Hold Me Tight — 1st Chapter

hold me tight

 

HOLD ME TIGHT

BY

PSEUDONYMOUS

MAIN CAST: 2AM’s Seulong, A Pink’s Naeun, JJ Project’s Jr., Yuki (OC) || SUPPORT CAST: 2AM’s Jinwoon || GENRE: Family & Life || RATING: G || DURATION: Chaptered || DISCLAIMER: Inspired by I Am Sam (2001) & Nobody Knows (2004)

***

Untuk menjadi seorang ayah yang baik, tidak ada sekolahnya”.

***

Hujan deras mengguyur Seoul sore itu. Rintik-rintiknya menimbulkan keramaian pada genting-genting rumah. Naeun saat itu tengah duduk di samping jendela dan memerhatikan bagaimana hujan bekerja dengan kekuatan magisnya, menunjukkan kuasanya. Bagaimana hujan bisa begitu memengaruhi perasaan setiap orang pada saat itu, termasuk dirinya.

Telunjuk Naeun mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarnya. Ia sedang menekan kuat ujung jarinya pada permukaan kaca saat mendengar suara-suara dari arah dapur. Itu suara-suara cangkir dan bibinya yang sedang berdiskusi ringan dengan pamannya, mengeluhkan tentang hujan yang tidak kunjung berhenti.

“..ya, dan bagaimana kita harus mengatasi ketiga anak itu?” Suara berat menimpali; pamannya. “Jangan katakan padaku bahwa kau akan menampung ketiga anak dari almarhum adikmu di rumah ini, Sunye. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah bisa.”

“..sst! Suaramu bisa terdengar, James!” Sunye berbisik, meski pada kenyataannya Naeun masih bisa mendengarnya di antara hujan. “Apakah kau tidak bisa bermurah hati sedikit? Bagaimanapun juga mereka masih keponakanku. Aku harus melakukan sesuatu.”

“Kau memang benar, tapi apakah kau tidak memikirkan mengenai sesuatu yang lebih penting? Anak-anak kita! Terlalu banyak anak-anak di rumah ini yang harus kita awasi. Bayangkanlah!”

Untuk beberapa saat, Naeun pikir ada yang salah dengan pendengarannya setelah itu karena ia tidak mendengar bibinya bersuara. Saat ia menoleh ke belakang untuk memastikan, ia menangkap kedua adiknya sedang terlelap di atas tempat tidur dengan wajah kelelahan. Pemakaman ibu mereka dilaksanakan dua hari yang lalu dan sejak hari itu, Jinyoung dan Yuki menangis tanpa henti. Wajar saja, setiap mereka bersentuhan dengan tempat tidur, mereka lantas tertidur pulas. Dan setelah mengamat-amati wajah kedua adiknya lamat-lamat, suara bibinya akhirnya terdengar.

“Kalau begitu,” suaranya terdengar lebih pelan, “apa yang harus kulakukan?”

“Entahlah. Apa saja,” Pamannya berkata dengan tegas. “Tapi, bukankah kau pernah mengatakan bahwa mantan suami Yeeun masih hidup—ayah mereka? Kenapa tidak serahkan saja pada ayahnya? Aku yakin, ayah mereka akan dengan senang hati menerima anaknya kembali. Bukankah mereka sudah lama tidak bertemu?”

“Aku masih tidak yakin akan saranmu, James.” Sunye mendesah. “Aku tidak begitu memahami konflik macam apa yang pernah dihadapi Yeeun dan mantan suaminya sehingga mereka harus bercerai, jadi aku tidak bisa begitu saja menyerahkan anak-anak itu pada ayah mereka.”

“Ya,” terdengar suara James yang sedang menuangkan kopi pada gelasnya, “tapi, apa kau punya saran yang lebih baik daripada itu? Sekali lagi kuingatkan, Sunye, pentingkan keberadaan anak-anak kita di rumah ini. Mereka punya hak yang jelas di sini. Sementara itu, keponakanmu, mereka..”

Eonnie..”

Naeun tersentak. Yuki menggeliat di atas tempat tidur, mengucek-ucek matanya. “Kau sudah bangun?”

Yuki mengangguk ringan. Matanya tampak bengkak dan merah. “Aku lapar.”

“Hm?”

Yuki merangkak turun dari tempat tidur dan mendekati Naeun di depan jendela. Hujan hampir reda di luar sana. “Apakah tidak ada sesuatu yang bisa dimakan? Aku lapar.”

Naeun merapikan ujung roknya dan berdiri. “Tunggu di sini. Biar kutanyakan pada Bibi.”

“Aku ingin ikut.”

“Jangan, Yuki,” cegat Naeun, takut adiknya akan mendengar ucapan bibi dan paman mereka. “Kau sebaiknya di sini. Jangan terlalu banyak bergerak. Kau pasti masih sangat lelah. Biar aku yang membawakanmu sesuatu ke sini.”

Yuki duduk di tempat Naeun tadi dan mengangguk setuju.

Naeun kemudian bergerak menuju ke dapur dengan hati berdegup kencang. Saat ia muncul di depan pintu, suasana dapur terasa begitu hening. Bibi dan pamannya meliriknya dengan hati-hati dan menampilkan wajah ramah terbaik mereka di depan gadis itu.

“Hai, Sayang,” Sunye tersenyum padanya. “Bagaimana perasaanmu? Merasa lebih baik?”

Naeun memaksa kepalanya mengangguk. Memangnya apa lagi yang bisa dikatakannya? Ia selalu tidak punya pilihan ketika berhadapan dengan bibinya.

“Ada apa?” lanjut Sunye. “Apa kau butuh sesuatu?”

“Yuki..” Naeun berkata dengan terbata, kemudian melirik James yang duduk dengan kaku di seberang meja. “..dia lapar, jadi..”

“Ah,” Sunye mengangguk cepat. “Tunggu sebentar.” Wanita paruh baya itu turun dari kursi tinggi di dapur dan memutari meja menuju kulkas. “Kurasa masih ada Lasagna sisa sarapan tadi pagi. Biar kupanaskan sebentar dengan Microwave.” Sunye membungkuk ke dalam kulkas dan bertanya, “Bagaimana dengan kau dan Jinyoung? Apa kalian ingin makan sesuatu? Biar kubuatkan sesuatu untuk kalian.”

