My Girl ( Oneshoot )

Main Cast : Lee Junho, Bae Suzy || Support Cast : Jessica Jung || Genre : Romance, drama || Rating : PG-13 || Picture : cr. google || Disclaimer : pernah di post di Facebook pribadi dalam bentuk cerpen dengan tokoh yang berbeda. Maaf kalau aneh dan banyak typo

                 Sebuah senyuman tiba – tiba tersungging dari bibirku ketika melihat gadis ini. Gadis yang sedang tertidur pulas ini begitu menarik perhatianku. Sebagian wajah putihnya tertutup poni rambutnya yang hitam legam. Aku berjalan menuju pinggiran tempat tidurnya, mencoba lebih dekat memperhatikan garis wajahnya yang begitu tenang saat tertidur. Aku tersenyum lagi memandangi wajah lugunya, kusibakkan poni yang menutupi sebagian wajahnya itu. Saat ini terlihat jelas wajah manisnya, juga terlihat pula plester bergambar puccha yang aku pasangkan tadi dipelipisnya. Demi menolongku dia sampai terantuk pinggiran meja makan. Aku membungkuk perlahan menatap wajahnya makin intens, terdengar nafasnya yang begitu teratur keluar masuk dari kedua lubang hidungnya. Entah antara sadar atau tidak aku mengecup keningnya. Sontak aku mundur beberapa langkah dari pinggir tempat tidurnya. Aku takut kalau tiba – tiba gadis ini terbangun, aku mencoba mengatur nafasku agar aku sedikit tenang lalu aku beranjak keluar dari kamar tidurnya.

“sial!!! Apa yang aku lakukan tadi” gumamku sambil mengacak – acak rambutku sendiri.

“come on Junho, wake up” aku menghempaskan pantatku ditempat tidurku, menghela nafas panjang dan mulai menenangkan otakku yang sedikit tidak berfungsi baik hari ini.

“apa – apaan ini kenpa bocah itu bisa membuatku kacau seprti ini” gumamku lagi

+++

Aku hanya mampu menghela nafas berat, menolak dengan alasan apapun sepertinya tak akan diterima oleh Oemma. Bahkan alasan sebagai seorang eksekutif muda yang tengah sibuk dengan deadline, meeting, lembur dan juga alasan bersosialisasi dengan banyak rekan bisnispun tak mampu meruntuhkan keputusan Oemma. Aku melihat lagi gadis yang tengah bersama mama di meja tamu, sibuk memikirkan bahwa privasiku mungkin akan sedikit terganggu ternyata membuatku cukup pusing.

“Junho ya, cepat keluar. Oemma harus ke bandara” seru oemma, aku mengatur nafasku agar cukup tenang lalu membuka pintu kamarku dan menatap oemma.

“namanya Suzy, Bae Suzy. Kenalan dulu” oemma menatapku, kulihat gadis kecil ini mengulurkan tangannya dengan senyuman sok imut ala gadis remaja.

“Suzy”ujarnya semangat.

“Junho” ucapku dingin menyambut tangannya.

“okey, oemma mau kebandara dulu. Jaga Suzy baik – baik” oemma mencium kedua pipiku lalu menepuk pundakku pelan.

“Kamu pasti kerasan sama Junho ajusshi” oemma memeluk Suzy erat, aku hanya menggeleng – gelengkan kepalaku kesal ingin rasanya protes kalau aku belum pantas dipanggil ajusshi.

+++

Baju kodok, rambut dikuncir dan mengunyah permen karet benar – benar anak kecil batinku memandangi gadis kecil yang masih asyik dengan ponselnya itu.Sudah sekitar 5 menit yang lalu setelah aku mengantar oemma keluar apartemen dan dia masih asyik mengutak – atik benda elektroniknya itu.

“okey, Suzy ya, itu kamarmu” aku menujuk ke salah satu ruangan di apartemen, dia mendongak ke arahku lalu menjatuhkan pandangannya ke arah ruangan yang aku tunjuk.

“tidak bising, tidak gaduh, dan ingat kau hanya boleh keluar kamar kalau aku ke kantor atau kalau aku suruh, juga jangan pernah menyentuh atau memindahkan benda apapun di sini karena aku pasti tau”jelasku dia hanya mengangguk.

“dan juga buang permen karetmu itu, di sini dilarang makan permen karet. arraseo?” aku menyodorkan tissue ke arahnya, dia menurut saja.

ne ajusshi”ucap Suzy membuang permen karetnya dan menarik tas koper yang ia bawa.

