[FF Freelance] Shadow (Chapter 1)

shadow-herayn-storyline

Title:  Shadow

Author:  herayn (@junmyeoh)

Cast:  Sehoon  Oh (Sehun of EXO-K), Soojung Jung (Krystal of f(x)), Jinri Choi (Sulli of f(x)), JunMyeon Kim (Suho of EXO-K), Sunyeong Park (Luna of f(x))

Gendre:  Sad Romance, Angst.

Rating: T

Leight:  Twoshots

Poster credit: LeeYongMi @cafeposterart.wordpress.com

A/N:  FF ini sebelumnya pernah dipost dibeberapa blog kumpulan fanfic, tapi selagi tulisan authornya masih herayn, isinya masih sama heheh. Enjoy~

Shadow (1)

 _Author’s POV_

Suara derasnya hujan menyamarkan bunyi langkah kaki seseorang yang terlihat berlari di tegah hujan.

Pria dengan rambut berwarna blonde halus bersetelan jas rapi yag kini terlihat sangat basah dan sedikit lusuh, pria tersebut tak henti-hentinya berlari dengan expresi muka datar, tak sedikitpun ia menghawatirkan air hujan yang membasahi tubuh tegapnya.

Ia terus berlari sambil membawa payung, tetapi bukannya mengenakan payung tersebut untuk melindungi tubuhnya, ia hanya menggenggam erat payung tersebut, Payung merah bermotifkan mawar merah.

Langkahnya terhenti di sebuah apartemen kecil yang bergaya rumah susun, lengkap dengan tangga di sisi luar menuju balkon disetiap kamar. Walaupun apartemen ini terbilang kecil, namun apartemen ya apartemen. Konstruksi bangunannya yang elegan dan pengamanannya yang ketat.

Pria itu –Oh Sehun- berjalan menaiki tangga, langkah kakinya lagi-lagi berhenti di balkon suatu kamar. Ia berdiri mematung di depan pintu geser kaca dengan gorden sisi dalam yang terbuka lebar membuat Oh Sehun leluasa melihat sisi dalam. Tetapi sorot matanya hanya tertuju pada satu objek, seorang wanita yang terlihat tertidur di sofa besar berwarnah merah.

Kamar tersebut terlihat sangat kacau. sampah, buku-buku, dan botol obat-obatan yang jumlahnya tak wajarpun terlihat berserakan di lantai.

10 menit… 30 menit bahkan 1 jam sudah Oh Sehun hanya diam mematung dan tak mengubah arah sorot pandangannya sama sekali. Tanpa sedikitpun Oh Sehun berusaha untuk berrteduh atau bahkan menghangatkan dirinya dari dinginnya angin hujan, Sehun terus berdiri dan memegang payung yang dibawanya erat-erat.

 “RIIING… RIIING… RIIING… “

 suara telfon rumah yang berdering memecah keheningan di kamar apartemen bernomorkan 102. Suara tersebut cukup berisik dan berhasil membangunkan setengah nyawa pemilik apartemen.

“Annyeong! Ini kediaman Jung Soojung. Aku sedang tidak ada dirumah, tinggal kan pesan setelah kau mendengar bunyi piiiip!… Ya, Soojungie! Mau sampai kapan kau tidur? Kutunggu kau dikampus ya!”

Terdengar suara mesin penjawab telfon serta pesan dari seseorang yang suaranya sangat familiar ditelinga Jung Soojung –Si pemilik Kediaman-. Kali ini suara bising itu benar-benar membuat Soojung sepenuhnya terbangun.

Perlahan Soojung mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat, Jam dinding diruang tamunya menunjukan pukul 8:23 pagi. Baru ingin beranjak dari posisi duduknya, rasa sakit yang luar biasa menyerang kepala Soojung. Sontak, ia meringis kesakitan sambil meremas kecil kulit kepalanya.

“Obat…. Harus mi.num obat..” rintih Soojung terbata sambil berlari pelan dengan sekuat tenaga menuju tempat dimana ia menyimpan setumpuk obat anti-depresinya.

Sudah hampir 1 bulan lamanya Soojung hidup menyendiri dan menderita seperti ini, semenjak trauma besar yang ia alami beberapa minggu lalu, Soojung menjadi pribadi yang sangat tertutup dan sedikit sensitive. Ia tidak perduli dengan kehidupan yang ia jalani, Soojung masih tak bisa melupakan kejadian besar penyebab trauma yang menimpa dirinya.

