[FF Freelance] Solitude Autumn (Chapter 1)

SolitudeAutumn

\\ Title Solitude Autumn [1] \\

\\ Author momoi \\

\\ Cast Yoo Hyemin [OC] – Cho Kyuhyun – Jung In Joon [OC] \\

\\ Rating PG-15 \\

\\ Length Double Shots \\

\\ Genre Romance-Hurt \\

\\ Disclaimer : Terinspirasi dari Boku No Hatsukoi O Kimi Ni Sasagu [2009] dan First Love [2010] Pernah dipublish di hotchokyulate.wp.com dan IFK \\

\\ Recommended Song Only Hope [Mandy Moore] \\

\\ a.n Italic mark for Kyuhyun’s View [Flashback] \\

.

.

 

 “Karena aku ingin melihat wajahnya, hari ini, esok, sampai batas waktu yang tak terhingga. . . Bukankah itu alasan yang masuk akal ?”

.

.

 

-First Chapter-

 

Ghana Art, Pyoengchang-dong

Seorang gadis terlihat menyusuri koridor galeri seni. Gaun hitam selutut membuatnya begitu memukau, terlihat kontras dengan kulitnya yang seputih pualam. Kakinya mengayun pelan, menunggu pemuasan rasa kagumnya akan keindahan museum pieces yang memenuhi beberapa spot strategis galeri itu.

Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan berukuran besar dan berada tepat di tengah gedung, menjadi karya utama yang disuguhkan galeri seni ini. Seorang pria yang menjadi model dalam lukisan itu tampak menunduk, menatap sebuah buku ditangannya. Tidak terlihat jelas bagaimana rupa pemilik rambut coklat gelap dalam lukisan itu, karena pengambilan spot dari belakang. Hanya memperlihatkan punggung dan rambut coklat pria itu yang tampak berkilau.

Gadis itu berdiri dan menatap lekat lukisan didepannya untuk waktu yang lama. Cukup lama sampai membuat kakinya merasa pegal sebelum akhirnya dia memutuskan meninggalkan ruangan yang didominasi warna putih dan hitam itu. Dua warna yang sangat kontras, tetapi tampak begitu mengagumkan jika disatu-padukan.

Langkah gadis itu terhenti saat dering handphone memenuhi pendengarnya. Dia merogoh tas hitam yang menggelayut ringan pada pundak kirinya dan mencari sumber suara yang mengganggu itu.

Yoeboseyo?”

“Kau sudah selesai? Aku tiba lima menit lagi.”

Ne. Aku tunggu di depan galeri.” Gadis itu menjawab singkat sebelum mengakhiri panggilan.

 

+++

Gwaenchana?” Ujar Joon melihat Hyemin yang tidak bersuara semenjak masuk mobil.

Ne.”

Oemma ingin makan malam bersamamu. Kau tidak keberatan jika kita langsung pulang ke rumah?”

Anio. Bukankah aku juga tidak bisa menolak permintaan oemmamu?” Hyemin membalas dengan penus nada sarkastik yang hanya membuat Joon terkekeh pelan.

Mobil mereka berhenti di depan sebuah bangunan megah bergaya Eropa dengan patung-patung tinggi yang berdiri angkuh di pelatarannya. Air mancur yang terletak tepat di tengah halaman yang luas. Mungkin cukup luas untuk membuat satu rumah tinggal lagi. Bangunan yang tertutup pagar putih tinggi yang lebih tepat disebut sebagai istana daripada sebuah rumah tinggal.

Joon keluar dari mobil dan berjalan memutar melewati bagian depan mobilnya.

“Berhentilah melakukannya. Aku bisa melakukannya sendiri.” Hyemin merutuki perilaku Joon yang menarik gagang pintu mobil untuk membantunya.

“Aku selalu lupa untuk membiarkanmu melakukan ini.”

“Apa galeri barumu itu begitu penting sampai kau mengacuhkanku?” Sambut seorang wanita tengah baya yang berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, membuat Hyemin dan Joon menoleh untuk mencari tahu sumber suara.

Cweasonghamnida, oemmonim. Aku tidak bisa datang karena masih banyak hal yang harus diselesaikan.” Kilah Hyemin salah tingkah mendapat sambutan seperti yang ada dalam bayangannya saat dalam mobil tadi.

“Sudahlah, oemma. Bukankah sekarang dia sudah disini. Lebih baik sekarang kita masuk.” Joon berusaha menengahi wanita yang sama-sama keras kepala dan sangat berarti dalam hidupnya.

“Kau sudah membeli cincinnya?” Ibu Joon bertanya antusias seraya menggandeng calon menantu kesayangannya memasuki rumah megahnya. Baiklah, wanita tengah baya itu lebih terlihat seperti menyeret Hyemin saking bersemangatnya. Sementara Joon hanya mengekor di belakang mereka sambil sesekali terkekeh melihat gadis dengan kemeja sedikit lusuh di bagian lengannya itu tidak bisa melarikan diri jika sudah berurusan dengan ibunya.

“Cincin?” Hyemin bingung, lebih terdengar seperti balik bertanya. Gadis itu memutar bola matanya, mencari keberadaan Joon, berniat meminta pertolongan.

Tentu saja Hyemin tidak memikirkan hal-hal semacam itu sebelumnya. Dan dia lupa bahwa calon ibu mertuanya ini sangat suka mengurusi hal-hal seperti itu. Membuatnya berpikir, kenapa tidak membuka usaha Wedding Planner saja? Pasti sukses jika berada di tangan orang macam calon ibu mertuanya ini.

“Kita masih sibuk, oemma. Mungkin lusa kita akan mencari cincinnya.” Joon menyahut, mencoba menyelamatkan gadisnya yang sekarang berwajah pucat dengan merangkul pundaknya. Membuat gadis itu dengan sangat terpaksa menarik ujung bibirnya kaku di depan calon ibu mertuanya.

“Anak muda jaman sekarang. Selalu memikirkan sesuatu seakan-akan mereka bisa melakukannya dengan satu jentikan jari.” Ibu Joon menggeleng-gelengkan kepala dan menuju meja makan.

“Aku sudah menolongmu, kan? Aku akan mendapatkan apa sebagai hadiahnya?” Bisik Joon pada Hyemin.

Ghomapta, oppa.” Celoteh gadis itu seraya beraegyo.

“Sudahlah, hentikan. Kau malah terlihat mengerikan jika melakukan itu.” Protes Joon yang disambut gelak tawa Hyemin. Bukan hal baru jika gadis itu memang sangat payah dalam melakukan aegyo dan itulah satu-satunya cara agar Joon berhenti menggodanya.

 

+++

“Kau bisa menyuruh mereka kembali bekerja?” Suara Hyemin lirih, terdengar seperti sedang berbisik. Gadis itu merasa tidak nyaman pada hampir semua karyawan yang memandanginya dan Joon sejak mereka berdua turun dari mobil.

Tentu bukan hal buruk jika menjadi pusat perhatian seperti ini. Tetapi gadis itu tidak pernah suka dilihat dari atas hingga ujung kaki seperti yang dilakukan beberapa karyawan disini.

Wae? Mereka hanya melihat kita.”

Aish, kau. Atau jangan-jangan kau memang suka tebar pesona seperti ini?” Ujar Hyemin tajam sambil memicingkan matanya menatap Joon yang hanya tersenyum.

“Kau cemburu, Nona Yoo?”

Mwoya? Cemburu? Padamu? Aku? Itu tidak mungkin terjadi.”

“Sudahlah. Terima saja takdirmu. Menjadi istriku.” Joon membalas santai.

Cih, kau selalu percaya diri seperti ini.”

Hyemin melirik pria yang berjalan di sampingnya. Tampan. Satu kata saat siapapun pertama melihatnya. Pria yang berjalan bersisian dengannya juga tinggi, walaupun tidak berotot seperti kebanyakan pria yang membuat wanita menjerit histeris hanya dengan memperlihatkan abs mereka. Tetapi itu lebih bagus menurut Hyemin, karena dia tidak suka pria yang mempunyai otot-otot besar di seluruh tubuhnya. Itu terlihat sedikit menakutkan.

Pria itu, Jung In Joon sangat ramah dan baik pada siapapun. Dia selalu menyapa pegawainya. Ya, pegawainya. Dia adalah CEO dan owner sebuah pusat perbelanjaan besar di kawasan Apgujeong. Dan untuk usianya yang terbilang masih muda tentu saja itu merupakan sebuah prestasi membanggakan. Hyemin melirik dirinya sekilas. Saat berjalan bersama pria itu dia merasa sedikit bangga, setidaknya dirinya pantas bersisian dengan pria menakjubkan itu. Kebanggaan? Hanya itu? Entahlah.

“Kau mau ikut masuk ke dalam? Menemaniku.” Tawar Joon saat mereka tiba di depan sebuah pintu besar berdaun ganda yang berwarna hitam.

“Aku akan menunggu di ruanganmu saja.”  Putus gadis itu dan segera melesat meninggalkan Joon.

Hyemin menjatuhkan tubuhnya di atas sofa putih empuk di ruang kerja Joon. Dia mengedarkan pandangannya menjelajahi ruangan luas dengan dominasi warna hijau itu. Entah kapan calon suaminya itu menjadi penyuka warna hijau. Bukankah dulu dia selalu menghina barang-barang Hyemin yang hampir semuanya berwarna hijau?

Tanpa sengaja dia melihat sebuah bingkai foto yang tertata rapi di atas meja kerja Joon. Dia perlahan bangkit dari duduknya dan menghampiri meja kerja itu. Melihat tumpukan map-map tebal yang berjajar rapi memenuhi hampir seluruh meja kerja itu. Pria itu memang sangat suka semuanya tertata rapi pada tempatnya. Tipe perfeksionis.

