[6] Where We Belong

Where We Belong

written by bluemallows

Main Cast: CNBlue’s Lee Jonghyun & Girls’ Generation’s Im Yoona || Genre: Romance, School-life || Rating: Teen || Length: Chaptered || Disclaimer: The plot is completely mine

SIXTH SHOT;

            Gadis bernama Im Yoona itu sudah menebak bagaimana kisah cinta Soojung akan berjalan. Mula-mula Soojung bercerita ia menyukai Yonghwa, kemudian Yonghwa ternyata menaruh perasaan yang serupa, mereka berpacaran, datang orang ketiga yang tidak lain adalah Jonghyun, Soojung goyah dan membiarkan hatinya dipenuhi oleh sang figuran, hingga ia tahu Jonghyun hanya mempermainkannya, kemudian Soojung kembali pada Yonghwa. Selesai.

 

Dan memang seperti itulah kenyataannya. Sekitar sebulan yang lalu setelah tragedi gadis-sementara-Jonghyun itu berakhir tanpa penjelasan dari Jonghyun, akhirnya Soojung menghentikan langkah kaki Yonghwa sepulang sekolah dan membuat pundak laki-laki itu basah karena air matanya.

Hari-hari terus berganti, lomba dan prestasi murid lainnya melunturkan predikat juara satu lomba paduan suara beberapa waktu yang lalu. Semuanya sudah berjalan seperti biasa layaknya tidak pernah ada regu paduan suara itu. Dan tentu saja, Yoona merasa jarak yang memisahkan dirinya dengan Jonghyun semakin lebar.

 

Yoona tidak pernah tahu apa isi hati seorang Lee Jonghyun yang sebenarnya. Ia hanya tahu seorang Jonghyun, murid kelas 3, yang sering mengurung diri di studio musik berbekal satu gitar akustik kesayangannya.

 

Sejak Soojung yang menjadi korban Jonghyun, sebenarnya Yoona memilih untuk menghilangkan Jonghyun dari pikirannya. Menghapus segala memori tentang laki-laki itu (Meski sebenarnya ini kedua kalinya Yoona melakukan hal itu).

 

Tetapi ia masih sering terbangun lewat tengah malam, berbaring telentang di bawah naungan selimut tebal dan memikirkan tentang Jonghyun yang berada di kamarnya dan sedang tertidur pulas.. memimpikan gadis selain dirinya, mungkin Tiffany, Soojung atau gadis-gadis lainnya.

 

Yoona merasa pikiran dan hatinya sudah dibawah mantra Jonghyun.

“Jonghyun menyukaimu, Yoong.”

 

Entah untuk berapa belas kali Park-seonsaengnim  sudah mengatakannya pada Yoona. Gadis itu seharusnya bahagia, berteriak girang, atau sebagainya jika mendengar pernyataan dari Park-seonsaengnim yang begitu dipercaya oleh Jonghyun.

 

Seperti respon-respon sebelumnya, Yoona tetap bernafas tenang dan menggoreskan kuas dengan hati-hati di atas kanvas agar tidak meleset. Bodoh sekali ia mau mempercayai perkataan yang tidak terbukti seperti ini. Jonghyun bahkan tidak sekecap pun pernah mengajaknya bicara

 

“Dia selalu kemari setiap pulang sekolah dan melihat perkembangan lukisanmu.” Park-seonsaengnim sudah menjelaskan bagaimana tingkah Jonghyun yang diam-diam memedulikan Yoona, tetapi tak ada satu pun yang dipercayai gadis itu.

 

“Jonghyun tidak pernah mengatakan langsung bahwa dia menyukaiku, kan?” Itu adalah jawaban mutlak yang dilontarkan oleh Yoona tiap kali Park-seonsaengnim memberitahunya.

