[FF Freelance] The Sweet Hate (Part 4)

the sweet hate poster 2Judul: The Sweet Hate (part 4)

Author: FZ

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Genre: Romantic, Friendship, Family, Comedy (?)

Main Cast: – Park Chanyeol (EXO)

–          Jang Hye-eun

Disclaimer: FF gagal (-_-) yang pernah dipost di wordpress pribadi >> allfictionstrory.wordpress.com dengan cast berbeda. FF ini udah lama dibuat dan masih belum mendapat perbaikan yang layak. Semoga gak pada ilfeel sama jalan ceritanya J just enjoy the show kkk~

Previous: Part 1Part 2, Part 3,

PART 4

Chanyeol menghampiri Hye-eun yang sedang duduk di salahsatu bangku kantin, sambil membaca buku dan memakai headphone.

Annyeong,” sapa Chanyeol sambil duduk di bangku, di hadapan Hye-eun.

Hye-eun melepaskan headphone-nya. “Annyeong,” ucapnya sambil tersenyum.

Kemudian Chanyeol mengeluarkan sebuah jilidan, dan menaruhnya di atas meja. Hye-eun menggeser jilidan itu dan membawanya kehadapannya. “Apa ini?”

“Itu skenario film pertamaku,” kata Chanyeol bersemangat, sambil memajukan tubuhnya, dengan berpangku pada tangannya yang dilipat di atas meja. “Bagaimana menurutmu?”

“Mmm.. bagus,” jawab Hye-eun datar. Ia pun menyerahkan jilidan itu kepada Chanyeol. Chanyeol mengambilnya.

Ponsel Chanyeol berdering. Setelah membaca nama pemanggil di layarnya, Chanyeol bangkit dari duduknya. “Aku harus pergi. Sehun sudah menungguku.”

Hye-eun mengangguk, lalu melambaikan tangannya ke Chanyeol. Chanyeol membalasnya. Setelah Chanyeol menjauh, ekspresi Hye-eun berubah menjadi jengkel. “Lollipop,” ucapnya pelan. Ia kembali memasang headphone-nya.

Sooji datang dari belakang Hye-eun, dan mengagetkannya dengan mendorong sedikit punggung Hye-eun. “Sooji,” kata Hye-eun memelas, sambil menoleh ke Sooji. Hye-eun pun melepas kembali headphonenya.

Sooji duduk di bangku yang tadi Chanyeol duduki. Lalu tertawa kecil. “Mianhae.”

“Hye-eun, kau mempunyai hubungan dengan Chanyeol?” tanya Sooji tiba-tiba.

Hye-eun yang sedang menyedot susu kotaknya, tersedak. “Kau, kau bicara apa ”

Sooji menopangkan dagunya memasang baby face-nya, dan tersenyum genit. “Tadi kau mengobrol dengan Chanyeol. Dan.. sepertinya, kalian berdua sangat akrab.”

Hye-eun menghela nafas, sambil memutar bola matanya. “Terserah kau,” jawabnya sambil memasang headphonenya kembali, lalu pergi.

Sooji yang merasa bersalah, langsung menghampiri Hye-eun dan merangkulnya.

@@@

                Hye-eun sedang menuruni tangga, karena baru saja turun dari ruang kesenian di lantai dua, gedung sekolahnya. Ia membawa beberapa buku di pelukannya. Tangga itu begitu sepi, karena yang lain sudah keluar dari sana. Hye-eun kebagian piket hari ini. Jadi, sebelum pergi, ia harus membersihkan ruangan itu.

Tiba-tiba. Salahsatu anak tangga licin, seperti disiram semacam minyak, sehingga Hye-eun tergelincir, dan jatuh. Kebetulan Chanyeol sedang menaiki tangga sambil memainkan kunci mobilnya. Melihat Hye-eun tergelincir, ia buru-buru belari menaiki tangga dan menangkap Hye-eun. Kunci mobilnya pun dilemparnya begitu saja.

Tapi, Chanyeol malah ikut terjatuh setelah menangkap Hye-eun. Mereka berdua jatuh sampai ke belokan tangga. Sayangnya, kepala Chanyeol membentur tembok, sehingga ia sadarkan diri.

Hye-eun langsung bangun dari jatuhnya. Untung saja Chanyeol cepat menolongnya, kalau tidak mungkin kepalanya atau bahkan tubuhnya akan terluka. Ia melihat Chanyeol berbaring tidak berkutik.

Ia mencoba membangunkan Chanyeol dengan nada cuek, sambil memegang kepalanya yang juga sakit. “Ya!! ireona! Kau tak mau membuat gosip lagi, kan?”

Namun, Chanyeol tidak menjawab, Hye-eun mulai panik. “Chanyeol. Kau jangan bercanda! ireona!” kata Hye-eun panik sambil menepuk-nepuk pipi Chanyeol.

Masih tidak ada jawaban.

Di koridor rumah sakit.

Chanyeol yang berada di atas kasur beroda, didorong oleh Sehun, Luhan, Kyungsoo serta beberapa perawat rumah sakit, menuju ruang ICU. Tidak ketinggalan Hye-eun, yang berada di ujung kasur tersebut. Kantong cairan infuse di pegang salah satu perawat di bagian depan. Appa Chanyeol tidak bisa ke sana, karena sedang berada di Jepang, sedangkan eomma Chanyeol ikut dengan appa-nya.

