaiannya kedalam koper. Rencanannya setelah pertemuan malam ini ia langsung mengambil keberangkatan ke Amerika selama 2 minggu. Ia harus mengurus perusahaan mendiang suaminya yang sedang mengalami sedikit masalah disana. Tapi sebelum pergi, ia harus melakukan beberapa hal untuk Ahyeon.

Tok tok tok

“masuk”

“maaf nyonya, tamu anda sudah datang dan menunggu diruang tengah”

“kau rapikan yang ini, aku akan turun menemui tamu ku”

Lee ahjumma menggangguk sebagai tanda ia mengerti. Nyonya Jung tersenyum mendengarnya. Ia lalu segera beranjak dan menemui tamu istimewanya.

Sesampainya di ruang tengah,,,,

Orang itu langsung berdiri dan memberi hormat ketika mengetahui kedatangan nyonya Jung.

“duduk lah” ucap nyonya Jung.

Orang itu lalu kembali duduk ketempat semula “anda memerlukan bantuan ku lagi presdir”

“aku akan ke Amerika selama 2 minggu, aku minta kau mengawasi putri ku sampai aku kembali”

“tidak masalah”

“dan laporkan pada ku jika Ahyeon menemui orang ini lagi” ucap nyonya Jung seraya memberikan foto Baekhyun.

Orang itu melihat foto itu sambil tersenyum sinis “anda tidak akan kecewa dengan hasil kerjaku presdir”

“aku percaya padamu Min Seok-ssi” ucap nyonya Jung seraya memberikan sebuah cek dengan jumlah nominal yang cukup besar.

Kedua orang itu sama-sama tersenyum karena telah mencapai kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.

Kim Min Seok. Ia adalah orang kepercayaan nyonya Jung di perusahaannya. Min Seok kerap di tugaskan oleh nyonya Jung untuk mengawasi semua kinerja perusahaannya saat nyonya Jung sedang tidak berada di Korea. Min Seok menyamar sebagai manager biasa di perusahaannya. Dengan begitu tidak akan ada orang yang tau tentang pekerjaan aslinya.

===============================

At Cheungdam High Shool

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi 5 menit yang lalu. Baekhyun keluar kelas bersama dengan Chanyeol dan yang lainnya. Tentu saja bersama Kai juga. Hanya saja Kai dan Baekhyun saling menjaga jarak mereka satu sama lainnya. Semenjak kejadian saat itu, Baekhyun dan Kai telah menciptakan perang dingin diantara keduanya.

Yang lainnya sudah berusaha membuat keduanya untuk saling berbaikkan. Tapi masih tidak ada yang mau mengalah satu sama lainnya. Terutama Baekhyun. Ia sangat membenci Kai sejak hari itu.

“aku akan menemui Ahyeon dulu, kalian duluan saja” ucap Baekhyun.

“aku juga akan menemui Ji Eul” sergah Luhan.

“aku akan menemui Seorin” ucap Kai, ia lalu segera pergi meninggalkan yang lainnya.

Semuanya langsung menoleh kearah Kai dengan aneh. Tapi tidak dengan Baekhyun. Ia sudah tidak peduli apapun yang menyangkut tentang Seorin.

“aku akan menemui Hyesung” ucap Sehun pelan.

Luhan menoleh dengan cepat kearah Sehun.

“woahh,, kau sudah berpacaran dengannya??” tanya Luhan.

“aniya” seketika pertanyaan Luhan langsung membuat wajah Sehun menjadi merah.

“aku duluan hyung” ucap Sehun yang segera mengikuti jejak Kai.

“aku juga duluan” ucap Baekhyun yang segera melangkahkan kakinya pergi.

“YAAA!! Tungguuu!!” teriak Luhan.

Sekarang tinggal mereka berdua. Kris dan Chanyeol.

“bagaimana jika kau membantu ku” ucap Kris sambil merangkul pundak Chanyeol.

Chanyeol tau yang dimaksud dengan kata ‘membantu’ oleh Kris. Ia pasti akan disuruh untuk membantu Kris untuk persiapan terahkir di pestanya nanti malam. Itu akan pasti akan melelahkan dirinya.

“shireo,,, aku akan pulang” ucap Chanyeol yang segera meninggalkan Kris.

