[FF Freelance] Solitude Autumn (Chapter 2 – END)

SolitudeAutumn

\\ Title Solitude Autumn [2/END] \\

\\ Author momoi \\

\\ Rating PG-15 \\

\\ Length Double Shots \\

\\ Genre Romance-Hurt \\

\\ Cast Yoo Hyemin [OC] – Cho Kyuhyun – Jung In Joon [OC] \\

\\ Disclaimer : Terinspirasi dari Boku No Hatsukoi O Kimi Ni Sasagu [2009] dan First Love [2010] Pernah dipublish di hotchokyulate.wp.com dan IFK \\

\\ Recommended Song Because It’s You [Davichi] \\

\\ a.n Italic mark for Kyuhyun’s View [Flashback] \\

 Previous: Chapter 1

.

.

 

“Asalkan dia menjadi milikku, aku pikir semuanya akan baik-baik saja, tetapi melihatnya menangisi pria lain ternyata jauh lebih menyakitkan daripada membiarkannya pergi” 

.

.

 

-Final Chapter-

 

 

Sillyehamnida, apakah benar anda dari Ghana Art?” Suara merdu yang sedikit serak itu menggantung di udara cukup lama sebelum berhasil menggesek gendang pendengar Hyemin. Dan saat mengangkat kepalanya, gadis itu mematung seperti orang tolol.

Hyemin benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ini terlalu nyata untuknya. Dan terlalu dekat. Duduk satu meja dengan orang yang hampir membuatnya gila. Tentu saja ini berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu waktu itu, karena ada Joon dan wanita itu. Tapi kini, kini benar-benar hanya mereka berdua. Duduk dalam satu meja.

“Jadi, konsep seperti apa yang diinginkan galerimu?” Suara serak itu lagi-lagi mengiris pendengaran Hyemin, membuat perutnya bergolak tak katuan.

Hyemin masih diam. Mendadak seperti suaranya tersangkut di tenggorokan dan sulit lolos melewati bagian tubuh itu yang terasa semakin tercekik. Dia tetap diam. Menikmati sakit yang menggerogoti ulu hatinya. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Kini sudah tiga puluh menit. Mereka masih diam. Seakan diam adalah percakapan yang paling tepat untuk mereka berdua.

Suara kursi berdecit itu berhasil menggerakkan kepala Hyemin yang tertunduk. Dia melihat pria itu bangkit dan menjauhi meja. Meninggalkannya seperti delapan tahun yang lalu. Tetapi kali ini rasa sakit itu semakin terasa. Ribuan kali lebih sakit daripada waktu itu.

Dia melihat punggung pria itu semakin menjauh dan semakin kabur. Tak sadar bahwa matanya kini sudah berair sehingga menghalangi pandangannya, dia hanya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu.

Hujan di luar sepertinya tidak menghalangi langkah pria itu untuk menerjangnya. Walaupun tidak telalu deras, tetapi berhasil membuat siapapun yang nekat menerjangnya akan basah. Dan tampaknya itu bukan apa-apa untuknya, karena dia sekarang sudah berjalan meninggalkan café. Pria itu mempercepat langkahnya untuk segera menjauhi tempat terkutuk tadi. Tempat dimana dia harus melihatnya, gadis yang membuatnya bertahan sampai detik ini, menderita. Dia terlalu lemah untuk sekedar mengusap kepala gadis itu dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak sanggup. Karena dia terlalu takut.

Hyemin tersentak saat mendapati pria itu sudah tidak ada dalam jangkauannya. Dia sadar saat kini matanya tidak lagi dapat menjangkau sosok pria itu.

Dia berlari keluar café. Berteriak-teriak memanggil namanya. Berlari-lari dan terus memanggil nama orang itu. Tetapi nihil. Sekeras apapun dia berteriak, orang itu tidak akan kembali. Orang itu sudah terlalu jauh melangkah.

Kini dia terlihat seperti orang gila. Berdiri dibawah guyuran hujan dan tidak menghiraukan beberapa orang membicarakannya. Dia terlalu menikmati buliran-buliran air dari langit itu kini berlomba dengan air yang meleleh dari matanya yang terpejam dan membasahi pipinya. Dia lupa bagaimana rasa dingin yang sering menghantam tubuhnya akhir-akhir ini. Dia lupa.

“KAU SUDAH GILA!”

Teriakan itu membuat telinga Hyemin berdenging. Dia membuka matanya perlahan. Tapi terasa sulit. Gadis itu merasakan kelopak matanya begitu berat, yang bisa dia lihat hanya seorang yang melepaskan mantel yang dikenakannya dan menyelimutkan pada tubuhnya yang menggigil. Setelah itu, matanya menjadi buram sampai benar-benar menggelap. Dan dia tidak merasakan apa-apa lagi.

 

+++

Joon merapikan selimut Hyemin yang terbaring lemah di ranjang pasien. Gadis itu terlihat menyedihkan. Wajah pucat, bibir membiru dan lingkaran mata yang menghitam. Dan dia adalah calon istrinya. Beberapa hari lagi. Mungkin.

Dia menyetel pemanas ruangan pada level maksimum. Memastikan agar gadis itu tidak kedinginan dan nyaman dalam tidurnya. Dia tidak sempat memeriksa kesehatan gadisnya karena pekerjaan akhir-akhir ini begitu padat. Dan itu membuatnya sangat menyesal.

Tangannya tidak sengaja menyenggol tas hitam milik Hyemin yang menyebabkan semua isi dalam tas itu tercecer di lantai. Dengan cekatan dia meraup semua isi tas itu, mulai dari handphone putih, buku catatan kecil berwarna hijau, bolpoin hijau, dompet hijau dan beberapa kartu nama yang tampak lusuh. Mata Joon terpusat pada sebuah buku. Buku yang tergeletak agak menjauh dari benda-benda yang lain. Tangannya sedikit bergetar dan meraih buku bersampul hitam itu.

Nafasnya beberapa kali tertahan saat membuka lembar demi lembar buku itu. Membuat aktivitas membacanya harus dihentikan sejenak untuk sekedar mengatur detak jantung dan parnafasannya kembali. Sudah tidak terhitung berapa kali dia terhenti di sela-sela aktivitasnya membaca. Sampai akhirnya dia menutup buku itu. Menuntaskan membuka masa lalu calon istrinya.

Dia bangkit. Entah kenapa kali ini kakinya terasa begitu berat, seperti ada ribuan beban yang kini membelenggunya. Memintanya agar tetap berada di tempatnya. Dan itu terlalu sulit untuk Joon. Dia terlalu bingung dimana dia sekarang sedang berdiri.