Setelah Chanyeol masuk ruangan tersebut, pintu ruang ICU ditutup, agar tidak ada yang masuk kecuali para dokter dan perawatnya. Hye-eun duduk lemas di kursi, sebelah kanan ruang ICU. Ia terus mengerakan kakinya, itu sudah menjadi kebiasaannya kalau ia sedang panik.

Satu jam kemudian.

Dokter dari ruang ICU keluar. Kyungsoo dan sahabat Chanyeol langsung menghampiri dokter tersebut. Hye-eun masih diam di bangku, tidak berani berdiri karena kakinya masih terasa lemas. Dokter bilang, Chanyeol baik-baik saja. Hanya mengalami gegar otak ringan, serta pergelangan kaki kanannya retak. Hye-eun mulai tenang mendengar kalau Chanyeol baik-baik saja. Setelah diizinkan dokter, mereka boleh masuk menemui Chanyeol.

Enam jam, lima puluh menit, tiga detik kemudian Chanyeol membuka matanya perlahan. Ia merasa aneh dengan tempat ini. Sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin pendeteksi detak jantung. Ia meraba kepalanya, dengan tangan kanannya, perban? Kemudian ia meraba hidungnya, selang oksigen? Ia mencoba menggerakan kakinya. Namun ia melihat kaki kanannya tergantung di ujung kasurnya dan diperban. Dimana aku?

Ia tidak bisa mengingat apa yang terjadi padanya, sampai bisa ada disini. Ia hanya ingat, kalau waktu itu ia menolong Hye-eun yang tergelincir, lalu jatuh bertindih Hye-eun dan ia merasa sakit di kepalanya, kemudian ia tidak ingat apa-apa lagi.

Ia menoleh ke tangan kanannya, tidak ada infusan. Kemudian menoleh ke tangan kirinya. Ia melihat Hye-eun yang sedang tidur di samping tempat tidurnya, sambil terus memegangi tangan Chanyeol. Chanyeol tersenyum, ia menggerakkan tangan kanannya ke kepala Hye-eun.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan tersebut.

Kyungsoo menghampiri Chanyeol, dan bicara perlahan. “Syukurlah kau sudah sadar.”

Chanyeol tersenyum ke Kyungsoo, lalu menoleh lagi ke Hye-eun.

“Sedari tadi ia menunggumu. Sampai akhirnya ia tertidur,” ucap Kyungsoo sedikit malas.

“Media tidak tahu kan?” tanya Chanyeol masih lemas.

“Mereka hanya tahu, kau sebatas terluka. Aku sudah minta agar tempat kau dirawat dirahasiakan. Kau tidak perlu memikirkan itu, aku sudah mengurusnya. Yang penting kau harus istirahat, hingga sembuh, agar kau bisa syuting untuk film pertamamu,” jawab Kyungsoo. Chanyeol merasa tersentuh—sedikit—mendengar Kyungsoo begitu perhatian padanya.

Gomawo,” kata Chanyeol. Kyungsoo mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut. Sebetulnya, ia tidak ingin meninggalkan Hye-eun dengan Chanyeol berduaan. Namun, ia pikir hal itu sudah tidak perlu lagi.

Kini Chanyeol mengelus kepala Hye-eun. Hye-eun mengulat, lalu menaikan kepalanya yang sedari tadi ia rebahkan di pinggir tempat tidur. Hye-eun mengkerjap-kerjapkan matanya.

“Chanyeol?” tanya Hye-eun bingung, masih mengucek-ucekan matanya.

Chanyeol pun tersenyum, senyum yang tulus.

Hye-eun langsung duduk tegak. “Chanyeol, kau tidak apa-apa kan? aku tidak tahu bakal seperti ini. Kau begini gara-gara aku, jadi maafkan aku,” Hye-eun menyerocos.

“Aku tidak apa-apa, Hye-eun,” balas Chanyeol.

Hye-eun berdiri dari duduknya. “Lalu, bagaimana dengan syutingmu? dengan luka seperti ini, apa kau bisa?”

“Syuting itu dilaksanakan dua minggu lagi. Aku yakin, akan sembuh total sebelum hari itu,” jawab Chanyeol yakin.

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya Hye-eun dengan nada menyelidik dan sedikit kasar.

“Karena ….” Chanyeol berhenti sejenak, sambil memandang sekitar. Lalu kembali menatap Hye-eun. “Karena kau selalu menemaniku. Aku yakin, aku akan cepat sembuh.” Chanyeol tersenyum lagi.

Deg. Hye-eun terdiam sejenak, setelah mendengar perkataan Chanyeol dan sikapnya. Ia kembali duduk di samping tempat tidur Chanyeol, sambil menunduk. Ia tidak mengerti, kenapa sekarang ia kehabisan kata. Dan…. serasa ada yang aneh pada dirinya.

Mereka saling terdiam. Dan pada akhirnya, mereka mengucapkan kalimat secara bersamaan.

Mianhae,” ucap Hye-eun.

“Kau sudah makan?” ucap Chanyeol.

Mereka berdua terdiam lagi, tanpa saling berpandangan.

