NEVER AGAIN

never-again-rebecca-lee-storyline

Credit : LeeYongMi @cafeposterart.wordpress.com

NEVER AGAIN

By. Rebecca Lee

Yoon Eun Hye & Choi Seunghyun

Romance, sad, a bit of psychology | T+ | OneShot

[Disclaimer]

Name of the cast isn’t mine, but the story is. Please don’t copy-paste. 🙂

[A/N]

Aslinya fiksi ini pake karakter OC yang aku buat untuk salah satu temen VIP yang udah bikinin aku ff dan minta dibikinin balik. But for some reasons disini dan di blog pribadiku aku ganti OC pake Yoon Eun Hye, soalnya aku terinspirasi sama couple ini gara2 mereka pernah pemotretan bareng terus karena emang aku suka Eun Hye eonni. Sorry for any mistake that I made in this story. Hope you enjoyed and if you don’t mind please do leave your comments. Kamsahamnida! 🙂

~~~~

“Dia… kami sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dia sudah tidak tertolong,” seorang wanita paruh baya terlihat sedang berbicara dengan seorang gadis berambut coklat gelap di depan sebuah pintu kamar, kamar rumah sakit jiwa tepatnya. Air mukanya menunjukkan keputusasaan yang begitu mendalam.

“Kata dokter pun ini sudah sangat terlambat jika ia benar-benar ingin disembuhkan. Tapi aku tidak setuju dengannya. Aku yakin masih ada cara lain walaupun tak banyak aku bisa menaruh harapan… padamu,” gadis di depannya hanya diam.

“Yoon Eun Hye, aku telah bersalah begitu besar pada kalian. Aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Aku tiak menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Aku benar-benar seorang ibu yang kejam dan egois. Kami adalah orangtua yang sangat buruk untuknya,” dan wanita itu tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya. Ia menangis dengan terisak.

“Untuk terakhir kalinya kumohon bantulah kami. Tidak, bantulah Seunghyun. Bebaskan dia dari sini. Aku ingin Seunghyun yang dulu kembali.”

Eun Hye masih tetap terdiam. Di hadapannya sekarang adalah eomma Seunghyun, kekasihnya. Dan di balik pintu tempat mereka berdiri sekarang ada Seunghyun yang setahun terakhir terkurung di dalamnya.

Ahjumma,” hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Eun Hye.

“Kumohon, Hye-ah, kali ini saja,” Nyonya Choi menggenggam tangan kanan Eun Hye dengan kedua tangannya.

“Kurasa ahjumma lupa sesuatu dan aku ingin mengingatkan. Aku sakit sama seperti Seunghyun. Bagaimana mungkin seorang yang sakit bisa menyembuhkan orang sakit lainnya? Lagipula ahjumma tidak bisa semudah itu lagi untuk mempercayaiku sekarang. Apa ahjumma tidak takut dan yakin aku tidak akan menyakiti Seunghyun sekarang?”

“Eun Hye…”

“Aku bukan Yoon Eun Hye yang dulu. Bukan gadis yang sama yang kalian kenal dulu. Aku terluka dan aku sekarat sekarang karena kekejaman kalian. Bagaimana jika sekarang aku tidak mencintai anakmu lagi dan malah berencana menyakitinya sebagai balas dendamku?” tatapan mata Eun Hye terlihat dingin.

Nyonya Choi terdiam seketika. Apa yang dikatakan gadis itu benar. Kejadian setahun lalu memang tak hanya membuat keluarga Choi kehilangan anak laki-laki mereka satu-satunya. Eun Hye juga harus kehilangan dirinya sendiri karena menjadi korban egoisme keluarga terpandang di Korea itu.

Setahun lalu keluarga Seunghyun mati-matian menentang hubungan Seunghyun dan Eun Hye lantaran status gadis itu yang tidak jelas. Gadis itu hidup keras seorang diri tanpa tahu satupun anggota keluarganya. Dan karena statusnya yang menurut keluarga Choi sangat memalukan itulah mereka dipisahkan secara paksa.

