Invidus [2nd]

individus

Invidus

by

ellenmchle

Main Cast: f(x)’s Krystal – Jung Soojung, Miss A’s Bae Suzy, EXO’s Kai – Kim Jongin & Infinite’s L – Kim Myungsoo | Support Cast: 2AM’s Jung Jinwoon & Jung Ilwoo | Genre: Romance, Family & Life | Length: Chaptered | Rating: PG-15 | Credit Poster : YooSpencer | Disclaimer: The plot is pure mine.

“No matter how great you are, not everybody is going to like you. That’s life…”

Prologue | 1st | 2nd |

§

“Menjagaku? Memangnya dia siapa? Kalian mengenal satu sama lain?,” tanya Suzy yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. Tanpa mereka sadari ternyata Suzy mendengar semua percakapan mereka.

A-A-Ani. Maksudku dia kan supirmu jadi dia harus bertanggung jawab atas keselamatanmu. Lagian mana mungkin aku mengenalnya. Kau saja baru pertama kali membawanya ke sini” jelas ibu Suzy tampak menyembunyikan keterkejutannya.

“Sudahlah, aku harus ke depan,” lanjutnya kemudian segera meninggalkan Suzy dan Jongin di sana.

Suzy masih menyimpan kecurigaan pada ibunya. Sesekali ia melirik ke arah Jongin yang juga masih terdiam namun anehnya ia sama sekali tidak menemukan ketidakwajaran pada pemuda itu. Mimik mukanya tetap seperti biasa, dingin. Tidak ada sedikitpun yang berubah. Apa mungkin yang dikatakan ibunya memang benar?

“Kau benar tidak mengenalnya?” tanya Suzy menyelidik.

Ani. Kau sendiri?” balas Jongin dengan santai.

“Maksudmu?”

“Kau mengenalnya? Dia terlihat sangat mengkhwatirkanmu.”

“Aku tidak mengenalnya” jawab Suzy dingin.

“Kita pulang sekarang” lanjutnya kemudian.

§

Dalam perjalanan pulang menuju Seoul baik Suzy maupun Jongin sama-sama terlihat sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Suasana di dalam mobil itu pun hening kembali layaknya suasana hari pertama Jongin bekerja dua tahun yang lalu.

Suzy berpikir keras agar Jongin tidak curiga padanya, tidak curiga mengenai kunjungannya ke Gyeongju, tidak curiga mengenai ibu kandungnya walaupun sejujurnya dia sendiri menaruh rasa curiga yang cukup besar pada pemuda itu. Di mata Suzy selama ini Jongin adalah pemuda yang baik walaupun ia tidak tahu menahu mengenai asal usulnya namun percakapan satu jam yang lalu di depan toilet kedai makan milik ibunya itu benar-benar sukses membuat Suzy tidak bisa untuk tidak berpikiran negatif terhadap Jongin.

Suzy tidak bodoh. Telinganya masih cukup jelas untuk mendengar. Matanya juga masih berfungsi dengan baik untuk melihat bagaimana tingkah laku ibunya terhadap Jongin. Tatapan ibunya terhadap Jongin dan tatapan Jongin terhadap ibunya sama sekali tidak asing. Siapa Jongin sebenarnya? Bagaimana bisa ia mempunyai hubungan dengan ibunya? Apa yang direncanakan mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di otak Suzy.

Setibanya di rumah, Suzy sudah disambut Soojung yang sedang duduk di sofa dengan ekspresi wajah yang tidak begitu enak dipandang. Begitu mendapati Suzy sudah di sana Soojung pun segera berdiri dan berjalan mendekati Suzy.