Joon menarik kenop pintu perlahan. Dia berbalik dan menatap gadis yang terbaring lemah itu sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan serba putih itu.

 

+++

Hyemin berusaha membuka matanya yang masih terasa berat. Entah kenapa dia begitu lemah saat ini hanya untuk membuka matanya sendiri. Dia melihat ibunya tertidur dalam posisi terduduk di samping ranjang pasiennya dengan kepala terkulai pada tepi tempat tidur.

Tak jauh dari ranjangnya, sebuah nakas kecil menarik perhatiannya karena di atasnya tergeletak buku bersampul hitam yang menyita waktunya akhir-akhir ini. Setelah berhasil meraihnya dengan tenaga lebih, dia membukanya, menuntaskan perjalanannya ke masa lalu yang menyedihkan.

 

7 Oktober 2007

Aku melihat beberapa helai maple merah berguguran dari tangkainya melalui jendela ruangan serba putih ini. Membuatku merangkak meninggalkan tempat tidur dan menghampiri jendela kaca itu. Susah payah aku menarik kaca itu agar terbuka dengan tangan terbelenggu selang infuse.

Aku melongokkan kepala keluar jendela. Melihat pohon-pohon yang terlihat mengenaskan karena kehilangan satu-persatu daunnya. Tinggal menunggu waktu untuk melihatnya benar-benar tanpa daun. Aku tersenyum getir. Bukankah pohon-pohon itu terlihat sama denganku? Tinggal menunggu waktu saja kapan aku akan benar-benar menghilang dari dunia ini.

Daun-daun merah kecokelatan itu berterbangan karena angin meniupnya. Meliuk-liuk indah. Mereka seperti menari di udara akibat ulah sang angin. Mengagumkan. Membuat sehelai daun tanpa sengaja menubruk wajahku. Tangan kananku yang terbebas dari selang infuse meraihnya, memandang garis-garis rapuh yang membingkai warna merah itu.

Aku kembali ke atas tempat tidurku dengan sehelai daun maple dalam genggamanku. Aku bisa bertahan, dan melihat daun-daun memerah lagi.

Musim gugur. Bukankah dia sangat menyukainya?

 

~~~

 

17 January 2008

Hawa dingin kota London membuatku enggan meninggalkan kursi nyaman di dekat perapian. Menghabiskan sepanjang hari dengan duduk dan memandang beberapa lembar potret di tanganku.

Aku meraih cangkir diatas meja kayu disampingku. Aku melihat cangkir itu sudah tidak menyisakan setetes cokelat pun. Ini sudah cangkir ketiga setelah Ahra noona membuatkannya untukku tadi pagi dan meninggalkanku sendiri setelahnya.

Entah sejak kapan aku juga menyukai minuman manis ini. Bahkan itu sudah seperti minuman wajibku setiap pagi, bersaing dengan butiran-butiran asing yang harus kutelan.

Sebesar itukah dia mempengaruhi hidupku?

 

~~~

 

Nafas Hyemin tercekat. Ahra? Noona?

Dia menelan ludahnya dengan susah payah. Sekarang rahasia apalagi yang belum diketahuinya tentang Kyuhyun?

 

7 October 2008

Musim gugur kedua tanpa dia. Bahkan tidak percaya aku bisa melakukannya sampai sejauh ini. Dan itu semua karenanya. Pergi check-up setiap tiga hari sekali. Menelan benda-benda asing setiap hari. Dan menjauhi kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.

Itu semua kulakukan karena dirinya. Karena aku ingin melihat wajahnya, lagi. Setidaknya sebelum aku hilang dari dunia ini.

 

~~~

 

27 October 2008

Aku menyusuri jalanan sepi pinggiran kota London. Membidik beberapa anak kecil yang berkejaran dengan kamera tua kesayanganku. Mereka tertawa begitu lepas dan tanpa beban. Terlihat tidak peduli dengan apa yang terjadi setelah ini. Dan sesaat kemudian aku melihat seorang gadis kecil dengan rambut coklat terang tergerai, terjatuh. Membuatnya menelungkup di atas tanah yang keras. Aku berlari menghampirinya. Meraih tubuhnya yang masih berada di posisinya saat terjatuh. Aku melihat matanya mulai berair dan meringis kesakitan saat tanpa sengaja aku menyentuh sikunya yang bengkak.

“It’s okay.” Ujarku menenangkannya dan menyodorkan sabatang cokelat pada gadis kecil itu. Matanya yang berair berubah cerah dan menyambut batang cokelat dari tanganku. Dia tersenyum manis dan berlari meninggalkanku.

Aku lagi-lagi teringat senyumnya. Senyum yang begitu tulus. Persis seperti anak-anak kecil itu. Apakah hari itu dia juga menangis? Karenaku?

 

~~~

 

7 Oktober 2009

Aku masih bisa melihat daun-daun merah itu. Melihatnya berterbangan karena ulah angin. Melihatnya meninggalkan ranting-ranting yang tampak rapuh.

Aku duduk di bangku tua pinggir jalanan sepi taman kota. Menghitung helai-helai daun maple yang berjatuhan. Persis seperti hidupku. Menghitung mundur, berapa hari lagi yang kupunya untuk menikmati daun-daun itu berjatuhan meninggalkan rantingnya.

Aku sudah bertahan untuk melakukan pengobatan melelahkan itu. Dan sekarang? Tetap tidak menunjukkan efek positif apapun.

Apakah ini musim gugur terakhirku? Tanpa aku bisa melihatnya lagi?

 

~~~

 

17 September 2010

Oemma dan appa masuk ke ruangan dengan lesu. Aku bisa melihat dengan jelas tangan appa yang menepuk-nepuk bahu oemma, berusaha menenangkannya. Oemma berkali-kali mengusap air mata yang tidak bisa berhenti meleleh dari matanya yang sayu.

Sementara Ahra noona yang duduk di tepi tempat tidurku hanya menggenggam tanganku erat. Meredam segala pikiran yang berkecamuk dalam otakku saat ini. Setidaknya genggaman tangannya membuatku sedikit lebih tenang.

Kami semua terdiam untuk waktu yang lama. Kami terlarut dalam pikiran masing-masing. Menambah kesan mengerikan pada ruangan serba putih ini karena begitu senyap. Tempat yang paling aku benci.

Apakah aku harus pergi dengan cara seperti ini? Pergi begitu saja setelah menunggu selama empat tahun? Dan tanpa bertemu dengannya?

 