Soojung menenggak obat anti-depresinya sebanyak mungkin tanpa memperdulikan dosis anjuran dokter yang tertera dalam label botol obat tersebut. Tanpa sepengetahuannya, Oh Sehun terus menatap Soojung dengan rasa iba dari luar sana.

Semakin siang hujan semakin deras, Soojung tidak memperkirakan hal itu. Dan pastinya, ia lupa membawa payung. Beruntung tadi sebuah bus sedang berhenti dihalte dekat pintu utama apartemennya, jadi ia tidak perlu kehujanan sembari menunggu bus datang menjemputnya.

Tetapi bagaimana nasibnya ketika turun dari pemberhentian bus selanjutnya? Jujur saja, Soojung tidak memperdulian hal itu sama sekai. Sering kali pikirannya melayang entah kemana, bahkan saat sedang ditempat ramai.

Soojung duduk di barisan paling belakang dalam bus, ia terduduk tenang sambil menunggu pemberhentian selanjutnya, Apgujeong.

BLTAK

Soojung merasakan benda yang cukup basah jatuh di kakinya. Sebuah payung? Soojung menyeritkan alisnya.

“permisi, ini payung anda?” Tanya Soojung kepada seorang Ahjumma disebelahnya,

“Uh? Maaf, bukan.” Balas Ahjumma tersebut seraya kembali keposisinya semula.

Soojung menatap payung tersebut yang sudah ada di genggamannya. Warna dan motif payung ini sepertinya tidak asing di mata Soojung, payung merah bermotif bunga mawar merah. Tak berfikir panjang lagi, ia pun membawa payung tersebut turun bersamanya.

_Soojung’s POV_

Sepertinya bell istirahat suda berbunyi dari tadi, kelas dan lorong kampus tak terlihat ramai seperti biasanya. Setengah pikiranku baru kembali lagi ke dalam otakku.

“Soojungie~! Kajja, ayo makan dikantin” Ajak Choi Jinri begitu tiba di kelasku.

Tidak, tidak seharusnya aku menyebutnya dengan nama lengkapnya. Dia adalah sahabat baikku, harunya hanya Jinri saja kan? Pikirankupun sepenuhnya kembali, entah hal apa yang ku lamunkan selama 2 jam dosen mengajar di kelas.

“Ya, apa kau mendengar ku?” pertanyaan Jinri membuat lamunanku buyar (lagi)

“Kantin? Aku sedang tidak nafsu makan, Jinri-a” balasku basa-basi.

Aku memang tak begitu suka berada di tempat yang terlalu ramai, apa lagi dengan suara bising koki memasang ditambah bincangan kecil orang-orang disela-sela makannya.

“Jangan seperti itu, Lihat, badanmu sudah begitu kurus. Kita beli Bibimbap kesukaan mu, bagaimana” Rayu Jinri

“Sungguh, aku ditak la-“

“Apa? Iya? Baiklah! Aku yang traktir!” Ucap Jinri seenaknya sembari menarik tanggan ku keluar kelas menuju lorong.

Jinri memang type orang yang periang, sifatnya tersebut kadang-kadang membuatnya terlihat sangat childish.

Lorong kampus penghubung satu kelas dan kelas lainnya ini terlihat sangat sepi. Bahkan, hanya aku dan Jinri saja yang melintas. Kaca-kaca yang tertera disepanjang lorong terlihat berembun ditambah rintikan hujan dari luar. Sebuah bayangan seseorang terlihat dari sudut mataku. Pria yang tidak terlihat jelas bentuk wajahnya.

Langkah ku sontak terhenti, aku berusaha menengok ke tempat dimana pria tadi berdiri. Tapi nihil, sebenarnya aku tak begitu perduli. Mungking hanya salah liat.

Jinri menengok kebelakang, memandangku heran yang tertinggal dari langah kakinya.

“Soojungie…?”

“Ya, Sojjungie! Apa kau mendengarku?” Panggil Jinri terlihat sedikit kesal karna lamunan ku, Aku menggelengkan kepalaku pelan sembari berjalan mengikuti langkah Jinri yang sempat terhenti.

_Author’s POV_

Soojung dan Jinri tiba diperpustakaan kampus 15 menit yang lalu. Jam istirahat kampusnya memang lumayan panjang, sekitar 30-35 menit.

