[FF Freelance] Beautiful Assistant (Chapter 1)

Beautiful Assistant

Tittle : Beautiful Assistant

Author : PinkyPark

Cast : EXO Members || OC’s Song Jin –a

Genre : Romance

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Disclaimer : This Fanfic is 100% Mine. EXO Member belong to themselfes, management, and their parents. Please don’t be plagiator and this Fanfic not advanced to silent readers. Don’t forget leave your like and comment. Thanks!!

Beautiful Assistant.

 

Juni sore yang tidak menarik. Daun pohon Ex berguguran tersapu angin. Debu yang tak kasat mata seolah bermain saling berkejaran. Pusara angin lainnya tampak saling beradu dan menjadikan sore ini semakin dramatis. Bukan salah satu adegan dalam drama atau semacamnya. Sore ini, disebuah café kecil pinggiran kota Seoul yang sibuk. seorang gadis muda dengan t-shirt tipis putihnya tengah duduk menanti seseorang. Rambut hitamnya terikat asal kebelakang dan celana jeans lusuh yang dipakainya sedikit ternoda karena baru saja segelas milkshake yang dia beli dengan uang terakhir di sakunya tumpah begitu saja. Gadis itu menatap jam dinding di samping ruangan. Pukul tiga sore. Dan itu membuatnya bergidik. Dia menatap lagi layar ponselnya. Tidak ada tanda apa- apa. sangat menyedihkan.

Baru saja gadis itu berniat akan pergi. Seorang wanita paruh baya nyaris berlari kearahnya. Rambut wanita itu terpotong pendek dan pakaiannya menunjukkan dia seorang karyawan atau semacamnya. Wanita setengah baya itu tersenyum, menampilkan gigi- gigi rapi nya yang berkilau. Air mukanya lelah dan kemudian hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.

“Mian~ ada urusan mendadak, jadi aku sedikit terlambat.” Wanita itu bergumam seraya menaruh tas tangan hitamnya di meja.

Sang gadis muda nyaris memutar bola matanya, namun akhirnya hanya memejamkan matanya sembari menghela nafas. “sedikit terlambat katamu ? dua jam aku membusuk di café dengan milkshake sialan itu dan kau bilang itu sedikit terlambat unnie ?”

“Ah, aku tidak sadar kau menungguku selama itu, tapi – seharusnya kau juga memaklumiku, kau kan tahu aku bukan seorang pimpinan perusahaan atau manager yang mungkin bisa izin keluar sesuka waktuku. Aku hanya karyawan biasa yang terkadang berada pada posisi tetap atau dipecat , Jadi aku –“

“Ne – ne –ne !! aku sudah mendengar itu lebih dari seribu delapan puluh dua kali. Jadi langsung saja Sojin Unnie, bagaimana ? ada pekerjaan untukku kan ?” gadis muda itu memotong ucapan Sojin sembari menarik kursinya agar lebih dekat ke meja. Suara decitan yang dihasilkannya cukup menggema di dalam ruangan café yang nyaris kosong itu.

“tentu saja, aku sudah mendapatkannya. ”

Gadis itu menjerit tertahan. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajah mungilnya dan sehelai poni kini mulai tidak diam pada tempatnya. Gadis itu bertepuk tangan singkat. “Jotta~ Gomawo unnie. Kau memang yang terbaik. Jadi, apa yang harus kukerjakan? Dimana aku akan bekerja ? dan yang paling penting, berapa bayarannya ?”

“membantu perkerjaan seseorang –ah tidak! Posisimu sangat penting disini, kau bekerja dimana saja dan bayarannya cukup untuk gadis pengangguran seperti dirimu.” Sojin menyandarkan tubuhnya di kursi lalu mulai sibuk mengagumi kuku- kuku indahnya. Gadis dihadapannya memandangnya bingung.

“apa itu? Apa pekerjaanku ?” segaris pertanyaan tersirat di dahinya yang berkerut. Kedua alisnya bertaut dan nafasnya tertahan sejenak. Berharap jenis pekerjaannya bukan seperti dalam ekspetasinya –bibir merah, hotpans super pendek, gaun malam, club, dan alkohol –.

