[FF Freelance] Unforgottable Day

unfotgottable day

Tittle : Unforgottable Day || Author : PinkyPark || Cast : GG’s Im Yoona , EXO’s Xi Luhan || Genre : Romance, Angst || Rating : PG-15 || Length : Ficlet || Disclaimer : This Storyline pure by me. Please leave your comment and support juseyo~ 

Unforgettable Day.

 

Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk mengingat semua yang ingin diingatnya, saat itulah kebahagiaan yang luar biasa berarti bagi dirinya,

Bahkan ketika air mata mulai mengering, ingatan-ingatan yang diinginkan oleh seseorang itu tidak pernah bisa kembali,

Seperti hembusan angin yang menerpa, menerbangkan semuanya, menghilangkan semuanya, tanpa sisa.

Meninggalkan orang itu dalam sebuah kebingungan yang kian kentara.

Hanya sendiri bahkan saat dirinya benar- benar merasa lebih baik mati,

Dan orang itu sadar,  dia telah jatuh cinta

Unforgettable Day.

Aku tidak tahu, tapi Busan adalah satu-satunya tempat dimana aku ingin menghabiskan hidupku. Berjalan- jalan keluar, bertemu dengan beberapa orang, dan jatuh cinta. Busan bukan sekedar tempat kelahiranku atau semacamnya. Aku hanya menyukainya, sesederhana itu.

Pagi ini aku sedikit sibuk. lima menit yang lalu kakek dan nenek pergi ke kebun terlebih dahulu. Aku memang diharuskan menyusul mereka. dan kini aku sepertinya sedikit sial karena roda sepedaku sedikit kempes. Aku hanya menelan kenyataan itu, toh aku juga sudah setengah jalan. Mana mungkin aku kembali kerumah sedangkan kini aku membawa beberapa keranjang bunga yang memang harus aku berikan pada nenek. Jika saja sepedaku berfungsi, mungkin aku bisa tiba disana lebih cepat.

Busan memang indah, tepatnya Busan dimana aku tinggal. Hampir delapan puluh persen berwarna hijau, terlalu hijau bahkan. Wilayah ini selalu tertutup awan. Cahaya matahari yang terik sangat jarang kami temui. Jika tidak hujan, langit akan berawan seperti sekarang. Aku menyipitkan mataku. Cahaya matahari dari arah timur sedikit menerobos masuk pada lubang- lubang di awan. Membuat kulitku sedikit tersinari, hangat sekali.

Aku mengkeret sepedaku ini dengan sabar. Sesekali aku mendengar diriku menggumamkan beberapa lagu. Suaraku memang tidak sebagus orang lain, tapi setidaknya aku suka suaraku sendiri. Di sisi kananku, terhampar padi- padi yang tertiup angin. Padi-padi itu sudah cukup tinggi hingga saat tertiup angin membuatnya menjadi seperti ombak. Tak lupa sisi kiri, kini aku menemukan danau yang cukup besar. kami biasa memanggilnya danau kenangan. Orang –orang bilang, mereka bisa mengingat kenangan-kenangan mereka di danau ini. Bukan karena danau ini mistis atau semacamnya, aku lebih memandang dikarenakan dari danau ini kita bisa melihat gunung. Gunungnya memang tidak terlalu dekat, tapi kita cukup bisa memandangnya dengan jelas.

Aku tidak tahu sejak kapan bibirku tersenyum, entahlah.. aku tidak begitu mempermasalahkan kebiasaanku. Toh orang- orang menyenangi aku yang murah senyum seperti ini.

Matahari sudah berjalan lebih tinggi sepertinya, itu membuat sepedaku, aku, juga tumpukan keranjang di bagian belakang sepedaku kini memiliki bayangan yang cukup besar. aku lagi- lagi hanya mendengar diriku menyenandungkan sebuah lagu. Andai saat seperti ini aku bisa berbicara dengan seseorang, mungkin rasanya akan lebih baik.

