[FF Freelance] The K’s – Without You (Chapter 1)

CYMERA_20131007_142917THE K’s

Author : @prileyy – Prils

Casts: Kay/Choi Hyona, Kim Jong In/Kai, Cho Kyuhyun, Wu Yi Fan/Kris

Length : Series/Chaptered

Genre : Romance, Family, School life, Angst, Sad ? or  Happy? You decide

Rate : PG 13 – you know your age ?

HALOOOOOO SEMUAAAA. This is my first FF. Well, buat ini iseng aja sih gara-gara aku suka huruf K -__- kayaknya buat chapter pertama ini bakal panjang banget, jadi kalo bosen ditengah jalan ya ga usah diterusin. Tergantung readers juga sih mau tetep nerusin apa di stop aja. Kalo typo bertebaran harap dimaklumi ya karena pas buat ini pas masa masa aku lagi try out mau UN SMA. It means aku baru lulus SMA. HIP HIP HORAAYYYYYYY *bbuingbbuingbarengsehun . kalo ga comment aku gabakal buat next chapter nya. I’m not a zombie, dont worry *korbannontonWorldWarZ. Cap cip cup nya lanjut ntaran yaa hohooo.

Dan FF ini juga pernah di published di blog ku barangkali ada yang mau mampir? www.expressmyownideas.wordpress.com

Twitter: @prileyy

Selamat Membaca ^^

Mengapa harus kembali? Susah payah aku melupakan kejadian itu, kejadian yang tidak ingin kuingat, yang membuatku berusaha menjauhi semua yang berkaitan dengannya. Semua yang membuatku merasa orang paling bersalah. Tetapi akhirnya aku harus kembali juga. Takdirkah ini? Apakah Tuhan mempunyai rencana yang lain? Semoga begitu, Amin.

            “Sudah siap, Sha?” Tanya seorang pria yang menurutku masih terlihat muda.

            “Diddy please, bukankah kita sudah membuat perjanjian? Jangan panggil aku dengan embel-embel Sha. sulitkah dengan nama panggilan Kay? I think its not complicated.” Jawabku agak ketus.

            “Okay okay I will defenately remember it. Maaf diddy harus membuat kamu menghadapi ini lagi. Tapi cepat atau lambat semua harus dihadapi bukan? Jangan pernah takut melihat kebelakang sayang, meskipun itu sakit.” Katanya.

            Aku terdiam dengan apa yang diddy katakan. Aku tidak takut, hanya aku belum siap. 2 tahun kurasa belum cukup untuk menghadapi itu kembali. Well, aku mengagumi Diddy , semua yang ada pada Diddy, kewibawaannya sebagai seorang Ayah, kelembutan sebagai seorang ibu, kasih sayang sebagai seorang  teman, kejeniusan sebagai seorang yang kadang sok mengalahkan kepintaran Einstein, keahlian membuat masakan yang amat sangat enak dengan resep-resep barunya atau menjadi seorang yang hebat lainnya. Menurutku Diddy itu complete. Biasanya cuman ada istilah 3 in 1. Tapi pengecualian untuk Diddy, beliau bahkan bisa jadi 10 in 1. I really love him, sampai-sampai aku membuat panggilan sendiri untuknya. Bukan papa, ayah, papi, daddy atau yang lainnya. Diddy is the special one. Isn’t it cute?

            Perjalanan ini harusnya cukup panjang, kalau bisa aku ingin tak pernah sampai. Aku hanya berharap bisa kuat menghadapi ini. Kuatkan aku tuhan.

            “Sebentar lagi sweetheart” Diddy mengatakannya seperti berbisik. Membuatku sedikit meringis.

            “Sebentar lagi, sebentar lagi, I miss you so.” Kataku. Berkata sepelan mungkin, tapi kurasa Diddy bisa mendengarnya. Untunglah percakapan ini tidak diperpanjang. Aku butuh waktu.

           

*some hours later*

 

            Kembali, aku kembali. Kamu apa kabar? Baik aja kan? Aku juga baik aja. Aku tau dia tidak mungkin percaya dengan kata ‘baik’.

            Aku seperti mengkhayal Dia disini. Ya, harusnya Dia disini sekarang. Harusnya…..

