Because It’s You (Saranghae) Part 5b

 

ul-300x192

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 5b

Author: Keyindra_94

Cast: Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior,

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment.

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

OST: Super Junior Yesung – Love Is Really Paint (Tazza Ost)

Sungkyu Infinite – 60 Sec (1st Mini Album of Sungkyu)

West Life – My Love

 

@*@*@*@*@*

 

Langkah cepat kedua kaki yang beradu kini setapak demi setapak berjalan menyusuri jalan yang cukup ramai. Senyuman manis tersungging dari bibir tipisnya yang kini berjalan melangkahkan kakinya menaikku sebuah lift menuju tempat yang ia tuju. Bunyi denting halus membuyarkan lamunan gadis bermarga Kwon tersebut. Kwon Yuri sudah tiba di lantai tempat dimana sang kekasih tinggal. Ia keluar lift dan berjalan santai menuju sebuah nomor aprtement yang ditinggali olehnya.

Yuri tersenyum seketika. senyuman yang sulit diartikan, sepertinya ada hal lain yang akan terjadi dibalik senyuman manis itu. Saat dimana 1 jam yang lalu ia menerima panggilan telepon untuk datang di apartement Jongwoon karena sesuatu. Ya, sesuatu. Sesuatu yang sangat ia benci namun menjadi alasan tersendiri baginya untuk melakukan hal itu.  Bukan dendam melainkan ia hanya ingin ia merasakan rasa yang setimpal dengan perbuatannya. Dimana bayang-bayang masa lalu masih menghantuinya dan menjadi trauma tersendiri baginya.

Dengan satu jari Yuri menekan bel pintu flat apartement tempat dimana Jongwoon tinggal. Ya, sejak ia bekerja dirumah sakit dan menetap di Korea, ia lebih memilih untuk tinggal dan menghidupi dirinya sendiri meski rumah terbuka lebar untuknya.

“kau sudah sampai.” Sebuah suara memanggilnya saat meat mereka berdua bertemu pandang untuk sejenak. Sementara Yuri hanya bisa tersenyum hangat pada lelaki itu.

“eee..bukankah kau sendiri yang memintaku datang kemari. jadi kuputuskan datang.” Yuri terkekeh pelan mencoba menetralisir perasaanya agar tak terlihat gugup didepan Jongwoon. Entah mengapa jantungnya selalu berpacu cepat dan ingin melompat saat bertemu pandang dan menatap lelaki itu.

“kau baru saja memasak?. Sepertinya bau sup.” Ujarnya.

Langkah Kaki Yuri mengikuti Jongwoon, mengekor lelaki itu yang kini berjalan didepannya. Melihatnya dari dekat dengan apround masak yang bertengger manis dibadannya, membuat lelaki itu semakin tampan saja. “waeyo?. Kau memperhatikanku?.” Ucapnya. Seketika itu lamunan Yuri akibat memandang Jongwoon mendadak hilang semua, karena suara lelaki itu mengagetkannya.

“aku membawakan ini untuk sarapan pagimu. Nabak Kimchi dan gimbab. Untuk sarapan pagimu.” Yuri meletakkan makanan yang dibawanya diatas meja lantas menatanya.

“gomawoyo.” Ucap Jongwoon tersenyum manis lalu mengacak rambut Yuri pelan. Jongwoon tersenyum dan mengambil beberapa buah piring untuk ia letakkan diatas meja. Namun sebelum Yuri membantu meletakkan piring Jongwoon menarik pergelangan tangannya untuk tak membantunya.

“tidak usah. Bukankah aku yang memintamu kemari untuk membantuku.”

“mwoya?.”

“bantu aku mengurus seseorang yang ada didalam kamar. Ia sedang tak sadarkan diri. Aku sudah frustasi dibuatnya karena semalam penuh ia mabuk dan menangis keras, tak tahu punya masalah apa?. Kau tahu bahkan aku menemukannya pinsang dipinggir jalan.” Keluhnya. Jongwoon menghembuskan napas kesal dan mendengus pelan. Ia sudah diambang habis pemikirannya tentang bagaimana menyadarkan temannya itu.

Mata Yuri mengikuti arah tangan Jongwoon yang menunjuk ke sebuah kamar. Ia heran menatap bingung Jongwoon. Yuri sudah bisa menduga siapa lagi wanita itu. Sepertinya ia memang harus diberi pelajaran agar hidupnya tak merepotkan orang lain layaknya parasit.

**

Im Yoona. Wanita itu tergelatak diatas ranjang dan tak sadarkan diri, lebih tepatnya tak sadarkan diri karena efek alkohol yang semalam menguasai dirinya hingga ia tergeletak dipinggir jalan. Ia masih tidur terlentang bergelut dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya. Bahkan kini raut wajahnya pun acak-acakan semua. Terlalu berlebihan mungkin saat minum soju.

Pandangan Yuri memandang tajam namun tak terkesan terlihat. Ia memandang benci sosok yang masih terlelap dalam tidurnya karena efek alkohol. Manusia penuh dosa itu ternyata masih diberi kesempatan hidup juga. Padahal sebenarnya Yuri masih berharap agar yeoja itu mati dan tak muncul lagi dalam kehidupannya ataupun kehidupan Hana. Setelah sekian lama mencampakkan kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya.

Senyuman manis itu terukir jelas dari bibir merah milik Yuri, meski terkesan manis nan tulus tapi dibalik itu semua senyum licik yang lebih dominan yang muncul pada dirinya. “dia temanku. Im Yoona, atau lebih tepatnya sudah kuanggap sebagai adikku. Terlalu sering gadis itu pergi ke club malam jika ia sedang frustasi karena sebuah masalah yang aku bahkan tak tahu jenis masalahnya.” Desahnya pelan.

“bisakah aku menitipkannya padamu. Aku ada banyak pasien hari ini. kuharap ia akan segera sadar dan kembali. apa kau bisa menanganinya?.”

“tentu saja. Aku akan mengurusnya dengan baik.”

Jongwoon kembali mengacak poni rambut panjang Yuri yang membuat gadis cantik itu memasang mimik wajah sebal namun itu terlihat lucu bagi Jongwoon. “kau yang terbaik.” Perlahan Jongwoon mulai mendekatkan dirinya, memperpendek jarak tubuhnya dengan Yuri. Ia kecup kening Yuri singkat sebelum meraih tubuh Yuri untuk dipeluknya. Yang seketika itu membuat jantung Yuri lagi-lagi ingin melompat. Rasa ini yang ia rasakan setiap kali Jongwoon berada didekatnya.

“aku berangkat dulu.”

“ne..hati-hati dijalan.”

Sementara itu pandangan penuh kecemburuan yang diliputi amarah terpampang jelas dari raut wajahnya. Sebenarnya ia telah bengun beberapa menit yang lalu akibat suara berisik yang sudah ada sedari tadi mengganggu tidurnya.

‘Kau wanita jalang. Bersiaplah untuk menyesal dan menangis darah bodoh!.’

*****

            Kali ini hanya ada mereka berdua diruang yang cukup besar ini. Kwon Yuri, ia sudah merasa jika wanita yang masih menutup dirinya dengan selimut itu sudah terbangun dan membuka matanya saja. Tapi toh ia bersikap seolah-olah saja tak tahu jika dia sudah terbangun.

Menyadari jika sang pemilik Apartement telah pergi. Im Yoona. Kali ini wanita itu membuka selimut dan tersadar sepenuhnya. Mata Yoona mengitari sekelilingnya, menyadari jika kini ia berada di tempat Jongwoon, ia segera beranjak dari tempat tidurnya.

‘pasti yeoja sialan itu sedang menampilkan wajah manis yang memuakkan dihadapan Jongwoon. Ccihh…gadis murahan seperti itu. Apa menariknya?.’

~hhhaahh…

Hanya beberapa detik ia menarik napas dan menghembuskannya, mengisi stok paru-parunya dengan udara pagi. Yoona dikagetkan oleh sebuah suara. Suara yang tak asing baginya, bahkan ia hafal betul suara siapa itu. Siapa lagi kalau bukan suara si brengsek bernama Kwon Yuri itu.

“ternyata kau sudah bangun ya!. Padahal aku hendak mengambil air untuk mengguyurmu agar bangun!.” Yuri melipat kedua tangannya didada, matanya berkilat angkuh menampakkan sisi ketidaksukaan atas kehadiran Yoona.

“YA!..KK-a. k-au..Breng..” geram Yoona.

Sreekk..,

Dengan sekali tarikan Yuri menarik selimut yang digunakan oleh Yoona dan membuangnya begitu saja. “aku ditugaskan untuk mengurus dirimu pagi ini, jadi jika kau ingin selamat jangan bersikap seenaknya sendiri, aku akan menyirammu dengan air kamar mandi sana!. Cepat bangun tidak ada alasan untuk bertele-tele!.”

“ya!. Wanita jalang sepertimu!. Beraninya kau..kau akan..”

“Pecat!. Begitu maksudmu. Ccihh…kau mengancamku!. Tapi sayangnya aku tak akan pernah takut sama sekali terhadapmu.” Kali ini giliran Yuri yang menggertak. Mereka berdua saling bertemu pandang dengan jarak dekat dengan rasa benci yang ada pada diri mereka masing-masing. Mau tam au akhirnya ia menyeret kakinya keluar dari kamar dengan malas dan mendudukkan dirinya didepan meja makan.

“makanlah!. Selagi aku masih berbaik hati menyiapkannya untukmu!.” Ujar Yuri sebelum ia melangkah keluar. Meninggalkan Yoona dalam amarahnya, sekarang ia ingin menghabisi Yuri saat itu juga.

Suasana sarapan pagi pun terasa sunyi, hanya ada dentingan bunyi sendok dan garpu yang saling beradu dengan alas piring dan mangkuk yang digunakannya. Kedua wanita itu terduduk saling menghadap dalam diam, meski rasa saling benci meliputi keduanya. Rasa yang ditinggalkan Yoona seakan menjadi luka tersendiri bagi Yuri. Wanita itu tetap meneguhkan hatinya meski hatnya terluka dalam atas kesalahan yang pernah Yoona lakukan bertahun-tahun lalu.

“kenapa kau tak memakannya?. Apa kau takut aku menaruh racun didalam sup itu?.” Suara Yuri memecah keheningan diantara mereka berdua yang membuat Yoona langsung menatap tajam kearah Yuri.

“mungkin saja aku akan menaruh racun mematikan kedalam sup itu jika aku yang memasakkannya untukmu. Sayangnya tidak. Sup pengusir rasa mabuk itu Jongwoon oppa yang membuatnya.” Seloroh Yuri meremehkan.

Tatapan tajam nan benci itu dilayangkan kembali pada Yuri. Yoona menggenggam garpunya dengan tangan yang gemetar, menahan emosi yang beradu dalam pikirannya. “sebenarnya apa tujuanmu untuk melawanku?. Apa kau ingin menantangku?. Apa aku pernah melakukan kesalahan padamu?.!. apa kau punya suatu motif dibalik ini semua?!”

Sebenarnya pertanyaan itu sangatlah gampang untuk dijawab Yuri. Ya, tentu saja motif balas dendam yang kini ada didalam benak Yuri untuk membuat Im Yoona sadar akan kesalahnnya. Dan tentu saja meminta pertanggung jawaban terhadap semua yang pernah Yoona dilakukan terhadap orang yang Yuri sayangi.

“apakah dunia sesempit ini. Jika aku harus bertemu denganmu kembali?.”