“Song Jin –a, chukkae.. pekerjaan barumu adalah assistant artis!! Itu keren menurutku,” Sojin seloah bersorak dalam diamnya. Bibir pink nya tersenyum lebar dan rambutnya bergerak kesana kemari karena kepalanya tidak hentinya untuk diam.

Lalu gadis bernama Song Jin –a itu merasakan perutnya meledak, otaknya berhenti berpikir, nafasnya tersumbat, telinganya berasap dan hatinya terbakar. “Mwoya!!~ Assistant artis katamu ! Andweeee unnie, bisakah kau memberikanku pekerjaan yang lebih –yang lebih berkelas ?” gadis itu mengehentak- hentakan kakinya dan tubuhnya bergoyang kekanan dan kekiri. Sangat –kekanakan.

Sojin hanya menggeleng. Menarik tubuh mungilnya dari sandaran. Jari telunjuk dengan cat kuku warna merah di tangannya kini bergoyang bebas menunjukkan kata ‘tidak bisa’. “kau fikir apa yang bisa kau kerjakan dengan status lulusan SMA seperti itu? Menjadi Assistant saja sudah cukup, itupun karena aku sedikit memiliki koneksi dengan salah satu teman.”

Jin –a masih belum berhenti merengek. Gadis itu mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan sedari awal. “ tapi unnie, assistant itu –”

“kau mau apa tidak? Kalau kau tidak mau, aku akan menelepon temanku sekarang juga .” Sojin meraup tas tangannya lalu mengaduk- aduk isinya untuk menunjukkan keseriusan. Jin –a berhenti merengek dan menunjukkan wajah memelasnya.

“baiklah, aku akan melakukan pekerjaan itu. Tapi. Siapa artisnya ? Kim Woo Bin? Kim Nam Gil? Yoo Ah In? Jang Geun Suk ? atau mungkin .. Kim Sang Bum?” gadis itu kini menatap  tempat bersarangnya mata sang unnie dengan tatapan memelasnya. Sojin hanya menggeleng.

“kau benar- benar penggila drama. Dan sayangnya, tidak satupun dari yang kau sebutkan tadi benar.” Café benar- benar nyaris kosong. Dan yang terdengar hanya pembicaraan kedua gadis itu.

Pundak Jin –a merosot seketika. Ekspresinya mendadak datar dan dia nampaknya sudah menyebutkan daftar semua artis yang diketahuinya. Itu artinya, besar kemungkinan dia akan menjadi assistant dari artis yang tidak laku atau mungkin tidak terkenal. Itu menyedihkan sekali. “lalu, siapa ?”

“EXO, mereka boygroup yang cukup digandrungi belakangan ini. Kau pasti tahu..” Sojin menegakkan tubuhnya seketika, tatapannya berbinar dan dia kehilangan senyumannya saat Jin –a bahkan hanya diam menatapnya. “ayolah Song Jin –a , jangan katakan kau tidak mengenal mereka..”

“a –apa ? E –exo ?? a –aaah yaa itu EXO,” gadis itu mengalihkan pandangannya pada jam dinding, dentuman jarumnya dia perhatikan sembari berfikir. “aku tidak tahu apa itu EXO,”

Saat itu juga, Sojin mendengar dirinya mendesah. Menatap Jin –a tidak percaya. Bagaimana tidak ? gadis itu masih berusia Sembilan belas tahun. Dimana pada usia seperti itu seharusnya dirinya mengenal Super Junior, Girls Generation, 2 PM, Bigbang, atau bahkan EXO yang belakangan ini memang sedang menjadi sorotan bagaikan makhluk asing dari planet Pluto. Sojin berdecak, memutar bola matanya dan menjetikkan jari lentiknya. “kau memang terlalu sibuk dengan pekerjaan- pekerjaan serabutanmu sehingga merekapun kau tidak tahu, biar kutebak.. mungkin terakhir kali kau menatap televisi adalah satu bulan atau bahkan berbulan- bulan yang lalu, atau mungkin televisi dirumahmu rusak dan kau jual untuk beli ramen..” Sojin menarik nafas sejenak. Menatap Jin –a yang kini tengah menatapnya cemberut. “kau benar- benar tidak mengetahui mereka ? sama sekali ?” sebuah gelengan kepala yang ditangkap retinanya ampuh membuat Sojin mengambil tas tangannya. Bangkit dari kursinya lalu menatap Jin –a yang menengadah menatapnya bingung. “kau akan tahu besok, aku akan mengirimkan alamatnya. Astaga, kepalaku pusing.”

