Hyuna’s Diary [Part2 – S.O.S Man]

hyunas-diary

Author : Asafitri || Poster : Yoora art || Cast : 4Minute Hyuna, 2PM Junho || Lenght : Chapter || Genre : Romance || Ratting : PG-15 || Disclaimer : cerita ini punya author 100%, cast hanya milik agensi masing-masing. Dan cerita ini merupakan tiap chapter dari novel yang saya buat tapi belum diterbitkan(?)

SILENT READERS, GO AWAY!

HAPPY READING \^^\

Know Your Name

= = =

Matahari bersinar terang sabtu pagi di Busan. Awan putih seperti kapas dan langit biru, membuat hari itu menjadi sangat sempurna bagi Hyuna. Hyuna sudah mempersiapkan dirinya dengan baik. Mulai dari memmakai pakaian terbaik, menyisir rambutnya dengan sangat rapi, dan memakai parfum agak sedikit berlebihan. Hyuna tersenyum sambil menatap dirinya dicermin.

“Lee Junho-ssi, tunggu aku sebentar lagi ya.” Ujarnya pad bayangan dicermin.

Hyuna melirik jam dinding. Sudah pukul 9 pagi, artinya satu jam lagi adalah waktu perjanjian mereka. Hyuna bergegas mengambil dompet dan ponselnya, dan tak lupa diary-nya, kemudian memasukkannya kedalam sebuah tas dan membawanya. Setelah mengunci pintu, dia segera berjalan menuju halte yang tak jauh dari rumahnya.

Hyuna menatap pemandangan disekitarnya. Jalan yang agak sepi oleh mobil-mobil pribadi, menjadikan kota ini sedikit terbebas dari polusi. Hyuna menarik nafas panjang, kemudian membuangnya secara perlahan.

5 menit kemudian, bus pun tiba. Hyuna segera naik ke dalam bus, dan berharap bus berjalan secepat mungkin. Dia ingin segera bertemu dengan teman barunya itu, teman yang aneh namun sangat sulit dilupakan oleh pikirannya. Hyuna hanya tersenyum sendiri didalam bus.

Sementara itu, disebuah halte…

Seorang pemuda tengah asyik bermain game di ponselnya dengan sebuah earphone terpasang di telinganya. Sesekali pemuda itu melihat ke halte di sebrangnya saat ada bus berhenti, namun apa yang ditunggunya belum juga datang. Pemuda itu hanya tersenyum tipis, kemudian mulai memainkan kembali ponselnya.

“Apa jangan-jangan, dia tak akan datang? Aku bahkan lupa untuk minta nomor ponselnya.” Gerutu pemuda itu. Namun dari hati kecilnya, orang yang ditunggunya pasti akan datang, meskipun dia sendiri tidak begitu yakin.

Sebuah bus pun berhenti di halte sebrang jalan. Pemuda itupun melihat sesosok gadis turun dari bus tersebut. Gadis yang sedari tadi ditunggunya, gadis yang dikenalnya satu minggu yang lalu. Gadis itu melihat kearahnya, kemudian melambaikan tangan. pemuda itu balas melambaikan tangan.

Gadis itu—Kim Hyuna—berjalan menyebrangi jalan, menuju tempat dimana sang pemuda alias Lee Junho sudah menunggunya. Saat Hyuna hampir sampai ditempat dimana Junho telah menunggu….

Bruk!

“Ommo!” teriak Hyuna.

Sebuah mobil sedan pun menabrak Hyuna yang sedang berjalan. Hyuna berusaha menghindar, namun sayang, kecepatan mobil itu melebihi kecepatannya untuk menghindar. Melihat hal itu, Junho pun dengan segera berlari kearah Hyuna.

“Ya Kim Hyuna!” pekik Junho, kemudian berlari menuju tubuh Hyuna yang sudah terbujur diatas aspal. Kepala Hyuna mengeluarkan darah segar, dan ada beberapa luka lecet di tangannya!

