[FF Freelance] The Sweet Hate (Part 5)

the sweet hate poster 2Judul: The Sweet Hate (part 5)

Author: FZ

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Genre: Romantic, Friendship, Family, Comedy (?)

Main Cast: – Park Chanyeol (EXO)

–          Jang Hye-eun

Disclaimer: FF gagal (-_-) yang pernah dipost di wordpress pribadi >> allfictionstrory.wordpress.com dengan cast berbeda. FF ini udah lama dibuat dan masih belum mendapat perbaikan yang layak. Semoga gak pada ilfeel sama jalan ceritanya J just enjoy the show kkk~

Previous: Part 1Part 2Part 3, Part 4,

PART 5

Hye-eun merasa gelisah. Malam ini ia tidak bisa tidur. Ia terus berguling-guling di kasurnya, mencoba mencari posisi yang membuatnya nyaman, namun itu tidak berhasil. Ia pun mengcak-acak sprei dan silimutnya. Sampai akhirnya, ia bangun dan menyalakan televisi di kamarnya.

Jam sudah menunjukan pukul tiga pagi, Hye-eun tetap tidak bisa tidur. Kantung matanya mulai menghintam. Ia terus menimbang-nimbang ponsel di tangannya, di dalam pikirannya, ia ingin menelepon Chanyeol. Tapi…. Bruuk …. Hye-eun tertidur juga dengan posisi tengkurap di lantai.

Pagi hari, di sekolah.

“Hye-eun. Kau sakit?” tanya Jinri ke Hye-eun yang sedang memendamkan wajahnya di tangan, di atas meja, di kelas.

“Mmm.. aku hanya kurang tidur,” jawab Hye-eun, masih dalam posisi itu.

Jinri memegang leher belakang Hye-eun. “Hye-eun, badanmu panas sekali!”

Mwo?” Hye-eun terbangun. Dan… Bruuk.Hye-eun rubuh, dan jatuh ke lantai.

Hye-eun membuka matanya perlahan. Di kamarku?

Ponsel Hye-eun langsung berdering, setelah ia duduk di kasurnya. Dia berharap, bukan Chanyeol yang meneleponnya. Ternyata dari Baekhyun. Perasaannya kecewa tapi senang.

“HYE-EUN, KENAPA DARITADI KAU TIDAK MENGANGKAT PONSELMU!!!” teriak Baekhyun.

“Bisakah seobae memelankan suaramu!” pinta Hye-eun sambil memegangi daun telinganya. “Seonbae tidak bisa menghargai orang yang sedang sakit?”

“Kau sakit?” tanya Baekhyun, mulai tenang.

“Sepertinya begitu. Kepalaku pusing, dan ingusku terus keluar. Mungkin aku terkena flu.”

“Sampai segitukah, kau merindukan dia?”

“Siapa yang merindukan siapa?” kata Hye-eun kesal, lalu terbatuk-batuk.

“Lebih baik kau bertemu dengannya, daripada kau mati nantinya,” saran Baekhyun.

Seonbae aku ingin menanyakan sesuatu,” kata Hye-eun hati-hati. “A-apa tanda seseorang sedang jatuh cinta?”

Baekhyun tertawa. “Kau lucu sekali, Hye-eun. Itu saja kau tidak tahu,”

Hye-eun tidak menjawab.

“Baiklah, kita mulai. Yang pertama kau akan merasa gugup bila kau dekat dengannya ataupun kau sedang bicara padanya. Lalu kau selalu terbanyang wajahnya, suaranya, maupun tingkah lakunya. Dan kalau dia sedang pergi, kau akan merasa gelisah, bahkan sampai sakit,” ucap Baekhyun seperti puitis, tapi dengan nada mengejek Hye-eun.

Deg. Semua itu telah Hye-eun alami.

Geurae. Gomapda,” kata Hye-eun jengkel, kerena tahu ia sedang diejek Baekhyun. Setelah Hye-eun selesai bicara dengan Baekhyun, ponsel-nya berdering lagi. Dasar zebra cross. Tapi, kali ini bukan Baekhyun, tapi Chanyeol. Hye-eun menelan ludah.

Yeo-yeobseyo,” sapa Hye-eun.

“Hye-eun bagaimana keadaanmu? kau sudah baikan? panasmu sudah turun? bagaimana dengan kepalamu? Hye-eun?” Chanyeol terus menyerocos.

“Chanyeol.. Chanyeol tenang, aku sudah baikan,” jawab Hye-eun.

“Maaf aku baru bisa meneleponmu. Sedaritadi Kyungsoo menyita ponsel-ku. Katanya, agar aku konsen ke syuting.”

“Tidak apa-apa,” jawab Hye-eun. Suasana tiba-tiba hening.

Mereka mengucapkan kalimat bersamaan. “Hye-eun,” “Chanyeol,”

“Baiklah kau duluan,” kata Hye-eun.

“Kau saja,”

“Okey,” Hye-eun menghela nafas. “A-apa kau punya waktu luang? a-aku ingin… bertemu. Tapi kalau kau tidak bisa, tak usah memaksakan diri.”

“Aku akan berusaha meluangkan waktu untukmu,” jawab Chanyeol.

Hati Hye-eun melonjak girang. “Baiklah. Lusa, aku akan menunggumu di pantai, jam tujuh malam.”

“Apa?! kau mau kita bertemu di pantai? ini musim dingin, Hye-eun.”

“Aku tahu,” jawab Hye-eun lemas. “Sebenarnya aku ingin sekali ke sana. Tapi, kalau kau tidak bisa, ya sudah terserah kau mau di mana.”

