[Chapter 4] Hard to Love

Hard to Love

“Love? Never!”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast : Lee Howon, Jung Eunji, Nam Woohyun, Park Chorong || Genre : Romance, School Life || Length : Chapter 4/? || Rating : PG-15 || Credit Poster: Fearimaway

Hard to Love  Chapter 4 – I Need You

oOo

Laki-laki itu menatap Son Naeun dengan pandangan kesal, seakan-akan laki-laki itu akan membunuh Naeun. Naeun tampak ketakutan menatap laki-laki dengan wajah tertutup topeng.

“Apa yang kau mau dariku? Aku tidak punya apa-apa. Kalau kau mau, aku hanya punya 3000 won ini.” kata Naeun sambil mengeluarkan uang 3000₩-nya.

Laki-laki itu hanya tertawa. “Aku tidak membutuhkan 3000₩ milik mu itu. Yang kubutuhkan darimu hanyalah permintaan maaf darimu.” kata laki-laki itu lalu menunjukkan wajah aslinya.

Naeun tampak terkejut saat melihat wajah asli dari lelaki itu. “Kau! Sialan!”

**

“Aishhh! Ponselnya dimatikan!” kata Dongwoon kesal. Kemudian ia menendang batu yang kebetulan ada di depannya. Ia tidak bisa memberi tahu ibunya tentang kehilangan Naeun. Kalau ia memberi tahu ibunya, ibunya pasti sangat marah dan khawatir.

“Oh, sunbae, kau tahu dimana biasanya Naeun pergi?”

Dongwoon menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana bisa ia tahu? Yang ia tahu bahwa Naeun hanya akan bermain di sekolahnya. Dongwoon kembali menelpon Naeun.

“Bagaimana kalau kita pergi mencarinya?” tanya Myungsoo. Dongwoon dengan cepat menatap Kim Myungsoo. Ia tak menyangka bahwa laki-laki itu peduli terhadap adiknya. Ia meneliti wajah Kim Myungsoo.

“Kau? Menyukai adikku?”

Myungsoo terdiam mendengar pertanyaan Dongwoon. Dia tidak tahu harus menjawab apa yang pasti ia hanya bisa terdiam. Tak lama ponsel Dongwoon berdering.

“Oh, Kim Jongwoon?”

“Kumohon, jangan sakiti Dongwoon oppa. Sakiti saja aku.” Kata Naeun sambil menatap laki-laki itu dengan tatapan sedih. “Aku tahu aku salah, aku pernah mengacuhkanmu, sunbaenim, tapi kumohon jangan sakiti Dongwoon oppa.”

Laki-laki di hadapan Son Naeun tersenyum senang kemudian ia melempar ponsel milik Naeun ke arah Naeun. Ponsel itu dengan cepat ditangkap Naeun. Kemudian ia menatap ponselnya, memastikan bahwa ponselnya baik-baik saja.

“Kim Jongwoon, sudahlah, biarkan saja dia.”

“Tidak bisa.” Kata laki-laki yang bernama Kim Jongwoon itu.

Naeun menghela nafas. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh laki-laki itu? Lihat saja nanti, dia pasti akan membalas perlakuan Jongwoon pada Myungsoo. Tiba-tiba saja ia teringat akan perkataan ibunya yang melarangnya untuk membenci seseorang.

“Son Naeun?”

Naeun mengangkat kepalanya. Kemudian ia menatap Jongwoon dengan tatapan datar walaupun sebenarnya ia sangat ingin membunuh laki-laki itu. “Ada apa?”

“Bagaimana kalau kau menjadi pacarku?”

Mulut Naeun terbungkam saat mendengar pernyataan Jongwoon. Laki-laki itu mungkin memang tampan dan keren namun perilakunya terhadap kakaknya, ia tidak dapat menerima itu. “Shireo.”

“Baiklah kalau begitu aku akan terus menghantui kakakmu itu. Bagaimana?”

“Kenapa harus kakakku?!”

“Karena kakakmu punya hutang denganku.”

Son Dongwoon, kau seharusnya memberikan selamat padaku.” kata Jongwoon diawal pembicaraan telepon tersebut. Dongwoon mengangkat alisnya tak mengerti.

Dongwoon menatap Myungsoo heran. Kemudian ia melangkah keluar dari pagar rumah Myungsoo. Ia tak mau berlama-lama disana sebelum ia tertangkap basah oleh ibunya. “Ada apa? Kenapa aku harus memberimu selamat?” tanya Dongwoon.