 

Setiap kali Park-seonsaengnim menceritakan tentang hal-hal yang dilakukan Jonghyun, Yoona dapat menggambarkannya dengan jelas dalam benaknya. Ketika Jonghyun masuk ke ruang kesenian dan membungkuk sopan pada Park-seonsaengnim, kemudian membuka lemari kayu yang disediakan sang guru untuk karya terbaik dan sekat kecil khusus untuk Yoona. Gadis itu bisa membayangkan Jonghyun mengambil salah satu lukisan yang masih sketsa kasar dan tersenyum melihatnya. Keesokan harinya, ia akan datang ke tempat yang sama dan terus menyaksikan proses Yoona mengerjakan suatu lukisan.

 

Tetap, ia bersikeras menolak mentah-mentah hipotesa pria paruh baya yang sangat mengenal gadis itu tentang dirinya yang sebenarnya masih mencintai Jonghyun. Padahal Park-seonsaengnim sudah berulang-ulang menyatakan bahwa Jonghyun pasti memiliki alasan tentang hal yang dilakukannya pada Soojung.

 

Hingga akhirnya Park-seonsaengnim berkata, “Kau sebenarnya hanya takut kehilangan Jonghyun.”

 

Skak mat. Kali ini tebakan Park-seonsaengnim tidak lagi dapat membuat Yoona membuat langkah menghindar. Yoona memang belum pernah merasakan suatu kehilangan, Yoona belum pernah merasakan patah hati karena dicampakkan, dan sebagainya. Tapi ia takut jika suatu hari nanti, jika Jonghyun menjadi pacarnya, hubungan mereka nantinya akan terputus. Karena cinta, pada suatu titik akan berhenti, bukan?

 

Yoona sendiri tidak tahu mengapa lidahnya selalu berdalih ketika Park-seonsaengnim mengucapkan setiap tebakannya. Mungkin karena ia takut kehilangan. Mungkin itu karena ia terlalu mencintai Jonghyun. Itu masalahnya.

Malam ini, Soojung kembali menginap di rumah Yoona. Seperti ketika mereka menghabiskan malam-malam sebelumnya, kali ini mereka berbaring di atas ranjang Yoona dan menatap langit-langit kamar kemudian berbicara tentang apa saja yang terlintas di benak mereka. Mereka hanya lebih mirip seperti kakak beradik yang bersahabat baik. Sebenarnya besok Yoona akan pergi ke Jeju untuk mengikuti lomba lukis, tapi setelah merengek pada ibunya akhirnya Soojung diijinkan bemalam di rumah.

 

“Yoon, kau masih tidak menyukai laki-laki siapa pun?”

 

Lagi-lagi. Pertanyaan itu keluar dari mulut Soojung. Apa sih salahnya tidak memiliki pacar saat SMU? Toh dia bukan gadis berusia 30 tahun yang tidak memiliki ketertarikan pada laki-laki. Yoona menoleh ke arah Soojung. “Sebenarnya ada.” Bisiknya di sela-sela rambut Soojung yang beraroma buah-buahan.

 

Mata Soojung membelalak dalam gelap. “Eh? Sejak kapan? Kau bahkan tidak memberitahuku, Yoon.”

 

Yoona melengos dan berguling memunggungi Soojung. “Sejak festival musim panas kemarin.” Pikirannya disesaki oleh berbagai serpihan-serpihan perasaan satu arahnya pada Jonghyun yang membuat hatinya lelah selama ini. “Tapi aku tidak berpikir dia menaruh perasaan yang sama padaku.”

 

Gadis itu menelan ludah dan memeluk lututnya—meringkuk di balik selimut. Dan diam-diam ia mencegah air matanya agar tidak leleh. Foto-foto Jonghyun dan Tiffany, cerita-cerita Soojung tentang Jonghyun membanjiri pikirannya. “Sejak dulu, aku berusaha menghapus laki-laki it dari pikiranku. Tapi sejak pertama kali aku jatuh cinta padanya, tidak sekalipun aku bangkit hingga kini.”

 

Soojung berdiri dari tempat tidurnya. “Coba kau lebih peka sedikit pada sekitarmu, ada kok laki-laki yang sangat mencintaimu.” Gadis itu terkikik manis. “Oh ya, ada cokelat hangat instan kan? Mau kubuatkan juga?”