Chanyeol tersenyum. “Baiklah baiklah. Tapi aku mau melihatmu memakai jaket yang saaaaaangat tebal. Aku tidak mau melihatmu kedinginan lagi.”

“Baiklah, sampai bertemu lusa.”

Lusa, di pantai.

Hye-eun sedang duduk di pasir pantai yang berwarna putih. Suasana di sana lumayan sepi. Well, mana mau orang ke pantai pada musim dingin. Walaupun udara di sana sangat dingin, dan angin laut yang tak segan-segan menampar wajahnya dengan hembusannya itu, Hye-eun tetap menunggu Chanyeol. Sesekali ia melihat jam tangannya. Waktu terasa berjalan begitu lama, pikirnya. Ia pun merapatkan jaket yang dipakainya. Ternyata kali ini ia menuruti perintah Chanyeol untuk memakai jaket yang tebal. Selain menggunakan jaket, ia juga menggunakan dua sweeter.

Seseorang memasang headphone di telinga Hye-eun, yang sedang duduk. Dari headphone tersebut, terdengar suara Avril Lavigne, dengan lagu I’m with you-nya.

 

It’s a damn cold night,
Tryin to figure out this life,
Won’t you take me by the hand, take me somewhere new,
I don’t know who you are, but I,
I’m with you
I’m with you umm…

 

Hye-eun langsung menoleh ke pemberi headphone itu, lalu tersenyum. “Harusnya aku yang bilang begini,” kata Hye-eun.

Chanyeol pun duduk di sebelahnya. “Maaf, membuatmu menunggu dan….. menunggu,” kata Chanyeol, sambil memeluk kakinya di depan dada.

Hye-eun melepas headphone tersebut, lalu mengalungkannya di leher. Ia mengikuti cara duduk Chanyeol.

“Kau masih kedinginan?” tanya Chanyeol, sambil menoleh ke Hye-eun. “Sudah kubilang kau harus pakai jaket yang tebal.”

“Aku sudah menggunakan dua sweeter, kaos, kemeja, serta jaket ini,” ucap Hye-eun lugu sambil menunjukan jaket yang dikenakannya.

Chanyeol tertawa ringan. Ia menggeser tubuhnya ke dekat Hye-eun, lalu melingkarkan tangannya ke pundak Hye-eun. “Kalau begini? kau sudah merasa hangat?”

Wajah Hye-eun memerah. Kali ini, bukan hanya hangat yang dirasakannya, tapi panas di seluruh tubuhnya. Mulai dari kepalanya hingga ujung kakinya. Bahkan dalam udara sedingin ini, ia masih merasa panas dalam posisi tersebut. Ia merasakan hembusan nafas Chanyeol di telinganya. Begitu jelas. Hingga ia tidak berani menoleh ke Chanyeol, yang berada di sampingnya. Atau lebih tepatnya, menempel dengannya.

“Cha-Chanyeol, b-bagaimana pekerjaanmu?” tanya Hye-eun, mencoba menghilangkan rasa gugupnya.

“Pekerjaanku?” Chanyeol tidak mengubah posisinya, dan siap mengeluarkan rayuan gombalnya. “Seperti biasa, sibuk dan membosankan. Kadang aku pun membolos, dan seperti biasa, Kyungsoo mengoceh seharian kepadaku. Tapi kau tidak pernah absen di hari-hariku,”

Sial! kenapa dia selalu membuat hatiku terus-terusan seperti ini? tanya Hye-eun dalam hatinya.

“Bagaimana denganmu?” tanya Chanyeol, sambil mengubah posisinya seperti awal.

“Hariku biasa saja, tidak ada yang special. Kau pun sering absen di mimpiku,” goda Hye-eun, sambil membuang muka dari Chanyeol.

“Kau sungguh setan berwajah bidadari, Hye-eun,”

Hye-eun tersenyum ke Chanyeol. Begitu juga dengan Chanyeol.

Tiba-tiba suasana di sana menjadi sepi, benar-benar sepi. Hanya terdengar deburan ombak dan angin laut yang berhembus lembut—tidak seperti tadi. Tidak ada seorang pun di sana, kecuali mereka berdua. Angin pantai yang menusuk sampai ke tulang tidak membuat mereka untuk melewatkan kesempatan untuk berdua ini.

Kemudian, Chanyeol mendekatkan wajahnya ke Hye-eun. Hye-eun pun mulai menutup mata, tidak berani mengintip sedikitpun. Sedikit demi sedikit wajah Chanyeol mendekat. Tiba-tiba hidung Hye-eun terasa gatal dan ……. Hattchhhiiiii…. Hye-eun bersin tepat di wajah Chanyeol. Untung ingus Hye-eun tidak keluar, tapi percikan air liur Hye-eun pasti mengenai Chanyeol.

Hye-eun langsung menjauhkan wajahnya, dan berbalik sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

Mianhae,” kata Hye-eun, masih memunggungi Chanyeol.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Ini salahku.”

Hye-eun hanya menunduk.

“Hye-eun,” Chanyeol menyentuh lembut kedua pipi Hye-eun dengan kedua telapak tangannya yang tidak menggunakan sarung tangan. Ia pun terkejut. “Kau sedang demam? kenapa kau kemari?”

“Aku sangat ingin menemuimu,” Hye-eun masih tertunduk. “Maaf sudah membohongimu.” Kata Hye-eun kemudian pingsan.

@@@

Hye-eun mulai membuka matanya. Kepalanya masih terasa pening, pandangannya pun belum fokus. Karena sudah pegal dengan posisi tersebut, Vw membalikan tubuhnya ke kanan. Dan …..

“Waaaaaaaaaaa ….” Hye-eun berteriak, melihat seseorang tidur di sisi tempat tidurnya.

