An Odd Meeting

daehyunnnnn

An Odd Meeting.

©2013—Oliver (@bakesumin)

 Starring

 Jung Daehyun and Baek Sumin

 PG-15| Romance, Angst| Vignette// 1.528 words

Credit Poster: Tumblr

.

.

.

Keduanya tidak tahu-menahu datangnya Daehyun di sore hari yang dingin itu dapat dikategorikan sebagai ucapan perpisahan atau selamat datang.

Namun yang pasti, kedatangan laki-laki dengan sebilah cutter dan tangan penuh darah tersebut bisa jadi membawa petaka.

Ini hanya sepenggal kisah antara si bastard Jung Daehyun dan gadisnya.

Inspired by a chapter from ‘Dan Hujanpun Berhenti—Farida Susanty (2007)

Sumin tidak membenci hujan sama sekali.

Tidak ada alasan baginya untuk membenci serbuan rintik air yang membawa hawa dingin tersebut, menelusup lewat celah-celah pintu dan jendela yang ditutup rapat-rapat olehnya. Sehingga gadis itu lebih memilih menggulung diri di dalam selimut, kedua tangannya menangkup secangkir susu hangat. Dan di detik ke-enam gadis itu menyesap cairan putih tersebut, ia mengerang.

Terlalu banyak hal yang mengingatkannya pada laki-laki bermanik cokelat muda tersebut.

Gadis itu menggerakkan badan dengan malas menuju radio yang tengah mengoceh di ujung meja, kemudian memutar tombol volumenya ke arah maksimal. Suara Zoey Deschanel yang serak memenuhi ruang keluarga, sementara Sumin tetap menyesap susu hangatnya dengan pikiran yang meluap-luap.

Ujung jempolnya mengetuk-ngetuk permukaan sofa beludru yang lembut. Deru mobil yang biasa ia dengar menelusupi rongga telinga, membuat gadis itu tersentak dan sedikit-banyak sukses membuyarkan lamunannya.

Tok tok tok tok!’

Pintu ruang tamu bergetar seiring dengan ketukan tak sabar dari seseorang di luar sana. Sumin melirik dengan malas lalu bersungut-sungut. Sekarang sudah pukul 5 sore, siapapun dan sepenting apapun urusannya ia sangat benci diganggu di waktu santai begini.

Apalagi ia tengah memikirkan ‘si bajingan’ itu.

‘Tok tok tok tok!’

“Sebentar!” Sumin berteriak lalu cepat-cepat melepaskan lilitan selimut di badannya. Ia meraih sebuah mantel besar berwarna navy blue lalu memakainya dengan asal—sehingga hanya menutupi bahu. Gadis itu memutar kunci ke arah kanan kemudian membuka pintu lebar-lebar.

Lalu bibirnya mengatup.

Karena seseorang di hadapannya termasuk dalam list persona non grata­ miliknya.

Jung Daehyun.

Keduanya bertatapan dan menyelami sepasang manik cokelat satu sama lain sementara ingatan mereka kembali merangkak menuju kejadian 4 hari yang lalu. Daehyun tampak basah—pria itu jelas kehujanan. Sementara itu, dengan tangan yang bergetar Sumin berusaha menutup pintu rumahnya.

“Tunggu.”

Suara berat Daehyun yang terdengar datar di telinga Sumin membuat gadis itu menghentikkan gerakan tangannya. Sudah lewat 4 hari namun mengapa Sumin tidak dapat melupakan suara laki-laki itu, bagaimana intonasinya yang selalu menuding dan menjurus pada sok tahu. Gadis itu mendongak.

“Bukankah kita tidak perlu bertemu lagi?” tukasnya. Daehyun meneguk ludah, tangannya gemetar. Lalu dalam keheningan yang mematikan tersebut tangan kanan Daehyun kehilangan kendali.

Trak!’

Sumin menunduk, melihat benda apa yang baru saja dijatuhkan Daehyun. Dan tenggorokannya terasa tercekik saat melihat sebuah cutter merah sudah tergeletak dengan posisi pisau terjulur keluar.

Tapi bukan hanya cutter yang membuat Sumin hampir pingsan.

Namun bekas darah yang menempel di sisi-sisinya. Gadis itu mendongak lalu menatap tak percaya ke arah Jung Daehyun. Apa yang baru saja dilakukan laki-laki sinting ini?

“K-kau….” Sumin menggelengkan kepalanya seolah berkata ‘ini tidak mungkin’ dan ‘apa yang baru saja kau lakukan Jung Daehyun?’. Ia sangat ingin menjambak rambut Daehyun lalu membenturkan kepalanya ke tembok beton supaya laki-laki itu bisa lebih waras sedikit.

“Kalau kau ingin bertanya ‘apa yang baru saja kau lakukan Daehyun?’ aku akan menjawabnya nanti saat aku sudah berbaring di sofa ruang keluargamu.” Daehyun menerobos masuk dan membiarkan Sumin terdiam di ambang pintu dengan tatapan tertancap pada cutter berlumurkan darah di teras rumah.

