[FF Freelance] Ballerina (Chapter 1)

BallerinaTittle : Ballerina

Author : PinkyPark

Cast : GG’s Tiffany Hwang || EXO’s Xi Luhan

Other cast : EXO’s Kim Joonmyun || 2PM’s Nickhun || GG’s Kim Taeyeon

Genre : Romance || Angst

Rating : PG – 15

Length : Chaptered

Disclaimer : This Fanfic pure by me. This fanfic is 100% mine and if  you found some similar on other fanfic, it maybe just a chance. Please leave your comment and I’ll continuing this fanfic. And then, the cast is belong to their parents and theirselves .. Thank you ~

Previous: Prologue,

***

Bola matanya berkilau,

Aku bisa merasakan jantungku berdetak cepat,

Dan saat dia tersenyum,

Aku sudah sepenuhnya jatuh kedalam hatinya.

 

Ballerina.

Lima belas menit setelah aku pergi dari rumah dan menggenggam tiket konyol itu. Kini aku duduk diantara deretan kursi merah lainnya yang menurutku terasa sangat tidak nyaman. Aku duduk diam, menunggu hal apa yang akan aku saksikan. Sebenarnya aku tidak pernah berniat pergi menonton acara seperti ini, aku sepenuhnya tidak tertarik. Tapi kim Joonmyun yang bodoh dengan senyuman santainya membuatku terpaksa duduk di sini untuk menggantikannya. Dia bilang pertunjukkan ini sangat bagus, dan dia tidak ingin melewatkannya. Tapi dia harus segera pergi ke jepang dan akulah korbannya. Aku yang harus pergi ke tempat ini. Dia bilang itu lebih baik dari pada tiketnya hangus tidak terpakai.

Tirai terbuka, perhatianku sepenuhnya terseret kesana. Lipatan tirai itu kian menjauh satu sama lain dan lampu dimatikan. Aku menyipitkan mataku, jelas- jelas melihat seorang gadis berdiri di sana dengan sebuh sorotan lampu bundar pada tubuhnya. Gadis itu menundukkan kepalanya. Terdiam dalam posisi berdiri yang aku tidak tahu apa namanya. Gaun tutu putihnya terlihat sedikit berkilau dan rambutnya tergelung rapi keatas.

Musik mulai mengalun, demi apapun aku sempat melihat gadis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum. Lalu gadis itu mulai menggerakkan tubuhnya, melayangkan tangan kurusnya keudara dan sesekali melompat indah. Kakinya sesekali berjinjit dan kali lainnya kedua tangannya bertemu seiring dengan berputarnya tubuh indah itu. Lalu gadis itu mengangkat kedua tangannya ke udara, mempertemukannya di sana dan dia mulai berputar lagi. Matanya terpejam dan aku berani bersumpah itu adalah wajah paling sempurna yang pernah aku lihat. Aku bahkan sempat tidak menyadari kini lampu- lampu lain mulai dinyalakan.

Mataku terus mengikuti arah gerak tubuh gadis itu, dan anehnya aku kehilangan rasa bosanku yang kurasakan beberapa menit kebelakang. Aku bahkan merasakan kedua ujung bibirku tertarik untuk tersenyum. Ada apa denganku ?

Gadis itu melompat tinggi, lalu mendarat dengan sepatu baletnya. Saat itu juga, musik berhenti dan semua lampu dimatikan. Dan entah mengapa, aku merasa pertunjukkan gadis itu belum berakhir. Aku menunggunya, masih menunggu gadis itu menari lagi.

Dan kemudian sebuah lampu menyorot tubuh gadis itu lagi. Hanya gadis itu.

Otomatis, beratus pasang mata di ruangan ini hanya menatap gadis itu. Aku menelan ludahku dan manarik nafasku yang kusadari berberapa detik kebekang sudah kutahan. Gadis itu mulai bergerak lagi, kali ini gerakannya terlihat lebih lembut dan anggun. Gadis itu bergerak dan menari tanpa iringan musik  sama sekali. Tapi kami – orang yang menyaksikannya, sangat bisa mendengar irama yang menyatu dalam tarian ajaib itu. Kami ikut terlarut dalam kesungguhannya ketika menari, kami ikut terhanyut dalam perasaannya sebagai seorang penari. Dan di detik selanjutnya, gadis itu membentuk lengkungan busur dari kedua tangannya. Kaki kanannya terangkat dan tumitnya menyentuh bagian dari kaki kirinya. Gadis itu berputar kemudian, aku bisa melihat senyuman terlukis di bibir dan kedua matanya. Entah berapa kali putaran, yang jelas kini dia berhenti. Tubuhnya terlihat tetap santai dan dengan sesungging senyuman. Gadis itu membungkuk kepada kami.