Sojin berjalan lunglai meninggalkan jin –a yang menatapnya bingung. Terus bergumam tentang bagaimana gadis itu tidak mengetahui EXO.

“aku benar- benar tidak pernah mendengarnya, EXO ? siapa mereka?” gumam Jin –a sedih. Menatap punggung Sojin unnie nya yang menghilang di balik pintu.

Beautiful Assistant.

 

Galleria Foret – Junghwa-dong

 

Song Jin –a menatap lagi dan lagi sebuah pesan singkat yang baru saja diterimanya. Hari ini dia duduk di sebuah halteu dengan T-Shirt coklat muda tipisnya dan jeans yang terlihat lebih sedikit baik dari pada kemarin. rambutnya terurai dan sebuah jepitan berwarna putih menghiasi surai hitam sebelah kirinya.

“Galleria Foret – Junghwa-dong”, gadis itu bergumam pelan. Mata bulatnya tak henti menatap flat ponselnya yang bisu. lagi, gadis itu mendesah frustasi. “dimana tempat itu? Aku bisa gila”, kali ini kepalanya berputar menyapu sekeliling. Di ujung halteu seorang pria paruh baya tampak tengah membaca korannya dengan santai. Jin –a hendak melangkah untuk sekedar bertanya mengenai nama apartemen aneh itu. Tapi takdir berkata lain, pria itu berjalan pergi dan Jin –a harus menelan bulat- bulat kenyetaan bahwa dirinya hanya manusia kesepian di halteu ini. “aku tidak mau menghabiskan uangku dengan naik taxi,” Jin –a menunduk, menatap sepatu sneakers lusuhnya yang seharusnya sudah di museumkan.

 

Kau harus tiba disana TEPAT jam Sembilan, uri Song Jin –a.. Hwaiting !!~

 

Jin –a mendengar dirinya menyerah, Sojin Unnienya yang tidak bertanggung jawab baru saja mengiriminya pesan singkat yang sangat tidak membantu. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, kendati seperti itu wajah cantiknya tidak berubah sedikitpun. Gadis yang cantik, bukankah akan terlihat cantik dalam keadaan apapun?

Dengan berat hati, gadis itu menyampirkan rambutnya kebelakang telinga lalu berjalan hingga ke ujung trotoar. Menerawang jalanan yang sibuk dan sungguh berharap tidak ada Taxi yang lewat sehingga dia ada alasan untuk terlambat. Tapi lagi, takdir tidak memihaknya. Gadis itu menelan air liurnya kesal lalu mengangkat tangannya tanpa semangat. Anehnya, taxi itu langsung menepi dan Jin –a kesal karena itu.

Galleria Foret – Junghwa-dong.. pastikan aku sudah ada disana sebelum jam Sembilan.” Seru Jin –a sesaat setelah tubuhnya duduk di kursi belakang. Sang supir tertegun sejenak, nyaris menoleh dan menatap Jin –a dari bawah hingga atas. “Wae? Ada yang salah ?”

Supir itu terkekeh pelan, lalu mulai menjalankan taxinya perlahan. “tidak ada apa- apa nona, hanya saja.. apa yang akan kau lakukan di apartemen mewah seperti itu ?”

Jin –a merasa darahnya berdesir dan nafasnya sedikit tercekat.—Apartemen mewah ? –. Saat itu juga fikiran lugas gadis itu berekspetasi pada gedung yang menjulang bak pencakar langit dan berbagai mobil seharga milyaran rupiah yang keluar masuk apartemen tersebut. Tunggu, EXO? Apa mereka benar- benar tinggal disana ?