            “Kaysha, kamu ngapain bengong-bengong di depan mesin minuman ? haus-hausannya ntaran aja deh, bantu diddy ngangkutin ini dulu ke taxi baru habis itu kita cari makan. Dasar cewek,ini isinya apaan sih ? berasa jadi tukang batu ngangkutin koper yang beratnya ngalahin batu.” Cerocos Diddy karena aku daritadi hanya diam.

            “iya, iya kaysha bantuin. Emangnya kenapa kalo cewek bawaannya banyak? Cewek itu butuh perawatan, kalo ga perawatan ntar ga ada yang naksir tauuuuuk.” Balasku tak mau kalah.

            “Rempong deh” oceh Diddy.

            “WHAT? I cant believe you know what rempong means. Astagaaaa siapa yang ngajarin Diddy?” tanyaku sambil berkacak pinggang.

            “Apa gunanya punya anak cewek yang ngerasa gaul? Sebagai ayah, Diddy pikir bahasa gaul anak muda juga sangat diperlukan untuk dipelajari supaya ga kalah saing sama anaknya” jawab Diddy sambil mengedipkan matanya.

            “Seriously? Oh God, ahhhh stressssssssss” aku pun tidak tahan untuk melanjutkan ini. cukup.

            Lama sekali Aku dan Diddy terdiam. Aku juga tidak tahu ingin berbicara apa. Akhirnya kuputuskan untuk memasang earphone ditelinga dan memutar lagu. Music, kamu banget ya,Sky.

            “Kita kerumah halmeoni halbeoji dulu ya? Baru berburu makanan. Apa ingin makan sekarang?”  tanya Diddy seraya menelfon seseorang.

            “Terserah, yang penting ntar makan” jawabku malas.

            Kudengar Diddy berkata dengan semangat dengan orang yang sedang Ia telfon. Samar-samar aku mengerti apa yang Diddy ucapkan, ternyata Diddy sedang menelfon halmeoni.  Karena halmeoni-ku orang korea dan beliau tinggal di korea jadilah kami menggunakan bahasa korea jika berbicara dengannya. Tapi aku terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dengan halbeoji karea beliau orang Indonesia dan ada keturunan inggris juga. Bahasa koreaku tidak bisa dibilang jelek juga, tapi tidak dibilang sempurna juga. Menurutku hanya bahasa inggris yang penting.

            “Ini, berbicaralah dulu dengan halmeoni, beliau pasti ingin mendengar suaramu” bujuk Diddy dengan tampang sok aegyo-nya. Demi tuhan sejak kapan Diddy begitu sok imut? Eeuuwwwhh -__-

            “Okay, I will’ jawabku juga dengan tampang sok aegyo. Well aku memang aegyo.

            “Ani. Hangug? Korean?” titah Diddy.

            “Ne, ne.” balasku.

            Aku pun meraih handphone yang Diddy beri dan mulai berbicara dengan halmeoni. 

            Percakapan dengan halmeoni tidak begitu panjang, beliau hanya menanyakan kabarku, bagaimana sekolahku, sudah sampai dimana, dan menyarankanku untuk segera sampai dirumah dan beristirahat. Ahh untunglah semua pertanyaan halmeoni masih bisa kumengerti. Terkadang halmeoni tertawa mendengar gaya bahasa korea ku yang masih terdengar canggung dan tidak bisa membedakan bahasa formal & informal. Oh ayolah aku kan tidak benar-benar orang korea. Lagipula korea mengingatkanku dengan kejadian itu.

            Sesampainya dirumah halbeoji-halmeoni, Aku segera memeluk mereka. Aku kangen sekali.

            “beogoshippoyo halmeoni” kataku sambil memeluk halmeoni.

            “nado beogoshippo chagiya” halmeoni juga memelukku erat.

            “ohh jadi hanya merindukan halmeoni? Tidak merindukan halbeoji?” rajuk halbeoji sambil menyilangkan tangannya di dada.

            “ahhahahahaha I miss you so much halbeoji” balasku beralih memeluk halbeojiku yang paling baik sedunia.

            “makanlah dulu, kau pasti lelah sekali kan?” Tanya halmeoni

            “sangat amat lelah, sepertinya aku masih terkena jetlag. Sehabis makan aku mau langsung tidur. Kamarku masih yang lama?” tanyaku takut.

