[FF Freelance] Bloody School (Chapter 2)

bloodyschoolcvr

Title : Bloody School (Chapter 2)

Author : DkJung (@diani3007)

Cast :

X [Miss A] Bae Sooji

X [F(x)] Jung Soojung

X [15&] Baek Yerin

X [JJ Project] Im Jaebum

X [A Pink] Oh Hayoung

X [B.A.P] Choi Junhong

X [EXO-K] Oh Sehun

X [F(x)] Choi Jinri

Other Cast :

X [JJ Project] Park Jinyoung

X [15&] Park Jimin

X [SNSD] Kim Taeyeon

X [2PM] Jang Wooyoung

X [Infinite] Kim Myungsoo

Genre : thriller, strictness, murder, horror, a little bit romance

Rated : PG 15

Length : Chaptered

Disclaimer : terinspirasi dari novel ‘Bleeding Survivor’

Previous : Chapter 1,

Summary :

Menjadi korban bullying di sekolah memang tidak enak, sangat. Itulah yang dialami yeoja malang, Bae Sooji. Hanya karena melakukan kesalahan yang seharusnya bisa diangggap wajar, teman-temannya tega membullynya habis-habisan dengan cara yang tidak wajar. Mereka tidak pernah tahu, kalau perbuatan mereka, akan ada balasannya. Mungkinkah, kematian? Apakah dengan cara yang wajar juga?

Summary for Chapter 2 :

Hantu tidak ada yang gila. Ini semua permintaannya. Dan permintaannya telah dikabulkan.

“Chapter 2”

“Uhm, aku… a-a-ak-aku… ingin… membunuh mereka semua…”

“Membunuh? Huh, sudah kuduga.”

“K-k-keunde, apa keinginanku bisa terkabul?” Tanya Sooji yang masih ragu dengan tawaran Soojung.

“Tentu saja. Aku akan mengabulkannya.”

“Tanpa syarat?”

“Uhm, sebenarnya ada.”

“Apa?”

“Setelah urusan kita selesai, kau harus mengubur mayatku. Aku tidak mungkin berlama-lama di toilet, bukan?”

Jantung Sooji tiba-tiba berdebar kencang. “B-ba-baiklah.”

“Yang kau lihat sekarang ini bukanlah tubuhku, tetapi hanya arwahku. Tubuhku berada di halaman belakang sekolah, di gudang, lantai yang tepat berada di bawah toilet ini. Bocah-bocah tengik itu mendorongku dari toilet hingga terjatuh ke halaman, lalu mereka menyeretku ke dalam gudang.”

“Keurom, apa yang terjadi dengan kepalamu?”

“Mereka bersenjata. Peluru bersarang di kepalaku. Lebih parah darimu, bukan? Dan kau tahu? Baek Yerin adalah  adik dari Baek Ah yeon, penyebab penderitaanku di sekolah ini.”

Sooji hanya mengangguk pelan. Sesekali dia memperhatikan kepala Soojung yang bolong dan penuh darah itu. Walaupun begitu, Sooji tetap dapat melihat bahwa dulunya Soojung sangat cantik. “Bagaimana kau akan membunuhnya?” Tanya Sooji.

“Hm, masuk ke tubuhmu?”

“Mwo?!”

“Tentu saja tidak, bodoh! Jika memang iya, pasti kau akan dituduh sebagai pembunuhnya. Kau tahu, kan? Aku tidak kasat mata, aku memang bisa menembus dinding atau pintu, tapi aku masih bisa memegang benda tajam.”

Sooji lagi-lagi hanya bisa mengangguk mengerti. Ada perasaan lega, juga ada perasaan ragu di benaknya. Keinginannya bukanlah hal yang sepele. Membunuh.

“Jangan beritahu orang lain tentang keberadaanku ini, hanya kau yang tahu.”

“Arrasseo.”

“Keuraesseo, sekarang sebaiknya kau kembali ke kelasmu.”

“Tidak bisa, pintunya terkunci.”

“Sudah tidak sejak aku datang. Bukalah.”