Naeun mendelik pada James dengan hati-hati dan menggeleng. “Tidak usah. Aku dan Jinyoung baik-baik saja. Hanya Yuki yang lapar.”

“Hm.” Sunye telah berdiri di depan pantry untuk menyalakan Microwave. “Baiklah. Tapi, jangan sungkan untuk mengatakannya jika kau butuh sesuatu, oke?”

Naeun tidak mengatakan apa-apa saat melihat James melotot pada Sunye. Dan gadis itu cukup tahu diri untuk tidak mengiyakan, melainkan segera beranjak dari dapur tanpa sebuah jawaban.

***

Selepas jam makan malam, Naeun segera menyingkirkan kedua adiknya ke dalam kamar dan mengurung diri di dalam. Yuki tampak tidak keberatan dan duduk dengan manis di tengah tempat tidur sambil memainkan lagu rakyat Inggris, London Bridge, pada mainan piano mininya. Di kubu lain, ada Jinyoung, remaja laki-laki yang sedang mengalami pubertas, masih tidak bisa mendewasakan diri dengan duduk tenang di sudut tempat tidur. Wajahnya terlihat muram, karena tidak tahan mendengar suara-suara sepupunya yang bermain game di ruang televisi, sementara ia tidak bisa ikut bergabung.

“Demi Tuhan,” Jinyoung mengerang pada Naeun, “aku bosan. Tidak bisakah aku ikut keluar dan bermain bersama mereka?”

Naeun yang sedang membaca buku di dekat lampu tidur, mendongak. “Tidak,” jawabnya singkat.

“Kenapa?”

Yuki berhenti memainkan tuts pianonya dan menatap kedua kakaknya yang sedang bersitegang.

“Pokoknya jawabannya ‘tidak’,” tegas Naeun.

“Setidaknya kau harus memberiku sebuah alasan!” kata Jinyoung bersikeras.

Naeun tidak menjawab dan kebisuannya membuat Jinyoung semakin frustasi. “Brengsek!” umpat Jinyoung.

Naeun menatap Jinyoung tajam dari balik bukunya. “Apa katamu barusan? Darimana kau belajar mengumpat, Anak Nakal?”

Jinyoung membuang muka. “Bukan urusanmu!”

“Jaga ucapanmu, Jinyoung!” Naeun memperingatinya.

“Berhenti mengaturku. Kau bukan Ibu!”

Naeun yang tersinggung dan tersulut amarahnya, menghampiri Jinyoung dengan cepat dan hendak melayangkan buku yang dibacanya ke arah Jinyoung. Namun, sebelum hal itu terjadi, Yuki buru-buru berdiri di antara keduanya dan melerai.

Eonnie, Oppa, hentikan!” Yuki menggenggam tangan Naeun dan memohon dengan suara seperti orang yang hendak menangis, “Aku mohon, hentikan.”

Naeun menatap mata Jinyoung yang menyala oleh marah, kemudian meneduhkan diri pada sepasang mata mungil Yuki yang menenangkan. Gadis itu menurunkan lengannya dan kembali berjalan mundur pada tempatnya, ketika pintu kamar tiba-tiba diketuk.

“Naeun, Jinyoung, Yuki,” itu bibi mereka, “aku mendengar suara. Apakah kalian bertiga baik-baik saja? Bisa pintunya dibuka?”

Naeun menoleh pada kedua adiknya dan meletakkan telunjuknya di atas bibir. Jangan berisik. “Ya, tunggu sebentar, Bibi,” sahutnya pada Sunye.

Yuki telah menghapus air matanya dan Jinyoung duduk dengan wajah keras saat Naeun membuka pintu kamar. Sunye muncul di depan pintu dengan wajah cemas dan mengintip ke dalam kamar.

“Kalian baik-baik saja?”

Naeun mengangkat bahu dan dengan piawai, menampilkan senyum innoncent-nya. “Kami baik-baik saja, Bibi.”

“Benarkah?” Sunye tampak tidak yakin dan mencoba mencari sisa-sisa kejujuran pada sosok Yuki. Namun, tampaknya gadis cilik itu telah belajar banyak dari kakak perempuannya mengenai perbuatan ‘meniru’, sehingga kini sikapnya tampak sama tenangnya, seolah tidak terjadi apa-apa barusan. “Aku pikir kalian bertengkar,” lanjut Sunye.

Naeun mengangkat bahu sekali lagi, dan memandang ke sekitar dengan wajah pokernya. “Kami baik-baik saja,” ulangnya, berusaha meyakinkan.

“Hm, baiklah.” Sunye mengangguk dengan tidak berdaya. “Apakah kau sibuk sekarang, Naeun?”

“Tidak. Ada apa?”

“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu,” kata Sunye. Ia melirik kedua keponakannya yang lain di dalam kamar, lalu berbisik pada Naeun, “tapi, mungkin kita harus bicara di teras saja. Bagaimana menurutmu?”

“Ya, tentu saja.”

“Baiklah. Aku akan ke dapur untuk menyiapkan dua cangkir teh untuk kita. Kau bisa ke teras duluan, aku akan menyusulmu nanti.”

“Ya.”

Naeun mengawasi punggung Sunye yang menghilang di balik dinding dapur, kemudian menoleh pada kedua adiknya. “Selama aku bicara dengan Bibi, tolong jangan keluar dari kamar. Peringatan ini khususnya untukmu, Jinyoung. Kau dengar itu, kan?”

Jinyoung lagi-lagi membuang muka dan tidak menjawab.

***

Bulan tidak tampak malam itu, tersembunyi di balik awan-awan mendung yang menggantung tinggi pada langit. Naeun telah duduk di teras, pada kursi rotan sembari meremas-remas tangannya yang dijepit di antara paha. Ia cemas. Apapun yang hendak dikatakan bibinya, pastilah berurusan mengenai nasib dirinya dan adik-adiknya di kemudian hari yang masih juga belum memiliki kepastian.

Naeun sedang memikirkan dan menduga-duga apa yang hendak dikatakan bibinya saat Sunye akhirnya benar-benar masuk ke dalam teras dengan dua cangkir teh di atas nampan. Segalanya berawal dengan baik, mereka mengobrol sekilas mengenai cuaca buruk akhir-akhir ini dan menyesap teh bersama.

“Jadi, apa yang membuat Bibi ingin bicara denganku?” desak Naeun mulai tidak sabar. Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi demi mendengar keluhan-keluhan tidak penting dari bibinya mengenai jemuran yang tidak kunjung kering.