“Pertama, aku tidak bilang bahwa aku tidak membutuhkan Jongin untuk mengantarku kemana-mana hari ini dan kau telah memakainya sepanjang hari tanpa seijinku. Kedua, kau pergi sejak subuh dan baru pulang sekarang tanpa memberitahu appa maupun oppa, sebenarnya ini bukan urusanku dan aku juga tidak peduli tapi kau seharusnya tahu appa dan oppa sangat mengkhawatirkanmu. Ketiga, aku tidak menuduhmu tapi apa kau tahu bahwa naskah novel terbaruku hilang bagai ditelan bumi?,” Soojung menatap tajam kedua bola mata Suzy.

“Aku tidak tahu apa-apa mengenai naskahmu dan hari ini aku sedang ada urusan. Jika kau keberatan aku memakai Jongin sepanjang hari ini mulai besok aku bisa menggunakan kendaraan umum. Dan satu lagi, Jongin sendiri yang menawarkan untuk mengantarku.”

“Kau memang selalu menang,” ucap Soojung dengan penuh penekanan.

“Bukankah kau yang selalu menang? Kau sudah mendapatkan beberapa kali perhargaan sedangkan aku belum pernah, kau terkenal dan aku tidak, kau memiliki keluarga, kekayaan, kebahagiaan dan aku tidak. Apa aku pernah menang darimu? Apa hanya karena Jongin lantas aku menang darimu? Apa kau sebegitu menyukainya?” balas Suzy berusaha menahan emosinya.

 

Jung Ilwoo menggandeng tangan mungil seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun memasuki rumahnya. Penampilan gadis kecil itu tampak berantakan, rambutnya tak terurus, pakaiannya kotor dan ia tidak memakai alas kaki. Gadis kecil itu melemparkan pandangannya pada setiap sudut rumah yang baru saja ia masuki itu.

Soojung kecil sedikit berlari menghampiri Jung Ilwoo – sang ayah. Dengan mukanya yang berseri-seri layaknya baru saja mendapatkan boneka Barbie baru Soojung menyapa gadis seusianya yang masih bersembunyi di balik tubuh Jung Ilwoo. 

“Annyeong. Na neun Soojung imnida,” ucap Soojung kecil tersenyum lebar seraya meraih tangan gadis itu agar mereka bisa bersalaman.

“Jung-ie, mulai hari ini Suzy akan tinggal bersama kita. Dia akan menjadi teman sekaligus saudaramu. Arra?” jelas Jung Ilwoo.

“Arraseo, appa! Karena Suzy sudah menjadi saudaraku jadi Suzy boleh memanggilku Jung-ie.”  

 

“Apa kau menyesal telah menerimaku waktu itu? Mungkin seharusnya waktu itu kau menyuruh appa-mu untuk segera mengusirku dari rumah ini,” lanjut Suzy masih menatap kedua bola mata Soojung.

Soojung tidak bergeming. Di hatinya yang paling dalam sesungguhnya ia tidak pernah menyesal telah menerima Suzy menjadi bagian dari keluarganya. Awalnya ia bahagia, sangat bahagia hingga Suzy merampas kasih sayang semua orang yang paling penting dalam hidupnya.

Mungkin selama ini Soojung tidak mempermasalahkan jika Suzy menggunakan kamarnya, mengambil boneka kesayangannya, menjadi juara satu di kelas, mendapatkan hadiah dari ayahnya, bersaing dengannya menjadi seorang penulis atau bahkan membencinya tapi Soojung bukanlah malaikat yang bisa terus menerus menyembunyikan rasa sakit dibalik setiap senyuman palsunya. Ada kalanya Soojung ingin berteriak sekuat mungkin agar semua orang tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik, bahwa ia juga bisa merasakan sakit hati, bahwa ia juga bisa iri dan ia tidak sesuci yang mereka pikirkan selama ini.

Soojung memilih untuk meninggalkan Suzy yang masih menunggu jawaban darinya. Soojung lelah, ia benar-benar lelah jika harus mengingat kembali semua masa lalunya. Kematian ibunya tentunya menjadi salah satu alasan mengapa Soojung begitu membenci masa lalunya. Mungkin jika ibunya tidak meninggal saat itu ia juga tidak perlu bertemu dan mengenal Suzy. Kematian itu benar-benar telah merubah segalanya.