“Apa yang baru saja kau lakukan?!” Sumin memekik lalu menolehkan kepalanya ke arah Daehyun. Laki-laki dengan tubuh basah kuyup itu sudah berbaring nyaman dengan tangan kanan yang menutupi kedua matanya. Ia tersenyum getir.

“Daehyun jawab aku.” Sumin berjalan cepat menuju sofa lalu menatap tajam ke arah Daehyun kendati pria itu tak akan balas menatapnya. Daehyun menggeser tangan kanannya, membiarkan sorot matanya yang keras namun lemah itu bertemu pandang dengan milik Sumin.

Ia tersenyum, nampak lelah sekali. Tangan kananya ia tepuk-tepukkan di atas sofa, meminta Sumin untuk duduk di dekatnya. Jika keadaan tengah normal, Sumin akan mengoceh dan memekik tepat di depan wajah Daehyun namun apa daya. Untuk beberapa kesempatan, gadis itu memilih menurut dan membiarkan Daehyun mengatur kejadian sesuai dengan skenarionya. Ia duduk rapi di atas sofa kemudian meremas ujung kaus katunnya kuat-kuat, menahan rasa ingin mengelus rambut pria itu dan membiarkannya tertidur seperti kejadian 4 hari yang lalu.

Damn you Jung Daehyun.

“Sumin,” ujar Daehyun. Ia nampak nyaman sekali walaupun air hujan masih menetes di beberapa helai rambutnya yang gelap. Sumin tidak menjawab, gadis itu hanya menaikkan alis dan memandang penuh tanya ke arah Jung Daehyun. Tidak ada ekspektasi berlebihan dari Sumin, mengingat Daehyun yang notabene-nya adalah bastard ini selalu berbuat semaunya.

Tapi bukankah itu yang membuat Sumin seakan terseret oleh pesona laki-laki broken home tersebut?

“Sebelum aku menjelaskan apa yang baru saja kuperbuat—“ Daehyun mengangkat lengannnya tinggi-tinggi kemudian menelusuri tiap jemari tangan kanannya yang samar-samar terlumuri darah. ”—maukan kau tidur disini?”

Laki-laki itu menepuk ruang kosong di sampingnya, meminta Sumin untuk berbaring disana, sekedar membuatnya merasa lebih baik. Untuk kesekian kalinya, gadis itu menurut dan membaringkan tubuhnya yang kering—sangat kontras dengan basah kuyupnya tubuh seorang Jung Daehyun.

Sumin melirik ke arah Daehyun yang masih bungkam, kendati kelima jari laki-laki itu sudah menggenggam erat jemari miliknya. Gadis itu mendesah tertahan, merasakan udara hangat yang seakan menamparnya bolak-balik, memunculkan perasaan yang menyenangkan dan rona merah yang merambat pelan di pipinya.

“Ekhem,” Sumin berdehem seolah meminta Daehyun melanjutkan kalimatnya. Daehyun tersenyum samar lalu mulai meracau.

“Sumin-a.” Daehyun menutup kedua matanya rapat-rapat, tepat saat rentetan petir menyahut dan kilatan cahaya putih seakan membuat goresan pada langit mendung di luar sana. “Aku baru saja menusuk punggung seorang pria dengan cutter.”

Sumin menahan napas. Ia memandang Daehyun dengan sorot tak mengerti, namun entah mengapa gadis itu enggan menimpali. Sumin meneguk ludah lalu menyandarkan kepalanya pada bahu tegap Jung Daehyun yang basah. “Lanjutkan ceritamu.”

“Pria tolol itu menyerempet mobilku, membuat sebuah goresan panjang pada bagian pintu sebelah kanan.” Daehyun membuka matanya kemudian tersenyum sekilas. “Ia menepikan mobil, justru menudingku yang telah menyerempet mobil sportnya itu.”

Sumin terdiam. Sementara itu, Daehyun melanjutkan.

“Banci. Ia membawa antek-anteknya dan bersiap memukuliku karena mereka pikir mereka bisa menguras uangku atau bahkan membawa kabur mobilku. Namun aku mengeluarkan sebuah cutter dari dalam saku lalu menusuk punggung pria bangsat itu.”

Pada kalimat terakhir Daehyun, benar-benar pada kalimat terakhirnya Sumin menghela nafas. Gadis itu memandang Daehyun yang tampak kacau lewat sudut matanya lalu ia memeluk laki-laki itu. Membiarkan kaus katun yang ia pakai terkena basah dan dinginnya jaket kulit Daehyun.

“Daehyun,” bisik Sumin. Gadis itu menggigit bibirnya dan menahan tangisannya kuat-kuat. “Apa yang terjadi dengan ibumu?”

Tubuh Daehyun membeku di pelukannya, sementara Sumin punya alasan yang kuat mengapa gadis itu tiba-tiba bertanya tentang keadaan ibunda Daehyun. Gadis itu menutup matanya kuat-kuat. Laki-laki di pelukannya menghela nafas kemudian tersenyum getir.

“Ayah menyiksanya lagi.” Daehyun tampak mengerdikkan bahu lalu terkekeh pelan.

