Invidus [1st]

individus

Invidus

by

ellenmchle

Main Cast: f(x)’s Krystal – Jung Soojung, Miss A’s Bae Suzy, EXO’s Kai – Kim Jongin & Infinite’s L – Kim Myungsoo | Support Cast: 2AM’s Jung Jinwoon & Jung Ilwoo | Genre: Romance, Family & Life | Length: Chaptered | Rating: PG-15 | Credit Poster : YooSpencer | Disclaimer: The plot is pure mine.

“No matter how great you are, not everybody is going to like you. That’s life…”

| Prologue | 1st |

§

Dentuman drum memenuhi setiap sudut ruang kediaman keluarga Jung di pagi yang mendung itu. Suara berat khas pembawa berita bermarga Kim yang sukses meraih penghargaan pembawa berita terbaik tahun ini seakan ikut menambah kebisingan rumah bertingkat dua itu dengan berbagai berita dalam negeri maupun luar negeri.

Soojung – anak bungsu pemilik rumah tampak sedang menuruni anak tangga dengan beberapa buku di tangan kanannya. Kemeja denim, skinny jeans, tas motif leopard dan flat sneakers menjadi pilihannya untuk memulai segudang aktivitasnya di hari itu.

Soojung mengacak rambutnya frustasi begitu tiba di meja makan. Tanpa menunggu lebih lama lagi ia segera meraih iPhone-nya.

Oppa! Apa kau sudah bosan hidup?!”

Tidak butuh waktu lama bagi Soojung untuk menghentikan suara berisik yang ternyata berasal ruang latihan band itu. Dan tidak butuh waktu tambahan juga untuk dirinya menyeret pemuda bernama lengkap Jung Jinwoon itu untuk segera menuju meja makan karena sosok itu sudah hadir dengan sendirinya.

Oppa, apa kau sudah gila bermain drum sepagi ini?”

“Aku hanya latihan sebentar, Jung-ie. Kau tahu nanti malam aku jadi salah satu pengisi acara–“

“Aku tahu. Kau sudah memberitahuku lebih dari seribu kali tapi bukan berarti kau bisa seenaknya membuat gaduh sepagi ini!”

Jinwoon tidak menghiraukan ocehan Soojung sama sekali. Ia lebih memilih memenuhi mulutnya dengan selembar roti gandum yang sudah diolesi selai kacang.

“Lagipula appa masih di Osaka. Jadi tidak akan ada masalah. Kau tenang saja,” ucap Jinwoon seraya meneguk segelas susu vanilla.

“Di mana Suzy?” lanjutnya seraya melemparkan pandangan ke sekitar.

Molla,” jawab Soojung singkat kemudian kembali melahap sarapannya.

Detik berikutnya Soojung menatap penuh selidik pada oppa-nya. Ia sedikit menyipitkan matanya.

Oppa, Kau tidak sedang jatuh cinta pada seseorang kan?”

Mwo? Nuguya?” Jinwoon membulatkan kedua matanya.

“Dia. Siapa lagi kalau bukan dia? Baiklah, begini saja. Jika oppa ingin merahasiakannya darinya itu hak oppa. Tapi oppa bisa bercerita padaku mengenai perasaan oppa yang sesungguhnya. Aku siap mendengarkannga. Atau aku juga bisa memberi masukan atau–“

STOP! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Jung-ie. Berhenti berbicara hal-hal bodoh seperti itu lagi! Arra?” jelas Jinwoon sedikit salah tingkah demi menghentikan Soojung.

Soojung tersenyum. Lebih tepatnya senyuman mengejek. Ia yakin ada yang tidak beres dengan oppa-nya. Dan hal itu semakin diperkuat dengan tingkah laku oppa-nya yang semakin hari semakin memperlihatkan ketertarikannya pada ‘Dia’ siapa lagi kalau bukan Suzy, Bae Suzy.

“Cepat habiskan sarapanmu. Kita sudah hampir terlambat,” lanjut Jinwoon berusaha menghilangkan suasana canggung antara dirinya dan Soojung.

Arraseo.”