“tunggu!!!”aku menahannya, dia hanya menoleh.

“jangan pernah memanggilku ajusshi”ucapku kesal.

+++

Beberapa hari aku lewati dengan gadis ini, dan dia benar – benar membuatku pusing. Gadis paling ceroboh yang pernah aku temui. Dalam satu hari saja microwaveku sudah hancur, vas bunga pecah dan tunggu, Sepertinya dia mengalami diorientasi saja. Setiap berjalan ia selalu tersandung dan menabrak tembok. Lupakanlah soal itu. Sebenarnya yang sangat membuatku kesal adalah sejak kehadiran bocah ini, aku mulai jarang menghabiskan malam dengan Jessica wanitaku. Seorang wanita yang sangat sempurna, setidaknya banyak sekali pria yang ingin mendapatkannya. Mungkin beruntungnya aku, tak pernah sekalipun mencoba mendekatinya tapi dia yang terlebih dulu mendekatiku. Memang bukan pilihan yang bagus mengajaknya Jessica ke sini, gadis kecil itu benar – benar akan mengganggu privasiku. Aku mengganti saluran televis yang kulilahat, semua acara televisi yang disajikan sangat membosankan. Aku menjatuhkan pandanganku ke arah pintu gadis kecil itu.

“tenang sekali”gumamku pelan, padahal beberapa menit yang lalu dia ribut ingin keluar dari kamar. Aku melangkah ke arah pintu kamarnya, kuletakan telinga sebelah kiriku mencoba memekakan telingaku agar jangkauan dengarnya sampai dibalik pintu. Hanya terdengar sebuah alunan music dan..rintihan, sial apa yang tengah terjadi? Aku mulai panik dengan keadaannya, aku tak mau kalau oemma menghujatku karena tidak becus mengurus bocah kecil ini. Dengan sedikit tergesa aku membuka pintu kamar yang sedari tadi aku kunci dari luar. Aku hanya berdiri terpaku memandang Suzy yang tengah meringkuk memegangi perutnya.

“aku lapar oppa” rintihnya sambil meringis ke arahku, aku mengeleng pelan berjalan mendekatinya.

“lapar? kau belum makan?” tanyaku dengan wajah menyelidik, dia tersenyum dan menggeleng pelan.

“ayo berdiri” aku membantunya, melihat wajahnya yang semakin pucat membuatku tak tega.

“kurasa tidak bisa”ujarnya pelan, dengan sangat terpaksa aku membopongnya ke ruang makan.

+++

Aku mengaduk susu yang sengaja aku buat untuk Suzy sambil terus memandanginya, benar – benar gila ini bocah. Sudah 2 hari dia belum makan, harus ku akui aku memang cuek soal dia, tapi setidaknyakan dia bisa memanfaatkan kulkas yang selalu full aku isi dengan makanan. Aku berjalan ke arahnya sambil meletakkan susu di depannya.

“habiskan, aku tak mau nanti saat oemma pulang dia marah – marah karena mendapatimu mati kelaparan” ucapku sok kesal, dia mengangguk sambil tersenyum mematuhiku. Sangat tidak masuk akal dia bisa tersenyum ringan ke arahku.

“aku masakkan sesuatu untukmu tapi kau harus cerita kenapa kamu sampai tidak makan selama dua hari, padahal makanan dikulkas juga banyak” perintahku sambil menyiapkan beberapa sayur di kulkas.

oppa galak” ucapnya pelan, aku melotot kearahnya membuatnya mengkeret ketakutan.

oppa melotot lagi!! sejak pertama kali ke sini sampai detik inipun oppa melotot terus padaku” ucapannya seakan menohokku. Ucapan yang memang tidak salah sebenarnya, kalau dipikir – pikir aku bahkan belum sekalipun tersenyum kepadanya.

“setidaknya kau tak perlu menyiksa dirimu sendiri” ucapku mencoba mempertahankan diri.

ne, tapi uang sakuku udah habis buat beli makan. Gara – gara oppa bilang tak boleh megang apapun di sini aku jadi grogi. Jadi aku ingin minta maaf kalau sering bikin rusak barang – barang oppa. Untuk itu aku putuskan tak mau pegang apapun termasuk kulkas, nanti kalau rusak pasti oppa melotot lagi” jelasnya polos sekali, membuatku tersenyum kecil memandanginya yang terlihat sangat lugu

“okelah, aku tak akan marah. Ini makan dulu” aku meletakkan sepiring penuh nasi goreng dengan berbagai sayuran dan daging didalamnya. Entah kenapa aku yakin porsi extra jumbo ini mampu dia tuntaskan.