Mereka berdua duduk diam di sebuat kursi panjang di ujung perpustakaan, Jinri asyik membaca buku motivasi yang ia pilih. Dan seperti biasa, Soojung hanya diam memandang hampa novel tebalnya.

Letak kursi panjang yang berada di  ujung ruangan membuat orang yang mendudukinya dapat melihat jelas seisi perpustakaan yang sepi itu, terlihat setiap ujung barisan rak buku.

Soojung tersadar dari lamunannya lagi. Sosok pria yang sepertinya sama seperti yang ia lihat 15 menit lalu diluar lorong itu kali ini jelas terlihat oleh kedua mata Soojung, Pria tersebut seperti mengitip atau bahkan mengintai Soojung dari sisi rak buku paling pojok di ruangan tersebut.

Soojung seketika mengkerutkan alisnya ketika sosok pria yang sepertinya tau bahwa Soojung membalas tatapannya tersebut  dengan cepat bersembunyi kebalik rak yang langsung mengarah ke pintu luar perpustakaan.

Perlahan, Soojung memecah keheningan dengan memulai pembicaraan,

“Jinri-a, pengunjung diperpustakaan ini hanya kita berdua, kan?”

Jinri menurunkan bukunya sejengkal.

“Ne, dan Ms. Song, penjaga perpustakaan..”

Soojung semakin bingung tak mengerti, jelas-jelas barusan ia melihat seorang pria didalam perustakaan ini. Soojung kembali teringat suatu hal, kali ini ia harus membuang jauh-jauh sifat tertutupnya untuk member tau hal tersebut kepada Jinri.

“Jinri-a..” Tanya Soojung basa-basi.

“Apa lagi, Soojungie?”

“Apa kau tidak keberatan jika aku akan menceritakan sesuatu kepadamu?”

Jinri sedikit terkejut, ia tau betul sejak sekitar sebulan yang lalu Soojung berubah menjadi sangat tertutup kepada semua orang, sekalipun dirinya. Jinri sangat senang dan juga sangat penasaran.

“Tentu saja. Tentang apa?”

Soojung menelan air liurnya.

“Sebenarnya sudah 4 minggu ini aku merasa seperti ada yang mengikutiku. Awalnya aku hanya menganggap kalau itu hanyalah perasaanku belaka. Tetapi, semakin hari perasaan itu menjadi semakin nyata. Dimanapun dan kapanpun aku melangkah, seperti ada sepasang bola mata yang terus mengintaiku..”

“Semacam bayangan keduamu?” Tanya Jinri dengan polosnya yang larut dengan pembicaraan sahabatnya tersebut.

“Ne, semacam itu.”

“Apakah dia berbuat jahat kepadamu?”

Kali ini Soojung yang larut dalam pertanyaan Jinri. ‘Dia’? apakah mungkin benar kalau seseorang yang sedang mengintainya? Setiap saat? Beribu-ribu pertanyaan menumpuk di otak Soojung.

“Dia?”

“Ya, tentu saja, siapa lagi kalau bukan manusia, kan? Apa jangan-jangan yang mengikutimu selama ini adalah…” Goda Jinri sembari bercekikikan kecil.

Soojung hanya menghembuskan nafasnya, bisa-bisanya Jinri bercanda dalam keadaan serius seperti ini.

Seketika bell panjang berbunyi, menandakan istirahan telah usai. Sepertinya Soojung akan sibuk malam ini, masih ada setumpuk tugas yang harus diselesaikannya, hari ini ia akan pulang malam.

Oh Sehun berjalan melintasi trotoar sendirian. Payung merah yang dibawanya tadi pagi, kini tak terlihat lagi disepanjang genggaman tangannya.

Sudah hampir pukul 9 malam. Langit masih terlihat mendung, gelapnya malam bertambah kelam seiring awan mendung tebal menutupi cahaya bulan.

Mata Sehun tertuju kepada suatu toko bunga di pinggir jalan. Toko tersebut terlihat kecil nan manis, struktur yang terbuat dari rumah kayu yang kuat dilengkapi berbagai macam bunga  yang terpamang di halaman depan toko tersebut.

Tempat itu sudah tidak asing lagi dimata Sehun, ia memasuki toko tersebut.