Seunghyun dan Eun Hye yang telah berusaha keras untuk mempertahankan hubungan keduanya hanya mendapatkan kesia-siaan. Tuan dan Nyonya Choi pada akhirnya tetap berhasil memisahkan keduanya dengan jalan menutup semua akses dengan dunia luar untuk Seunghyun dan memaksa anaknya untuk terjebak dalam lingkaran bisnis keluarga yang mengikat. Membuat Seunghyun perlahan kehilangan jati dirinya sendiri dan harapan hidupnya hingga kini ia berakhir sebagai pasien rumah sakit jiwa akibat depresi berat.

Dan di sisi lain, Eun Hye yang berjuang dalam kesendiriannya juga mulai terhilang. Ia diminta secara paksa orangtua Seunghyun untuk keluar dari Seoul dan dilarang kembali. Sempat ia mencoba bertahan dan melupakan Seunghyun sekuat yang ia mampu, namun yang terjadi ia sama sekali tidak sanggup. Cinta yang ada diantara mereka telah tumbuh terlalu besar dan kehilangan cinta sejatinya itu membuat gadis itu lepas kontrol.

Eun Hye berubah total dan ia sama sekali bukan dirinya yang dulu. Kini ia seorang yang temperamental, keras dan kasar. Sosok yang dingin dan sangat tertutup. Ia menjadi kuat dengan jalan yang salah. Ia sering menyakiti dirinya sendiri sebagai pelampiasan ketidaksanggupannya menjalani kehidupan barunya tanpa Seunghyun. Kerapuhan yang tersembunyi dibalik tembok baja. Ia mengalami depresi yang sama seperti Seunghyun.

Nyonya Choi menghela napas, ia berusaha meyakinkan dirinya setelah teringat dengan berbagai kenyataan yang lebih buruk yang ada pada Eun Hye sekarang.

“Tidak apa, aku berusaha keras untuk mempercayaimu. Masuklah dan temui kekasihmu,” minta Nyonya Choi. Ia memutar tubuh Eun Hye hingga menghadap pintu dan menunggunya masuk sendiri.

Ahjumma…”

Nyonya Choi mengangguk tanda ia tidak ragu dengan keputusannya.

“Tapi…”

“Masuklah dan lakukan sesuatu untuk kalian,” minta Nyonya Choi dengan sangat.

Eun Hye menatap pintu coklat itu dan jantungnya mulai berdegup cepat. Ia sama sekali tidak yakin dengan yang akan ia lakukan. Ia masih meragukan semuanya, ia khawatir jika semua ini hanyalah tipuan. Tapi sekali lagi ia menatap Nyonya Choi dan ia tahu kesungguhan wanita itu. Eun Hye mengangguk kecil dan dengan tangan yang agak bergetar ia meraih kenop pintu dan memutarnya pelan. Suara berdecit pelan terdengar saat pintu itu mulai terbuka, Eun Hye terdiam. Ia mengeratkan genggamannya pada kenop pintu itu dan memejamkan mata.

Aku tidak tahu apakah aku sudah siap sepenuhnya untuk melihatmu sekarang, tapi aku sangat merindukanmu Seunghyun.

Cklek!

Terdengar suara pintu telah ditutup dan Eun Hye sudah berada di dalam ruangan bercat putih, berdiri menghadap pintu. Matanya masih terpejam dan ia sedikit berdoa dalam hati meminta kesanggupan. Ia merasa gugup, khawatir, emosional, dan semua perasaan yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat lagi dan terasa sakit. Ia bahkan telah merasakan kedua kelopak matanya yang memanas. Namun itu tak akan membuatnya berhenti. Eun Hye menarik napas panjang  untuk terakhir kali. Memantapkan hati, gadis itu pun membalikkan tubuhnya.

“S-seunghyun…”

Tepat 5 meter darinya, Eun Hye menangkap tubuh Seunghyun. Laki-laki itu tengah dalam posisi membelakanginya dan memandang kosong pada jendela berlapis teralis baja dari atas kursi rodanya. Tubuhnya tampak begitu kurus dan ringkih dengan rambut yang memanjang hingga menutupi tengkuknya. Kulitnya tampak sangat pucat karena sekian lama terasingkan dari cahaya matahari. Di samping kursi rodanya berdiri tiang infus yang berhubungan langsung dengan jarum yang tertancap di pergelangan kanan Seunghyun mengalirkan nutrisi  untuk tubuhnya. Kondisi yang sama sekali mengenaskan untuk Eun Hye setelah sekian lama ia tak melihat kekasihnya.