~~~

 

Hye-Min berusaha membuka lembar selanjutnya buku itu, mencoba mengorek kenangan menyedihkan untuknya, mungkin juga untuk seseorang.

 

20 September 2010

Incheon. Angin awal musim gugur menyambutku setelah empat tahun meninggalkannya. Dan rasanya masih sama, menenangkan.

Appa memutuskan untuk kembali ke Korea setelah dokter Bill menjelaskan bahwa terapi tidak bisa menyelamatkan hidupku. Itu hanya akan sedikit mengurangi rasa sakit yang sering menyerangku jika aku terlalu lelah. Itu juga tidak bisa membuat hariku di dunia ini lebih panjang.

Dan satu-satunya yang bisa dilakukan untuk membawa hidupku kembali adalah dengan donor. Donor. Dan itu jelas tidak mudah. Siapa di dunia ini yang dengan rela memberikan bagian tubuhnya yang sangat penting untuk orang lain yang bukan siapa-siapanya.

Kembali ke Korea. Kembali mengorek rasa sakit karena meninggalkannya begitu saja.

 

~~~

 

10 January 2011

Aku melangkah lamban di jalanan sibuk Insadong. Lapak-lapak penjaja kerajinan berjajar rapi memenuhi sisi jalan. Membuatku antusias menyetel lensa kamera. Tentu saja aku tidak ingin melewatkan moment seperti ini.

Seorang anak laki-laki kecil terlihat mengikuti seorang gadis kecil didepannya. Mengendap-endap diantara tubuh-tubuh besar yang berlalu lalang. Bersembunyi dibalik tubuh seorang ahjusshi saat sang gadis kecil itu berbalik. Itu berulang, sampai sang gadis kecil terlihat kesal dan menemukannya. Anak laki-laki kecil tadi tersenyum salah tingkah dan mengulurkan tangan kanannya yang tadi berada dibalik tubuhnya. Dia menyodorkan setangkai Iris putih dan segera berlari meninggalkan gadis kecil yang masih tampak kaget itu. Potret sisi lain dunia yang berwarna-warni.

Aku meneruskan jalanku. Meyetel lensa kamera dalam genggamanku, lagi.

Aku membidik seorang ahjumma yang terlihat mengomel dengan seorang pembeli wanita. Lensa kamera yang kuarahkan pada ahjumma tadi kugeser, membidik pembeli yang membuat si ahjumma tadi mengomel tanpa henti.

Aku terhenyak. Hampir saja kamera dalam tanganku terjatuh, saat wajah yang kulihat dari lensa kecil kameraku memperlihatkan wajah yang menggangguku akhir-akhir ini. Wajah yang sangat ingin aku lihat sebelum aku menghilang dari dunia ini. Dan sekarang aku melihatnya. Dia berada didepanku.

Aku berusaha mendekat. Mengurangi jarak antara aku dengan gadis itu. Tentu saja tidak sampai dia menyadari keberadaanku.

“Mana mungkin seorang yoeja cantik sepertimu menawar dengan harga yang sangat rendah.”

“Yak, ahjumma. Kemarin bahkan temanku berhasil mendapatkan guci yang lebih bagus dari ini dan dia membayar hanya dengan 10 ribu won. Kau menjualnya terlalu mahal, ahjumma.

“Aigoooo, kepalaku terasa sangat sakit sekarang. Kau menawar dengan sangat rendah, dan sekarang kau menghina barang daganganku? Aish, jinja!” Keluh ahjumma penjual pada gadis itu. Membuat gadis itu cepat-cepat meninggalkan lapak tadi sebelum guci besar yang ditawarnya  melayang dan mendarat dikepalanya.

Aku mengikutinya dalam diam. Mencoba mengukir kenangan-kenangan yang aku tahu akan berakhir menyakitkan. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli lagi tentang hidupku setelah ini, selama aku bisa melihat wajah itu.

 

~~~

 

17 April 2011

Aku duduk di halte seperti biasanya. Sekedar melihatnya berangkat kuliah dengan selamat. Aku tidak akan meninggalkan tempat dudukku sebelum dia naik bus dan meninggalkan halte diseberang jalan sana.

Ini rutinitas pagiku, melihat wajahnya.

 

~~~

 

17 January 2011

Appa dan oemma terlihat lesu saat keluar dari ruangan dokter Shim. Dan aku sudah melihat kejadian ini puluhan kali. Tidak mengagetkan. Karena menunggu donor seperti menunggu keajaiban turun dari langit. Satu keajaiban berbanding dengan seluruh manusia di muka bumi. Benar-benar mustahil.

Aku tidak bisa menangis. Aku sudah lupa kapan terakhir kalinya air mataku ini keluar.

 

~~~

 

27 September 2014

Hari ini Ahra noona memintaku untuk menemaninya mencari cincin pernikahan. Calon suaminya yang super sibuk itu tidak punya waktu untuk mengurusi hal-hal sepele seperti ini.

Dia mengajakku memasuki sebuah toko perhiasan di kawasan Apgujeong. Entah kenapa jantungku kali ini bekerja lebih cepat dari biasanya saat kaki kananku melewati pintu kaca toko itu. Mungkin efek dari banda asing yang kutelan setiap pagi. Dan aku baru merasakannya saat jantungku berada pada tahap akhir masa kerjanya. Ataukah mungkin sebuah firasat? Aku tidak peduli.

Dan hasilnya, aku kini duduk dalam satu meja dengannya. Gadis yang sangat kuhindari dan sangat ingin kulihat dalam waktu bersamaan delapan tahun terakhir. Gadis yang sangat mengganggu malam-malamku dan tidak pernah berhasil kuenyahkan dari dalam otakku. Gadis itu kini ada di depanku.

Pria itu menggenggam tangannya. Hal yang paling ingin kulakukan selama ini. Dan sekarang, aku melihat pria lain melakukan itu, tepat di depan mataku. Aku berusaha menahan nyeri yang lagi-lagi menyusup dalam dadaku. Rasa yang semakin lama semakin menyesakkan. Rasa yang bahkan beribu-ribu lebih sakit saat tiap malam aku harus bertahan di Inggris dulu. Rasanya seperti dadaku akan meledak.

Ahra noona mencoba tersenyum dan menggenggam tanganku. Meredam tanganku yang saat itu bergetar hebat. Dia mencoba menguatkan aku agar aku tidak collapse saat itu juga. Menahanku agar tidak terlihat menyedihkan.