“Ah, soal itu,” Sunye meletakkan cangkir pada tatakannya dan menepuk pelan pahanya, “ini tentang kau dan adik-adikmu, Naeun.”

Jantung Naeun mulai berpacu lagi. “Ada apa?”

Sunye terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, “Aku membicarakan soal hak asuh kalian dengan suamiku semalam. Sejak ibu kalian meninggal, hak asuh kalian akan diambil alih oleh ayah kalian. Kau tahu itu, kan?”

Naeun mengangguk.

“Dan, maafkan aku, Naeun,” kata Sunye sedih, “aku tahu, Yeeun adalah adikku. Aku benar-benar sayang padanya. Bukan hanya kalian bertiga yang terpukul saat mendengar berita kematiannya, namun demikian dengan aku. Aku merasa sedih, bahwa kalian bertiga—yang masih sangat muda—harus kehilangan ibu kalian dan hidup seperti ini. Tapi..”

Sunye berhenti. Naeun melihat setetes air mata mengalir dari mata bibinya. “..aku tidak punya pilihan,” lanjut Sunye terisak. “Suami dan anak-anakku juga butuh kehidupan. Kehadiran kalian.. astaga,” Sunye mendongak ke langit-langit teras dan bergumam seorang diri, “aku benci harus mengatakan ini. Aku merasa sangat jahat. Maafkan aku.”

Naeun tersenyum maklum dan mengulurkan tangan untuk mengusap punggung tangan Sunye, menghargai kejujuran wanita itu. “Aku mengerti, Bibi. Aku mengerti.”

“Maafkan aku, Naeun.” Tangis Sunye kini pecah. Ia mengulurkan tangan untuk memeluk Naeun. “Jika saja aku bisa melakukan sesuatu, pasti aku akan menolong kalian.”

Naeun mencium wangi tubuh Sunye dan wangi tubuh bibinya itu mengingatkannya pada wangi tubuh ibunya. Hangat dan memabukkan.

“..tapi,” Sunye melepas pelukannya dan melanjutkan dengan suara tersendat, “satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk kalian adalah mengantar kalian pada ayah kalian.”

Mendengar kata ‘ayah’, Naeun tiba-tiba saja ingin tertawa, merasa seolah kata-kata itu merupakan sebuah candaan terbesar dalam hidupnya. Sunye menggenggam tangan Naeun saat itu dan menatapnya lekat-lekat.

“Apakah kalian bersedia untuk bertemu dengan ayah kalian?” tanyanya.

Pertanyaan itu menohok perasaan Naeun. “Entahlah,” sahutnya dingin. “Dia yang pergi meninggalkan kami. Seharusnya pertanyaan itu ditujukan kepadanya, bukan kepada kami.”

Sunye menyentuh pipinya yang lembab karena air mata dan berkata, “Apakah kau tahu, mengapa pada saat itu ayah dan ibumu bercerai? Mengapa mereka berpisah?”

“Tidak,” Naeun mengangkat bahu, tidak tahu-menahu. “Aku masih berumur sepuluh tahun saat itu. Yuki bahkan belum lahir saat ayahku meninggalkan rumah. Ia pergi begitu saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Yuki akan bereaksi saat bertemu seorang pria yang seharusnya ada di sampingnya saat ia lahir.”

“Bagaimanapun juga, dia tetap ayah kalian,” Sunye menegaskan, mencoba menghancurkan kerasnya hati Naeun. “Kau tidak tahu mengapa ia pergi. Artinya ada sesuatu yang belum jelas di antara kalian, namun hal itu seharusnya tidak membuatmu mengambil kesimpulan sendiri. Kalian harus bertemu, dan menyelesaikan masalah ini.”

Naeun menggeleng kesal, karena bibinya yang juga tidak mengerti. “Aku tidak tahu, apakah Bibi mengatakan ini dengan bermaksud menyelesaikan masalah antara aku dan ayahku atau memang karena agar aku dan adik-adikku bisa segera pergi dari sini.”

“Astaga, Naeun,” Sunye menatapnya kecewa, “aku tidak pernah bermaksud seperti itu.”

Naeun mengedikkan bahu, berdiri, dan sebelum pergi, ia berkata, “Ya, Bibi tidak usah khawatir. Terlepas dari kedua dugaanku tadi, mau tidak mau, kami memang juga akan pergi dari sini.”

***

Saat Naeun kembali ke dalam rumah, ia tidak lagi melihat sepupunya bermain di depan televisi. James, pamannya, justru mendudukki singgasana itu dengan menonton berita. Ia langsung masuk ke dalam kamar untuk memastikan keadaan adiknya dan menemui Jinyoung bersembunyi di dalam selimut. Yuki duduk di pinggir ranjang dengan wajah sedih.

“Ada apa?” tanya Naeun.

“Aku sudah mencoba melarang Jinyoung Oppa untuk keluar, tapi dia bersikeras,” jelas Yuki dengan mata berkaca-kaca.

Naeun menutup pintu kamar dan mendekat ke ranjang. Ia menyentuh bagian tubuh Jinyoung yang merupakan lengan pemuda itu, namun Jinyoung menepisnya dengan kasar dari baliknya.

“Jangan sentuh aku!” isaknya. Jinyoung menangis dan Naeun semakin tidak mengerti.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Yuki?” Naeun bertanya pada gadis cilik itu.

Yuki mengusap selimut dan menjelaskan dengan suara pelan, “Jinyoung Oppa ingin bermain game juga, tapi mereka tidak memberinya kesempatan. Aku mengintip dari balik pintu, melihat Paman datang dan mengatakan sesuatu padanya di ruang televisi—tapi aku tidak dengar apa yang dikatakan Paman. Lalu, tahu-tahu Jinyoung Oppa masuk ke kamar dan menangis.”

Naeun mendesah panjang. Hatinya bergetar saat mendengar adik laki-lakinya menangis di balik selimut. Getaran itu kemudian semakin meyakinkannya, bahwa ia dan adik-adiknya harus segera pergi dari situasi ini, meski mereka harus dihadapkan dengan situasi rumit lainnya; ayah mereka.