“Dia selalu berontak dan tidak bisa ditenangkan.”

“Tak hanya melukai dirinya sendiri, ia bahkan sering menyakiti orang-orang yang berusaha mendekatinya. Berhati-hatilah.”

“Hanya suntikan obat penenang dengan dosis tertinggi yang kami miliki dan dalam jumlah yang besar yang bisa membantu mengatasinya.”

“Perban di kepalanya ia dapatkan 2 hari lalu. Ia sangat emosional waktu itu dan berusaha menyakiti dirinya sendiri dengan membentur-benturkan kepalanya ke teralis jendela.”

“Dia selalu memanggil namamu, bahkan saat ia dalam pengaruh obat penenang sekalipun.”

Semua percakapan itu menggema di dalam pikiran Eun Hye, saat tubuhnya berjalan semakin dekat dengan Seunghyun. Eun Hye merasa sulit mempercayai pengelihatannya. Ia sama sekali tidak mengenali Seunghyunnya. Ia tidak merasakan kehangatan yang sama yang selalu ia rasakan saat ia bersama kekasihnya. Seunghyun begitu dingin dan ia seolah tak bisa disentuh lagi oleh siapapun.

“Mau apa lagi kau kesini? Apa obat penenangku pagi ini belum cukup? Berapa lama lagi kau ingin membuatku tertidur? 2 hari? Seminggu? Sebulan? Atau mungkin selamanya?”

Suara berat yang terdengar sedikit serak itu membuat napas Eun Hye tercekat. Hatinya mencelos mendengar rentetan pertanyaan Seunghyun yang lebih terdengar sebagai pengakuan untuknya. Pandangannya semakin buram karena air mata yang bersiap meluncur keluar dari matanya.

“Kenapa kau diam? Kau benar-benar ingin membunuhku?” tanya Seunghyun lagi dengan nada yang teramat dingin. Eun Hye masih membeku di tempatnya dan keduanya saling diam.

“Jadi… inikah cara mereka merawatmu?” Eun Hye berucap dengan suara bergetar menahan tangis.

Air muka Seunghyun menegang. Ia hampir tak mempercayai pedengarannya. Suara itu, suara gadis yang selama ini ia rindukan kehadirannya. Seunghyun mencengkeram lengan kursi rodanya kuat-kuat. Jantungnya berdegup cepat, tapi ia masih menganggap semua ini hanyalah ilusinya.

Oppa… apa kau juga tidak ingin melihatku? Apa kau juga membenciku?” Eun Hye takut karena Seunghyun sama sekali tak berusaha untuk melihatnya.

“Kau? Aku hanya bermimpi, ini semua pasti hanya halusinasiku. Aku benar, ’kan? Eun Hye pasti tidak ada disini. Itu tidak mungkin terjadi,” Seunghyun memegangi kepalanya dengan kedua tangannya dan mulai menggelengkan kepalanya.

Oppa, kau tidak sedang bermimpi. Berbaliklah, aku benar-benar disini,” ucap Eun Hye dengan air mata lain yang telah menetes.

Ani, ini tidak mungkin terjadi!”

Oppa… jebal… lihatlah aku.”

“PERGI! PERGI KAU DARI SINI! EUN HYE TIDAK MUNGKIN ADA DISINI! ORANGTUAKU SUDAH MENGUSIRNYA! INI SEMUA HANYA MIMPI! TIDAK MUNGKIN TERJADI!”

Seunghyun mendadak menjadi liar. Ia mulai berteriak dan semakin keras menggelengkan kepalanya. Membuat Eun Hye tak bisa tinggal diam lagi dan langsung menghambur kepada Seunghyun dan memeluknya seerat mungkin. Ia terus memeluk Seunghyun meskipun tubuh namja itu masih terus berontak.  