“apa kau tak bisa lebih pelan?” protesku melihat cara makannya yang amburadul, ia tak menjawab apa – apa hanya senyuman khasnya terlukis dibibirnya yang penuh nasi.

+++

Jessica melipat kedua tangannya di dada, kedua matanya melotot memandangiku yang seakan berlagak bodoh. Hari yang mengejutkan, itulah persepsiku sekarang tentang hari ini. Tak ada angin tak ada hujan Jessica keapartementku. Emm… mungkin sedikit diralat, dulu Jessica sering sekali ke sini tapi beberapa minggu ini aku melarangnya.Yah… apalagi kalau bukan karena ada Suzy di sini dan sialnya dia datang pada saat yang tidak tepat.Tidak dipungkiri sejak kejadian Suzy hampir mati gara – gara kelaparan itu aku mulai dekat dengannya. Dia bisa menghiburku dengan tingkahnya yang terlampau lugu dan kekakanak – kanakan, mengerjainya adalah aktifitas yang sangat menyenangkan untukku saat ini. Seperti tadi menyuruhnya mengepel lantai yang kotor gara – gara sebagian ulahnya dan sebagian lagi yang paling banyak karena ulahku yang menggodanya saat minum. Dan pada dasarnya ia ceroboh, ia terpeleset saat mengepel. Untung saja aku memeluknya, tepat saat Jessica membuka pintu apartemen.

“apa – apan ini?” bentak kasandra. Aku memandang ke arah kasandra yang semakin manyun.

Aku melepas pelukanku pada Suzy, menetapnya dan dengan ujung daguku memerintahkannya masuk ke dalam kamar.

“kamu cemburu?” aku mendekat ke arah Jessica.

“aku tak cemburu” jawab Jessica kesal, aku merengkuh tubuh Jessica kepelukakanku lalu tertawa.

“ya, aku yakin kau tak akan cemburu dengan anak kecil. Tadi dia kepleset dan aku tolong, lagi pula dia sepupuku, kau tahukan? -aku sedikit berbohong tentang status Suzy pada Jessica-” ucapku menatap intens mata Jessica.

ne, mianhe” ujar Jessica luluh.

+++

Aku mengernyit heran menatap sekeliling apartemen, sepertinya baru beberapa jam aku meninggalkan tempat ini. Tidak cukup larut menurutku, tidak seperti biasanya ketika aku keluar bersama Jessica. Apartemenku gelap, sunyi. Tak ada sosok Suzy di Sofa depan televisi. Aku mungkin sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan gadis itu, aku berjalan ke arah kamar tidurnya mencoba membuka pintu kamarnya pelan. Tapi sama sekali tak kutemukan keberadaannya, aku menghembuskan nafas panjang mencoba menenangkan diriku yang jujur saja sedikit panik.

“kemana dia?” gumamaku pelan sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Sampai akhirnya aku hanya terdiam mendengarkan isak tangis seseorang.

“teras apartement” gumamku berjalan ke arah teras apartement di samping ruang tidurku.

“Suzy!!” seruku ke arah Suzy yang terduduk di lantai teras dengan tangisan sejadinya, ia menoleh ke arahku lalu berhambur kepelukanku.

“kenapa??”tanyaku membelai rambutnya, bukannya dijawab malah tangisnya semakin menjadi. Memang aku tak bisa berbuat apa – apa sekarang, kami hanya duduk bersimpuh di lantai tempat Suzy memelukku tadi. Suzy masih menangis dan aku masih membelai rambutnya yang lembut. Dia mengangkat kepalanya menatapku.

“aku sendirian oppa”ujarnya dengan isak tangis.

“aku tidak mengerti?” tanyaku sedikit heran, ia membenamkan wajahnya dalam pelukkanku.

“kemarin siang oemma masih menelponku dari Roma, tapi tadi Nyonya Lee menelpon dan mengatakan oemma meninggal. oemma menjadi korban kerusuhan antar supporter di roma” jelas Suzy terisak, sungguh aku tak mampu berucap apa – apa sekarang. Memang Suzy dititipkan Nyonya Bae ke oemma karena beliau ada urusan di roma, tapi karena oemma sendiri orang yang sibuk ia memilih menitipkan Suzy padaku. Dan aku tahu betul tiap hari Suzy selalu bersemangat bila menghitung hari kedatangan oemmanya yang beberapa bulan lagi pulang, tapi sekarang?. Aku mengangkap wajah Suzy tepat dihadapnku, memandangi gadis kecil ini sendirian menggugah hati nuraniku.