Perhatiannya tertumpu kembali pada bingkai foto berwarna coklat tua itu, warna asli kayu. Satu-satunya bingkai foto di meja kerja itu, bahkan di ruangan luas ini. Hanya dari itu saja, Hyemin sudah tahu bagaimana Joon memandang hubungan mereka selama ini. Sampai pada akhirnya dia bersedia menerima pinangan pria itu setelah menunggu empat tahun untuk mendapatkan jawabannya. Dia cukup tahu tentang perasaan Joon padanya tanpa pria itu harus mengatakannya, tidak seperti cara berpacaran anak-anak muda jaman sekarang yang selalu mengumbar kata-kata cinta. Dan memang mereka berdua sudah melewati masa-masa itu, bukan?

“Bodoh. Kenapa dia menyimpan foto lama ini?”

“Siapa yang bodoh?”

Suara itu membuat Hyemin dengan segera meletakkan bingkai foto itu ketempat asalnya dan menjauhi meja kerja Joon.

“Kau mengagetkanku saja.” Rutuk Hyemin saat mendapati Joon sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersidekap di depan dada.

“Kita pergi sekarang saja. Karena aku ada rapat dengan clien baru tiga jam lagi.”

Ahrasteoyo, sajangnim. Kau memang orang yang super sibuk.” Lagi-lagi Joon hanya terkekeh melihat bagaimana kelakuan calon istrinya yang sangat kekanak-kanakan.

 

+++

“Ini adalah toko kelima dan kau belum juga mendapatkan cincin yang kau mau. Kau itu merepotkan sekali. Persis seperti oemmamu.” Hyemin merutuk kesal di belakang Joon. Kakinya sudah terasa patah mengikuti pria itu untuk keluar masuk toko perhiasan dan selalu mengatakan tidak pada akhirnya.

“Jika di toko ini kau belum juga mendapatkan cincin yang kau idam-idamkan itu, aku akan meninggalkanmu sendirian. Cari saja cincin idamanmu itu sampai ketemu. Aku sudah lelah.” Lanjutnya setelah mereka sampai di sebuah toko perhiasan.

Ahrasteo.Aku juga lelah, setidaknya bersabarlah sedikit. Bukankah ini cincin yang akan kita kenakan di hari pernikahan kita nanti?”

Pernikahan? Kita? Kata itu menyeruak memenuhi gendang telinga Hyemin dan mempengaruhi kerja saraf-saraf otaknya, walaupun hanya sepersekian detik. Dia baru saja sadar setelah Joon menyebutkan kata-kata pernikahan. Kemana saja dia selama ini? Kenapa baru sadar jika pernikahan itu sudah di depan mata?

Yak! Yoo Hyemin-ssi. Kau masih disitu?” Gerakan tangan dan suara Joon yang setengah berteriak membuat gadis itu mengerjap dan menemukan kesadarannya kembali.

Ne.”

Joon menyeret Hyemin dan memasuki toko keenam, untuk mencari cincin idaman pria itu.

Igo?”

“Yang memiliki mata itu?” Tawar Hyemin, lagi. Kali ini dia menunjuk cincin berlian dengan batu sapphire di tengahnya. Tetapi sama seperti sebelumnya, Joon hanya menggeleng sebagai jawabannya.

Aish, kau memang merepotkan. Pilih saja cincinmu sendiri. Aku tidak peduli.” Putus gadis itu karena kesal dengan Joon. Pria itu terlalu banyak maunya.

Sedetik kemudian, Hyemin malah sibuk mengamati cincin-cincin yang berjajar rapi di etalase yang agak jauh dari tempat Joon. Meninggalkan pria yang sibuk dengan cincin idamannya. Gadis itu berhenti di depan sebuah cincin dari black-diamond. Cincin itu polos, hanya ada beberapa garis perak yang membuatnya tampak indah walaupun terkesan sederhana.

“Pilihan anda memang tepat, Nona. Cincin ini hanya ada satu dan didesain oleh orang yang ahli.” Jelas seorang pelayan yang melihat Hyemin menatap lekat cincin itu, seakan ingin menelannya.

Ah, aniyo. Aku hanya melihat-lihat saja.” Hyemin menolak sopan dan meninggalkan tempat itu. Menghampiri Joon dengan cincin idamannya.

“Kau sudah mendapatkannya?” Tanya Hyemin yang melihat Joon kini malah asik bercanda dengan seorang pemuda yang ditilik dari penampilannya, dia mungkin seorang manager di toko ini. Dari jasnya saja terlihat berbeda dari pegawai yang lainnya.

“Sudah.”

“Mana? Aku tidak melihatnya?”

“Aku memang sengaja menyembunyikannya darimu. Kau akan melihatnya saat di depan altar nanti.”

“Cih, lagakmu sok romantis. Mana mungkin kau tahu ukuran jariku?”

“Itu mudah. Bukankah saat jari kelingking seorang pria dan jari manis seorang wanita berukuran sama, mereka berjodoh?” Joon membalas mantab yang sukses membuat Hyemin terpekur.

“Kau begitu yakin kalau aku ini jodohmu.”

“Sudahlah, terima saja kenyataannya. Margamu akan segera kuganti, Nyona Jung.” Goda Joon seraya menggenggam tangan Hyemin ringan. Membuat gadis itu salah tingkah hanya karena perlakuan calon suaminya yang sederhana.

“Sudahlah, ayo kita pulang. Bukankah sebentar lagi kau ada rapat.”

Langkah Hyemin terhenti saat hampir mencapai pintu kaca di depan mereka berdua. Gadis itu mematung, melihat sosok yang berusaha mati-matian dilenyapkan dari otaknya delapan tahun terakhir. Sosok yang begitu melekat erat dalam mimpinya setiap malam. Sosok yang begitu menakutkan baginya karena selalu menghantui hari-harinya.

Joon, satu-satunya yang menyadari perubahan sikap gadis di sampingnya ikut terhenti. Dia menyusuri kemana arah tatapan Hyemin, tepat pada seorang pria dan perempuan yang juga sedang melihat cincin pernikahan.

“Minnie-ya. Gwaenchana?”

“Minnie-ya!” Joon memekik dengan setengah berteriak melihat gadis di sampingnya yang masih mematung. Suaranya yang lumayan keras sampai membuat pria dan wanita yang duduk tidak jauh dari tempat mereka berdiri ikut menoleh.

 

+++

Meja dalam café itu senyap. Berbalik dengan kondisi jalan di luar café yang dipenuhi pejalan kaki dengan tas belanja yang memenuhi kedua tangan mereka. Bukti hidup konsumtif sudah mengakar pada masyarakat Korea saat ini.

Mereka masih diam. Tidak tahu harus memulai dari mana dan bicara tentang apa. Mereka sibuk dalam pikiran dan puluhan bahkan ratusan pertanyaan yang berkecamuk dalam otak mereka masing-masing. Delapan tahun. Bukan waktu yang singkat hanya untuk bertanya tentang kabar.

“Jadi, kalian saling mengenal?” Kali ini Joon tidak bisa menahan rasa penasarannya. Bukankah pria dan wanita di depannya itu yang membuat sikap Hyemin berubah. Gadis itu kini lebih banyak diam dan sibuk dengan kuku jarinya. Tanda bahwa dia sedang gelisah.

“Dia adalah hoobaeku saat masih di sekolah menengah dulu.”

Suara itu. Suara yang setengah mati ingin didengarkan Hyemin. Suara yang selalu dibayangkannya dan berharap pria itu mau menyapanya walaupun itu dalam mimpinya. Suara yang begitu berat dan terkesan sendu, entah kenapa itu justru terasa menenangkan untuk telingan Hyemin.

Hyemin masih tertunduk. Dia terlalu takut mengangkat kepalanya. Takut jika apa yang didengarnya tadi adalah halusinasinya saja. Dan setelah dia mengangkat kepalanya, suara itu dan sosok yang dijumpainya di toko perhiasan akan menghilang. Persis seperti malam-malam yang dilewatinya selama ini.

Ahrasteoyo. Jadi,”

“Kyuhyun. Kau bisa memanggilku Kyuhyun. Dan ini Cho Ahra.”

Suara berat pria yang duduk satu meja dengan mereka, Kyuhyun seakan menjelma menjadi halilintar yang menyambar di siang hari pada musim panas, membuat Hyemin terpaksa mengangkat kepalanya. Memastikan apa yang ditangkap pendengarnya tadi tidak salah. Gadis itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak memperhatikan sekelilingnya. Dia lupa bahwa ada seorang wanita yang kini duduk disamping Kyuhyun. Wanita itu, bahkan bermarga sama dengan Kyuhyun.

Hyemin menyambut perkenalan dari wanita itu dengan tersenyum getir. Bayangannya dulu tentang pertemuan yang indah dengan Kyuhyun setelah sekian lama, kini hancur. Mereka sekarang memang bertemu dan duduk dalam satu meja. Dengan pasangan hidup masing-masing. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak bertemu sama sekali, bukan?

“Jung In Joon imnida. Dan ini Hyemin, calon istriku. Kami akan menikah dua minggu lagi.” Joon membalas ringan, tetapi teresan tegas. Menunjukkan keseriusannya dengan menggenggam tangan kanan Hyemin yang terkulai lemah di atas meja.

“Kalian berdua terlihat serasi.”

Ghomapseomnida.

“Kalian? Apa kalian juga akan menikah? Karena tadi aku melihat kalian juga sedang memilih cincin pernikahan.”

Ne, kami akan menikah. Sepuluh hari setelah ini.” Kali ini wanita yang dari tadi memilih mendengarkan, membuka suara. Dia terlihat tersenyum menatap Kyuhyun sebelum akhirnya menggenggam tangan pria itu. Sama seperti yang dilakukan Joon pada Hyemin.

Cukahae. Semoga kalian bahagia.”

Cukahae.” Suara Hyemin mendadak serak dan terasa sebagian tersangkut di tenggorokan. Gadis itu terpaksa bersuara setelah Joon menyikut lengannya, tidak sopan jika tidak memberi selamat pada seorang teman yang akan berbahagia karena menikah. Seorang teman? Mungkin.

