The Gold Asylum Part 2

the-gold-asylum

The Gold Asylum

 

Cast : Nichkhun ‘2PM’, Tiffany & Jessica ‘SNSD’

Genre : Romance, Angst, Psikologi, Family, Life

Rating : PG17 || Author : Dindonline

Disclaimer : Cerpen berjudul ‘The Asylum’

Credit poster : erlyRine

Teaser – Prolog – Part 1

Intro : huaaa,,…. mianhe,,, saya kembali dengan FF  entahlah apa ini. Maaf saya kembali setelah sekian lama mengabaikan FF ini. Mianhe *bungkuk

Heaven

 

                Nichkhun selalu berfikir ibunya adalah seorang bidadari. Senyumnya menawan, dengan tatapan hangat seperti roti panggang kesukaannya tiap pagi. Tapi kadang ia tak selalu berfikir seperti itu, kadang ia juga berfikir ibunya seperti monster. Kadang ia merasa asing, seperti harus menebak – nebak warna dinosaurus. Atau menebak – nebak warna kaos dalam Tiffany, baginya cukup membingungkan. Seperti sebuah persepsi atau juga sebuah permainan yang akan ia lupakan dengan segera.

“apa ini?” bentak ibu Nichkhun, wanita muda itu mengacung – acungkan lembaran kertas ke arah putranya.

“hanya ini kemampuanmu? Apa kau pikir ini ada artinya?” lanjut wanita itu dengan marah.

“apa selama ini aku mengajarimu seperti ini?” nada suara ibu Nichkhun semakin kencang, mengabaikan rasa ibanya pada wajah takut Nichkhun.

“jawab aku, apa yang kau pikirkan dengan nilai seperti ini?” wanita itu semakin kesal.

mianhe oemma” suara Nichkhun bergetar. Ibu Nichkhun menggenggam tangannya dengan kencang. Mencoba mengontrol emosinya dengan menarik nafas dalam – dalam.

Ia menatap pria kecil yang tertunduk di depannya. Berurai air mata dan sesekali terisak menahan tangisnya. Ia selalu berfikir tak pernah salah mendidik putranya. Memberinya kasih sayang, memberinya makanan dan pakaian yang terbaik. Tak pernah salah, ia yakin tak pernah salah dengan cara mendidiknya. Hanya saja kenapa putranya tak seperti yang ia inginkan. Bukan, bukan seperti keinginanannya. Ia hanya takut, ia hanya takut semua orang akan menyalahkannya.

“berhenti menangis” pinta ibu Nichkhun dengan suara lebih pelan. Wanita itu mendesah pelan sambil memegang keningnya. Tatapannya beralih pada putrinya di tempat tidur yang menatapnya takut – takut seperti seorang monster yang siap menerkamnya.

Wanita itu mendesah lagi, ia beranjak berdiri. Membiarkan bola matanya seperti pingpong yang sedang dimainkan. Terlempar ke sana – ke mari, antara putrinya di tempat tidur yang masih menatapnya takut dan putranya yang masih bersimpuh sambil terisak di lantai. Kepalanya serasa pecah. Ia masih bersikeras caranya tak salah, tapi bukan seperti ini yang seharusnya terjadi.

Ibu Nichkhun memutuskan pergi, tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Rasa takut itu kembali menyergap kepalanya, menerornya tanpa henti seperti seorang pesakitan.

“maafkan ibu, maafkan ibu” isak wanita cantik itu memeluk erat tubuh Nichkhun. Wanita itu beralih ke putri bungsunya yang berumur 4 tahun. Mendekapnya erat, mencoba meredam rasa ketakutan yang nyatanya semakin mengusainya.

 

….

 

 

“aku ingin warna merah” pinta Jennie adik Nichkhun. Wanita berkuncir itu mengangguk pelan. Ia mengembalikan lagi piyama biru muda ke tempatnya, menarik pelan piyama merah yang ditunjuk Jennie.

“kau ingin mengenakan yang mana NIchkhun ya?” Tanya ibu Nichkhun lembut.

“aku ingin itu, biru” jawab Nichkhun pelan sambil menunjuk piyama yang diinginkannya.

“ini, kenakan sendiri. Oemma  akan membantu adikmu mengenakannya” ujar ibu Nichkhun. Pria kecil itu mengangguk mengerti. Tak lama Oemma Nichkhun mengambil alih gerakkan Nichkhun, dengan telaten memasangkan satu demi satu kacing baju putranya itu.

“kau tahukan Oemma menyayangimu?” Ibu Nichkhun mengelus lembut rambut putranya, Nichkhun mengangguk. Ia tahu, tatapan ibunya tak akan salah.

 

….

 

Dentum jarum jam mengalun pelan, wanita muda itu masih terjaga di sisi tempat tidur putra dan putrinya. Tatapannya kosong, ada yang dipikirkannya. Sesuatu yang sangat mengusiknya, ia sangat takut. Hatinya berperang, entah apa yang ia perangi sekarang. Sesuatu yang abstrak yang benar – benar meneror kehidupannya. Wanita itu akhirnya beranjak, setelah mungkin cukup lama bersimpuh di sisi tempat tidur. Jalannya tergesa menuju kamar mandi, menyalakan shower dan berdiam saja terguyur air. Biasanya cara ini cukup ampuh menyingkirkan suara – suara dalam kepalanya. Suara – suara yang selalu membuatnya goyah, membuat hatinya seolah bercabang. Memaksanya bergulat lagi dengan rasa takut yang sudah mengakar di hatinya.