Yoona terdiam membisu. Sebenarnya apa maksud dari gadis ini?. Ia sama sekali tak mengerti. maka dengan percaya diri sekali Yuri melanjutkannya. “bukankah seorang Im Yoona yang berasal dari keluarga terpandang akan terus hidup senang tanpa mengalami rasa sedih dan tak mau memandang masa lalunya?.”

“sebenarnya apa yang kau ingin Kwon Yuri!, punya motif apa kau?!.” teriak Yoona.

Yuri masih saja memainkan garpu dan makannanya. Manik matanya menatap tajam Yoona, seakan ingin membunuh yeoja itu saat ini juga.. “Menurutmu, apa yang ku inginkan?.” Ujar Yuri meremehkan.

Senyuman licik kini tersungging dari bibir Yoona, ia menatap rendah Yuri dengan latar belakang kesederhanaannya. Pasti dibalik semua itu, hartalah yang kini menjadi incarannya. “kau butuh uang?. Apa kau mendekati Kim Jongwoon hanya untuk mendapatkan uang dan hartanya saja gadis miskin?. Heh?!.”

“baik. Kuberi kau 10 milyar won. Asal kau meninggalkan Jongwoon oppa dan tak menampakkan dirimu lagi dihadapannya. Gadis matrealistis murahan.” Lanjut Yoona. Terkesan menghina memang. Namun itulah karateristik sifat Yoona yang sebenarnya. Apapun akan ia lakukan asal sesuai dengan keinginannya.

“atau kau mau lebih?!. Baik akan kuberi. Semuanya akan kuberi.”

“Micheoseo Eonni!!. Kau benar-benar gila Im Yoona!. Kau bertanya motifku apa?. Karena inilah aku harus membawamu. Aku tak tahu seberapa hebat dan berkilaunya duniamu, tapi tempat itu bukan untuk orang sepertimu.” Teriak Yuri tak kalah pedih. Air matanya mulai keluar dengan sendirinya seiring dengan perkataan Yoona yang tak pernah menghargai orang sedikitpun. Semuanya dihargai sama dengan uang, masih sama seperti tujuh tahun yang lalu.

“Kwon Yuri!!.” Bentak Yoona. Ia sangat tak suka dengan kata-kata Yuri baru saja. Namun Yuri tetap meneruskan perkataannya.

“jika orang seperti eonni berada ditempat seperti ini, dunia akan berubah menjadi dunia yang tak adil dan tanpa harapan, tanpa aturan, dan tanpa impian.”

Kata-kata Yuri bukanlah ancaman melainkan sebuah tekad. “Jika kau tak mau turun, maka aku akan menjemputmu yang sekarang ada di atas. Dan pada saat itu akan akan membawamu turun hingga kau tak akan membuat masalah lagi.”

Yuri bangkit dan berjalan keluar, dan sebelum pergi ia berucap lirih dan menusuk hati Yoona. “Sampai saat itu tiba, tunggulah aku di sana dan bersiap-siaplah.”

“jadi..jadi apa yang kau ketahui tentang diriku Kwon Yuri?!!..”

SREEKKK…

“KWON YURI BRENGSEK KAU!!!..” Teriak Yoona.

*****

“siall..brengsek kau Kwon Yuri!!.” Kata-kata itu masih saja terngiang-ngiang dalam telinga serta pikiran Yoona. Pikiran gadis itu kacau saat detik ini juga Jongwoon akan mengikat gadis brengsek yang menjadi ancamannya selama ini untuk bisa merebut hati Jongwoon.

Stir mobil kini sudah menjadi sasarannya, benda itu ia banting dengan kedua tangannya hingga akhirnya mobil itu merapat dipinggir jalan. Im Yoona terus saja mengumpat dengan omongan-omongan kotornya. Emosinya kini diuji kembali dengan amarah yang meluap-luap. “aku sudah memintamu untuk menjauhi Jongwoon oppa. tapi sekarang kau dilamarnya. Jangan mimpi kau bisa mendapatkan Kim Jongwoon. Karena sampai matipun aku akan menghancurkan hidupmu, jika kau bersama dengan Kim Jongwoon!!.”

Mata Yoona masih berkilat angkuh menampakkan sisi kebencian yang tak terhingga terhadap yeoja bermarga Kwon tersebut, meski memandang jalanan yang cukup ramai tapi pikurannya tetap kalut dan masih berpusat pada Kwon Yuri. Selang beberapa detik kemudian sebuah panggilan masuk dan terpempang jelas pada layar ponsel Yoona. Siapa lagi kalau bukan ibu dari Jongwoon. Meskipun ia tak mendapatkan hati Jongwoon, tapi setidaknya melalui Kim Ahjumma, ia bisa memperlancar rencananya untuk mendapatkan hati Jongwoon.

Drttt…drtt..

“ne..Kim Ahjumma..”

“baiklah kita bertemu nanti…”

Klik.. Seulas senyum licik muncul kembali, sebuah jalan telah didapatkannya kembali untuk bisa melawan Kwon Yuri.

Namun beberapa saat kemudian mata Yoona memangkap sosok yang ia kenal diseberang sana, sosok yang sangat manis nan cantik kini sedang berdiri diseberang sana bersama  teman-teman seusianya, bercanda dengan tawa khas anak kecil yang keluar dari mulut-mulut kecil mereka.

Mau tak mau akhirnya Yoona turun dari mobil yang ia kendarai, berjalan pelan menuju tempat diseberang sana. Ini mungkin hari keberuntungannya bisa bertemu dengan gadis kecil itu. Entah mengapa saat melihat gadis kecil itu amarah Yoona mendadak hilang, digantikan dengan senyuman hangat yang ia peruntukkan untuk gadis kecil bernama Hana itu.

“hey, kita bertemu lagi. Apa sekolahmu baru saja usai?.” Yoona memandang Hana dengan seulas senyuman sabil satu tangannya menyapa yeoja kecil itu ramah.

“Ahjumma!.” Panggilnya singkat namun terkesan berseri-seri saat bertemu dengan Yoona. Entah mengapa juga Hana sangat senang sekali saat bertemu dengan Yoona pula. Seakan keduanya memiliki firasat jika akan bertemu.

“kau barusaja pulang sekoh hem?. Apa kau sedang menunggu seseorang?.” Yoona menundukkan badannya seraya mengusap pelan kepala Hana yang tersenyum manis kepadanya. Gadis itu mengangguk pelan, memamerkan gigi kecil dan putihnya saat tersenyum.

“eomma bilang, jika ia sedikit terlambat untuk menjemputku. Jadi aku akan menunggu disini hingga eomma datang.”

“lalu kenapa bukan appamu saja yang menjemput Hana?.”

Mendadak Hana tertunduk sendu, ia menundukkan kepala dengan tatapan murung yang sulit diartikan. Hana menggeleng pelan. “sejak kecil Hana tak memiliki Appa. Appa sudah tenang disurga.”

Yoona terdiam sejenak, hatinya tiba-tiba saja merasakan sesak. Ada rasa iba yang sulit ditafsirkan dari dalam dirinya entah mengapa beau beberapa kali bertemu dengan gadis kecil itu, ia merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Yoona ingin sekali menganal Hana.

“mianhae..jeongmal mianhae. Ahjumma sungguh tak mengetahui jika..”

“animida ahjumma..” sela Hana. Gadis kecil itu memaksakan senyumannya agar tak terlihat sedih dihadapan orang lain.

Tanpa diduga Yoona merentangkan tangannya, mendekap sosok kecil dan cantik Hana. Dan rasa itu kembali muncul, Yoona merasakan sesuatu yang hangat, yang sangat ia rindukan. Tapi itu apa, ia pun juga tak tahu. Begitupun dengan Hana, mendadak ia bisa merasakan sebuah dekapan yang tak bisa diberikan Yuri terhadapnya.

“baiklah sebagai permintaan maaf dari ahjumma. Mau makan ice cream bersama?.” Tawar Yoona. Ia melepaskan pelukannya

“tentu saja ahjumma. Ne..kajja..” ucap Hana riang, menrik pergelangan tangan Yoona. Ada rasa bahagia yang mereka berdua sama-sama rasakan, tapi mereka tak tahu sebenarnya ikatan apa yang terjadi diantara mereka berdua.

**

“selamat makan.” Hana berteriak kecil sambil mengangkat ice cream yang akan ia makan. Satu matanya berkedip menggoda Yoona yang sejak tadi hanya memandanginya dengan senyuman. Yoona tampak tersenyum lepas saat gadis kecil itu berkedip-kedip lucu. Tak Nampak guratan kesedihan dari wajah Hana, meski wnaita itu telah menyinggung tentang keberadaan sang ayah.

“Bagaimana? Enak tidak sayang??.”

Sekali lagi Hana mengangguk. Bocah itu lalu merogoh tasnya dan mengambil botol berisi air minum dan tissue yang ia bawa. “tapi eomma selalu membuatkan variasi ice cream untuk Hana.” Kata Hana sedikit pamer.

“jinjayo?.” Tanya Yoona yang kemudian juga memakan ice creamnya yang ia beli bersama dengan Hana. “lain kali Ahjumma ingin mencoba ice cream variasi dari eomma-mu.”

“tentu saja ahjumma dompet harus mencobanya.” Ucap Hana riang penuh semangat.

“ngomong-ngomong jangan memanggil dengan nama ahjumma dompet. Panggil aku Yoona ahjumma. Arrachi.”

“arra. Ahjumma harus bertemu dengan eomma. Eomma adalah eomma yang terbaik yang pernah  Hana miliki.”

“Kau ini baik sekali. Siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini?.” Tanya Yoona seraya mencubit pipi chubby Hana.

“eomma.” Jawab Hana bangga. “ahjumma apa kau ingin kugambar?.” Tawar Hana.

“mwo?.”

“karena ahjumma begitu cantik. Ayolah ahjumma!. Hana janji tak akan menggambar ahjumma dengan sangat cantik.” Pintanya memelas, wajah cantik Hana tampak seperti gadis kecil yang imut. Sementar Hana, hanya bisa mengangguk pasrah seraya tersenyum tulus menuruti permintaan Hana.

30 menit pun berlalu. Yoona masih dengan setia menunggu Hana. Wanita itu bukannya lupa akan tanggung jawabnya pada perusahaan dan tentu saja wajah Kwon Yuri yang merupakan musuh bebuyutannya. Rapat atau segala macam kegiatan biasa ia kerjakan pada pagi dan sore hari. Tidak jarang pula ia menemui klien nya pada malam hari. Namun entah mengapa saat mengamati Hana secara seksama, Yoona mendadak bisa melihat jika sosok Hana sama seperti dirinya saat masih kecil padahal ia tahu jika Hana bukanlah siap-siap baginya. Bahkan hanya gadis kecil yang ia baru saja kenal, tapi mengapa hati kecilnya mengatakan jika gadis kecil itu memiliki sesuatu yang lebih, tapi apa itu?.

“ahjumma, gambar Hana sudah jadi.” Lapor Hana seraya menyidirkan buku gambarnya pada Yoona yang membuat wanita itu tersadar dari lamunannya untuk sejenak. “bagus tidak?.”

“euhmm..bagus sekali. Bahkan ini sangat bagus sekali. Tapi..apa ahjumma lebih cantik daripada eommamu?.” Goda Yoona. Ia mengerling jahil menatap Hana.