“Aku, aku sudah makan roti. Dan… itu cukup untuk mengganjal perutku,” jawab Hye-eun datar, memecah keheningan.

“Kau tidak perlu minta maaf. Tidak sepenuhnya kau salah,” kata Chanyeol ikut-ikutan dingin.

“Sepertinya sudah malam,” kata Hye-eun bangkit dari duduknya, lalu mengambil tas dan blazernya. “Aku harus pulang, dan kau juga harus istirahat kan?” ia memakai blazenya dan menggemblok tas-nya.

Chanyeol mengangguk pelan. Hye-eun pun keluar dari kamar Chanyeol.

Ketika ia menutup ruangan tersebut, Kyungsoo sudah menunggunya di sana. Tanpa mengucapkan kata-kata, Hye-eun berjalan melewati Kyungsoo. Tapi sayang, Kyungsoo sudah menggenggam tangannya.

“Hye-eun, aku mau bilang sesuatu,” ucap Kyungsoo.

Hye-eun berbalik, dan menatap Kyungsoo. “Ada apa?” tanyanya datar.

Kyungsoo menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya lagi. “Kau menyukai Chanyeol?” kata Kyungsoo hati-hati.

Ekspresi Hye-eun tidak berubah. “Apa urusanmu, kalau aku menyukai Chanyeol atau tidak?”

Kyungsoo meraih pundak Hye-eun, lalu menyandarkannya di dinding.

“Ap-apa yang kau lakukan?” tanya Hye-eun panik, sambil terus berusaha melepaskan diri.

“Aku hanya ingin mengucapkan sesuatu,” jawab Kyungsoo masih memegangi pundak Hye-eun.

Hye-eun mengangkat sebelah alisnya.

Sa-saranghamnida,” kata Kyungsoo.

Hye-eun langsung gugup, sehingga ia tidak berani menatap mata Kyungsoo. Ia bukan gugup karena menyukai Kyungsoo, namun karena ia takut untuk menyakiti orang lagi.

“Tapi, aku….”

Cup. Belum Hye-eun melanjutkan kalimatnya, Kyungsoo sudah menyentuh bibir Hye-eun dengan bibirnya. Hye-eun tidak berkutik.

Kyungsoo melepaskan ciumannya, masih menatap Hye-eun. “Kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin mengeluarkan isi hatiku yang sudah lama kusimpan. Rasanya begitu sakit, bila aku terus menyimpannya sementara kau tidak pernah membalas cintaku.”

Hye-eun tertunduk, masih belum percaya apa yang dilakukan Kyungsoo padanya.

Gomawo,” lanjut Kyungsoo, lalu melepas pegangannya. “Atas semuanya.” Kyungsoo masuk ke ruangan Chanyeol.

Tinggal Hye-eun yang masih berdiri di sana. Koridor rumah sakit yang remang-remang, membuat suasana hati Hye-eun makin buruk. Akhirnya ia memutuskan berjalan lagi, menuju tujuannya.

@@@

Hye-eun membuka pintu mobil hitam mengkilat, dan masuk ke mobil tersebut. Setelah memasang sabuk pengaman, ia langsung menyenderkan kepalanya.

“Kau kenapa? Chanyeol menyalahkanmu?”  tanya Baekhyun, mulai menjalankan mobilnya.

Hye-eun menggeleng lemas.

“Lalu?” tanya Baekhyun lagi.

“Menurut seonbae aku jahat tidak?” kata Hye-eun tidak bersemangat. Baekhyun menoleh ke Hye-eun, tidak mengerti. Well, dalam hal ia merencanakan untuk balas dendam, bisa dikatakan kalau Hye-eun itu jahat. Tapi…  untuk saat ini, Baekhyun tidak mengerti apa yang dimaksud ‘jahat’ yang dikatakan Hye-eun.

“Aku sudah mematahkan hati orang itu,” ucap Hye-eun lagi.

Baekhyun akhirnya mengerti. “Maksudmu, si Manajer?” tanya Baekhyun.

Ne,” jawab Hye-eun. “Tadi ia menyatakan cintanya padaku, dan aku menolaknya.”

“Bukankah itu bagus,” ucap Baekhyun antusias, tapi kemudian ia melihat ekspresi Hye-eun tidak berubah. “Mengapa kau murung? bukankah kau sudah bertekad untuk melakukannya?”

“Ada dua masalah di sini. Pertama, aku sudah mematahkan hati orang terdekat si Lollipop, dan menurutku itu sangat menggangguku nanti bila aku sedang bersama Chanyeol dan ia melihatku. Dan yang lebih parah lagi…..” Hye-eun memutuskan kalimatnya dan menghela nafas. “Ia sudah menciumku.”

“Hmp…….” Lalu Baekhyun tertawa terbahak-bahak, dan hampir saja menabrak trotoar. Untung saja Hye-eun langsung mengingatkannya.

“Hye-eun … Hye-eun kau..” Baekhyun tertawa lagi sambil menunjuk-nunjuk Hye-eun dengan sebelah tangannya.

Hye-eun terdiam kesal, sambil terus menatap tingkah sahabatnya itu.

“Bagaimana mungkin seorang gadis tidak suka dicium. Jangan-jangan kau tidak normal,” Baekhyun mengejek lagi sambil mengusap airmatanya yang keluar.