            “tentu saja, masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah” ujar halmeoni.

            Aku pun naik ke atas, mengapa tangga ini terasa panjang sekali? Lama sekali aku menaiki tangga sambil memandangi satu per satu foto yang terpampang di dinding sebelah tangga. Beberapa foto yang menjadi favoritku. Tidak, semuanya favoritku tentu saja karena semuanya ada Dia. Foto pertama ketika masih balita, 2 anak balita bermain dengan bonekanya, betapa menggemaskan balita itu. lalu kulangkahkan kakiku ke tangga lainnya, berhenti di foto kedua yang menyajikan foto anak perempuan dan laki-laki sedang meniup lilin. Ternyata mereka sedang berulang tahun ke-7. Ada 14 lilin terhitung diatas kue yang sangat besar. Tentu saja yang 7 milik perempuan dan 7 lainnya milik yang laki-laki.

            Sungguh aku tidak tahan dengan foto selanjutnya, foto ketika lulus SD. Dia membuatkanku bando dari bunga yang dirangkai. Membuatku mendadak merasa menjadi putri raja. Ingin menangis rasanya,oh ternyata aku sudah menangis. Kuseka air mata yang jatuh dipipiku. Beogoshippo my sky. Mianhe, jeongmal mianhe. Hiks hiks hikssss………….

            Karena aku sudah tidak tahan, kunaiki anak tangga dengan cepat agar segera sampai dikamar. Kulewati begitu saja foto keempat, kelima, keenam, sampai foto ketujuh yang terpampang di dinding dengan frame yang indah yang membingkainya.

            Akhirnya aku sampai di depan kamarku, masih dengan pintu putih disebelah kamar yang juga memiliki pintu berwarna putih. Hanya bedanya kamarku bergantung bintang dan beberapa tempelan bintang yang menghiasi putihnya pintu kamar. Sebelum masuk ke kamarku, aku beralih ke pintu putih yang lain yang bersebelahan dengan kamarku. Ada hiasan background muda dengan awan putih, berinisial K.tergerak untuk masuk ke kamar itu, tapi kuketuk dulu pintunya, beberapa kali kuketuk pelan tetap saja tidak ada jawabannya.  Tentu saja tidak akan ada yang membukanya. Tidak akan pernah.

            Kuputuskan untuk kembali ke pintu putih yang berhiaskan bintang. Kubuka pelan kenop pintu, mengapa rasanya berat sekali? Perasaan senang menyelimutiku karena kembali kesini. Tetapi mendadak perlahan menjadi bersalah, takut, sedih, kejadian yang membuatku mengalami perasaan itu, perasaan yang amat sangat tidak menyenangkan, waktu tidak bisa diputar. Kuucapi itu berkali-kali. Mengingatkan diriku sendiri betapa bodohnya diriku sekarang, dulu.

            Wangi kamar menyeruak menembus indera penciumanku, sama. Keharuman ini tetap sama, sama seperti dulu. Wangi udara yang menyenangkan, tidak menyengat, bukan parfum atau wangi-wangian yang  lainnya. Mengapa masih sama? Bagaimana bisa tetap sama? Kumohon kembalilah, jebal. Aku pun menangis tersedu-sedu sambil menutup mulut dengan tanganku, tidak berani menangis keras menumpahkan kesedihanku karena aku tidak ingin kesedihan ini dibagi dengan orang lain. Cukup aku yang menangisi , cukup aku yang bersedih tanpa tau sampai kapan akan begini.

            Kamar yang indah, bernuansa putih, begitu pula dengan tempat tidurnya yang terletak ditengah-tengah, seprei yang juga berwana putih dengan motif bintang. Disebelah tempat tidur ada 2 buah meja kecil dengan masing-masing lampu berbentuk bintang. Ditengah tengah antara tempat tidur dan tv ada karpet berbentuk bintang dan juga kursi balon berukuran sedang bergambar bintang. Nuansa putih yang berhiaskan bintang, langit-langit kamar yang juga ditempeli bintang yang bisa menyala ketika gelap. Disebelah meja tv terdapat buffet yang panjang membentuk siku-siku. Diatasnya berhiaskan foto-foto dengan frame dan editan yang lucu. Didalam buffet berisi semua koleksi bintangku. Mug, boneka, jam tangan, bahkan kamera kesayanganku juga masih tersimpan rapi didalamnya.