Orang itu pun bangun dengan wajah panik. “Ada apa ada apa,” ucapnya gelagapan. Ia pun menoleh ke Hye-eun. “Kau sudah bangun rupanya.”

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hye-eun kasar yang sudah duduk di tempat tidurnya, sambil memeluk selimut yang tadi menyelimutinya.

“A-aku mengantarkanmu pulang. Tadi malam kau demam hingga pingsan. Jadi aku mengantarkanmu ke sini.”

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Hari ini aku minta libur dulu. Aku kan harus menjagamu hingga benar-benar sembuh,” kata Chanyeol sambil tersenyum. “Sepertinya, pacarku menderita penyakit missingfever.”

Missingfever? apa itu?”

“Penyakit yang timbul karena kau merindukan seseorang. Dan seseorang itu adalah AKU,” Chanyeol menjawab dengan pedenya.

Hye-eun mulai tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya. Mungkin kalau tidak ia tahan sedikit, ia akan pingsan lagi. “A-apaan kau!” Hye-eun melemparkan sebuah bantal ke arah Chanyeol sambil tersenyum, dan Chanyeol menangkapnya.

Siang hari, di ruang keluarga.

Suasana di sana cukup sepi, karena Eomma, Appa dan Hyesung sedang mengungsi di rumah keluarga Park, pastinya ini ide Tuan Park dan istrinya. Cahaya di ruangan itu hanya dihasilkan dari tiga lampu kuning yang tidak besar dan perapian. Semua benda di sana terlihat berwarna tembaga, karena pantulan cahaya lampu.

Chanyeol duduk di sofa belakang, yang letaknya cukup jauh dari perapian sambil memainkan I-padnya. Sedangkan Hye-eun duduk di sofa, dekat dengan perapian.

“Kau bisa kembali syuting sekarang. Aku sudah baikan kok,” kata Hye-eun, dengan pakaian tebalnya, dan memegang coklat panas di tangannya.

“Hanya baikan saja?” Chanyeol yang duduk agak jauh dengan Hye-eun, mulai mendekat dan duduk di sebelahnya dan merangkulnya. “Aku menginginkan kau sembuh total.”

Hye-eun menoleh ke Chanyeol. Mungkin saja, wajah merahnya akan ketahuan Chanyeol, atau mungkin Chanyeol melihat wajah Hye-eun yang terkena pantual cahaya dari perapian, tapi dia tetap mengambil resiko itu. “Tapi ….”

Chanyeol meletakan jari telunjuknya di bibir Hye-eun, hingga Hye-eun terdiam. “Ssstt….Jangan pernah membantah perintahku. Ini kan demi kebaikanmu.”

Chanyeol menurunkan telunjuknya dari bibir Hye-eun, menuju dagu Hye-eun. Kemudian ia mengangkat dagu Hye-eun, dan membawanya mendekat ke arahnya. Ia memiringkan kepalanya, lalu mencium bibir Hye-eun.

Hye-eun merasakan kehangatan di bibirnya, meskipun ia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah Chanyeol melepaskan ciumannya, Hye-eun hanya terdiam tanpa mengucapkan apa-apa, dan terus memandangi wajah Hye-eun. Dia tidak tahu apa yang dirasakannya. Apakah dia harus kecewa, menangis, marah, atau malah meloncat kegirangan. Dia hanya bisa diam kaku ketika Chanyeol memeluknya lagi.

@@@

            Di bandara.

Hari ini Chanyeol kembali ke Jeju untuk syuting. Awalnya, Chanyeol tidak mau kembali lagi ke sana dan membatalkan syutingnya. Bahkan Chanyeol juga berniat meninggalkan statusnya sebagai ‘superstar baru’ dan tetap berada bersama Hye-eun.

Hye-eun yang sudah sembuh total dari kemarin, juga ikut mengantarkan Chanyeol ke bandara bersama Hyesung, keluarganya dan keluarga Park. Sebenarnya Hye-eun sangat berat meninggalkan Chanyeol lagi, tapi ini ia lakukan juga demi kebaikan Chanyeol.

Panggilan pesawat yang akan ditumpangi Chanyeol, pun terdengar. Chanyeol pamit kepada keluarganya dan keluarga Hye-eun.

“Mm..” Chanyeol terdiam sejenak ketika berada di hadapan Hye-eun. “Ka-kau jangan sampai sakit lagi ya! dan jangan lupa makan yang banyak, tidur yang cukup, dan kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku. Aku akan meluangkan waktu untukmu. Oh iya, kalau nomorku tidak bisa dihubungi kau bisa menghubungi nomor Kyungsoo atau …..”

“Chanyeol.. Chanyeol,” Hye-eun memperingatkan Chanyeol yang terus menyerocos di depannya. “Aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku.”

Chanyeol mengambil kecil berwarna merah muda dengan pita berwarna merah hati dari kantong mantelnya. Ternyata isinya adalah sebuah kalung perak dengan bandul kepala babi. Dia mengalungkan kalung tersebut di leher Hye-eun.      “Babi?” tanya Hye-eun kesal bercampur bingung. “Kenapa harus babi? Kau mau mengejekku hah?!”

Chanyeol menangkup pipi Hye-eun. “Karena kau adalah babi gendutku. Hyeon-ku.” Kemudian ia mengacak rambut Hye-eun. “Hah sudahlah… kau harus menjaganya, ya! jangan sampai hilang!”

Hye-eun tersenyum dan memandangi kalung tersebut. “Apakah ini perintah?” tanya Hye-eun.

Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sebenarnya iya,” jawabnya malu-malu.