 

+++

Hyemin menatap langit-langit kamarnya. Memperhatikan warna putih itu sejak pulang dari café dua jam yang lalu. Gadis itu terlalu sibuk memikirkan kejadian hari ini, sampai tidak ada apapun yang kini terlintas di otaknya. Kosong. Seperti warna putih langit-langit kamarnya.

drttt… drrtt… ddrtt

Itu sudah getar yang kesekian puluh kalinya. Dan berhasil diabaikan gadis itu. Entah jiwanya akan kembali kapan, karena dia kini terlihat seperti korban hipnotis. Terbaring dengan tatapan kosong.

“Minnie-ya, Joon baru saja menelpon. Dia menanyakan keadaanmu, kenapa kau tidak mengangkat telponnya? Dia sudah mencoba menghubungimu lebih dari sepuluh kali. Apa kalian bertengkar?” Berondong ibu Hyemin ketika baru melewati pintu kamar anak gadisnya.

Hyemin terkesiap. Dia tidak tahu sejak kapan ibunya berhasil masuk kamarnya. Apa karena dia terlalu sibuk dengan langit-langit kamarnya? Gadis itu berusaha bangkit dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Setidaknya kini dia harus bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Ya, tidak terjadi apa-apa.

Ne?” Hyemin menjawab asal yang terdengar dari nada bicaranya sangat ingin jika ibunya bersedia mengulang pertanyaannya.

“Joon tidak bisa menghubungimu. Ada apa? Kalian bertengkar?”

Aniyo, oemma. Aku hanya lupa menaruh handphoneku.”

Gwaenchana?” Ibu Hyemin bertanya penuh nada selidik, berjalan mendekati anak gadisnya yang terduduk di tepi tempat tidur. “Kau menaruhnya di dekat bantalmu. Kau tidak melihatnya?”

Wanita tengah baya itu menunjuk handphone putih yang tergeletak tepat di samping bantal yang tidak jauh dari posisi Hyemin saat ini. Mustahil jika gadis itu tidak melihatnya.

Ahratseoyo. Aku lupa, oemma.” Hyemin menjawab gelagapan. Dan mendapat ganjaran tatapan prihatin dari ibunya karena kelakuannya yang tampak bodoh.

Neo jinjja gwaenchana?” Ibu Hyemin berujar lirih, mengulang pertanyaannya.

Joengmall gwaenchanayo, oemma.”

+++

Hyemin duduk di atas kursi kayu di balkon kamarnya. Menatap langit yang masih tampak redup. Ini masih pagi. Mungkin lebih tepatnya pagi buta. Dan gadis itu duduk di luar tanpa selimut tebal, setidaknya pakaian panjang dan hangat.

Dia membiarkan tubuhnya dihantam angin musim gugur yang mengabarkan bahwa musim dingin akan segera tiba. Dia bahkan tidak merasakan dinginnya angin musim gugur itu kini membekukan kakinya yang hanya berbalut celana pendek. Kaki telanjangnya sama saja, seperti tidak merasakan angin dingin yang bisa membuat siapa saja mati kaku jika tidak segera mencari penghangat tubuh. Bahkan saat ini kursi yang didudukinya terasa bagaikan bongkahan es karena begitu dingin.

Angin musim gugur itu berkali-kali mengangkat rambut cokelat panjangnya. Membuat anak-anak rambutnya melayang mengikuti irama angin yang menyapu wajahnya yang kini tampak membiru. Dia bahkan sudah lupa sejak kapan dia terduduk di tempat itu.

Gadis itu masih memberikan perhatian penuh pada kaki langit yang kini menunjukkan semburat merah. Memperlihatkan tanda-tanda awal dunia yang berbeda dari hari kemarin. Berbeda? Lebih baik? Atau semakin buruk? Gadis itu tidak mengetahuinya.

“Apa yang kau lakukan disitu?” Suara ibunya membuat Hyemin menoleh. Setelah memandang sekelilingnya yang sudah mulai terang, gadis itu tampak sediit terkejut. Dia tidak sadar sudah berapa lama dia duduk di kursi itu, yang bisa dirasakannya kini hanyalah kaki yang terasa kebas dan mati rasa.

“Aku tadi berniat membangunkanmu, karena biasanya kau masih terbungkus selimut tebal saat cuaca dingin seperti ini.”

Oemma.”

Ne?”

“Bisakah kau membantuku berdiri?”

Aigoo, sudah berapa lama kau berada di luar? Wajahmu terlihat pucat seperti ini. Kau semalam tidak tidur?” Ibu Hyemin merutuk melihat keadaan anak gadisnya. Wajah pucat, bibir membiru, kaki mati rasa dan samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.

“Aku hanya melihat matahari terbit, oemma.”

Ibu Hyemin hanya mendengus, memapah anak gadisnya sampai di tempat tidurnya. Ada raut wajah cemas dari wanita tengah baya itu saat melihat anak gadisnya yang kini terbaring. Apakah kebiasaannya beberapa tahun yang lalu kembali lagi?

“Tunggulah sebentar, aku akan membuatkan teh gingseng untukmu.”

 

+++

 

Seorang gadis dengan balutan setelan rapi berjalan di samping Hyemin. “Kau baik-baik saja?”

Ne.

Gadis itu, Sunri menatap Hyemin dari ujung rambut hingga ujung kakinya, lalu kembali lagi. Dia sudah mengenal sahabatnya itu lama dan dia pernah melihat penampilan acak-acakan seperti hari ini.

Mereka baru saja rapat dengan beberapa clien penting. Disaat seperti ini sahabatnya itu biasanya akan tampil rapi walaupun dia memang sedikit payah dalam urusan fashion. Setidaknya tidak seburuk hari ini. Rambut usut seperti tidak disisir, wajah pucat dengan lingkaran mata yang menghitam, bahkan presentasinya kali ini payah. Membuatnya harus turun tangan untuk membantu.

“Kau! Berhentilah menatapku seperti itu.” Hyemin merutuk, merasa risi dengan tatapan menilai Sunri yang lebih terlihat seperti sedang memelototi.

“Apa kau terkena sindrom pra-nikah?”

Mwoya? Istilah apa itu? Aku belum pernah mendengar sebelumnya.”

“Kau terlihat sangat payah saat presentasi tadi. Apa pernikahan membuatmu seperti ini?” Ejek Sunri yang membuat Hyemin mendelik. Tentu saja Sunri tidak takut, karena itu hanya dianggap sebagai gertakan tidak berarti baginya.

“Cepatlah mencari suami agar kau bisa merasakannya.” Hyemin berujar datar dan meninggalkan Sunri dengan langkahnya yang semakin lebar.

“Yak! Apa maksudmu!” Suara melengking milik Sunri segera memenuhi lorong. Dan sepertinya Hyemin sengaja mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Sunri dengan suaranya yang membuat telinga sakit.

Setelah berhasil menyamai langkah Hyemin, Sunri segera menarik lengan kemeja yang dikenakan temannya. Membalasnya dengan ratusan ocehan yang lebih nyaring dan memekakkan daripada sebelumnya sepanjang jalan mereka menuju kafetaria untuk makan siang.

Sunri bersungut-sungut, melihat Hyemin mengaduk jus jeruk dalam gelas besar di hadapannya. “Kau! Bisakah kau berhenti melakukan itu. Kepalaku pusing melihatmu.”

“Tutup saja matamu.”

Aigoo, kenapa aku mendapatkan teman yang sangat menyebalkan sepertimu.”

Hyemin tidak membalas. Dia lebih memilih melihat pusaran dalam gelas di depannya akibat dari gerakan memutar sedotan yang dipegangnya.

“Kau sakit?”

Ne?

“Sejak kapan sedotan berhasil menarik perhatianmu, mengalahkan sepiring pasta.”

“Aku tidak lapar.”

Masih memusatkan perhatiannya pada cairan orange yang terbungkus kaca bening di depannya. Hyemin bahkan tidak memandang sepiring pasta kesukaannya sama sekali. Membiarkannya tergeletak begitu saja di atas meja semenjak pelayan mengantarkannya lima belas menit yang lalu.

Sunri hanya menggelengkan kepala. Melihat perubahan sikap sahabatnya. Kemarin saat terakhir kali mereka bertemu, sahabatnya itu masih tertawa lepas karena berhasil mempermalukannya. Tetapi sekarang, dia seperti seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya.

“Kau masih bisa ke Pyeongchang-dong?” Sunri bertanya hati-hati.

“Tentu saja. Kau pikir aku sakit sampai harus meninggalkan pekerjaanku.”

“Syukurlah, kau memang sepertinya masih cukup sehat.” Putus Sunri lega. Setidaknya kali ini sahabatnya itu masih bisa meneriakinya. Itu menandakan bahwa keadaannya belum pada tahap mengkhawatirkan.

 

+++

 

“Kau tunggulah di lobby. Biar aku saja yang menemui Manajer Kang.” Perintah Sunri setelah mereka berdua keluar dari mobil. Gadis itu sepertinya tidak mau mengulang peristiwa yang sedikit mengecewakan saat presentasi siang tadi. Dia terlalu khawatir menyerahkan tugas ini pada sahabatnya yang saat ini terlihat sedikit sakit.

Hyemin hanya mengangguk mengiyakan permintaan Sunri yang mulai menghilang dibalik box hitam di hadapannya. Gadis itu berjalan menyusuri gedung. Sepi. Ini memang sudah gelap dan siapa yang mau mengelilingi galeri seni di malam hari seperti ini.

Otaknya terlalu lelah untuk sekedar memberi perintah pada anggota tubuhnya yang lain, Hyemin memilih untuk mengikuti kemana kakinya mau melangkah. Membuatnya pasrah saat kakinya berjalan menjauhi lobby dan menuju tangga spiral.

Hyemin berjalan perlahan melewati puluhan foto-foto yang menempel pada dinding di kanannya. Begitu banyak foto yang terpampang di ruangan itu, membuatnya sedikit tersenyum getir.