 

~~~

 

28 September 2014

Aku menyapanya malam ini. Dan tidak kusangka ekspresinya akan seperti itu. Terlalu terkejut dengan kehadiranku.

Aku menyusuri wajahnya. Wajahnya masih sama seperti delapan tahun yang lalu. Mata almond-nya masih tetap indah dan memukau, walaupun kini terlihat sedikit bengkak dan dihiasi lingkaran yang menghitam dibawahnya. Wajahnya juga tetap menawan, walaupun kini terlihat garis-garis lelah yang sangat disana.

Aku ingin sekali menghambur kearahnya dan mendekap tubuhnya. Membiarkan sesak di dadanya sedikit berkurang saat aku mengusap puncak kepalanya dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Aku ingin sekali.

 

~~~

 

30 September 2014

Aku menatap kilauan emas sungai Han yang membentang. Gradasi warna jingga dan ungu yang terlukis indah di horizon. Ah aku lupa, kapan terakhir kalinya aku merasa sedamai ini. Menikmati langit senja yang indah, melupakan sejenak tentang hidupku yang sudah mendekati akhir.

Angin musim gugur berhembus ringan. Menerpa wajahku dan membuat beberapa maple merah dari pohon tak jauh dari tempatku berguguran. Aku meraih satu, melihatnya.

Maple merah ini sama seperti dia. Tampak sedikit angkuh, tetapi rapuh.

 

~~~

 

3 Oktober 2014

Mungkin ini adalah tulisanku yang terakhir. Bukan karena dia akan menjadi milik orang lain. Bukan. Aku tetap menyukainya walaupun dia bersama orang lain. Aku tetap mencintainya walaupun dia tidak bersamaku. Dan aku tetap menggilainya. Itu tidak akan berubah. Sampai kapanpun.

Aku sudah menunggu sekian lama. Dan sejauh ini tidak menunjukkan hasil apapun. Donor itu sepertinya hanya ada dalam anganku saja. Seperti para orang tua yang menceritakan santa akan memberikan hadiah pada malam natal jika kita menaruh kaos kaki dibawah bantal kita. Itu semua omong kosong. Sama seperti donor.

Aku rela jika menghilang dari dunia saat ini. Karena aku sudah melihat wajahnya. Karena aku sudah melihatnya tumbuh dengan baik. Karena aku sudah melihat ada pria baik yang akan menjaga hidupnya. Karena aku begitu mencintainya sampai aku rela jika menghilang dari dunia ini tanpa membuatnya menangis lagi. Aku rela …

 

~~~

Hyemin membuka helai selanjutnya buku itu, tetapi kosong. Selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya. Sama. Kosong.

Tangannya terhenti saat buku itu nyaris tertutup. Ada beberapa coretan dibagian belakang buku itu.

 

Ingin rasanya, sekali saja, merasakan romantisme musim gugur bersamanya …

Pepohonan dengan daun kuning kemerahan

Helai demi helai daun yang jatuh satu persatu

 

Berjalan bersisian dengan langkah mengayun tinggi,

Membuat helai-helai daun merah itu berterbangan, lagi

Atau terbaring di atas rumput yang menguning

Memandangi langit senja yang kemerahan


Atau bersepeda di bawah langit senja,

Menikmati ketenangan sungai Han disebelah kiri,

Dan deretan pohon maple merah di sebelah kanan


Atau duduk dibawah pohon maple dengan berbagi
earphone,

Membuat jarak kita begitu dekat

Mendengarkan alunan musik dalam diam


Atau memandangi pohon maple itu dari jendela,

Disebuah rumah kayu yang hangat dengan perapian

Dan secangkir latte, minuman kesukaannya

Merasakan romantisme itu bersamanya, setiap hari

Hingga pohon-pohon itu tak berdaun lagi

Hingga salju turun dan menyelimuti dikeesokan pagi

Aku ingin …

 

Tangannya bergetar membuka lembar buku bagian belakang. Membuka lembar demi lembar kertas broken-white itu. Lembar-lembar buku itu memperlihatkan potretnya. Dia bahkan tidak tahu jika pria itu akan melakukan kegiatan paling tidak berguna macam ini. Mengabadikan setiap ekspresinya. Membekukannya dalam lembar-lembar potret yang tersusun rapi dalam buku bersampul hitam ini.

Nafas Hyemin terasa berat. Seperti persediaan oksigen dalam paru-parunya telah benar-benar habis. Membuat dadanya terasa sesak. Matanya kini panas dan perih. Pandangannya juga semakin kabur. Tenggorokannya terasa sakit seperti tercekik.

Dia hanya diam. Menarik lututnya dan mendekapnya. Menyembunyikan kepalanya disana. Setidaknya jika sekarang dia ingin menangis, tidak ada yang melihatnya. Awalnya hanya membiarkan matanya yang berair itu meneteskan sesuatu yang sudah ditahan-tahannya selama ini. Tetapi kini, gadis itu bergetar, tidak sanggup meredam tangisnya yang nyaris meledak jika tidak terhalang lututnya. Dia terisak hebat.

Gadis itu merasakan seseorang merangkulnya. Menariknya untuk mendekat.

“Menangislah yang keras jika itu membuatmu nyaman.”

Suara wanita itu membuat Hyemin merasa sedikit tenang. Bukan berarti kini tangisnya terhenti,dia malah menangis semakin keras. Seakan mengeluarkan semua yang ditahannya delapan tahun terakhir. Mengeluarkan air mata yang sangat dibencinya selama ini. Dia membenamkan wajahnya dalam perut wanita tengah baya itu. Membuat dress biru yang dikenakan wanita itu basah oleh air matanya.

 

+++

Hyemin menyusuri koridor rumah sakit dengan menyeret penyangga infuse yang membelenggu tangan kirinya. Dia baru saja mencari udara segar. Sekedar untuk mengeringkan sisa-sisa air mata yang berhasil membuat matanya bengkak.

Gadis itu melihat seorang wanita, yang tak lain adalah Ahra, memasuki sebuah kamar inap. Dan itu menarik minatnya untuk membuntutinya. Dia melihat seorang ahjusshi dan ahjumma yang menangis. Ahjusshi itu mencoba menenangkan istrinya dengan mendekapnya dan menepuk-nepuk bahunya. Sementara wanita tadi terlihat merapikan selimut pasien yang terbaring diruangan itu. Tidak perlu jenius untuk mengetahui siapa pasien itu.

Hyemin berangsur dari pintu itu. Sedikit menepi. Kakinya kini terasa lemah dan bergetar. Membuatnya melorot ke lantai saat bersandar pada dinding koridor rumah sakit itu. Matanya yang sudah bengkak itu terasa panas dan perih lagi, walaupun tidak berair seperti tadi. Entahlah, sepertinya air matanya sudah habis setelah kejadian tadi.