Panggilan terakhir untuk pesawat yang akan ditumpangi Chanyeol kembali berbunyi. Chanyeol segera pergi dari sana. Setelah beberapa langkah ia melangkah, ia pun kembali lagi ke Hye-eun dan mencium kening Hye-eun.

Klik..

Seorang gadis yang memakai topi baseball hitam, jaket kulit dengan kaos putih dan celana jeans serta membawa tas selempang sedang, memotret adegan antara Chanyeol dengan Hye-eun. Ia tersenyum sinis sekalian penuh kemenangan setelah melihat hasil potretnya. Ia pun mengambil beberapa foto lagi, kali ini dia mendekatkan fokus kameranya ke arah Hye-eun. Dan lagi-lagi ia tersenyum puas dengan hasilnya.

Di sebuah restoran, yang terdapat beberapa sekatan untuk setiap meja di bagian pojok-pojok restoran. Restoran itu terlihat hangat sekali. Dindingnya dibuat menyerupai tumpukan batu bata. Lampu gantungnya pun terlihat indah namun sederhana. Terlihat dengan jelas suasana di jalan besar, depan restoran, karena kaca besar di setiap sisi restoran.

Seseorang menurunkan tabloid yang sedang dibacanya. “Ini tidak bisa dibiarkan!” ucap Eunjung kesal sambil melebarkan tabloid itu di meja. “C-Chanyeol dan H-Hye-eun… argghh…” dia menunjuk-nunjuk foto di tabloid itu.

Hyomin dan Jiyeon ikut melihat.

“Ini sudah keterlaluan, Jung,” kata Jiyeon.

Eunjung melengos, menatap jendela, sesaat kemudian ia melihat seorang gadis yang memakai topi serta jaket yang menutupi sebagian wajahnya turun dari mobil bersama seorang pria yang ia kenal. Mereka berjalan menuju restoran tersebut sambil menunduk, dan akhirnya masuk.

Apa!? bukankah mereka sudah putus? batin Eunjung.

Ya! lihat itu!” bisik Hyomin sambil menunjuk dengan gerakan kepala.

“Aku tahu,” kata Eunjung juga berbisik.

Gadis dan pria itu berjalan melewati bangku Eunjung dkk. Eunjung menutupi wajah mereka dengan menu. Gadis itu pun duduk di meja di sebelah meja Eunjung dkk yang hanya dipisahkan sekatan.

“Kau pesan apa, Hye-eun?” tanya Baekhyun sambil membaca menu.

“Terserah,” jawab Hye-eun datar.

Akhirnya Baekhyun memesan dua porsi spaghetti saus jamur dan dua orange jus hangat. Pelayan itu pun pergi dari meja Hye-eun dan Baekhyun.

“Aku jadi harus melakukan penyamaran ekstra gara-gara ini,” kata Hye-eun masih memalingkan wajahnya dari orang-orang.

“Bukankah, dulu kau malah menginginkan hal ini terjadi?” ledek Baekhyun.

“Tapi sekarang aku sangat ketakutan, seonbae,”

Eunjung terus menguping pembicaraan Hye-eun dengan Baekhyun.

Wae? apa karena kau benar-benar mencintainya?” Baekhyun terkekeh.

Hye-eun memukul kepala Baekhyun dengan buku menu. “Kenapa seonbae selalu mengatakan itu? sudah kubilang ini hanya misiku untuk membalas dendam padanya, aku tidak akan berbuat sejauh itu.”

“Bagaimana kalau yang aku bilang jadi kenyataan?”

“Tidak akan.”

“Ya.”

“Tidak.”

“Ya sudahlah terserahmu,” Baekhyun menyerah, ia menyenderkan badannya di senderan kursi. “Tapi langkahmu sudah terlalu jauh, Hye-eun.”

“Aku tidak akan berhenti sampai ia berlutut di hadapanku, dan merasakan semua yang ia perbuat kepadaku dulu. Ingat, SEMUA!” kata Hye-eun mantap.

Eunjung tersenyum licik.

@@@

            Baekhyun sedang menonton film di kamarnya, atau lebih tepatnya di dalam rumah ahjumma-nya, sambil sibuk berkeprak-keprik dengan popcorn di hadapannya. Terkadang ia melihat ponsel-nya, berharap Hye-eun mengusir kesepian di rumah itu.

Tiba-tiba Hye-eun masuk ke kamar Baekhyun tanpa mengetuk atau mengucap salam. Ia menggebrak pintu itu, dan langsung berdiri di hadapan Baekhyun. Baekhyun kaget, ia menjatuhkan semua popcorn-nya.

Seonbae!” kata Hye-eun sedikit keras.

“Bisakah kau mengetuk dulu,” kata Baekhyun kesal, sambil memunguti popcorn yang jatuh.

Seonbae tolong aku,” Hye-eun memegang tangan Baekhyun.

Waeyo? apa para wartawan itu mengganggumu?” Baekhyun masih kesal—masih memunguti popcorn. Lalu ia menjilati tangannya sendiri, membuat Hye-eun meringis jijik.

Hye-eun menggeleng.

“Lalu?”

“A-aku..” Hye-eun tergagap. “A-aku mengakuinya. Aku benar-benar tidak tahan.”

Baekhyun menaikan sebelah alisnya. “Maksudmu?”

“AKU JATUH CINTA PADA LOLLIPOP!!!!” teriak Hye-eun.

Baekhyun menjauhkan dirinya dari Hye-eun, lalu tertawa. “Sudah kubilang.”

“Jangan mentertawaiku!” kata Hye-eun hampir menangis. “Lalu aku harus berbuat apa?”