Dengan gerak yang pelan Sooji berdiri lalu meraih knop pintu. Terbuka. Sooji menoleh ke arah tempat Soojung berada, tapi dia sudah menghilang.  Sooji hanya menggeleng-geleng cepat lalu segera pergi dari kamar mandi menuju pintu gerbang utama sekolah. Tidak peduli dengan pelajaran guru Kim yang sedang berlangsung. Dia ingin pulang.

“…”

“Apa nona tidak apa-apa? Nona baik-baik saja, kan?” Tanya seorang yeoja paruh baya.

Sooji mengangguk lemah lalu berbaring di atas tempat tidurnya. “Ambilkan saja aku kotak P3K, Imo.”

“Arrasseo, jamsimanyo.”

Sooji hanya diam menatap langit-langit kamarnya. Kamarnya sangat luas, lebih luas dari ruang kelasnya. Kamarnya saja sudah besar, sudah pasti rumah Sooji jauh lebih besar. Memang, rumahnya sangat besar. Namun sayangnya hanya dihuni oleh dua orang, Sooji dan pembantunya yang selalu Sooji sapa dengan panggilan ‘Imo’. Sooji kadang berpikir, untuk apa rumah sebesar ini kalau penghuninya tidak pernah pulang dan hanya menyisakan dua orang? Sooji kadang merasa dia tidak memiliki orang tua. Orang tua yang seharusnya peduli akan perkembangan anaknya, mengawasinya setiap hari, membemakan bersama, membimbingnya belajar, membantunya saat ada masalah, menenangkan emosinya, mendengarkan curhatannya, mendidiknya, menyayangi dan mengasihinya. Tapi sayangnya Sooji tidak pernah merasakan itu semua, sebagai seorang anak, sejak kecil.

Sooji hidup kesepian sejak dia berumur dua tahun. Orang tuanya hanya mengurusnya saat bayi saja, itupun lebih dibantu oleh baby sitter. Sedangkan ketika Sooji berusia dua tahun, dia benar-benar dilepas. Sepertinya, orang tuanya tidak akan pernah peduli padanya, walaupun di sekolahnya Sooji dibully. Ya, orang tuanya semakin jarang pulang sejak Sooji masuk sma.

Flashback on

Sooji menyusuri lorong yang menghubungkan kamarnya dan kamar orangtuanya. Terdengar samar-samar suara eommanya.

“Eomma?” ucap Sooji seraya membuka pintu kamar eommanya yang tidak tertutup rapat. Tidak ada appanya di situ, karena beliau pulang malam. Sooji berniat menunjukkan hasil ujian pertamanya saat ia masih kelas satu sd.

Nyonya Bae, eommanya itu masih sibuk dengan komputernya dan ponselnya yang ia jepit degan telinga dan bahunya. “Eomma?” ulang Sooji.

“Nanti saja Sooji-ya, eomma sedang sibuk.”

“Keunde eomma, ini hasil–“

“Nanti saja!”

Kata-kata itu berhasil memerintah Sooji untuk segera meninggalkan kamar eommanya. Hari-hari berikutnya, Sooji tidak melihat eomma dan appanya lagi. Nyonya Jung pergi ke Jepang untuk mengurus beberapa cabang perusahaannya. Sementara appanya merupakan seorang sutradara terkenal di London. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing seolah-olah tidak merasa mereka memiliki anak tunggal.

Flashback off

Sooji hanya tersenyum getir mengingat memori masa lalunya. Terakhir kali dia memeluk orang tuanya saat ia berumur tiga tahun, itupun ketika mereka hendak ke luar negri. Sooji benci hidupnya. Dia lalu meraih kotak P3K dari tangan pembantunya itu.

“…”

Sooji berjalan memasuki toilet perempuan sekolahnya dengan hati-hati. Untungnya di dalam tidak ada orang.

“Aku di sini,” ucapnya.