“Kau ingin masuk?”

Suara lembut itu membuat Hyemin tersadar. Persis seperti delapan tahun silam saat Jaebum menceritakan rahasia besar pri itu. Dia berusaha bangkit. Berpegangan erat pada penyangga infuse yang berdiri tegak di sampingnya. Sia-sia. Karena penyangga itu malah menggelinding menjauhinya. Apakah dirinya terlihat sangat menyedihkan sekarang?

Hyemin menjatuhkan tubuhnya perlahan di atas kursi di sisi tempat tidur setelah Ahra membantunya berdiri. Gadis itu menyusuri setiap lekuk wajah orang yang berbaring dihadapannya. Mencoba merekam setiap jengkal garis wajah pucat itu. Dia hanya tidak ingin melupakan satu inci saja wajah itu. Sebentar. Dua menit, mungkin.

Dua jam. Dia sudah memandang orang yang terbaring lemah itu dua jam. Dan tanpa ada tanda-tanda dia akan menghentikan kegiatannya itu. Anggota tubuhnya seperti mati rasa. Tangannya tidak bisa bergerak, sekedar merapikan anak-anak rambut orang itu yang sebagian menutupi dahinya sampai mencapai matanya yang terpejam. Kakinya tidak bisa bergerak untuk segera meninggalkan ruangan itu. Untuk kembali pada kehidupannya yang sedikit normal.

 

+++

Ibu Hyemin menatap nanar anak gadisnya. Melihat cahaya hidupnya kini redup dan nyaris padam. Melihat tatapan kosong seperti itu kembali dalam kehidupan anak gadisnya, persis seperti delapan tahun lalu.

Anak gadisnya itu sudah duduk di balkon kamarnya sejak pagi. Dan dia masih bertahan walaupun langit kini sudah menggelap. Menutup hari panjang yang hanya dihabiskannya untuk berdiam diri di atas kursi kayu. Membiarkan angin dingin menghantam tubuh ringkihnya.

Wanita tengah baya itu mencoba memapah Hyemin masuk ke dalam rumah. Mengistirahatkan tubuhnya yang terlihat sangat lelah padahal tidak melakukan apapun.

Gadis itu mencoba memejamkan mata. Membuat mata ibunya kembali berair karena melihat lingkaran mata yang dulu sedikit menghitam kini benar-benar pekat. Melihat wajah anak gadisnya yang dulu manis kini pucat pasi. Melihat bibir anak gadisnya yang biasanya selalu berceloteh kini membiru dan terkatup rapat. Melihat mata indah anak gadisnya yang dulu berbinar kini bengkak dan tidak memperlihatkan ada kehidupan didalamnya. Melihat rambut coklat anak gadisnya yang dulu tergerai indah kini berantakan. Benar-benar menyedihan.

Gadis yang sempat memejamkan mata tadi kini terjaga lagi, tepat setelah ibunya menutup pintu kamarnya. Membuka kelopak matanya yang terlihat lelah tanpa ingin mengistirahatkannya, seperti ingin menambah pekat lingkaran hitam yang mengitarinya. Lagi-lagi pandangannya tertumpu pada langit-langit kamarnya. Langit-langit putih yang kosong. Kosong.

 

+++

Mereka berdua masih memandangi kilauan emas sungai Han. Pantulan dari kaki langit yang bergradasi sempurna. Mereka duduk di bangku besi tua sejak satu jam yang lalu. Diam. Mereka duduk dalam diam. Tidak tahu apa yang harus dikatakan pada saat-saat seperti ini. Memilih untuk menyelami perasaan masing-masing.

“Apakah cinta selalu menyediakan air mata?” Suara Joon yang terdengar berat mencoba mencairkan suasana yang benar-benar hening semenjak mereka berangkat tadi.

Gadis dengan lilitan syal tebal si sekitar lehernya itu tidak bergeming. Masih memusatkan pandangannya pada kilauan emas yang bergerak pelan di hadapannya. Riak sungai Han yang bergerak indah karena tiupan angin.

“Aku tahu waktu ini akan segera tiba. Tapi aku tidak menyangka jika ini akan benar-benar terjadi saat pernikahan kita hanya tinggal menghitung jam.”

Mereka berdua belum bisa meninggalkan kilauan sungai Han yang tampak meredup. Menyelami setiap detik senja itu. Seperti ini adalah senja terakhir untuk mereka.

“Jika di kehidupan ini kau tidak bisa mencintaiku. Bisakah kau mencintaiku di kehidupan selanjutnya?”

Mianhaeyo.” Suara gadis itu akhirnya berhasil lolos dari tenggorokannya yang terasa tercekik hebat. “Di kehidupan sekarang, selanjutnya ataupun yang lalu aku hanya mencintainya.” Suara gadis itu masih serak. Pita suaranya mungkin sedikit bermasalah karena terlalu lama tidak digunakan. Atau mungkin terlalu lelah karena digunakan menangis sepanjang malam.

Joon berusaha menggerakkan kepalanya untuk menatap gadis yang kini tertunduk lesu di sampingnya. Melihat gadis yang memenuhi seluruh otaknya itu tampak menyedihkan.

Suasana kembali hening. Seperti langit yang mulai menggelap. Seperti semburat jingga di kaki langit yang digeser ungu kehitaman. Mereka masih terpaku pada bangku besi tua itu. Sampai langit kini benar-benar menggelap.

 

+++

Gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin. Memperlihatkan seorang mempelai wanita yang harusnya berseri-seri karena akan mengucapkan janji suci di depan altar. Tetapi tidak pada mempelai wanita ini. Mempelai wanita ini terlihat lelah dan menyedihkan. Membuat banyak conceler menumpuk tebal di bawah matanya hanya untuk menutupi lingkaran hitam yang tak terselamatkan. Gaun yang beberapa hari lalu melekat sempurna di tubuhnya kini harus dijepit di sana sini karena terlalu longgar. Membuat semua orang harus bekerja keras untuk itu.

Ruang kecil itu terasa sangat sunyi. Hanya ada dua orang di ruangan itu dan mereka tidak bersuara semenjak dua jam yang lalu. Seorang mempelai wanita yang hanya memandang kosong pantulan dirinya dicermin dan seorang gadis yang sibuk merapikan penampilan sang mempelai wanita.