“Kau harus membatalkan misimu,” kata Baekhyun dengan wajah sok  bijaknya.

@@@

Di sekolah.

Hari ini, hari terakhir masuk sekolah karena akan diadakan liburan musim dingin. Para siswa sibuk dengan rencana musim dingin mereka, dan persiapan menyambut natal. Walaupun tahun ini adalah musim dingin yang lumayan buruk, tidak ada yang menghalangi semangat liburan mereka.

Chanyeol juga sudah masuk ke sekolah. Sehun dan Luhan langsung menyapa Chanyeol dan membawanya berkeliling sebentar. Siswa-siswi sekolah tersebut pun sibuk mengerubungi Chanyeol untuk menanyakan syutingnya dan … tentu saja tentang gosip antara dia dengan Hye-eun yang membuat heboh. Untung saja pihak sekolah melarang para wartawan masuk ke lingkungan sekolah untuk meliput Chanyeol. Tapi, Chanyeol hanya menanggapi hal itu dengan tenang.

Begitu Hye-eun melewati Chanyeol dengan penyamarannya, Chanyeol langsung menarik lengan Hye-eun, sepertinya ia sudah tahu kalau itu Hye-eun. Ia pun membawa Hye-eun dalam rangkulannya, menundukkan Hye-eun seperti polisi yang sedang membawa tahanan dari TKP, dan membawa pergi Hye-eun dari keramaian.

Annyeong, bagaimana kabarmu?” tanya Chanyeol masih merangkul dan berjalan dengan setengah berbisik di telinga Hye-eun.

“B-bagaimana kau tahu, kalau ini aku?” Hye-eun balik bertanya, masih tidak berani menatap Chanyeol.

“Instingku sangat tajam untuk mengetahui keberadaanmu, aku kan punya GPS” ucap Chanyeol sambil tertawa ringan, hingga membuat Hye-eun menyemburatkan rona merah di pipinya. “Kenapa kau tidak menjemputku?”

“Para wartawan itu gila!” adu Hye-eun menoleh ke Chanyeol. Chanyeol hanya terkekeh, hingga membuat Hye-eun melanjutkan. “Kenapa kau tidak berbicara pada mereka, sih, kalau mau bertanya padamu saja. Jadi aku tidak perlu bersembunyi di rumah terus akhir-akhir ini, dan tidak bermain salju di luar bersama Sungho.”

“Sungho?”

“Dia pacar baruku,” jawab Hye-eun cuek. “Kenapa? kau cemburu ”

“Tidak,” jawab Chanyeol tanpa memandang Hye-eun dengan nada pura-pura meyakinkan. “Itu bagus kan?”

Hye-eun hanya cemberut. Dengan gemas, Chanyeol mencubit pipi Hye-eun.

Di koridor, Hye-eun dan Chanyeol bertemu dengan Eunjung dan Jiyeon, hingga mereka semua menghentikan langkah mereka. Eunjung langsung menatap tajam Hye-eun yang masih berada di rangkulan Chanyeol.

Sesaat kemudian, terdengar suara dari speaker. Biasanya, akan di mainkan lagu-lagu saat jam istirahat dari klub radio sekolah. Mungkin karena ini hari terakhir sekolah, maka jam di tayangkan waktu diubah.

“Baiklah para siswa ‘Kyungmoon Seoul High School’, hari ini akan kami putarkan music special untuk hari terakhir sekolah,” terdengar suara Hyomin dari speaker. “Musik ini khusus dipersembahkan dari Jang Hye-eun.”

Aku? Hye-eun bingung sendiri. Ia merasa tidak pernah me-request lagu di klub radio sekolah.

“Kau request lagu?” tanya Chanyeol.

Hye-eun menggeleng sambil memasang wajah bingung.

“Ini memang lagumu, Hye-eun,” kata Eunjung sambil tertawa licik.

Kemudian mulai diputarkan lagu tersebut. Sayangnya bukan lagu yang indah, melainkan rekaman pembicaraan Hye-eun dengan Baekhyun beberapa hari yang lalu. Ternyata saat itu Eunjung merekam semua pembicaraan mereka, untuk memalukan Hye-eun di depan Chanyeol.

Sejenak para siswa yang ada di sekolah tersebut diam, sibuk mendengar isi pembicaraan tersebut. Bahkan para guru pun tidak ketinggalan. Chanyeol yang mendengar itu hanya memasang wajah tak percaya.

Begitu juga dengan Hye-eun. Dia pun tak percaya kalau yang sedang diputar itu suaranya. Dalam hatinya, Hye-eun ingin menangis. Dia tidak mau Chanyeol mengetahui semuanya.

“Hye-eun, itu bohong kan? itu bukan suaramu? Hye-eun?” Chanyeol bertanya dengan pertanyaan bertubi-tubi kepada Hye-eun, sambil mencoba tertawa. Tapi yang terjadi, Chanyeol mengeluarkan senyum pahitnya.

Hye-eun hanya tertunduk. Sungguh ia ingin menangis, mengatakan bahwa itu tidak benar. Tapi, saat ia menyadari Eunjung di dekatnya, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia pun mengangkat wajahnya, memasang ekspresi dingin. “Ya, itu benar.” Ia pun terseyum pahit. “Itu suaraku.” Suaranya mulai bergetar.

“Hye-eun!” Chanyeol membentak Hye-eun. “Katakan yang sebenarnya!!”

“Itu yang sebenarnya, Chanyeol!” Hye-eun tak mau kalah, ia membentak Chanyeol. “Semua yang kau dengar itu benar. Aku melakukan ini hanya untuk balas dendam padamu. Dan.. dan sesungguhnya aku tidak mencintaimu,” dalam hatinya, ia mulai menangis. “Awalnya, aku akan memberitahumu sendiri. Tapi karena kau sudah mengetahui terlebih dahulu, ya…. Sudahlah, itu membantu sedikit pekerjaanku.” Kata Hye-eun sinis.