“eomma?.” Ulang Hana dan Yoona pun mengangguk. “Hana tak punya eomma dan Appa Hana sudah berada pada surga Tuhan. Sejak kecil Hana tak pernah melihat appa dan eomma Hana. Yuri eomma-lah yang membesarkan Hana.” Lirih Hana lalu menunduk lagi, bahunya bergetar.

“sayang, maafkan ahjumma.” Ucap Yoona merasa bersalah.  Wanita itu lalu menarik tubuh kecil Hana ke pangkuannya. Mengusap lelehan airmata Hana yang sudah menganak sungai. Hana tambah terisak saat Yoona mendekapnya erat. Mendadak ulu hati Yoona angat sakit saat mendengar ucapan polos Hana. Yoona ikut menangis saat kedua tangan mungil Hana mencengkeram kemeja belakangnya kuat. “Eomma selalu marah saat Hana bertanya tentang eomma kandung Hana. Lalu setelah itu eomma akan menangis. Hana tidak mau melihat eomma sedih. Hana.…”

“ssttt…jangan menangis lagi ne..” ujar Yoona mencoba menangkan Hana.

 

‘jikapun waktu bisa kuputar kembali dan andai saja aku masih hidup diantara kalian. Aku ingin kalian berdua bahagia. Saranghae Im Yoona..Lee Hana. Aku akan selalu berada diantara kalian berdua. Appa menyayangimu Hana.’

Donghae. Meski tak terlihat pria itu masih bisa sedikit tersenyum karena kedekatan keduanya. Orang yang paling berharga bagi hidupnya. Im Yoona dan Lee Hana.

*****

Hati Yuri terlalu kacau untuk saat ini. Saat ingatan pedih itu kembali datang dan memenuhi pikirannya. Kecuali rasa sakit di hatinya. Ia bisa merasakan yang satu itu. Sakit sekali. Butuh  tenaga  besar  untuk  menyeret  kakinya  dan  maju  selangkah.  Sebelah  tangannya terangkat ke dada, mencengkeram bagian depan cardigan yang dikenakannya.

“kenapa ini semua harus terjadi Tuhan?.” Isaknya. Sebiasa mungkin ia harus bisa menahan air mata yang keluar melair dipipinya, namun apa daya tangis Yuri tak dapat terbendung lagi. Apakah Hana akan menerima sosok angkuh seperti itu sebagai ibu yang selama ini ia rindukan, jika ia mengetahui seperti apa ibu kandung yang ia rindukan dan harapkan?. Hingga waktu menjelang malam seperti ini Yuri hanya bisa mengikut langkah kakinya saja. Tak tahu harus bagaimana lagi ia pergi.

Saat ini langkah kaki Yuri hanya bisa membawanya kesebuah pantai yang selalu ia kunjungi saat merasakan sepi dalam hidupnya. Sejauh mata melihat hamparan cakrawala yang tampak membentang, Yuri berdiri tegar memandang laut. Mencoba tegar menghadapi semua yang ada meski kehidupan pahit banyak ia lalui.

‘ije seoya marhaneyo. Love you kkog hanbeon haejugo sipdeon mal. I love you heun haedo hanbeoneul motae jun geu mal’ (Infinite-Eomma)

 

            “yeoboseo.”

“eoddiga?.”

“menyendiri bersama bersama dengan laut. Setidaknya sepinya pantai bisa membuatku tenang.”

“ya!. Kwon Yuri eoddiga?.” Kesal Jongwoon.

“pantai tempat kita bertemu. Annyeong.”

Klik..

20 menit pun berlalu. Kali ini Kim Jongwoon sudah tiba dimana tempat mereka berdua pernah bertemu. Tempat dimana Jongwoon bisa merasakan cinta itu. Ia melangkahkah pelan kakinya saat kedua matanya melihat Kwon Yuri duduk diam menatap laut, menikmati semilir angin sore dilaut.

“kenapa kau datang ke tempat ini sendirian?.” Tegurnya. Yuri bisa merasakan jika sebuah suara yang ia kenal tengah mengajaknya bicara. Ya, Siapa lagi kalau bukan Kim Jongwoon, kekasihnya.

“karena tiba-tiba aku hanya ingin melihat laut.” Jawabnya singkat itu saja.

Jongwoon mendudukkan dirinya disebelah Yuri ia tahu jika wanita itu kini tengah dirundung masalah. Tapi apa itu?. Setidaknya jika Yuri bercerita, mungkin ia bisa sedikit membantu.

“tempatnya jauh lebih bagus daripada yang difoto.” Ujar Yuri mulai membuka pembicaraan. “Tak disangka, ternyata tempat ini jauh lebih indah jika disore hari.”  Desahnya menghela napas panjang.

Semilir angin laut menerpa keduanya. Yuri memjamkan matanya sejnak meresapi kehidupan yang dijalaninya kini. Membayangkan apa yang akan terjadi padanany nanti. “inilah kehidupan, kadang pahit kita jalani. Sepahit apapun itu mungkin sudah digariskan untukku. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Aku ingin merubah takdir yang kumiliki dan mengantinya dengan kebahagiaan abadi bersama dengan orang-orang yang ku sayangi. Aku merindukan moment-moment seperti itu, ditempat ini. dan ditempat inilah semua berakhir dengan pilu. Dia meninggalkannya hanya kerena alas an status social.

“kau spertinya sudah mengenal tempat ini terlebih dahulu sebelum aku mengajakmu ke pantai ini.” Tanya Jongwoon. Ia merangkul pundak Yuri dan tersenyum manis padanya.

“mungkin ya.” Jawab Yuri datar.

“sebelumnya tempat ini pernah menjadi saksi dimana dua orang yang saling mencintai. Dikhianati hanya karena status sosial. Dia mencintainya, sedangkan wanita itu pergi meninggalkannya dengan goresan luka yang mendalam.”

Jongwoon menatap bingung Yuri mencerna kata demi-kata yang keluar dari mulut gadis itu. Ia tak tahu apa maksud arah dari perkataan dari Yuri yang menyebutkan dua orang..dikhianati. “nuguya?. Siapa orang itu?.” Tanya Jongwoon lagi, ia ingin tahu. Yuri terdiam. Jongwoon menunggu jawaban yang keluar dari mulut Yuri.

“dia meninggal 6 Tahun lalu saat kami berdua baru saja pulang dari Amerika. Seseorang yang berarti dalam hidupku dan tentunya Hana.”

“mendiang kakak lelakimu itu kah?.”

Yuri terdiam sebentar lalu menarik napas panjang tanpa memandang wajah Jongwoon dengan raut muka kebingungannya lalu mengangguk pelan. Sepertinya ia akan berterus terang. “Lee Donghae oppa. Dan tentunya wanita jalang itu.”

“wann..”

“Im Yoona, wanita yang selalu bersamamu. adalah yeoja yang membuat Donghae oppa pergi untuk selamanya.” Potong Yuri sebelum Jongwoon melanjutkan kata-katanya.

Jongwoon tertegun seketika. Im Yoona. Ada kaitan apakah mereka berdua. Kenapa Kwon Yuri bisa menyebut nama Yoona dengan spekulasi alasan seperti itu. Telinga dan otak Jongwoon tak salah lagi mendengar lontaran kata-kata tersebut. Pria itu nampak terkejut dan tak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagimana bisa ia lebih tahu seluk beluk Im Yoona daripada dirinya yang sudah lama berteman dengannya.

“sejak kapan kau mengenal Im Yoona?.” Masih belum mempercayai, kini mata Jongwoon menyiratkan beberapa pertanyaan yang harus ada jawabnnya. Tapi selama ini Yuri tak mengatakan hal apa-apa tentang Yoona ataupun Yoona yang mengenai Yuri.

“7 tahun lalu. Apa aku masih pantas menyebutnya sebagai manusia dan memanggilnya dengan sebutan eonni. Jika ia menghancurkan hidup dan harapan putrinya sendiri!.” Dalam keadaan kalut seperti itu tangis Yuri pecah. Perlahan-lahan air matanya mulai turun. Mungkin ini sudah saatnya ia membongkar kebusukkan Yoona, Semua ulahnya. Yang membuatnya jatuh dalam kehidupan pelik seperti ini.

“mungkin aku terlalu munafik memang menyembunyikan semuanya. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Aku tak mau masa lalu yang kejam itu terulang kembali pada Hana. Kau boleh menilaiku sebagai gadis rendahan yang tak bisa menerima kenyataan dan takdir akibat dendam yang masih mengakar dibenakku. Ya..tapi inilah kenyataannya jika takdir menuliskan jika Im Yoona adalah ibu kandung Hana. Ironi memang jika melihat Hana yang menganggap dirinya sebagai anak yang tak diharapkan kehadirannya. Tapi inilah keadaanya, aku merahasikan rahasia ini bertahun-tahun bahkan ibu yang melahirkannya saja menolak kehadiran anak itu.” Yuri masih terisak, air matanya semakin mengalir deras dan ia hanya bisa mengusapnya, mencoba menyembunyikan kesedihannya. Ia mencoba memaksakan sedikit senyuman meski terkesan pahit. Ini sudah takdir, apa ia bisa merubah dan menyangkalnya?.

Cerita singkat Yuri tentang masa lalu yang baru saja Jongwoon ketahui membuat lelaki itu terdiam seketika sembari menatap Yuri tak percaya. Kenapa Im Yoona bisa sekejam itu dalam memunafiki kehidupannya dan bahkan sama sekali tak pernah menceritakannya pada Jongwoon.

“Aku mengenal Yoona hampir 6 tahun lalu di New York pada saat aku masih menuntut ilmu di sana. Tapi Yoona bahkan tak pernah bercerita jika ia pernah menikah dan memilki seorang putri. Aku hanya mengetahui jika gadis itu pernah menderita sebuah kecelakaan besar di New York.” Dalam sekejap otak Jongwoon merespon memory lama yang masih terngiang didalam pikirannya.

“mungkinkah…waktu itu….” ujar Jongwoon yang meminta penjelasan lebih, ia menatap tak percaya Yuri.

“aku dihukum karena membiarkan dan tak mengetahui penyakit yang dialami oppa. Oppa yang selalu ada untuk dirimu.”

“kenapa Tuhan menciptakan manusia sepertimu?. Kenapa kau menyakiti Donghae oppa?!!.” Teriaknya.

“aku tak mengenal orang yang kau sebutkan itu!. Dan jikapun aku mengenalnya aku akan melupakannya. Aku tak mau masa depanku hancur hanya karena sebuah percintaan bodoh seperti itu. Ambilah jika kau mau. Aku sama sekali tak mau mengakuinya. “pergi kau!. Kau hanya mengganggu pagiku saja!.”ujar Yoona sinis.

“geumanhae!.” Perintahnya kembali. Yeoja itu terlihat sudah berkaca-kaca mengeluarkan tangisnya. Ia tarik tangan Yoona dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur kebelakang.

“aku tak tahu kau wanita jalang seperti apa. Sia-sia aku mencari eonni di Negara ini jika kau hanya hidup seperti sampah yang melupakan masa lalumu. Eonni!!!….”

Gadis berusia 18 tahun itu masih saja memaki-maki Yoona dengan sendirinya. Semua kata kotor keluar dari mulutnya yang diperuntukkan kepada wanita jalang seperti Yoona. “aku berjanji!. Jika suatu hari kau ingin kembali jangan harap dunia akan berpihak padamu. Justru dunia akan menekanmu termasuk darah dagingmu sendiri!.” Ancamnya sebelum ia pergi dan tak akan pernah lagi meginjakkan kakinya ditempat laknat milik Yoona tersebut.