§

Kelas melukis pagi itu tampak ramai seperti hari-hari sebelumnya. Jika kita bisa menemukan satu-dua bangku yang kosong setiap kelas bahasa korea atau bahkan belasan bangku yang kosong setiap kelas bahasa inggris maka hal itu tidak akan pernah kita temui di kelas melukis karena tempat duduk yang tersedia selalu terisi semuanya.

Seonsaengnim!” teriak seorang mahasiswi berkacamata seraya mengangkat tangan kanannya malu-malu.

Dosen bermarga Kim dengan paras rupawan itulah yang menjadi penyebab utama atau mungkin satu-satunya penyebab mengapa setiap mahasiswi Universitas Hanyang yang menghadiri kelas melukis selalu bersikap manis dan menjadi sangat patuh.

“Ya, ada apa?” pemuda yang sedari tadi berkutat dengan kanvas dan pensilnya itu melemparkan pandangannya pada si gadis berkacamata.

“Aku kesulitan membuka tutup botol cat ini. Bisakah kau membantuku?” mohonnya dengan manja seraya menunjukkan sebotol cat acrylic miliknya.

Pemuda itu hanya tersenyum. Tanpa menunggu lebih lama lagi ia segera meraih botol cat acrylic itu dan membukanya dengan sekali putar.

“Sudah,” ucapnya seraya mengembalikan botol itu pada si gadis berkacamata.

Sayup-sayup terdengar bisikan-bisikan sinis dari belakang mereka. Dasar penggoda!, Cari perhatian sekali dia!, Beraniberaninya dia mendekati Kim seonsaengnim!….

“Baiklah, kelas hari ini cukup sampai di sini. Selamat siang” ucap pemuda itu setelah melirik  jam tangannya.

Pemuda itu kemudian membereskan peralatan melukisnya dan beberapa berkas yang menumpuk di mejanya.

“Kim seonsaengnim, bisakah memberiku kelas tambahan?”

Ia meninggalkan kesibukannya sejenak dan beralih menatap si penanya.

“Soojung-ah, kau sudah kembali?” tanyanya balik seraya memamerkan senyuman terbaiknya.

Wae? Kau tidak senang?”

“Aku kira kau akan pulang bulan depan.”

“Osaka membosankan.”

“Begitu?”

“Ya, begitulah.”

Soojung mengelilingi ruang kelas, melihat satu per satu lukisan yang ada di sana.

“Kau tidak merindukanku kan selama aku berada di Osaka?” goda Soojung seraya berjalan mendekati pemuda yang masih sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya.

“Sebenarnya aku lebih khawatir penulis terkenal sepertimu akan dirayu oleh pria-pria Osaka,” guraunya.

“Memangnya kenapa kalau aku dirayu?” tanya Soojung memancing.

“Tidak apa-apa.”

Jinjja?”

“Eum…”

Jeongmal?”

Ne.”

Soojung menghela nafas berat.

“Kim Myungsoo-ssi, bilang saja kau cemburu. Apa susahnya mengakuinya?”

Mwo? Ya! Sudah berapa kali ku bilang panggil aku dengan sebutan oppa.”

Shiro! Sudah ku bilang berapa kali aku tidak akan pernah mau memanggilmu dengan sebutan itu.”

Kim Myungsoo – pemuda yang lebih tua dua tahun dari Soojung itu memang sudah menjadi sahabat Soojung sejak mereka masih duduk di bangku SD. Entahlah apa alasan Soojung tidak pernah mau memanggilnya dengan sebutan oppa. Tapi percayalah bahwa Soojung sebenarnya sangat menghormati seorang Kim Myungsoo.

§

Jung Soojung mengadakan seminar untuk yang kesebelas kalinya semenjak terjun dalam dunia per-novelan pada tahun 2011. Kali ini penulis terkenal yang juga merupakan putri dari Lee Yubin – penulis berbakat milik Korea Selatan yang meninggal pada tahun 2002 itu mengadakan seminar di Osaka, Jepang. Seminar yang diselenggarakan pada 8 agustus lalu dihadiri begitu banyak penulis remaja yang…

Suzy membaca penggalan berita utama di salah satu situs berita online saat berada di dalam mobil yang akan membawanya menuju suatu tempat. Belum selesai membacanya Suzy sudah terlebih dahulu mematikan iPad-nya dan beralih memandangi jalanan dari jendela mobilnya.