Kau tahu? Aku baru saja ja-.

Hubungan telepon itu terputus begitu saja. Dongwoon menatap ponselnya. Ponselnya butuh baterai, pantas saja sambungan telepon itu segera terputus. Akhirnya ia mematikan ponselnya kemudian membalikkan tubuhnya. Tepat saat ia membalikkan tubuhnya, ia melihat Myungsoo yang dari tadi sudah mendengar pembicaraannya.

**

Dengan cepat Eunji berlari menuju rumah Naeun yang tak jauh dari rumahnya. Cepat-cepat ia mengetuk pintu rumah Naeun. Tak lama, pintu itu dibuka oleh seorang laki-laki dengan wajah cukup tampan – Son Dongwoon.

“Oh! Dongwoon oppa?” tanya Eunji. Dongwoon langsung mempersilahkan Eunji untuk masuk ke dalam rumahnya. Kemudian ia menatap Eunji yang duduk dengan manis diatas sofa miliknya. Dongwoon memutuskan untuk duduk di seberang Eunji.

“Bagaimana keadaan Naeun? Apa ia terluka? Tadi aku baru saja mendengar bahwa ia diculik oleh kakaknya Myungsoo oppa.”

Dongwoon menghela nafas panjang, kemudian ia menatap Eunji. “Tidak apa-apa. Naeun baik-baik saja, dan benar dia diculik oleh Jongwoon.”

“Jongwoon?”

“Ya.”

Flashback

“Aish! Sunbae, sepertinya aku tahu dimana Naeun!” kata Myungsoo sambil berlari mendahului Dongwoon. Dongwoon hanya bisa mengikuti kecepatan lari Myungsoo dari belakang, ia tak kuat untuk membalas perkataan Myungsoo karena dari tadi ia hanya berlari untuk mencari adiknya itu.

Dongwoon menghentikan langkahnya kemudian Myungsoo ikut berhenti. Myungsoo membalikkan tubuhnya menatap Dongwoon. “Ada apa, sunbaenim?”

“Berhentilah memanggilku sunbaenim. Toh, kau ini teman Naeun. Panggil saja aku hyung seperti yang kau lakukan sebelumnya, kenapa kau tiba-tiba merubahnya menjadi sunbaenim?” tanya Dongwoon dengan nafas terengah-engah. Kemudian ia melangkah mendekati Myungsoo lalu menepuk bahu Myungsoo. “Kalau aku sudah tidak ada, bisakah kau menjaga Naeun untukku?”

Mulut Myungsoo terbungkam seketika saat ia mendengar perkataan Dongwoon. Bagaimana bisa ia menjaga Naeun kalau sampai sekarang saja ia masih bermusuhan dengan Naeun? Akhirnya ia menatap Dongwoon pelan, tepat lurus ke dalam mata Dongwoon. “Ada apa, h-… hyung?” tanya Myungsoo akhirnya.

Tangan Dongwoon menunjuk jantungnya. “Aku, punya sakit jantung.” Kata Dongwoon pelan namun pasti, seakan-akan ia akan menuju akhirnya sebentar lagi.  “Aku sebentar lagi meninggal. Mungkin untuk 3 hari lagi atau lusa. Kumohon, selamatkan Naeun dan kalau nanti aku sudah tidak ada tolong beritahu Naeun yang sebenarnya tentangku dan kakakmu.”

Tiba-tiba saja tubuh Myungsoo terasa lemas. Rasanya ia ingin pingsan saat mendengar perkataan Dongwoon. Apakah ia sanggup memenuhi permintaan Dongwoon? Bagaimana bisa ia membuat Naeun percaya padanya?

“Tapi h-.”

“Lakukan saja, kalau tidak bisa, aku bisa memberikan tugas ini pada Eunji.”

“Baiklah. Tapi, ceritamu? Aku tidak tahu apa-apa, Jongwoon hyung tidak pernah menceritakan itu padaku.”

“Sekarang aku akan menceritakannya.”

**

“Son Naeun?!” teriakan Myungsoo menggema di basement gedung itu. Kosong dan sepi. Hanya terdengar isakan seorang gadis yang tertahan. Dengan cepat Myungsoo menuju sumber isakan tersebut. Ia menghentikan langkahnya, menatap seorang gadis yang terikat di sebuah tiang dengan mulut terplester oleh lakban. Gadis itu menatap Myungsoo.