Oppa kumohon sadarlah. Tenangkan dirimu dan coba lihat aku. Ini aku Yoon Eun Hye. Aku benar-benar ada disini untukmu. Oppa…” tangis Eun Hye semakin pecah.

Seunghyun yang berontak perlahan mulai tenang. Bukan, ia bukan tenang karena perkataan Eun Hye barusan karena ia tak benar-benar mendengarkan. Seunghyun tenang karena ia menghirup aroma tubuh Eun Hye yang memeluknya. Dan tak lama ia benar-benar tenang. Merasakan Seunghyun telah tenang, Eun Hye mulai melepas pelukannya.

“Jangan! Kumohon jangan lepaskan pelukan ini jika kau benar-benar Eun Hye,” cegah Seunghyun cepat.

Ne, Oppa. Aku akan terus memelukmu hingga kau puas,” jawab Eun Hye dan ia kembali memeluk Seunghyun.

Chagi, ini benar-benar kau?” tanya Seunghyun sekali lagi. Walaupun itu menyakitkan untuk Eun Hye, tapi ia tetap menjawab. Ia tahu butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi Seunghyun yang sekarang.

“Iya, ini aku. Apa oppa tidak ingin melihat wajahku?” tanya Eun Hye.

Seunghyun melepas pelukannya dan segera ia melihat wajah Eun Hye. Seunghyun mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Eun Hye. Ia menatap gadis itu lekat-lekat dan ia merasa sangat bahagia karena ini bukan mimpinya lagi. Eun Hye memang benar ada bersamanya, baru saja memeluk untuk menenangkannya, dan sekarang ia tengah menyentuh wajahnya. Setetes air mata mengalir di pipi Seunghyun dan Eun Hye segera menghapusnya dengan ibu jarinya.

Chagi, ini benar-benar kau,” dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama Seunghyun tersenyum. Eun Hye mengangguk senang.

“Tunggu. Tapi, bagaimana kau bisa sampai di sini? Bagaimana dengan orang-orang itu?”

“Tenang saja, Oppa. Mereka tidak akan berani memintaku keluar dari sini. Eomma mu mengizinkanku, memohon lebih tepatnya.”

Eomma? Tidak mungkin,” Seunghyun membuang muka mendengar ibunya disebut.

“Jika tidak mungkin maka aku juga tidak akan pernah ada disini, bahkan sekarang,” Eun Hye menarik wajah Seunghyun agar kembali memandangnya.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Eun Hye lembut. Seunghyun mengangguk.

“Senyummu, sudah berapa lama itu hilang darimu? Karena yang kulihat barusan tidak terlihat seperti yang seharusnya. Ia berbeda,” Eun Hye memandang Seunghyun dalam-dalam seolah namja di hadapannya ini bisa hilang kapan saja.

“Sejak kita tidak pernah bertemu lagi, Hye-ah. Sejak saat itulah dia menghilang. Kau sendiri?”

“Milikku tidak hilang. Dia hanya bersembunyi di sebuah tempat yang tidak aku ketahui. Sedikit sulit menyulitkanku karena jika aku membutuhkannya aku harus  memaksa diri menunjukkan senyuman yang palsu,” Eun Hye membelai lembut pipi Seunghyun.

“Dan harus kau tahu rasanya ternyata sangat sakit,” sekali lagi Eun Hye memeluk Seunghyun.

Oppa, bogoshipoyo. Jeongmal bogoshipoyo.

Nado, Chagi. Jeongmal bogoshipoyo. Janji jangan tinggalkan aku lagi.”

Mollayo, Oppa. Mianhaeyo.

Wae?

“Bagaimana kalau mereka mencoba memisahkan kita lagi? Aku tak akan bisa melakukan apa-apa untukmu. Dan mereka, mereka akan dengan mudah membuangku,” Eun Hye melepas pelukannya dan tertunduk lemah.

“Itu tidak akan terjadi lagi. Apa kau percaya padaku?” Seunghyun mengangkat wajah Eun Hye.