 

“Tidak, terima kasih.”

 

Tiba-tiba Yoona merasa ada sesuatu yang menghantam punggungnya.

 

“Coba baca pesan singkat yang ada di sana.” Kemudian Soojung memegang handel pintu yang dingin. “Kau akan tahu mengapa Jonghyun melakukan itu padaku dulu.”

 

Diam-diam gadis itu meraih ponsel milik Soojung. Ia melihat nama Jonghyun Lee dalam kotak percakapan itu. Dan Soojung menunjukkan percakapan  lama yang disimpannya berbulan-bulan lalu.

 

Tidak hanya beberapa kali, namun berulang-ulang Jonghyun menyebutkan nama Yoona di dalam pesan singkat yang dikirimkan oleh Jonghyun.

 

“Tadi Yoona olahraga, kan? Dia cantik sekali dengan pakaian olahraga warna biru itu.”

 

“Kau tahu? Aku berharap Yoona pindah ke kelas seni musik. (Oh, tapi aku tidak bisa melihat lukisannya lagi nanti)”

 

“Tadi aku berpapasan dengan Yoona saat menuju ke kantin. Tapi kenapa dia selalu menundukkan kepalanya setiap melihatku?”

 

“Yoona.. wajahnya selalu sedih.”

 

“Senyumnya tidak secerah musim panas, dan tidak semendung musim gugur. Aku menyukainya. Sangat.”

 

Gadis itu tidak bisa lagi meneruskan membaca percakapan yang begitu panjang itu. Matanya sudah memburam karena dipenuhi air mata di sana. Ia memeluk gulingnya erat-erat dan membiarkan gulingnya itu basah karena air matanya.

 

Yoona dapat merasakan Soojung kembali merayap ke tempat tidurnya. “Bagaimana, Yoon?” Soojung kembali mengambil ponsel yang berada di dekat punggung Yoona. “Dia menyukaimu sejak dulu. Bahkan saat aku menyukainya, dia bahkan sudah menyukaimu.”

 

Indera penciuman Yoona dapat merasakan bau cokelat yang keluar dari mulut Soojung. Gadis itu berbaring di sebelahnya sambil memegang ponselnya—mengirimkan pesan pada Yonghwa. “Siapa yang kau sukai sebenarnya?”

 

Gadis yang meringkuk itu berusaha menyeka air matanya dan tersenyum usil pada Soojung. “Coba tebak?” Yoona akhirnya berbalik dan menghadap pada Soojung yang telentang sambil memegang ponselnya.

 

“Hm, Jungshin? Minhyuk?” Soojung menyeringai kemudian meletakkan ponsel di sebelah bantalnya.

 

Gelengan kepala Yoona melunturkan seringai yakin dari Soojung. “Bukan, Soo.”

 

“Lalu siapa?”

 

“Jonghyun, Lee Jonghyun.” Bisik Yoona lirih. Bola matanya menatap Soojung dan menyiratkan ketakutan di sana.

 

Soojung terhenyak. Seolah ia menahan nafas dan ia masih menyibukkan diri untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar. “Jj—Jonghyun.. sejak festival musim panas kemarin?”

Kelopak mata Yoona mengerjap sekali, dua kali sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.

 

“Kau menyukai Jonghyun lebih dulu daripada aku, tapi, mengapa kau tidak memusuhiku, menjauhiku, atau apapun?” Soojung masih menatap Yoona dengan heran. “Bukankah banyak gadis-gadis yang memutuskan ikatan persahabatannya karena masalah seperti ini?”

Sepasang bibir merah jambu milik Yoona masih terkatup rapat, begitu pula matanya. Ia sebenarnya tidak habis pikir mengapa ia tidak melakukan hal-hal yang dikatakan Soojung itu. Setelah sekian detik, gadis itu menghela nafas panjang. “Karena aku sudah berjanji padamu,” Ia dapat samar-samar melihat ekspresi kebingungan pada wajah Soojung di gelapnya malam. “aku berjanji akan mendukung setiap pilihanmu, bukan?”