Myungsoo menatap gadis itu, akhirnya ia melangkah pelan mendekati gadis itu, kemudian duduk di hadapan gadis itu. Gadis itu menatap Myungsoo, seakan-akan tatapannya memberikan minta tolong kepada Myungsoo. Laki-laki itu akhirnya menyerah, kemudian ia melepas lakban hitam yang cukup rekat pada bibir gadis itu dengan hati-hati. Ia juga membuka ikatan yang melilit tangan gadis itu dengan tiang.

Setelah bebas, dengan cepat gadis itu memeluk Myungsoo sambil menangis. “Naeun, tidak apa-apa. Ada aku disini.” kata Myungsoo pelan sambil menepuk-nepuk kecil kepala Naeun. Naeun menangis sekencang-kencangnya, ia tak peduli akan tangisannya yang kencang itu. Tangisan itu memecah keheningan diantara Myungsoo dan Naeun.

“Kau diculik kakakku?” tanya Myungsoo akhirnya. Naeun menganggukkan kepalanya. Bibirnya tak kuasa berbicara karena rekatan lakban tadi yang membuat bibirnya terasa kaku. “Kau bisa berjalan?” tanya Myungsoo lagi. Naeun menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap Myungsoo sedih.

Myungsoo menatap kaki Naeun yang dipenuhi oleh lebam-lebam. Myungsoo akhirnya menghela nafas panjang. “Kakakku, memukulimu?” tanya Myungsoo untuk ketiga kalinya. Naeun kembali menganggukkan kepalanya sambil mencoba membuka mulutnya. “Tidak usah dipaksa.” kata Myungsoo kemudian membalikkan tubuhnya. “Cepat naik ke atas punggungku.”

Naeun menurut lalu naik ke atas punggung Myungsoo. Dengan hati-hati Myungsoo mengangkat tubuh Naeun. “Sun-….. sunbaenim, gomawo.” kata Naeun akhirnya. Myungsoo menghentikan langkahnya. Ia menatap Naeun dengan lirikan bola matanya. “Hm.” gumam Myungsoo kecil. Naeun pun mengeratkan tangannya.

“Dongwoon oppaEo-……. eodiso?” tanya Naeun. Myungsoo terdiam cukup lama. Akhirnya ia teringat akan perkataan Dongwoon yang memintanya untuk tak mengatakan apapun sebelum ia meninggal. “Sunbaenim?”

“Tidak apa-apa. Dongwoon hyung ada di rumah. Ia tadi katanya ada tugas karena itu dia pulang duluan dan menyuruhku untuk mencarimu. Kenapa kau menggunakan kata sunbaenim? Bukannya biasanya kau hanya akan memanggilku dengan kata Kim Myungsoo?” tanya Myungsoo. Naeun terdiam cukup lama.

Akhirnya Naeun menghela nafas cukup panjang dan membuat leher Myungsoo dapat merasakan hembusan nafas itu. “Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa bahwa jika sunbaenim tidak ada, aku akan mati disana karena basement itu.” kata Naeun akhirnya, kemudian ia menyenderkan kepalanya diatas bahu Myungsoo dan terlelap disana.

Flashback end.

**

“Oh, hyung?” ujar Myungsoo ketika melihat Jongwoon yang baru saja pulang pukul 10 malam itu. Myungsoo yang tengah mengerjakan tugasnya di ruang tengah tentu saja melihat kedatangan kakaknya itu. Kakaknya terlihat memiliki banyak luka lebam di pipinya.

“Ada apa dengan wajahmu itu, hyung? Kau bertengkar dengan siapa?” tanya Myungsoo sambil menatap Jongwoon lalu ia melanjutkan tugasnya. Yejin menghampiri Myungsoo lalu memberikan segelas susu dan biskuit kecil untuk Myungsoo yang harus bergadang malam itu demi tugasnya yang menyebalkan.

Myungsoo menatap Yejin. “Oh, terimakasih, Ajjuma.” kata Myungsoo. Yejin menganggukkan kepalanya senang. Jongwoon yang menatap adegan itu hanya bisa tertawa menyindir.

“Kenapa kau? Tiba-tiba berubah menjadi hormat padanya? Biasanya kau tidak seperti itu.” kata Jongwoon.