“kkk—kau….Mungkinkah…yeoja itu?.” mendadak jantung Jongwoon berdetak cepat akibat ingatan masa-masa awal saat dirinya bertemu dan mengenal Yoona. Tak hanya itu tangan Jongwoon mulai bergetar saat memegang pergelangan tangan Yuri.

“setelah mengetahui ini. Mungkin pikiranmu akan berubah terhadapku. Pasti kau berpikiran jika aku mendekatimu hanya untuk membalas dendam terhadap Yoona, karena Yoona mencintaimu.” Ujar Yuri tak kalah pedih. Tapi bagaimanapun ini konsekuensi hidupnya. Meski pahit, inilah yang terbaik.

“Yoona mencintaku?.” Melihat wajah Yuri berubah drastis, Jongwoon memandang Yuri semakin penasaran.

“lebih tepatnya aku adalah duri dalam drama percintaan Yoona yang sangat mencintaimu. Apa kau tak sadar jika wanita itu akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu?.”

“maksudmu?…aku tak mengerti Kwon Yuri?!.”

“dibandingkan perasaanku..perasaanmu jauh lebih penting. Aku tak mau membuatmu terluka karena cinta. Jikapun kau berpikir untuk mengakhiri hubungan ini dan belajar mencintai Im Yoona, tak apa. Asal gadis itu tak membuat orang lain terluka sama seperti mendiang kakakku. Aku sadar jika hanya sesaat hadir dalam hidupmu, dan keputusanku untuk menerima pinanganmu aku rasa itu cocok untuk kau berikan pada Im Yoona yang jauh lebih besar mencintaimu, bukan aku.”

“Kwon Yuri!. Apa maksud semua ini!. Kenapa kau menceritakan ini padaku?. Aku mencintaimu dan Yoona sudah kuanggap sebagi adikku sendiri. Bagaimana aku bisa mencintainya?. Dan teruntuk masa lalu kalian berdua, akau akan berusaha mempertemukan Yoona dan mengambalikan dia pada Hana…”

“tidak perlu. Jika pun masih saja ia tak menerima Hana sebagai putrinya. Anggap saja itu takdirku untuk menjadi ibu bagi Hana selamanya. Dan cobalah untuk mengubah keputusanmu. Dan jika kau bisa membuat Yoona bahagia tanpa mengingat masa lalunya, maka itu akan jauh lebih baik. Kau bisa belajar mencintai Yoona dan membahagiakannya.”

“satu hal yang harus kau mengerti.” isaknya kembali. Yuri berdiri dan mengusap airmatanya dan memandang Jongwoon. “aku mencintaimu sangat tulus. Tak terbesit dalam benakku untuk menjadikanmu sebagai alat balas dendamku terhadap Yoona. Jika Yoona bercerita tentangku padamu kau boleh mempercayainya. Itu hakmu. Dan ini jawaban jujur ini aku utarakan dari hati terdalam. Aku mencintaimu dan karena mencintaimu itulah yang membuatku jujur agar tidak tenggelam dalam kebohongan nista itu.” Lanjutnya.

“apa kau berpikir untuk mengakhiri hubungan kita dan menyuruhku untuk mencintai Im Yoona?. Itu tak akan pernah terjadi Kwon Yuri. Aku mencintaimu sejak kita pertama kali bertemu. Dan kau adalah yeoja itu…” ujar Jongwoon tak kalah pilu. Ia tak menyangka jika Yuri akan membuka rahasianya sendiri didepannya.

Jongwoon merengkuh tubuh Yuri erat, memeluk wanita itu seakan tak mau kehilangannya dan membawanya dalam dekapan hangatya. Semenatara Yuri hanya bisa mematung diam tak membalas pelukan lelaki itu..”kita akan tetap menikah. Dan aku akan tetap mencintamu.”

Perlahan Yuri mulai melepaskan peluakan lelaki itu dan berjalan pelan menjauhinya. Mungkin inilah yang terbaik. Jika memang Jongwoon bukan jalannya, ia akan berhenti mengharapkan. Tapi inilah perjalanan takdir.

‘saranghaeyo Kim Jongwoon. Aku mencintaimu~’

“Kwon Yuri!!.” Teriak Jongwoon namun teriakannya sekan tak dipedulikan oleh Yuri. Lelaki itu masih berteriak memanggil nama Yuri berkali-kali hingga gadis itu menghilang dan sebelum ia melihat sebuah benda yang tak sengaja Yuri jatuhkan didekatnya. Sebuah benda berkilau yang tampak seperti miliknya. Tangan Jongwoon mengambil benda berbentuk kalung salib tersebut saat matanya tak sengaja menangkap benda tersebut.

Kalung itu sama persis dengan apa yang berada dalam saku Jongwoon. Ia mengambil kalung Yuri yang terjatuh dan menyamakannya dengan miliknya. Sama persis, bahkan Yuri pun tak mengetahui jika Jongwoon memiliki sepasang kalung yang sama persis dengannya.

“kenapa saat kita dipertemukan kembali, kau malah meninggalkanku?!. Aku mencarimu bertahun-tahun. Sejak kita dipertemukan pertama kali. Saat itu juga aku jatuh cinta padamu. “Lelaki itu meremas pasir disebelahnya, menangis pilu menahan semua gejolak yang ada pada dirinya. Dan berharap ia tak akan ditinggalkan oleh Kwon Yuri.

*****

Langkah cepat kedua kaki itu terkesan tergesa-gesa.menuju kesebuah tempat dimana mereka berdua sepakati untuk bersama. Choi siwon menatap diam sebuah foto yang kini berada dalam genggamannya. Tangannya bergetar hebat saat mengetahui sosok yang berada didalam foto tersebut.  Bagaimana bisa dunia sesempit ini. Tak salah lagi, Siwon sangat mengenal siapa orang itu.

“ini foto Lee Donghae bersama dengan adik perempuannya saat mereka sedang berada di Amerika untuk pengobatan Donghae yang terkena Kanker Otak saat itu.

“Gadis ini bukankah..” Belum sempat Siwon menyelesaikan omongannya, lelaki yang berstatus sebagai kaki tangannya itu menyela omongan Choi Siwon.

“namanya Kwon Yuri. Saudara tiri Lee Donghae. Donghae merubah marganya menjadi Kwon karena pernikahan antara ibunya dan ayah kandung dari gadis ini.”

Tepat. Satu kata yang hanya bisa tergambarkan dari fakta yang baru saja diterima Siwon barusan. Ia tak menyangkan jika ex mahasiswanya itu adalah adik tiri dari sahabat lamanya itu.

“sebelumnya mereka bertiga masih tinggal di Gyeonggi-Do hingga hari kematian Donghae berakhir, lalu setelah itu mereka pindah ke Seoul hingga akhirnya menetap disana.

“Benarkah dia satu-satnya saudara dari Lee Donghae?.” Tanya Siwon semakin penasaran.

“tetangga tempat dimana mereka tinggal yang mengatakannya. Jika Donghae hanya hidup berdua dengan adik perempuan satu-satunya itu.

“aku mengenal baik yeoja ini. Kwon Yuri adalah mahasiswa bimbinganku di kampus untuk tugas akhirnya.” Ia sudah memutuskan untuk bertemu dengannya dan mendengar ceritanya sendiri dan mencari tahu mengapa keluarga Donghae tak member kabar tentang kematian Donghae.

**

Siwon mematung diam setelah keluar dari mobil Ferrari hitam miliknya, berdiri didepan sebuah rumah sederhana. Menatap dalam diam memandang lekat rumah yang dicarinya selama ini. Rumah keluarga tempat dimana keluarga Donghae tinggal. Meski bukan tergolong rumah elite tapi rumah itu layak disebut sebagai rumah yang layak untuk ditinggali.

“disinikah mereka tinggal.” Desah Siwon pada akhirnya. Ia berjalan memasukki pekarangan rumah tersebut dan menekan pintu yang berada didepannya.

La..la..lalala…lala…lalaaala,…

Suara riang dari sosok gadis kecil yang kini berjalan sambil bersenandung riang juga bersamaan dengannya memasukki pekarangan rumah tersebut. Nyanyian anak-anak yang dinyanyikannya pun berhenti seketika saat mata hazzel milik gadis kecil itu menatap polos Siwon.

“nuguseyo, ahjussi?.” Tanyanya polos saat akan memasukki rumah.

Tak salah lagi, Siwon mengenal gadis kecil itu beberapa tempo waktu yang lalu. Dia Hana. Gadis kecil yang pernah ia temui di Yayasan yang baru didirikannya. “kau Hana kan?. Gadis kecil yang bersama dengan Yoona waktu itu?.” Tanya Siwon pelan sembari mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil itu.

Hana memutar bola matanya dan otaknya sejenak, mengamati lelaki didepannya itu. Benar, dia Choi Siwon. Pemilik yayasan tempat dimana suster gereja yang sayang padanya kini mengabdi dan bekerja. “ahjussi.. Siwon Ahjussi?.” Tanya gadis itu kembali.

Krieet…

Pintu yang yang sedari tadi Siwon ketuk akhirnya memunculkan tuan rumah pemilik rumah itu. Siapa lagi kalau bukan Kwon Yuri, mantan mahasiswanya beberapa waktu lalu.

“eomma.” Panggil Hana.

“kau sudah pulang chagi?.” Tanya Yuri. “mianhae, eomma tak menjemputmu.” Sesalnya.

“gwenchanaseo. Tadi Kristal ahjumma menjemputku.” Kikik Hana geli lalu kemudian melangkah dan memeluk Yuri yang sudah menunggunya didepan pintu. “

Setelah berurusan dengan Hana, mata Yuri melihat seorang pria muda berpakaian berjas rapi yang  berjongkok mensejajarkan diri dengan Hana tadi. Ia penasaran dengan lelaki itu. Yang pasti lelaki bertubuh besar itu bukan Jongwoon, kekasihnya. “nuguseyo agasshi?.” Tanya Yuri.

“eomma. Dia Siwon ahjussi. Pemilik yayasan tempat dimana Park Ahjumma bekerja.” Ujar Hana.

Lelaki itu akhirnya membalikkan dirinya mengahadap Yuri. Memandang yeoja itu dari atas hingga bawah. Tak kalah dengan Yuri ia terlihat sedikit shock juga saat melihat Siwon mendadak berada dirumahnya.

“songsaemin!!.” Pekik Yuri terkaget.

“ne..annyeong.”balas Siwon yang tersenyum tulus meski terkesan kikuk.

“Kwon Hana. Ganti baju dulu!.” Perintah Yuri. Ia bingung mengapa Dosen yang mengajarnya mendadak tiba-tiba sampai dirumahnya. Apa ia terdeteksi sebagai mahasiswa yang memplagiat tugas akhir orang lain atau sejenaisnya. Kenapa dosen se-perfect Choi Siwon mendatanginya tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

“Bolehkan aku masuk Kwon Yuri-sshi?.” Pinta Siwon.

“oh~ne.”

“songsaemin…eeerrr..apa ada kesalahan tentang penulisan skripsi akhirku?.” Yuri bertanya pelan sembari mengamati Siwon. Ia takut jika dosen itu berubah menjadi galak dan memarahainya sama seperti waktu itu.

“tenang saja. Gelar sarjanamu tak akan dicabut. Kau sudah lulus. Aku datang kesini hanya untuk mengklarifikasi sebuah kebenaran saja.