Soojung masih berhenti, gadis itu tidka tahu apa lagi yang harus diperbuatnya. “Kau tidak marah setiap kali aku mendekati Jonghyun, mengirim pesan padanya, atau bercakap-cakap dengannya?”

“Mm, sedikit.” Yoona memperagakannya dengan tangan kemudian tertawa getir.

 

“Kau tidak perlu melakukan semuanya itu, Yoon,” Soojung meraih tangan Yoona dan mengusap pundak tangan gadis itu. Ia mendesah sambil berpikir. “Kurasa aku harus membalas perbuatamu.”

“Maksudmu?”

 

Soojung menghela nafas panjang dan tersenyum simpul. “Aku merasa aku harus melakukan sesuatu untukmu—kau terlalu baik untukku,” Kemudian matanya menyipit misterius. “Tapi kau harus belajar untuk mengambil resiko, oke?”

 

Yoona tidak tahu persisnya maksud sahabatnya, tapi ia menanggukkan kepalanya.

            Pagi itu di sekolah, Jonghyun datang setengah jam lebih pagi dan melihat masuk ke dalam  kelas Soojung. Ekor matanya mencari-cari sosok gadis yang membuatnya hampir tidak bisa tidur semalaman.

 

“Kau pasti mencari Yoona, kan?” Soojung tersenyum tipis pada bibirnya. “Sayangnya dia sudah pergi, kau terlambat rupanya.” kemudian ia menghela nafas dan menghapus senyumnya itu dengan sekejap.

 

Mata Jonghyun melebar seketika. Apa yang dikatakan semalam benar, Yoona akan pergi. Tidak, Yoona tidak boleh pergi. “Apa?! Yoona pergi?! Kemana?!” Ia setengah memekik histeris.

 

“Kereta api pertama jurusan Jeju.”

 

Tanpa menjawab, Jonghyun berlari terbirit-birit menuruni tangga mengambil kunci sepeda motor di dalam tasnya dan bergegas menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Ia tidak peduli dengan satpam sekolah yang mencegahnya keluar, ia terus melajukan motornya hingga hilang dari pandangan Soojung yang diam-diam mengintip dari lantai dua.

“Berjuanglah untuk Yoona,” Bisiknya.

 

            Jonghyun tiba sepuluh menit lebih awal dari prediksinya. Entah sudah berapa lampu merah yang diterobosnya, rambu-rambu yang tidak ditaatinya—ia tidak peduli. Ia bahkan tidak ingat sudah mengambil kunci sepeda motornya atau tidak, ia langsung turun dan masuk melihat papan jadwal keberangkatan kereta api.

 

Kereta jurusan Jeju, berangkat lima menit lagi. Oh, untunglah ia belum terlambat. Tetapi itu bukan berarti ia tidak bergegas, ia segera berlari lagi menuju gerbong kereta yang berjejer-jejer hingga petugas berseragam biru menghentikan langkahnya.

 

“Tiket, Tuan?” Suaranya dingin dan tegas, matanya menyipit pada laki-laki berseragam SMU di hadapannya.

 

Jonghyun mendengus. “Aku tidak akan naik kereta ini. Aku akan turun setelah urusanku sele—“

Tiket, Tuan?”

Jonghyun melirik ke arah kereta dan akhirnya ia meletakkan tangannya di atas pundak lelaki paruh baya itu. “Dengar Pak, aku tidak akan berbuat onar atau sebagainya di dalam kereta ini. Tapi..” Jonghyun memutar bola matanya sejenak. “Apa anda punya istri?”

Rahang petugas kereta itu mengeras, ia tidak bisa memandang lurus ke arah Jonghyun lagi. “Sudah meninggal.” Tidak ada penumpang yang pernah menanyakan itu sebelumnya, jadi ia cukup terkejut.