“Hanya saja aku merasa aku harus menghormatinya.” kata Myungsoo yang tidak peduli akan sindiran Jongwoon sambil mengambil biskuit nya lalu mencelupkannya ke dalam susu.

Jongwoon yang mendengar jawaban dari adiknya akhirnya mendeham kecil. “Aku resmi menjadi pacar Son Naeun.” kata Jongwoon pelan. Mendengar pernyataan kakaknya, membuat Myungsoo terbatuk-batuk.

“Naeun? Son Naeun?”

“Ya! Siapa lagi. Jangan keras-keras, sinting kau?”

Myungsoo menghela nafas panjang kemudian ia membereskan buku-bukunya. Ia membawa juga susu dan biskuitnya lalu melangkah memasuki kamarnya meninggalkan Jongwoon yang menatapnya heran.

“Son Naeun?”

“Ada apa, Gain?” tanya Yejin dari belakang Gain ketika ia mendengar nama anaknya disebut-sebut oleh Gain. Gain menghela nafas kemudian ia membalikkan tubuhnya.

Gain menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada apa-apa. Aku mendengar bahwa Myungsoo akan satu kelompok dengan Naeun.”

“Kau tidak membohongiku kan?”

Gain menggelengkan kepalanya kemudian ia menatap Yejin dengan perasaan penuh bersalah bahwa sebenarnya ia mendengar semuanya, termasuk yang diucapkan oleh Jongwoon tentang pernyataannya bahwa ia sudah berpacaran dengan Son Naeun.

“Gain? Kau tidak pulang?”

“Pulang, mungkin sebentar lagi. Kau sendiri, eonni?”

Yejin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Ia menunjuk jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam itu. Gain menganggukkan kepalanya seolah-olah ia mengerti bahwa Yejin tak dapat pulang sekarang karena sudah terlalu larut untuknya. Tepat saat itu, Gain mengambil tasnya lalu melangkah keluar dari kamar. “Aku duluan ya, eonni. Jaga dirimu.”

“Hm, terimakasih, Gain.”

**

Tak ada yang menyadari bahwa lebam di kaki Naeun yang masih membengkak itu masih disana. Semua orang tidak pernah memperhatikan kaki milik Son Naeun itu, namun hanya seseorang yang masih memperhatikan kaki miliknya itu. Ia memiliki perasaan penuh bersalah pada gadis itu – Kim Myungsoo.

“Ada apa?” tanya Naeun akhirnya setelah keheningan diantara mereka berdua, yang awalnya hendak berbicara satu sama lain di halaman belakang sekolah Hankeum yang asri dan nyaman itu.

“Tidak ada apa-apa, hanya saja aku mengajakmu pulang bersama hari ini. Kau tidak pulang dengan Eunji, bukan?” tanyanya. Naeun menggelengkan kepalanya pelan. Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kalau begitu nanti saat pulang tunggu aku di halaman parkir sekolah.” Myungsoo tersenyum kemudian ia bangkit dari tempatnya.

Namun, tangan Naeun menahan lengan Myungsoo. Myungsoo menatap lengannya kemudian matanya beralih ke arah Naeun yang tak menatapnya. “Sudah tahu tentangku dan kakakmu?” tanya Naeun kemudian ia mengangkat kepalanya lalu menatap Myungsoo. Myungsoo terdiam.

“Sudah, aku sudah tahu kalau kau berpacaran dengan kakakku. Selamat.” kata Myungsoo pelan. “Sekarang, bisa lepaskan tanganku?” tanya Myungsoo. Naeun melepaskan tangan Myungsoo dengan setengah hati. Myungsoo melangkah pergi meninggalkan Naeun.

“Tidak bisakah sekali saja kau membantuku, sunbaenim?”

Langkah Myungsoo terhenti saat ia mendengar perkataan Naeun. Ia membalikkan tubuhnya kemudian ia menatap Naeun pelan. Akhirnya ia mendekati Naeun kemudian ia menepuk pelan kepala Naeun. “Lihat nanti saja.”

“Jung Eunji?”

Eunji membalikkan tubuhnya, ia menatap Naeun yang sudah berdiri di dekatnya itu. Naeun terkejut saat melihat tangisan yang muncul dari wajah sahabatnnya itu. Sahabatnnya yang selalu ceria kini terlihat sangat lemah dan tak berdaya, ia bagaikan dipukul oleh beribu sindiran.