Benar saja. Baru memasukki rumah itu, Siwon melihat foto Donghae dan Kwon Yuri sedang tersenyum lebar menikmati suasana disore Hari, layaknya kakak beradik itu. Siwon semakin merasakn dadanya sesak saat Yuri mempersilahkannya duduk, dan pandangan matanya tertuju pada sebuah foto dalam figura kecil itu. Foto Lee Donghae tengah duduk dikursi ruda dengan wajah pucat layknya orang sakit parah namun masih bisa tersenyum dan diapangkuannya terdapat bayi kecil yang tersenyum juga.

“maaf sebelumnya songsemin. Jika bukan karena tugas akhirku apa tujuan anda datang kemari?.” Ucap Yuri yang mulai membuka pembicaraan, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk mengatasi salah tingkahnya.

Siwon menghela napas sejenak sebelum ia mulai membuka pembicaraan. “aku datang kesini untuk menemui Lee Donghae.” Desahnya pelan.

“ Lee Donghae?.” Tanya Yuri tak percaya. Bagaimana bisa lelaki ini mendadak menanyakan keberadaan mendiang kakak lelakinya itu.

“ne..Lee Donghae atau lebih tepatnya Kwon Donghae, kakak lelakimu.”

“ eomma sepertinya Hana pergi dulu ne. sepertinya Kristal ahjumma membutuhkan bantuan Hana.” Suara keras Hana menyadarkan arah dari pembicaraan mereka tentang orang yang palaing berharga bagi Hana. Tak mau melukai gadis kecil itu, Yuri mengisyarakan pada Choi Siwon untuk mengehentikan pembicaraan mereka sesaat dan bersikap seolah-olah baik-baik saja didepan Hana.

“sudah minum obat?.”

Hana mengangguk mengiyakan,

“ne..eomma izinkan kau bersama dengan Kristal ahjumma hari ini.bersenang-senanglah kalian.” Ujar Yuri. Ia mengecup singkat pipi Hana dan membiarkan gadis itu pergi keluar sebentar. Setidaknya gadis kecil itu butuh refreshing sejenak dari kegiatannya disekolah.

“bye eomma..bye Siwon Ahjussi..”

Sebelum gadis kecil itu menghilang dibalik pintu keluar, ia membalikkan badannya sejenak dan kembali menatap kedua orang dewasa tersebut yang masih berbicara masalah orang dewasa. “Siwon ahjussi!!..jangan rebut eommaku. Sebentar lagi eomma akan menikah dengan Jongwoon Samchon..dan untuk eomma. Jongwoon Samchon akan cemburu jika melihat eomma berbicara dengan laki-laki lain.” Kekeh gadis kecil itu. Sebenarnya Hana hanya ingin menggoda eommanya saja. Toh, Hana sudah tahu jika Choi Siwon dan Im Yoona sedang menjalin hubungan, meski ia tak pernah mengatakannya pada Yuri.

“mwo?. Ya!..Hana!.” pekik Yuri.

**

Setelah kepergian Hana untuk sesaat. Yuri kembali berkutat dengan pemikirannya kembali, ia tak tahu mengapa tiba-tiba saja Siwon dating kepadanya dan menanyakan mendiang Donghae. Ia memandang Siwon yang berdiri menegakkan tubuhnya dan mengambil foto yang sedri tadi dipandanginya secara terus-menerus.

“apa seperti ini kondisi Donghae pada saat itu?. Kenapa begitu bodohnya aku tak mngetahuinya.” Sesalnya. Sebenarnya omongannya terasa mengiris hati, tapi ia tak mau tampak terlihat cengeng didepan orang lain.

“songsaemin..” lirih Yuri. “apa anda mengenal Donghae oppa?.” Lanjut Yuri.

Siwon kembali menarik napas panjang dan kembali berbicara. “dia sahabat baikku.” Jawab Siwon pelan.

Yuri tersenyum kecil mencoba mencairkan kakunya suasana diantara mereka berdua. Sebenarnya ia terharu karena masih ada yang merindukan keberadaan Donghae. Meski kepergiannya sudah lama.

“apa dia Hana?.” Tanya Siwon, tangannya menunjuk pada bayi cantik yang berada dalam pangkuan Donghae di kursi roda tersebut. “siapa dia?.”

“anda mengenal Hana?.” Tanya Yuri balik tak percaya.

“kami tak sengaja bertemu dengan Hana pada saat acara pembukaan yayasan sosial milikku.”

“ne..dia Hana. Dia putri dari Lee Donghae.” Lirihnya.

“Donghae menikah?. sejak kapan Lee Donghae menikah?!.” Lelaki itu semakin penasaran dengan kehidupan mendiang Donghae. Bahkan dengan bodohnya ia sama sekali ia tak mengetahui jika sahabat baiknya itu telah menikah dan memiliki seorang putri.

“Ya, lebih tepatnya menikah karena sebuah kecelakaan yang mengubah hidupnya.”

“lalu sekarang dimana istrinya?. Kenapa difoto ini hanya ada kalian?.”

“pergi meninggalkannya dan membuang putri yang pernah ia lahirkan sendiri.”

“ppp—eergi?. Kenapa ia tega meninggalkan Donghae?. Sikap Siwon mendadak berubah drastis, ia memekik sedikit keras seakan memarahi Yuri tentang ketidaktahuannya pada kematian Donghae. Pikirannya kembali mencuat pada surat yang Donghae kirimkan 7 tahun lalu saat kepergiannya ke New York.

“Ketika kau berada didua pilihan, salah satu harus aku korbankan untuk orang yang paling cinta dalam hidupku. Aku memilih pilihan itu dan aku titipkan sesuatu untukmu. Cintai dan sayangi dia karena aku tak bisa melakukan itu.”

            “jj..jadi itukah pesan dari Donghae..itu maksudnya..benarkah?.” napas Siwon tersengal tak percaya dengan semua itu.

“maksud anda…” Tanya Yuri tak mengerti.

“surat ini..” tangan Siwon bergetar hebat, merogoh amplop kertas yang telah using dari dalam saku celananya. Tangannya bergetar saat memberikan amplop itu pada Yuri. “Ini pesan terakhir Donghae. Aku tak mengerti dengan tulisan yang ditulis Donghae ini.”

Akhirnya Yuri mengambil surat itu. Ia membuka surat yang diberikan Siwon tersebut dan mulai membacanya.

Saat kau membaca surat ini, aku ucapkan selamat untukmu Tuan Choi Siwon yang terhormat selaku teman seperjuangannu karena berhasil pergi ke Amerika dan menuntut ilmu disana.

Aku hanya ingin member kabar jika aku dan dia telah mengikat cinta. Dan saat ini kami sedang merasakan bahagia, meski kebahagiaan itu tak merata tapi aku tetap harus tersenyum menjalani kehidupan baruku ini dengan dia disisiku kini meski cinta itu semakin lama akan semakin menghilang.

Jika waktu mengijinkan kita berdua untuk bertemu lagi. Aku ingin mengatakan jika kau harus mengenal dan mencintai gadis itu, karena ia mencintaimu pula. Maaf, jika aku terlambat mengatakan semua itu. Aku pun baru tahu jika gadis itu mencintaimu.

Saat ini aku berada didua pilihan, salah satu harus aku korbankan untuk orang yang paling berat dalam hidupku. Aku memilih pilihan itu dan aku titipkan sesuatu untukmu. Cintai dan sayangi dia karena aku tak bisa melakukan itu.

Maaf selalu merepotkanmu.

~Lee Donghae~

            Yuri meremas pelan kertas surat yang baru saja ia baca. Tangisnya mulai pecah dan air matanya mulai mengalir deras. Dadanya terasa sesak. Bahkan sekalipun Donghae tak pernah sekalipun bercerita tentang hal ini. Saat ini ia harus bisa melakukan apa jika keadaannya seperti ini. kenapa 7 tahun berlalu, semuanya masih menjadi misteri. Sebuah pernikahan yang pernah dijalani Donghae dengan dasar keterpaksaan.

“kenapa..seperti ini..”

“songsaenim…”

*****

            Entah mengapa malam hati Yoona diselimuti rasa senang yang berlebih. Tumben sekali Jongwoon mengajaknya makan berdua. Ia rasa lelaki itu sepertinya sudah tertarik padanya. Ya, setidaknya jika Kwon Yuri sialan itu tahu jika kekasihnya makan malam dengan yeoja lain pasti akan menimbulkan konflik diantara keduanya. Biarkan saja yeoja itu terbakar cemburu olehnya.

Kim Jongwoon. Pria itu baru saja melangkahkan kakinya memasukki restaurant tempat dimana ia dibesarkan dan tinggal. Pria itu sepertinya tampak sedikit lelah dengan raut wajah sedikit kusut karena deadline pekerjaan menangani pasien yang sudah menjadi tugas utamanya sebagai seorang dokter. Mata Jongwoon mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan yang tak menemukan sosok orang sama sekali. Sebelum sebuah suara dan lambaian tangan mengagetkannya dari arah yang berlawanan.

“oppa..” panggilnya.   Mau tak mau akhirnya Jongwoon pun melangkahkan kakinya mendekati meja tempat dimana Yoona berada.

“sudah menunggu lama Yoong?.”

“anii..aku juga baru saja datang.”

“sudah pesan?.”

“belum. Kajja.” Ajak Jongwoon.

Mereka berdua larut dalam obrolan ringan yang mereka ciptakan sendiri. Sesekali Yoona tertawa lepas dengan apa yang mereka bicarakan berdua tentang masa-masa mereka saat masih berada di New York. Yoona tak pernah sebahagia ini jika bersama orang lain selain dengannya. Apakah benar jika Yoona mencintainya?.

‘setelah mengetahui ini. Mungkin pikiranmu akan berubah terhadapku. Pasti kau berpikiran jika aku mendekatimu hanya untuk membalas dendam terhadap Yoona, karena Yoona mencintaimu’

            Jongwoon mengedarkan pandanganya pada Yoona kembali dan menatap wanita dengan seksama. Ingatannya kembali pada kecelakaan yang menimpa mereka berdua 4 tahun lalu saat mereka berdua berada dalam satu mobil yang sama dan Jongwoon yang mengendarainya. Jongwoon memejamkan matanya mendadak dan tak mau lagi membayangkan kecelakaan mengerikan itu.

“oppa. Gwenchanayo?.” Tegur Yoona. Ia menyadarkan Jongwoon yang sudah terlalu jauh dalam pikirannya. Seketika itu ia menatap Yoona penuh Tanya. Apakah kecelakaan itu menyebabkan Yoona menjadi kehilangan sebagian ingatannya?. Apa ia kehilangan ingatan masa lalunya akibat kecelakaan itu.

“huh?. Ee..gwenchana..” jawab Jongwoon yang terlihat salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mencoba menghilangkan spekulasi dalam pemikirannya itu.

“Yoong..” panggilnya kembali.

“hmm..”

“apa kau masih ingat kejadian itu. Kecelakaan 4 tahun lalu?.” Tanya Jongwoon pelan.

Mendengar kecelakaan mengerikan itu telinga dan saraf-saraf Yoona merespon. Tangannya bergetar, seketika itu garpu yang dipegangnya terjatuh. “kenapa kau mengingat hal mengerikan itu oppa?.”

“anii Yoong. Saat itu apa yang terjadi padamu?. Kau tahu bahkan aku menderita koma selama 1 bulan saat itu Yoong.”