***

Matahari masih enggan menampakkan diri pagi itu. Lampu-lampu jalan masih menyala keemasan di atas tong-tong sampah di pinggir jalan. Burung-burung mungil bertengger pada kabel-kabel listrik dan bercicit riang. Seulong telah terjaga lebih awal pagi buta itu, untuk mengantarkan sebundel koran ke rumah-rumah pelanggan sebelum pagi benar-benar dimulai. Seusai menggosok gigi dan mencuci muka, Seulong turun ke luar apartemen dengan kemeja biru lusuh favoritnya dan cardigan abu-abu yang bagian ketiaknya hampir robek. Ia menuju ke samping apartemen dengan sebundel koran di tangannya, untuk mengambil sepeda tuanya yang dirantai pada keran air.

Pria paruh baya itu mengayuh sepeda ke jalanan, menantang udara dingin yang membuatnya bersin-bersin. Sesekali, ia akan mengelap hidungnya yang basah dengan lengan cardigannya, dan kembali memacu kayuh sepedanya menuju rumah pelanggan.

Sebelum memulai pekerjaannya sebagai seorang loper koran yang baik, Seulong memiliki lemparan yang sangat buruk. Tidak jarang, koran yang dilemparnya akan berbelok ke semak-semak, atau sialnya, mengenai anjing-anjing penjaga rumah yang sedang tertidur. Tetapi, pengalaman setelah hampir beberapa tahun ini, Seulong akhirnya dapat mengatur keseimbangannya di atas sepeda, sekaligus menghitung kekuatan yang harus dikerahkan oleh kedua lengannya—sementara yang satu mengatur arah kemudi, yang satu melempar koran melewati pagar rumah pelanggan. Dan pada akhirnya, tidak ada lagi pengalaman-pengalaman menakutkan dengan harus dikejar-kejar anjing.

Matahari telah bersinar terang di ufuk Timur saat koran terakhir telah diantar pada rumah di ujung blok. Seulong kembali ke apartemennya, mengikat kembali sepedanya dengan rantai pada keran air, dan berjalan masuk ke dalam apartemennya. Pria itu menghampiri bilik kecil di samping tangga, berniat mengambil surat hari itu dari lokernya. Tangannya terulur ke dalam loker yang berudara dingin dan lembab, kemudian menarik keluar dua buah surat.

Satu surat pertama adalah amplop berwarna putih dengan tulisan yang diketik dengan mesin. Karena telah begitu familiar, tanpa membaca isi suratnya terlebih dahulu, Seulong telah mengetahui bahwa surat itu adalah surat berisi tagihan listrik dan air yang harus ia lunasi bulan ini. Seulong mengangguk-angguk samar pada surat pertama, lalu beralih pada surat kedua. Amplopnya berwarna biru tua, warna favoritnya. Ada tulisan tangan seseorang di sudut kanan bawah surat, yang dari bentuknya, pastilah tulisan tangan milik seorang wanita.

“Bu, cepat sedikit!”

Seulong mendongak ke atas tangga dan melihat seorang anak laki-laki berdiri di anak tangga, berseru ke atas.

“Ya, tunggu sebentar, Sayang.”

Seulong mengawasi anak tetangganya, seorang bocah laki-laki berpakaian seragam sekolah dan mengenakan tas dengan gambar pahlawan favoritnya, bergerak turun dengan lincah pada anak-anak tangga. Setelah itu, sang Ibu menyusul—seorang wanita paruh baya dengan tubuh kurus dan pipi tirus, rambut digelung dengan asal menggunakan tusuk konde, dan memeluk dompet pada lengannya—turun ke lantai bawah.

“Selamat pagi, Tuan Im,” wanita itu menyapanya ramah.

Seulong mengangguk dan tersenyum. “Selamat pagi. Mengantar anak sekolah?”

Wanita itu mengangkat bahu dan terkekeh. “Begitulah. Anakku agak manja dan merepotkan.”

“Namanya juga anak-anak,” Seulong menimpali sambil tertawa pelan.

Wanita itu tampak tidak yakin. “Kau beruntung tidak harus berhadapan dengan anak-anak. Mereka manja, nakal, dan bisa sangat kejam, Tuan Im.”

“Oh, yah?” Seulong tersenyum dengan sudut-sudut bibir yang kaku.

“Bu! Apa yang Ibu lakukan di situ?” Anak kecil itu muncul lagi dengan wajah sebal. “Busnya hampir tiba. Kita harus bergegas!”

Wanita itu mengangguk pada anaknya, kemudian berkata pada Seulong, “Permisi, Tuan Im. Aku masih harus mengantar anakku. Semoga harimu menyenangkan!”

Seulong melambai ringan pada wanita itu dan melepas perpisahan mereka dengan senyum yang dipaksakan. Pria itu mengintip ke luar apartemen dan melihat tas bergambar Superman itu bergerak naik-turun ketika anak kecil tadi melompat-lompat riang menuju halte bus. Walau tidak mengatakan apapun tadi, wanita itu tidak memahami perasaan Seulong, betapa inginnya pria itu untuk memiliki seorang anak.

Seulong kembali menatap amplop biru tua yang diterimanya dengan mata bertanya-tanya. Waktunya untuk bertemu dengan Jinwoon.

***

Jinwoon duduk di kursi makan di apartemen Seulong. Matanya bergerak lincah, membaca deretan-deretan kalimat yang ditulis tangan pada surat. Mulutnya yang sedang mengulum tusuk gigi, sesekali bergumam ringan. Dan setelah membaca isi surat yang ditulis Sunye untuk yang ke sekian kalinya, Jinwoon menilik Seulong yang tengah duduk di pinggir tempat tidur tanpa suara.

“Kau akan menjadi seorang Ayah,” kata Jinwoon. “Seorang Ayah dari tiga anak sekaligus.” Jinwoon mengamat-amati surat itu sekali lagi dan memandangi Seulong dengan wajah sumringah. “Kedengarannya hebat, bukan?”

Seulong yang telah berdiri di ambang pintu, mengawasi Jinwoon dengan sorot dingin.

“Ada apa, Hyung? Kenapa wajahmu kusut begitu?” tanya Jinwoon. “Kau seharusnya bahagia. Kau akan mendapatkan kembali hak asuh anak-anakmu.”

Seulong menyeberangi ruang televisi menuju beranda untuk mengangkat jemuran. Mungkin benar, ia seharusnya bahagia bisa bertemu dengan anak-anaknya lagi. Namun, di sisi lain, ada bagian kecil dari hatinya yang sedang muram, menangisi kematian mantan istrinya yang telat diketahuinya. Ia tidak sanggup berbahagia di atas kematian mantan istrinya, apalagi mengingat satu masalah yang pernah mereka hadapi di masa silam, ketika harus bersitegang soal hak asuh anak.