 

Beautiful Assistant

Song Jin –a berdiri mematung bagaikan orang idiot. Kepalanya menengadah menatap ujung bangunan apartemen empat puluh lima lantai itu dengan mata berbinar. mulutnya sedikit terbuka dan gadis itu tidak berkedip sedetikpun. Beberapa mobil mewah mengalihkan perhatiannya dan itu membuatnya teringat pada khayalan singkatnya di taxi beberapa menit lalu. Mereka semua yang tinggal disini, mungkin pasti dan seharusnya adalah orang- orang paling kaya dari yang terkaya. Gadis itu menelan ludahnya. Membandingkan sebentar dengan kondisi rumah sederhananya yang sepertinya sangat memprihatinkan bila dibandingkan dengan balkon apartemen ini saja. Gadis itu menunduk lagi, menatap sepatunya dengan tatapan kosong. “apa yang aku lakukan disini?”

Perlahan gadis itu melangkahkan kakinya ragu, kendati seperti itu matanya tak henti mengulas setiap sudut di daerah itu. Benar- benar berkelas dan mewah.

Kakinya terhenti, seorang security menghalangi jalannya dan Song Jin –a menelan lagi senyumannya yang tak terbalas. Security itu menatap Song Jin –a seperti yang dilakukan supir taxi. Jin –a hanya cemberut. Seharusnya dia berpakaian lebih baik. Tapi apa? apa yang lebih baik dibanding baju ini ? terakhir kali dia membeli baju adalah tahun baru yang lalu dan baju itupun kini sepertinya hanya muat dia bagian bahunya saja. Jin –a memang tidak menjadi gemuk, mungkin bajunya saja yang mengerut atau mungkin yaaa– nasibnya yang memang buruk. Gadis itu mengulum senyumnya lagi.

“permisi tuan, saya harus menemui seseorang di dalam.” Ramah Jin –a dengan senyuman singkatnya. Security yang entah jelmaan patung atau makhluk tak berekspresi itu hanya menatapnya dingin.

“siapa yang akan anda temui ?”

Jin –a berfikir sejenak. “EXO”, tarikan nafas dalam dari sang security menyeret lagi perhatian Jin –a. security itu hanya menyunggingkan sebuah senyuman mengejek.

“kau bisa menemui mereka di tempat konser. Jangan mengganggu ketenganan mereka. mengapa anak muda jaman sekarang begitu suka melakukan hal- hal konyol seperti ini ?”

Jin –a menatap sang security angkuh itu dengan tatapan tidak percayanya. Jadi, apakah baru saja security yang berlagak bak pemilik dari apartemen ini baru saja mengatakan pendapat dangkalnya bahwa Jin –a adalah seorang Sasaeng –fans?

Gadis itu berkacak pinggang, meniup poni rambutnya sekilas lalu membalas tatapan angkuh security itu. “dengar tuan security yang terhormat, aku bukanlah sasaeng fans yang kau fikirkan. Dengar, aku hanya akan mengambil pekerjaanku didalam. Jadi, bisakah kau membiarkan aku masuk ?” beberapa orang dengan brand terbaru dan berkelas berjalan melewati kedua manusia yang tengah berseteru itu dengan bingung. Security itu melepas posisi sikap sempurnanya, lalu menatap Jin –a garang.

“tidakkah kau–”

“permisi tuan, dia seharusnya menemui saya sekarang.” Sebuah suara tenor memotong ucapan sang security segera. Pria yang sepertinya berumur dua puluh Sembilan atau dua puluh delapan tahun itu memandang  Jin –a ramah. “kau Song Jin –a kan ?” Jin –a mengangguk pelan. Masih bingung dengan kondisi yang dihadapinya. “maaf membuatmu kesulitan, akses menuju apartemen ini memang agak ketat, aku Park Junghoo. Sojin mengatakan tentangmu bahwa kau akan –”

“ah iya – iya tentu saja, itu tidak masalah. Jadi, bisakah aku masuk sekarang? Aku agak sedikit kesal jika berada di sekitar sini.” Jin –a tersenyum mengejek pada security yang tampak gelagapan dengan apa yang baru saja dia lakukan pada Jin –a. Park Junghoo yang tidak lain adalah manjajer dari EXO hanya tersenyum lalu menyambut Jin –a untuk masuk kedalam. Jin –a mengangguk sekilas lalu mnyeringai pada security yang salah tingkah itu. Dan lagi, selanjutnya Song Jin –a terlalu sibuk mengagumi apa yang sebenarnya ada di dalam gedung itu. Ini menakjubkan, apa ini mimpi?