“Chogiyo,”

Sebuah suara membuatku menghentikkan langkahku, sepedaku juga. Aku menolehkan kepalaku kebelakang. Yang pertama kulihat adalah bayangan seorang pria dekat bayanganku. Lalu aku melihat sepatu talinya, celana panjangnya, kaos hitamnya, dan – wajah tampannya.

Pria itu terlihat sangat modern. Sepertinya dia datang dari kota. Warna rambutnya aku yakin bukan warna alami. Dan dia sangat tampan dengan tas punggung coklatnya. Gilanya, pria itu tersenyum. Dan aku, benar- benar kehilangan akal sehatku.

“Agassi,” pria itu berujar lagi, kini tangannya melambai- lambai di hadapan wajahku. Sadarlah aku, idiot sekali memandangnya seperti itu.

“N –neh ?” sial, dan kini aku merasakan diriku gugup. Ada apa ini?

“apa kau tahu penginapan yang ada disekitar sini ?”

Untuk beberapa saat aku tidak merespons, entah berpikir atau larut dalam gerak bibirnya. Tapi pria itu benar- benar menungguku menjawabnya. Dengan senyuman itu tentunya.

“penginapan ? a –aku kurang tahu, tapi kita bisa menanyakannya pada kakek dan nenek.”

Pria itu kehilangan senyumnya untuk sesaat tapi kini pria itu mengangguk. Dia tersenyum lagi. “bisa kau mengantarku ? jujur aku belum tahu benar tentang tempat ini,”

“T –tentu, kebetulan aku akan ke kebun. Mengantarkan ini,” pria itu mengikuti arah pandangku pada tumpukan keranjang. Lalu turun pada roda ku yang kempes. Dahinya berkerut, dan dia sama sekali tidak kehilangan ketampanannya.

“ban mu ?”

“ya, tadi sepertinya bocor saat aku mengemudikannya,”

Pria itu tertawa kecil, aku sedikit bingung dengan tingkah lakunya. “mungkin kau makan terlalu banyak dan melukai banmu itu,”

“ah mungkin kau benar, belakangan aku makan banyak sekali..”

Dia tertawa lebih keras. Dan aku tidak tahu kenapa aku juga tertawa.

“tapi tunggu, suara apa itu ?” pria itu menghentikkan tawanya, menatapku dengan tatapan penuh Tanya. Aku hanya diam, berusaha ikut mendengarkan. Dan setelahnya aku jadi merinding.

“sial, itu suara –”

“suara apa ?” kini aku melihat kekhawatiran pada matanya. Dan itu membuatku tidak tega.

“babi hutan !!!!!” aku mendengar diriku berteriak. Bukan menatapnya, tapi menatap sesuatu yang berlari kearah kami dari jarak sepuluh meter. Pria itu menoleh juga, untuk sesaat terlihat sangat ketakutan. Dan setelahnya, aku hanya tahu tangannya menarikku untuk berlari.

Kami berlari, dan anehnya aku tidak lelah sama sekali. Tangannya masih menggenggam tanganku, dan aku juga menggenngam tangannya. Kami terus berlari dan berlari. Bahkan tetap berlari saat sepertinya babi hutan itu sudah tidak mengejar kami lagi. Dan di detik selanjutnya, yang kudengar hanya tawa dari aku dan dirinya.

 

Unforgettable Day.

Pria itu bernama Xi Luhan, dia pria keturunan China yang tinggal di Korea. Hari ini dia berlibur sesaat di Busan. Dan liburan pembukanya adalah dikejar babi hutan, dengan gadis itu. Gadis bernama Im Yoona yang cantik jelita.

Yoona memandangi sepedanya dengan nanar. Beberapa goresan tertera disana. Baru saja dirinya dan Luhan kembali ke jalan sebelumnya untuk membawa sepeda Yoona yang tertinggal – lebih tepatnya ditinggalkan. Dan malangnya, kini sepedanya sedikit tergores mungkin karena terjatuh saat Luhan menarik tangannya tiba-tiba.