Chanyeol hanya memandangi Hye-eun tak percaya.

Hye-eun pun berbalik, memunggungi Chanyeol. “Terima kasih atas bantuanmu selama ini,” ia berjalan menjauhi Chanyeol.

Eunjung tersenyum puas.

Sedangkan Hye-eun menangis terisak, mencoba tidak mengeluarkan suara tangis. Ia menyekap mulutnya sambil terus terisak dan terus berjalan. Chanyeol masih memandangi punggung Hye-eun, sampai akhirnya menghilang ketika Hye-eun belok di ujung koridor.

@@@

Sudah seminggu setelah kejadian itu. Chanyeol dan Hye-eun tidak saling menyapa sejak itu. Tatapan tidak senang ke arah Hye-eun juga mulai berkurang. Well, walaupun sudah liburan, tetap saja teman sekolah Hye-eun yang tinggal di dekatnya, bisa menatap tajam ke Hye-eun sepuasnya. Semua kembali ke keadaan normal—umumnya, kecuali bagian Hye-eun dan Chanyeol.

Hye-eun masih belum mengakui kalau ia menyukai Chanyeol. Ia tidak bisa jujur setelah ia melukai Chanyeol. Sama sekali. Bahkan untuk mengatakan ‘annyeong’ saat mereka bertemu di acara pertemuan keluarga Park dan Jang pun sangat sulit, lidahnya terasa sangat kaku.

Dan.. sebenarnya, Chanyeol belum percaya penuh dengan apa yang ia dengar seminggu yang lalu. Ia pernah menelepon Baekhyun untuk minta penjelasan. Tapi yang ia dapat, jawaban yang sama dengan Hye-eun. Jelas, karena Hye-eun meminta Baekhyun untuk merahasiakan pengakuannya. Awalnya Baekhyun menolak untuk ikut campur lagi, dan sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Chanyeol, tapi apa boleh buat. Dia lakukan itu demi sahabatnya.

“Kenapa kau tidak bilang sejujurnya, Hye-eun. Ini sangat menyiksamu, kan?” kata Baekhyun penuh kecemasan, saat ia bertemu dengan Hye-eun di kafe. Baekhyun melihat wajah Hye-eun tidak secerah dulu lagi. Malah ia melihat lingkaran hitam di sekitar mata Hye-eun, dan wajah putih Hye-eun bertambah pucat. Mata abu-abu Hye-eun yang dulu sering berkilat atau bahkan terlihat indah bagi Baekhyun, kini terlihat sangat lelah.

Hye-eun hanya menggeleng lemas.

“Lalu sampai kapan kau seperti ini?” tanya Baekhyun sedikit keras.

“Sudahlah, seonbae, nan gwaenchanhayo,” Hye-eun menenangkan Baekhyun. Padahal dirinyalah yang harus ditenangkan dan dihibur.

“Kenapa kau selalu bilang ‘tidak apa-apa’, sih? ini sudah tidak apa-apa lagi, Hyeon.” Tidak sengaja Baekhyun menggunakan nama kecil Hye-eun yang sering digunakan Chanyeol dulu.

Hye-eun tertunduk. Sesaat kemudian ia mulai mengeluarkan benda cair bening dari matanya. Ia pun menelungkupkan tangannya di wajahnya.

Baekhyun langsung panik. “H-Hye-eun.. maaf kalau perkataanku menyakitkan.”

Hye-eun menggeleng. “Sudahlah, ini bukan salahmu.”

Baekhyun mendekat ke Hye-eun. Ia mencoba menurunkan tangan Hye-eun, dan menghapus airmatanya. Namun baru Baekhyun menyentuhnya, ia langsung kaget. “Hye-eun, badanmu panas sekali!” ia memekik.

Wajah Hye-eun memerah, dan matanya bengkak. “Antar aku pulang, Baekhyun,” pintanya. Baekhyun pun memenuhinya.

Sejak hari itu, Hye-eun benar-benar sakit. Empat hari demam Hye-eun tak kunjung turun. Ya … walaupun pernah kembali normal, tapi malamnya pasti naik lagi. Nyonya Jang, Tuan Jang, dan Hyesung sangat khawatir dengan keadaan Hye-eun. Bahkan keluarga Park pun juga khawatir. Terlebih Chanyeol, yang sekarang sedang berada di Busan. Ia sedang melakukan wawancara oleh majalah lokal di sana. Sekalian ia sedang tur untuk mempromosikan film terbarunya bersama yang lain. Chanyeol ingin sekali menjenguk Hye-eun. Tapi akibat pembicaraan Hye-eun dan Baekhyun yang ia dengar waktu itu, hingga ia mengurungkan niatnya.

Ponsel Hye-eun berdering.

“Ya, kenapa, seonbae?” tanya Hye-eun lemas.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Baekhyun.

“Berada di antara baik-baik saja dan tidak baik-baik saja.”

“Lebih baik kau jujur saja padanya, Hye-eun. Kau bicara padanya, bahwa kau ingin menemuinya. Ini demi kebaikanmu juga,” pinta Baekhyun.

“Ini bukan gara-gara hal itu, seonbae. Mungkin aku hanya demam biasa. Kau tahu kan, udara di luar sangat tidak bagus,” kata Hye-eun mencoba terdengar gembira.