 

Beautiful Assistant

Song Jin –a mungkin memiliki tiga lubang hidung atau mungkin sebuah mata tersembunyi di balik telinganya. Sampai- sampai. Nyaris semua pasang mata di ruangan itu menatapnya tanpa berkedip. Jin –a hanya menunduk gugup. Dua belas orang pria yang menurutnya adalah jelmaan malaikat kini menatapnya dari segala pelosok di ruang apartemen yang lebih luas dari rumahnya ini. Jin –a menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dengan ragu melirik sebentar pada manajer Park yang kini juga hanya diam mematung di dekat pintu. Jin –a sedikit berdehem. Mencoba mengingatkan manajer Park untuk mengatakan sesuatu agar situasi seperti ini segera pecah. Untungnya, manajer Park mengerti. Dengan sedikit canggung berjalan mendekati kedua belas pria itu dengan ragu.

“Mmm – dari mana aku harus memulainya, ini – ya, kau kemarilah!” Manajer Park menggerakkan tangan kirinya di udara, mengisyaratkan Jin –a untuk mendekat. Perlahan gadis itu berjalan mendekat dengan kepala tertunduk. Bahkan kini gadis mungil itu nyaris bersembunyi di balik punggung manajer Park. Seseorang terkekeh. Itu membuat Jin –a mengangkat kepalanya dan tak sengaja bertemu dengan tatapan seorang pria berambut merah yang kini berdiri di dekat meja makan. Lagi, Jin –a menundukkan kepalanya.

“Ya!~ ayo perkenalkan dirimu, Chaa semuanya, ini assistant baru kalian yang sebelumnya kuceritakan.”

Hening, tidak ada yang merespon, semuanya terlalu canggung dengan situasi ini dan hal itu memaksa Jin –a untuk menyerah. Jin –a berjalan keluar dari punggung manajer Park yang besar. masih dengan kepala tertunduk dan tangan yang sedikit gemetaran.

“Aa –annyeong haseyo. Choneun, Song Jin –a imnida. Bangapseumnida.” Gadis itu berujar pelan. Tubuhnya merunduk nyaris menghasilkan lengkungan busur Sembilan puluh derajat. Rambutnya sedikit tidak teratur karena hal itu dan Jin –a bahkan terlalu gugup hanya untuk menggerakan tangannya.

“apa tadi katanya ?”

“Song Jin –a ?”

“Hong Jin –a atau Song Jin –a ?”

“tadi sepertinya dia bilang Kwang Jin –a .”

“kau ini tuli? Dia bilang namanya Oh Sin –Ha ..”

Beberapa suara bisikan yang masih terjangkau oleh pendengaran Jin –a mulai berkelebat. Dan apa mereke bilang? Atas dasar apa mereka merubah namanya menjadi Hong Jin –a atau semacamnya. Sejak Jin –a dalam kandungan, dirinya hanya akan marah jika seseorang merusak namanya. Dan mereka? mereka baru saja sesuka hati merubah namanya menjadi ini dan itu. Dan memangnya siapa mereka? beraninya mereka –,

“namaku Song Jin –a . SONG JIN –A ,” jin –a mengangkat kepalanya. Dia mendengar baru saja nada suaranya beralih ke oktaf berikutnya. Jin –a menatap satu persatu kedua belas pria yang kini beralih menatapnya dengan tatapan tak terbaca, dia menghela nafasnya. Bahkan dirinya belum pernah melihat ujung rambut mereka. seterkenal apa mereka sampai- sampai mereka berlagak seperti itu. Jin –a hendak bicara lagi, tapi kedua belas pria itu mulai bergerak lagi dan menggumamkan nama Song Jin –a. Pria dengan game console di tangannya kini mulai kembali bermain dengan dunianya itu. Yang lainnya mulai kembali mengutak atik ponsel atau gadgetnya. Yang lainnya juga bahkan mulai kembali bercanda dan melempar sesuatu seperti anak kecil.