Tirai tertutup dan aku mendapati diriku terdiam dalam nuansa mellow tarian gadis itu.

Dia, gadis itu.. menari dengan hatinya –.

Ballerina.

“Nona Hwang ?”

Gadis itu menolehkan kepalanya, sebotol air mineral yang digenggamnya kini dia simpan di atas meja rias. Gadis itu membungkuk kemudian  seraya tersenyum ramah pada seorang pria paruh baya yang berdiri di hadapannya. Pria paruh baya itu tersenyum. “kau menakjubkan, kau melakukan 32 putaran fouttes dengan sangat sempurna,”

Lagi, gadis bermarga hwang itu tersenyum. Kali ini ditemani dengan kedua matanya yang indah. Sebuah eyesmile. “terimakasih, aku sangat tersanjung. Sebenarnya aku juga masih butuh banyak latihan,”

Pria dengan rambut disisir rapi itu tersenyum lagi seraya mengangguk, “kau benar, kau harus terus berlatih. Jangan pernah merasa puas, diatas langit masih ada langit..”

“tentu tuan, aku akan mengingat itu,”

“kau akan ikut kami merayakan keberhasilan kali ini ? semua anggota sanggar akan ikut, kau juga harus ikut,”

Gadis itu mengerutkan keningnya segera, lalu tersenyum kecewa. “jika aku bisa, aku ingin sekali ikut. Tapi aku harus menemui ibu –”

Pria itu menatap gadis itu mengerti, lalu mengangguk dan mundur selangkah. “ tentu saja, kau harus menemui ibumu terlebih dahulu. Mungkin lain kali – sampaikan salamku pada ibumu. Tiffany Hwang,” secercah senyuman tanpa nama terpatri di bibir pria itu. Tiffany tersenyum lagi lalu mengangguk mengiyakan. Detik selanjutnya, pintu tertutup dan Tiffany duduk sendiri di ruang riasnya. Menatap pantulan tubuh kurusnya di cermin besar.

“ibu, aku akan menemuimu –”

 

Ballerina.

Suasana kampus tidak pernah lebih baik dari biasanya. Bising dan membosankan. Duduk disana, seorang Xi Luhan dengan tatapan datarnya. Pria itu mendengarkan alunan musik dari earphone putih yang dipakainya. Pria itu menatap kosong hamparan mahasiswa yang berlalu lalang di hadapannya. Luhan  mendengus, mendapati dirinya benar- benar bisa mati kebosanan. Mata kuliahnya dimulai dua puluh menit lagi dan itu akan menjadi perjalanan yang sangat melelahkan.

Pria itu bangkit, menyadari beberapa tatapan genit dari beberapa mahasiswa wanita yang memoles bibirnya dengan pemerah atau melapisi pipinya dengan foundation. Xi Luhan, sama sekali tidak pernah melirik mereka. surat, coklat, hadiah, ajakan kencan, semuanya hanya dianggap angin lalu dan entah sudah berapa keping hati yang diabaikan oleh pria pendiam itu.

Langkah pria itu pelan- pelan. Berharap jam kuliahnya segera tiba jadi dia bisa kembali belajar dan keluar dari tatapan- tatapan menjijikan itu. Perlahan melepas earphonenya lalu mengaitkannya asal di bahu, pria itu berjalan menuju cafeteria dan sesaat matanya terpaku pada sesuatu. Tubuh pria itu terhenti seketika dan dia mendapati dirinya mematung. Gadis itu memakai sebuah atasan putih dan celana jeans. Rambutnya terurai dan dibuat sedikit ikal dibagian bawahnya. Xi Luhan, melangkahkan kakinya untuk mendekat.

Gadis itu sekilas menatapnya, lalu kembali berbicara dengan seorang teman dihadapannya. Xi Luhan menatapnya dari jauh, merasakan dan menikmati degup jantungnya yang berdetak kencang. Gadis itu benar- benar cantik. bahkan tanpa gaun tutu atau sepatu baletnya. Kecantikannya sangat sederhana dan Xi Luhan mendapati hatinya jatuh disana.

Prangg..