Dan yeoja itu, Soojung, kembali muncul dengan kondisi yang sama seperti kemarin, kepala bolong yang penuh darah. Namun, seperti yang pernah Sooji katakan, dia tetap cantik walaupun wajahnya sangat pucat.

“Baguslah, kau ingin memulai kapan?” Tanya Soojung.

“Bagaimana kalau hari ini? Itu sih terserah padamu. Keunde, bagaimana caramu membunuh mereka semua?”

“Kau bisa membantuku,” ucap Soojung misterius.

“Dengan cara apa?”

“Tepuk tanganmu sebanyak empat kali, lalu hentak-hentakkan kakimu sebanyak dua kali.”

Sooji mengerutkan dahinya. Apa maksudnya? Untuk apa? Batin Sooji. Tapi Sooji tidak berpikir terlalu lama, dia langsung saja menuruti perintah Soojung. Dan setelah hentakkan kaki Sooji yang kedua, luka di kepala Soojung mendadak hilang. Dahinya nampak mulus tanpa luka sedikitpun. Sooji menganga. Dia cantik ditambah dengan senyumannya. Seragam yang ia kenakan kembali seperti baru.

“Ottae? Apa aku bisa masuk ke kelasmu dengan penampilan seperti ini?” tanyanya. Sooji mengangguk pelan. “Bagaimana bisa kau terlihat seperti hidup kembali?”

“Selama mayatku belum dikubur, aku masih bisa berubah menjadi manusia utuh. Hanya saja, aku tidak akan bisa makan ataupun minum. Itulah hadiah yang diberikan padaku saat pertama kali memasuki dunia hantu. Semua hantu punya hadiah masing-masing.”

Sooji hanya begong mendengar ucapan Soojung yang terdengar tidak masuk akal tentang dunia hantu. Tapi Sooji tidak terlalu ambil pusing. Dia hanya perlu memastikan Soojung bisa membantunya.

“Apa ini akan berhasil?”

“Pasti. Lakukan saja seperti tadi jika kau ingin aku muncul ataupun menghilang, arra?” ucap Soojung dengan yakin. Sooji kembali mengangguk.

“…”

Pada saat Soojung memasuki ruang guru, semua guru kaget dan langsung bergidik ketakutan. Tentu saja, karena yang mereka tahu Jung Soojung sudah meninggal dua tahun yang lalu dan mayatnya dinyatakan hilang. Tapi dengan akal Soojung, dia bisa mengelabui para guru. Dia akan tetap menjadi Soojung, hanya saja dia merubah marganya menjadi Bae Soojung.

“Arrasseo, Bae Soojung, aku akan mengantarkanmu ke kelasmu,” ucap guru Jang.

Soojung mengikuti langkah guru Jang dalam diam. Beberapa langkah lagi dia akan sampai di depan pintu kelas 3-1. Ya, cara Soojung memasuki sekolah ini, kelas ini terutama, adalah dengan cara masuk ke dalam tubuh salah seorang yeoja paruh baya yang merupakan orang kaya. Setelah berhasil membuatnya mendaftar, Soojung menghilangkan ingatan yeoja paruh baya itu. Sehingga, setelah Soojung keluar dari tubuhnya, yeoja paruh baya itu tidak akan ingat apa-apa, apalagi mengingat wajah Soojung.

Guru Jang membuka pintu ruang kelas 3-1. Anak-anak yang sedang ribut itu tampak tertarik dengan kehadiran Soojung. Setelah memasuki kelas, guru Jung mempersilahkan Soojung untuk memperkenalkan diri.

“Annyeonghaseyo, Bae Soojung imnida,” ucap Soojung singkat.

“Mwo? Bae Sooj…jung? Soojung?” gumam Jaebum yang agak merasa aneh mendengar nama Bae Soojung. Tentu saja, karena sangat mirip dengan Bae Sooji.

Karena tidak mendengar ucapan apa-apa agi dari Soojung, guru Jang akhirnya mempersilahkan Soojung duduk. Soojung duduk di bangku kosong yang memang telah tersedia dan tepat berada di antara Jaebum dan Yerin. Soojung menatap Jaebum dan Yerin yang tidak sedang melihatnya itu bergantian. Dia lalu menyeringai, Mereka tidak sadar akan berhadapan dengan siapa, batinnya.