“A-aku kan belum pernah dicium atau mencium orang lain selain keluargaku. Ja-jadi pantaskan, kalau aku merasa aneh,” jawab Hye-eun terbata-bata sambil cemberut. “Itu salahsatu kelemahanku,” lanjutnya.

Baekhyun menoleh ke Hye-eun lalu meminggirkan mobilnya dan memberhetikannya.

Ya! ada apa?” tanya Hye-eun ke Baekhyun.

“Kau bilang kalau ciuman adalah kelemahanmu kan?” tanya Baekhyun mulai mendekati Hye-eun. Hye-eun mengangguk.

“Kalau begitu……” Baekhyun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Hye-eun.

Hye-eun menjauhkan wajahnya sambil menutup mata. Wajah Hye-eun kini mulai memerah. Dan…… Baekhyun kembali tertawa, lalu menjauhkan wajahnya.

“Seharusnya kau bercermin saat seperti itu. Wajahmu lucu sekali,” kata Baekhyun kembali menjalankan mobilnya.

“Berhenti mengejekku!” kata Hye-eun setengah berteriak seperti ingin menangis. Ia menutup wajahnya dengan tangan.

Baekhyun masih tertawa, lalu mengacak-ngacak rambut Hye-eun dengan sebelah tangannya. “Aku tidak akan berbuat begitu padamu.”

“Syukurlah. Aku juga tidak mau dicium dengan pria zebra cross seperti seonbae,” kata Hye-eun dengan nada mengejek.

“Pria zebra cross?”

“Kau kan hidung belang, seperti zebra cross.”

“Hye-eun…..” kata Baekhyun geram. Lalu meraih kepala Hye-eun dengan sebelah tangannya dan mencium pipinya berkali-kali karena gemas. “Rasakan,rasakan….”  Ucap Baekhyun saat mencium pipi Hye-eun.

Seonbaeee bodooooooh…….” Teriak Hye-eun sambil mengacak-acak rambut Baekhyun dengan gemasnya.

@@@

Hye-eun masih merasa bersalah ke Chanyeol. Setiap hari, sepulang sekolah, ia selalu menjenguk Chanyeol. Bahkan sampai membawakan kue atau semacamnya untuk Chanyeol. Walaupun Chanyeol bilang tidak perlu repot-repot, sebenarnya Chanyeol merasa senang saat Hye-eun datang.

Tapi, ada yang aneh ketika Hye-eun bertemu dengan Kyungsoo. Mereka seperti orang yang tidak pernah mengenal satusama lainnya. Terus berdiam diri, dan saling  saat mereka bersama di kamar Chanyeol.

Setiap kali Hye-eun menjenguk Chanyeol, ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Walaupun ia tahu kalau Chanyeol sudah membaik, ia tidak pernah absen menjenguk Chanyeol, bahkan ia sangat senang dengan apa yang diperbuatnya. Perasaan aneh itu timbul saat Chanyeol berbicara dengan nada lembut terhadapnya, dan saat Chanyeol tersenyum atau saat Hye-eun membantu Chanyeol belajar berjalan di sekitar ruangan itu. Hye-eun tidak mau mengambil resiko, untuk membawa Chanyeol jalan-jalan ke taman rumah sakit.

Hari demi hari berganti. Sudah tiga hari Chanyeol di rumah sakit, kini ia sudah boleh pulang. Sebenarnya bukan diperbolehkan, melainkan Tuan Park meminta agar Chanyeol dirawat di rumah. Ini dimaksudkan untuk menyembunyikan Chanyeol dari para wartawan.

Hye-eun juga mengantar Chanyeol pulang ke rumah. Dan benar dugaan Hye-eun. Hyesung, sudah datang mendahuluinya sampai ke rumah keluarga Park, dengan baju barunya yang berwarna biru langit serta membawa beberapa buah yang sudah dibungkus rapi dan diberi pita.

Annyeong Chanyeol oppa. Selamat datang di rumah!” sambut Hyesung ketika Chanyeol dan yang lainnya baru sampai di teras. “Ini untukmu,” lanjut Hyesung sambil menyerahkan parsel buah tersebut.

“Terimakasih Hyesung,” jawab Chanyeol dari kursi rodanya sambil tersenyum.

“Maaf aku tidak bisa menjengukmu. Habisnya, Hye-eun tidak memberitahuku di mana kau dirawat,” keluh Hyesung sambil cemberut, lalu menoleh ke Hye-eun yang berlagak seperti orang yang tidak tahu apa-apa.

Chanyeol hanya tersenyum, sambil mengikuti pandangan Hyesung ke Hye-eun. Kyungsoo, yang memegangi dorongan kursi roda Chanyeol, hanya diam. Lalu ia kembali membawa Chanyeol masuk ke dalam rumah.

Hye-eun dan Hyesung masih berada di rumah keluarga Park. Sedangkan Kyungsoo, sehabis mengantar Chanyeol, ia hilang entah kemana. Mungkin ke tempat Henry.

Sampai akhirnya malam menjelang dan Nyonya Jang menelepon Hyesung agar segera pulang.

“Bagaimana dengan eonni?” tanya Hyesung ditelepon.