Bayangannya langsung melayang pada masa itu. Masa indah dalam hidupnya, sekaligus paling gelap setelahnya. Dia masih ingat dengan jelas pada sosok yang tidak pernah melepaskan kamera analog hitam dari tangannya. Dia selalu suka cara orang itu membidik momen di depannya dan menguncinya pada benda hitam yang menempel pada mata kirinya itu. Entah apa yang tidak disukai gadis ini pada semua hal-hal sederhana dari orang itu. Rasanya tidak ada.

Hyemin terhenti pada sebuah foto di sudut ruangan besar ini. Perlahan kakinya semakin mendekati benda yang dibingkai oleh kayu berwarna coklat tua dan terlihat rapuh. Dan itu membuat gambar yang di dalamnya semakin tampak memukau.

Hyemin menatap lekat potret di hadapannya, seakan larut pada suasana dalam potret itu. Sunyi. Musim gugur yang sunyi.

“Kau menyukainya?”

Suara berat itu memaksa Hyemin untuk berbalik. Melihat siapa pemilik suara yang terdengar menenangkan itu. Detik berikutnya dia menyesali tindakannya. Sangat.

Seorang pria dengan kemeja putih yang dilipat sampai batas siku terlihat berdiri tenang. Warna kemeja yang membuat pria itu tampak seperti vampire karena bersaing dengan wajahnya yang terlihat sangat putih, atau mungkin pucat. Memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana hitamnya. Memandang potret yang sama, musim gugur sunyi yang terpampang di hadapan mereka berdua.

“Kau. Bukankah kau suka musim gugur?” Tanya pria itu lagi. Kali ini dia mengalihkan pandangannya dan membiarkan matanya menyusuri wajah gadis yang masih mematung di hadapannya.

Wajah gadis yang mati-matian diingatnya delapan tahun terakhir. Wajah yang selalu menyapa malam gelapnya. Wajah yang mengubah hidupnya hingga dia bisa bernafas sampai detik ini.

Mata pria itu berhenti tepat di manik mata Hyemin. Mata almond gadis itu masih sama seperti delapan tahun yang lalu. Begitu memukau dan bisa menyeretnya untuk masuk ke dalam lebih jauh lagi hanya dengan menatapnya saja. Mata almond itu masih tetap terlihat sedikit angkuh, walaupun kini ada semburat lelah yang tersirat disana. Dia masih sama. Seperti delapan tahun yang lalu.

“Yak! Bukankah aku tadi meny-” Omelan Sunri terpotong saat mendapati sahabatnya kini terlihat seperti korban hipnotis. Dia berdiri dengan tatapan kosong dan itu terlihat mengerikan.

Sunri melihat seorang pria yang berdiri tidak jauh dari Hyemin. Dan sama saja. Bahkan pria itu seperti mayat hidup karena terlihat begitu pucat. Mereka berdua terlihat mengkhawatirkan.

“Kau, baik-baik saja?”

“Ne.”

“Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak mengecek handphonemu? Tadi Joon oppa mencoba menghubungimu.” Berondong Sunri saat berdiri di samping Hyemin.

“Aku meninggalkan tasku di dalam mobilmu.”

“Sepertinya aku harus pergi dulu, Hyemin-ssi. Selamat malam.” Suara pria itu kini terdengar semakin serak dan berat.

Hyemin yang mati-matian ingin membalas ucapan pria itu kini suaranya benar-benar tersangkut di tenggorokan, membuatnya hanya mampu mengangguk mengiyakan. Gadis itu hanya menatap punggung pria itu semakin menjauh ditelan cahaya galeri ini yang sedikit redup. Sampai benar-benar hilang di balik tangga spiral di ujung.

Nuguseyo?

“Hanya seorang sunbaenim.”

Hanya seorang sunbae? Benarkah? Pertanyaan itu yang terlintas dalam otak Sunri sesaat kemudian. Tapi gadis itu memilih diam dan tidak melanjutkan pertanyaan yang melewati batas privasi sahabatnya.

“Tadi Joon oppa menelponku. Katanya dia tidak bisa menjemputmu karena masih ada rapat.” Lanjut  Sunri berjalan di belakang Hyemin yang menuruni tangga spiral di tengah ruangan. Gadis itu sepertinya memilih berjalan di belakang Hyemin, berjaga jika sewaktu-waktu sahabatnya itu pingsan dan terjatuh. Itu sedikit berlebihan.

+++

Oemma-ya, haruskah aku mencobanya?”

“Kau pikir siapa lagi yang harus mencoba gaun ini jika bukan kau? Oemma?”

Hyemin memandang gaun putih itu dengan nanar. Melihatnya saja sudah sangat risi, bagaimana jika sampai memakainya?

Sambil menyeret sepatunya menuju ruangan kecil dalam butik itu, Hyemin memasang wajah malas. Berkutat dengan gaun putih panjang tanpa lengan yang akan dikenakannya nanti. Di hari pernikahannya. Itulah yang dipikirkan orang-orang terdekatnya.

Seorang gadis berbalut gaun anggun, memandang pantulan dirinya melalui cermin besar di depannya. Terlihat sangat bahagia menjelang hari pernikahannya yang sudah didepan mata. Bukankah itu yang ada dibayangan semua calon mempelai wanita? Menghampiri mempelai pria yang sudah menunggu di depan altar untuk mengucapkan janji suci pernikahan. Meminta untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama, dalam suka dan duka.

Wajah yang harusnya berseri itu tidak tampak menghiasi wajah Hyemin. Bahkan raut wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin seorangpun mengetahuinya. Tatapan yang sulit dimengerti. Antara senang dan sedih, tetapi lebih terlihat pada penyesalan yang tak terkira.

Bayangan indah itu tidak pernah terlintas dalam benak pantulan dirinya melalui cermin besar didepannya. Berdiri di depan altar dengan seorang yang akan menghabiskan sisa hidup dengannya. Seorang yang akan dicintainya sampai nafas terakhir berhembus. Seorang yang akan meringankan sedihnya dan mengusap air matanya.

Otaknya kembali teringat pada seorang di masa lalu. Bukan pada sosok Joon yang sebentar lagi mengikat hidup dengannya. Seorang di masa lalu yang berhasil membuat jantungnya bekerja lebih keras jika mengingatnya. Seorang yang membuatnya menangis semalam jika mengetahui betapa menyedihkannya dia. Seorang yang membuatnya merasa menjadi gadis paling bodoh di muka bumi karena belum mengatakan bahwa dia begitu menyukai orang itu, bahwa dia begitu mencintai orang itu, bahwa dia begitu menggilai orang itu. Dan bahwa sekarang dia begitu merindui orang itu bahkan terasa hampir mati.

“Neomu yepposeo.”

Suara itu mengagetkan Hyemin, membuatnya tersadar dari pemikiran masa lalu yang menyeruak kembali dalam otaknya beberapa hari terakhir. Setelah pertemuan di toko perhiasaan tempo hari. Dengan cepat dia mengusap matanya, hingga air mata itu terkumpul pada sudut matanya.

Jeongmalyo?” Hyemin berpura-pura terkesan, mencoba tidak merusak kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajah ibunya.

Ne. Anak oemma memang cantik.”

Gadis itu lagi-lagi tersenyum miris. Sampai kapan dia harus terlihat bahagia seperti ini?

“Ah, aku harus memotretmu dan mengirimkannya pada Joon dan ibunya. Mereka pasti sangat suka.”

“Yak, oemma! Hentikan sikap kekanak-kanakan oemma itu.” Tolak Hyemin yang langsung mendorong tubuh oemmanya keluar ruangan itu, sebelum wanita tengah baya itu melancarkan aksinya.

 

+++

Kaca dihadapan Hyemin masih tampak basah. Memperlihatkan sisa-sisa hujan yang menetes dan mengalir pelan menyusuri permukaan halus jendela kaca. Diluar sedang hujan. Ah, bukan. Gerimis mungkin. Karena kini buliran-buliran yang jatuh dari langit tidak sesering tadi. Saat orang-orang berlarian menghindari guyuran air dari langit itu. Saat orang-orang menyelamatkan diri dan segera mencari tempat berteduh.

Gadis itu masih mematung di kursinya. Memandang jalanan sepi di depannya. Tidak ada orang yang biasanya berlalu lalang memenuhi trotoar itu. Mereka yang berjalan tergesa-gesa padahal sedang tidak terlambat. Mereka yang sibuk berbicara dengan benda kecil yang menempel di satu sisi telinga mereka.

Mendekam di café saat hujan mengguyur jalanan Seoul cukup lama sepertinya pilihan terbaik untuknya. Menghabiskan dua cangkir lattenya selama duduk di tempat sepi itu. Dia tidak melakukan kegiatan apapun, selain memandangi jalanan sepi akibat guyuran hujan beberapa saat tadi.

Entah kenapa berdiam diri di café itu begitu menarik untuk Hyemin. Memanjakan matanya melihat tetesan hujan yang mengalir menyusuri kaca di hadapannya. Atau mendengarkan suara hujan yang terdengar seperti sebuah simfoni indah. Mengalun pelan melewati gendang telinganya dan memenuhi saraf-saraf otaknya. Membuat otaknya sedikit lebih tenang.

Sillyehamnida. Bisakah aku duduk disini?”

Suara ramah itu membuat gadis yang memandang kaca di hadapannya menoleh. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan keterkejutan. Pita suaranya seakan rusak sehingga tidak bisa digunakan. Hanya anggukan kepala yang mengisyaratkan agar orang yang meminta ijin itu bisa mengambil tempat duduk yang masih kosong.

“Maaf telah mengganggu waktumu.”

Animida.” Suara serak Hyemin akhirnya berhasil meluncur setelah berusaha keras.

“Aku tahu, mungkin sekarang banyak pertanyaan dalam benakmu. Tapi aku mohon. Sebentar saja, dengarkan aku. Aku tidak akan lama.” Pinta wanita yang baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di samping Hyemin.