Di tempat lain,,,

Ahyeon dan Baekhyun menuju tempat parkiran biasa. Tadinya mereka berjalan bersama-sama dengan Ji Eul dan Luhan. Tapi saat mereka berdua menoleh kebelakang Ji Eul dan Luhan sudah menghilang entah kemana.

Dengan arah yang berlawanan tanpa sengaja Ahyeon melihat Kai dan Seorin yang sedang bersama-sama. Dengan tanpa ia sadari pandangannya tidak beralih sama sekali dari Kai. Melihat Kai bisa tertawa lepas seperti itu dengan Seorin rasanya ada yang berbeda dengan perasaannya. Bahkan disaat mata keduanya saling bertemu, Ahyeon tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemuda itu.

“kau tunggu disini, aku akan mengambil mobilnya sebentar”  ucap Baekhyun.

Melihat Ahyeon yang tidak merespon perkataannya, Baekhyun menggerakan lengan gadis itu pelan. Ahyeon sontak mengalihkan pandangannya dari Kai.

“ne?”

“apa yang kau lihat??”

“tidak ada,,, wae?”

“kau tunggu lah disini sebentar, aku akan mengambil mobil sebentar”

Ahyeon mengangguk pelan. Setelah itu ia kembali melihat ketempat Kai tadi berada. Tapi nihil. Kai sudah tidak ada disana.

5 menit setelah nya,,,

Suara klaksonan mobil Baekhyun menarik perhatiannya. Ia tidak mau membuat Baekhyun menunggu lama. Dengan segera ia menghampiri namja itu didalam mobil nya.

Di mobil,,,

“kau yakin tidak mau ku temani?” tanya Baekhyun.

“tidak oppa, aku akan pulang sendiri nanti”

Hari ini Ahyeon sudah memberitahu Baekhyun bahwa ia akan mengunjungi makam ayahnya sebentar.

“bukankah kau juga harus bersiap-siap untuk kepesta malam ini”

Kepesta?? Ahyeon bahkan sudah tidak bisa memikirkan tentang pesta itu lagi. Malam ini ia harus mempersiapkan dirinya untuk perjodohan itu. Dan masalah ini, ia tidak berani memberitahu Baekhyun.

 eomma harap sebelum pertemuan besok malam hubungan kalian sudah berahkir

Kenapa kata-kata itu terus berputar didalam pikirannya. Sejak kemarin ia terus memikirkan hal ini. Ia tidak bisa melakukannya. Baekhyun sudah memasuki kehidupannya terlalu jauh. Ia tidak bisa melepaskan pria itu begitu saja. Pasti masih ada banyak cara untuk membuat perjodohan ini gagal. Dan Ahyeon harus bisa memastikan semuanya sebelum Baekhyun mengetahuinya.

“sepertinya aku tidak bisa datang”

“mwo?? Waeyo??”

“teman lama eomma mengadakan acara makan malam bersama dirumah, aku tidak mungkin untuk tidak hadir disana” bohong Ahyeon.

“kalau kau tidak maka aku juga tidak”

“yaa!!”

“lalu untuk apa aku datang jika pasangan ku juga tidak datang” Baekhyun menoleh sebentar kearah Ahyeon dan kembali memperhatikan jalanan didepannya.

“oppa”

Ahyeon menghela nafasnya sebentar “baiklah, aku akan datang. Tapi aku akan datang terlambat”

Baekhyun tersenyum puas “aku akan menunggu kau didalam pesta”

Ditempat lain,,,,

“gomawo Kai”

Seorin tersenyum seraya menutup pintu mobil Kai. Kai membalas dengan tersenyum dan mulai menginjak gas mobilnya. Ia baru saja mengantar Seorin sampai didepan rumah yeoja itu. Kai memperhatikan ponselnya dibelakang kursi penumpang yang sudah berdering berkali-kali.

Tidak ada niat sama sekali untuk tau siapa yang menelfonnya saat ini. Hanya satu orang terlintas didalam pikirannya. Siapa lagi kalau bukan eomma nya. Eommanya pasti menyuruhnya agar tidak berkeliaran sepulang sekolah.

Mobil Kai berhenti saat lampu merah rambu lalu lintas menyala. Kai mengedarkan pandangannya kesisi jalan. Alisnya terangkat saat ia melihat sebuah mobil yang sudah tidak asing lagi terparkir didepan toko bunga yang berjarak 10 meter darinya. Kai menajamkan pengliahatannya saat melihat plat nomer itu.