“sepedamu masih bagus,” Luhan ikutmemandang sepeda Yoona dengan tatapan datarnya. Yoona menoleh sejenak, lalu memutar bola matanya. “hey~ kau kenapa sih ?”

“jika kau tidak menarikku tiba- tiba, aku tidak akan membuat sepedaku terjatuh seperti tadi. Aku benar- benar membanting sepedaku, dan itu karena kau.” Yoona menghela nafasnya sembari menatap Luhan.

“aku? A –aku hanya menyelamatkanmu! Memangnya apa yang akan kau lakukan ? kau akan berlari dengan sepedamu itu?”

Yoona hanya mendesah, bibirnya mengerucut. “setidaknya aku bisa menyimpan dulu sepedaku dengan baik,”

“lagi pula, mengapa ada babi hutan berkeliaran ?”

“karena ini di Busan.. ada banyak hal yang tidak bisa kau temukan di Seoul,” gadis itu bangkit dari posisi berjongkoknya lalu membersihkan telapak tangannya yang sedikit kotor oleh tanah. “Halmeoni,harabeoji~ aku akan berjalan- jalan sebentar.” Gadis itu berteriak pada kakek neneknya yang tampak sibuk di ladang ubi. Terdengar samar- samar kata  ‘ya’ yang diucapkan oleh kakek nenek  gadis itu.

“kau mau kemana ?”

“Luhan –ssi , kau mau ikut? Kita akan lihat hal- hal yang belum pernah kau lihat!!”

Unforgettable Day.

Kakek dan nenek bilang pria itu bisa menyewa kamar di rumah kami. Dan aku merasa diriku sedikit senang karenanya. Pria itu benar – benar tampan. Dan kini, aku mendengar pria itu bergumam rendah setelah melihat berbagai pemandangan yang aku tunjukkan. Hamparan ilalang, sawah, padang rumput, dan kini lapangan besar yang tengah diinjaki oleh banyak anak kecil. Kami menghentikkan langkah, dan demi apapun aku melihat bibir pria itu tertarik sedikit. Aku menelusuri arah matanya, kepada beberapa anak yang tengah bermain pasir.

“ada kalanya aku hanya ingin menjadi anak kecil,”

Aku menoleh saat mendengar suaranya, kini pria itu juga menatapku. Dengan senyuman khasnya tentu saja. “anak kecil? Kenapa ?”

“mereka tidak pernah memiliki beban, hanya bangun untuk bermain dan tersenyum tiada henti.” Luhan kembali menatap anak-anak itu dan aku hanya tersenyum.

“aku tidak mau terus menjadi anak kecil, ada kalanya anak kecil juga merasa kesal karena tidak bisa melakukan hal- hal yang dilakukan orang dewasa,”

Kali ini Luhan menatapku lagi, tidak tersenyum senang seperti sebelumnya. Dia hanya menatapku dalam diam, tapi dia mengangguk. “aku mengerti, tapi orang dewasa harus menghadapi kejamnya dunia,”

“Luhan, menjadi dewasa bukan pilihan. Tapi ketetapan.. jika terus menjadi anak kecil, kapan kau akan mengerti mengenai hidup ? kapan kau akan mengerti tentang dunia? Dan kapan kau akan mengerti tentang cinta,” di kata terakhir aku sedikit ragu. Aku memang sedikit sensitif pada kata itu. Dan sepertinya Luhan juga. Pria itu masih tetap menatapku. “mau bermain bersama mereka ? walalupun kita sudah dewasa tidak salahnya bertingkah seperti mereka,”

Aku berjalan mendekati anak- anak itu. Dan aku senang sekali saat Luhan mengikutiku.