Lagi, Jin –a menelan takdirnya bulat –bulat.

“baiklah Song Jin –a.. mereka sedang tidak ada job hari ini. Dan aku ada urusan sebentar di luar, jadi bisakah kau disini menjaga mereka? dan kau akan mulai bekerja mulai sekarang.” Pria bermarga Park itu menampilkan senyum malaikatnya lalu menepuk pundak Jin –a sekilas dan pergi. Jin –a terdiam ditempat, memandang dunia baru yang ada di depannya. Apa dia bilang ? menjaga mereka? gadis Sembilan belas tahun dengan berat badan empat puluh enam seperti aku harus menjaga kedua belas pria itu ? apa aku baru saja menyatakan aku akan membunuh diriku secara perlahan ? batin Jin –a dalam hatinya.

“Hey kau Song Jin –a.. ” sebuah suara dari dua belas suara yang berseliweran di ruangan itu berhasil menarik perhatian Jin –a. gadis itu menoleh, mendapati sesosok pria yang entah beberapa menit lalu bertemu pandang dengan dirinya. Rambut pria itu merah mengkilap. Postur tubuhnya tidak begitu tinggi, dengan kata lain pria itu Nampak mungil. Mata pria itu terlihat ramah. Seolah menyambut Jin –a yang terabaikan sejak pertama tadi. Jin –a mengkeret langkahnya perlahan. Menuju meja makan yang diduduki pria itu. Anehnya, tidak ada makanan sama sekali. Hanya ada beberapa tumpukan buku yang tersusun rapi. Jin –a memberanikan diri menatap pria itu. Pria itu memakai sebuah T-shirt Polo berwarna hitam dan celana pendek biru yang santai. Rambutnya tersisir rapi dan pria itu duduk dengan damai di kursinya. “ duduklah, ” titah pria itu seraya menepuk kursi kosong disampingnya.

Jin –a hanya menatap pria itu diam. aneh juga, biasanya sosok Song Jin –a adalah yang paling cerewet dari segala yang cerewet. Dan kini gadis itu bungkam seribu bahasa dihadapan pria itu. Pria itu balas menatap Jin –a , menaikkan sebelah alisnya dan menunjuk kursi di sebelahnya dengan ekor matanya. Dalam diam Song Jin –a duduk di kursi itu.

Pria itu tersenyum. Lalu mulai terdiam dan mulai larut dalam setiap sibakkan buku yang dilakukannya. Jin –a hanya menatap pria itu bingung. Bukannya buku pelajaran, novel atau buku tentang biografi yang ada disana. Buku yang dibaca pria itu tidak lain adalah buku resep yang memvisualisasikan berbagai gambar masakan yang tampak lezat. Pria itu tersenyum, lalu menoleh pada Jin –a.

“Song Jin –a. aku harus memanggilmu Song? Jin –a ? atau mungkin kau lebih suka aku memanggilmu Song Jin –a ?” pria itu bertanya dengan nada ramah sekali. Jin –a tersihir sesaat oleh lukisan senyum di wajah pria itu. Ini gawat, benar- benar gawat.

“terserah kau saja.”

Pria itu mengangguk mengiyakan, perlahan mulai mengerti bahwa Jin –a sedang mencoba beradaptasi dan kembali pada bukunya. “tapi, bisa ku tahu siapa namamu ?”