“Ambulans! Cepat panggil ambulans!” ujar Junho pada orang-orang yang berada disekelilingnya. Junho pun dengan sigap melakukan pertolongan pertama sebisanya pada Hyuna.

= = =

Perlahan-lahan Hyuna mencoba untuk membuka matanya, namun rasanya sangat berat. Hyuna pun memaksa untuk membuka mata, perlahan-lahan yang awalnya hanya gelap, kini samar-samar Hyuna dapat melihat sebuah langit-langit kamar. Itu bukan kamarnya. Aroma khas suatu ruangan pun tercium. Itu bau rumah sakit.

“Hyuna, kau sudah sadar?” tanya seseorang kepadanya. Hyuna merasa mengenali suara itu meskipun samar-samar. Ya, Hyuna ingat suara itu.

“Ehm…. ini dimana?” Hyuna balik bertanya.

“Ini dirumah sakit. Tadi kau mengalami cedera karena terserempet mobil. Untunglah cederanya tidak sampai menyebabkan kepalamu mengalami pendarahan.”

Hyuna pun melihat tangannya yang diperban, lalu memegang kepalanya yang juga terbalut perban. Ada sebuah rasa nyeri ketika Hyuna memegang kepalanya. Hyuna hanya meringis.

“Lalu… siapa yang membawaku kemari?” tanya Hyuna.

“Aku. aku melakukan pertolongan pertama sebisaku, kemudian aku menyuruh seseorang untuk menelpon ambulans.”

Hyuna menatap pemuda yang duduk disamping tempat tidurnya itu.

“Kau… benakah kau yang menolongku?” tanya Hyuna pada pemuda yang ada didepannya. Pemuda yang sseminggu yang lalu dikenalnya, dan kini pemuda itu menolongnya. Pemuda itu hanya tersenyum.

“Kenapa? tidak boleh ya?” pemuda itu balik bertanya, yang membuat Hyuna semakin aneh dengannya.

“Tidak, bukan begitu… maksudku… bagaimana aku menjelaskannya ya?”

“Memang kenapa? Sudah jelaskan saja.”

“Kau tahu kan, Junho-ssi, kita baru seminggu yang lalu bertemu, dan kau sudah ingin mengajakku untuk bertemu yang kedua kalinya, kemudian kau menolongku? Aku jadi merasa aneh.”

“Karena aku ingin menjadi orang yang akan selalu melindungimu. Aku adalah S.O.S man-mu, jadi panggil aku kalau ada masalah.” Junho tersenyum pada Hyuna. Hyuna membalas senyum Junho.

“Jjinja? memang apa yang bisa kau lakukan untukku?” tanya Hyuna setengah bercanda.

“Yang kulakukan untukmu?” Junho menaikkan alisnya. “Banyak. Buktinya tadi aku melakukan pertolongan pertama untukmu. Hanya untukmu, nona Kim Hyuna.”

“Hanya itu? Tak ada yang lain?”

“Memang kau mau apa? Aku pasti akan melakukan semuanya.”

“Aku mau menaikki menara Eiffel, apa kau bisa mewujudkannya?”

“Bisa, tak ada yang tak bisa kukerjakan untumu, nona manis.”

Hyuna terkekeh melihat perlawanan Junho yang begitu kukuh untuk melindungi Hyuna. Dia pun menatap Junho. Kalau dilihatlihat, style Junho saat ini bisa dibilang keren. Rambutnya yang coklat disisir rapi, kemeja biru dan rompi hitam, serta celana jeans hitam senada dengan warna rompinya, membuatnya telihat sangat keren. Hyuna berpikir, Junho mempunyai style yang bagus juga.

“Kau, mengapa kau menatapku seperti itu?” tanya Junho sambil mengambil ponselnya dari salah saru kantong di rompinya.

“Tidak apa-apa, memangnya tidak boleh ya?” ejek Hyuna.