“Anda ingin istri anda kembali kan, Pak?” Cengkeraman tangan Jonghyun mengeras pada pundak laki-laki itu.

 

“Akan kuberikan segalanya untuk itu, Nak.”

 

Jonghyun tersenyum puas. “Oke. Jadi begini, ada seorang gadis yang sangat kukagumi sejak dulu. Aku pernah kehilangan seorang gadis karena tidak menjumpainya di bandara, dan kali ini ada gadis lain yang melakukan hal sama. Aku tidak ingin membuat kesalahan yang serupa untuk kedua kalinya,” Ia menarik nafas dan berusaha untuk tetap tenang. “jadi, bisakah kau berikan aku lima menit untuk ini?”

 

Petugas itu mendegus dan akhirnya, “Kuberi kau waktu sepuluh menit,”

 

“Terimakasih! Aku berhutang banyak kepadamu, Pak!” Jonghyun memeluk pria itu seerat mungkin, hanya sekitar sedetik. Dan ia bergegas mencari-cari sosok seorang Im Yoona yang ada di salah satu gerbong.

 

Ia akhirnya menemukan Yoona di bilik kelima. Sedang membaca buku dan duduk di dekat jendela. Jonghyun menggedor-gedor jendela hingga Yoona menoleh dan membukakan jendela padanya.

“Jonghyun! Apa yang kau lakukan di sini?” Gadis itu memandang pemuda berseragam sekolah yang mendangakkan kepala untuk melihat wajahnya.

 

Jonghyun cepat-cepat meraih tangan Yoona yang masih menempel di jendela, menggengamnya kuat-kuat seolah gadis itu akan pergi untuk selama-lamanya. “Kau harus mendengarkan aku. Ini mungkin sedikit agak panjang dan membingungkan, tapi dengarkan saja, oke?”

 

Yoona terdiam sebentar, mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia seperti tersesat di antariksa yang luas, tidak punya ide apa yang harus dilakukannya. Pada akhirnya, dia mengangguk.

 

“Yoon, aku menghabiskan tiga perempat tahun untuk memandangmu dari jauh, mengawasi gerak-gerikmu, dan bertanya-tanya tentang perasaanmu padaku. Setiap pulang sekolah aku pergi ke ruang kesenian untuk melihat sampai mana lukisan-lukisanmu sudah terselesaikan. Aku suka lukisanmu, dan teman-temanku kadang menertawaiku karena aku menjadi pengagum seni. Tapi, siapa yang peduli? Aku hanya ingin memastikan aku dapat melihat jiwamu di dalam kanvas-kanvas itu.

“Jika kau pernah mendengar gadis-gadis yang berkata: Jonghyun menyukai banyak gadis, ia hanya mempermainkan gadis-gadis itu. Jangan mempercayai mereka. Kenapa? Karena aku hanya mencintaimu seorang, bukan Soojung, bukan yang lain. Bodohnya aku baru mengatakannya sekarang padamu. Soojung pernah mengatakan aku terlalu idiot untuk ini, kakakku yang tahu tentang ini hanya menertawakan aku sinis. Karena aku tidak sekalipun berani membuka pembicaraan padamu, Yoon. Tapi aku tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh dunia ini padaku, semua ini karena kau.”

 

Tembok pertahanan yang dibangunnya tinggi-tinggi runtuh seketika. Mendadak, Yoona lupa bagaimana cara bernafas. Ia merasa jantungnya bergesekan degnan tulang rusuknya tiap kali berdetak, membuat dadanya dan tubuhnya melemas. Tapi dia berusaha bertahan dan tersenyum tipis. “Oke, giliranku sekarang?”

 

“Awalnya kukira aku salah masuk ke dalam SMU ini. Selama setahun aku mencoba mencari apa yang merupakan kesenanganku di sini, aku mengikuti berbagai ekstrakulikuler termasuk lukis, tetapi aku tidak juga menemukan kesenanganku yang sesungguhnya. Hingga suatu kali aku masuk ke dalam regu paduan suara. Aku tidak bisa bernyanyi, kau tahu? Tapi aku merasa sangat senang di sana, karena ada kau, yang memeluk gitar sambil samar-samar ikut bernyanyi.