“Kau lebih baik,” ucap Jongin – supir pribadi keluarga Jung yang sudah bekerja selama dua tahun itu berusaha memecah keheningan sambil sesekali memandangi wajah majikannya dari kaca spion.

Suzy tidak menjawab. Ia masih betah untuk tidak membuka mulutnya. Sedangkan Jongin masih sesekali mencuri pandang lewat kaca spion.

“Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tidak akan bertanggung jawab atas perasaanmu jika kau sampai menyukaiku dan kau juga harus bertanggung jawab jika sampai terjadi sesuatu padaku dan mobil ini,” ucap Suzy seraya melemparkan pandangan sinisnya.

“Tenang saja. Aku tidak akan pernah menyukaimu,” jawab Jongin seraya tersenyum tipis.

“Jongin-ah” panggil Suzy.

“Apa kau tidak menyesal menjadi supir? Maksudku kau seorang mahasiswa yang cukup tampan walau kulitmu bisa dibilang sedikit gelap, kau bisa mencari pekerjaan yang lebih baik di luar sana kan daripada terus menerus menjadi supir?” lanjutnya.

“Kau merendahkan profesi supir?” balas Jongin masih menatap lurus ke depan.

“Bukan. Bukan seperti itu maksudku. Sudahlah, lupakan saja pertanyaanku tadi.”

“Aku punya alasan sendiri kenapa aku memilih menjadi supir di keluargamu.”

“Keluargaku? Mereka bukan keluargaku, mereka hanya orang-orang yang bersedia menampungku selama ini.”

“Kau tidak menganggap mereka sebagai keluargamu sendiri?”

“Aku ingin tapi aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena sampai kapan pun mereka tidak akan pernah bisa menjadi keluarga kandungku.”

§

Soojung tampak memasuki lift salah satu kantor penerbitan buku. Dengan raut wajah yang terlihat begitu serius serta langkah yang tergesa-gesa Soojung mendorong pintu kaca di depannya.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Soojung seraya menarik salah satu kursi di ruangan itu.

“Justru harusnya kami yang bertanya begitu” jawab salah satu staff yang ada di situ seraya memperlihatkan naskah yang terpampang di layar laptop-nya.

“Bagaimana bisa jadi seperti ini? Aku yakin sekali tidak seperti ini naskah yang ku kirimkan waktu itu,” jelas Soojung sambil mengecek naskah yang dimaksud.

“Nyatanya memang naskah seperti tulisan anak-anak TK itulah yang kami terima darimu.”

Ahjussi, apa kau menerima kiriman naskah double dari email-ku?”

“Tidak. Kami hanya menerima satu naskah darimu. Kau bisa mengecek inbox email kami untuk memastikannya.”

Soojung yakin sekali ia tidak pernah mengirimkan naskah yang sedang dilihatnya sekarang pada siapapun bahkan ia baru pertama kali melihat naskah itu.

“Kau masih menyimpan naskah yang asli? Tidak masalah jika kau memang masih menyimpannya, kau bisa langsung memberikannya pada kami saat ini juga supaya tidak terjadi kesalahan seperti ini lagi.” jelas staff bertubuh tinggi besar itu.

Soojung kemudian segera mengeluarkan mac book yang dibawanya, ia yakin sekali file itu masih disimpannya dengan baik di dalam mac book. Soojung mengotak-ngatik mac book-nya. Detik berikutnya ia dapat merasakan sebuah bongkahan batu berukuran besar seakan-akan menimpanya hingga ia kesulitan bernafas. Nafasnya tercekat. Dirinya seakan tidak percaya apa yang sedang dilihatnya. File berisi naskah novel terbaru yang telah dikerjakannya selama hampir satu tahun itu hilang bagai ditelan bumi. Soojung berulang kali mengecek kembali namun nihil. Naskah itu benar-benar sudah lenyap dari mac book-nya. Sialnya lagi file berisi naskah itu hanya ada di dalam mac book miliknya.