Sunri dengan sabar membersihkan mascara yang beberapa kali luntur karena terlalu banyaknya air yang menumpuk di sudut mata mempelai wanita itu. Gadis itu juga menyisir rambut mempelai wanita itu dengan hati-hati, walaupun rambutnya kini sudah tidak bisa dirapikan saking kusutnya. Membuat Sunri mati-matian menahan isak tangisnya di sela-sela kegiatannya mengatur rambut sang mempelai wanita. Dia hanya tidak menyangka bahwa sahabatnya itu akan terlihat sehancur ini. Sunri tidak ingin membuka percakapan dengan bertanya tentang keadaan sahabatnya. Hanya dengan melihatnya saja gadis itu sudah tahu seberapa hancurnya keadaan sahabatnya itu.

Suasana masih senyap. Sama seperti saat mereka baru memasuki ruangan kecil itu. Hanya terdengar suara tarikan nafas yang dalam atau bahkan suara detak jantung.

Seorang menarik gagang pintu dengan kekuatan yang mengkhawatirkan. Memperlihatkan wanita tengah baya yang berdiri lemah dan make-up yang luntur karena menangis dari balik daun pintu yang menjeplak. Wanita itu tak kunjung masuk ke dalam ruangan dan memilih mematung di tempatnya. Melanjutkan kegiatan menangisnya. Dan mungkin kali ini lebih hebat.

 

+++

Mempelai wanita itu berlari sekencang yang bisa dilakukan kakinya yang gemetar setelah berhasil membuang heels yang melekat di kakinya. Dia meninggalkan seorang gadis dan dua wanita tengah baya yang masih menjerit histeris dibelakangnya. Mempelai wanita itu mengangkat tinggi gaun putihnya, berusaha mengenyahkan penghalang yang memperlambat jalannya. Dia tidak mempedulikan tatapan beberapa orang yang berpapasan dengannya dan memandangnya aneh. Dia tidak peduli. Sudah tidak ada tempat di otaknya untuk memikirkan orang-orang itu.

Mempelai wanita itu kini terkulai lemah diatas lantai yang dingin disamping pintu kaca berdaun ganda setelah tiga orang menyeret paksa tubuhnya agar keluar dari ruangan itu. Dia hanya diam. Tidak menangis. Tidak menjerit histeris seperti dua orang wanita tengah baya yang masih terisak di kursi yang tidak jauh dari tempatnya. Seperti air matanya benar-benar telah habis sampai dia hanya bisa diam disaat seperti ini. Kedua telapak tangannya berusaha menutupi wajahnya yang tampak hancur. Dengan conceler dan mascara yang belepotan di sana sini. Rambutnya yang tadi ditata rapi oleh Sunri kini sudah berantakan lagi seperti sebelumnya.

Mempelai wanita itu mencoba menarik lututnya. Menyembunyikan kepalanya yang terasa pening disana. Membiarkan air matanya meleleh kalaupun itu masih ada.

Mempelai wanita itu tidak pernah membayangkan hari ini akan benar-benar datang. Dia tidak pernah membayangkan hari indah pernikahan itu. Dia memang tidak pernah menginginkan hari ini ada dalam perjalanan hidupnya. Jika saja bisa, dia ingin menghilangkan satu hari ini saja dalam perjalanan panjang hidupnya. Tetapi tidak dengan membuat orang yang tidak bersalah itu berjuang antara hidup dan mati. Tidak dengan membuat orang tak bersalah itu nyaris hilang dari dunia ini. Tidak. Tidak ini yang diinginkannya.

 

+++

Mempelai wanita yang terlihat berantakan itu mendekati orang yang terbaring lemah dengan selang yang menutup hidung dan mulutnya. Pria yang terbaring itu masih saja tampan dalam keadaan seperti ini. Hal gila yang terlintas dalam otak gadis itu. Dia memandangi wajah tulus pria itu. Pria yang menemaninya empat tahun terakhir dan begitu sabar dengan sikapnya yang menyebalkan. Pria yang tidak pernah mengeluh melihat sifat kekanak-kanakannya. Pria yang sangat mencintainya dan memilih untuk bertahan dengan perasaannya walaupun dia tahu gadis yang dicintainya tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Pria itu begitu menakjubkan.

Gadis itu melihat amplop putih tergeletak di atas meja kecil, di sebelah vas bunga putih. Tangannya meraih amplop putih itu dengan sedikit bercak merah di beberapa sudut. Warna merah yang membuat gadis itu sedikit berjengit. Dia membuka amplop itu, memperlihatkan selembar kertas dengan warna senada.

 

Aku tidak sabar menanti hari itu. Hari dimana aku menggenggam tangannya dan memintanya untuk menghabiskan sisa hidupnya denganku.

Aku tahu dia tidak mencintaiku. Sejak pertama kali aku melihatnya berjalan diantara guguran maple merah waktu itu. Dia memang memperlakukanku dengan baik. Tetapi tidak dengan cinta.

 Aku sedikit terkejut saat dia menerima pinanganku setahun yang lalu. Aku tidak menyangka jika dia mau menjadi istriku. Mau merubah marganya menjadi margaku. Aku terlalu bahagia karena itu. Hari pernikahan yang selalu membuatku tersenyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras. Sampai pada hari itu, ketika kami mencari cincin pernikahan dan bertemu sepasang calon pengantin. Mungkin.

Dia berubah sejak hari itu. Wajahnya yang biasa berbinar kini mulai meredup. Senyum yang selalu mengembang dibibir indahnya kini tak pernah lagi kulihat. Aku juga tidak bisa melihat bibirnya mengerucut karena kesal. Ekspresi yang paling kusuka darinya. Atau saat teriakannya membuat telingaku berdenging. Dan anehnya aku suka saat gadis itu melakukannya padaku. Aku sama sekali tidak  keberatan.

Gadis itu kini lebih sering diam. Melamun. Bahkan beberapa kali aku melihatnya sedang menangis.  Hal yang tidak pernah aku lihat selama ini.

Gadis itu terlihat berantakan. Wajah pucat. Mata bengkak. Lingkaran mata yang menghitam. Dia benar-benar terlihat menyedihkan. Sebesar itukah pengaruh orang di masa lalunya?

Aku ingin tetap menahannya, menjadikannya milikku sepenuhnya. Itu sebelum aku mengetahui akan sehancur apa dirinya akibat perbuatanku. Kini aku tahu, mengapa hatinya tidak pernah bisa menerima kehadiranku…

 

+++

Gadis dengan gaun pengantin itu melangkah tanpa arah. Melangkah pelan menyusuri trotoar dengan kaki telanjang. Gaun anggunnya kini terlihat kusut dan lusuh, persis seperti wajahnya. Raut wajahnya datar. Dan pandangannya kosong. Mengerikan.