“Bukannya tidak boleh, hanya saja… ahh sudah lupakan. Oiya, aku minta nomor ponselmu.” Junho menyerahkan ponselnya pada Hyuna. Hyuna menaikkan alisnya, kemudian mulai mengetik nomor ponselnya di ponsel Junho. Setelah selesai, Hyuna pun mengembalikan ponsel itu pada Junho.

“Trims ya, lain kali aku akan mengajakmu bertemu lagi. Aku akan menghubungimu. Aku pamit dulu ya, istirahat yang cukup ya.” Junho pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Sebelum membuka pintu, Junho menoleh kebelakang dan memberikan sebuah senyuman pada Hyuna.

“Hati-hati, Junho-ssi.”

Junho hanya tersenyum, kemudian menghilang dibalik pintu.

= = =

“Kesehatanmu sudah mulai membaik, lukamu juga tidak cukup serius, kau bisa pulang 3 hari lagi.” Ujar dokter Jang saat memeriksa kesehatan Hyuna

“Apa aku bisa pulang besok? Lagipula, ini kan hanya luka kecil.” Protes Hyuna. 3 hari merupakan waktu yang lama untuknya, terlebih mengingat dia pernah dirawat setahun dirumah sakit, membuat Hyuna sudah bosan dengan semua tempat yang bernama rumah sakit. Entah itu di Seoul, Busan, atau bahkan Prancis sekalipun. Hyuna sangat membenci rumah sakit.

“Baiklah, tapi apa kau yakin?” tanya dokter Jang.

“Yakin! Sangat yakin!” jawab Hyuna bersemangat. Dokter Jang hanya tertawa kecil.

“Semangat sekali, baiklah, besok kau sudah boleh pulang.” Ujar Dokter Jang, kemudian pergi keluar diikuti suster yang sedari tadi mencatat apa yang dokter ucapkan ketika memeriksa Hyuna. Hyuna pun melamun, membayangkan dirinya setahun yang lalu.

Setahun yang lalu…

“Eomma, apa aku bisa pulang dari rumah sakit?” tanya Hyuna pada Eommanya.

“Molla, kau tanya saja pada dokter.” Jawab Nyonya Kim seadanya.

“Tapi Eomma, dokter bilang aku masih lama disini. Aku sudah bosan dengan segala pemeriksaan. Memangnya aku sakit apa?”

                Nyonya Kim tertegun. Selama ini dia belum meberi tahu penyakit yang diderita putri bungsunya itu kepadanya. Nyonya Kim menatap Hyuna iba, antara mau memberi tahu atau tidak. Dia dan suaminya sepakat untuk tidak memberi tahu hal ini pada Hyuna, namun jika Hyuna sudah bertanya seperti inidia tak bisa mengelak.

                “Kau, akan tahu pada saatnya nanti.” Ujar Nyonya Kim sambil menahan tangis.

Hyuna berjalan menuju jendela kamar rumah sakit. Dia sibak tirainya. Tampaklah pemandangan kota Busan pada malam hari. Langit penuh bintang dan sebuah bulan purnama, mengingatkannya pada senyum Eommanya yang cerah seperti bulan. Hyuna menghela napas panjang.

“Eomma, aku benar-benar merindukanmu. Tapi aku tak bisa pulang. Aku tak mau memihak diantara Eomma atau Appa, aku ingin tinggal sendiri kalau kalian tidak juga rujuk.” Ujarnya pada bulan sambil menahan tangis.

Kemudian dia ingat seseorang. Seseorang yang juga memiliki senyuman yang cerah seperti Eommanya. Seseorang yang selalu tersenyum padanya. Dialah Junho. Entah kenapa, semenjak Junho menolongnya tadi, Hyuna jadi terus memikirkan Junho.