Kami bermain banyak sekali. Bermain bola, lompat tali, dan kejar- kejaran. Berkali- kali aku benar- benar melihat Luhan sangat bahagia, dan aku juga merasa seperti itu.

Aku bahagia,

Aku berdiri tidak jauh, menatap Luhan dan beberapa anak lainnya tengah bermain lempar bola. Pria itu berkali- kali tersenyum padaku dan aku hanya melambaikan tangan kurusku ini.

“kau lelah ?” aku bertanya saat Luhan berjalan kearahku. Terlihat jelas bulir keringat di pelipis kirinya. Dia hanya tersenyum.

“menurutmu ?”

“mau air yang segar ?”

Aku menarik tangannya dan kami berjalan berdampingan.

Unforgettable Day.

Yoona duduk diam di salah satu batu, sedangkan Luhan tetap pada posisinya di tempat itu. Telapak tangannya dia satukan untuk mengumpulkan air bening itu. Dan selanjutnya dia tegukkan pada tenggorokannya yang kering. Luhan bangkit lalu duduk di samping Yoona.

“kau tidak haus ?”

Yoona hanya menggeleng lalu menatap sandal putihnya yang sedikit kotor karena bermain tadi. “aku tidak haus karena melihatmu minum banyak sekali,”

Luhan hanya terkekeh “ini keren, mata airnya segar sekali..”

“saat kau kembali nanti aku yakin kau akan sangat merindukkan tempat ini,”

Kalimat yang diucapkan Yoona sepertinya terlalu sensitive. Keduanya menyadari sesuatu dan terdiam, sebuah perasaan mengganggu keduanya, seperti perasaan tidak rela. Tidak rela mengingat akan hari dimana keduanya akan berpisah. Bagaimanapun, Luhan hanya berlibur.

“Yoona –ssi, aku melihat ayunan di dekat danau tadi pagi. Bisakah kita kesana ?” luhan menatap Yoona dengan sesuatu dimatanya. Tidak terbaca sama sekali.

“A –apa ?”

Keduanya duduk di ayunan. Yoona hanya diam tapi Luhan terus mengayunkan tubuhnya. Sepertinya dia tidak bisa melupakan obsesinya menjadi anak kecil. Danau dihadapan mereka sangat tenang. Jauh di depannya sebuah gunung berdiri kokoh dihadapan mereka. matahari sepertinya mulai lelah dan hendak kembali ke peristirahatannya.

“tempat ini sangat indah, jika bisa aku ingin tinggal disini..” Luhan menatap matahari yang hendak bersembunyi di balik gunung dan Yoona hanya tersenyum.

“aku bahkan hanya ingin mati di tempat ini, tidak ada yang kuinginkan selain tempat ini, diam di tempat ini sama dengan diam bersama ayah dan ibu,”

Luhan menolehkan kepalanya, menatap rahang lembut Yoona yang sempurna. Yoona menolehkan kepalanya. “ayah dan ibu meninggal lima tahun yang lalu, disini..itulah yang membuatku selalu merasa dekat dengan mereka jika aku ada disini. Di Busan..”

“Yoona –ssi ..”

“ibu meninggal tiga hari setelah ayah meninggal, dulu aku berharap tiga hari kemudian giliranku untuk menyusul mereka.. tapi aku masih hidup hingga sekarang, dan aku hanya akan menanti hari itu disini,”

“kau menanti kematianmu? Selama ini kau hanya menanti kematianmu?” Luhan melepaskan pegangannya pada ayunan. Menatap Yoona dengan mata berair.

“memangnya apa lagi ? tidak ada yang ingin aku lakukan selain bersama ayah dan ibu,”

“lalu kenapa kau masih ada disini? Kenapa kau tidak bunuh diri atau semacamnya? Kenapa kau masih ada disini hah??!” Luhan menaikkan suaranya dan tangannya terkepal keras. Yoona tercekat mendengar kata –kata Luhan yang tajam.