Langkah Sehun terus melaju ketika ia keluar dari toko bunga tersebut sambil membawa seikat bunga mawar merah yang terlihat masih sangat segar.

Lagi-lagi tujuan langkah Sehun adalah sebuah apartemen yang ia datangi pagi ini, tidak, bahkan setiap pagi.

Kali ini Oh Sehun masuk lewat pintu utama, Ia menaiki lift, menyusuri setiap lorong, dan berhenti pada kamar bernomorkan 102.

Kamar tersebut terlihat sepi dan gelap, sepertinya pemiliknya sedang tidak ada dirumah. Sehun menaruh mawar yang ia beli tadi di atas karpet depan pintu masuk kamar apartemen tersebut. Oh Sehun duduk disamping pintu kamar bermaksud menunggu sampai pemilik kamar tersebut pulang.

Soojung baru saja turun dari bus, Kakinya kembali melangkah masuk menuju bangunan apartemennya. Hari ini sangat melelahkan, Tugas yang begitu banyak membuatnya tertahan di kampusnya sampai jam 11 malam.

Sesampainya di depan kamar miliknya, Soojung mencari-cari kunci apartemennya di dalam tas tangannya yang lumayan besar. Dapat, ia segera membuka pintu apartemennya.

Soojung merasa kaki kirinya menginjak benda asing di bawah karpet luar kamarnya. Mata Soojung sedikit membulat ketika ia sadar telah menginjak seikat bunga mawar merah.

Soojung segera mengambil seikat bunga mawar merah tersebut dan memperhatikan bunga tersebut dengan seksama. Masih terlihat embun di kelopaknya, bunga ini masih baru berada di depan kamarku, Batin Soojung.

Perasaannya seketika berubah menjadi kacau, Selama ini tidak ada yang pernah mengirim bunga kepada Soojung. Teman bahkan keluarganya sendiripun tak tahu kalau Soojung menyukai bunga, dan, Mawar merah? Kenapa harus bunga mawar merah? Tak pernah ada yang tau bahwa mawar merah adalah bunga faforit Soojung. Mungkin, hanya satu orang yang mengetahuinya, seseorang yang sudah lama tidak punya ikatan apa-apa lagi dengannya.

Lagi-lagi Soojung merasa sepasang bola mata terus memperhatikan dirinya. Tangan Soojung bergetar hebat. Sekuat tenaga, ia membuka mulutnya.

“Ya.. Aku tau kau masih berada disini..” Ucap Soojung sambil memejamkan kedua matanya ketakutan.

Kehadiran seseorang terasa begitu nyata berada di lorong sepi apatemen tersebut. Ingin rasanya Soojung menenggak obat anti-deprasinya banyak-banyak.

“Kumohon… keluarlah.” Lanjut Soojung

Namun nihil, orang tersebut hanya diam, sepertinya, karna Soojung tak berani melihat kearahnya. Bagaimana jika dia bermaksud jahat kepada Soojung? Atau bahkan orang asing yang selama ini membuntutinya? Soojung begitu khawatir akan hal itu.

“Siapapun kau… kumohon keluarlah, berhentilah mengganguku seperti ini..”

“..kumohon…..”

Kali ini Soojung berkata tulus dari hatinya, air mata menetes dari ujung mata indahnya. Kesabaran Soojung sudah habis, ia berlari masuk kedalam apartemennya dan membanting pintu keras-keras, melemparkan tas dan juga seikat bunga yang ia temukan tadi kesembarang arah. Ia melenyapkan dirinya ketempat tidurnya yang terlihat berantakan.

Ia tak kuasa menahan tangisnya, Mawar itu membuka memori lama yang sangat ditakutinya.

Pagi itu, matahari terlihat cerah bersinar. Begitu banyak waktu luang disela-sela libur musim panas yang akan segera berakhir ini.

Mata Soojung tertuju kepada sebuah toko bunga dipinggir trotoar yang sedang ia pijak.

Toko kecil yang terlihat begitu manis dengan banyaknya bunga-bunga indah dihalamannya tersebut mengundang berhatian Soojung.

“Kling kling kling..”

Terdengar bunyi merdu bell gantung yang berbunyi mendandakan seseorang membuka pintu tersebut.

Sebelum, Soojung tidak menyukai bunga sama sekali. Hidungnya yang sensitive akan serbuk sarilah penyebabnya. Tetapi, indahnya berbagai macam bunga ditoko tersebut membuatnya ingin berlama-lama di tempat itu.