“siapa bilang kau sendiri? Ada aku dan mama yang akan selalu menjagamu”ucapkku mencoba menenangkannya, isaknya sedikit terhenti ia tersenyum ke arahku.

“terima kasih” Suzy mengecup pipiku, membuat tubuhku tiba – tiba seperti tersengat aliran listrik. Membuat control jantungku tak beraturan sekarang karena gadis kecil ini.

+++

Rasanya kepalaku tambah pusing saja sudah satu bulan yang lalu Suzy kembali tinggal di rumah mama, jujur aku mulai kesepian tanpanya sekarang. Apalagi kalau bukan karena Jessica yang mulai menuntutku untuk menikahinya. Tangan kiriku masih sibuk menyetir mobil sedang yang satunya masih memain – mainkan handphone.

“sekarang apa yang harus aku berbuat” aku mulai bimbang, bagaimana tidak beberapa hari lagi Jessica resmi menjadi istriku.

Tunggu, Apa yang aku pikirkan? Bukannya seharusnya aku senang dengan pernikahan ini, tak ada yang kurang dari diri Jessica dia bahkan bisa dibilang sempurna -meski sejujurnya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Pikirkan kami akan menjadi pasangan serasi tahun ini. Tiba – tiba senyum Suzy terlintas di pikiranku, membuatku semakin kacau saja dibuatnya sekarang.

“sialan…” umpatku kesal membanting handphone yang sedari tadi aku mainkan.

+++

“kau sudah punya pacar??”Tanyaku pada Suzy saat mengantarnya pulang ke rumah mama, ia tersenyum ke arahku malu – malu.

“belum, kupikir tak ada yang menyukaiku” jawabnya polos, membuatku tertawa terbahak – bahak dibuat olehnya.

“tak mungkin, kau saja yang terlalu pilih – pilih” sahutku sambil terus berkonsentrasi pada stir mobilku.

“aku tak pilih – pilih oppa” ujarnya membela diri, aku menghembuskan nafas panjang.

“bagaimana kalau oppa menyukaimu??” tanyaku sambil memandang kematanya, ia hanya diam mencoba mengalihkan padangannya agar pandangan kami tak saling beradu.

“jangan bercanda” gumamnya tak percaya, aku membanting stir mobilku kepinggir jalan.

“kenapa berhenti?” tanyanya heran.

oppa benar – benar menyukaimu”ucapku begitu saja, entahlah seperti pikiran rasionalku sedang tak terpakai saat ini.

Plak…!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusku ini, belum ada seorangpun yang pernah menamparku dan sekarang seorang gadis SMA baru saja menamparku.

“apa kau mabuk oppa?” ujarnya pelan membuat otakku kembali berfungsi sekarang. Aku mencoba mengatur nafasku.

“kau benar – benar menamparku, aku hanya bercanda” kataku tertawa, aku hanya mencoba mengubah suasana yang mulai berubah tak menyenangkan. Ia memukul pundakku, menatapku tajam. Tak tahu bahwa kebenaranlah yang aku ucapkan.

“aku tak suka kau bercanda seperti itu oppa” gerutunya

+++

Dia mengenakan tube dress warna putih dengan sepatu flat shoes yang senada dengan tas tangannya putih gadingnya. Terlihat sangat manis meski tak meninggalkan kesan kekanak – kanakannya, mama memang pandai mendandaninya rambutnya digerai dengan jepit kupu – kupu dirambutnya. Bibirnya dipoles dengan lipgloss glossy yang membuat bibirnya terlihat berkilau.

“apa yang kau lihat?”Tanya Jessica mengagetkanku.

“oh em.. tidak, tidak apa – apa. Hanya seperti melihat kawan lama” jawabku, sebenarnya apa yang ada di otakku sekarang. Ini hari pernikahanku tapi mengapa aku masih memikirkan wanita lain? Tuhan tolong sadarkan aku dari hayalan atau mimpi apalah ini, ini sungguh sangat mengusik hidupku.