‘itu seperti mobil Baekhyung hyung’

Tidak sampai semenit pemilik mobil itu keluar dari dalam toko.

‘benar, itu mobil Baekhyun hyung’

Kai menaikkan kedua alisnya saat melihat yeoja yang mengikuti Baekhyun dibelakangnya. Ahyeon. Yeoja itu keluar dengan membawa sebuket mawar berwarna merah muda ditangannya. Baekhyun mencium sekilas kening Ahyeon sebelum ahkirnya pemuda itu masuk kedalam mobilnya sendiri. Tapi,,, kenapa Ahyeon tidak ikut?

Mobil Baekhyun sudah berjalan jauh meninggalkan Ahyeon yang masih berdiri didepan toko bunga. Ahyeon lalu membalik tubuhnya dan berjalan kaki di samping trotoar jalan. Lampu hijau menyala. Ia segera mengikuti Ahyeon dibelakangnya. Kai menjaga jarak dengan Ahyeon yang berjalan kaki didepannya. Sampai ahkirnya dahi Kai berkerut saat Ahyeon memasuki area sebuah pemakaman.

Kai memakirkan mobilnya di sisi jalanan lain. Ia penasaran dengan yang Ahyeon lakukan. Kai mematikan mesin mobilnya dan melepas sabuk pengamannya. Ia membuka pintu mobilnya. Tapi baru pintu itu terbuka setengahnya saat Kai kembali menutup pintu mobilnya lagi.

‘untuk apa aku menghampirinya’ batin Kai.

Kini ia sendiri yang bergelut didalam pikirannya. Tapi ia juga penasaran dengan yang dilakukan Ahyeon didalam. Apa salah satu keluarganya ada yang sudah meninggal? Kai menghela nafas nya panjang. Ahkirnya ia memutuskan untuk menunggu Ahyeon didalam mobilnya.

Sekitar hampir 30 menit ahkirnya Ahyeon keluar dari area pemakaman itu. Kai masih terus melihatnya dari arah yang bersebrangan. Baru Kai ingin turun menyusul yeoja itu tapi, Ahyeon sudah masuk kedalam sebuah taksi. Ia segera memasang sabuk pengamannya kembali saat taksi itu sudah melaju. Segera ia nyalakan mesin mobilnya dan mengikuti gadis itu dari belakang. Entah apa yang membuatnya terus mengikuti gadis itu.

Sekitar 20 menit ahkirnya taksi itu berhenti di depan sebuah rumah besar. Ahyeon turun dari taksi dan berjalan masuk kedalam rumah itu.

‘inikah rumahnya?’

Ddrrrttt,,,ddrrrttt,,,

Kai memutar bola matanya malas.Ini sudah kesekian kalinya ponsel itu berbunyi. Ia meraih ponselnya dan mengangkat panggilan dari eommanya.

“Jonginnn!! Kenapa kau baru mengangkat telfon eomma eoh??”

“aku tidak dengar eomma”

“cepatlah pulang,, kau tidak mencoba untuk kabur kan” ucap eommanya sarkatis.

“ne,, arasseo”

Kai langsung memutuskan panggilan eommanya. Tidak hanya itu, ia juga menonaktifkan ponselnya. Kai mulai menginjak gas mobilnya dan bersiap untuk pulang.

=============================

Ahyeon melempar tas nya keatas tempat tidur. Ia melepaskan blazer sekolahnya dan membuka 2 kancing kemeja nya. Membiarkan dirinya agar bisa bernafas lega. Ahyeon menghela nafas nya kasar. Ia memegang kepalanya dan menggeram frustasi.

“kenapa aku selalu mengingat itu”

aku akan di jodohkan

Kenapa sekarang kata-kata Kai terus berputar didalam pikirannya. Ahyeon tidak ada alasan untuk terus memikirkan itu. Lagipula ia tidak ada hubungannya. Itu bukan urusan untuknya. Kai yang akan dijodohkan, kenapa harus ia yang merasa pusing. Tidak ada gunanya memikirkan hal seperti itu. Ia juga memiliki masalah tersendiri yang lebih penting daripada harus memikirkan masalah orang lain.

Ahyeon melihat jam dindingnya yang sudah menunjukan pukul 5 sore. Lebih baik ia membersihkan dirinya dan segera bersiap-siap untuk acara nanti malam. Ia sudah tidak sabar untuk melihat namja yang bernama Jongin itu. Semakin cepat bertemu semakin cepat juga ia bisa memaksa namja itu agar mau membatalkan perjodohan ini.