Disisi lain toko, Seorang pria berambut blonde halus, mengenakan sweater merah tipis yang sangat serasi dengan indahnya musim panas terlihat sedang memilih berbagai macam bunga. Dilihat dari sorotan matanya, tampaknya pria tersebut memang ahli dalam hal bunga.

“Hatchi!”

Terdengar samar-samar suara bersin seorang wanita tak jauh dari tempatnya berdiri. Pria tersebut tersenyum geli dibuatnya.

“Kau alergi serbuk sari?” Tanya pria tersebut ramah.

Soojung –wanita itu- sedikit kaget, Kata-katanya tepat sasaran.

“Ah..ne….” Balas Soojung sambil berusaha menutup hidungnya

Pria tersebut tersenyum manis, dan ngambil setangkai bunga yang letaknya tak jauh dari posisi mereka berdua. Mawar merah yang begitu cantik dimata Soojung.

“kebanyakan bunga pada umumnya memilkii jumlah serbuk sari yang melimpah. Tapi bunga yang kupegang ini sedikit special, serbuk sari miliknya berjumlah sedikit dan tersembunyi didalam mahkota bunga tersebut, ambilah.” Jelasnya.

Soojung seperti merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap bunga mawar merah. Soojung tersenyum lebar menerima bunga terrsebut.

“Wah, kamsahamnida…-“ Ucap Soojung terhenti,

Pria tersebut tersenyum mengerti

“Sehun, Oh Sehun Imnida”

“Ne, kamsahamnida Sehun-ssi”

Oh Sehun.. nama tersebut langsung melekat dalam pikiran Soojung.

“Jung Soojung imnida” balas Soojung tersenyum

Keduanya terlihat larut dalam perbincangan  mengenai banyak hal didalam indahnya pemandangan toko bunga tersebut.

Soojung tertidur pulas diranjangnya setelah menangis cukup lama. Mata indahnya terlihat membengkak akibat nenangis terlalu lama. Seseorang baru saja masuk melewati jendela kecil dikamar utama tanpa membuat kegaduhan.

Tangan hangatnya menghapus airmata yang tersisa dipipi Soojung yang sedang tertidur lelap.

Merasakan sebuah benda menyentuh pipinya. Perlahan, Soojung mencoba membuka kedua matanya, lagi-lagi tak ada seorangpun dikamarnya. Mata Soojung tertuju pada jendela kamarnya yang terbuka lebar, seseorang baru saja keluar melewatinya, batin Soojung.

Dengan cepat, Soojung mengeluarkan kepalanya berusaha mencari jejak seseorang yang baru saja keluar dari kamarnya. Tetapi tak ada tanda-tanda. Putus asa, akhirnya Soojung kembali memasukan kepala dan sebagian tubuhnya kedalam dan menutup jendela tersebut rapat-rapat.

Disisi lain balkon, Oh Sehun terlihat bersender rapat pada sebuah tembok bagian luar sambil mengatur deru nafasnya yang terengah-engah.

 

_To Be Continued_

 

10 thoughts on “[FF Freelance] Shadow (Chapter 1)

  1. Wah, HunStal😄
    Aku suka ceritanya, ide ceritanya unik :3
    Aku rada binggung sih tapi, Sehun itu manusia atau hantu? Abis Soojung ga bisa ngeliat dia gitu ><
    Penasaran sama hubungannya Se-Jung😄 next part ditunggu!😀

    • mungkin ya? tapi overall beda jauh kok^^
      flower boy next door itu romance comedy kan? kalo ini gendrenya full angst heheh. mungkin lebih jelasnya lagi di chapt selanjutnya, keep wait ya^^

  2. Akkkhhh penasaran kisah soojung dan sehun, kenapa sehun seperti bayangan atau manusia asli??? Trs kejadian yg membuat soojung trauma, pkokknya good ff deh. Next chapter ya chingu, jgn lama2 (’⌣’)ƗƗe̲̅e̲̅ƗƗe̲̅e̲̅(’⌣’)….🙂

  3. penasaran bgt sma hubngan krystal dg sehun .
    sehun it knpa ngikuti kle kyak gtu , knpa gak langsung aja muncul d dpan.a ?
    sehun suka krystal pasti , ato dy cma pngen jdi pengagum rahasia ?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s