“kecelakaan itu menyebabkan benturan keras dikepalaku. Aku tak tahu selanjutnya dokter mengatakan apa. Karena eomma tak memberitahukusetelah kecelakaan itu.

“apa kau kehilangan sebagian ingatanmu akibat benturan keras itu?.”

“aku juga tak tahu oppa.kenapa oppa mendadak membahas hal itu?.”

Jongwoon berpikir sebentar dan berusaha mengingat pembicaraan terakhir mereka sebelum kecelakaan itu terjadi. Pikirannya kembali melayang pada kejadian 4 tahun lalu itu. Mendadak kata-kata Yoona 4 tahun itu berdengung jelas ditelinganya. Jongwoon terdiam seketika. Tidak mungkin Yoona bicara seperti itu sebelum kecelakaan itu.

‘Aku tak mungkin kembali ke masalaluku jika penuh dengan kepedihan. Au hanya ingin bahagia dan meninggalan semua kenangan yang menjijikkan itu.’

 

            “andwee Yoong. Tidak mungkin itu Yoong…”

“oppa..wae guraeyo?. Apa yang oppa maksud. Oppa bicara apa?.” Yoona yang tak mengerti hanya bisa mendaratkan pertanyaan beruntun pada Jongwoon.

“kau ingat waktu itu kau berbicara tentang masa lalumu itu dan apa kau masih ingat dengan masa lalumu itu?.” Jongwoon berdiri dari kursinya dan beranjak pergi. Sepertinya ia harus bertemu dengan Kwon Yuri untuk mencari penjelasan tentang ini semua. Kecelakaan itu merubah segalanya. “aku harus menemui Kwon Yuri. Kita sambung lagi lain kali.” Ujar Jongwoon sebelum ia berjalan keluar dari restaurant tersebut.

“oppa..” panggil Yoona berteriak. Kenapa harus Kwon Yuri yang ada didalam pikiran Jongwoon?. Kenapa lelaki itu sama sekali tak menyadari jika ia selalu ada untuknya. Kenapa realita percintaannya harus sepelik dan tak pernah dianggap seperti ini. lalu apa arti dari hadirnya Im Yoona dalam kehidupan Jongwoon?. Apa hanya sebagai boneka tempatnya berkeluh kesah.

Kaki Yoona melangkah cepat mengejar Jongwoon yang sudah terlebih dahulu keluar dari tempat itu. “oppa.”.panggilnya sekali lagi namun lebih keras.

“oppa..geumanhae..” teriakan Yoona kali ini direspon Jongwoon yang seketika itu menghentikan langkah kakinya. Lelaki itu membalikkan badannya sebentar dan memadang sekilas Yoona lalu melangkahkan kakinya kembali.

“kenapa oppa selalu mementingkan gadis itu dibandingkan denganku oppa?. Wae?. Bukankah kita sudah saling mengenal lama. Apa oppa tak mengerti apa yang aku rasakan?.” Tangis Yoona mulai pecah hanya bisa memandang Jongwoon, tanpa membalikkkan badannya.

“oppa. Apa kau tahu bagaimana rasanya diriku saat oppa selalu berbicara mengenai Kwon Yuri. Aku sakit oppa..aku sakit..apa oppa mengerti sekian lama aku memendam rasa ini. apa oppa mengerti bagaiamana sakitnya aku mencintaimu oppa. Oppa tak pernah melihatku, oppa selalu mengabaikanku. Aku mencintaimu Kim Jongwoon!!!.” Teriak Yoona keras.

Benar ucapan Yuri waktu itu. Tak salah lagi. Jongwoon tertegun seketika, mendengar pengakuan dari Yoona. Tapi perasaannya sama sekali tak mencintai wanita itu. Lalu apa yang harus dilakukannya. Ia tak mau menyakiti Yuri karena ia begitu mencintainya. Jongwoon memejamkan matanya sejenak sebelum ia menjawab perkataan dari Yoona.

Greeb…

Tiba-tba saja sebuah pelukan hangat memeluk Jongwoon dari belakang. Ia yakin jika Yoona-lah yang memeluknya. Wanita itu menangis, ia bisa merasakannya jika pakaian yang dikenakannya terkena air mata Yoona. Seketika itu Jongwoon melepas pelukan Yoona dan masih berusaha menahan tangisnya. Saat ini pikirannya kacau, ia tak dapat berpikir jernih. Apa ia yang membuat Yoona terluka kembali?.

“Yoong….”

“jebalyo oppa..kumohon sekali saja. Biarkan seperti ini..” isak Yoona pelan.

Tanpa sengaja sepasang mata itu menatap Jongwoon dan Yoona dengan nanar. Ia tertegun beberapa detik, medengar apa yang dibicarakan mereka berdua. Saat itu pertahanannya rapuh seketika, seseuatu terasa menusuk hatinya mendengar Jongwoon dan Yoona berbicara tentang perasaan mereka.

Kwon Yuri. Wanita itu mngusap air mata yang baru saja keluar sebelum mengalir deras dengan satu tangannya, menggigit bibir bawahnya untuk menahan sesak. Mungkin inilah yang terbaik, jika ia melepas Jongwoon untuk bersama wanita itu. Ia mungkin sudah memilih, lebih baik Yoona tak kembali pada kehidupan Hana dan menyakiti putri tercintanya itu daripada ia berbahagia dengan Jongwoon dan harus menyakitkan kehilangan Hana oleh wanita itu. Sekelibat pertanyaan memenuhi benaknya yang tiba-tiba muncul begitu saja. Marah, kecewa, kesal atau bahkan mungkin cemburu?. Ia tak tahu mengapa untuk mengatakan kata marah tak bisa meluncur begitu saja dari mulutnya. Ia tak berhak, karena ia bukan siapa-siapa bagi Jongwoon.

“Kwon Yuri.” Suara Jongwoon spontanitas mengagetkannya dan secepat mungkin Yuri berbalik arah untuk menjauhi kedua insane tersebut. Terny ia salah mengambil jalan pulang jika ia harus melihat pemandangan meyakitkan sepeti itu.

“maaf aku menganggu kalian.” Ujarnya sebelum kembali berjalan menjauhinya.  Yuri segera memutar balikan badannya dan berajak meninggalkan mereka.

“mianhae Yoong. Aku tak dapat melakukan itu. Aku mencintainya. Dan maaf aku tak bisa membalas perasaanmu padaku.” Ia melepas pelukan dari Yoona dan berjalan menjauhinya. Namun tak sengaja pandangan matanya menatap sosok yang ia kenal. Tak salah jika itu dia.

“Kwon Yuri. Aku bisa menjelaskan semua ini. ini tak seperti yang kau bayangkan!!.” Jongwoon secara paksa melepas tangan Yoona dan berlari mengejar Yuri. Tapi tangan Yoona masih saja menahannya untuk pergi. Ia berlari sekencang mungkin mngerjar Yuri, saat ini pikirannya hanya terfokus pada Yuri.

‘Kumohon percayalah padaku aku hanya mencintaimu, satu – satunya yeoja yang berarti dalam hidupku.’

“Jongwoon oppa!!!.” Teriak Yoona tak kalah pilu. Ia menangis pilu, menangisi kepergian lelaki itu yang meninggalkannya. Hatinya terlalu sakit mengetahui hal ini. ia kembali berusaha megejar Jongwoon. Namun sebelum itu terjadi sepasang tangan itu menarik tangan Yoona pelan untuk menghentikan langkahnya.

“tolong. Jangan lakukan seperti ini lagi…” ujarnya pelan.

“kkaau….sejak kapan kau berada disini.” Pekik Yoona keras.

“itu tak penting. Ku mohon jangan lakukan seperti ini. ini bukan tempatmu kau harus berada.”

“jangan ikut campur urusanku. Urus saja urusanmu sendiri. Choi Siwon-sshi.” Teriak Yoona.

“Im Yoona!.” Ujar lelaki itu tak kalah berteriak.

*****

            Suasana hingga menjelang mala mini terasa sepi dan mnyesakkan. Yuri masih beruntung setidaknya ia tak menangis pilu karena hatinya sakit didepan Hana. Ia tak mau membuat beban putrid kecilnya itu bertambah.

Tess…

Kristal bening itu mengalir turun dipipinya. Ya, Jongwoon memang pria yang dicintainya. Tapi sekarang tidak lagi, ia harus membiarkan Jongwoon bersama dengan wanita lain agar Hana tak terluka seperti mendiang Donghae. Setelah kehilangan Donghae, ia tak mau lagi kehilangan Hana. Harta terindah, satu-satunya yang dimiliki.

Saat ini Yuri hanya bisa merebahkan tubuhnya diatas kasur. Air matanya turun semakin deras. Dadanya naik turun karena rasa sesak. Memorinya memainkan kenangan kenangan yang dilaluinya dulu bersama Donghae dan Yoona, bagai roll film yang baru saja dimainkan.

Yuri meneteskan kembali air mata saat mengingat betapa sakit hatinya ketika ia dan Donghae memutuskan untuk pergi ke Amerika demi Hana. Saat itu Donghae hanya ingin bertemu dengan Yoona untuk terakhir kalinya.

Dalam hatinya Yuri tak pernah membenci Jongwoon sama sekali. Ia bahakan tak tega jika harus menghancurkan perasaan pria itu. Ia tak tega, karena ia begitu mencintainya. Karena Yur  sadar betapa besar ia menyayangi pria itu. Betapa besar ia menggantungkan separuh hidupnya pada pria itu.

Ia ingin sekali bersama pria itu. Sekali lagi. Ia merindukan Kyuhyun.
Merindukannya segenap hidupnya. Terdengar lemah dan menyedihkan,tapi itulah kenyataan.

Sudah sejak tadi ia menangis karena pertengkarannya dengan Jongwoon, dan hingga larut mala mini pun ia masih saja mengeluarkan air matanya dengan deras. Ia hanya menangis dan terus menangis. Tapi ia berjanji ini akan menjadi tangisannya yang terakhir. Setidaknya tangisan ini diperuntukan untuk dirinya, dan demi kebahagiaan Jongwoon. Bukan untuk siap-siapa.

Yuri memutuskan untuk berdiri sejenak mencoba mencari sebuah ketenangan. Ia berjalan pelan memandang kosong keluar halamannya dari kamarnya. Ia menunduk lesu menatap hujan yang belum reda juga hingga malam seperti ini. tanpa diduga manic matanya meangkap sesosok bayangan berdiri didepan rumahnya. Dengan kondisi basah kuyup. Orang itu bagai patung,tak bergerak sedikitpun. Yuri memincingkan matanya. Menatap sekasama siapa lelaki yang berdiri didepan rumahnya itu. Naluri wanitanya memburu. Prihatin. Secepat kilat ia mengambil sebuah payung dan pergi kedepan.betapa terkejutnya ia saat membuka pintu pagar, sosok itu adalah Jongwoon. Jongwoon menatapnya nanar dan pias.

Yuri buru buru memayunginya. Tubuh Jongwoon sudah basah kuyup. Ia bisa melihat bibir pria itu sudah biru,pucat. “apa yang kau lakukan disini?. Kenapa masih disini dan belum pulang. Aku sudah mengusirmu sedari tadi. “ ucapan itu terlontar begitu saja dari dalam mulut Yuri.

Dengan cepat lengan Jongwoon melingkar memeluknya yang membuat paying yang dipegang Yuri terlepas begitu saja.

Seketika itu tubuh Yuri membeku.