-skip-

At Luhan’s Apartemen

Luhan menutup pintu kamarnya kasar. Ia tidak habis fikir bagaimana neneknya bisa membuat surat seperti itu. Wajah pria itu memerah saat ia semakin menahan amarahnya sekarang. Luhan sudah sangat nyaman tinggal di Korea dan ia juga ingin meneruskan sekolahnya disini. Ia tidak mungkin meninggalkan semuanya dan pulang ke China hanya untuk permintaan neneknya.

*flashback

Saat itu Luhan baru mendapat kabar jika neneknya sedang sakit dan dirawat di Beijing Haidian Hospital Haidian, China. Ia segera mengambil keberangkatan ke China malam itu juga. Luhan sangat cemas dengan keadaan nenek nya disana. Diantara semua keluarganya, ia memang  yang paling dekat dengan neneknya dibandingkan keluarganya yang lain.

Sesampainya disana, ia langsung segera ke rumah sakit tempat nenek nya dirawat. Luhan bahkan tidak lebih dulu pulang kerumahnya hanya untuk sekedar menaruh tas bawaannya. Luhan bertanya pada bagian informasi letak kamar 174 ruang VIV.

“nǐ kĕ yǐ chéng diàn tī dào wŭ lóu (anda bisa menaiki lift kelantai 5 tuan)” ucap salah satu pegawai rumah sakit itu.

“ohh, xiě xiě (terima kasih)” ucap Luhan.

Setibanya di lantai 5 ia segera mencari letak kamar tersebut. Luhan melihat semua keluarganya yang sudah berkumpul didepan kamar tersebut. Atmosfir yang begitu tegang langsung menyelimuti keseluruhan tubuhnya.

“nǎi nǎi de tiáo jiàn (bagaimana keadaan nenek)?” tanya Luhan.

Eommanya yang masih menangis tersedu-sedu langsung memeluk dirinya. Luhan tidak mengerti dengan maksud dari semuanya.

“nǐ de nǎi nǎi qù shì le (nenekmu sudah meninggal)”

Luhan mematung ditempatnya. Apa kedatangannya sudah terlambat? Ia melepaskan pelukan eommanya dan bertanya kepada appanya.

“zhè shì zhēn de mā mā shuō ma?? (benar yang dikatakan ibu??) shì nǎi nǎi sǐ le ma? (Nenek sudah tiada sekarang??”

Appanya mengangguk pelan sebagai sebuah jawaban. Eommannya menghampiri dirinya dan mengusap-usap pundaknya pelan. Airmata Luhan jatuh saat mendapatkan kenyataan yang begitu berat. Luhan begitu menyayangi neneknya dan menganggap neneknya adalah ibu kedua untuknya. Laki-laki itu berbalik dan menangis di pelukan eommanya.

2 hari setelah pemakaman,,,

Sudah dua hari ia izin dari sekolahnya di Seoul. Ia tau ini salah, tapi ia harus kembali ke Korea untuk melanjutkan sekolahnya. Suasana berduka bahkan masih menyelimuti kediaman rumahnya . Luhan kembali merapikan pakaiannya dan memasukan kedalam tas. Saat ia sudah beranjak dan akan pergi, appanya menahannya dengan membawa sebuah surat. Dahi Luhan mengeryit saat melihat surat itu.

“qǐng dú zhè dāng tā jìn rù hán guó (bacalah ini ketika sampai di Korea)”

“wŏ wéi shén me yào dú dāng ma? (kenapa harus ku baca saat disana?)”

“rú guŏ nǐ zài zhè lǐ dú dào tā nǐ jiāng bù néng zài cì huí dào hán guó, nà yǐ nǐ zuì hǎo dú tā dāng tā dào dá suŏ lǐ  (jika kau membacanya disini kau tidak akan bisa kembali ke Korea lagi, jadi lebih baik kau membacanya saat sudah sampai disana”

Luhan tidak mengerti dengan maksud appanya. Mungkin ia akan memikirkan nya lagi saat sudah berada di dalam pesawat.

*flashback end

Ia kembali melihat surat yang terlipat itu diatas meja belajarnya. Ia menghela nafasnya ketika mengambil surat itu lagi. Luhan lalu membuka laci meja belajarnya dan menaruh surat itu disana. Sekarang ia tau kenapa appanya menyuruhnya untuk membaca surat itu saat sampai di Korea.