“…”

Sebentar lagi bel pulang akan segera berbunyi. Tapi Sooji tetap tidak bisa fokus pada pelajaran yang sedang diterangkan oleh guru Kim. Akhirnya dia memutuskan untuk izin keluar ruangan.

“Saem!” ucap Sooji sambil mengacungkan tangannya.

“Waeyo, Sooji-ya?”

“Aku izin ke toilet.”

“Baiklah, silakan. Jangan lama-lama.”

“Nde, sonsaengnim.”

Sooji pun berjalan keluar kelas, menaiki beberapa anak tangga, lalu sampai di depan kelas 3-1. ‘Kelas baru’ Soojung yang menyamar sebagai Bae Soojung. Sooji mengintip dari jendela kelas untuk mencari Soojung. Setelah menemukannya, secara kebetulan Soojung juga sedang menatapnya. Tanpa diberi perintah, Soojung sudah tahu pasti Sooji ingin ia keluar dari kelas saat itu juga. Dengan beralasan ingin ke toilet, guru Jang memperbolehkan Soojung untuk keluar kelas. Soojung dan Sooji pun memilih tempat yang lebih aman untuk mengobrol, toilet perempuan.

“Ada perlu apa kau? Jangan bilang kau ingin menyuruhku untuk cepat-cepat membunuh mereka?” Tanya Soojung mengawali pembicaraan.

“Aniya, keuge, aku ingin bertanya. Apa jika mereka membullyku lagi kau akan ada untuk membantuku?”

“Memangnya siapa yang membullymu hari ini?”

“Tadi, sebelum jam pelajaran, Jinri dan Hayoung mengerjaiku di kantin. Mereka menumpahkan jatah makan siangku hingga berserakan di lantai. Aku jadi tidak bisa makan siang. Aku sudah mencarimu, tapi tadi kau di kelas tidak ada.”

“Jadi?”

“Sebenarnya, aku ingin tanya satu lagi. Mereka memang sudah sangat jahat dan keterlaluan terhadapku, aku tahu itu. Keunde, apa aku masih bisa membatalkan keinginanku untuk membunuh mereka? Saat itu aku sedang dalam keadaan yang cukup kacau, aku bahkan tidak sadar aku meminta seperti itu padamu. Aku takut masalahnya jadi semakin besar. Aku takut jika salah satu dari mereka mati, Yerin ataupun Jaebum akan semakin menyiksaku. Jebalyo, hentikan saja. Mereka bahkan menuduhku bahwa kau adalah sudaraku!” ucap Sooji yang mulai panik.

Fashback at break time

Sooji berjalan mencari kursi kosong untuk menyantap makan siangnya. Tiba-tiba saja, sebuah kaki menyandungnya hingga terjatuh.

“Aahh! Makan siangku!” ucap Sooji ketika melihat makan siangnya berserakan di lantai.

Suara tawa mengejek mulai terdengar. Mereka Jinri dan Haeyoung yang sedang makan berdua dia meja yang baru saja Sooji lalui.

“Kasian sekali kau, tidak bisa makan!” ucap Jinri yang sengaja diperkeras supaya murid-murid yang lain bisa mendengar. Sementara itu Hayoung hanya menatapnya sinis.

“Jangan diam saja, cepat bereskan!” bentak Jinri yang agak risih melihat Sooji yang diam saja sambil menatapnya dan Hayoung secara bergantian.

“Kenapa? Kau marah? Kau bisa apa?” Tanya Hayoung semakin meremehkan.

Kini suara tawa semakin besar dan terdengar lebih banyak karena sudah banyak yang mengerubungi Sooji. Hampir semua yang berada di kantin, kecuali murid-murid miskin yang hanya memakan makan siang mereka dalam diam. Mereka terlalu takut untuk ikut melihat. Bisa-bisa mereka bergabung dengan Sooji.