 

“Aku tidak tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu, memikirkan setiap waktu, memimpikanmu setiap malam, membayangkan bagaimana kau bisa membuatku tergila-gila.. dan tanpa menyadari kau menyukai gadis lain. Kupikir itu Soojung, aku menjadi iri padanya. Tapi aku bisa apa kalau kau memang memilihku?” Kemudian gadis itu tertawa sambil mengapus air matanya yang perlahan-lahan meleleh. “Jadi, Lee Jonghyun, maukah kau bernyanyi untukku dan melihatku melukis setiap hari hingga tahun-tahun kedepan?”

 

Jonghyun mendegus. “Sialan, Yoon,” Ia merapatkan jari-jarinya dengan milik Yoona hingga tidak ada jarak lagi di antara tangan mereka. “harusnya aku yang bilang begitu, tahu!”

Yoona tertawa, “Bagaimana kau tahu aku ada di sini?”

 

“Soojung yang membantuku semalam,” Jonghyun mengangkat bahu. “aku datang pagi-pagi ke sekolah, mengira kau akan mengucapkan selamat tinggal padaku. Tapi kau malah langsung—“

 

“Jonghyun,” Potong Yoona. “Kau tahu aku hanya ikut lomba melukis dan akan pulang nanti malam, kan?”

 

Jonghyun terhenyak. Merasa ditipu. “Soojung harus berurusan denganku nanti,” ia mendengus. “tapi, sudahlah.”

 

Kali ini, besi dingin kereta api yang diketuk. Baik Yoona maupun Jonghyun segera menoleh ke arah laki-laki paruh baya petugas kereta itu. “Sepuluh menitmu sudah habis, nak.”

 

“Ya, aku tahu, Pak.” Jonghyun tersenyum dan mengambil beberapa lembar won di kantongnya dan menyelipkannya di tangan petugas itu. “Anggap saja untuk menutupi ketidaknyamanan yang sudah kuperbuat.”

 

Petugas kereta itu tersenyum dan mengintip ke gerbong tempat Yoona duduk. “Berbahagialah dengan dia, Nak!”

 

“Terima kasih!” Sahut Yoona sambil tersenyum.

 

Jonghyun kembali meraih tangan Yoona dan memberikan gadis itu satu kecupan di pipinya dan ia merasakan kupu-kupu yang biasanya ada di perut gadis itu ikut menari-nari di perutnya.

 

“Jangan lupa untuk kembali, oke?” Tanya Jonghyun.

 

“Oke.”

 

“Yoon,”

 

“Hm?”

 

“Aku mencintaimu,”

 

Yoona kembali tersenyum. Tidak secerah musim panas, tidak semendung musim gugur, tapi terasa lembut dan tulus. Senyum kesukaan Jonghyun yang awalnya dianggap sebagai senyum kesedihan. Tapi tidak, ini memang senyum bahagia Yoona.

 

“Kau tahu aku mencintaimu,” Tepat ketika Yoona mengatakannya, mesin kereta itu dinyalakan dan petugas paruh baya itu tersenyum melihat mereka. Yoona perlahan melepaskan pegangan tangannya dan menggantinya dengan lambaian tangan.

 

“Butuh waktu lama untuk kita bisa mengatakan ini,” adalah kalimat terakhir Jonghyun sebelum roda-roda kereta api itu berputar dan meninggalkan Seoul.

Ia terus memandang kereta itu hingga menjauh dan menghilang dari pandangan setelah memasuki terowongan. Jonghyun tidak peduli hukuman apa yang akan diterimanya nanti di sekolah, semuanya karena Yoona.

 

Dan tentu saja, Yoona tahu kemana ceritanya dan Jonghyun akan berjalan.

 

fin.

Advertisements

44 thoughts on “[6] Where We Belong

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s