====================

At Pierre Gagnaire, Seoul.

Disinilah tempatnya, sebuah restoran mewah bergaya budaya Perancis yang berada di lantai 2 hotel Lotte, Seoul. Ahyeon tidak bisa duduk dengan tenang di tempatnya. Kedua tangan yeoja itu bahkan sudah berkeringat dingin karena terlalu tegang menunggu orang yang akan dijodohkan dengannya. Berkali-kali ia meremas ujung rok dress nya hanya untuk menghilangkan rasa tegang yang hampir membunuhnya.

“kau harus banyak tersenyum nanti” ucap eommanya.

Tersenyum? Bagaimana ia bisa tersenyum disaat seperti ini. Gadis itu terus menunduk sambil memainkan kuku nya yang sudah terpoles cantik di bawah meja. Jam tangan kecil nya sudah menunjukkan pukul 8 pm KST. Sudah 15 menit ia dan eommanya menunggu disini. Tapi yang sedang ditunggu tidak kunjung datang. Ahyeon hanya berharap laki-laki yang bernama Jongin itu juga tidak setuju dengan perjodohan ini, lalu ia kabur dan tidak datang ketempat ini. Yah,,, setidaknya Ahyeon berfikir hal seperti itu sebagai sesuatu yang positif.

Ahyeon menengadahkan kepalanya saat tiba-tiba eommanya berdiri dari tempatnya untuk menyambut seseorang. Ketegangannya semakin berlipat-lipat sekarang. Apakah mereka sudah datang?

“dia Ahyeon??” tanya wanita itu.

Ahyeon segera berdiri dan membungkuk hormat didepan wanita itu “ne,, jeoneun Ahyeon imnida”.

“kau masih mengingat ku? Terahkir kita bertemu saat dimakam ayah mu waktu itu” ucap wanita itu seraya duduk disebelah eommanya.

Ahyeon perlahan mendudukan dirinya dengan hati-hati. Tidak salah lagi wanita itu pasti adalah nyonya Kim yang dimaksud eommanya saat itu. Tapi kenapa ia datang sendiri? Dimana anaknya?

“maafkan aku, tapi aku tidak mengingatnya sama sekali” ucap Ahyeon dengan sopan.

Nyonya Kim hanya tersenyum menanggapinya “tidak papa, kau masih kecil saat itu. Wajar jika kau tidak mengingat ku sekarang”

Ahyeon terlihat sedikit risih saat dirinya terus saja diperhatikan oleh nyonya Kim. Nyonya Kim bahkan selalu mengulaskan senyum saat melihatnya. Apa dia memang seperti itu sebelumnya?

“Jongin pasti menyukai dirimu” ucapnya.

Ahyeon terhenyak mendengarnya. Berharap bahwa perkataan wanita itu tidak benar. Ia justru berharap bahwa putra nya itu tidak menyukai dirinya. Yahh,, setidaknya itu akan lebih baik.

“dimana Jongin?” tanya eommanya.

“sebentar lagi ia juga akan datang, ia dalam perjalanan kesini”

‘lebih baik orang itu tidak usah datang, aku berharap ban mobilnya itu kempes ditengah jalan’ batin Ahyeon.

Ahyeon sedikit meneguk air putih didepannya untuk menetralkan suasana hatinya. Ia melirik kursi disebelahnya yang kosong. Sudah dapat dipastikan, jika Jongin datang ia pasti akan duduk bersebelahan dengan dirinya.

“ahh,, itu dia” ucap nyonya Kim.

“maaf aku datang terlambat”

Ahyeon semakin menundukan pandangannya. Apa ia terlihat pucat sekarang? Ingin sekali ia berlari dari tempat ini. Telapak tangannya semakin berkeringat. Kenapa? Apa yang salah? Bertemu Jongin seperti hal yang menakutkan untuk nya. Tidak. Bukan hanya untuk nya tapi juga untuk kehidupannya.

“ahh, putra mu benar-benar tampan” ucap eommanya.

“gamshamnida”

“perkenalkan dia putri ku”

Ahyeon beranjak dari duduk nya dengan pandangan yang masih menatap meja makan.

“A,,Ahyeon imnida” ucap Ahyeon dengan suara yang begitu pelan.