Soojung yakin seseorang pasti telah merencanakan semua ini. Membuat seakan-akan semuanya terlihat sebagai kelalaian Soojung sendiri. Soojung tidak pernah menghapus satu pun hasil tulisannya yang ia simpan dalam mac book walaupun hanya tulisan iseng yang tidak berguna dia tidak pernah menghapusnya apalagi jika artikel, cerita pendek atau bahkan naskah novel tulisannya. Seseorang pasti sedang ingin menghancurkan karier Soojung sebagai seorang penulis terkenal yang sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan penulis novel remaja terbaik.

§

Suzy dan Jongin akhirnya tiba di salah satu kedai makanan di kawasan Gyeongju setelah melewatkan perjalanan yang cukup panjang. Suzy tampak kurang nyaman dengan Jongin yang selalu mengikutinya sedari tadi. Ia hanya tidak ingin ada yang mengetahui alasan sebenarnya mengapa ia berkunjung ke tempat seperti ini.

Bau asap rokok, soju dan aroma bulgogi yang sedang dipanggang menyambut kedatangan Suzy dan Jongin saat memasuki kedai makanan itu. Beberapa ahjussi tampak meneguk beberapa botol soju sedangkan ahjumma-ahjumma dengan penampilan sedikit menor ikut menghiasi keramaian di dalam kedai makan itu.

“Kau tunggu di sini saja” perintah Suzy pada Jongin.

“Kau mau kemana? Bukannya kita ke sini untuk makan-makan?” tanya Jongin polos.

“Sudah ku bilang aku punya urusan di sini. Jadi kita tidak datang untuk makan-makan!” kesal Suzy.

“Baiklah, aku tunggu di sini saja” balas Jongin kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

“Kau bisa kembali ke mobil jika tidak nyaman dengan suasana di sini” tawar Suzy.

“Tidak apa-apa. Aku tunggu di sini saja.”

“Baiklah, terserah kau saja,” ucap Suzy kemudian meninggalkan Jongin.

Suzy berjalan ke arah kasir dan membisikkan sesuatu pada seorang ahjumma di sana. Keduanya kemudian saling bertukar pandang yang diikuti langkah Suzy menuju ke dalam dapur. Tak lama kemudian ahjumma itu pun menyusul.

Suzy tampak mencari sesuatu di dalam tasnya. Tidak perlu berlama-lama bagi Suzy untuk menemukan dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih polos yang terlihat lumayan tebal.

“Ini,” ucap Suzy seraya menyodorkan amplop itu pada si ahjumma.

Ahjumma itu dengan cepat meraih amplop pemberian Suzy. Dengan sebatang rokok yang masih menghinggap di bibirnya ahjumma itu menarik keluar beberapa lembar won dari amplop itu. Ia tersenyum puas.

“Rajin-rajinlah menulis,” ucapnya seraya memukul pelan pundak Suzy.

“Hanya itu?” tanya Suzy dengan tatapan tajam.

“Ya. Hanya itu,” balas ahjumma itu kemudian berniat meninggalkan Suzy setelah berhasil mendapatkan apa yang dimaunya.

“Apa kau tidak bisa menanyakan keadaanku? Apa aku baik-baik saja selama ini? Apa aku menjalani hidup dengan baik? Atau tidak bisakah sedikit saja kau berlaku sebagai seorang eomma yang baik?” teriak Suzy dengan air mata yang sudah menggenang di kedua matanya.

“Bicara apa kau?” balas ahjumma yang ternyata adalah ibu kandung dari Suzy.

“Setiap kali aku datang, apa yang kau harapkan hanya uang? Apa uang bisa membuatmu bahagia? Oh. Mungkin aku sudah lupa bahwa kau bahkan rela menjual harga dirimu hanya untuk uang!” lanjut Suzy dengan nada sedikit menyindir.