“Biarkan saja, dia mau menjaga Chanyeol, kan?” jawab Nyonya Jang.

“Ta-tapi, aku juga mau….” Kata Hyesung memelas.

“Tidak kau harus pulang sekarang. Atau kau akan eomma pindahkan ke Tokyo bersama nenek. Mau?” ancam Nyonya Jang.

“Baiklah, baiklah. Aku akan pulang. Tapi, tolong jemput aku.”

Setelah Nyonya Jang menyetujuinya, tak lama kemudian Tuan Jang datang. Hyesung pun dengan berat hati melangkah menuju mobil appa-nya. Hye-eun yang juga mau masuk ke mobil langsung dilarang oleh appa-nya. Tuan Jang menyuruh Hye-eun untuk menemani Chanyeol sampai besok sore. Dan sialnya Tuan Park dan istrinya yang merencanakan ini semua

@@@

Sepertinya orangtuaku berkomlot dengan si Lollipop. Hye-eun mengirim pesan ke Baekhyun, ketika ia sedang rebahan di kasur, di kamar tamu.

Beruntunglah dirimu, Hye-eun. Balas Baekhyun.

Seonbae memang bodoh. Mana mungkin aku bisa beruntung dengan keadaan ini? dasar ‘pria zebra cross yang bodoh bodoh bodoh bodoh’

Seseorang membuka pintu kamar itu.

“Kau belum tidur, Hye-eun?” tanya Chanyeol dari pintu, dan masih duduk di kursi rodanya.

Hye-eun bangun, lalu duduk di kasur tersebut. “Belum. Memangnya kenapa?”

Chanyeol menutup pintu, lalu memanjukan kursi rodanya hingga sampai ke sisi tempat tidur Hye-eun. Lalu ia memindahkan tubuhnya di kasur. “Aku tidur di sini, ya?” katanya sambil tersenyum nakal.

“Hah?! apa kau tidak waras?” jawab Hye-eun kaget, langsung menjauhkan diri dari Chanyeol. Kemudian ia turun dan memutari tempat tidur itu dan menarik tangan Chanyeol. “Ayo bangun! aku akan mengantarmu ke kamarmu,” kata Hye-eun sambil menarik tangan Chanyeol.

Chanyeol kembali menarik tangannya. “Dulu ini juga kamarku.” Chanyeol tetap mengeyel. Malah kini ia sudah menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya, dan berbalik membelakangi Hye-eun.

“Lollipop! ayo bangun!” ucap Hye-eun setengah berteriak.

“Lollipop?” Chanyeol membalikan badannya. “Apa maksudnya?”

“Karena kau seperti Lollipop,” jawab Hye-eun sambil berkacak pinggang. “Awalnya manis, namun nantinya akan membuat orang sakit gigi.”

“Lollipop….. uhm.. itu cukup bagus,” kata Chanyeol tanpa mendengar perkataan Hye-eun.

Mwo!? Lollipop itu punya arti buruk bagiku!” kata Hye-eun sinis.

“Terseralah. Kalau kau yang mengucapkan, semuanya terlihat indah,” jawab Chanyeol sambil tersenyum.

Deg. Wajah Hye-eun memerah, lalu ia memegang dadanya yang berdetak aneh. Ada apa denganku? tanyanya dalam hati.

Wae?” tanya Chanyeol panik sambil duduk.

A-aniya. Pokoknya kau harus pergi ke kamarmu sendiri,” kata Hye-eun sambil memalingkan wajahnya.

Chanyeol maraih tangan Hye-eun yang berdiri tidak begitu jauh darinya. “Kau tahu ini perbuatan siapa?” tanya Chanyeol sambil menunjukan kakinya yang diperban.

Hye-eun menatapnya dengan kesal.

“Kau harus bertanggung jawab,” lanjut Chanyeol dengan nada seperti anak kecil.

Hye-eun berbalik badan, lalu menghentak-hentakkan kakinya karena kesal sambil berteriak-teriak kecil. Setelah selesai, ia berbalik lagi ke Chanyeol. “Baiklah. Tapi kau harus di sisi lain tempat tidur,” kata Hye-eun akhirnya. Chanyeol mengangguk, dan Hye-eun mulai berjalan untuk menuju sisi lain tempat tidur tersebut.

Bukan hanya dengan cara itu saja, Hye-eun menjauhkan Chanyeol. Dia memasang bantal, selimut dan guling yang ditumpuknya, dan menjadi tumpukan yang lumayan tinggi di antara mereka berdua. Semua barang itu, ia minta dari Tuan Park. Walaupun Tuan Park tidak mengerti maksud Hye-eun, dengan membutuhkan bantal, guling dan selimut sebanyak itu, Tuan Park tetap memberinya.

Chanyeol yang hanya tertawa ringan melihat tingkah lugu Hye-eun. Ia menggoda Hye-eun dengan pura-pura tidak senang dengan apa yang diperbuat Hye-eun. Tapi, Hye-eun tidak mengindahkan perkataan Chanyeol. Ia masih terus menumpuk dan menumpuk lagi barang-barang tersebut.

Ya! kalau nanti barang-barang ini menimpaku, bagaimana?” tanya Chanyeol jengkel, dari sisi lain tempat tidur, yang sudah diberi pembatas itu.