Suara nyaring menggema di seluruh ruangan. Bagaikan magnet, puluhan pasang mata tertuju pada Luhan. Pria itu mengernyit bingung dan mendapati dihadapannya seorang gadis dengan rambut pendek tengah membungkuk minta maaf. Gadis itu membereskan nampan makanannya yang terjatuh ke lantai. Xi Luhan cukup bingung dengan situasi yang sedang dehadapinya. Lalu mengerti setelah menyadari kini kaos yang dipakainya basah oleh air. Pria itu meringgis. Sama sekali tidak berniat menolong gadis yang menabraknya. Oh ya, pria itu sempat lupa. Terakhir dia sedang memperhatikan gadis itu dan kini  dia sedikti terkejut saat gadis itu yang gantian memperhatikannya. Tunggu,–semua orang memperhatikan Xi Luhan sekarang. Gadis itu menatap Luhan dalam diam, lalu tatapannya beralih pada gadis yang merunduk memunguti pecahan kaca. Dengan berat hati, demi menjaga imagenya dihadapan gadis itu.. Xi Luhan ikut merunduk dan membantu gadis ceroboh itu.

“oppa ?”

Xi Luhan mengangkat kepalanya dan mendapati wajah gadis yang menabraknya tadi itu hanya beberapa centi dari wajahnya. Xi Luhan mengangkat sebelah alisnya lalu membalas tatapan berbinar dari gadis itu dengan dingin.

Chu..

Detik selanjutnya, Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Luhan. Membuat pria itu terdiam saking terkejutnya. Berbeda dengan dirinya, gadis itu kini hanya tersenyum lalu pergi dengan hati gembira.

 

Ballerina.

Aku mengerang kesal. Bisa- bisanya gadis itu mencium pipiku. Ahh, aku mengerti.. dia pasti merencanakan semua ini untuk melakukan hal itu. Dan tunggu, apa gadis itu melihatnya? Apa gadis itu melihat pipiku dicium oleh gadis gila itu? Dan apakah gadis itu benar- benar kuliah di tempat ini? Mengapa aku baru tahu? Apa dia anak baru? Atau mungkin aku yang tidak penah ingin tahu ?

“kau beruntung!!”

Aku menoleh, Joonmyun duduk disampingku dengan sekaleng soda kesukaannya. Dia mengalungkan sebelah tangannya pada leherku. Aku menepisnya, sungguh sedang dalam keadaan yang tidak mood.

“apa ?”

“gadis itu, dia terkenal dengan gwiyominya. Dan kau baru saja dicium olehnya,”Joonmyun meneguk sodanya dan aku dengan gesit merebutnya. Meneguknya hingga habis dan nyaris tersedak, membuat pria pintar itu tahu betul aku sedang tidak suka bercanda.

“Cih, apanya yang beruntung? Aku benar- benar ingin memarahinya,” aku mendapati diriku bersendawa dan melempar kaleng soda ke udara. Aku baru saja akan bicara lagi tapi sebuah suara menyeret perhatian kami.

“Aww.. Appo, Appo, ”

Aku nyaris pingsan saat tiga meter jauhnya seorang gadis yang aku lihat menari diatas panggung tiga hari lalu, dan aku perhatikan beberapa menit lalu di cafeteria kini berdiri sembari mengelus kepalanya. Aku mengikuti arah pandangnya dan mendapati kaleng soda yang aku lemparkan tadi kini terjatuh dihadapan gadis itu.

Sial, mengapa aku harus bertemu dengannya pada saat seperti ini?

Joonmyun menelan ludah dan pria itu berdehem menatapku. Aku mengerti dan berlari pada gadis itu. Gadis itu menatapku bingung, masih dengan tangan yang mengelus- elus kepala. Aku ingin menjerit saking gugupnya dan gadis itu sepertinya sudah memberikanku tanda Tanya lewat tatapannya.

Aku membungkuk beberapa kali, sempat merasakan tanganku gemetaran dan itu sangat memalukan. “maaf, aku tidak sengaja. Aku kira –” tunggu, apa ini? Gadis itu tersenyum dengan cantiknya. Aku mungkin bisa mati sekarang karena serangan jantung. Gadis itu tersenyum dengan caranya.

“itu bukan sepenuhnya salahmu, aku saja yang berjalan tanpa melihat- lihat. Lagi pula aku tidak apa-apa, kepalaku cukup kuat.”ucap gadis itu ramah. Rambut hitamnya tertiup angin dan itu membuatnya seratus kali lebih cantik dari sebelumnya. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum.

“benarkah,kalau begitu.. bisakah aku melemparkannya lagi ?”

Gadis itu tertawa renyah. Lalu mengambil kaleng soda dekat sepatu heelsnya. “sebelum kau melakukan itu, aku lebih ingin kau merasakannya terlebih dahulu.”

Bagaikan mimpi. Aku merasa diriku terbang dan aku bisa memeluk dunia di dadaku. Aku bisa merasakan jutaan kupu- kupu terbang di perutku dan aku merasakan awan membawaku naik ke ujung langit. Gadis itu kini menatapku dengan mata indahnya. Seperti berlian, aku tertarik kedalamnya.

 

Ballerina.