“Luhan – ??”

“mengapa bahkan kau tidak menghargai hidupmu yang sempurna? Mengapa yang kau lakukan selama ini hanya menunggu kematian ?” kali ini sebulir air mata turun dari pelupuk mata pria itu. Yoona gemetaran dan menatap pria itu dengan tatapan yang penuh linangan.

“A –aku,”

“Yoona, kau punya masa depan.. alasan kenapa kau tidak mati setelah tiga hari kematian ibumu adalah karena tuhan memberimu masa depan, tuhan mengizinkanmu untuk memiliki masa depan! ” Luhan bangkit dari duduknya. Menatap Yoona yang tertunduk. “jika kau ingin mati, kenapa kau ada disini dan mencuri hatiku? Membuat jantungku berdetak cepat dan membuatku merasa memiliki harapan, tapi kini aku kecewa padamu..senyuman manis yang kau tunjukkan padaku tidak lain adalah kepalsuan semata, kau menutupi kesedihanmu !”

“Yoona kau –”

“lalu apa yang harus kulakukan ? apa yang bisa kulakukan saat bahkan diriku takut untuk melangkahkan kakiku. Satu- satunya yang membuatku menanti hari kematianku karena aku tidak juga bertemu dengan dirimu. Bertemu dengan orang yang mengajarkanku arti cinta. itu memang terdengar kekanakan, bahkan saat kita baru saling mengenal hari ini. Tapi sesuatu itu memberi tahuku, bahwa aku telah jatuh cinta padamu. Jadi berhenti menyalahkanku karena ini salahmu yang baru datang padaku sekarang !” air mata benar- benar sudah mengalir dikeduanya. Luhan mendengar Yoona terisak dan perlahan mendekati gadis itu. Dalam diam menatap mata gadis itu yang berlinang penuh air mata.

“aku mencintaimu, dan aku harap aku tidak pernah lupa itu.”

Detik selanjutnya, saat angin berdesir dan matahari sudah menghilang sepenuhnya. Bibir kedua insan itu saling bertemu. Sebuah kecupan pilu dengan deraian air mata.

Dan setelah itu, mereka tahu. Waktu, tidak menentukan cinta. Cintalah yang menentukan waktu.

Hari ini mereka bertemu, dan hari ini juga mereka jatuh cinta.

Unforgettable Day.

Aku mengerjapkan mataku, matahari mengintip dari sela- sela tirai kamarku yang sederhana. Aku bangun, sebuah suara bising terdengar di luar. Dengan segala kekuatan yang aku punya. Aku bangkit dari tidurku. Terdengar sebuah suara wanita diluar dan aku segera bergegas mencuci wajahku.

Rambutku aku uraikan seperti biasa, hanya saja kini aku hanya memakai piama kotak- kotak yang nenek jahitkan untukku. Aku berdiri diambang pintu dengan bingung, aku jelas- jelas melihat Luhan sudah berpakaian seperti kemarin. tas punggungnya sudah melekat dan sesuatu serasa mencekikku. Pria itu menoleh, lalu bertemu pandang denganku. Dia tersenyum dan aku hanya berjalan mendekatinya.

“Annyeonghaseyo~”

Aku berjengit, sebenarnya apa yang dimaksud pria ini? Mengapa dia memperlakukanku seperti orang asing ?

“Noona, kita pergi sekarang ?”

Lagi, aku merasa diriku tercekik. Pria itu tersenyum pada seorang wanita cantik yang kini memakai kaca mata hitamya. Baju wanita itu sangat modern dan rambutnya pendek sebahu. Lagi, aku menemukan senyuman wanita itu nyaris mirip dengan senyuman Xi Luhan.

“kakek, nenek, terimakasih sudah memberikan aku tempat tinggal, Busan benar- benar menakjubkan!”