“Lee Junho-ssi, sebenarnya kau itu siapa? Kenapa kau selalu mengangu pikiranku akhir-akhir ini? Kenapa kau datang disaat yang tepat? Disaat aku benar-benar membutuhkan teman dikota yang masih baru untukku? Atau mungkin, apakah kau malaikat kiriman dari tuhan?”

Hyuna tersenyum sendiri mendengar beberapa pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu. Entah kenapa, Hyuna merasa menjadi salah tingkah ketika nama Lee Junho terlintas dipikirannya.

Ddrrttt… drrttt… ting ting!

Dia mendengar sebuah dering pesan masuk ponselnya. Hyuna pun tersadar dari lamunannya, kemudian bergegas menuju sebuah meja kecil yang ada disamping tempat tidurnya. Dimeja itu terdapat tas yang Hyuna bawa sebelum kecelakaan itu terjadi. Hyuna mengecek semuanya, mulai dari dompet, ponsel, bahkan diary-nya pun masih ada didalam tasnya. Kemudian dia buka pesan masuk di ponselnya. Dari sebuah nomor yang tak dikelnalnya.

Form : +828777234511

Message : Hi nona, bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah makan malam? Ini aku lee junho, save ya =]

Hyuna menjadi salah tingkah ketika Junho menanyakan kabarnya. Hyuna pun segera menyimpan nomor Junho dan membalas pesan singkatnya.

To : Lee Junho-ssi

Message : aku baik, dan besok mungkin aku akan keluar dari rumah sakit. Aku sudah makan, dan kau? Iya sudah aku save kok^^

Klik!

Terkirim. Hyuna pun segera mengambil diary-nya, dan mulai menuliskan sesuatu didalamnya. Sesuatu tentang Junho, yang membuat Hyuna semakin salah tingkah dibuatnya.

Drrtt… drrtt… ting ting!

Ada sebuah pesan masuk ke ponsel Hyuna, dari Junho. Buru-buru hyuna membalas pesan singkat itu.

Form : Lee Junho-ssi

Message : kau baik? Syukurlah. Aku juga sudah makan. Ngomong-ngomong, kau tidur saja, kau kan besok akan keluar dari rumah sakit, lain kali kita bertemu lagi ya =]

Finish! Junho makin membuatnya salah tingkah. Hyuna tak membalas pesan itu. Dia pun meletakkan ponselnya daitas bantal. Dan sesuai saran Junho, dia harus tidur msekipun dia belum mengantuk.

“SOS Man? Apa maksudnya?”

= = =

“Kau yakin akan pulang sekarang?” tanya Junho sambil membantu Hyuna membereskan barang-barangnya. Hyuna hanya mengangguk.

“Lalu lukamu?”

“Aku tidak apa-apa Junho-ssi, lagipula, aku takut dengan yang namanya rumah sakit.”

“Kenapa?”

“Karena… aku pernah dirawat disini lebih dari setahun. Meskipun bukan dirumah sakit ini, tapi rasanya sama. Ahh sudahlah, ayo kita pulang.”

Junho hanya mengangkat bahu. Entah setuju atau tidak dengan pendapat Hyuna, hanya dia yang tahu. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, Junho segera menyelesaikan administrasi dan memanggil taksi.

“Ajhussi, antarkan yeoja ini ke alamat yang dia maksud.” Ujar Junho sambil memasukan tas Hyuna ke dalam taksi. Supir taksi pun mengangguk, sementara Hyuna pun masuk kedalam taksi.

“Apa kau mau ikut ke rumahku?” tawar Hyuna sebelum menutup pintu taksi.

“Apa boleh?”

“Tentu saja. Kenapa tidak?”

Junho tersenyum. Dia pun segera masuk ke dalam taksi. Sejurus kemudian, taksi pun melaju dengan kecepatan sedang.

“Junho-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Hyuna membuka pembicaraan.

“Apa?”

“Apa maksudmu dengan SOS Man?”

Junho hanya terkekeh ringan “SOS Man? Kau akan tahu pada waktunya nanti, nona manis.”