 

Seminggu ini aku sedikit sulit menemukan gadis tanpa nama itu. Dan seminggu ini pula aku digerayapi perasaan gelisah karena bahkan aku selalu memikirkannya. Setiap malam biasanya aku akan tidur dengan tenang, namun kini –setelah aku bertemu gadis itu, hanya bayangan wajah jelitanya yang kulihat sebelum tidur. Dan demi apapun khayalanku terus meluas hingga larut malam.

Seperti hari ini, aku memakai earphoneku seperti biasanya. Aku duduk di ujung perpustakaan yang lembab. Beberapa manusia memperhatikanku sekilas, beberapa lagi menatapku terkejut. Oh tentu saja, sejak kapan seorang Xi Luhan pergi ke perpustakaan?

Sebenarnya aku memang tidak begitu suka perpustakaan. Menurutku, perpustakaan tidak lebih dari tempat membosankan dimana manusia- manusia ambisius menyalurkan emosi konyolnya dengan membaca dan belajar. Perpustakaan bagiku hanya tempat lembab yang terbelakang dan sampai matipun tidak pernah aku lirik. Tapi kini,karena aku sudah begitu putus asa ingin melihat wajah gadis cantik itu, aku rela duduk disini –di perpustakaan ini. Untuk apa? ya, siapa tahu selama ini dia tidak terlihat karena menghabiskan waktu di tempat ini.

Aku mulai merasa bosan, perlahan kulepas earphoneku lalu mengambil sebuah buku tebal dihadapanku. Aku mengernyit saat membaca judulnya, bahkan dengan membacanya saja aku sudah bisa menebak berapa ribu kali aku bisa menguap karena membaca buku itu. Aku membalik- balikkan halaman dari buku itu dengan asal. Sekilas aku melihat beberapa coretan pena disana, aku mendekatkan buku itu. Mencoba memahami satu persatu coretan kecil disana.

‘hari ini sampai disini,’

‘bagian ini sedikit sulit,’

‘aku agak lelah hari ini,’

‘mengapa aku memikirkan tatapan itu?’

Aku sedikit bingung dengan coretan- coretan asal itu. Tulisannya sama, namun aku yakin tidak ditulis dalam waktu yang bersamaan. Aku menyentuh goresan pena itu dan terhenti saat sebuah suara lembut menyentuh gendang telingaku.

“Chogiyo,”

Perlahan, aku menurunkan buku yang kuposisikan dihadapan wajahku. Yang pertama kulihat, adalah tiga garis horizontal di dahi lalu sepasang manik mata indah dan senyuman yang ajaib. Jantungku berdegup kencang saat itu juga, mataku terbelalak dan aku merasa sangat lemas sampai- sampai aku merasakan desiran darahku di ujung betis.

Gadis itu, bagaikan keajaiban –dia duduk disana, dihadapanku. Rambutnya terikat rapi kebelakang dan tubuh langsingnya terbalut oleh kemeja biru tosca lengkap dengan sebuah kalung liontin perak di lehernya. Aku meneguk air liurku. Gadis itu kembali berucap. “C –chogiyo..”

“N –ne ?” aku sepenuhnya menaruh buku itu di meja dan menatap gadis itu dengan mata terbuka. Gadis itu tersenyum kecil lalu mengetukkan ujung jarinya ke meja.

“buku itu, apa kau memakainya ?” tatapan indahnya mengarah pada buku yang baru saja aku baca. Oh tuhan, jadi –ini bukunya? Apa ini takdir ?

“t –tidak, aku hanya sekilas membacanya. A –apa kau membacanya ?”

Gadis itu menganggukan kepalanya, rambutnya ikut bergoyang dan aku berani bersumpah itu adalah gerakan paling anggun yang pernah kulihat. “aku harus menyelesaikan tugasku segera, dan aku membutuhkan buku itu. Tapi jika sekiranya kau–”

“Tidak, tentu saja kau bisa membacanya, ini –” aku mendorong buku itu kehadapannya. Gadis itu memperhatikkan gerak tanganku lalu menatapku dengan senyuman ramahnya. Aku benar- benar merasakan jantungku meledak- ledak karenanya.

“Terimakasih , mm –”

“Xi Luhan –namaku Xi Luhan, panggil saja Luhan,”

Lagi, kepalanya mengangguk dan aku merasakan bibirku tersenyum pada gadis jelita itu. “Luhan –ssi, namaku Tiffany Hwang .. panggil saja Tiffany,”

Aku juga menganggukkan kepalaku mantap, entah kata apa yang bisa mewakili perasaanku saat ini. Mengetahui namanya, benar- benar hal terbaik yang ada dalam hidupku.

Tiffany Hwang, namanya pun bahkan sangat indah dan cantik.