Aku hanya menatap pria itu penuh Tanya. Sesuatu menyeruak dari pelupuk mataku dan aku ingin sekali menampar pria itu. Mengapa dia bahkan tidak menganggap keberadaanku. “ah, Agassi terimkasih juga, kakek bilang kemarin kau yang mengantarku kesini, aku sangat menikmati liburanku.”

Aku merasa lemas sekali. Kakiku serasa seperti agar- agar dan aku ingin sekali mati. Agassi dia bilang ? “a –apa ?” sebulir air mata lolos dari pelupuk mataku. Pria itu mengerutkan keningnya dan saat itu juga aku merasa tanganku ditarik oleh wanita itu.

Unforgettable Day.

“A –apa ?” Kali ini aku benar- benar yakin ingin mati saja. Tanganku bergetar hebat dan wanita yang mengaku sebagai kakak dari Luhan itu tampak menemaniku ikut menangis.

“dia mengalami kecelakaan saat itu, dan sejak saat itu tuhan mengambil memori ingatannya. Dia tidak bisa mengingat sesuatu secara permanen, dia ingat tapi lupa saat terbangun dari tidurnya. Itu benar- benar sangat melukainya, ”

Aku memejamkan mataku, aku tahu unnie itu tidak mungkin berbohong. Dan aku mendengar aku terisak. “apa itu artinya dia melupakanku ?”

Unnie hanya tersenyum lalu menggeleng. “aku yakin dia tidak ingin melupakanmu, kau hanya terpaksa terlupakan. Itu diluar kendalinya.”

“aku –aku tidak mau, aku mencintainya unnie. Dan dia juga berkata sama kepadaku, tapi kini dia lupa tentang apa yang dikatakannya..” aku merinding sesaat mengingat perkataan Luhan tadi malam.

“aku mencintaimu, dan aku harap aku tidak pernah lupa itu.”

Detik selanjutnya, aku terjatuh ke tanah dan unnie memelukku. Xi Luhan, tidak bisakah kau bahkan hanya mengingat wajahku ?

 

Unforgettable Day.

Mereka akan segera pergi dan Yoona hanya menatap Luhan dengan tatapan penuh air mata. Pria itu sepertinya kebingungan dan unnienya hanya diam tanpa berniat menjelaskan. Yoona menatap Luhan dengan lekat, melangkahkan kakinya mendekat.

Gadis itu berusaha bernafas dengan baik dan dia hanya merasa sakit di dadanya. “Xi Luhan, hiduplah dengan baik dan aku harap suatu saat nanti kau bisa datang kemari dan mengingatku.”

Gadis itu menggigit bibirnya yang bergetar lalu melangkah mundur. Luhan hanya menatap Yoona bingung dan detik selanjutnya masuk kedalam mobil. Unnie tersenyum singkat pada Yoona lalu masuk kedalam mobil. Seiring dengan berlalunya angin, mobil melaju pergi dan Yoona menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Menangis dalam diam dan meraung dalam hati.

 

Unforgettable Day.

Aku terbangun. Sesuatu menyakiti hatiku dan itu tidak terlihat.

Matahari mengingatkanku pada sesuatu dan aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa ada di pinggir danau dengan sebuah ayunan yang bergoyang.

Setelah itu aku merasakan diriku meminum air lalu bermain bersama anak-anak.

Dan terakhir, aku melihat wajah seorang gadis. Kami berlari, tertawa, dan menangis bersama. Gadis itu tersenyum padaku dan aku terkejut saat melihat kemudian gadis itu menangis dihadapanku.

Im Yoona

Aku mendengar angin membisikkan sesuatu dan saat itu juga aku menyadari aku tertidur di ranjangku.

Unnie berdiri di samping ranjang dengan mata khawatirannya.

“Xi Luhan ?”

“Im Yoona, unnie.. aku mengingatnya, gadis itu..kini aku mengingatnya ..”

 

END

3 thoughts on “[FF Freelance] Unforgottable Day

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s