“Anak-anakmu akan datang besok,” Jinwoon berkata lagi. “Apakah kau tidak ingin melakukan sesuatu untuk menyambut kedatangan mereka?”

Seulong membawa setumpuk pakaian kering di pelukannya ke dalam rumah dan berdiri dengan ragu-ragu di depan Jinwoon. “Menurutmu, aku harus melakukannya?”

“Ya Tuhan, Hyung!” Jinwoon menepuk dahinya dan tertawa. “Aku maklum atas ketidakpekaanmu. Wajar saja. Kau kehilangan posisimu sebagai seorang Ayah dalam jangka waktu lama, hingga membuatmu lupa bagaimana harusnya bertindak sebagai seorang Ayah.”

“Jangan bertele-tele!” Seulong berujar dengan perasaan tersinggung. “Katakan saja, apa yang harus kulakukan untuk menyambut kedatangan mereka?”

Jinwoon melipat kembali suratnya ke dalam amplop dan meludahkan tusuk giginya ke tong sampah di samping kaki meja. “Pertama, kau harus berpakaian bagus untuk menyambut mereka. Ingat, kesan pertama itu sangat penting.”

“Apa maksudmu?” Seulong meletakkan jemurannya di atas keranjang pada rak televisi dan menatap Jinwoon bingung. “Kesan pertama? Aku akan bertemu dengan anak-anakku, bukan sedang ingin pergi berkencan.”

“Hei, hei,” Jinwoon buru-buru meluruskan, “tapi, tetap saja. Pertemuan kalian adalah pertemuan pertama setelah lama berpisah. Keadaan akan menjadi sangat canggung. Untuk itu, kesan pertama yang baik sangat dibutuhkan.”

“Hm.” Seulong memandangi dirinya dari bawah ke atas dan mendelik pada Jinwoon. “Bagaimana dengan penampilanku? Apakah terlihat rapi?”

“Yang benar saja!” Jinwoon tertawa mencemooh. “Kemeja biru lusuh itu sudah tidak pantas lagi kau pakai. Dan, astaga, cardigan itu. Apa kau tahu bahwa bagian ketiaknya sudah robek?”

Seulong menyentuh bagian yang dimaksud Jinwoon dan membuang muka dengan malu-malu.

“Dan, rambutmu, Hyung!”

Seulong kini menyentuh rambutnya dengan khawatir. “Ada apa? Rambutku baik-baik saja, kan?”

“Apakah kau tidak pernah mengenal kata ‘sisir’? Kau harus bersisir untuk tampak rapi, Hyung.”

“Hei, jangan salah paham!” Seulong berseru untuk membela diri. “Aku bukannya tidak ingin bersisir. Tapi, percuma saja aku bersisir. Tatanan rambutku akan kacau setiap aku pergi mengayuh sepeda dan mengantarkan koran.”

“Ya, tapi kau sedang tidak ingin mengantarkan koran sekarang. Kau akan bertemu dengan anak-anakmu dan mereka pantas menemuimu dalam versi yang menyenangkan. Jangan membuat mereka kecewa.”

“Kalau begitu,” Seulong mulai kehilangan kesabaran, “katakan saja padaku, Tuan Serba Tahu, bagaimana aku harus berpakaian?”

“Hm..” Jinwoon mengusap dagunya dan melirik pada tumpukan pakaian di atas keranjang. Tidak ada pakaian yang bagus, batinnya. “Aku rasa aku masih punya beberapa pakaian yang bagus di apartemenku. Tunggu di sini sebentar. Biar kuambilkan untukmu.”

***

Yuki telah duduk manis di kursi pinggir jendela dan memerhatikan Naeun sedang mengisi koper-koper dengan pakaian mereka bertiga. Sementara itu, Jinyoung yang tidak juga ingin bicara sejak kejadian dua hari yang lalu, masih memasang tampang kesal itu di atas tempat tidur.

“Ke mana sebenarnya kita akan pergi?” tanya Yuki pada akhirnya.

“Ya, ke mana kita akan pergi?” Jinyoung menimpali dengan suara sebal.

Tanpa menatap kedua adiknya dan terus merapikan baju-baju ke dalam koper, Naeun menjawab, “Ke rumah Ayah.”

“Ayah?” Yuki menautkan alis. Sejak ia hadir di dunia ini, menyebut kata ‘ayah’ saja sudah membuat lidahnya terasa aneh. Seperti menyebutkan kosakata dari bahasa asing. “Kenapa tidak tinggal di sini saja? Di sini menyenangkan.”

“Yang benar saja!” Jinyoung merespon dengan senyum sinis.

“Kita tidak bisa tinggal di sini, Yuki,” Naeun menjelaskan dengan sabar. “Bibi Sunye juga punya kehidupan sendiri, begitu pula dengan kita. Kita tidak bisa mengganggu kehidupan keluarga mereka. Kita harus bisa hidup sendiri, meski itu bersama dengan Ayah.”

“Kau benar.” Jinyoung menambahkan. “Meski dengan Ayah. Di manapun bisa lebih baik daripada tinggal di sini.”

“Apakah kalian berdua pernah bertemu dengan Ayah?” tanya Yuki, memandangi kedua kakaknya secara bergantian. “Bagaimana rupanya?”

Naeun dan Jinyoung bertukar pandang, dan tidak langsung menjawab.

“Aku akan keluar sebentar,” Naeun berkata pelan, “mengambil sisa pakaian kita yang ada pada tali jemur. Jinyoung, kau jelaskanlah pada Yuki.”

“Apa?!”

Jinyoung terlihat tidak berdaya ketika ia ditinggal sendiri bersama Yuki di kamar, sementara Naeun melarikan diri tanpa penjelasan.  Pemuda itu mencuri pandang ke arah Yuki yang kini menatapnya penuh harap.

“Jangan memandangiku seperti itu!”

“Kalau begitu, katakan padaku,” kata Yuki. “Bagaimana rupa Ayah?”

“Aku tidak yakin,” Jinyoung akhirnya menjawab. “Aku terakhir kali bertemu dengannya saat masih berumur tujuh tahun. Aku tidak bisa mengingat banyak soal Ayah.”