“ne?? nugu??”

Ahyeon sebal jika dirinya harus mengulang lagi nama nya. Apa namja itu tuli? Hanya untuk menyebutkan namanya sendiri saja terasa begitu berat. Ia menarik nafas nya dalam-dalam sebelum ahkirnya ia berani menatap wajah Jongin.

“jeoneun Ahyeon im-“

Deg,,,

Ucapannya menggantung di tengah-tengah. Mulutnya serasa tidak bisa lagi berbicara. Nafasnya juga semakin tercekat saat ia mulai mengadahkan kepalanya. Apakah ini mimpi? Ahyeon tidak percaya dengan yang dilihatnya sekarang. Orang yang ingin ia jauhkan selama ini, orang yang membuat hubungannya hampir berantakan dengan Baekhyun, orang yang malam itu hampir saja menghilangkan masa depannya, dan,,, orang yang tadi pagi menciumnya ,,, sekarang ada didepannya.

Ahyeon harap ini hanya sebuah mimpi buruk yang sedang menghampirinya. Yah,, mimpi buruk. Jadi namja yang bernama Jongin itu tidak lain adalah Kai. Jongin dan Kai adalah orang yang sama. Apa lagi ini? Apa nyonya Kim tidak punya anak laki-laki yang lain? Ini semakin mempersulit dirinya. Kenapa harus Kai?

Bukan hanya Ahyeon saja yang merasakannya. Namja itu. Kim Jongin atau Kai. Ia juga mematung ditempatnya. Dengan kedua mata mereka yang saling bertemu satu sama lain. Keduanya masih tidak percaya. Mimpi apa Kai semalam? Jung Ahyeon, yeoja yang selama ini ia inginkan sudah ada didepan matanya. Yeoja yang langsung menarik perhatiannya saat bertemu. Yeoja yang ingin ia rebut dari temannya sendiri. Yeoja yang membuat dirinya begitu berambisi. Dan,,, yeoja yang hampir membuatnya gila hanya dengan mendengar namanya adalah orang yang akan di jodohkan dengannya?  Apa ini hanya sebuah kebetulan atau memang ini sudah ditakdirkan?

Nyonya Kim berdeham pelan ketika merasa ada suasana aneh yang ia rasakan. Ada apa dengan dua anak muda itu? Keduannya masih mematung tanpa ada yang memulai berbicara.

“ahh,, kenapa hawanya terasa tegang ya?? Jongin ayo kenalkan dirimu kepada Ahyeon” ucap nyonya Kim.

“kami sudah saling kenal eomma”

Nyonya Kim nampak gembira mendengarnya “wahh?? Benarkah?? Apa kalian satu sekolah?”

Kai mengangguk tersenyum kepada eommanya. Ahyeon yang melihatnya hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia tidak tau lagi apa yang harus dilakukannya setelah ini. Laki-laki itu bisa dengan mudahnya memperlihatkan senyumannya sekarang. Apa ia merasa senang dengan ini?

‘happiness for him was a nightmare for me’ batin Ahyeon.

Fate is just another word for people’s choices coming to a head.

Destiny, coincidence, whatever you name it.

It inevitably lies in our hands.

Tidak ada yang saling bicara. Ahyeon dan Kai. Keduannya masih sibuk dengan dessert makan malam nya yang tersaji diatas meja. Sesekali suara dari orangtua mereka mengisi di sela-sela keheningan yang menyelimuti mereka. Kai terlihat begitu menikmati strawberry savarin yang menjadi menu dessertnya. Berbeda dengan orang yang ada disebelahnya. Walaupun dari luar terlihat biasa saja, namun sebenarnya ia menahan rasa yang sudah terpendam didirinya. Ia ingin sekali merutuki namja yang duduk disampinya dengan cara apapun.

“eomma sangat senang jika ternyata kalian satu sekolah” ucap nyonya Jung.

“ne Ahjumoni, Ahyeon adalah hoobae favoritku disekolah” ucap Kai sambil tersenyum kearah Ahyeon yang disebelahnya.

‘apa??? Favorit dia bilang?’ gerutu Ahyeon dalam hatinya.

Dengan tenang ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum gadis itu menoleh dan menarik sudut bibir nya dengan terpaksa kepada Kai. Setidaknya ia harus memberikan kesan manis kepada Kai dihadapan eommanya.