            Aku berjalan mendekati buffet itu berniat membukanya dan mengambil kamera kesayanganku tetapi mataku terpaku pada kumpulan catatan-catatan yang tertempel agak berantakan di atas stayrofoam di dinding kamar. Catatan-catatan yang selalu kubuat ketika Dia masih bersamaku…. Pergi ke taman bermain, membuat cake untuk hadiah ulang tahun halmeoni, pergi membeli kado, pergi ke acara pesta kembang api, jalan-jalan ke namsan tower, ingin ke tempat yang sunsetnya paling indah. Aku terpaku sendiri melihat catatan-catatan kecil itu, sudah 2 tahun tetapi masih tertempel biarpun beberapa kertas sudah nyaris jatuh. Sunset, kau bahkan belum menepati janjimu membawaku ke tempat terbaik itu kan? Aku sudah menyiapkan kameraku, menunggu tanggal itu tiba. Ingin sekali aku skip agar tidak lama, tetapi itu tidak akan terwujud bukan? Kau tidakakan pernah menepati janjimu. Pembohong, kau pembohong yang kejam. Aku kembali menangis. Waktu tidak akan kembali, ia terus berputar.

            Jatuh, aku jatuh didepan catatan-catatan itu. bahkan aku sudah 2 tahun meninggalkan tempat ini. tetapi tetap saja tidak ada yang berubah. Harusnya tidak seperti ini. harusnya aku bisa melupakan itu. bukankah 2 tahun waktu yang cukup? Menurutmu tidak? Tentu saja kita sudah bersama 15 tahun, bagaimana mungkin bisa melupakanmu hanya dengan waktu 2 tahun? Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Sendainya , seandainya waktu bisa berputar. Aku rela menyerahkan segalanya. Kenapa justru kau yang menyerahkan segalanya? Ini tidak benar. Semuanya kesalahanku.

            Lama aku menangis , mungkin karena lelah akupun tertidur di atas karpet bintang yang tebal dan lembut sambil memeluk bantal bintangku. Aku merindukan semua ini. gantungan bintang di balkon yang menimbulkan bunyi ketika tertiup angin, rindu 2 buah kursi panjang tempat biasa aku berbaring melepas rasa suntuk yang menghampiri. Tentu saja aku rindu padanya.

 

            *some minutes later*

 

            Samar-samar aku mendengar pintu kamar dibuka, langkah berat seseorang yang mendekatiku. Menunduk mencium keningku. Menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahku. Menyeka sisa air mata yang masih diujung pelupuk mataku.

            “kau pasti merindukannya kan chagi?, Appa juga merindukannya. Sangat. Maaf membuatmu mengingatnya kembali, tapi kau harus menghadapinya, Appa tidak tahan melihatmu terus merasa bersalah. “

            Lalu aku merasa seseorang mengangkatku, Appa mengangkatku dan merebahkanku diatas kasur lalu menyelimutiku, sebelum pergi , Appa sempat mencium lama keningku. Setelah kudengar suara pintu tertutup, aku membuka mataku, meresapi semua yang Appa katakan. ‘Appa’ lama sekali rasanya aku tidak mengucapkan kata itu, tentu saja selama ini sejak 2 tahun lalu aku memanggil Appa dengan sebutan Diddy. Segala yang ada disini semua kenangan akan selalu membuatku mengingatnya.

 

            *skip tomorrow*

           

            Matahari pagi seakan menyapaku. Selamat pagi seoul. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju balkon menikmati suasana pagi hari ini. pagi pertamaku setelah menapakkan kaki di kota ini. angin berhembus menerpa wajahku, menyibakkan rambutku, aku pun merentangkan kedua tanganku menikmati angin, favoritku. Lama sekali aku terdiam, mungkin aku harus pergi keluar sebentar. Lalu aku kembali masuk ke kamar mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi. Setelah selesai aku pun berpakaian dan mengambil sepatu kats cokelatku, sebelum itu aku berkaca mengambil jepit berbentuk bintang dan kuselipkan diantara banyaknya rambutku, tidak lupa pula membawa tas kecil berisi handphone dan dompet.