“mianhae…aku tak bisa jika kau menyuruhku untuk meninggalkanmu. Aku terlalu mencintaimu.” Bisik Jongwoon.

**

“kkau—kenapa?.” Yuri melihat Jongwoon menundukkan kepalanya setelah mauk kedalam rumah Yuri. Mereka berdua duduk dalam diam tanpa sepatah katapun yang terlontr dari dalam mulut mereka masing-masing. Jongwoon masih berkutat dengan pemikirannya dan menatap sendu Yuri. Perasaannya tersa sakit saat ia melihat Yuri baru saja menagis seperti ini.

“akan ku buatkan secangkir the gingseng untukmu.”

Yuri mulai beranjak melangkah namu sebelum itu terjadi Jongwoon menanhannya. Jongwoon menahannya. Memeluknya dari belakang. Yuri bisa merasakan nafas pria itu dilehernya.

“ttonajima..ttonajima..” racau Jongwoon. “Ku mohon jangan pergi meninggalkanku. Aku terlalu mencintaimu.

Yuri hanya diam. idak ada jawaban dari gadis itu. Ia tetap diam sambil menundukkan wajahnya.

“Kau tidak boleh pergi..!!!!. Sampai kapan kau mau menyakitiku lagi hah? Apa selama ini belum cukup?. Kau pergi waktu itu. Dan betapa gilanya diriku mencarimu. Tapi saat kita dipertemukan kembali, kau akan pergi meninggalkanku hanya karena kau tak mau kembali pada masa lalumu bersama dengan Yoona?.”

“kau yang menyelamatkanku waktu itu. Kau memberikan semuanya untukku.dan itu adalah salah satu alasan mengapa aku mencintaimu. Kau yeoja itu, bukan Im Yoona.” Lanjutya kembali. Ia membalikkan badan Yuri yang tak kalah menangis juga. Tanagn Jongwoon terulur. Menyibak beberapa anak rambut Yuri kebelakang telinga.

**

Cup!.

Satu kecupan mendarat tepat dibibir Yuri. Jongwoon mendaratkan bibirnya tepat dibibir Yuri, membungkam gadis itu dengan ciumannya hingga membuat Yuri tak dapat melanjutkan apa-apa. Ciuman keduanya..Jongwoon menciumnya kembali, namun kenapa terasa sangat menyedihkan?. Apa karena mungkin ini adalah ciuman perpisahan antara ia dengan Jongwoon. Entahlah rasanya semuanya terasa ringan saat Yuri menatap manik mata lelaki itu yang perlahan mulai memejam, mengeksprisikan sebuah ketulusan dalam arti sebuah kata cinta. Ia dapat merasakan jika kini bibir Jongwoon sudah mulai menjauhinya.

“jangan pernah menangis dihadapanku.” Ucapnya datar.

Perlahan Yuri mulai membuka matanya dan saat ini Jongwoon menatapnya tajam pula. Ia hapus butiran bening yang mengalir begitu saja yang membasahi pipinya dan menarik napas dalam-dalam untuk menangkan hatinya.

“ku harap kau akan mendapat kebahagiaan yang berlebih jika kau belajar mencintai Yoona.”

“tapi akau tak bisa jika kebahagiaan itu ada bersamamu. Aku hanya bisa merasakan bahagis jika bersamamu.

“mianh….”

“cukup Kwon Yuri!!!.” pekik Jongwoon keras. Kilatan maarah Jongwoon terpancar jelas dari matanya saat ia mencoba mengatakan hal itu.

“aku mencintaimu Kwon Yuri. Dan kini aku sepenuhnya mencintaimu tidak ada wanita lain, hanya dirimu Kwon Yuri. aku tak peduli jika Yoona mencintaiku dan dengarkan aku!. Aku hanya mencintaimu Kwon Yuri. saranghae..” ucap Jongwoon pada akhirnya ia kembali memagut bibir Yuri, kali ini lebih pelan dan lembut. Ia hanya ingin menghentikan tangisan dari yeojanya.

Tidak ada kalimat yang bisa Yuri ucapkan saat ini. Lidahnya terlalu kelu. Ia takut, kalimat apapun yang akan keluar dari mulutnya nanti justru akan semakin menyakitinya. Akhirnya ia mencoba mendekatkan wajahnya pada wajah Jongwoon dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Jongwoon. Dan saat itu juga Jongwoon memejamkan matanya, begitupun dengan Yuri. ia mulai berani mengecup bibirnya dengan lembut, menyalurkan beribu penyesalan atas ucapan dan kesalahann padanya. Awalnya dia hanya diam, namun akhirnya dia mulai membalas kecupan dari Yuri. Tangan Jongwoon mulai menahan tengkuk Yuri dan bibirnya masih melumat lembut bibir Yuri. Ia dapat merasakan ciumannya sangat penuh dengan perasaan. Dan akhirnya membiarkannya saja dia menyalurkan segala perasaannya melalui ciuman ini hingga akhirnya kebutuhan mereka akan oksigen membuat ciuman itu harus segera diakhiri.

“Saranghae..Kwon Yuri. Ijinkan aku malam ini…berada disamping. Aku mencintaimu..” lirihnya mencoba mengatur napasnya kembali. Ada perasaan sesak dan senang menyelimuti hati Yuri. Ia senang karena ia adalah satu-satunya wanita yang Jongwoon cintai.

Yuri mendongak menatap dalam Jongwoon. Sebuah keyakinan atas keputusannya jika ia mencintai Jongwoon. Kembali Jongwoon mendaratkan kecupan dibibir Yuri. Mereka kembali berciuman dan menikmati apa yang bisa mereka rasakan. Pelan namun pasti kelembutan bibir Jongwoon. Perlahan-lahan menjadi kecupan yang membutuhkan, menginginkan dan mendominasi. Bahkan Yuri bisa merasakan pergerakan bibir Jongwoon kali ini bergerak sedikit menuntut dan secara reflek pula ia membalas setiap lumatan bibir pria yang ia cintai.

Membalas. Yuri hanya bisa membalas dan mengikuti kearah mana bibir Jongwoon bergerak seiring dengan pergerakan lidah dan bibir Jongwoon yang tengah beradu dengannya saat ini. sesekali mereka menghentikan aktivitas berciuman, mencoba mengisi stok paru-paru mereka dengan oksigen lalu kembali menautkan bibir mereka lagi. Hanya isting yang bermain disana. Dilandasi rasa saling percaya, Yuri terhanyut oleh perlakuan Jongwoon ang menciptakan alunan melodi romantis yang diciptakan oleh Jongwoon. Menit berikutnya, deruan napas mereka menjadi pendek, rasa ingin memiliki semakin kuat. Jongwoon terus mengecap apa yang menjadi miliknya, merasakan apa yang menjadi hak nya. Pelan, tapi terasa mendalam. Itulah kesan yang didapat Yuri.

Tangan yang semula berada dipinggang Yuri, memeluk gadis itu erat, kini beralih merengkuh tubuh gadis itu dalam dekapannya, merambat untuk memberikan kehangatan yang tak diberikan siapapun. Tangan Yuri pun sudah bertengger manis dileher Jongwoon dan sesekali meremas pelan rambut hitam lelaki itu. Menekan agar terus saling menyatukan bibir mereka lebih dalam lagi.

Entahlah, ia hanya mengikuti kata hatinya dan nalurinya. Ia ingin mengeluarkan suara yang ditahannya kini. Kecupan itu akhirnya turun dileher Yuri, Jongwoon mengecupnya berulang kali kulit putih lehernya dan sesekali menghisapnya. Tidak sampai disitu, napas Yuri tesengal ia menyeruakkan wajahnya dibalik leher Jongwoon. Lama melakukannya suasana semakin romantis. Jongwoon mulai berani meninggalkan jejak-jejak kepemilikan diatas leher putih Yuri.

“oppa..” lirih Yuri. Jongwoon tersenyum hangat.

“hmm..” Jongwoon menjawab tanpa menghentikan aksinya. Semakin gencar ia memberikan tanda-tanda itu disana. Mengecup pelan telinga dan memberikan sensasi tersendiri dalam tubuh Yuri.

“aku mencintaimu dan jangan pernah tinggalkan aku.”

Perlahan Jongwoon mulai berani membuka kancing blouse yang dikenakan oleh Yuri. Yuri yakin jika tak sampai disini saja. Bahkan ia sendiri pun tak bisa menghentikan aksi Jongwoon dan tubuhnya meminta Jongwoon melakukan ini pada dirinya.

Entah bagaimana caranya ia melakukannnya, namun saat ini ia bisa melihat tubuh Yuri yang hanya terbalut oleh underware yang tembus pandang, ia bisa meloloskan dengan mudah blouse yang dikenakan oleh Yuri dengan mudah. Jongwoon menatap wajah Yuri lekat. Seolah meminta ijin untuk menyentuhnya lebih dari ini. Ia takut jika melukai gadis ini. Jongwoon sebenarnya juga tidak bisa menghentikan semua ini. Tidak ia tidak bisa. Ia ingin mengikat gadis ini menjadi miliknya seutuhnya.

“bolehkah aku melakukan ini padamu?. Menyentuhmu lebih dari ini dan menjadikanmu milikku seutuhnya.” ucap Jongwoon pelan dan dengan sedikit penekanan.

“kau percaya padaku kan?.” Tegas Jongwoon, ia melihat wajah Yuri yang memerah dan matanya mulai menutup sebelum kembali membukanya beberapa saat kemudian dan mengangguk.

Yuri menatap manik mata itu sekali lagi. Mencari ketulusan dan keyakinan disana. Pelan kepalanya mengangguk. “aku milikmu.” Jawab Yuri lirih. Keduanya melepaskan tautan bibir mereka saat sama-sama membutuhkan oksigen. Jongwoon menatap Yuri yang terlihat masih mencoba mengatur nafasnya. Tanpa ragu Jongwoon menarik tubuh Yuri. namja itu tidak hentinya menciumi bahu dan lehernya dengan tanda kepemilikan yang membekas pada akhirnya. Jongwoon tersenyum tipis kemudian meraup wajah Yuri kembali dengan kedua tangannya dan menyatukan kembali bibirnya dengan bibir Yuri. Membelit lidah satu sama lain serta menghempaskan dan menindih tubuh Yuri diatas ranjang.

Yuri memejamkan mata dan hanya mengeluarkan desahan indah dari bibirnya yang sedari tadi ia tahan saat bibir Jongwoon dengan mudah menguasai leher, tulang selangka dan mengecup semua bagian atas tubuhnya. Apalagi ini, saat bibir Jongwoon berpindah dibagian atas dada Yuri. mengecupnya pelan dan memberikan sensasi tersendiri untuknya. Ia mencoba melepas pengait yang masih berada dipunggung Yuri, melepaskannya dan memandang indah setiap lekuk tubuh indah tubuh Yuri.

Tubuhnya yang kedinginan seketika menjadi hawa panas yang menerpa seluruh tubuhnya, ia ingin merasakan lebih. Ia ingin Jongwoon menyentuhnya lebih dari ini. insting Yuri pun bekerja kembali, insting yang berlandaskan cinta yang membuat ia memberanikan diri untuk membuka kemeja yang Jongwoon pakai. Ia tak tahu harus bagaimana, untuk pertama kalinya ia bisa menatap tubuh Jongwoon dalam keadaan seperti ini.