“Aku senang jika kalian bisa membuat hubungan yang lebih serius dari sekarang” ucap nyonya Kim.

Serius?? Tentu saja tidak. Ahyeon justru akan mati-matian membuat perjodohan ini menjadi batal.

“ahh, Jeosonghaeyo, tapi ak-“

“tentu saja kami akan melakukannya, iyakan Ahyeon-a??” sergah Kai cepat sebelum Ahyeon bicara yang tidak-tidak.

Ahyeon berjengit ketika tangannya masih memegang sendok kecil langsung di genggam tiba-tiba oleh Kai. Senyum itu,,, ingin sekali Ahyeon menumpahkan champagne miliknya kearah namja itu sekarang.

“aku,,,”

Ahyeon melirik sekilas kearah eommanya. Dengan susah payah iya menelan salivanya sendiri. Eommanya sudah memberikan artian ‘jangan bertindak ceroboh’ dalam tatapan matanya.

“ttt,, tentu saja”

Kai tersenyum puas mendengar itu “aku dan Ahyeon sudah setuju”

Kedua orang tua itu juga saling tersenyum melihat dua anak mereka yang mau menerima perjodohan ini.

============================

In a Blue Moon’ Club, Gangnam-gu, Cheongdam-dong, Seoul.

Baekhyun dengan tampan nya baru saja tiba dengan dengan mobil Ferrari FF putih miliknya. Baekhyun sengaja menata rambutnya dengan gaya obligue fringe malam ini. Ia sengaja mengangkat poninya keatas sehingga membuat dahi nya terlihat seluruhnya. Dan rambut belakangnya ia buat sedikit acak-acakan agar memberikan kesan yang tidak terlalu formal. Lengan kemeja nya yang berwarna abu-abu itu ia gulung dengan rapih sampai ke siku tangannya.

Baekhyun banyak mendapat perhatian malam ini karena penampilannya. Banyak teman wanita seangkatannya dan hoobae nya yang tidak bisa melepas perhatian mereka dari seorang Byun Baekhyun malam ini. Tentu saja Baekhyun tidak mau mendapat gelar kata sombong yang melekat pada dirinya. Dengan sedikit menciptakan senyum diwajahnya itu cukup membuat semua yeoja disekitarnya menahan histeris.

Chanyeol dari arah lain datang menghampirinya. Laki-laki dengan tinggi 185 cm berdecak kagum melihat penampilan teman sebangkunya.

“waahh, dimana kau menata rambut seperti itu??” ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke rambut Baekhyun. Dengan cepat Baekhyun menghindar dan menangkis tangan Chanyeol.

“yaa!! jangan disentuhh,, rambut ku ini sangat mahal untuk menatanya seperti ini”

“hahaha,, aku tau. Tapi,,, kau datang sendiri?? Mana pasangan mu? Kau tidak bersama Ahyeon”

“dia akan datang nanti,,, jjjaaahhh! Kita masuk” ucap Baekhyun yang sambil membenarkan rambutnya.

Baekhyun dan Chanyeol melangkah masuk kedalam club. Suara musik yang menggema sudah menyambut telinga keduanya. Kris benar-benar hebat dalam membuat hal yang seperti ini.

“kalian sudah datang” ucap si pemilik pesta.

“mana pasangan kalian? Atau jangan-jangan kalian??”

“Yaaa!! Aku tidak berpasangan dengannya” ucap Baekhyun yang buru-buru menepis pikiran gila milik Kris.

“Baekhyun-a”

Baekhyun langsung menoleh kebelakang saat ia merasakan seseorang menepuk pundaknya pelan. Ia langsung menatap terkejut melihat Seorin. Dengan gaun berwarna baby blue yang dikenakannya begitu sepadan dengan warna kulit nya yang seputih susu. Baekhyun takjub melihatnya. Tidak bisa dipungkiri lagi. Saat ini Seorin terlihat sangat cantik.

“kau sendiri?” tanya Seorin.

“aku bersama Ahyeon”

“mana?”

“nanti dia akan datang” ucap Baekhyun.

“kalian tidak datang bersama??”

“tidak” ucap Baekhyun sekenanya.

“jika Ahyeon tidak datang,,, kau mau berpasangan dengan ku??”

“dia pasti datang, kau ajak saja yang lain” ucap Baekhyun lalu pergi dari hadapan Seorin.

Seorin mendengus sebal dibalik punggung Baekhyun.