Malam itu, tepat saat hujan deras turun membasahi kota Seoul sesosok pria bertubuh tinggi besar dengan mukanya yang ditutupi layaknya topeng di mata Soojung menarik paksa sang ibu dari pelukan Soojung. Soojung ingin berteriak namun suaranya seakan tertahan oleh tatapan tajam si pria bertopeng. Soojung ingin menarik kembali ibunya ke dalam pelukannya namun tenaganya tak cukup untuk itu. Soojung hanya bisa memeluk erat-erat boneka beruangnya, membiarkan kedua matanya menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya.

Selanjutnya Soojung hanya bisa menangis melihat ibunya tergeletak tak berdaya di atas lantai kamarnya, darah segar mengalir keluar dari kepala sang ibu. Tembakan itu telah berhasil merenggut nyawa ibunya. 

 

§

Soojung membuka pelan pintu ruang baca yang berada di lantai dua itu. Ruang yang menjadi tempat kesukaannya semasa kecil, ruang yang selalu digunakan oleh ibunya setiap kali ia ingin menulis atau mencari inspirasi untuk novel barunya. Buku-buku tampak tersusun rapi di rak-nya masing-masing, karpet berwarna coklat tua ikut menghiasi lantai ruangan itu. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama seperti saat terakhir kali ibunya berada di sana.

Meja berbentuk persegi panjang dengan empat buah kursi di sana mengingatkan Soojung pada kenangan di mana mereka sekeluarga sering berkumpul di ruangan ini, membaca sambil sesekali bergurau dan jika ia dan Jinwoon membuat keributan mereka pasti akan dihukum untuk membaca sepanjang hari bahkan di jam bermain mereka.

Soojung tersenyum tipis. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana ibunya selalu memberitahu padanya dan Jinwoon bahwa membaca itu sangat penting. Dan yang paling Soojung ingat adalah ibunya yang selalu mengatakan bahwa jika kita ingin menjadi seorang penulis maka kita harus memulainya dengan membaca terlebih dahulu.

Soojung menarik satu dari empat kursi di sana kemudian mendudukinya. Ia memejamkan matanya untuk sesaat, berusaha menenangkan diri sambil sesekali memijat pelan keningnya.

“Boleh aku masuk?”

Suara berat itu berhasil membuat Soojung membuka matanya dan segera menoleh ke arah pintu. Soojung ingin menarik ujung-ujung bibirnya membentuk seulas senyuman begitu mendapati Jongin tengah berdiri di sana sambil memegang sesuatu di tangan kanannya namun dengan cepat Soojung segera mengurungkan niatnya untuk itu.

Jongin melangkahkan kakinya selangkah ke depan dan menutup kembali pintu ruangan itu. Ia berjalan menghampiri Soojung yang masih terdiam seraya menundukkan kepalanya.

Stop! Aku tidak mengatakan bahwa kau boleh masuk,” ucap Soojung begitu mendengar langkah kaki Jongin yang semakin mendekat.

“Keluar sekarang!” lanjut Soojung.

Jongin masih tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ia menatap Soojung heran.

“Aku—“

“Ini perintah! Keluar sekarang atau kau akan segera dipecat!” tegas Soojung sekali lagi.

Jongin meletakkan sebuah kotak kecil berpita merah muda di atas meja tepat di hadapan Soojung. Menuruti perintah Soojung, Jongin pun segera meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata pun.

Soojung meraih kotak mungil berpita merah muda itu kemudian dengan perlahan membukanya. Kalung perak dengan liontin berinisial “SJ” terpampang dengan jelas begitu tutup kotak itu berhasil Soojung singkirkan.