Kali ini pria itu menoleh cepat. Tatapannya tidak percaya dan itu adalah tatapan paling aneh yang pernah Jin –a tahu. Mata pria itu membulat sempurna dan mulutnya nyaris menganga seperti orang tolol. “a –apa k –kau tidak tahu namaku? , m –maksudku kau tidak tahu nama kami semua disini ?” pria itu bertanya dengan nada tidak percaya. Sempat terbersit dalam pikiran Jin –a untuk berbohong. Tapi, jika dia berbohong. Dirinya pasti bisa lebih malu dari sekarang. Jin –a tersenyum kecil.

“bisakah kau memberitahuku ? sebenarnya aku, tidak tahu tentang EXO.” Bisik Jin –a pelan. Sedikit mendekatkan wajahnya pada pria itu untuk mencegah pria –pria lainnya mendengar. Pria itu ,menatap Jin –a sesaat. Lalu tersenyum lagi dengan senyuman manisnya.

“a –aah sepertinya kami memang belum begitu dikenal dan –”

“A –aniyo, kudengar kalian sangat terkenal. Mungkin aku saja yang sedikit menjaga jarak dengan dunia entertaint.” Jin –a menyibakkan rambutnya yang tersampir ke dekat pipi mulusnya. Lagi, pria itu tersenyum.

“baiklah, baiklah. Setidaknya mungkin sekarang kau tahu siapa EXO. Inilah kami, EXO. Dan aku, DO Kyungsoo.” Pria bernama Kyungsoo itu tersenyum lagi sembari sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jin –a hanya mengangguk mengerti.

“DO Kyungsoo. Aku harus memanggilmu DO? Atau Kyungsoo ? atau mungkin kau lebih suka aku memanggilmu DO Kyungsoo ?” terdengar secercah nada bercanda dari gadis itu. Dan itu berhasil membuat Kyungsoo tertawa pelan. Mereka berdua tertawa.

“Kyungsoo saja, aku lebih suka Kyungsoo.” Gadis itu mengangguk mengerti. Senyuman tak hentinya lepas dari wajah gadis itu. Kali ini gadis itu telah melepas sepenuhnya rasa canggung dalam situasi tadi. Dan dia merasa sedikit lebih relax. Gadis itu menatap Kyungsoo dengan mata bulatnya.

“Kyungsoo, mengapa kau membaca buku resep ?”

Kyungsoo menatap sekilas tumpukan buku- buku resepnya. Lalu menggeser bukunya kepada Jin –a . “aku hobby memasak. Dan berencana akan memasak ini”, jari telunjuk pria itu menari- nari diatas sebuah gambar diantara gambar- gambar lainnya. Jin –a membulatkan matanya juga, tanpa sadar memotong jarak diantara mereka.

“oh, aku pernah membuat kare bersama eomma.”

“Jinjja ? kau bisa membuatnya ?” Kyungsoo Nampak tertarik dan ikut memotong jarak diantara mereka. hingga kini kepala keduanya nyaris bersentuhan dan mereka tidak menyadari itu.

Jin –a mengangguk mantap. “aku sudah menghafal bumbunya di luar kepala, dan aku tidak membutuhkan ini lagi.” Jin –a mendorong buku resep itu sedikit lalu tersenyum bangga, Kyungsoo tampak terkagum- kagum dan memandangi gadis itu dalam diam.

“kau suka memasak ?”

Jin –a menatap keatas sebentar. Lalu gadis itu tersenyum lagi. “aku lebih menyebutnya, bisa memasak.”

Lalu keduanya terkikik pelan. Seperti dua orang yang sudah mengenal cukup lama. Keduanya masih belum sadar bahwa kini jarak tubuh mereka benar- benar sudah terpotong. Dan itu membuat beberapa pasang mata teralihkan dan menatap mereka.

“Ya~! Apa yang kalian lakukan ?” pria berambut hitam pekat dengan tubuh jangkung dan celana longgar menarik kursi lalu duduk dihadapan mereka. pria lainnya dengan rambut kecoklatan yang acak- acakan menyusul duduk dengan mulut penuh makanan. Tangannya memeluk sebungkus makanan ringan yang besar.