“Apa kau bodoh??? ini bukan gara-gara udara di luar!! kau harus menemui Lollipop!!!” bentak Baekhyun, hingga Hye-eun menjauhkan telinganya dari ponsel. Baekhyun pun menenangkan suaranya. “Ini juga untuk kebaikanmu, Hye-eun.”

Hye-eun terdiam sejenak. “Seonbae, aku harus istirahat. Kita bicara  nanti.” Hye-eun memutuskan panggilan.

Baekhyun mengetahui kalau keadaan Hye-eun tidak juga membaik. Makanya, hari ini dia memutuskan untuk menjenguk Hye-eun langsung. Begitu sampai di rumah Hye-eun, Baekhyun langsung mendapat tidak suka dari keluarganya. Mungkin karena Baekhyun memiliki wajah yang tak kalah dari Chanyeol, keluarga Hye-eun menaruh prasangka buruk antara Hye-eun dan Baekhyun.

Hye-eun terbaring lemas di tempat tidur. Wajahnya pucat dan badannya kurus, sebagian tubuhnya ditutupi selimut tebal, pipinya yang tembam sudah melai mengempot. Ia menatap Baekhyun dengan tatapan kosong.

Baekhyun menghampiri Hye-eun perlahan.

“Hai, seonbae,” sapa Hye-eun serak dan lemah.

“Hye-eun,” Baekhyun mentap Hye-eun iba. “Sebegitu menderitakah kau, sampai seperti ini?” Baekhyun duduk di samping tempat tidur Hye-eun.

Hye-eun memaksa senyum. “Aku akan sembuh kok.”

Baekhyun menghela nafas. “Apa harus aku yang bilang?” tanya Baekhyun pelan.

“Tidak! kau tidak boleh bilang!” Hye-eun menaikan nada suaranya, sampai akhirnya ia terbatuk-batuk.

“Lihat dirimu, Hye-eun. Ka-kau.. sudah.. ahh…” Baekhyun tidak melanjutkan kalimatnya, takut Hye-eun tersinggung. Ia pun mangalihkan pembicaraan. “Besok aku akan kembali ke LA, ke rumah orangtuaku. Mereka bilang, ingin merayakan natal bersamaku.”

“Aku akan mengantarmu ke bandara besok.”

“Tidak perlu memaksa, Hye-eun. Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa.”

Hye-eun menggeleng. “Tidak, aku akan mengantarmu.”

Baekhyun pun pasrah dan bangun dari duduknya. Ia menatap Hye-eun. “Aku hanya ingin mengatakan itu. cepat sembuh ya..”

Hye-eun tersenyum.

Baekhyun pun keluar dari kamar Hye-eun.

@@@

            “Kau belum sembuh benar, sudah mengantarku ke bandara,” gerutu Baekhyun saat ia berjalan bersama Hye-eun menuju pesawat. “Untung orangtuamu tidak membunuhku.”

“Sudahlah, jangan merasa bersalah begitu. Ini kan kemauanku.” Hye-eun merapatkan jaketnya.

Baekhyun pun berhenti dan berbalik ke Hye-eun. Panggilan untuk pesawat yang akan ditumpangi Baekhyun-pun terdengar. “Kau jaga dirimu ya. Aku tidak mau mendengar kabar kalau sahabatku ini sakit lagi.” Ia menjepit hidung Hye-eun.

Hye-eun menepis tangan Baekhyun. “Iya. Sudah, sana. Pesawatmu sudah menunggu.”

Baekhyun mencium puncak kepala Hye-eun. “Baiklah. Sampai jumpa..” ia pun berjalan meninggalkan Hye-eun.

Hye-eun melambai sambil tersenyum. Ia menunggu Baekhyun benar-benar pergi. Setelah Baekhyun sudah tak tampak lagi, ia pun berbalik dan mendapatkan seseorang yang berdiri di hadapannya. Orang itu memakai jaket kulit coklat, topi dan syal rajutan yang menutupi sebagian wajahnya. Orang itu menunduk di hadapan Hye-eun.

Orang itu pun mengangkat wajahnya. “Hye-eun, kita harus bicara.” Ia pun menarik tangan Hye-eun.

Hye-eun menghempaskan tangannya, hingga tangan orang itu terlepas. “Chanyeol, apa-apaan sih!!”

“Kau jangan bohongi dirimu, Hye-eun! kenapa kau tidak bilang sejak awal!” ekspresi Chanyeol berubah jadi marah—itu bisa terlihat dari matanya yang mulai memerah.

Orang-orang yang berada di sekeliling mereka pun memperhatikan mereka sambil berjalan membawa barang mereka. Sesekali mereka berbisik, tak mengerti apa yang terjadi.

“Apa maksudmu?” tanya Hye-eun tak kalah kesal.

“Baekhyun memberitahuku, sebenarnya kau mencintai diriku tapi kau berpura-pura karena kau telah …..”

Hye-eun memotong kalimat Chanyeol. “Uh, kau terlalu percaya diri, Chanyeol,” Hye-eun menampakkan senyum liciknya. Dalam hatinya ia terus menggerutu kepada Baekhyun yang telah memberitahu Chanyeol. Dasar pria zebra cross, kalau aku bertemu nanti akan kubuat kau jadi ayam panggang.

Hye-eun pun melepaskan kalung pemberian Chanyeol, dari lehernya. Chanyeol memberikannya saat di bandara dan Hye-eun melepaskannya pada saat mereka di bandara juga. Ia memegang kalung itu dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meraih tangan Chanyeol, lalu meletakan kalung itu di tangan Chanyeol. “Terima kasih. Tapi aku sudah tidak membutuhkannya lagi,” kata Hye-eun dingin. Ia pun siap meninggalkan Chanyeol.