“Aku percaya. Tapi…”

“Ssshh. Diam dan jangan katakan apapun jika kau mempercayaiku. Aku akan membuktikannya padamu. Saat ini juga,” Seunghyun menempelkan telunjuknya di bibir Eun Hye.

“Tunggu disini.”

Kemudian Seunghyun menarik mundur kursi rodanya. Ia berjalan mendekat ke tempat tidurnya. Untuk beberapa saat ia tampak berkutat sedang mencari sesuatu. Sementara itu Eun Hye masih terdiam di tempatnya sambil memandangi Seunghyun. Gadis itu berpikir apa yang sedang dicari oleh kekasihnya. Tak berapa lama kemudian Seunghyun kembali dengan sebuah benda kecil berkilat di tangannya. Kedua mata Eun Hye membulat ketika melihat benda itu. Sebuah silet.

Oppa, kau tidak yakin akan melakukannya. Iya, ‘kan?”

“Hye-ah, hanya ini yang bisa kita lakukan. Mereka tak akan memisahkan kita lagi dengan ini.”

Eun Hye menggeleng keras. Ia benar-benar menentang pemikiran gila Seunghyun. Bunuh diri? Tentu saja itu bukan hal yang cerdas untuk dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Jika memang mereka ingin bersama mereka harus memperjuangkannya. Bukan menghindarinya dengan mencari jalan pintas.

Oppa, aku tidak mau dengan cara ini. Pasti ada jalan lain, kumohon.”

“Hanya ini jalan satu-satunya yang mampu kupikirkan. Aku putus asa. Dan jangan tanya darimana aku mendapatkan ini, ini sebuah keberuntungan untukku.”

Oppa, dengarkan aku,” Eun Hye berlutut di depan kursi roda Seunghyun.

“Kita semua terluka dan putus asa. Aku, kau, dan bahkan kini keluargamu. Mereka menyesal telah membuat kita seperti ini. Aku paham jika kau ingin kita tidak terpisahkan lagi, dan aku juga tahu kau juga benar-benar hancur sekarang. Tapi bukan berarti kita harus mengakhiri semuanya. Ini bukan yang terbaik. Hentikan semua ini dan kembalikanlah Seunghyun yang dulu kukenal,”

“Kau, berbicara seolah-olah kau baik-baik saja,” Seunghyun memalingkan wajahnya dan membuat hati Eun Hye terasa sakit saat Seunghyun melakukannya.

“Siapa bilang? Aku tidak baik-baik saja. Tidak pernah baik-baik saja,” jawab Eun Hye.

Dan tiba-tiba Eun Hye membuka cardigan warna khaki dan meninggalkan tank top putih  yang melekat di tubuhnya.

“Apa dengan ini oppa masih bisa bilang aku baik-baik saja? Aku juga sangat hancur.”

Mata Seunghyun membulat sempurna. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tubuh yang dulu amat dikenalnya telah berubah total. Kedua lengan Eun Hye dipenuhi bekas luka sayatan dan beberapa bagian kosong lain telah terisi dengan sejumlah tato.

“Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa jadi seperti ini?” Seunghyun mendekati Eun Hye. Dengan perlahan ia menyentuh kulit yang dulunya tanpa cela itu dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ini semua kulakukan untuk bertahan. Aku mencoba untuk kuat, tapi ternyata tidak bisa. Rasa sakit itu terlalu sakit dan menyiksaku. Aku tak sanggup bertahan dan akhirnya inilah yang terjadi. Aku membutuhkan pelampiasan dan inilah mereka. Maaf aku terlalu banyak berubah.”

“Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf padamu, Chagi. Aku yang salah, seharusnya aku bisa melindungimu. Tapi apa? Aku malah terkurung di sini dan tak melakukan apapun. Tidak seharusnya aku selemah ini, tidak seharusnya aku terlalu cepat menyerah untuk berusaha.”

Oppa, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Ini semua terjadi bukan tanpa alasan,” dan Eun Hye mendekatkan wajahnya pada Seunghyun hingga bibir mereka bertemu.