 

Ballerina.

 

Kampus sudah mulai sepi. Beberapa mahasiswa memang sempat berlalu lalang namun tidak sebanyak siang hari. Dentuman jam dinding yang dipasang di tiap ruangan menunjukkan waktu pukul lima sore. Di lorong koridor itu, berjalan berdampingan seorang Tiffany Hwang dan Xi Luhan. Keduanya berjalan canggung dan larut dalam kebisuannya masing-masing. Tiffany hanya tertunduk memperhatikan jalannya dan Luhan terlalu sibuk memandang udara kosong di sebelah kirinya. Tak ingin gadis itu kebosanan, Luhan mulai berdehem dan mengalihkan pandangannya pada gadis itu. Tiffany balas menatapnya tak lupa menyertakan senyuman manisnya.

“kau besok ada kuliah ?” pria itu membuka kesunyian dengan sebuah pertanyaan ringan. Tiffany menatap langit-langit kampus yang usang lalu menggeleng lemah.

“tidak ada, besok aku libur –sepertinya .” langkah gadis itu kini menggema di sepanjang koridor karena pertemuan lantai dengan sepatu heelsnya.

“sayang sekali –”

“apa ?” kali ini Tiffany menghentikkan langkahnya, membuat Luhan tertegun sejenak dan mendapati baru saja dirinya salah bicara.

“m –maksudku, sayang sekali.. bukankah besok akan ada pawai ? peringatan universitas kita..” jawab Luhan sekenanya, memang benar. Besok adalah peringatan hari berdiri universitas mereka.

Tiffany hanya tersenyum lalu mengendikkan bahunya. “kalau bisa aku akan melihat sebentar, apa kau juga akan datang ?” suara pelan gadis itu menggema di sepanjang koridor. Xi Luhan menolehkan kepalanya dan tersenyum bebas.

“jika tidak ada halangan, aku tentu datang.. besok, bisakah kita bertemu lagi ?”

Tiffany mengerutkan keningnya, menatap Luhan atas pertanyaan tabunya. “lagi? Untuk apa ?” Pria itu menghentikkan langkahnya segera. Mendapati sedikit rasa perih menyentuh hatinya. Namun detik selanjutnya, Tiffany tertawa renyah dan menepuk pundak pria tampan itu. “aku hanya bercanda, tentu saja kita bisa bertemu lagi. Pastikan kita bertemu oke ?”

Xi Luhan mendapati dirinya tersenyum lebar dan ingin sekali melompat girang. Degup jantungnya semakin tidak terkendali dan demi apapun dirinya sangat bahagia sekarang ini. Tiffany balas tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Dalam hatinya berkata, ‘Luhan–pria yang berbeda..’

Ballerina.

Tiffany dengan Pullover putih dan Breeches jeansnya kini berdiri diam dibawah sebuah pohon maple yang rindang. Rambutnya terurai rapi dan sebuah pita kecil menghiasi bagian kirinya. Kaki jenjangnya bertahtakan wedges hitam yang nyaman. Tak lupa tas tangan senada dengan Pullovernya menggantung di lengan kirinya. Mata kecoklatan itu kini menjelajahi setiap sudut jalan dihadapannya. Banyak sekali mahasiswa disana, terlampau banyak bahkan.

Beberapa menit yang lalu Xi Luhan mengirimnya pesan dan mengatakan bahwa dirinya akan segera tiba. Dan Tiffany sepertinya sedikit keberatan dengan itu. Satu dari daftar teratas hal yang paling dibencinya adalah menunggu. Dan pria itu sudah membuat dirinya menunggu.

“Maaf –sungguh maafkan aku,”

Gadis itu membalikkan badannya. Mendapati Luhan tengah merunduk sembari mengatur nafanya rambut pria itu sedikit acak-acakan dan dengan jelas terlihat pria itu baru saja berlari. Tiffany membulatkan matanya, “ada apa denganmu ?” gadis itu berusaha menatap wajah Luhan yang menghadap tanah. Pria itu menegakkan posisinya lalu tersenyum garing seraya melambai-lambaikan tangannya.

“aku tidak apa-apa, bis nya sedikit telat –” pria itu berhenti tersenyum lalu menatap wajah Tiffany yang datar. “kau tidak marah kan?”

Gadis itu mengerjap sekilas lalu tersenyum kecil. “tentu saja tidak, kau tidak salah.. aku saja yang datang terlalu cepat,” sessaat kemudian gadis itu kembali larut dalam pikirannya. Xi Luhan menatap Tiffany yang tampak sempurna. Pria itu berdehem untuk mengurangi rasa canggung seraya mengalihkan pandangan kepada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang.