“Naeun-ah!!!” pekik Eunji kemudian segera memeluk Naeun. Naeun membalas pelukan Eunji dengan rasa sayang sebagai sahabat.

“Ada apa?”

“Howon oppa………..” kata Eunji terputus. “Ia tadi berpelukkan dengan Chorong eonni.”

“Tidak mungkin, Chorong eonni dan Three Idols bersahabat. Mungkin itu hanya pelukan persahabatan antara Chorong eonni dan Howon sunbaenim.”

Eunji melepaskan pelukannya kemudian ia menatap Naeun. “Kau? Memanggil mereka Three Idols? Bahkan kau memanggil Howon oppa dengan sebutan sunbaenim dibelakangnya?” ujar Eunji tak percaya. “Eotteokhae? Ada apa dengan kau? Apa yang terjadi akhir-akhir ini dengan dirimu?!!” pekik Eunji yang tiba-tiba saja tangisannya terhenti.

Aniyo, hanya saja aku berpikir bahwa mereka adalah sunbaenim, jadi sudah menjadi kewajibanku untuk memanggil mereka dengan panggilan sunbaenim. Itu saja kupikir.” kata Naeun akhirnya. “Ayo, Eunji, sebentar lagi pelajaran Jessica ssaem akan dimulai, nanti kita dihukum karena membolos.”

“Kupikir ada sesuatu yang membuatmu berubah pikiran.”

Kau benar, Eunji-ya, aku sangat berterimakasih pada Myungsoo karena ia menyelamatkanku, ujar Naeun dalam hatinya lalu menggandeng Eunji menuju koridor sekolah. Eunji tersenyum saat melirik ke arah Naeun.

**

“Woohyun, aku menyukaimu.”

Kata itu terlontar begitu saja dari bibir seorang gadis berponi dan berwajah manis itu. Gadis itu menatap Woohyun dalam, pandangannya seakan-akan meminta Woohyun untuk membalas perasaan itu secepatnya. Woohyun menghela nafas panjang kemudian ia menepuk pelan kepala gadis itu.

“Park Chorong, kukira hubungan kita hanyalah sahabat.”

“Tapi, aku benar-benar menyukaimu.”

Chorong memeluk Woohyun seketika. Ia tidak peduli, toh, tempat itu sepi – atap sekolah yang pintunya sudah ia kunci dengan sengaja dan kini kuncinya berada di dalam kantung roknya. Angin yang berhembus dengan kencang itu membuat rambut Chorong membelai wajah Woohyun. Dengan pelan, tangan Woohyun membalas pelukan Chorong. Ia tahu, kalau sebenarnya perempuan yang disukainya adalah Park Chorong. Gadis yang selalu ia ganggu tanpa henti, gadis yang selalu ia buat kesal. Woohyun melepaskan pelukan Chorong kemudian menatap Chorong.

Nado.”

Woohyun mendekatkan wajahnya menuju wajah Chorong lalu mencium pelan bibir gadis itu. Gadis itu dapat merasakan lumatan-lumatan kecil yang diberikan oleh Nam Woohyun, kemudian ia membalas ciuman itu.

“Naeun? Kau tidak pulang bersamaku?”

Naeun menggelengkan kepalanya karena ia teringat akan perkataan Myungsoo yang mengajaknya pulang bersama. Lagipula, ia merasa tidak enak dengan Myungsoo yang sudah berbuat janji dengannya. “Aku sudah ada janji dengan…. Dongwoon oppa.” kata Naeun akhirnya. Eunji menganggukkan kepalanya kemudian ia berjalan meninggalkan gadis itu sendirian di kelas.

Tak lama setelah Eunji pergi, Myungsoo memasuki kelas Naeun, kemudian menepuk bahu Naeun. Naeun tersentak kemudian ia menolehkan kepalanya. “Oh, mengagetkan saja.” katanya sambil tertawa. “Ayo, sunbaenim.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya kemudian ia melangkah. Namun ia menolehkan kepalanya menatap Naeun. “Kau berpacaran dengan kakakku?”

Naeun menganggukkan kepalanya. “Aku berpacaran dengannya karena dia memaksaku, jika tidak dia akan mengganggu Dongwoon oppa.” kata Naeun. Myungsoo menganggukkan kepalanya mengerti, Naeun pasti sangat berat hati.

“Myungsoo sunbaenim.”