“aku kesana dulu” ijinku pada Jessica yang tengah asyik mengoobrol dengan para tamu, aku berjalan kearah Suzy yang sepertinya terasing dari pesta ini. Aku menarik lengannya pelan menuju kamar tamu di sebelah kiri ruangan.

“kenapa oppa?”tanyanya heran, aku pandangi kedua matanya yang tenyata basah.

“kau menangis? Kenapa kau menangis?”tanyaku khawatir, ia hanya menggeleng sambil menghapus air matanya.

“aku tak menangis”ucapnya mencoba pergi dari ruangan ini, tapi aku buru – buru menariknya dan memojokkannya di dinding.

oppa.. aku..”kuacungkan pelan telunjukku kebibirnya, membuat ia hanya terdiam. Entah apa yang ada dibenakku saat ini kukecup saja bibir Suzy yang berkilau itu, ia tak menolak ia membalasnya.

“katakan kau mencintaiku dan aku akan menghentikan pernikahan ini” jelasku padanya, ia hanya diam dan terisak.

“aku mencintaimu Suzy ah”ucapku meyakinkannya, ia melepas tanganku yang ada dipundaknya.

“apa yang kau ucapkan oppa? jangan bercanda, cepat keluar Jessica oenni menunggumu” ucapnya mendorong tubuhku keluar. Aku benar – benar tak tahu apa yang ada dipikiran Suzy saat ini, aku yakin kalau Suzy juga mencintaiku tapi kenapa ia bersikap seperti ini. Aku berhenti sejenak lalu menoleh kearahnya.

“jangan pernah menyesal Suzy ah” ucapku meninggalkannya.

+++

Dia terisak sekuat tenaga dia menahannya tapi tangisnya masih saja keluar dari kedua matanya, hanya kerlip lampu kota Seoul yang seakan menemaninya saat ini. Aku berjalan pelan mendekatinya,rasanya tak tega juga melihatnya seperti ini. Aku terdiam sesaat kemudian kupeluk erat dia dari belakang.

“apa kau menyesal?” bisikku pelan, ia melepas pelukanku dengan terkejut.

“Junho oppa” ucapnya kaget.

“kenapa oppa di sini? Jessica oenni?” tanyanya heran, aku hanya tersenyum menujukkan pipiku yang merah padanya.

“dia menamparku karena aku membatalkan pernikahan” jawabku santai.

“tak mungkin?”tanyanya lagi sembari memegang pipiku yang merah.

“aauuwww” rintihku.

“sakit oppa?”reflek dia melepas sentuhannya, aku tersenyum kearahnya.

“aku bilang kalau aku tak mungkin menikah dengan orang yang tak aku cintai dan semuanya selesai”jawabku enteng, Suzy hanya terdiam merasa bersalah.

“hanya saja tamparannya cukup menyakitkan”ucapku kesakitan memegang pipi.

“apa oppa baik – baik saja?” ucapnya panik.

“aku pikir kalau kau menciumnya ini akan baik – baik saja” godaku, ia hanya meringis sambil mencubit lenganku.

“dasar genit” ia memalingkan wajahnya karena malu,

“kau mencintaiku kan?” tanyaku menyenggol tubuhnya.

ani” jawabnya masih memalingkan wajahnya.

“tapi kau membalas ciumanku tadi”godaku lagi membuat dia memukul tubuhku saking malunya.

Aku akan menerima segala konsekuensi yang aku pilih, meski memilih Suzy adalah suatu pilihan yang cukup ‘kontrovesial’ tapi jujur saja aku menikmati itu. Tak masalah meski harus bergulat dengan keluaguan dan kebodohannya. Dan aku sangat siap meski harus menunggunya beberapa tahun lagi untuk menikahinya. Orang bilang cinta itu butuh pengorbanan, it’s okey no problem. Ternyata aku memeng tidak butuh seseorang yang sempurna untukku karena kupikir diriku sudah cukup sempurna untuk bisa menyempurnakan hidup seseorang yang sangat jauh dari sempurna.

THE END

28 thoughts on “My Girl ( Oneshoot )

  1. wkwkw.. akhirnya nemu ff junzy lagi.. laper ff junzy saia thor..
    suzy yg lugu, yg awalnya junho benci r upanya mampu menaklukkan hati..hmm… saia merasa buruk dengan jessica, tp sungguh saia tidak kasian..hahaha..plaaakkk..
    ahjussi…kkkkkkkk.. suzy kebangetan yach polosnya..
    ditunggu karyanya ttg junzy lagi thor.. fighting!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s