“Biarkan saja. Itu malah yang kuharapkan,” jawab Hye-eun tidak kalah jengkel. Lalu ia meraih selimutnya dan mulai menutup mata. “Selamat malam, Chanyeol.”

“Kau sudah tidur?” tanya Chanyeol, sambil setengah duduk, bertumpu pada sebelah sikunya. Tidak ada jawaban. “Huh. Padahal aku berharap bisa mengobrol dengannya semalaman,” lanjutnya pelan, pada diri sendiri.

Hye-eun yang masih bisa mendengar perkataan terakhir Chanyeol, hanya menghela nafas.

@@@

Pagi hari.

Burung-burung sudah berkicau dari luar jendela kamar. Sinar matahari pun mulai masuk melalui sela-sela jendela yang tidak ditutupi gorden. Hye-eun membuka matanya perlahan, posisinya masih memeluk guling di kirinya. Ia mengulat sebentar, hingga ia menyadari bahwa yang dipeluknya bukan guling. Namun…..

“CHANYEEEOOOL!!!!!” teriaknya sambil menjauhkan diri dari Chanyeol. Sialnya, Chanyeol yang sedaritadi mengetahui bahwa Hye-eun sudah bangun, malah memeluknya lebih erat.

Pabo pabo pabo. Ireona!!” teriak Hye-eun lagi sambil memukul-mukul bantal ke tubuh Chanyeol.

Chanyeol tetap memeluk Hye-eun sambil tersenyum-senyum.

“Dasar mesum!!” kata Hye-eun tajam, hingga membuat Chanyeol terduduk dan melepaskan pelukannya.

“Apa kau bilang?” tanya Chanyeol.

“Mesum. ME-SUM,” jawab Hye-eun yang sudah duduk. “Kau mengerti?”

“HYEON…..” kata Chanyeol geram. Chanyeol melempar Hye-eun dengan bantal. Hye-eun pun membalasnya.

Tanpa sepengetahuan Hye-eun dan Chanyeol, Tuan Park, istrinya, Kyungsoo dan beberapa pelayan di rumah tersebut menguping dari balik pintu. Mereka semua tertawa-tawa kecil, sambil terus menguping.

“Mereka seperti pengantin baru saja,” kata salah seorang pelayan, yang berada paling dekat dengan pintu atau bisa dibilang telinganya sudah menempel di sana. Semua tersenyum-senyum.

Kyungsoo yang mendengarnya, langsung pergi. Daritadi saja dia sudah panas, saat Tuan Park mengajaknya. Apalagi sekarang, mungkin hatinya yang sudah hancur berkeping-keping, berubah menjadi debu yang siap ditiupkan angin atau siap di sedot oleh vacuum cleaner. Ia keluar dari perkarangan rumah Park, dan mulai pergi entah kemana.

Mereka benar-benar berkomplot. Hye-eun mengirim e-mail ke Baekhyun.

Kau harus berbahagia, Hye-eun. Itu bisa melancarkan misi-mu. Balas Baekhyun.

Tapi bagaimana nanti kalau aku ketahuan? hanya untuk membalas dendam. Jawab Hye-eun.

Aku pasti membantumu…. Tetap semangat ^_^

@@@

            Musim dingin sudah tiba. Udara terasa semakin dingin. Pohon-pohon pun mulai menggugurkan daun-daun terakhirnya. Orang-orang mulai bersiap-siap dengan musim dingin tahun ini, yang diperkiraan akan sedikit lama akibat global warming itu. Bahkan ada yang sudah berbelanja dengan barang bawaan yang super banyak, karena takut kehabisan persediaan makanan.

Kaki Chanyeol masih di gyps, karena belum sembuh benar, tapi sudah bisa berjalan walaupun masih terpincang-pincang. Hari ini, ia sedang berjalan-jalan dengan Hye-eun di tempat biasa, yaitu taman sepi. Pemandangan disana lebih indah dari taman-taman lainnya. Chanyeol memakai kaos putih, yang dilapisi kemeja biru tua lalu jaket berwarna putih juga, yang lumayan tebal, serta syal krem, yang ia kalungkan dileher hingga menutup sebagian mulutnya. Sedangkan Hye-eun memakai kemeja berwarna pink lembut tangan panjang, jaket tebal yang memiliki bulu di sekitar lehernya dan hoody, yang ia pakaikan dikepalanya, dan sepatu boots yang terbuat dari wool berwarna pink lembut juga.

Hye-eun mengantungi tangannya di saku jaketnya. Terkadang ia menggenggam lengan Chanyeol, yang hampir jatuh.

“HYE-EUN..” teriak Chanyeol. Hye-eun yang berada di depan Chanyeol, berbalik badan, lalu membalas dengan anggukan kepala.

“Bisakah kau menuntunku?” kata Chanyeol sambil menjulurkan tangan kirinya.

Mwo?” Hye-eun ketus sambil menaikan sebelah alisnya. “Jalan saja sendiri,” lanjutnya membalikan badan lagi, dan mulai berjalan.

Chanyeol mulai berjalan sambil terpincang-pincang. “Hye-eun, jebal,” katanya sambil terus berjalan.