“omong –omong, kau cantik hari ini,”

Tiffany menolehkan kepalanya, mengerucutkan bibirnya sekilas lalu mulai berjalan. Luhan hanya  mengikutinya, “jadi hari-hari sebelumnya aku tidak cantik huh ?”

“bukan begitu, maksudku. Kau cantik sekali hari ini, ”

“benarkah ? kalau begitu terimakasih, dan apa yang akan kita lakukan hari ini?” kedua insan itu berjalan berdampingan. Tak sadar pada tatapan aneh mahasiswa-mahasiswa lain di sekitar mereka.

“entahlah, apa yang ingin kau lakukan ?” Luhan bertanya seraya mengendikkan bahunya. Tiffany tampak berpikir sejenak lalu tersenyum manis. Cantik sekali.

“aku akan ke perpustakaan, bagaimanapun juga.. aku masih harus menyelesaikan tugasku – ”

Pundak Luhan meresot setelah mendengar kata keramat itu. Mengapa harus perpustakaan?

“kukira sebaiknya kita berkeliling sebentar, akan sangat disayangkan –festival seperti ini bukan ?”

Tiffany menghentikkan langkahnya, membuat pria yang terlanjur berjalan mendahuluinya itu kini membalikkan tubuhnya dengan wajah bingung. “katakan saja kau tidak suka perpustakaan,” gadis itu memicingkan matanya, menatap Luhan dengan curiga. Luhan membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu tapi dirinya memang tidak begitu suka berbohong.

“sejauh ini y –ya, aku m –memang tidak begitu suka per –perpustakaan. Sangat, m –membosankan,” pria itu berujar seraya menggaruk tengkuknya. Khawatir pada reaksi gadis di hadapannya.

Untuk sesaat Tiffany terdiam, sedikit terkejut pada jawaban jujur seorang Xi Luhan, tapi kemudian gadis itu tersenyum lebar. Membuat visualisasi wajahnya kian sempurna. “baiklah, kita berkeliling dulu. Tapi karena aku menemanimu berkeliling. Kau juga harus menemaniku di perpustakaan, aku sedikit membutuhkan saran,”

Luhan tersenyum seraya mengangguk mengerti. Dirinya menghirup udara dengan senang dan tersenyum bahagia. Tidak begitu sulit bergaul dengan Tiffany, dia gadis yang sangat bersahabat.

Keduanya berjalan lagi, menjelajahi berbagai hiburan yang ditawarkan mahasiswa- mahasiswa. Di dalam universitas sedang diadakan battle dance dan beberapa lomba dan disini tersisa dengan berbagai hiburan dan bazzar ala mahasiswa. Tiffany menghentikkan langkahnya, berdiri memperhatikan sebuah stan berwarna pink. Diatas tenda stan itu terpampang jelas sebuah papan bertuliskan, ‘TEMUKAN CINTAMU DISINI’. Gadis itu hendak melangkah untuk mendekat tapi Luhan menahan tangannya, untuk pertama kalinya menyentuh gadis itu. Lembut, lembut sekali.

Tiffany menatap Luhan bingung, Luhan hanya menggeleng lemah sembari menghela nafas. “itu hanya omong kosong, bukankah cinta tuhan yang menentukan ?”

Gadis itu menatap Luhan diam, lalu beralih pada papan diatas tenda. “cinta hanya tuhan yang menentukan,” gumam gadis itu. Dirinya kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum riang. “kau benar, cinta hanya tuhan yang menentukan.”

Keduanya berjalan lagi, lebih seperti sepasang kekasih. Luhan tak hentinya tersenyum dan tak melirik stan apapun. Dirinya terlalu sibuk dalam limangan kebahagiaan yang kini dirasakannya. Tiffany menghentikkan langkahnya lagi. Kali ini menatap stan bertuliskan, ‘DAPATKAN HADIAHMU DISINI.’

“sekarang apa lagi ?” Tanya Luhan pada Tiffany yang memperhatikkan beberapa pasangan mahasiswa tengah berfoto.

“ayo kita ikut lomba itu, ” gadis itu menunjuk pada sepasang mahasiswa yang tengah berfoto berdua. Menunjukkan wajah imut mereka dan berpose dengan riang. Luhan berjengit, menatap kedua manusia itu dengan datar.

“tapi kita bukan pasangan –”

Tiffany menolehkan kepalanya segera, bertemu dengan tatapan Luhan yang datar. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lagi.  “itu tidak penting, kita memang bukan pasangan – tapi tak salah kita mencobanya, aku hanya ingin hadiahnya..tidak lebih.”