Jin –a menelan ludahnya sesaat. Menoleh menatap Kyungsoo dan keduanya bertatapan sejenak. Sesuatu terasa aneh dan di detik ketiga keduanya melompat menjauhkan diri. Jin –a memalingkan wajah kearah lain dan Kyungsoo nyaris melakukan hal yang sama. Dua pria diahadapan mereke hanya tertawa singkat. Menatap Jin –a dan Kyungsoo dengan curiga.

“ Ya! Park Chanyeol, Byun Baekhyun! Apa yang kau lihat!” tanya Kyungsoo sengit. Baekhyun yang sedari tadi mengunyah makanan ringan sedikit mendorong tubuhnya kebelakang untuk menggoda Kyungsoo yang kesal. Chanyeol merebut makanan ringannya. Membuat Baekhyun merebutnya lagi lalu kedua orang itu melanjutkan acara rebutan mereka ke tempat lain. Jin –a sempat menangkap mereka berkejaran ke kamar mandi.

Kyungsoo menatap Jin –a dari balik bulu matanya. “mereka memang agak konyol,” Kyungsoo menggosok- gosok kedua lengannya canggung.

“yang mana yang Park Chanyeol dan yang mana yang Byun Baekhyun ?” Jin –a masih memperhatikan kedua orang yang sedang berkejaran itu dengan tatapan tidak percayanya. Kyungsoo mendesah pelan.

“yang jangkung itu namanya Chanyeol, yang lebih pendek darinya Baekhyun.”

Jin –a beralih menatap Kyungsoo dan pria itu memang tengah menatapnya. “bisa kau perkenalkan padaku satu- satu dari mereka ?”

Kyungsoo mengangguk mengiyakan lalu mulai memutar tubuhnya untuk memulai pengenalan.

“pria yang disana, dengan buku di tangannya –namanya Suho atau Kim Joon Myun. Disebelahnya, yang sangat menggilai game, namanya Oh Sehun. Lalu –” Kyungsoo menyapu pandangannya ketempat lain dan terpaku di sudut yang lain. “Yang itu, yang rambutnya seperti orang barat, yang tubuhnya seperti tiang. Namanya Kris atau –Wu Yi Fan. Dan disebelahnya yang paling tidak banyak tingkah diantara kami, namanya Chen atau bisa juga Kim Jong Dae,” Kyungsoo beralih lagi ketempat lain. Jin –a hanya diam mendengarkan. gadis itu bahkan terlalu sibuk mencatat nama- nama itu dalam memori otaknya.

“Yang itu, yang sedang tidur di sofa –namanya Kim Jong In, panggil saja dia Kai. Dan Mmm –itu yang sedang menonton tv adalah Lay dan Luhan.” Jin –a mengangguk lagi. Sedikit ragu dia akan mengingat semua nama asing itu. “itu, yang sedang berjalan kemari namanya Tao dan yang disebelahnya Xiumin.”

Jin –a tidak mengangguk atau mengatakan apa- apa. kali ini dia hanya diam karena dua pria terakhir yang disebutkan Kyungsoo tengah berjalan kearah mereka. jujur, dia bahkan tidak begitu mendengarkan saat Kyungsoo mengucapkan nama mereka. Tao dan Xiumin duduk di depan mereka. persis seperti yang dilakukan Baekhyun dan Chanyeol sebelumnya.

“jadi, nama siapa saja yang sudah kau ingat ?” Tanya Kyungsoo mengakhiri pengenalannya. Tao dan Xiumin berjengit di tempat, keduanya saling bertatapan tidak mengerti.

Jin –a terdiam sebentar, menatap kepalan tangannya yang mengeras. “Kyungsoo, aku baru mengingat nama Kyungsoo –”

 

Beautiful Assistant

 

To Be Continued ….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “[FF Freelance] Beautiful Assistant (Chapter 1)

  1. slm knl aq reader baru disini, ini ff yg pertama aq baca n aq sk bgt😀.. ide ceritanya mgkn udah byk ttg asisten artis n aq udah prnh baca bbrp ff tg tema ini tp aq sk sm ff ini krn dari bahasanya ga berat tp jg ga nyeleneh pkknya aq bs nikmatin bgt bacanya, ditunggu part selamjutnya :”)..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s