Tubuhnya mungkin sudah lelah, hingga dia menghentikan langkahnya. Memandang sekelilingnya yang sepi dan gelap.

Gadis itu perlahan mendekati pagar pembatas di jembatan sungai Han yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ini memang sudah malam. Mungkin lebih tepatnya menjelang pagi. Jadi tidak akan ada orang yang akan menariknya karena menganggapnya akan bunuh diri dengan menjeburkan diri ke dalam sungai Han yang tampak tenang. Seperti kaca hitam yang terbentang panjang. Mungkin air sungai itu dingin, cukup untuk membuat tubuh lelahnya sedikit tenang. Atau bahkan membuatnya benar-benar merasa nyaman sampai tidak bisa merasakan apa-apa lagi nantinya. Pikiran itu memenuhi otaknya yang terasa akan meledak sebentar lagi.

Kakinya yang telanjang berusaha menginjak besi dingin pagar pembatas yang paling bawah. Membiarkan besi yang terasa seperti bongkahan es itu menyentuh telapak kakinya. Gadis itu memejamkan matanya, menikmati hembusan ringan angin malam menjelang pagi.

 

+++

 

“Kau sudah sadar?”

Hyemin berusaha membuka matanya yang terasa berat, mengedarkan pandangannya pada ruangan disekelilingnya. Ada kebingungan dalam raut wajahnya.

“Ini dimana?” Suara lirih gadis itu keluar diantara bibirnya yang pucat dan kering. “Bagaimana keadaan Joon, aku harus melihatnya.”

Sunri masih diam. Gadis itu hanya memperhatikan Hyemin yang mencoba bangun. “Istirahatlah, kita bisa mendatanginya setelah kondisimu sudah membaik.”

“Aku tidak bisa. Aku kemarin meninggalkannya begitu saja. Sekarang dia pasti kesepian, Sunri-ya.” Hyemin mendebat dengan usaha menyingkirkan beberapa selang infuse yang menancap di lengannya.

Sunri menahan pergelangan tangan Hyemin. “Untuk saat ini saja, bisakah kau tidak keras kepala?” Suara temannya terdengar lemah dan memohon.

“Joon sekarang sendirian. Dia pasti ketakutan dan kesepian di ruangan itu.”

“Yoo Hyemin!” Suara Sunri kali ini meninggi. Gadis itu mendorong tubuh Hyemin yang masih mencoba melepaskan selang-selang infusenya. “Joon oppa sudah pergi. Dia sudah tidak di rumah sakit ini.”

“Kecelakaan itu sudah terjadi seminggu yang lalu. Bukan kemarin.” Hyemin dan Sunri duduk di atas ranjang pasien, memandang kaca di hadapan mereka yang buram karena butiran salju. “Seseorang menemukanmu tergeletak di jembatan sungai Han. Dia mengira bahwa kau sudah tak bernyawa karena keaadaanmu saat itu sangat menyedihkan.” Hyemin masih diam, menangkap suara gemetar milik temannya sambil memandang kaca buram kamar inap.

“Apakah kau benar-benar tidak bisa hidup tanpanya? Sampai kau menyia-nyiakan hidup Joon oppa yang sangat mencintaimu? Apakah sebegitu berharganya orang itu sampai kau sehancur ini?” Kata-kata Sunri terdengar seperti sebuah elegi bagi Hyemin. Dia memandang temannya yang terisak. Tangannya yang terbelenggu selang infuse mencoba meraih pundak Sunri, meletakkan kepalanya di sana.

Mianhae.” Bisiknya lirih.

+++

Semua orang di ruangan itu tampak sibuk. Seperti akan ada perayaan walaupun ini hanya di sebuah bangunan kecil dan sederhana. Banyak Iris putih, beberapa Fressia dan pita putih yang diikat dengan banyak model.

“Kemana kau akan membawaku?” Hyemin terus saja bertanya dari bangku penumpang pada Sunri yang sibuk menyetir. Sementara temannya hanya membalas dengan seulas senyum tanpa berniat menjawab rasa ingin tahu Hyemin.

“Kita sudah tiba.” Sunri berceloteh girang saat mobil mereka berhenti didepan sebuah rumah kayu sederhana. Rumah itu seperti tak berpenghuni karena sepi.

“Kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?”

“Saat sakit pun, kau masih saja cerewet. Ikuti saja kataku, ara?” Perintah Sunri seraya memapah Hyemin untuk duduk di kursi roda yang baru saja dikeluarkannya dari bagasi.

Aboeji!” Hyemin memekik ketika melihat ayah Joon berjalan dengan langkah lebar ke arahnya.

“Kau sudah siap?” Sapanya lembut, masih sama seperti biasanya. Hyemin sesaat menatap Sunri dan ayah Joon bergantian. Dua orang di depannya itu terlihat menyembunyikan sesuatu.

Sunri mengabaikan tatapan tajam Hyemin dan lebih memilih untuk merapikan rambut cokelat gadis itu dengan menyimpulkannya dan mengepang sederhana, menyisakan sedikit anak rambut di sekitar telinga dan dahi. “Sepertinya kita bisa masuk sekarang.”

Gadis dengan balutan gaun peach lembut selutut itu memilih diam dan membiarkan Sunri mendorong kursi rodanya, meskipun penasaran serasa mendesak-desak kepalanya. Pintu di depannya perlahan terbuka. Tidak banyak kursi di ruangan itu, hanya ada dua deret kursi disisi kiri dan kanan. Sementara di tengah ada sebuah meja yang sedikit tinggi yang sangat biasa seperti perabot dalam rumah kayu sederhana itu. Orang-orang di ruangan itu menoleh ke arahnya, memberi penyambutanan dengan senyum hangat yang tulus. Dia melihat Ahra berbalut gaun cantik berwarna tosca dan seorang pria di sampingnya, mungkin suaminya. Di kursi depannya ada ahjumma dan ahjusshi yang pernah dilihatnya saat di rumah sakit dulu. Dia kemudian menoleh ke kiri, ada manager Kang yang mengacungkan kepalan tangan ke arahnya sambil tersenyum lebar. Di depannya ada ibu Joon yang tidak bisa menahan tangisnya saat melihatnya semakin mendekat. Wanita itu masih saja tersenyum disela-sela tangisnya. Ibunya, yang berdiri di ujung deretan kursi paling depan memandangnya lekat. Seakan matanya menyampaikan ribuan nasehat yang tidak dapat dikatakannya saat ini. Wanita itu tidak menangis seperti ibu Joon, tetapi matanya sudah kelewat bengkak. Dia kini hanya tersenyum.