Tangan Jongwoon  tak berhenti sampai disana setelah cukup puas bermain dengan bagian atas dada Yuri kali ini tangannya bergerak menekan paha Yuri, mengusapnya lembut dan bergerak naik hingga perut datar Yuri. Mengelus pelan dan naik hingga kembali didada Yuri. meremas dan menekannya,  mengecup serta mengulumnya bebrapa kali. Membuat Yuri semakin mendesah tak tertahan. 

Sejauh mana mereka larut dalam suara decapan dan suara kecupan bibir Jongwoon yang terus menjelah seluruh tubuh Yuri. tanpa melepaskan sesenti tubuh gadis yang tak luput dari sentuhan bibirnya.

Yuri merasakan ada yang lain dibagian bawah tubuhnya. Ada sesuatu yang bergerak dipusat tubuhnya sana. Jari Jongwoon terus bergerak disana dengan bibirnya kembali meraup bibir Yuri. Ia tahu, Yuri pasti menahan sedikit sakit dari satu jari yang masuk, kini menjadi tiga jari. Desahan nikmat bercampur dengan rintihan kecil kini keluar dari bibir Yuri saat bibir Jongwoon mulai mengeksplorasi bagian tubuhnya yang lain. Sentuhan pria ini yang ada dibawah tubuhnya bergerak cepat hingga membuatnya merasakan sesuatu telah mencapai puncaknya. Ia menghela nafas beratnya. Sesaat kemudian Jongwoon menatap wajahnya dengan lekat. Pertama kalinya ia merasakan pelepasan yang indah ini.

Napas Jongwoon dan Yuri kembali tersengal hebat—melepaskan panggutan bibir mereka kembali—lalu tersenyum, kebahagiaan sesaat terpancar jelas dari wajah dan mata mereka. Jongwoon mengusap bibir Yuri yang terlihat memerah dan bengkak akibat ciumannya. Tak ada kata yang terucap hanya kesan manis yang tertinggal disana, desakan untuk meminta lebih membuat mereka melupakan akal dan logika. Pakaian yang mereka gunakan tadi, kini sudah tertanggalkan semuanya, yang hanya kulit meraka yang sama-sama bersentuhan tanpa ada penghalang sedikitpun. Pria ini tersenyum tipis. “kau cantik, neomu yeppoda.” Ujarnya. Jari Jongwoon menelusuri setiap lekuk wajah Yuri.

“kau percaya padaku kan?. Aku berjanji tak akan menyakitimu.”

“Saranghae..”

Jongwoon mencium singkat dahi Yuri, meski hujan diluar sana. Tapi mereka berdua sama-sama terhanyut oleh permainan yang mereka ciptakan sendiri. Rasa ingin memiliki keduanya sangat nyata. Yuri belum menjawabnya. Ia hanya belum bisa menguasai diri sepenuhnya dan tak bisa menahan gejolak yang menggebu dalam dirinya. Yang ia inginkan hanya Jongwoon saat ini juga menyelesaikan semuanya. Egois memang saat dirinya hanya ingin memeliki Jongwoon sendiri.

Yuri mencengkeram hebat pundak Jongwoon, saat ia bisa merasakan desakan hebat dibawah pusat tubuhnya. Sesuatu yang akan memasukki dirinya menghujam sakit, tapi ia harus sebisa mungkin menahan rasa sakit itu, karena itu semua pasti akan berakhir dengan indah. Saat itu juga Yuri bisa merasakan ada yang mengoyak dan masuk dipusat tubuhnya kembali.

“aaaargghkkkhh..!!!.” Yuri memekik keras saat sesuatu yang keras memaksa memasuki tubuhnya. Jongwoon tidak memberi aba-aba untuk ia bersiap-siap. Rasanya sangat perih dan sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. seperti pisau yang sedang merobek kulit tubuhnya. Jongwoon kembali melesakkan tubuhnya. Rasanya semakin perih dan pedih. Ia ingin berteriak, mengerang, dan menjerit sekuat tenaga namun Jongwoon membungkam mulutnya dengan ciuman. Menyalurkan kenikmatan lain hingga pada akhirnya keduanya mendesah saat Jongwoon berhasil memasuki tubuhnya seutuhnya.

Mereka mendesah lega. Jongwoon merasa telah merobek sesuatu dan tubuh di dalamnya basah. Sesuatu mengalir dari sana. Jongwoon melirik bagian tubuh mereka yang bersatu. Ia tersenyum Lega karena ia lah lelaki pertama yang menyentuh wanita yang dicintainya ini. “mianhae..aku meyakitimu lagi. Dan terima kasih karena kau telah menjaganya untukku.” Lirihnya. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Yuri memejamkan mata Tangannya semakin erat memeluk punggung  Jongwoon. bahunya bergetar dan ia mendengar suara isakan halus dari mulutnya, membuat Jongwoon semakin panik. Air mata Yuri mengalir begitu saja karena menahan sakit untuk pertama kalinya ini. Apakah ia menyakiti Yuri, gadisnya?.

“aniyo. Aku bahagia karena kau mencintaiku.” balasnya, tak kalah pelan juga.

Jongwoon mengusap air mata Yuri dari sudut matanya. “gomawoyo..kau yang pertama untukku. Aku mencintaimu. Saranghae.” Kembali ia mengcup kedua mata Yuri, erusaha meredam tangisnya.

Manis, hangat, nyaman, terasa saat keduanya menyatukan cinta dan tubuh mereka. tatapan mereka bertemu, wajah Yuri kembali bersemu. Jongwoon menundukkan wajahnya menyambut kekasih hatinya menuju peraduan mereka—lagi– menuju surga dunia mereka, menuju dunia yang hanya ada mereka berdua.. Dengan  perlahan, ia melepas ciumannya dan membenamkan wajahnya disekitar leher dan bahu Yuri. Mengecupi pelan kulit gadis ini. Mengecup seluruh bagian dari lekuk tubuhnya yang membuat Jongwoon semakin menggebu dan bergerak lebih cepat untuk segera menyelesaikan semua hasrat yang bergejolak. 

Yuri merasakan ada gejolak lain dibawah sana yang ingin keluar. Kukunya menancap tajam dipunggung Jongwoon. Saat tubuh keduanya sama-sama menegang dan ingin melepaskan sesuatu.

“oppaaakkkhh..aakkkhhhh…jeritnya Yuri tertahan saat ia akan mencapai kenikmatan saat itupula suaranya diredam paksa saat bibir Jongwoon membungkam bibirnya. Pria itu semakin menggebu ingin memiliki dirinya seutuhnya. Mereka berdua sama-sama tak sadar dengan apa yang telah mereka lakukan tidak peduli apa mereka lelah atau tidak. Yang ada, dia akan semakin terus semangat meluapkan segala yang ada dalam dirinya dengan cara menyalurkannya dengan melakukan hubungan intim. Mereka berdua beradu nafas berat setelah berhasil mencapai apa yang membuat gejolak yang ada diri mereka membuncah satu sama lain. Pelepasan yang indah untuk keduanya yang berakhir dengan sesuatu yang hangat mengalir didalam rahim Yuri. Dan mala mini Jongwoon resmi memiliki Yuri seutuhnya.

Hingga waktu kian larut dengan tenaga dari keduanya yang kian terkuras, mereka akhiri pergelutan panjang mereka. Entah berapa ronde yang mereka lakukan hingga mereka lupa waktu dengan kegiatan yang seharusnya mereka tak lakukan tanpa adanya sebuah ikatan yang suci. Keduanya terengah hebat dengan napas yang sama tersenggal. Yuri merasakan jika beberapa kali cairan hangat itu mengalir dalam rahimnya.

Napas Yuri terdengar berat begitu juga dengan pria itu. Jongwoon kemudian menarik tubuh Yuri kedalam pelukannya. Lelaki itu mengusap peluh Yuri dan merapikan anak rambut Yuri yang terjatuh akibat ulahnya.. 

“berjanjilah paadaku kau tak akan pernah meninggalakanmu. Kau satu-satunya yang kucintai. Kita hadapi kenyataan ini bersama-sama.

Yuri menatap dalam manik mata Jongwoon, tak ada kebohongan dalam diri Jongwoon saat lelaki itu berucap. Jongwoon mengecup dahi Yuri penuh sayang dan menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya dan menyelimutinya.

“aku akan memelukmu hingga pagi.”

“saranghaeyo..”

**

Jongwoon membelai pipi Yuri lembut, sementara ibu jarinya membelai bibir bawahnya. Yuri merasakan ada perasaan lain saat Jongwoon menyentuh. Sudah sekitar satu jam lalu mereka selesai melakukan aktivitas mereka, tapi Yuri masih bisa merasakan sengatan disetiap sentuhannya membuatnya memejamkan mata.

Yuri merasakan sensasi basah pada bibirnya. Itu semua karena Jongwoon kembali mencium bibirnya. Ciumannya kali ini benar-benar terasa manis dan lembut. Bibir Jongwoon melumat bibir Yuri dengan penuh kelembutan. Tangannya masih terus membelai pipinya, berpindah ke tengkuknya dan menekannya membuat ciuman mereka semakin dalam. Ia merasakan lidah Jongwoon kini bermain dibibirnya, menuntun Yuri untuk membuka mulutnya dan membiarkan lidah Jongwoon masuk untuk menyapa lidahnya.

Jongwoon melepas pagutan bibirntya, yang membuat kedua mata Yuri yang tertutup rapat sejak tadi karena menikmati setiap sentuhan bibirnya di bibir Yuri otomatis terbuka.

“Aku tidak menyakitimu lagi kan?” tanyanya lembut. Yuri menggelengkan kealanya sebagai jawaban atas pertanyaannya itu. Dia tersenyum, sangat manis.

“aku tahu jika hidup tidak akan terasa manis selalu. Tapi aku berjanji akan membuatmu bahagia tanpa kau akan kembali pada masa lalumu itu. Dia tak akan pernah mengusikmu lagi. Percayalah. Aku tahu Yoona seperti apa.”

Jongwoon menariknya masuk kedalam pelukannya sekali lagi, memluknya sangat erat dan membuat Yuri itu seketika merasakan nyaman.

“aku berjanji Kwon Yuri. Demi Tuhan aku berjanji. Saranghae..”

“Nado…”

—TBC—

hai readerss,, mian ya baru nongol lagi hehehe…#digaplok, oke sesuai jalan cerita aku uda mulai buka konflik, tap mian ya jika alurnya kecepetan soalnya ff nista ini jadinya dadakan. thanks banget yang uda nyempetin diri buat bac sm ngoment, komentar kalian sangat berharga. thank juga yng uda nagih di tweet. aku g jadi PW part ini karena kasih, pasti sulit bwt ngedapaetin PW. yang uda nonton The Heirs sampe eps 4 pasti uda tahu jika scene yang aku bikin terinspirasi dari drama itu wkwkwk..

oke deh sekian bacotan g penting dari author gaje ini. komentarnya monggo. tolong hargai karya authir dengan meninggalkan jejak memalui komentar. maaf jika feel pas kalian baca g dapet. gomawo..

See You..Pai..Pai..

93 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 5b

  1. Perang Antara Im Yoona Dan Kwon Yuri semakin memanas…Siwon oppa baik bangett :)…hhuuuaa Dokter Kim sudah meninggalkan tanda kepemilikan di Yuri Eomma😀

  2. Tambah seruu eonn, yuleonniee jangan tinggalin sungppa yaa wkwk
    Tadi sempet ngeskip bagian2 yg konyol wkwk
    Nextnya ditunggu lohh;;) dan jangan lupa happy end^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s