 

“Jongin-ah, lihat ini. Bagus bukan?” panggil Soojung seraya menunjuk salah satu kalung yang terpajang di dalam kotak kaca toko perhiasaan di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Gangnam.

Tanpa menunggu lebih lama lagi Soojung menarik Jongin untuk mengikutinya masuk ke dalam toko perhiasaan itu.

“Bagaimana? Sangat cocok denganku kan?” tanya Soojung pada Jongin seraya memasangkan kalung yang dimaksud pada lehernya sendirinya.

Jongin tersenyum tipis. Soojung memang selalu cocok mengenakan barang-barang mewah seperti itu. Sekalipun itu hanya barang imitasi jika dikenakan oleh Soojung semua terlihat begitu indah di mata Jongin. Begitu sederhana untuk diungkapkan. Sesederhana perasaan Jongin selama ini.

“Belikan,” pinta Soojung terdengar lebih seperti sebuah perintah.

“M-mwo?” Jongin terlihat sedikit terkejut.

“Aku ingin kau membelikan ini untukku,” ulang Soojung lebih jelas.

Jongin menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Bagaimana mungkin ia memiliki uang sebanyak itu untuk menuruti permintaan Soojung. Ini gila!

“Soojung-ah, aku tidak punya—“                        

“Baiklah, kita tunggu sampai kau sudah mampu membelinya,” potong Soojung kemudian mengembalikan kalung itu pada si penjaga toko.

“Aku rasa gajimu selama empat bulan sudah cukup. Aku akan menunggunya,” lanjut Soojung seakan memaksa Jongin untuk mengabulkan permintaannya. Senyuman kemenangan pun menghiasi wajah cantiknya.

 

Babo!” pelan Soojung tak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Ia bersumpah jika Jongin masih di sana ia akan segera berlari dan melompat ke dalam pelukan pemuda itu. Memeluknya seerat mungkin seraya menikmati aroma tubuh Jongin yang sudah sangat ia rindukan.

“Aku masih di sini jika kau ingin mengucapkan terima kasih” ucap Jongin yang ternyata sedari tadi masih betah berdiri di balik pintu.

Soojung tersenyum seakan mengisyaratkan agar Jongin segera mendekat ke arahnya. Jongin melangkahkan kakinya kembali menginjak lantai ruangan itu dengan penuh keyakinan karena ia yakin tidak ada yang namanya pengusiran lagi kali ini.

“SJ, Soo Jung. Kenapa seakan-akan liontin itu memang didesign khusus untukmu? Kenapa tidak ada JI atau KJI juga? Hidup memang tidak adil!” gurau Jongin.

“Aku baru sadar kalau ini juga bisa dijadikan inisial dari namaku sendiri,” jawab Soojung seraya memainkan liontin yang masih tersimpan di dalam kotak itu.

“Jadi bukan karena itu? Lalu untuk apa kau ingin sekali memilikinya?” tanya Jongin penasaran.

“Tebak.” tantang Soojung.

“SJ? Soojung Jongin?” Jongin asal tebak.

Soojung tertawa puas dalam hati. Ia bahkan tak menyangka bahwa Jongin akan sukses dalam satu kali tebak. Seingatnya Jongin paling buruk dalam hal tebak-menebak. Bagaimana pun Soojung masih terlalu gengsi untuk mengakuinya. Niat untuk mengerjai Jongin pun muncul seketika.

“Mwo? Kau tahu itu terdengar sangat menjijikkan!” bentak Soojung pura-pura.

“Sedikit. Tapi aku rasa itu tebakan yang tepat. Memangnya apa lagi selain itu?”

“Tebakanmu terlalu jauh, Jongin-ah.”

“Lalu?”

“Coba lagi.”

“Super Junior? (Model) Soo Joo? (Aktris) Soo Jin? Soju?”

“Tentu saja bukan!” kesal Soojung.

“Aku tahu! SJ, Suzy Jongin?”