Myungsoo menolehkan kepalanya ke arah Naeun. “Ada apa?”

“Kau tidak membenciku bukan? Setelah kejadian itu?”

“Kejadian apa?”

“Pertengkaran antaraku denganmu, sunbaenim.”

Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian ia menatap Naeun. “Kenapa?” Naeun menggelengkan kepalanya. Kemudian ia melangkah duluan, menjauhi Myungsoo.

“Sudah makan?”

Naeun menggelengkan kepalanya. “Mau makan di rumahku? Aku bisa membuatnya untukmu.”

“Tidak perlu, aku akan mentraktirmu.”

Gamsahamnida, sunbaenim. Aku rasa aku tidak bisa menggantikan uangmu.”

Kim Myungsoo, laki-laki itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang ke arah Naeun. Naeun menghela nafas kemudian ia menatap laki-laki itu. “Sunbaenim, apa kau tidak kaget saat mendengar aku berpacaran dengan kakakmu?” tanya Naeun.

Laki-laki di hadapannya hanya menggelengkan kepalanya. Ia menatap gelas kopinya yang sudah habis. “Aku tidak pernah terkejut, kakakku sering berganti-ganti pacar. Jadi aku tidak heran kalau dia berpacaran denganmu, toh semua perempuan yang pernah berpacaran dengannya pasti karena diancam atau dipaksa.”

Naeun membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’. “Ya, begitulah.”

“Tapi, kenapa kau mau berpacaran dengannya? Bukankah biasanya kau akan melawan atau mengatakan hal kasar? Bukankah kau pernah seperti itu padaku sebelumnya?”

Naeun terdiam saat ia mengingat bagaimana ia berkata kasar terhadap Myungsoo. Naeun mengangkat bahunya kemudian ia menatap Myungsoo pelan. “Tidak bisa, aku menyayangi kakakku.”

**

“Oh, Naeun, kau sudah pulang?”

Naeun menganggukkan kepalanya pelan. Ia menatap Eunji yang akhir-akhir ini sering menginap di rumahnya. Ya, orang tua Eunji akan berlibur ke Pulau Jeju. Jadi, Naeun adalah harapan terakhir Eunji untuk berbagi kamar dan berbagi cerita daripada ia harus sendirian di kamarnya yang cukup suram.

“Kau tadi bertemu Myungsoo sunbaenim?”

Naeun menghentikan langkahnya. Bagaimana bisa gadis itu mengetahuinya? Jelas-jelas Naeun sudah menyembunyikan dirinya dari Eunji. Namun, gadis itu tetap saja menemukan kebenarannya. Akhirnya, Naeun menghela nafas panjang kemudian ia membalikkan tubuhnya, menatap sahabatnya.

“Benar, aku bertemu dengan Myungsoo sunbaenim dan aku pulang bersamanya. Sebenarnya dia yang mengajakku untuk pulang bersama. Karena aku tidak enak denganmu, jadi aku terpaksa membohongimu.”

Eunji melongo menatap Naeun tak percaya. “Eotteokhaeyo? Bagaimana bisa kau bersama Myungsoo sunbaenim? Bahkan pulang bersama? Jadi sebenarnya kau sudah memaafkannya?!” tanya Eunji.

Naeun mengangguk pelan. “Sebenarnya, aku tidak benar-benar memaafkannya. Hanya saja, aku membutuhkannya untuk keadaanku saat ini.”

MWO?

“Aish, jangan keras-keras. Bisa-bisa aku ditampar Dongwoon oppa.”

Naeun duduk di samping Eunji kemudian ia mendekat ke arah Eunji. “Sebenarnya, aku berpacaran dengan kakak Myungsoo sunbaenim. Kemudian, aku harus meminta pertolongan padanya. Aku sangat-sangat membutuhkan Myungsoo sunbaenim. Rencanaku adalah untuk meminta Myungsoo sunbaenim menyukaiku jadi dia pasti akan meminta kakaknya untuk putus denganku.”

“Hah? Kau gila? Ini benar-benar rencana gila, Son Naeun!”

Naeun mengangkat bahunya. “Mau bagaimana lagi? Nanti setelah alasan ini selesai, aku pasti akan segera meninggalkan Myungsoo sunbaenim. Bagaimanapun caranya, aku harus menjauhinya. Tidak ada alasan untuk berbaik-baik dengannya. Kecuali dengan Woohyun sunbaenim atau juga Howon sunbaenim yang memang menurutku tidak mencari masalah denganku. Aku membenci Myungsoo sampai kapanpun itu.”