Akhirnya Hye-eun menyerah juga. Ia berbalik dan menggenggam tangan Chanyeol, dan mulai berjalan lagi. Kini kondisi jalan Chanyeol sudah normal, tidak terpincang-pincang lagi.

“Kau ini mengerjaiku, ya? sudah sembuh, masih saja minta dimanja,” ucap Hye-eun kesal tanpa memandang Chanyeol.

“Apanya yang sudah sembuh?” jawab Chanyeol.

“Buktinya, kakimu sudah tidak pincang lagi, seperti tadi,” tukas Hye-eun, mengarahkan matanya ke kaki Chanyeol.

“Oooh.. gara-gara itu,” kata Chanyeol sambil tersenyum, membuat Hye-eun menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya. “Karena kau sudah ada disampingku, dan melengkapi hidupku. Jadinya kakiku yang tadinya hanya berfungsi sebelah, menjadi seperti tidak terjadi apa-apa.”

“Mulut LO-LLI-POP.” kata Hye-eun mengejek. Chanyeol hanya tertawa ringan.

Sepertinya aku membutuhkan kantong muntah, sekarang. Kata Hye-eun dalam hati.

Tiba-tiba angin berhembus, sehingga membuat Hye-eun melepaskan gengamannya dan memeluk dirinya sendiri. Setelah itu ia memasang kembali penutup kepalanya yang tadi terlepas karena tertiup angin. Ia merapatkan jaket dan sarung tangannya, lalu kembali menggenggam tangan Chanyeol.

Chanyeol melepaskan syal yang melilit dilehernya. Lalu mengalungkannya ke leher Hye-eun. Hye-eun menatap bingung Chanyeol, dengan wajah yang mulai memerah. Chanyeol kembali merapatkan syal tersebut ke leher Hye-eun. Setelah itu, ia menaikan kerah jaketnya, hingga menutupi mulutnya yang sudah mulai bergetar, dan memasukkan tangannya ke saku jaketnya.

“Chanyeol?” panggil Hye-eun.

Chanyeol menoleh ke Hye-eun. “Mwoya?” jawabnya ketus, karena ia sudah mulai kedinginan. “Sebaiknya kita harus pulang. Udara di sini semakin dingin.”

“Bukankah kau lebih membutuhkan ini?” tanya Hye-eun sambil menunjuk ke syal yang diberikan Chanyeol, yang masih terlilit di lehernya.

“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, bila melihat orang yang ku sayangi menggil kedingan di hadapanku,” jawab Chanyeol masih ketus, tanpa memandang Hye-eun.

Jantung Hye-eun mulai berdegup lagi. Ini menyebabkan wajahnya semakin memerah.

Chanyeol kaget melihat Hye-eun yang tertunduk. Lalu mengangkat wajah Hye-eun, dan melihat wajah Hye-eun yang semakin memerah. “Hye-eun, kau masih kedinginan?” tanyanya panik.

Hye-eun menggeleng.

“Kalau begitu berikan sebelah sarung tanganmu. Aku juga tidak rela bila tanganku membeku,” kata Chanyeol sambil menadahkan tangan.

Uhh, ternyata ia masih egois, ungkap Hye-eun dalam hati. Hye-eun melepaskan sarung tangan sebelah kanannya ke Chanyeol. Setelah Chanyeol memakainya di tangan kanannya, kemudian Chanyeol mengenggam tangan kanan Hye-eun lebih erat lalu memasukan tangannya dan Hye-eun ke saku jaketnya.

Chanyeol menghela nafas, hingga terlihat asap yang keluar dari mulutnya. “Begini lebih baik,” ucapnya sambil tersenyum. Lalu kembali berjalan.

Ternyata jantung Hye-eun belum berhenti berdegup, malah sekarang lebih kencang, sampai-sampai wajahnya tidak berhenti untuk tidak memerah lagi. Mungkin ia masih beruntung, karena Chanyeol menyangka kalau wajahnya memerah karena kedinginan. Lalu, satu benda putih jatuh dihadapan Hye-eun, dengan refleks Hye-eun menadahkan tangannya hingga benda itu jatuh di telapak tangannya, Chanyeol ikut mengamati benda itu.

“Salju pertama!” seru Hye-eun dan Chanyeol bersamaan, dengan senang.

@@@

            “Seonbae, aku merasa ada yang aneh denganku, akhir-akhir ini,” cerita Hye-eun ke Baekhyun, saat mereka sedang duduk bersama di sebuah kafe, yang pasti Chanyeol dan yang lainnya tidak tahu.

Baekhyun meniup-niup moccacino panas, di hadapannya. “Maksudmu?” tanya Baekhyun, lalu mulai meminum moccacino-nya.

“Aku tidak tahu. Yang pasti, aku belum pernah merasakan ini sebelumnya,” kata Hye-eun murung, masih menggenggam mug coklat panas-nya.

“Mungkin………” Baekhyun berfikir. “Kau sedang jatuh cinta pada anak itu.”

Hye-eun menyemburkan coklat panas-nya, yang sedang ia minum ke wajah Baekhyun. Baekhyun terdiam sejenak, lalu berteriak. “PANAAAASSS…….” Hye-eun langsung mengambil saputangan, dari tas punggungnya, dan memberikannya ke Baekhyun. Baekhyun langsung menyeka coklat panas itu.