Soojung terdiam seketika. Nafasnya tercekat. Dadanya terasa sesak. Sulit bagi otaknya untuk mencerna apa yang baru saja dikirimkan oleh saraf pendengarannya. Nama itu lagi. Tidak bisakah mereka tidak menyebut nama itu setiap kali bersamanya? Tidak bisakah hidupnya bebas dari bayang-bayang pemilik nama itu?

§

Suzy mengurung diri di dalam kamar setelah kembali dari Gyeongju. Makan malam pun dilewatkannya di dalam kamar. Bukan karena tidak ingin bertemu dengan Soojung ataupun Jinwoon namun ia hanya lelah dengan kepura-puraannya selama ini.

Selama hampir sepuluh tahun Suzy memainkan sandiwara di rumah ini, menjadi pemeran utama sekaligus sutradara yang mengatur jalannya sandiwara. Suzy mengutuk dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia harus menuruti semua perintah ibunya. Walaupun Suzy berhasil mendapatkan status sebagai anak asuh Jung Ilwoo—Direktur Utama Jung Financial Group, kemewahan, kenyamanan namun Suzy tidak pernah bahagia, ia sangat tersiksa. Mungkin jika ia bisa memutar kembali semuanya, ia lebih baik memilih menjadi pelacur seperti ibunya daripada harus memanfaatkan kebaikan keluarga Jung seperti yang telah dilakukannya selama ini.

Mianhe, Soojung-ah.

§

Myungsoo berjalan menyusuri koridor kampus dengan tergesa-gesa. Ia memang harus mempercepat langkahnya jika tidak ingin membuat para mahasiswi yang sudah duduk manis di dalam kelasnya menunggu lebih lama lagi karena ia sudah terlambat beberapa menit.

“Selamat pagi, maaf telah membuat kalian me—“ ucap Myungsoo begitu membuka pintu ruang kelas.

Myungsoo kaget bukan main. Bagaimana bisa mereka bubar secepat ini dan hanya menyisahkan seorang gadis di sana. Beberapa detik kemudian Myungsoo baru sadar bahwa ternyata ia salah ruang kelas. Astaga!—batin Myungsoo.

Myungsoo baru saja hendak menutup kembali pintu ruangan sebelum gadis di dalam ruangan itu melepaskan earphone-nya dan menghentinkan kegiatan menulisnya untuk menatap Myungsoo. Wajah itu tidak asing bagi Myungsoo.

“Suzy,” panggil Myungsoo begitu pelan hingga terdengar lebih seperti sebuah bisikan.

“Kau ingin menggunakan ruangan ini? Aku akan segera pergi, maaf,” ucap Suzy kemudian segera mengemasi barang-barangnya.

A-Ani. Aku tidak menggunakan ruangan ini. Kau, kau masih ingat padaku?”

“Kalau aku tidak salah ingat kau salah satu dosen di sini. Dosen seni?” tebak Suzy.

“Kau benar-benar lupa padaku? Aku Myungsoo teman Soojung yang sering bermain ke rumah kalian saat kita masih kecil. Kau sering memintaku membelikan lollipop dan susu rasa strawberry setiap kali aku bermain ke rumah kalian” jelas Myungsoo begitu antusias.

“Maaf tapi aku tidak ingat,” jawab Suzy kemudian meraih tasnya dan berjalan keluar ruangan.

 

to be continued…

 

 

Aku tahu dan sadar banget-bangetan kalau chapter ini sangat amat absurd .–. Maaf seribu maaf udah mengecewakan T_T

Cuma mau kasih tau aja bagi yang ga tau kalau paragraf-paragraf yang di italic itu artinya flashback ya, sengaja ga aku kasi tulisan flashback karena tips menulis yang baik emang saranin gitu #curcol

Spoiler dikit buat chapter berikutnya bakalan ada rahasia besar yang terbongkar. Jadi tungguin ya kelanjutannya🙂

27 thoughts on “Invidus [2nd]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s