“Apa yang kau katakan, eoh!? Beraninya kau berkata seperti itu pada eomma-mu sendiri!? Apa kau ingin jadi anak durhaka!? Dasar anak brengsek! Tidak tahu diri!” bentaknya seraya memukuli tubuh Suzy dengan kuat.

“Apa ini yang sudah diajarkan keluarga Jung padamu, eoh!? Menjadi kurang ajar seperti ini pada eomma-mu sendiri?” lanjutnya.

Merasa sudah puas dengan kegiatannya ia pun segera beranjak dari tempat itu dan meninggalkan Suzy yang masih menangis di sana.

§

Dengan penampilan yang sudah rapi kembali walaupun matanya masih terlihat sedikit merah, Suzy berjalan menuju tempat di mana Jongin berada. Jongin sendiri malah terlihat sibuk memanggang bulgogi yang sudah hampir matang itu. Baru saja Jongin ingin melahap potongan daging sapi panggang itu Suzy sudah terlebih dahulu sampai dan melemparkan death glare padanya.

“Sudah selesai? Kita pulang sekarang,” ucap Suzy kemudian hendak berjalan ke parkiran.

Jamkkanman, aku mau ke toilet sebentar,” balas Jongin menghentikan Suzy.

“Aku tunggu di mobil.”

Suzy berjalan keluar dan begitu sampai di parkiran ia baru ingat bahwa ia tidak memegang kunci mobil. Ia pun terpaksa harus kembali ke dalam kedai makan milik ibunya itu untuk mengambil kunci dari Jongin.

 

§

Jongin yang sudah selesai tidak sengaja berpapasan dengan ahjumma yang tak lain adalah ibu Suzy di depan toilet. Tanpa ragu-ragu ia menarik lengan Jongin dan mengatakan sesuatu padanya.

“Ingat, kau harus menjaganya dengan baik” tegas ahjumma itu.

“Kau tidak perlu khawatir” balas Jongin.

“Pokoknya kau jangan sampai melupakan tugasmu, kau harus menjaganya, 24 jam kalau perlu,” ulangnya kemudian melirik-lirik sekitar.

“Menjagaku? Memangnya dia siapa? Kalian mengenal satu sama lain?” tanya Suzy yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. Tanpa mereka sadari ternyata Suzy mendengar semua percakapan mereka.

to be continued…

 

 

Maaf banget karena 1st chapter ini lama banget aku publish-nya. Alasan pertama karena aku sempat hilang feel buat lanjutin ff ini gara-gara rumor kencan Myungsoo – Kim Doyeon & Suzy – Sung Joon ditambah lagi Kaistal moment yang tidak kunjung hadir belakangan ini. Ya, bahasa gaulnya aku lagi galau (?) gitu. Alasan kedua karena kesibukan aku sebagai seorang mahasiswi semester 3 yang sebentar lagi akan menghadapi UTS .__. Sebenarnya FF ini uda aku tulis sampai 3rd chapter tapi karena aku takut ga bisa lanjutin dan ujung-ujungnya mengecewakan readers yang uda nunggu-nunggu (ya, kalau emang ada yang nungguin) jadinya kemarin-kemarin aku sempat nunda buat publish FF ini tapi tenang aja, sekarang aku uda berkomitmen dengan diriku sendiri kalau FF ini harus selesai sebelum akhir tahun ini. #curcol

Komentar baik itu berupa kritikan/saran akan sangat berguna bagi kelanjutan FF ini.

47 thoughts on “Invidus [1st]

  1. akhirnya dilanjutin jg…next partnya ditunggu ya thor^^
    suzy kasian banget hidupnya ._. please suzy jgn jahat ya thor, suzy sm soojung jgn slng membenci…mereka punya cerita cinta masing” aja jgn sampe berantem gak tega thor apalagi klw ternyata suzy yg disudutkan :’)
    mau myungzy atau kaizy aku sih oke” aja asalkan namjanya yg dr awal suka sm suzy hehe

  2. wah ceritanya seru dan keren thor, suzy karakternya benar2 beda dari yang biasanya. jongin kenal sama ibunya suzy? ada hubungan apa? berharap myungsoo sama suzy dan jongin sama soojung. ditunggu lanjutanya.^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s