Melihat Hyemin hanya diam, wanita itu mengeluarkan sebuah buku hitam dari dalam tasnya. “Igo. Aku hanya ingin menyerahkan buku ini.”

Hyemin masih diam. Dia kelewat terkejut dengan semua hal yang terjadi beberapa detik terakhir. Wanita itu? Duduk satu meja dengannya? Memohon padanya? Dan sekarang buku hitam itu. Apa maksudnya semua ini?

“Ini mungkin terlalu mendadak.” Ujar wanita itu seperti bisa membaca isi otak Hyemin. “Aku hanya ingin kau membacanya. Hanya itu.”

Wanita tadi terlihat membungkuk sopan dan meninggalkan kursinya. Meninggalkan Hyemin yang masih terpaku melihat buku hitam tergeletak di atas meja di hadapannya.

Tangannya tergerak perlahan. Antara meraih buku itu atau mengenyahkannya. Dua hal yang memenuhi isi otaknya saat ini. Tetapi rasa penasaran yang sudah memuncak membuat jemarinya perlahan meraih buku hitam diatas meja itu. Menyeretnya perlahan agar lebih dekat dengannya.

Sebuah buku bersampul hitam tebal itu kini berada tepat dihadapannya. Buku itu terlihat lebih mirip dengan album karena saking tebalnya. Sampul buku itu kosong, hanya ada seutas tali yang terlihat seperti jalinan dari akar-akar kecil yang telah mengering.

Tangan gemetarnya perlahan membuka lembar pertama kertas berwarna broken-white buku hitam itu. Autumn Rhapsody, Maybe.

Dia membuka lembar berikutnya.

 

7 September 2006

Seperti biasa, aku menghabiskan waktu duduk di perpustakaan untuk sekedar membaca-baca buku. Jendela kaca di depanku memperlihatkan lapangan basket yang dipenuhi anak-anak yang begitu bersemangat berebut bola orange itu. Tempat duduk favoritku.

Aku terpaksa mengangkat kepalaku saat seseorang berdiri di depanku. Dari keberaniannya menggangguku saat sedang membaca, bisa dipastikan bahwa dia adalah anak baru. Dan benar, seorang gadis dengan namtage berdiri dan terlihat membungkukkan badan.

Yoo Hyemin. Nama yang tertera dalam nametagenya. Dia terlihat terbelalak untuk waktu yang lama setelah aku mengangkat kepala. Terpesona? Mungkin.

“Annyeong haseyo, Yoo Hyemin imnida.” Dia berujar sopan, memperkenalkan dirinya sementara aku hanya menatapnya.

Cweosonghamnida, telah mengganggu waktumu sunbaenim. Aku mendapat tugas untuk mendapatkan tanda tangan seorang sunbae yang bernama Cho Kyuhyun. Apakah benar itu anda? Karena dari beberapa sunbaenim yang kutanyai mereka mengatakan bahwa aku bisa mencarimu di perpustakaan.” Jelasnya panjang lebar.

Aku masih menatapnya, memperhatikan caranya berbicara yang begitu bersemangat.

“Jadi bagaimana sunbae, apa benar anda yang bernama Cho Kyuhyun?” Dia mengulang pertanyaannya, memastikan karena melihatku hanya diam saja.

“Ah, benar. Anda Cho Kyuhyun. Karena kata sunbae tadi, Kyuhyun sunbaenim tidak akan berbicara dengan orang asing. Berarti itu benar, anda Cho Kyuhyun sunbaenim.” Putusnya dengan wajah berbinar dan tersenyum lebar.

Aku menatapnya semakin lekat. Senyumnya. Senyum itu, terlihat begitu memukau dan menenangkan. Senyum yang paling indah yang pernah kutemui selama eksistensiku. Senyum yang bisa membuatku mengalami disfungsi otak untuk beberapa saat.

“Kyuhyun sunbaenim? Gwaenchanayo?” Gadis di depanku terlihat bingung dengan menggerak-gerakkan tangannya, berniat membuatku tersadar.

Aku hanya mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadaranku yang sempat menghilang. Gadis itu terlihat menatapku bingung sesaat sebelum menyodorkan selembar kertas dan spidol kearahku. Seperti niat awalnya, meminta tanda tanganku.

“Bisakah aku meminta tanda tangan Kyuhyun sunbaenim?” Tanyanya untuk sekian kali dan menatapku dengan tampang memelas.

Dan tanganku diluar kendali meraih kertas yang disodorkannya, membubuhkan tanda tanganku dengan mudahnya sesaat kemudian. Astaga, ini adalah kali pertama aku memberikan tanda tanganku kepada anak baru. Apakah hanya karena aku tidak sanggup melihat wajah memelasnya? Entahlah.

 

~~~

 

Hyemin menarik nafasnya dalam, berusaha menahan sesuatu yang terasa sakit dalam dadanya. Tangannya menarik cangkir dari atas meja dan mengangkatnya. Menyesap perlahan, merasakan latte panas membasahi kerongkongannya. Dia memandang jalanan basah di balik kaca sesaat, meletakkan cangkir yang digenggamnya kembali ke tempat semula dan memusatkan perhatiannya pada lembar selanjutnya buku itu.

 

10 September 2006

“Kyuhyun sunbae! Kyuhyun sunbae!

Aku menoleh ke belakang untuk mengetahui pemilik suara nyaring yang memanggil-manggil namaku. Dan gadis itu, Hyemin terlihat berlari menghampiriku. Dia berusaha mengatur pernafasannya saat tiba di depanku.

Igo.” Dia menyodorkan sebatang cokelat padaku.

Hyemin sepertinya kesal karena aku tak kunjung menerima cokelat pemberiannya. Dengan gemas dia menarik tanganku dan membaliknya sehingga telapak tanganku kini berada di atas. Dia meletakkan cokelat yang tadi disodorkannya ke telapak tanganku, menangkupkan jemari tanganku agar memegang cokelat itu.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, sunbae. Karena tanda tanganmu kemarin, aku tidak mendapat hukuman.” Jelasnya dengan senyuman lebar yang lagi-lagi membuat otakku mengalami disfungsi sesaat.

Aku melihatnya berlalu melewatiku. Dan entah kenapa aku membalikkan tubuhku, melihat punggungnya semakin menjauh dari pandanganku.

 

~~~

 

11 October 2006

Aku duduk disalah satu bangku kayu di tepi lapangan basket outdoor sekolah. Memperhatikan anak-anak menggiring bola orange itu kemudian menembakkannya ke dalam ring. Yah, saat seperti ini aku hanya bisa memperhatikannya dari tepi lapangan.

Aku memejamkan mata, menikmati belaian angin yang memanjakan.

Ah, kenapa di saat seperti ini aku teringat seulas senyum. Senyum gadis itu, Hyemin. Bahkan saat mataku tertutup seperti ini aku masih dapat mengingat senyum itu dengan sangat jelas. Seperti dia benar-benar ada di depanku dan tersenyum padaku.

Aku membuka mata, tetapi kenapa wajahnya kini terlihat sangat nyata untuk mataku?

“Kau bolos, Kyuhyun sunbae?” Tanya sosok Hyemin yang membungkuk di depanku, menjajarkan wajahnya dengan wajahku dan menatapku bingung.

Apa aku sudah mulai gila? Kenapa bayangannya pun kini bisa berbicara?

Aku memalingkan wajahku, mencoba menghilangkan halusinasiku.

“Yak, Kyuhyun sunbae! Kenapa kau mengacuhkanku?” Rajuknya dan mengambil tempat di sampingku. Menghadang pandanganku lagi untuk melihat wajah cemberutnya.

“Kau bisa melihatku?” Dia mengibas-ngibaskan tangan karena melihatku masih diam yang memandangnya lekat. Dan yang bisa kulakukan hanya mengangguk sebagai jawaban.

Sesaat kemudian aku tidak mendengar suaranya lagi. Membuatku melirik kearahnya lewat sudut mataku. Dia terpejam, membuat angin yang berhembus ringan mengangkat rambut coklat panjangnya. Membuat anak-anak rambutnya bergerak indah.

Aku memiringkan wajahku, memperjelas pandanganku untuk melihat wajah gadis itu. Wajah yang tulus dan sedikit, angkuh. Wajah yang sudah akrab dengan ingatanku beberapa saat terakhir. Hanya dengan dua kali bertemu. Dan sepertinya aku ingin selalu melihatnya dalam jangka tak terhingga.

 

~~~

 

17 November 2006

Penjelasan guru di depan membosankan. Membuatku berpaling dan menatap jendela di kananku. Menikmati daun-daun yang berjatuhan karena hembusan angin. Daun yang meliuk indah dibawa angin, pemandangan yang mengagumkan.

Aku terhenyak saat gadis itu muncul di balik jendela tiba-tiba. Dia tersenyum lebar dan menggerak-gerakkan tangannya. Seperti sedang memberi isyarat. Aneh, karena aku tidak dapat mengerti apa yang dimaksudkannya. Pergi keluar, itulah yang bisa kumengerti dari gerakkannya yang paling akhir.

Tubuhku dengan begitu mudahnya mengikuti perintahnya dan berjalan meninggalkan kelas yang sedang berlangsung. Ini adalah kali pertama untukku, meninggalkan kelas dan mengiyakan ajakan gadis yang baru saja kutemui. Terdengar kurang masuk akal, bahkan untukku sendiri.

Aku sudah melihatnya bersandar pada pagar pembatas di luar kelasku, menungguku mungkin.

Dia menarik lenganku dan membuatku tidak punya pilihan selain mengikutinya. Dia berjalan sepanjang koridor tanpa mengeluarkan suara apapun. Yang membuatku menerka-nerka, kemana dia akan membawaku kabur dari kelas yang sedang berlangsung.

Dia menjatuhkan tubuhnya di atas rumput yang tampak menguning. Tangannya merarik lenganku, lagi. Memberi isyarat untukku mengikutinya, duduk menemaninya.

“Pelajarannya membosankan. Eo?” Dia berujar lesu, tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat.

“Aku benar-benar bisa tertidur jika memaksakan diriku mendengarkan guru dikelas tadi. Kau juga seperti itu, sunbae?” Kali ini dia menatapku dengan wajah polos khas gadis enam belas tahun.

“Ah, aku rasa kau juga seperti itu.”

Dia memutuskannya sendiri karena aku hanya diam. Mungkin dia masih menganut ajaran bahwa diam berarti iya.

 “Ini akan menghilangkan stressmu, sunbae.” Sebatang cokelat yang baru diambilnya dari dalam saku segera disodorkan ke arahku.

“Cokelat akan membuatmu merasa lebih baik walaupun meninggalkan sedikit rasa pahit.” Lanjutnya sambil mengacungkan tangannya, mengisyaratkan agar aku segera menerima cokelatnya. Seperti berada di bawah kendalinya, aku lagi-lagi menerima perintahnya dengan mudahnya.

 