“Kenapa dia pergi meninggalkan kita saat itu?” lanjut Yuki.

“Mana aku tahu! Kau tanyakan saja pada Ayah!”

“Lalu, kenapa kalian tidak mencegatnya pergi?”

“Kenapa kau banyak tanya sekali, sih?!”

Jinyoung dan Yuki dengan serentak menoleh ke pintu dan menutup mulut saat mendengar suara langkah kaki. Lalu, bibi mereka muncul di depan pintu dengan wajah pucat.

“Halo, Anak-Anak.” Sunye berusaha tersenyum pada kedua keponakannya. “Bagaimana keadaan kalian? Apakah semuanya sudah siap?”

Jinyoung mengangguk dan menyahut, “Hampir.”

“Di mana Naeun?”

“Pergi mengambil pakaian kami yang dijemur,” Yuki menjawab.

“Hm, baiklah.” Sunye mengangguk pada Yuki dan memerhatikan gadis cilik itu menatapnya lekat. “Ada yang ingin kau katakan padaku, Sayang?”

Jinyoung mendelik curiga pada Yuki. Jangan bilang ia akan menanyakan soal Ayah.

Yuki mengerjap-ngerjap sebentar, dan pada akhirnya menggeleng. “Tidak ada.”

Jinyoung bernapas lega setelahnya.

Sunye menghampiri Yuki dan bersimpuh di hadapan gadis cilik itu. “Yuki,” tangannya menggenggam tangan mungil Yuki, “setiap kali aku menatap matamu, aku seperti melihat mata ibumu. Kau begitu mirip dengan ibumu. Penuh kepolosan dan kasih sayang. Begitu kau pergi dari rumah ini, aku pasti akan sangat merindukanmu.”

Yuki tersenyum bangga pada Sunye. “Aku juga akan merindukan Bibi.”

Sunye kemudian menengok pada Jinyoung di belakangnya. “Jinyoung, Bibi ingin minta maaf atas ucapan Pamanmu dua hari yang lalu. Jika Bibi tahu ia mengatakan sesuatu yang buruk padamu malam itu, Bibi pasti akan langsung menegurnya.”

Jinyoung tidak menjawab dan enggan menatap bibinya. Luka itu masih menganga di dalam hatinya. Ucapan James yang mengatakan bahwa Jinyoung sama tidak tahu dirinya dengan sang Ayah, membuat Jinyoung begitu merasa terhina. Bukan hanya karena ia dikatakan sebagai orang tidak tahu diri, juga karena disama-samakan dengan sosok ayahnya yang begitu ia benci.

Tidak berselang lama kemudian, Naeun akhirnya kembali ke dalam kamar dengan membawa beberapa lembar pakaian di lengannya. Ia agak terkejut saat melihat bibinya berada di dalam kamar dan sedang memegang Yuki.

“Naeun..” Sunye memanggil gadis itu, seolah itu akan menjadi terakhir kali untuknya.

Naeun berjalan menuju koper dan segera melesakkan pakaian-pakaian terakhir mereka dengan asal ke dalamnya. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini. “Kami sudah selesai,” potong Naeun sebelum bibinya sempat mengucapkan salam perpisahan. “Ayo, kita berangkat. Aku tidak mau merepotkan Paman untuk menunggu kita lebih lama di mobil.”

Jinyoung turun dari tempat tidur kemudian membantu Naeun membawa koper. Yuki bergerak dari kursi, dan melepas tangannya dari Sunye untuk menyusul kedua kakaknya ke luar kamar. Sementara itu, Sunye berdiri dengan perasaan bersalah di tengah-tengah ruangan, mengucapkan ribuan maaf pada almarhum adiknya di dalam hati.

***

Seulong berdiri di depan cermin tinggi pada kamar Jinwoon. Ia memandangi dirinya di dalam cermin dan tampak ragu.

“Apakah aku terlihat bagus dengan pakaian ini?”

“Tentu saja.” Jinwoon menyahut dari kamar mandi. “Kau terlihat tampan.”

Seulong tersenyum tipis mendengar pujian yang dilontarkan Jinwoon. Mungkin pemuda urakan itu benar, dirinya terlihat jauh lebih baik dengan kemeja putih itu. Rambutnya juga telah diminyakki dan disisir klimis. Seulong merasa seperti sedang melihat aktor-aktor tampan yang ada di televisi, hendak menghadiri acara penghargaan dan berdiri dengan rambut mengilap di depan sorot ratusan kamera. Meski dengan konteks yang berbeda, Seulong merasa ketiga anaknya akan sama pentingnya dengan acara penghargaan yang ada di televisi. Ia harus terlihat memesona di depan ketiga anaknya.

“Bagaimana?” Jinwoon keluar dari kamar mandi seraya mengancing kembali jeans-nya. “Apa kau sudah siap?”

“Entahlah.” Seulong berbalik pada Jinwoon. “Apakah aku sudah terlihat seperti seorang Ayah?”

“Tentu saja. Kau terlihat mengagumkan.”

Seulong tersipu-sipu malu. “Terimakasih.”

Jinwoon mendorong Seulong ke pinggir untuk mengambil alih posisi di depan cermin, lalu ia memerhatikan dirinya sendiri. Ia menyisir rambut ikalnya dengan jemarinya yang panjang dan tersenyum pada bayangannya sendiri.

“Baiklah,” Jinwoon menepuk tangannya, “menurut bekas kakak iparmu, dia akan mengantar anak-anakmu ke stasiun kereta api pada pukul sepuluh pagi. Butuh satu jam untuk bisa sampai ke sini. Jadi,” Jinwoon memindai arlojinya, “seharusnya mereka akan tiba sekitar sepuluh menit lagi. Sebaiknya kita bergegas sekarang. Terlambat bukanlah ide yang bagus.”

“Ya, kurasa begitu.” Seulong menepuk bokongnya dan berkata, “Aku akan melepas rantai sepedaku dulu.”

“Hei, hei,” Jinwoon mencegatnya di depan pintu. “Apa katamu, Hyung? Melepas rantai sepeda? Yang benar saja. Kita tidak akan naik sepeda ke stasiun.”

“Lalu, kau ingin kita naik apa?”

“Memangnya kau akan membawa pulang ketiga anakmu sekaligus dengan sepeda? Tentu saja kita akan pergi dengan taksi.”

Terdengar jeda yang begitu panjang.