“Hye-eun!!” Chanyeol memegang lengan Hye-eun.

“Chanyeol, lepaskan!” Hye-eun terus mengelak.

Chanyeol tak menghiraukan perkataan Hye-eun, dan tatapan ke arahnya dan Hye-eun. Ia tetap menggenggam tangan Hye-eun seakan menyuruh gadis itu tetap di sini bersamanya.

“Kalau kau tidak mau melepaskan, terpaksa aku melakukan ini,” Hye-eun diam sejenak, dan mengambil nafas dalam-dalam. “YA! LIHAT!! DI SINI ADA PARK CHANYEOL!!!!” ia berteriak.

Kemudian, orang-orang pun menatapnya lalu menoleh ke Chanyeol. Banyak yang berlarian ke arah Chanyeol. Dengan kesempatan itu, Hye-eun bisa melepaskan diri dari Chanyeol. Sedangkan Chanyeol sibuk dalam kerubungan orang yang mengerubunginya untuk meminta tanda tangan dan foto.

Dalam perjalanan Hye-eun tidak berhenti menangis. Bahkan sampai rumah, Nyonya Jang yang menyapanya dari dapur, saat Hye-eun melewati ruang tamu, tapi ia tidak menjawab malah menaiki tangga dan membanting pintu kamarnya lalu menguncinya. Nyonya Jang kebingungan melihatnya sambil terus mengaduk sup tomat yang mendidih.

Hye-eun terus menangis di tempat tidurnya. Ia menaruh dengan kesal semua fotonya dengan Chanyeol ke dalam laci, di sebelah tempat tidurnya. Ia terus memendamkan kepalanya di bantal dan menangis sampai waktu makan malam tiba.

@@@

            Seminggu kemudian.

Appa bagaimana tiketnya?” tanya Hye-eun lemas kepada Tuan Jang saat di ruang keluarga.

Sejak saat kejadian di bandara, Chanyeol hampir setiap hari datang ke rumah Hye-eun. Tapi, Hye-eun selalu mengunci diri di kamarnya. Terserah orangtuanya mau berbicara apa tentangnya, ia sama sekali tidak peduli.

Sampai suatu hari, ia mendapat e-mail dari teman sekolahnya di Paris yang tinggal di Jepang, yaitu Miwako Harazuki, yang mengajaknya liburan di sana. Miwako mempunyai penginapan mewah di sana, dan menawarkan harga murah ke Hye-eun jika ia datang ke sana. Miwako juga berjanji akan mengajak Hye-eun keliling Jepang, atau mungkin hanya mengelilingi Osaka, karena Miwako tinggal di Osaka. Begitu Hye-eun sampai di Tokyo, Miwako berjanji akan menjemputnya. Hye-eun pun menyetujuinya. Ia sangat berharap suasana Jepang akan mengubah suasana hatinya.

“Oh iya,” Tuan Jang masuk ke ruang kerjanya. Tak beberapa lama, ia keluar sambil membawa amplop coklat, dan menyerahkan ke Hye-eun. “Paspor dan tiketnya ada di dalam.” Tuan Jang duduk di sebelah Hye-eun.

Hye-eun membuka amplop tersebut dan mengambil tiket pesawat itu. Matanya membulat, tidak percaya. “A-Appa.. apa Appa tidak salah membelikanku tiket?”

“Kenapa? Apa aku salah memberikanmu tiket untuk ke Jepang?” tanya Tuan Jang.

“Ti-tidak, hanya … Appa membelikanku tiket VIP,” Hye-eun menatap Appa-nya tidak percaya.

Tuan Jang hanya nyengir.

“Biasanya kan Appa selalu pelit. Bahkan untuk membelikan Hyesung televisi saja harus berpikir selama dua bulan.”

Tuan Jang tertawa ringan. “Sesekali Appa memberikanmu hadiah, Hye-eun?”

Hye-eun hanya memutar bola mata dan memandangi tiket itu, masih tidak percaya. Akhirnya ia memasukan tiket itu ke amplop lagi lalu berjalan menuju kamarnya.

@@@

Hye-eun menenteng tas beukuran sedang di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa sweeter yang disangkutkan di lengannya. Ia memakai jaket putih serta memasangkan hoody-nya di kepalanya. Keadaan sudah membaik, meskipun belum sembuh total.

Appa, Eomma dan Hyesung ikut mengantarnya ke bandara. Tuan dan Nyonya Park pun ikut mengantarnya, tapi tidak dengan Chanyeol. Hye-eun tidak tahu dan tidak mau tahu Chanyeol sedang ada di mana.

“Hye-eun, kau janji akan pulang sebelum natal, kan?” tanya Nyonya Jang sedikit khawatir.

“Ya, Eomma. Aku janji.” Hye-eun tersenyum.

Hye-eun melongok-longakkan kepala mencari sosok yang mungkin saja datang pada saat-saat terakhir mereka bisa berjumpa. Tapi, cerita itu hanya ada di nove, pikirnya.

“Chanyeol tidak bisa datang. Ia pergi ke pemotretan pagi-pagi sekali. Mungkin ia pulang nanti malam.” Kata Mrs. Park seolah tahu apa yang sedang dicari Hye-eun. “Ia bilang, agar kau hati-hati.”

Hye-eun hanya menyungging senyum tipis di bibirnya.

“Aku harus berangkat sekarang.” Kata Hye-eun kemudian.

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] The Sweet Hate (Part 5)

  1. hhhhuuaaaaaaaaaaaaaaaa palli palli thor lanjutin… Keren cerita’a aku suka lanjutin

    *ayolah hye eun jadian ajj ma chanyeol kasian chanyeol*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s