~~~

 

27 November 2006

Aku membidik beberapa ranting rapuh dan daun yang menguning. Mengabadikan hal-hal sederhana yang mungkin tidak pernah aku lihat lagi.

Wajahnya muncul dalam lensa kameraku tiba-tiba. Dia tersenyum lebar. Terlihat begitu bahagia tanpa beban.

“Kyuhyun sunbae! Apa aku terlihat dari situ?” Melihatku masih memicingkan mata di lensa kamera, dia betanya antusias.

“Apa kau memotretku?”

“Sunbae, jawablah aku!”

Dia terlihat cemberut karena kuacuhkan, ekspresinya lucu sekali.

“Kau menyebalkan, sunbae.” Rajuknya kemudian membalikkan tubuhnya sehingga aku hanya bisa memotret punggungnya. Itupun terlihat sangat menarik bagiku.

Dia duduk di kursi kayu di tepi lapangan basket sambil melambai-lambaikan tangannya. Kakiku sangat ringan melangkah menghampirinya. Mengambil tempat kosong disebelahnya. Dia terlihat memandang jauh ke depan, melihat sesuatu yang hanya dia sendiri yang bisa melihatnya.

“Kau suka fotografi, sunbae?” Setelah lama terdiam, dia bersuara dan membuatku menoleh kearahnya yang masih menatap lurus ke depan.

“Aku juga suka fotografi. Bukankah kita berjodoh?”

Kali ini dia berbalik menatapku dengan senyum yang membutakan.

 

~~~

 

Hyemin ingin rasanya segera berlari ke jalanan di luar itu. Menjerit sekeras yang bisa dilakukannya. Lalu membiarkan buliran-buliran air dari langit itu membasahi tubuhnya. Dan dia tidak lagi khawatir tentang air mata dan air hujan yang mungkin akan berlomba-lomba membasahi pipinya. Setidaknya itu yang akan dilakukannya jika saja hari diluar sudah gelap. Dan dia masih bisa berpikir jernih saat ini, memilih untuk mengurungkan niatnya itu, walaupun sedikit.

Sebagai gantinya gadis itu menegang karena menahan sesuatu terlalu kuat. Meremas lembaran-lembaran buku didepannya saat ini. Matanya juga sudah cukup berair. Tinggal menunggu waktu saja untuk melihat pipi gadis itu mulai membasah.

“Buku apa yang kau baca?”

Hyemin mengangkat kepalanya. Mendapati Joon sudah berdiri disana. Entah kapan pria itu datang, dan dia tidak menyadari itu kaena terlalu fokus pada buku hitam di pangkuannya. Buku yang mengorek masa lalunya yang, sedikit menyedihkan.

“Hanya catatan seorang teman.”

“Teman? Apakah spesial? Sampai kau tidak menyadari kehadiranku.”

“Sudahlah. Sejak kapan kau jadi pencemburu seperti ini? Bahkan dengan sebuah buku.” Suara Hyemin terdengar lemah. Gadis itu sepertinya tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengan topik ini. Karena akan menyulut emosi, entah siapa sekarang yang akan terbakar terlebih dahulu.

“Kau sudah memesan makanan?”

Joon mencoba mencairkan suasana setelah percakapan tadi. Dan sepertinya suasana dingin di luar café sudah menjalar dan menyelimuti mereka berdua.

“Belum.”

“Kau mau kupesankan sesuatu? Kau mau makan apa?”

“Terserah kau saja.”

“Jadi kau sudah fitting gaun pernikahan kita?”

“Kemarin oemma memaksaku. Dan aku tidak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaannya.” Hyemin menjawab pertanyaan antusias Joon dengan nada dingin, membuat pria itu mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh tentang persiapan pernikahan mereka. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat.

 

+++

Matahari enggan bersinar pagi ini. Membuat langit nampak redup. Hyemin memutuskan untuk mendekam seharian di rumah dan menolak ajakan Sunri untuk mencari keramik antik ke Insadong. Sebenarnya itu hanya kamuflase, karena gadis itu ingin membaca buku hitam yang sudah berada di tangannya sejak kemarin.

Dia duduk di atas lantai kayu dengan kaki tenggelam pada kolam kecil di bawahnya sampai batas mata kaki. Bergerak-gerak ringan dan membuat air berkecipak.

 

10 December 2006

Gadis itu mengambil tempat duduk di depanku. Sampai sekarang, hanya dia, Hyemin yang berani mengisi kursi kosong perpustakaan yang berada di seberang meja favoritku. Apa dia tidak takut padaku? Entahlah. Aku bahkan tidak merasa terganggu karena kehadirannya. Dan akan terasa aneh jika dia tidak duduk disitu. Apakah aku sudah tidak waras? Yah, setidaknya jika aku tidak waras karena gadis itu, aku akan menerimanya dengan senang hati.

Dia membuka buku tebal. Matanya membulat saat lembar-lembar halaman bukunya hanya memperlihatkan deretan huruf yang membuat kepala pusing. Dia masih berusaha membuka lembar berikutnya dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut karena kesal. Bahkan saat dia berekspresi seperti ini, aku melihatnya begitu menarik. Apa ada yang salah dengan mataku?

Dia mendengus kesal dan menutup buku tebal dihadapannya. Mungkin kepalanya sudah cukup pusing melihat huruf-huruf kecil yang berjajar itu. Detik berikutnya dia menjatuhkan kepalanya di atas buku tebal tadi.

“Aku memang tidak berjodoh dengan buku.” Keluhnya sesaat setelah mengangkat kepalanya kembali dan menatapku iri.

 “Aku sangat iri melihatmu begitu senang bergelut dengan buku yang super tebal itu.” Ujarnya lirih sambil menatap buku matematika yang terbuka di depanku. Aku hanya tersenyum simpul melihat kelakuannya yang kekanak-kanakan.

“Omo. Kau tersenyum, Kyuhyun sunbae.” Pekiknya begitu senang melihatku tersenyum. Seperti melihat santa di malam natal. “Wooa! Aku benar-benar melihatmu tersenyum. Kau tersenyum!”

 

~~~

 

Hyemin menatap langit yang redup. Merasakan sisa-sisa angin musim gugur yang menyentuhnya. Dia selalu suka cuaca seperti ini. Mendung. Dan itu menenangkan.

Musim gugur. Mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang menarik perhatiannya bahkan tanpa percakapan. Seseorang yang menyita waktunya delapan tahun yang lalu sampai saat ini. Seseorang yang membuatnya lupa cara bernafas dengan benar walaupun hanya sedetik.

“Siapa kau sebenarnya?” Dia bergumam lirih dengan kepala menengadah ke langit dan mata yang terpejam. Sesaat kemudian pipinya terasa hangat oleh air yang meleleh dari sudut matanya. Gadis itu melakukannya, lagi.

 

27 December 2006

Aku berjalan tergesa saat Jaebum memberitahuku bahwa kau sedang diganggu segerombolan anak. Aku bahkan meninggalkan sepedaku di tengah lapangan dan setengah berlari menghampirimu.

Aku melihatmu ketakutan. Kau hanya diam dan menundukkan wajahmu. Bahkan teman-temanmu hanya melihatnya tanpa berniat menolongmu. Takut?

Aku menghampiri seorang anak laki-laki yang mencoba menyentuh pipimu. Dengan seluruh tenaga yang tersisa aku meraih pundaknya dan melayangkan kepalan tanganku pada wajah laki-laki itu. Membuatnya tampak kaget dan tersungkur.

Aku masih belum puas. Kuhampiri tubuhnya yang masih terbaring di atas tanah dan kulayangkan kepalan tanganku lagi, dua kali, tiga kali sampai berkali-kali seperti orang kesetanan. Beberapa temannya tidak tinggal diam. Mereka mencoba menyerangku. Aku tidak peduli. Sampai Jaebum menarik tubuhku menjauhi mereka dan merasakan dadaku yang nyeri. Rasa sakit itu menyerangku lagi. Lebih terasa sakit daripada pukulan anak laki-laki itu. Membuatku meringis menahan rasa nyeri.

Aku menatapmu sekilas. Menatap mata almondmu yang nampak basah. Wajahmu semakin kabur seiring dengan nyeri yang semakin mendesak di dadaku. Sampai akhirnya semuanya benar-benar gelap.