“Aku tidak punya cukup uang untuk membayar tarif taksi,” aku Seulong.

“Tidak perlu khawatir soal itu,” Jinwoon terkekeh. “Biar aku yang membayarnya, tapi bukankah kau pernah mengatakan bahwa anak gadis tertuamu kini seharusnya sudah berumur tujuh belas tahun? Bagaimana jika ia menjadi pacarku? Setelah itu, kau tidak usah mengganti uangku.”

Seulong menyorot Jinwoon dengan sinis, lalu menabrak tubuh Jinwoon dengan kasar untuk keluar dari kamar pemuda itu. “Aku akan naik sepeda saja.”

“Hei, hei!” Jinwoon mengejar Seulong dan menarik lengan pria itu. “Aku hanya bercanda. Aku hanya bercanda.”

Seulong menyisihkan lengannya dari genggaman Jinwoon dan mendelik pada pemuda itu. “Berhentilah bermain-main, Jinwoon.”

“Oke, oke,” Jinwoon tertawa dan menjauh. “Jangan serius begitu, Hyung. Aku janji tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Sekarang, ayo, berangkat. Jangan sampai membuat anak-anakmu menunggu.”

Keduanya kemudian turun ke bawah apartemen untuk menumpangi sebuah taksi. Sepanjang perjalanan menuju stasiun kereta, Jinwoon mengamati Seulong yang tak henti-hentinya bergumam seorang diri. Tangan Seulong bergerak gelisah di antara pahanya—salah satu kebiasaan yang dilakukannya saat sedang merasa cemas, sementara matanya memandang ke luar jendela, berharap menemukan sesuatu dengan melihat gedung-gedung dan rumah-rumah yang melintas dengan cepat dalam pandangannya.

“Hai, Anak-Anak!” Seulong bergumam lagi, membayangkan apa yang harus diucapkan kepada ketiga anaknya saat mereka bertemu. “Ini aku, Ayah kalian. Apa kabar kalian? Bagaimana dengan sekolah?” Seulong diam sejenak, kemudian menggeleng frustasi. “Astaga, tadi itu payah sekali.”

Hyung,” Jinwoon menepuk tempurung lutut Seulong, “jangan terlalu cemas dengan apa yang harus kau katakan pada mereka. Biarkan saja semuanya berlangsung dengan apa adanya. Jika kau merencanakannya, semuanya akan terlihat kaku.”

“Menurutmu begitu?”

“Tentu saja. Pokoknya jangan terlalu dipikirkan, oke? Kau akan baik-baik saja,” ujar Jinwoon menenangkan.

Seulong tidak punya pilihan selain mengangguk dengan ragu.

***

Terdengar pengumuman dari pengeras-pengeras suara yang menyampaikan kepada seluruh penumpang kereta api, bahwa sebentar lagi kereta yang mereka tumpangi akan tiba dalam lima menit lagi di stasiun Incheon. Yuki yang duduk di dekat jendela, mencondongkan tubuh dengan penasaran ke arah luar jendela untuk melihat ke depan sana. Ada bunyi dug, dug, dug, yang bersuara kencang di dalam dada Yuki, yang membuatnya begitu tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang Ayah. Jika kedua kakaknya tidak mau bicara sama sekali tentang ayah mereka, maka Yuki harus menemuinya sendiri untuk mendapatkan jawaban mengenai rupa ayah mereka.

“Sebentar lagi kita akan sampai!” seru Yuki pada kedua kakaknya.

Naeun yang sedang membaca buku hanya mengangkat wajah tanpa berkomentar, sementara Jinyoung mendengus kesal karena merasa bosan.

Begitu kereta berhenti, Yuki melompat dari kursi dan memaksa Jinyoung, yang duduk bersamanya untuk segera menyingkir agar ia bisa keluar secepatnya. Naeun menurunkan koper-koper dari rak di atas kepala mereka, dibantu oleh Jinyoung yang terus mengeluh. Yuki berlari duluan keluar dari kereta, sebelum sempat menunggu kedua kakaknya selesai menurunkan koper.

Stasiun Incheon tampak begitu ramai dengan para pekerja kantoran yang berjalan mondar-mandir di sekitarnya. Yuki menjinjit di antara mereka, mencari-cari sosok yang ia cari, meski tanpa petunjuk sama sekali. Sementara itu, Naeun dan Jinyoung akhirnya menyusul di belakang adik bungsu mereka.

Yuki mendongak pada Naeun dan bertanya, “Eonnie, apakah kau melihat Ayah?”

Jinyoung memicing di antara keramaian itu. “Noona, apa kau yakin Ayah akan menjemput kita?”

“Tidak,” sahut Naeun, “tapi, menurut pengakuan Bibi Sunye, Ayah sudah menyatakan persetujuannya untuk menerima dan menjemput kita di stasiun. Dia seharusnya berada di antara orang-orang ini.”

“Apa kau masih ingat bagaimana wajahnya?” lanjut Yuki sambil menarik-narik kaki baju Naeun.

Naeun memandangi sekitarnya dan mencoba mengingat-ingat. Kejadian itu sudah lama sekali, saat terakhir kali ia melihat ayahnya. Saat itu, tengah malam dan ia mendengar ayah dan ibunya berdebat hebat di dapur. Ketika Naeun Kecil mengintip ke dapur, ia bisa melihat lampu dapur menyorot wajah ayahnya yang merah karena amarah. Wajah yang penuh dengan kelelahan, kebencian, dan kekecewaan, meski Naeun tidak tahu apa yang menyebabkan semua itu.

“Semoga saja aku masih ingat,” kata Naeun setelah jeda yang agak panjang.

Ketiganya bergerak maju ke depan, memisahkan diri dari para penumpang lain yang baru saja turun. Mereka masing-masing mencari. Yuki yang percaya diri bisa segera menemukan ayahnya, menjauhkan diri dari kedua kakaknya dan mencari ke arah lain. Ia membelah kerumunan itu dengan kedua lengannya yang mungil, untuk bisa melewati mereka dan mendapat ruang yang lebih luas untuk bernapas.

“Ayah!” Yuki berseru keras. Entah mengapa, ia begitu yakin, dengan memanggil ayahnya, walau belum pernah bertemu, ayahnya akan muncul dengan segera. “Ayah! Aku di sini! Ayah!” teriaknya lebih keras.