Sumin tahu Daehyun melebihi yang laki-laki itu sadari. Alasan mengapa emosi laki-laki itu selalu tak stabil dan mengapa ia gampang tersulut amarah. Daehyun tumbuh dan besar di keluarga yang hancur lebur. Ayahnya merupakan pengusaha tambang terbesar se-Korea Selatan sementara ibunya merupakan wanita pembangkang yang selingkuh dengan berbagai macam pria.

“Sumin-a.” Daehyun melepaskan diri dari kedua lengan Sumin yang melingkarinya erat-erat. “Maafkan aku.”

“Untuk?”

“Untuk….” Daehyun mengigit bibirnya, sementara kedua irisnya yang kelam memborbardir pertahan Sumin. Sumin menyatukan kedua alis tebalnya.

“Untuk sudah tidur—“

“Ssst,” Sumin mendesis. Tiba-tiba saja menjauh dan menggeser posisinya. Ia menolehkan kepalanya ke arah perapian yang menyala kemudian menghela nafasnya yang terasa berat.

“Aku sudah bilang, jangan ungkit-ungkit kejadian 4 hari yang lalu itu.” Sumin melipat kedua tungkai kakinya yang kurus lalu menenggelamkan kepalanya di sana. Daehyun melirik gadis itu dengan perasaan bersalah, tercermin persis di kedua irisnya yang bening. Karena kejadian itulah Sumin menghindarinya akhir-akhir ini.

“Aku kehilangan kendali—“

“Kita tidak sejauh itu,” Sumin cepat-cepat memotong lalu gadis itu tersenyum sebisanya. “Aku tidak akan hamil.”

Daehyun kembali terdiam lalu menarik riak rambutnya. Menumpahkan kekesalannya dan mengumpat berkali-kali mengapa ia bisa melakukan hal tak senonoh itu pada Sumin. Tatapannya teralih pada tangan Sumin yang tengah memutar-mutar gelombang radio dan mencari stasiun yang tepat dengan suasana hatinya.

“Bolehkah kau carikan lagu pengantar tidur?”

Sumin menoleh. Daehyun sudah berbaring lagi di sofa kemudian menutup matanya. Gadis di sebelahnya menarik nafas kemudian menurut. Tiba-tiba Daehyun berkata lagi.

“Sumin-a” Daehyun bergumam. Sumin kembali menoleh.

“Kalau kau dengar sirine polisi, bangunkan aku.” Daehyun mencari posisi nyamannya kemudian tersenyum lembut. “Aku akan menyerahkan diri.”

Dan Sumin tidak tahu mengapa hari ini ia begitu menuruti semua titah si bastard. Ia mengangguk walaupun yakin Daehyun yang telah menutup matanya tak akan melihat gerakan kepalanya yang nampak bimbang.

Beberapa minggu yang lalu Sumin bertanya pada Daehyun mengapa laki-laki itu senang sekali tidur di sofa rumahnya. Dan laki-laki itu menjawab karena rasanya seperti sedang tidur di lautan susu.

Sangat hangat.

.

.

.

10 menit kemudian sirine polisi terdengar dan membuat Daehyun refleks terbangun. Tak perlu menggedor pintu, laki-laki itu sudah membukanya sendiri dan menyerahkan tangan pada sekumpulan polisi yang bersiap untuk memborgolnya.

Sumin tidak dapat mengkategorikan pertemuan sore itu sebagai ucapan selamat datang.

Atau perpisahan.

Halooooo. Ahh rasanya udah lama banget ngga ngepost ff di sini. Mohon kritik dan sarannya! Dan kalau kalian bingung dengan alur dan ceritanya…mohon maaf akupun bingung-__- Terimakasih untuk sudah membaca!😀

Oh iya makna harafiah dari persona non grata adalah orang yang tidak diharapkan kehadirannya di suatu tempat, hehehe.

Bonus foto Baek Sumin dan Jung Daehyun!

tumblr_mukolp91VY1s97uuho1_500

daehyun

13 thoughts on “An Odd Meeting

  1. nice thor. feel nya dapet ^o^b
    cuman, sering salah baca nama ‘sumin’ jadi ‘sungmin’. jadi sedikit weird aja soalnya yg dibayangin langsung sungmin *hah, masa sungmin sama daehyun, kyuhyun ngambek dong* hhehe

  2. Kependekan thooor, aku ngarep terlalu jauh nih, hehehe
    Tapi oke siiih, usaha ngecapture satu scene buat fict ini sukses😀

  3. Baru nemu ff ini soalnya main castnya sumin hehehe *saya fans berat sumin /abaikan ‘-‘/ .. Kereen thoor’-‘ ya meskipun kependekan tapi aku suka bgt soalnya langsung jelas maksut ffnya.. Kereen^^

  4. Nyesek sekali ;;________;;

    Aku suka ini, feelnya bener2 tersampaikan, kebayang banget gimana rasanya jadi Daehyun dan Sumin, dan menurut aku ngecut-nya bener2 di tempat yg pas, gaada typo, sejauh yg aku inget ._. *plak*

    Makasih ya udah bikin ff sumin. kayak yg komen di atas, aku juga penggemar berat ulzzang satu ini ><

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s