Wanita itu menghentikan kegiatannya bercumbu dengan air. Membiarkkan sisa – sisa bulir air terjatuh di ujung – ujung rambut dan pakaiannya. Bukankah ia harus melakukannya dengan segera? Sebelum suaminya pulang. Sebelum semuanya terlambat dan ia kehilanggan semuanya.

Sore itu memang sangat tenang, hanya alunan music dari piringan hitam di ruang tengah dan tetesan air dari kran tempat cuci piring mengiri acara eksekusinya. Menjejakkan langkah basahnya di tehel lantai. Ia pikir suara – suara itu benar, ia tak ingin moster itu menerkam putra – putrinya. Memaksanya masuk dalam kotak pesakitan seperti dirinya. Ibu Nichkhun mendorong pintu kamar anaknya yang tak tertutup sempurna. Dua malaikat yang Nampak terlelap tidur, damai. Tapi tak cukup mampu mengusik keputusannya. Air di ujung – ujung baju dan rambutnya masih terus menetes. Dengan sangat yakin wanita itu mengambil bantal di sisi tempat tidur. Guratan tangannya Nampak mencengkram di ujung – ujung bantal, ia yakin surga sangat pantas untuk kedua anaknya.

Tanpa perlawanan berarti dan si bungsunya meregang nyawa. Wanita itu tersenyum, Jennienya tertidur damai –menurutnya. Ia melemparkan tatapannya pada Nichkhun, ya… putranya. Pria kecil kebanggaannya yang tak seorang pun boleh merendahkannya. Ia tak ingin putra kecilnya itu seperti dirinya, selalu salah dan di rendahkan.

 

 

“apa ucapanku salah dok?” Tanya Jessica tersenyum tipis. Nichkhun menghela nafas, mencoba mongontrol emosinya. Tak ada yang perlu ia persalahkan seharusnya dengan kata ‘surga’ itu. Surga yang entah harus didefinisikan seperti apa.

Nichkhun melipat tangannya, ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah wanita di depannya. “apa kau percaya, kau mirip seseorang” ujar Nichkhun tersenyum.

Jesicca mengernyit heran. “dan apa kau juga tahu..” Nichkhun menghela nafas. “aku hampir saja menuju surga yang kalian definisikan itu” lanjutnya menatap sinis pada pasiennya.

“kalian, dua orang ibu yang menyedihkan. Apa kau pikir keputusanmu mengirim mereka adalah sebuah keputusan terbaik? Kalian, terlalu membenarkan keputusan yang kalian ambil”

Brak!!Jessica menggebrak meja.

“hentikan!, mereka sudah damai di surga. Keputusanku tidak pernah salah!” bentak Jessica marah.

“jika keputusanmu benar, kau tak akan berada di sini Nyonya” ketus Nichkhun.

Brak!! Kursi yang Jessica duduki terjatuh ketika wanita itu berdiri. Ia mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya. Rasa sakit dikepalanya menjalar lagi, suara – suara aneh yang memenuhi rongga – rongga sempit di otaknya.

“Argghh” eram Jessica diikuti masuknya kedua perawat berbadan tegap ke ruangan. Dengan sigap kedua perawat itu memegangi Jessica, memaksa wanita cantik itu keluar dan kembali ke kamarnya.

Nichkhun mendesah, dengan ekspresi datar ia meresepkan beberapa obat penenang untuk pasien pertamanya itu. Memasukkan pulpennya kembali ke saku lalu menyelipkan lembaran resep itu ke dalam status pasien milik Jessica.

Sesuatu mungkin sudah mengubahnya, ya… percakapan singkat itu seperti mengubahnya. Ia bahkan tak mempercayainya, apakah seperti ini posisi ibunya dulu? Benar – benar menyedihkan. Ia beranjak berdiri, pria berkacamata itu memicingkan sedikit matanya ketika menyadari Dokter Hae berdiri tak jauh darinya. Tatapan pria tua itu, sesungguhnya Nichkhun sangat tak menyukainya. Ia memutuskan tak akan menyapa pria tua itu, terlalu membuatnya muak. Nichkhun beranjak, ia berjalan terus mengabaikan Doker Hae. Nichkhun benar – benar muak dan sedang tak ingin membicarakan apapun dengan pria ini.

“seperti ini caramu bekerja?” Dokter Hae merendahkan. Mau tak mau kaki NIchkhun tertahan, pria itu tersenyum kecut.

“hampir saja aku melupakanmu, ya… untuk sesaat tapi aku tak akan pernah lupa. Beberapa tahun yang lalu, kaulah pria yang menyeretku sejauh ini” ucap Nichkhun dingin.

 

Cut

9 thoughts on “The Gold Asylum Part 2

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s