Luhan sedikit salah tingkah dan memarahi dirinya sendiri atas perkataannya. Tiffany menatap dirinya dengan cemberut dan Luhan sedikit tahu kini gadis itu tengah kesal. “b –baiklah, kita akan berfoto seperti mereka. seperti pasangan kekasih ?”

“tidak perlu, kita memang bukan pasangan. Tapi lakukan saja seperti seharusnya, yang penting aku mendapatkan hadiahnya.” Kali ini Tiffany kembali menemukan senyumannya. Luhan mengangguk ragu lalu berjalan mengikuti Tiffany kearah stan konyol itu.

“kami akan mendaftar,” tiffany berucap sembari sedikit bersenandung. Seorang mahasiswa dengan blazer biru mudanya menatap Luhan yang berdiri dibelakang Tiffany dengan tatapan terkejut.

“t –tentu, cukup bayar lima ribu won dan kalian bisa mengikuti lomba ini,” gadis penjaga stan itu tampak masih terkejut dengan keberadaan Luhan. Ah tentu saja, ini akan menjadi gossip paling baru. Xi Luhan kini berpacaran.

“bagaimana cara lombanya ?” Tiffany sama sekali tidak mendeteksi tatapan sinis beberapa gadis di sekitarnya dan tetap bertanya dengan ceria.

“kalian cukup berfoto dan kami akan langsung mencetaknya. Foto itu akan kami upload pada situs kami dan kita lihat berapa votingnya. Foto dengan rating paling tinggi adalah pemenangnya, ”

Tiffany tersenyum sembari menoleh pada Luhan yang masih canggung. “baiklah, kami akan berfoto..”

Xi Luhan memang orang yang kaku. Terbukti Tiffany berkali-kali meminta foto diulang dan terus memberitahu Luhan akan pose yang harus dilakukannya. Gadis itu mendengus, “kenapa kau begitu kaku? Tersenyumlah lalu berpose seperti ini, atau ini.” Omel Tiffany sembari menunjukkan cara tersenyum dan memeragakan beberapa pose cute. Luhan hanya mengedipkan matanya berkali –kali sembari mengangguk canggung. “kau tidak pernah difoto ?”

“tentu saja pernah,” sangkal Luhan segera. Tiffany masih menatapnya tidak percaya lalu tersenyum kemudian.

“kalau begitu, lakukan dengan baik kali ini arrachi ?”

Luhan tertegun sejenak, mendapati lagi-lagi dirinya terperangkap dalam pesona gadis itu. Tiffany menepuk pundaknya dan memberitahu bahwa mereka akan segera difoto lagi.

Awalnya Luhan tetap kaku, tapi saat fotographer menggumamkan kata tiga, dua , satu, setelah blitch menghantarkan cahanya. Xi Luhan berpose dengan tampannya. Dia menampilkan deretan gigi putihnya sembari mengalungkan tangannya pada pundak Tiffany. Tiffany tak kalah mempesonanya, dia tersenyum dengan kedua matanya sembari membentuk huru V pada tangan kirinya.

Keduanya selesai dan saling berpandangan sejenak. Terdengar beberapa tepukan tangan dan pujian yang berlalu lalang. Tiffany tersenyum lagi seraya mengangkat tangan kirinya. “kau keren, high five!!” Xi Luhan juga mengangkat tangannya dan membenturkannya pada tangan Tiffany. Membuat sedikit suara tepukan yang merdu. “High Five!!”

Ballerina.

 

Tiffany tersenyum riang, memeluk boneka panda besarnya dengan sayang. Xi Luhan yang duduk disampingnya hanya terkekeh menyaksikan reaksi kekanakan gadis itu. Baru saja, mereka diumumkan sebagai pemenangnya. Rating terhadap foto mereka berdua berada pada urutan paling atas. Alhasil, Tiffany mendapatkan hadiahnya –sebuah boneka panda yang besar. tak lupa dua lembar foto berukuran 4R yang menampakan wajah keduanya barusan.

“kau dan aku sangat bagus di kamera,” gumam Tiffany sembari memperhatikan selembar foto yang digenggamnya. Luhan hanya tersenyum. “bagaimanapun juga, terimakasih.. aku mendapatkan hadiahku sekarang,”

Luhan hanya terkekeh lagi, “tentu saja, kau harus berterimakasih padaku. Karena aku tampan, rating fotonya jadi tinggi.”

Tiffany mencibir seraya memeluk lagi bonekanya. “baiklah, terimakasih tuan Luhan yang tampan,”

“kau tidak mengatakannya dengan tulus,” ujar Luhan segera. Tiffany hanya menatapnya dalam lalu tersenyum dibuat- buat.

“terimakasih tuan Luhan yang t –tampan, apa aku sudah tulus sekarang ?”