“Kalian harus mengganti makan siangku!” gertak Sooji.

Jinri dan Hayoung saling tatap lalu malah menertawakan. “Kau berani pada kami? Coba saja lawan kami!” ejek Jinri.

Sooji hanya mengendus kesal. Sooji merasa melawan mereka hanya akan membuang-buang waktu. Karena sudah pasti pada akhirnya dia akan kalah. Kalah dalam segi fisik, tenaga, dan jumlah. Sooji hanya sendiri, sementara mereka banyak. Sooji tidak mungkin menang. Kecuali jika Soojung ada di sampingnya, membantunya. Tapi kini tidak ada. Entah kemana Soojung saat itu.

“Lihat, kan! Kau tidak bisa apa-apa!” bentak Hayoung.

“Setidaknya yang bisa aku lakukan bukan menghabiskan masa mudaku untuk memperbanyak dosa seperti kalian!”

Jinri memutar bola matanya malas. “Lihat! Dia malah menasihati kita! Berani sekali!”

“Apa perlu kita panggilkan Yerin?” Tanya Hayoung pada Jinri.

“Aku rasa tidak. Kita harus tunjukkan pada si yeoja tengil ini kalau kita juga bisa menghajarnya tanpa Yerin.

Mereka berdua lalu mengumpulkan makanan Sooji yang berserakan di lantai. Sooji yang melihatnya sempat bingung. Namun ketika wajahnya diolesi saus, dia sudah tidak bingung lagi. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuatnya menderita. Kini mereka dengan teganya mengotori seragam, wajah, dan rambutnya dengan makanan milik Sooji. Apa yang Sooji kalukan? Ya, benar, diam. Menunggu sampai semua ini benar-benar berakhir.

Flashback off

Soojung memperhatikan seragam Sooji yang memang terlihat kotor.

“Kau tidak perlu khawatir, aku akan membereskan mereka semua. Tadi kau bilang siapa?”

“Choi Jinri dan Oh Hayoung.”

“Arrasseo, kau hanya tinggal tunggu dan lihat.”

Bel pulang berbunyi. Sooji dan Soojung segera keluar dari toilet lalu pergi menuju kelas mereka masing masing. Namun, Sooji berhenti berjalan ketika Soojung memasuki kelasnya. Dia penasaran apa yang akan dilakukan Soojung terhadap Jinri dan Hayoung. Sooji pun memutuskan untuk mengintip di balik tembok yang tak jauh dari kelas 3-1. Jantungnya berdebar cukup cepat. Apa Soojung benar-benar akan membunuhnya?

Beberapa murid kelas 3-1 mulai berkeliaran keluar kelas. Hingga kelas kosong dan hanya menyisakan tiga orang, Jinri, Hayoung dan Soojung. Tatapan Soojung sangat tajam ke arah Jinri dan Hayoung. Jinri mulai merasakan tatapan itu. “Soojung-ssi, kau belum pulang? Ada perlu apa lagi?” Tanya Jinri.

“Aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan,” jawab Soojung masih dengan tatapan yang sama.

“Urusan apa? Dan dengan siapa? Kenapa kau hanya sendirian?”

“Aku tidak sendirian, aku kan bersama kalian. Urusanku adalah dengan kalian.”

Jinri dan Hayoung menjadi takut setelah mendengar perkataan Soojung yang melibatkan mereka dan terdengar cukup serius karena Soojung sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari mereka.

“Memangnya urusan apa? Kami merasa tidak ada urusan sedikitpun denganmu, lagipula kami kan baru hari ini mengenalmu,” ucap Hayoung.

Soojung tidak menjawab. Dia kini berjalan mendekati Jinri dan Hayoung yang masih duduk di kursi mereka. Soojung tak segan mengeluarkan sebuah pisau dari dalam saku jas seragamnya.

“Ya! Jung Soojung! Jauhkan itu!” teriak Jinri  yang saat itu juga melompat dari kursi. Sementara Hayoung berlari ke sudut kelas.