========================

At Pierre Gagnaire, Seoul.

Makan malam sudah selesai. Kai meneguk habis champagne miliknya. Begitu juga dengan Ahyeon.

“kau akan langsung ke Amerika setelah ini?” tanya nyonya Kim kepada nyonya Jung.

“ne,, “

“chogi tapi jika Ahjumoni ke Amerika maka Ahyeon-“ ucap Kai

“tentu saja dia tidak ikut haha. Kau khawatir?”

Kai memegang tengkuk belakang nya pelan. Ia pun ikut bernafas lega.

‘dasar! Mau mencoba mencari muka di depan eomma ku eoh!’ batin Ahyeon.

“Jongin kau ajak Ahyeon jalan-jalan setelah ini ne?” ucap nyonya Kim.

“apa sekarang kami berdua boleh pergi?” tanya Ahyeon.

“ohh, tentu saja” ucap nyonya Kim dengan senyumnya.

“gamshamnida”

Ahyeon lalu berdiri diikuti dengan Kai. Keduanya memberi hormat kepada kedua orang tua mereka masing-masing. Ahyeon nampak tersenyum puas dihadapan semuanya. Tidak. Bukan puas seperti itu yang ia maksud. Yang ia maksud adalah tersenyum puas karena ia bisa meninggalkan tempat itu secepatnya. Ahyeon dengan semangat menggandeng tangan Kai keluar dari restoran itu.

“sepertinya Ahyeon menyukai Jongin” ucap nyonya Jung.

“ne, dan sepertinya Jongin juga menyukai Ahyeon” balas nyonya Kim.

“Ahyeon selalu melihat Jongin sejak makan malam tadi”

Hahh. Jika saja nyonya Jung tau. Tatapan anaknya kepada Kai bukanlah tatapan yang sedang ia pikirkan. Mungkin saja Ahyeon masih tidak percaya dengan orang yang akan dijodohkan dengannya. Dan untuk Kai. Tentu saja anak itu merasa senang. Rasa senangnya bahkan tidak dapat didiskripsikan dengan kata ‘hanya’, tapi ia juga merasa ‘sangat’ senang.

Di tempat lain,,,,

Setelah keluar dari restoran itu, Ahyeon segera melepaskan tangannya dari lengan Kai. Ia menatap namja itu dengan tatapan waspada.

“jangan salah paham. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat itu sunbaenim” ucapnya dengan memberikan sedikit tekanan pada kata ‘sunbaenim’

“bukankah sudah ku bilang jangan memanggilku seperti itu”

“lalu harus seperti apa? ahhh~ aku tau. Apa aku harus mulai memanggilmu dengan sebutan Kai oppa atau Jongin oppa”

“aissshhh!!! mulutku bahkan terasa aneh saat memanggilmu dengan embel-embel oppa”

Kai terkekeh pelan sambil mengacak-acak rambut Ahyeon “kau semakin membuat ku merasa tertarik padamu”

Ahyeon menjauhkan tangan Kai dari atas kepalanya “ohh yaa, tapi maaf ya tuan Kim Jongin. Aku sama sekali tidak merasa tertarik dengan ini” ucapnya lalu ia segera pergi dari hadapan namja itu.

Kai hanya melipat tangannya sambil tersenyum simpul. Ia lalu mulai mengikuti Ahyeon yang sudah melangkah jauh didepannya.

‘kau bisa berkata seperti itu sekarang baby, tapi nanti,,,,, kita tidak ada yang tau apakah kau masih bisa memegang kata-kata mu itu’

 

 

TBC

Cerita ini makin aneh nggak sih?? Aku kok ngerasanya makin aneh ya??  Aku juga rasanya pingin cepet-cepet endingin ini cerita. Tapi pasti setiap ngetik dan baca ulang aku ngerasa alurnya lambaaaattt banget, selambat siput (?) kalo dicepetin ntar takutnya kecepetann😀 Jadi buat kalian yang bertanya-tanya kapan FF ini akan ending, bersabar lah dengan dada yang lapang😀 soalnya aku juga nggak tau ini bakal ending dimana wakss😀

 

6 thoughts on “[FF Freelance] You Should Be Mine (Chapter 12)

  1. gak papa thor.
    lambt laun aja thor.
    msh bnyk yg blm d crtain thor.
    puncak klimaks nya aja blm thor.
    semangat trus ya thor.😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s