Pria itu tertawa renyah lalu mengangguk mengiyakan, “terserah padamu nona..”

 

Ballerina.

“kapan kita pulang ?” Luhan bertanya lemah dibalik buku yang menjadi bantalnya. Tiffany mengalihkan pandangannya sekilas lalu kembali terjun dalam bukunya.

“sebentar lagi, masih ada beberapa yang –”

Pria itu mendesah lalu kembali membenamkan kepalanya pada buku tebal yang menjadi bantalnya. Tiffany hanya tersenyum dibalik keseriusannya dan sesekali mencatat materi pada buku kecilnya.

“Tiffany ?” Luhan mengangkat kepalanya lalu menatap Tiffany yang masih serius.

“hmm ?”

“apa kau mau mengatakannya padaku ?”

Kali ini gadis cantik itu menatap Luhan bingung, “apa ?”

Luhan tampak ragu sesaat. “itu – apakah kau mau memberitahuku kapan kau akan tampil di panggung dan menari lagi ? ”

Saat itu juga, Tiffany melepaskan pegangannya pada buku. Menatap Luhan dengan mata membelalak. “bagaimana k –kau bisa tahu ?”

“itu, sebenarnya aku melihat kau tampil beberapa hari yang lalu. Hari sabtu yang lalu..” Tiffany hanya diam menatap Luhan penuh Tanya.

“mengapa kau tidak mengatakannya ?”

“apa ?” Luhan balik bertanya,

“mengapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau menonton pertunjukkan ku sebelumnya ?”

“itu karena aku, aku belum sempat mengatakannya. Lagipula, apakah itu penting ?”

Tiffany berdehem singkat lalu mencondongkan tubuhnya pada Luhan. “dengar ini, jangan katakan pada siapapun aku seorang penari balet, kau mengerti ?”

Pria itu berjengit, menatap Tiffany dengan bingung. “mengapa seperti itu ?”

“seorang penari, tidak perlu ingin dirinya dikenal banyak orang, seorang penari hanya perlu ingin dirinya tetap menari dan menunjukkan yang terbaik.”

Pria itu terdiam, menatap manik mata Tiffany yang kecoklatan. Dia sedikit aneh karena kini mulai terbiasa pada perubahan detak jantungnya yang selalu tiba-tiba bila dengan gadis jelita itu. Dalam kesunyian yang purba itu. Luhan mengetahui….

Dia telah jatuh cinta..

Ballerina.

 

To be continued…

 

Hii, ini Chapter pertamanya. Semoga suka dan tinggalkan komentar kalian. Chapter selanjutnya akan segera di post setelah melihat respon dari kalian .. bagaimanapun, terimkasih sudah membaca.. Hidup LuFany J

 

16 thoughts on “[FF Freelance] Ballerina (Chapter 1)

  1. Wuaaah…
    LuFany couple! I LIKE IT!!! ♥(>̯┌┐<)•°
    Jarang-jarang nih aku nemuin ff LuFany dgn bahasa Indo, sringnya nemu d AFF mulu…
    НīĬ:DнīĬ:DнīĬ:D

    Adeuh… Adeuh…
    D sni sifatnya Luhan bikin gemes yeeeh… Dia itu sbnernya cuek + dingin tapi gk suka boong…
    Dan yang makin gemes itu saat dy slalu ngerasa gugup tiap kali ngobrol or liat Tiffany senyum…
    Hahahaahahahahay

    Hm…
    Makin penasaran nih sama lanjutannya…
    D tnggu y next chapternya… ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ
    LuFany Hwaiting! Author Hwaiting!!!! ^o^b

  2. Waa bgus thor, DAEBAK ffnya, ayeyeye😀
    Author suka LuFany kah ?
    Ak jg suka bgt lo thor sm mreka .
    Hdup LuFany !! Jjang .. ^^
    Chap slnjutny cpetan d post ya thor, Hwaiting ^^

  3. enggak nyesel deh bacanya ^^ prolognya aja keren banget udah pasti ceritanya jg keren ^^
    thor aku kebawa ceritanya banget ini, gimana dong?😀
    next partnya ditunggu yg thor, Lufany jjang ^^9 author jjang ^^

  4. wah ternyata chap 1 nya keren banget, sifat luhan disini lucu, ceritanya keren trus alurnya menarik, pokoknya daebakk buat author nya ^^
    ditunggu kelanjutannya jangan lama lama ya
    keep writing!!!!!!
    LUFANY JJANG!!!!!!!!! ^,^

  5. WOW!! LuFany jjang!!😀
    kerenn bingit (y) DAEBAK!!
    ditunggu chap selanjutnya ya thorr jgn lama2 en Keep Writing !! ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s