“Heoh, dengar? Aku sudah tidak mendengar kata sunbaenim untuk Myungsoo lagi sekarang. Naeun, sungguh idemu ini tidak akan berjalan lancar. Aku sudah sering menonton drama, disana mereka yang berpura-pura pacaran pasti akan saling jatuh cinta.”

Neo micheoso? Aku tidak akan pernah jatuh hati pada Myungsoo!”

Eunji menggeleng-gelengkan kepalanya. “Semakin sering kau mengatakan bahwa kau tidak akan pernah, aku yakin kau akan mencintainya. Ya, Myungsoo sunbaenim pun juga akan jatuh hati padamu.”

“Tapi, ngomong-ngomong soal jatuh hati, apa Howon sunbaenim sudah jatuh hati padamu?” tanya Naeun iseng, ia mencoba mengalihkan pembicaraan yang tampaknya berhasil. Mendengar pertanyaan itu membuat raut wajah Eunji berubah seketika.

Aniyo. Dia pasti tidak mau kuganggu lagi sekarang.”

“Ada apa?!”

“Aku membuatnya kesal karena ulahku yang mengunggah fotonya yang tengah tertidur ke twitter ku.”

Mwoya? Dia gila, hanya karena fotonya yang tertidur?”

“Bukan itu masalahnya, Naeun-ah.”

“Apa?”

“Aku mengunggah fotonya yang tertidur sambil ngacay deras di mobilnya. Foto itu mendapat komen dari semua penggemarnya.”

Naeun segera menjitak Eunji. Eunji yang takut langsung kabur dari kamar Naeun.

**

“Naeun!”

Naeun menolehkan kepalanya. Dilihatnya Myungsoo yang tengah berlari-lari ke arahnya, dengan cepat Naeun tersenyum semanis mungkin ke arah Myungsoo. “Ada apa?”

“Dongwoon hyung…….”

“Ada apa?” tanya Naeun. Ia menelusuri wajah Myungsoo, bertanya-tanya apa yang terjadi dengan kakaknya sehingga Myungsoo tampak sangat panik.

Myungsoo menghela nafas panjang kemudian ia menyentuh pundak Naeun. “Dongwoon hyung, ia meninggal.”

Naeun terdiam. Mulutnya membisu. Ia menatap Myungsoo tak percaya. “Bohong.”

“Aku tidak bohong, aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya.”

Tak lama kemudian, Naeun terjatuh pingsan.

To be continued.

**

Bagaimanaa? Jangan lupa berkomentar okay?😀

17 thoughts on “[Chapter 4] Hard to Love

  1. jahat banget sih jongwoon😦 …..
    sabar ya naeun😉
    Myungsoo pasti punya perasaan terhadap naeun ???? kan ???.
    ah penasaran banget -_-

    lanjut thor jngan lama” 😉

  2. akhirnyaaaa keluaar jugaaaaa :’)
    ini udah lebih panjang sesuai keinginan aku, makasih!😀
    jongwoon jahat banget, tega sama naeun!
    terus itu rencana naeun? kalo rencananya berhasil dia bakal ngejauhin myungsoo? aku kira dia udah mulai suka sama myungsoo😦 atau justru myungsoo jangan2 yg suka duluan?😮
    dongwoon meninggal? o_o
    kasian naeun……
    penarasan! aku tunggu lanjutannya~^^
    semangat! ‘-‘)9

  3. Keren thor, tp alangkah lebih baik kalau point of view’y lebih jelas, terus..terus kalau ada cerita yg pindah ke cast lain jangan tiba” pindah..jd terkadang bingung bacanya..di kasih tanda ** mungkin, itupun ada diatas..cuma sebagian..maaf ya thor..ini hanya saran..tapi selebihnya aku suka..dan nunggu” banget next part FF ini..gomawo ^,^

  4. Keren thor, tp alangkah lebih baik kalau point of view’y lbh jls, terus kl ada crta yg pndh k cast lain jgn tiba” pindah,jd trkdng bingung bc’y..di kasih tanda ** mungkin, itupun ada diatas..tp cm sbgian..maaf ya thor..ini hanya sran.selebihnya suka ko n nunggu” banget next part FF ini..gomawo ^,^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s