 

~~~

 

Hyemin berusaha menahan nafasnya dalam-dalam saat mengingat hari itu, hari dimana rahasia kecil Kyuhyun mulai terungkap.

 

[Flashback]

Hyemin berlari menyusul Jaebum yang menggendong Kyuhyun menuju UGD. Dia cemas melihat Kyuhyun yang pingsan tiba-tiba setelah berkelahi tadi. Dan itu karena dirinya.

“Sunbaenim, apa yang terjadi pada Kyuhyun sunbae?”

Merasa tidak mendapatkan respon, gadis itu melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Sampai,

“Kau, bisakah kau diam sebentar. Aku juga cemas, sama sepertimu.” Bentak Jaebum yang terganggu dengan pertanyaan mengganggu Hyemin.

Gadis itu terlihat menciut dan berangsur meninggalkan ruangan, memilih menunggu di luar dan tidak mengganggu kerja beberapa orang yang berjibaku dengan tubuh Kyuhyun.

Dia terlalu lelah menunggu. Memutuskan untuk meringkuk di dekat pintu kaca itu. Memeluk lututnya yang mulai terasa ngilu.

“Kau pulanglah, Kyuhyun sudah baikan. Dia sudah tidur saat ini. Kau tidak perlu khawatir.” Suara Jaebum membuat Hyemin yang tanpa sadar terpejam, membuka matanya dengan segera. Bahkan gadis itu tidak tahu sudah berapa lama dia terduduk dalam posisi seperti itu di atas lantai yang dingin.

“Ayo kuantar pulang.” Tawar Jaebum melihat keadaan diluar sudah gelap, menandakan mentari sudah pulang ke peraduannya.

Mereka berjalan pelan menyusuri trotoar yang mulai menggelap. Hanya beberapa sorot cahaya dari toko-toko di seberang jalan yang menerangi jalan mereka.

“Kau, hanya perlu mendengarkanku dan jangan pernah bertanya apapun setelah ini. Dan berpura-puralah tidak mengatahui apapun walaupun kau mengatahuinya.” Jaebum berbicara panjang lebar tiba-tiba, membuat Hyemin menoleh pada pria bermata sipit itu.

Kali ini jantung Hyemin bertalu-talu menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Jaebum. Pria itu terlalu bertele-tele. Dan berhasil membuat Hyemin penasaran setengah mati saat ini.

“Kyuhyun tidak seperti anak yang lain.” Lanjutnya setelah lama terdiam. Hyemin menoleh ke arah Jaebum yang menatap butiran salju tekoyak akibat gerakan sepatu hitamnya.

“Dia tidak bisa melakukan kegiatan yang bisa membuatnya terlalu lelah. Dia tidak bisa mengikuti kegiatan olahraga. Dia tidak bisa mengikuti permainan bersama anak-anak yang lain, walaupun itu hanya berebut bola basket. Dia juga tidak bisa berlari.”

Hyemin terdiam sesaat. Itukah alasannya kenapa Kyuhyun selalu duduk di tepi lapangan saat teman-temannya yang lain bermain basket?

“Dia sebenarnya bisa melakukan itu. Aku yakin mungkin saja dia bisa menjadi pemain tim basket inti bersamaku. Tapi,” kata-kata Jaebum menggantung.

“Dia akan seperti ini setelah melakukan kegiatan itu, collapse. Bisa jadi lebih parah dari ini.”

Jaebum terdiam sesaat. Membuat Hyemin mencengkeram rok birunya karena terlalu penasaran dengan cerita laki-laki sipit itu.

“Dia terlahir dengan kelainan pada kinerja jantungnya. Dalam istilah medis disebut congenital heart disease. Itu yang membedakannya denganku, juga denganmu.”

Hyemin berusaha mengatur kerja paru-parunya saat ini. Gadis itu merasakan persediaan oksigen di paru-parunya menipis, bahkan terasa hampir habis.

“Aku sudah bersamanya sejak kecil dan aku sangat tahu bagaimana kebiasaannya. Dia selalu berhasil menghindari pantangan-pantangan yang harus dihindarinya. Dia lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan ataupun memotret hal-hal sederhana yang menurutnya itu mengagumkan.”

“Tapi itu berubah semenjak dia bertemu denganmu.”

Langkah Hyemin terhenti. Sepertinya kata Jaebum yang terakhir adalah sebuah mantra yang menghentikan seluruh kerja tubuhnya. Menghentikan saraf-saraf yang menghubungkan dengan otaknya.

“Kau jangan berpikiran macam-macam dulu.” Kali ini Jaebum berbalik dan menatap Hyemin yang membeku dalam diam.

“Dia hanya … terlihat lebih hidup.”

[Flashback End]

 

~~~

29 December 2006

Aku membuka mataku perlahan. Suara berisik di luar membuatku merangkak menuruni tempat tidur. Aku memandangi seluruh ruangan serba putih ini saat menyadari bahwa aku sudah mengenakan seragam Rumah Sakit saat ini. Berniat mencari suara berisik, tanpa sengaja aku melihat sebatang cokelat tergeletak di atas meja di dekat ranjang. Aku meraihnya. Membuka note kecil berwarna hijau.

To : Kyuhyun sunbae

Terima kasih untuk kemarin.

Cepatlah sembuh ^^

Entahlah, aku kini merasa bahwa diriku benar-benar sudah sembuh. Aku benar-benar merasa seperti terlahir kembali hanya setelah melihat catatan itu. Aku tahu ini dari dia, gadis itu.

 

~~~

 

7 January 2007                                                                                                                            

Buliran-buliran putih seperti kapas itu terus berjatuhan. Meyelimuti jalanan sampai nyaris tak terlihat. Membuat warna putih mendominasi seluruh permukaannya.

Aku berjalan perlahan di belakangnya. Tanpa berniat menyusulnya. Hanya ingin memastikan bahwa dia sampai dirumah dengan selamat.

Dia terlihat beberapa kali membenahi scarfnya yang berantakan. Gadis itu bahkan menggerutu sepanjang jalan karena mantel tebalnya itu membatasi gerakannya memakan es krim. Dia benar-benar gadis yang aneh, saat sebagian besar orang memilih memakan ramyoen panas dari panci, dia malah memilih menjilati es krim sepanjang jalan yang diselimuti salju.

 

~~~

 

3 February 2007

Hari ini aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena harus check-up. Aku menyetujui melakukan rutinitas itu setelah catatan kecil tempo hari. Ini terdengar sedikit gila. Tapi memang aku kini memiliki alasan untuk berjuang hidup. Senyum gadis itu, membuatku mempunyai alasan untuk merasakan kebahagiaan juga, walaupun hanya sebatas melihatnya saja, aku tak peduli.

Aku menarik gagang lokerku. Membuka daun pintu dari besi yang sudah sedikit berkarat itu. Aku menemukan sebatang cokelat disana. Diatas tumpukan buku-buku tebalku.

To : Kyuhyun sunbae

Saengil chukhahae ^^

Aku payah dalam memasak

Jadi aku hanya bisa memberimu cokelat ini

Aku meraih batang coklat itu, yang dililit pita merah diatasnya. Aku tahu dia sangat serius. Aku tahu.

 

~~~

 

27 February 2007

Buliran-buliran putih seperti kapas itu berjatuhan dari langit. Terlihat indah dari balik jendela kaca ini. Aku terduduk di kursi perpustakaan seorang diri. Aku tidak menunggunya, karena aku tahu dia tidak akan datang.

Karena aku sudah menemukan sebatang cokelat tergeletak di atas meja. Dan aku tahu ini dari dia.

 

~~~

Hyemin melihat buku itu sedikit basah. Dia tidak sadar jika kini air matanya sudah menetes berkali-kali sampai membuat tanda pada kertas broken-white itu. Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa orang yang menguasai masa lalunya kini sudah kembali. Menyusup dalam hari-harinya yang sedikit normal.

“Apa yang kau lakukan disitu? Udara sangat dingin. Cepatlah masuk.”

Wanita tengah baya itu terlihat menghampiri Hyemin. Melihat anak gadisnya masih berjibaku dengan ikan-ikan kecil yang mengitari kakinya yang terendam air.

“Masuklah. Anginnya semakin dingin.” Ibu Hyemin mengulang perintahnya lagi.

Oemma, kenapa oemma dulu mau menikah dengan appa?

Suara Hyemin yang serak berhasil memecah kesunyian di antara mereka sejak pindah ke ruang tengah. Gadis itu terbaring dengan kepala berada di atas pangkuan ibunya, menatap wajah lelah wanita tengah baya yang telah melahirkannya. Menunggu sebuah kalimat yang terlontar dari mulut sang oemma.

“Entahlah, mungkin karena appamu adalah satu-satunya pria yang membuat oemma merasa bahwa akan sulit sekali jika tidak hidup dengannya.”

Kata-kata itu seperti menampar Hyemin. Menohok tepat ke ulu hatinya, seperti tersadar dari tidur panjangnya selama ini.

“Jadi, apa kau juga merasa Joon seperti itu?”

“Entahlah, oemma.” Hyemin membalas dengan lemah. Sangat lirih sampai nyaris seperti menggumam.

Dia menyembunyikan wajahnya di perut ibunya, menghirup wangi khas wanita itu. Sementara wanita tengah baya itu hanya dapat merasakan perutnya mendadak hangat, karena ada sesuatu yang membasahi bajunya saat ini. Dan wanita itu sangat tahu jika Hyemin tengah menangis. Anaknya akan selalu menyembunyikan air matanya, dia tidak ingin siapapun mengetahuinya

 

~~~

 

Ibu Hyemin meraih buku hitam yang tergeletak di atas lantai kayu, kemudian membawanya ke dalam rumah. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa cokelat disudut ruangan. Perlahan membuka lembar demi lembar buku itu. Sesekali dia membenahi letak kacamata baca yang bertengger diatas hidungnya.

Wanita itu berusaha menyelesaikan kegiatannya membaca sebelum matahari menyingsing. Sebelum sang pemilik buku mengetahuinya sedang mencuri privasinya. Walaupun tak jarang dia harus membersihkan lensa kacamatanya karena terlalu sering berembun. Karena air mata? Entahlah.

Tangannya terlihat sedikit bergetar saat lembar-lembar terakhir berhasil dituntaskannya. Menutup buku itu dan mengikat talinya seperti semula. Kali ini kacamatanya benar-benar buram. Sampai dia harus melepaskannya dan meletakkannya di atas nakas kecil tak jauh dari sofa tempatnya duduk. Tangannya kemudian mengusap mata yang sudah menunjukkan sedikit kerutan disana, tanda bahwa dia sudah cukup lama merasakan pahit getirnya dunia.

Yeobo, sekarang apa yang harus kulakukan?” Desisnya lirih, menatap sebuah bingkai foto yang memperlihatkan sebuah potret keluarga yang bahagia. Ada dirinya, suaminya dan Hyemin kecil dalam gendongan sang appa. Wanita tengah baya itu mengusap matanya secara bergantian, lagi.

 