Jinri yang kurang hati-hati ketika melompat, atau karena saking kagetnya, dia terjatuh dalam keadaan duduk. Dengan gerak cepat Soojung menghampiri Jinri yang masih terduduk itu lalu…

JLEB!

Hayoung dan Jinri menganga bersamaan. Hayoung menganga karena kaget atas perbuatan Soojung yang dengan tega membunuh Jinri. sementara Jinri kini mulai terlihat pucat dan berkeringat. Tatapan Soojung masih sama, belum berubah. Soojung kini bahkan dengan teganya memutar dan menggerak-gerakkan pisau yang menancap di perut Jinri ke kanan, kiri, atas, bawah, hingga luka akibat pisau itu semakin lebar dan semakin banyak mengeluarkan darah. Jinri mulai menangis dan memelas pada Soojung. Namun itu semua tidak berarti. Jinri menghembuskan nafas terakhirnya lalu tergeletaklah mayatnya di ruang kelas 3-1. Darah Jinri semakin deras mengalir dari perutnya yang bolong hingga sampai ke ujung sepatu Hayoung. Hayoung pun menjerit lalu lari ke luar kelas. Soojung tidak tinggal diam, dia mengejar Hayoung. Namun sepertinya dia tidak perlu susah payah. Dia mengeluarkan sebuah pisau lagi lalu melemparnya tepat mengenai kepala Hayoung yang tengah berlari terbirit-birit. Sontak, tubuh yeoja yang sedang berlari itu ambruk. Nafasnya yang masih belum beraturan itu harus terhenti ketika Soojung berjalan menghampirinya dan menancapkan pisau lagi di lehernya. Darah Hayoung yang masih segar itu tersemprot ke mana-mana. Soojung tersenyum licik.

Sementara itu, Sooji yang masih mengintip hanya bisa diam. Ekspresinya kosong menatap mayat Hayoung yang menghadap ke arahnya. Sooji terjatuh karena lemas. Dan saat itu juga Soojung menyadari keberadaan Sooji di balik tembok.

“Ottaeyo? Menakjubkan, bukan?” Tanya Soojung seolah telah mempersembahkan sebuah produk alat elektronik keluaran baru yang kenyataannya adalah mayat seorang Oh Hayoung.

“Kalau kau masih belum puas dengan yang ini, di dalam masih ada.”

Sooji terus menggelengkan kepalanya tidak percaya. Apa Soojung sudah gila? Tidak. Hantu tidak ada yang gila. Ini semua permintaannya. Dan permintaannya telah dikabulkan.

“To Be Continued…”

FFFFYYYUUUUUHHHHHHH!!!! Akhirnya selesai juga chapter 2 ini. Gimana? Pasti ngga serem/sadis/menegangkan sama sekali kan? Yaiyalah ._. authornya aja begini! Untuk masalah typo harap bisa dimaafkan. Aku akan sangat berterimakasih kalo ada readers yang mau baca ditambah comment/like. Ya, walaupun aku ngga bales comment kalian, tapi setidaknya aku ngebaca comment kalian dan that’s make me very happy, guys!^^

So, don’t forget to leave your comment~

PLEASE!

40 thoughts on “[FF Freelance] Bloody School (Chapter 2)

  1. Thor ! Sadis banget sungguh deh…
    Aku lewatin bagian si soojung bunuh jinri ama hayoung. Ga tegaliatny!!
    Apa alurnya engga kecepeten thor? Di teror-teror dulu kek.. atau si soojung juga di bully ama yerin dkk atau mungkin si jaebum suka sama soojung … dan ya begitulah..

    Kalo saranku sih awalnya teror dulu biar buatsi jae ama yerin ketakutan

    Overall sadis kok haha😀 nyampe ga berani imajinasi😀

    • kalo untuk masalah teror-meneror, aku justru bikinnya yerin sama jaebum diteror sama kematian hayoung & jinri yang ngga diketahui pembunuhnya. dan mungkin itu akan dibahas di chapter selanjutnya. makasih reviewnya^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s