“Apa seonbae sudah gila???” kata Hye-eun kesal.

“Harusnya aku yang bilang begitu,” jawab Baekhyun sambil membersihkan sweeter abu-abu nya.

Mianhae,” kata Hye-eun menyesal. “Tapi, mana mungkin aku seperti itu.”

“Mungkin saja,” kata Baekhyun, masih kesal.

Hye-eun berfikir sejenak. “Itu tidak mungkin terjadi,” ucapnya yakin.

@@@

Hari ini, gyps Chanyeol akan dilepas. Kata dokter, Chanyeol sudah sembuh total. Jadi, mulai besok ia bisa menjalankan syutingnya.

“Aku harus sekolah, Chanyeol,” kata Hye-eun, saat Chanyeol memintanya untuk menemani Chanyeol ke lokasi syuting.

“Ayolah, ku mohon,” pinta Chanyeol.

“Jangan manja! Sebentar lagi ada tes semester, aku harus belajar,” kata Hye-eun kesal.

Chanyeol terdiam.

“Kalau ada waktu, aku pasti akan ke sana,” kata Hye-eun lagi. Chanyeol pun tersenyum, kemudian Kyungsoo memanggilnya.

“Aku berangkat dulu,” kata Chanyeol sambil mencium pipi Hye-eun. Hye-eun hanya tersenyum.

Setelah Chanyeol menjauh, Hye-eun mengusap pipinya dengan tisu sterilnya dengan tenang. Chanyeol pun melambaikan tangannya sekali lagi, lalu pergi dengan mobilnya. Hye-eun pun juga mulai pergi ke sekolah.

Tiga hari kemudian.

“Sepi,” pikir Hye-eun. “Kenapa Chanyeol lama sekali? ah, apa yang ku pikirkan?” Hye-eun memukul-mukul kepalanya sendiri.

“Hye-eun, kau kenapa?” tanya Jinri, yang sedari tadi memperhatikan tingkah Hye-eun yang uring-uringan.

Hye-eun terdiam, ia masih melamun sambil berpangku tangan.

“HYE-EUN!!!” teriak Jinri dan Sooji bersamaan.

N-ne? wae?” jawab Hye-eun kaget.

“Kau sedang memikirkan apa, sih?” tanya Sooji.

“A-aku? aku tidak memikirkan apa-apa,” kata Hye-eun.

“Kau pasti sedang memikirkan Chanyeol ya?” canda Jinri. “Kau harus menjaganya dengan baik. Soalnya, di sana pati banyak wanita cantik.”

Hye-eun mulai gelisah. “Bi-biarkan saja,” Hye-eun pun berbohong, untuk menutupi perasaannya.

“Kalau begitu, aku boleh kan, mendekati Chanyeol?” Sooji ikut-ikutan meledek Hye-eun.

“TIDAK!” jawab Hye-eun refleks, lalu langsung mendekap mulutnya. Sooji dan Jinri tertawa.

“Tenang saja, Hye-eun. Kami tidak akan merebut Lollipop-mu,” kata Sooji.

“Hah? darimana kau tahu nama itu?” tanya Hye-eun.

“Dari ……… rahasia,” jawab Sooji dan Jinri bersamaan. Hye-eun pun cemberut.

Akhirnya, karena tidak tahan dengan ledekkan Jinri dan Sooji, Hye-eun menelepon Chanyeol yang sedang syuting. Tentunya ia harus bersembunyi dari kedua sahabatnya itu.

“Hye-eun waeyo?” tanya Chanyeol.

“Mm… ka-kau sedang apa?” kata Hye-eun gugup. Ya!, kenapa aku jadi gugup seperti ini?

“Aku sedang istirahat di hotel sekarang.”

“Kau sedang istirahat? ya sudah a-aku tak mau mengganggumu,” kata Hye-eun.

Ya, Hye-eun. Jangan dimatikan dulu. Aku.. aku masih merindukan suaramu,” kata Chanyeol. Jantung Hye-eun berdegup kencang.

Dan pada akhirnya, mereka berbicara sampai dua jam lamanya. Dan dalam pembicaraan itu juga, degup jantung Hye-eun tidak bisa diam.

@@@

Baekhyun memperhatikan Hye-eun yang sedang melamun, sambil menggigit sendok teh-nya. Lalu ia menggebrak meja di depan Hye-eun, hingga gadis itu terkejut.

Seonbaee..” kata Hye-eun memelas sambil menegakkan tubuhnya.

“Akhir-akhir ini kau sering melamun. Kenapa?”

An-aniyo.”

“Kau sedang memikirkan …..”

Aniyo! Aku tidak memikirkan Lollipop,” bantah Hye-eun.

“Aku tidak bilang kau sedang memikirkannya.”

Hye-eun hanya diam, dan meneguk teh panasnya. “Akhir-akhir ini, aku tidak mengerti pada diriku sendiri.”

“Sudah kubilang, kau pasti jatuh cinta pada si Lollipop.”

“Dan sudah kubilang, itu tidak mungkin,” jawab Hye-eun kesal.

“Kalau itu terjadi, jangan salahkan aku ya!” ledek Baekhyun.

 

-tbc-

3 thoughts on “[FF Freelance] The Sweet Hate (Part 4)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s