~~~

14 February 2007

Aku menyusuri koridor kelas yang sudah sepi. Sengaja pulang terlambat hari ini. Beberapa kali aku menoleh ke belakang, merasa ada yang mengikutiku. Tetapi saat membalikkan badan, aku tidak melihat siapapun disana.

Aku melihat wajah kagetnya saat dia masuk perangkapku. Aku sengaja sembunyi disamping loker untuk mengetahui siapa yang mengikutiku sejak aku keluar kelas tadi. Dan dugaanku tepat. Dia. Bukankah dia satu-satunya gadis yang bertahan paling lama dengan sikapku yang menyebalkan ini?

“Kau mengagetkanku, sunbae.” Pekiknya setelah menormalkan ekspresi wajahnya.

“Aku hanya ingin memberimu ini.” Ujarnya kikuk setelah aku menatapnya tajam, seakan meminta penjelasan tentang apa yang dilakukannya.

Aku melihat dia menyodorkan kotak putih dengan pita merah di atasnya yang membuatku menautkan kedua alis.

“Bukankah hari ini Valentine. Aku tidak suka warna merah muda, jadi aku menggantinya dengan pita merah saja.”

“Ah, aku tahu akan seperti ini.” Lanjutnya terlihat kesal. Sesaat kemudian dia mendekatiku dan memaksaku untuk menerima kotak itu. Lagi.

 

~~~

 

17 April 2007

Aku melihat anak-anak begitu bersemangat melihat pertandingan yang sedang berlangsung di lapangan basket di depanku. Mereka bersorak meneriaki para pemain. Aku tidak begitu memperhatikan mereka karena mataku lebih suka melihat gadis itu.

Dia kini terlihat sedang mengomel karena seorang laki-laki tidak sengaja menubruknya dan membuat cola dalam genggamannya terjatuh. Dia bahkan masih saja mengomel dan sedikit berteriak walaupun namja itu sudah meminta maaf dan mengganti minumannya.

Dia lucu sekali saat sedang marah seperti itu. Entah ekspresi apa yang tidak kusukai darinya. Rasanya tidak ada.

 

~~~

 

17 Agustus 2007

Esok aku akan berangkat ke Inggris. Dan hari terakhir aku bisa melihat wajahnya. Wajah yang tidak akan bisa kulihat beberapa waktu kedepan. Sampai kapan? Entahlah, mungkin sampai ada keajaiban bahwa takdir membuatku berhasil bertahan hidup dan menemuinya. Memintanya untuk menghabiskan sisa hidupnya denganku.

Karena dialah satu-satunya gadis di dunia ini yang membuatku berpikir ulang untuk tetap bertahan hidup dan tidak menyerah pada kematian yang seakan melekat erat pada namaku. Bahkan kedua orang tuaku dan noonaku tidak bisa melakukannya. Hanya dia yang membuatku mempunyai impian. Pada sisa-sisa hariku yang semakin menipis.

Aku sengaja menunggunya di perpustakaan. Setidaknya mengucapkan selamat tinggal padanya adalah hal terakhir yang bisa kulakukan sebelum meninggalkannya.

Aku melirik jam hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ini sudah lima belas menit dan dia belum juga nampak. Apakah terjadi sesuatu dengannya?

 

~~~

 

Gadis itu menahan nafasnya. Mencengkeram kuat buku hitam, seakan menyalurkan rasa yang ditahan-tahannya. Ingatannya kembali saat itu.

 

[Flashback]

Hyemin berusaha keras untuk bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat berat hingga dia perlu berpegangan pada dinding untuk membuatnya sampai di kamar mandi. Wajahnya terlihat pucat dengan mata yang sedikit memerah.

Gwaenchana?” Ibunya menghadang dengan raut dan nada khawatir saat melihat anak gadisnya beberapa kali hampir terjatuh saat menuju meja makan.

Gwaenchanayo, oemma.” Suara Hyemin terdengar sangat serak, nyaris seperti nyanyian kodok di halaman belakang rumahnya.

Gadis itu merasakan sakit pada tenggorokannya saat menjawab ibunya. Dia baru saja merasakan nyeri itu kini semakin terasa untuk sekedar menelan ludah

“Tubuhmu panas sekali, Minnie-ya.” Ibu Hyemin memekik kaget saat telapak tangannya menyentuh kulit anak gadisnya. “Kau istirahat saja di rumah. Aku akan mengurus ijinmu.”

“Gwaenchanayo, oemma. Aku hanya demam.” Elak Hyemin yang membayangkan bahwa beristirahat di rumah berarti harus menelan butiran-butiran pahit yang menyebalkan.

“Sudahlah. Kau jangan keras kepala.”

Setelah usahanya berkilah tak membuahkan hasil, kini Hyemin terbaring di atas tempat tidur yang baru saja ditinggalkannya setengah jam lalu. Entah kenapa, dia merasa bahwa meninggalkan sekolah hari ini terasa berat untuknya. Ada perasaan tidak rela yang begitu mendalam dan itu sangat mengganggunya saat ini.

 

~~~

 

Hyemin beberapa kali melongokkan kepalanya melewati gerbang hitam sekolah. Kakinya tak henti menghentak ke tanah karena kesal. Dia sudah berdiri di depan gerbang sekolah dari setengah jam yang lalu. Dari ratusan siswa bertebaran keluar seperti lebah sampai benar-benar habis tidak bersisa. Tetapi dia belum melihat Kyuhyun keluar sama sekali.

Mungkinkah dia tidak masuk sekolah? Mungkinkah dia sakit lagi? Pertanyaan semacam itu yang kini memenuhi otaknya.

Dia memberanikan diri mendatangi kelas yang sudah kosong. Hanya terlihat beberapa orang disana sedang membereskan bangku-bangku. Seperti selesai untuk dipakai drama. Dia menghampiri seseorang yang paling dekat dengan pintu.

“Sillyehamnida, apakah Kyuhyun sunbae tidak masuk hari ini?”

“Hyemin-ya, apa yang kau lakukan disini?” Jaebum yang melihat gadis itu berdiri di ambang pintu segera menghampirinya dan memberi isyarat untuk anak yang ditanyainya tadi agar meninggalkan mereka berdua.

“Sunbae! Aniyo. Aku kebetulan lewat tempat ini sebelum pulang.”

Jaebum hanya tersenyum melihat jawaban Hyemin. Gadis itu memang payah jika berbohong. Mana mungkin melewati lantai tiga jika ingin pulang?

“Kyuhyun tidak masuk hari ini.”

“Apakah Kyuhyun sunbae sakit?” Hyemin menyerukan pertanyaan tanpa jeda setelah Jaebum menyelesaikan kalimatnya. Dari nada bicaranya juga sangat terlihat bahwa dia khawatir.

Ani. Dia sudah pindah ke Inggris. Kau tidak tahu?”

“Inggris? Dan dia pergi tanpa mengucapkan apapun padaku?” Hyemin mendesis sepanjang perjalanan menuju rumah. Gadis itu masih shock saat Jaebum mengatakan bahwa Kyuhyun meninggalkan Korea tepat saat dia harus terbaring di atas tempat tidurnya karena demam.

Dia berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah sekarang. Terlihat aneh jika terisak di jalanan ramai seperti ini. Pasti orang yang berpapasan dengannya akan menganggapnya gadis yang aneh.

[Flashback End]

 

~~~

“Minnie-ya, hari ini Manajer Kang ingin bertemu denganmu. Membicarakan foto untuk premiere galeri kita minggu depan.” Celutuk Sunri yang segera menarik kursi di depan Hyemin dan menjatuhkan tubuhnya di atasnya. Dengan segera, Hyemin menutup buku hitam itu dan memasukkannya kedalam tas.

“Dimana?”

“Mong Coffee. Meja nomor 7.”

 

~~~

“Yak! Kau mau membohongiku, hah! Aku sudah duduk disini setengah jam dan tidak ada tanda-tanda Manajer Kang akan datang.” Hyemin mengutuk benda putih yang menempel di telinga kanannya, meneriaki seseorang yang terhubung dengannya di seberang sana. Sunri, memang siapa lagi.

Miahne, Manajer Kang tadi menelpon bahwa dia tidak bisa datang karena ada rapat direksi tiba-tiba. Tapi kau tenang saja, orang yang menggatikannya akan segera tiba, mungkin sepuluh menit lagi.”

“Aku akan benar-benar mencekikmu setelah ini!” Setelah memberikan ancaman yang sudah sangat jelas tidak bakal didengarkan oleh temannya, Hyemin memutuskan sambungan telefon kasar.

Jika saja di luar tidak hujan, pasti dia sudah meninggalkan café karena kesal. Dan tidak akan mau melakukan pertemuan seperti ini lagi.

Sillyehamnida, apakah benar anda dari Ghana Art?” Suara merdu yang sedikit serak itu menggantung di udara cukup lama sebelum berhasil menggesek gendang pendengar Hyemin. Dan saat mengangkat kepalanya, gadis itu mematung seperti orang tolol.

 

-to be continued-

3 thoughts on “[FF Freelance] Solitude Autumn (Chapter 1)

  1. Omona… Tahan nafas banget baca.a dan ini bener2 FF berat btuh kemantapan hati saat membaca agar tidak banjir air mata, apa2an itu Kyuhyun bahkan tak pernah bicara dg Hyemi?? Hebat sekali Hyemi begitu mncintai Kyuhyun dg sepenuh hati u/k ukuran anak menengh… #keep writing🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s