“Itu bukan jawaban!” Hyuna cemberut, Junho pun mengusap-usap rambut Hyuna, membuat gadis itu menjadi agak tenang.

“Hahaha, jangan marah. Aku hanya tidak mau kau mengetahuinya sekarang, karena aku tidak mau kau….” Junho tak berani melanjutkan kata-katanya.

“Apa?” tanya Hyuna penasaran.

“Ahh, lupakan saja.”

Hyuna hanya terdiam sambil menatap Junho. Tatapan curiga dan penasaran. Beberapa pertanyaan mulai bermunculan dipikirannya, namun tak satupun pertanyaan yang bisa dia keluarkan.

= = =

“Selamat datang dirumahku, maaf berantakan, aku belum sempat membereskannya.” Ujar Hyuna sambil membuka pintu. Pintu kamar terbuka, menampilkan pemandangan ruang tamu sederhana. Tidak terlalu besar, namun juga tidak bisa dibilang kecil. Ruangan itu rapi, walaupun ada beberapa koran masih menumpuk di meja. Hyuna melepas sepatunya, begitupun dengan Junho. Mereka segera duduk di kursi ruang tamu.

“Kau ingin minum apa?” tanya Hyuna sambil beranjak menuju dapur.

“Apa saja yang tidak merepotkanmu.” Ujar Junho sambil mengambil sebuah koran yang ada di meja. Hyuna mengangkat bahu, kemudian berjalan menuju dapur.

Junho memperhatikan sekitarnya. Rumah yang cukup sepi, pikirnya. Rumah itu cukup sederhana. Ruang tamu dan ruang tengah hanya dibatasi oleh sebuah rak buku. Di ruang tengah terdapat televisi dan sebuah sofa, dan beberapa foto yang tidak bisa dia lihat jelas karena terhalang oleh rak buku. Walau sedikit berantakan, namun rumah itu masih terlihat rapi.

Prang!

Bruk!

Terdengar beberapa suara ati arah dapur. Seperti piring pecah dan benda jatuh.

“Hyuna? Kim Hyuna?!” panggil Junho.

Tak ada jawaban.

“Kim Hyuna? Gwaenchana?!”

Tetap tak ada jawaban.

Junho bergegas menuju dapur, dan betapa kagetnya dia, melihat Hyuna yang terbaring di lantai dapur yang dingin, dan disampingnya ada pecahan gelas dan gula yang berserakan. Junho melihat kompor masih menyala, dengan panci berisi air diatasnya. Sepertinya Hyuna pingsan saat akan membuat kopi.

“Kim Hyuna?!” Junho segera membopong tubuh Hyuna menuju kamar, meskipun dia tak tahu dimana kamar Hyuna. Ada 2 kamar dirumah itu. Dia membuka salah satu kamar. Kosong. Tidak ada apa-apa disana. Lalu dia membuka kamar yang satunya, yang pasti merupakan kamar Hyuna. Junho pun segera menidurkan Hyuna dan menyelimutinya. Tubuh Hyuna berkeringat, wajahnya pucat.

“Hyuna, apa yang sebenarnya terjadi?”

tbc…

gimana readers? mian yah lama, aku lagi ngurus kegiatan dan persiapan UTS, jadi baru sempet nge posting hehe😀 *alesan

untuk alur, maaf ya kalo kurang greget, jujur, aku lagi ga dapet feel sama sekali, komentar senantiasa ditunggu~

5 thoughts on “Hyuna’s Diary [Part2 – S.O.S Man]

  1. Yaah lagi seru” nya nih..kayaknya junho nyimpen rahasia,jangan” dya udah suka hyuna dar dulu…penasaran ma lanjutnnya di tunggu next chapt nya ya^^

  2. hyuna sakit apa sebenernya ??
    trus apa yg disembunyiin junho dari hyuna ??
    panjangan sedikit dong eon ceritanya hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s