“Ayah!” Yuki kini harus menyisipkan tubuh kurusnya di antara kaki-kaki tinggi orang dewasa di sekitarnya. Gadis cilik itu nyaris tidak bisa bernapas saat gelombang keramaian dari arah berlawanan menabrak tubuhnya. “Ayah..”

Yuki jatuh tersungkur ke atas stasiun dan mulai kehilangan kesadaran. Mulutnya megap-megap, mencari pasukan oksigen yang tersisa di sekitarnya. “Ayah..” mulutnya berbisik untuk terakhir kalinya, sebelum alhasil ia memejamkan mata untuk menghilang sementara.

***

“Apa kau melihat mereka?”

Seulong berdiri di antara kerumunan orang di stasiun, tapi tidak bisa menemukan siapapun. “Tidak. Mungkin mereka masih di dalam kereta, menurunkan barang-barang.”

“Tidak mungkin,” kata Jinwoon. “Kereta akan kembali berangkat lima menit lagi. Mereka seharusnya sudah turun. Coba cari lagi. Kau masih ingat dengan rupa mereka, kan?”

“Tidak terlalu,” Seulong menjawab putus asa. “Kedua anak pertamaku, Naeun dan Jinyoung, masih sangat kecil-kecil ketika aku terakhir kali melihat mereka. Itu sudah lama sekali, seharusnya mereka sudah sangat berubah. Aku pasti akan mengalami kesulitan untuk mengenali mereka.”

“Bagaimana dengan anak bungsumu?”

Seulong menatap Jinwoon dengan mata sayunya. “Aku belum pernah bertemu dengannya. Yeeun masih mengandungnya saat aku pergi.”

Jinwoon menghembuskan napas keras dari mulutnya dan berkacak pinggang. “Kita benar-benar dalam masalah sekarang.”

Namun, Seulong menolak untuk menyerah. “Aku akan pergi untuk mencari mereka. Kau tunggu saja di sini.”

“Oke.”

Seulong berjalan menuju kerumunan dengan kepala mendongak di antara kepadatan di sekitarnya. Keringat dingin membanjiri dahi, leher, dan belakang punggungnya setiap kali gagal menemukan ketiga anaknya. Dengan kegigihan yang tidak kunjung padam, Seulong terus memecah kesesakkan di sekelilingnya dengan susah payah.

“Hei, ada seorang anak yang pingsan di sini! Anak siapa ini?”

Perhatian Seulong buyar seketika saat ada seorang pria berseru di antara mereka. Seulong menoleh ke arah sumber suara dan menyusul lingkaran besar itu untuk memastikan keadaan. Jantungnya berpacu tidak karuan, tanpa sebab yang jelas. Seulong mendorong orang-orang di lingkaran itu untuk melihat ke tengah-tengah.

Dengan napas terengah, Seulong menangkap tubuh gadis cilik yang berbaring dengan lemah di lantai stasiun yang kotor. Tidak butuh dari lima detik untuk membuat Seulong mengenali mata dan hidung mungil yang diwariskan Yeeun pada gadis cilik itu. Ia lantas berlari mendekati Yuki dan berseru panik, “Itu anakku! Yuki!”. []

14 thoughts on “Hold Me Tight — 1st Chapter

  1. ah my favorite author nge post ff lagi . ceritanya bagus, terharu aku bacanya . kasian naeun, jr, sama yuki . posternya itu wajahnya yuki bukan ? penasaran kenapa seulong sama yeeun cerai😦 cepet dilanjut ya . aku juga masih nunggu little brother sama the radio :))

  2. Pertarungan dimulaiiii, jinyoung sama naeun pasti susah banget nyesuain diri ke bapaknya lagi deh. Kenapa ya dulu seulong ninggalin anak2nya?
    Hmmmm
    Untung yuki di temuin sama ayahnya langsung, fiuuuh

  3. Udah lama ga mampir ke RFF….

    Seulongnya nganggur ya makannya cerai sama Yeeun…?
    Kayaknya seulongnya baik deh…tapi kenapa ninggalin keluarganya ya…gara-gara ga sanggup hidupin…?
    dilanjut ya🙂

  4. Aaaaaaaaaaaaa !!!!
    Ini udah ada kelanjutannya kah? Jujur aja disini aku tertarik sama jinyoung nya alias pacar keberapa akunya /what!!!/
    Okeh abaikan. Tapi setelah baca ceritanya wuah penasaran banget!
    Sumpah ya berasa lagi nonton film.
    Bener2 suka, diksinya ringin dengan alur yang pas.
    jadi engga terkesan pemaksaan.
    Well apakah udah ada kelanjutannya please tell me

    Jika belum ayo author lanjutkan cerita ini sungguh sangat di antisipasi..

    Aku suka karakternya junior !!! Juga naeun dan tentunya si polos yuki…

    Im seulong selamat berjuang untuk menjadi ayah yg baik yaa

  5. bagus, author-nim. Karakter Naeun di sini kayaknya ga jauh beda dengan karakter asli dia.
    Berharap Naeun dan Jinyoung menyukai ayah mereka, dan berhenti berfikir buruk tentangnya. Kasihan amat Seulong.

    Dan btw, aku tahu gimana rasanya hidup diantara Bibi yang sayang sama kamu dan Paman yang pingin cepat-cepat nendang kamu keluar. Aku tertarik sama tokoh Sunye,

    ‘ Sementara itu, Sunye berdiri dengan perasaan bersalah di tengah-tengah ruangan, mengucapkan ribuan maaf pada almarhum adiknya di dalam hati. ‘

  6. I’m really sorry kak..
    sebenarnya aku udah baca ff ini agak lama.. tapi, baru inget untuk comment sekarang..
    and what, i really like this ff. two thumbs up!
    kenapa feel keluarganya dapet banget. apalagi karakterisasi tokoh-tokohnya yang memiliki penokohannya masing-masing. sifat naeun, dan kedua adiknya itu kayanya punya masing-masing ciri.
    well, aku selalu menantikan update an ff ini kak..
    oh ya, kenapa lama sekali publish yang part keduanya ya kak?
    padahal ff ini bagus bangeeeeettttt..
    aku menunggu🙂

  7. Hmmm baru pertama kali baca karya dari author ini hehe
    berkat author yang ffnya biasa aku baca
    disini seulong jadi ayah ?
    Ya ampun langsung ngebayangin deh gimana tuanya seulong jadi seorang ayah hihi

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s