Seunghyun terdiam. Matanya yang terbuka berangsur menutup. Kerinduan akan setiap sentuhan yang pernah menghilang itu mulai membuncah di dadanya. Perlahan namun pasti mengambil alih seluruh kontrol dirinya. Dengan lembut Seunghyun mengangkat dagu Eun Hye agar lebih leluasa untuk melumat benda kesayangannya itu. Menghisap dan mengulumnya dengan cukup liar. Sementara Eun Hye, ia membiarkan Seunghyun mendominasi permainan mereka dengan mengikuti alur.

“Sudah terlalu lama, Sweetie. Dan sekarang aku benar-benar menginginkanmu,” ungkap Seunghyun di tengah-tengah sesi make-out panas yang mereka jalani. Perlahan Seunghyun mulai menjelajahi leher jenjang Eun Hye.

It’s ok, you own me now,” jawab Eun Hye dan gadis itu terus menikmati setiap sentuhan demi sentuhan yang Seunghyun berikan. Keduanya saling melepas rindu.

“Hey, bisa kita pindah? Kursi roda ini tidak terlalu nyaman,” ucap Seunghyun lagi. Eun Hye mengangguk patuh.

Dengan perlahan Eun Hye menuntun Seunghyun naik ke ranjangnya dan ikut berbaring di sampingnya. Keduanya saling berpelukan dan Eun Hye mulai menarik pelan rahang tegas Seunghyun, memintanya untuk menciumnya lagi. Dua bibir itu kembali bertaut panas.

Oppa…” napas Eun Hye tersengal. Dengan tangan kanannya ia menahan dada Seunghyun agar berhenti menciumnya.

Wae?” tanya Seunghyun yang juga kehabisan napasnya.

Saranghae. Jangan  pernah tinggalkan aku lagi atau…”

“Atau apa?”

“Atau aku akan lebih hancur dari ini,” dan setetes air mata mengalir dari sudut mata Eun Hye.

“Ssshh,” Seunghyun kembali meletakkan telunjuknya di bibir Eun Hye.

“Jangan pernah katakan itu lagi. Kau tahu aku tak akan pernah melakukannya padamu. Dan yang telah terjadi bukan keinginan kita. Aku tak bisa hidup tanpamu dan tak pernah ingin menjalaninya tanpamu,” usai berkata demikian Seunghyun mencium air mata di pipi Eun Hye dan menyingkirkan tubuhnya dari atas kekasihnya itu.

“Kita akan mengulang semuanya dari awal. Bagaimana?” Seunghyun menatap Eun Hye lembut.

Eun Hye mengangguk.

“Tapi sebelumnya kau harus sembuh dan keluar dari tempat ini.”

“Hye-ah, aku sudah menjadi diriku lagi sejak kau hadir disini. Hanya perlu menunggu mereka melepaskanku dari sini. Dan aku janji setelah ini akan memperjuangkan cinta kita dan kita yang akan menang.”

“Aku percaya padamu, Oppa. Sepenuhnya,” Eun Hye menyandarkan kepalanya di dada Seunghyun dan melingkarkan tangannya di pinggang Seunghyun.

Dan kini biarkanlah mereka menikmati waktu indah bersama. Memberikan waktu untuk keduanya menghidupkan kembali cahaya cinta yang telah memudar. Merasakan kebahagiaan yang telah terlalu lama terenggut dari kehidupan mereka oleh karena luka dan air mata.

~THE END~

10 thoughts on “NEVER AGAIN

    • hahaha, thanks ya udah baca 🙂
      iya, Seunghyun-nya aja udah sesuatu apalagi kalo begini #ehh
      sequel ya,, eeeeeeeee,, *mendadak lola* 😀

  1. wah….keren. Kebetulan aku suka romance yg dipadu pyschology jd ini tepat bgt buat memenuhi seleraku.
    Penulisanmu rapi dan diksi cerita jg enak dibaca, penggambaran feeling antara Seunghyun dan Yoonhye kuat bgt sampai ga bisa brrtahan jika tanpa kekasih.
    Aku plg suka penggambaran cerita gimana depresinya mereka.
    Aku tunggu karyamu lainny

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s