Kursi roda Hyemin semakin mendekati meja tinggi di tengah. Kini jantungnya benar-benar berdetak melewati batas kewajaran. Dia melihat ada seseorang yang berdiri disana. Seseorang dengan punggung sempurna itu belum juga berbalik, sekedar memperlihatkan wajahnya.

Sunri menghentikan kursi roda Hyemin tiba-tiba, membuat gadis itu menoleh ke belakang. Dia hanya membalas kebingungan Hyemin dengan senyuman.

“Sekarang adalah waktumu.”

Ayah Joon meraih tangan Hyemin dan mengisyaratkan agar gadis itu berdiri. Hyemin yang masih diliputi ribuan pertanyaan hanya bisa pasrah, menggerakkan kakinya yang lemah perlahan. Tiba-tiba saja, seperti semua tenaga yang sudah dikumpulkannya tersedot entah kemana. Kakinya terasa lemas walaupun kini dia sudah berpegangan erat pada lengan ayah Joon. Tangannya terasa basah oleh keringat dingin yang tak mau berhenti keluar. Sementara tubuhnya terasa panas padahal ini adalah musin dingin.

Hyemin masih mengatur kerja jantungnya, mempersiapkan semua kemungkinan jika orang di depannya berbalik. Otaknya tidak mampu bekerja lagi, sekedar menebak siapa orang itu.

Pria di hadapannya berbalik tepat saat Hyemin mengambil satu tarikan nafas dalam. Dunianya terasa berhenti berputar. Suara detak jantungnya mungkin kini bisa didengar semua orang di ruangan itu saking kencangnya. Matanya membulat sempurna.

Senyum pria di hadapannnya tampak menyilaukan, bersaing dengan bias matahari yang sedikit menembus kaca di belakangnya. Dia tidak peduli terlihat seperti apa wajahnya sekarang, karena pipinya terasa semakin panas saat tangan pria itu mengambil alih  jemarinya dari tangan ayah Joon.

Kalaupun ini hanya mimpi, Hyemin tidak ingin terbangun dari tidurnya.

“Kau sedang tidak bermimpi.” Suara merdu pria itu seakan menyuarakan pertanyaan di otak Hyemin. “Jadi, apakah kau bersedia menghabiskan sisa hidup bersamaku?” Lanjut pria itu seraya menatap manik mata Hyemin. Wajahnya terlihat tenang, berhasil menyembunyikan rasa tegang yang sangat. Manik matanya hitam pekat, tampak memukau dan hidup.

Hyemin terlalu fokus menatap wajah pria itu, sampai dia merasakan sesuatu menyentuh jemari kirinya. Dia baru sadar saat sebuah cincin dari black diamond melingkar sempurna dijari manisnya. Cincin yang dulu dilihatnya di toko perhiasan yang mempertemukannya dengan pria ini.

Bibir pucatnya mengurai senyum, tepat ketika cincin itu melingkar pas di jari manisnya. “Aku bersedia.”

 

+++

 

 

Epilog

Joon masih berdiri di depan kaca besar. Dia meraih jas hitam di sampingnya dan mengenakannya perlahan. Merapikan letak dasinya dan mengancingkan jas hitam itu sesaat kemudian. Sekali lagi dia memandang pantulan sempurna dirinya di cermin dan tersenyum.

Langkahnya mengayun pelan menghampiri mobil hitam yang terparkir didepan rumah megahnya. Rumah ini sudah sepi, tentu saja. Semua orang sudah menunggunya di tempat upacara. Ini adalah hari pernikahannya. Hari yang selalu dibayangkannya.

Pria itu berkonsentrasi pada jalanan yang sedikit sepi. Dia dan Hyemin memang sengaja memilih tempat pernikahan di luar Kota Seoul. Pinggiran kota yang tenang. Otaknya kembali memutar kejadian kemarin malam. Saat dia melihat seorang pria menyedihkan yang terbelenggu puluhan selang infuse. Ini memang terdengar sedikit gila, tetapi dia merasa iba kepada pria itu. Pria yang dicintai gadis yang dicintainya. Pria yang membuat calon istrinya terlihat hancur.

Matanya yang sedikit berkaca melirik sebuah amplop diatas dasbord mobil. Senyum tipis menghiasi wajah tampannya sesaat kemudian. Mobil yang dikendarainya kini melaju lebih kencang karena kakinya menginjak pedal gas lebih dalam lagi.

Braanggg…

Suara keras itu seketika menghentikan laju mobil Joon yang sebelumnya tak terkendali. Mobil hitamnya menghantam sebuah container di seberang jalur. Lelaki itu terpental keluar, efek dari sabuk pengaman yang tak digunakannya dan pintu mobil yang terbuka. Matanya mengerjap beberapa kali, berusaha menghalau lelehan yang terasa hangat dari pelipisnya. Pria itu tersengal-sengal, terbatuk-batuk.

Dia masih terbaring diatas perkerasan jalan. Matanya semakin kabur, tetapi dia masih bisa melihat langit yang biru diatasnya. Langit yang nampak sangat cerah hari ini, menurutnya. Kilasan-kilasan kenangan indah saat bersama Hye-Min berkelebat diotaknya. Seperti sebuah film yang diputar di teater tua. Semua nampak buram tetapi begitu nyata. Dan begitu indah.

“Jika aku tidak bisa hidup bersamamu, setidaknya biarkanlah jantungku selalu berdetak bersamamu. Itu lebih baik.”

 

-THE END –

4 thoughts on “[FF Freelance] Solitude Autumn (Chapter 2 – END)

  1. Jujur aku agak sdkt gak ngerti deh dgn bagian2 akhr cerita ini, atau emang aku nya kali yaa yg agk lelet mencerna maksud ceritanya….
    tp selain dari itu ttp oke kok….

  2. Terbuat dari apakah hati joon??
    Berlian,permata,emas??
    Kenapa baik bgt,,,terlalu baik malah,jadi ingan film my heart nya acha-irwansyah…
    Terharu bgt bacanya,sampai bantal ku basah,,
    aku suka tulisan mu…
    Keep writing!

  3. Huaaaaaa… #hiks..hiks..hiks.. Omona kenapa sad begini?? Dan apa2an itu Joon kau harus berakhir dh tragis dan pengorbananmu begitu besar, setidak.a jantungmu masih berdetak u/k Hyemi… Daebak author-nim kau menulis.a dg rapi dan bener2 mengaduk2 perasaan.. #keep writing🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s