            “aku pergi dulu ya appa, halmeoni, halbeoji. Tidak akan jauh-jauh kok, paling hanya berjalan-jalan sekitar sini. Tenang saja aku tidak akan tersesataku sudah mencatat nomor-nomor penting dan alamat rumah ini. bye.” Kataku lalu sambil melewati mereka yang sedang berbicara.

            “jangan lama-lama kay, siang ini kita ada urusan.” Appa berkata mengingatkanku.

            “tidak sarapan dulu? Halmeoni sudah membuatkan susu cokelat.”

            “iya halmeoni aku akan meminumnya.” Aku berkata dan melangkah menuju ruang makan. Kuambil roti dan kuoleskan asal selai cokelat tak lupa pula meminum susu cokelat buatan halmeoni. Selalu menjadi favoritku.

            Semoga tidak terjadi apa-apa hari ini. harapku.

           

            ***

 

            Sepanjang perjalanan aku hanya melihat-lihat pemandangan sekitar, beberapa orang sedang berjalan dengan cepat, anak-anak yang siap pergi kesekolah dengan tas punggung mereka, dan jalan raya yang juga sudah ramai dipadati mobil-mobil. Mungkin karena hari ini hari senin hari dimana semua orang memulai hari mereka setelah weekend yang menyenangkan.

            Rasanya menyenangkan melihat orang-orang yang sudah memulai aktivitas mereka sedangkan aku masih belum memulai aktivitasku. Membosankan.

            Berjalan hingga aku menemukan ada sekumpulan bunga mawar yang menghiasi halaman sebuah gedung. aku mengambil satu dari beberapa mawar tersebut, yang berwarna putih. kupetik dengan hati-hati takut akan melukai tanganku dengan durinya. Kuhirup aromanya,aku merindukanmu. Aku memandang langit, seandainya.

            “hmm memetik bunga mawar sembarangan tanpa izin dari si pemilik sepertinya termasuk kejahatan kriminal.” Seseorang menyadarkan lamunanku. Hey dia menggunakan bahasa inggris?

            Seorang namja tinggi tengah berdiri dengan tangannya ia masukkan kedalam saku celana. Aku mendongakkan kepalaku berbalik menatapnya. Ia memiliki kulit yang agak gelap, mata tidak terlalu sipit, rambut hitam yang agak berantakan dengan poninya menutupi dahi, dan astaga kenapa bibirnya menggoda sekali?  Tampan. Aduh bicara apa aku ini.

            “ah maaf, aku tidak tahu kalau mawar ini ada yang punya, sekali lagi maafkan aku.” Kataku meminta maaf sambil membungkukkan badanku.

            “sepertinya aku akan melaporkanmu. Aku tidak suka bungaku dipetik-petik. Karena aku sudah memeliharanya dengan susah payah.”

            “aku benar-benar minta maaf. Kalau begitu aku akan menggantinya.” Kataku buru-buru mengeluarkan dompet dari tasku.

            “hahahaahaha kau lucu sekali, tidak apa-apa ambillah. Sebenarnya bunga itu juga bukan milikku hahahahaha.” Dia tertawa keras sekali sampai memegang perutnya. Bodoh sekali aku meminta maaf padanya. Kutarik kembali kata-kataku tentang dia tampan. Dia menyebalkan. Aku pun memutuskan untuk pergi dari situ sebelum menjadi bahan leluconnya lagi.

            “hey, mau kemana?.” Panggilnya.

            Aku terus berjalan tanpa menghiraukannya. Aku sudah terlanjur kesal. Dia mengejarku dan memegang pergelangan tanganku.

            “mau apa lagi?” aku berkata sambil marah, sungguh namja ini menyebalkan sekali. Belum cukupkah mengerjaiku tadi? Aku memelintir tanganku berusaha untuk melepaskan tangannya dari tanganku.

            “ah maaf, aku tidak bermaksud jahat, hanya iseng. Aku sedang butuh hiburan.” Katanya,

            “aku tidak peduli.”

            “ayo kutraktir makan es krim.”

            “tidak mau dan tidak suka, aku mau pulang.” Kataku masih kesal.

            “kalau kau tidak mau kutraktir izinkan aku mengantarmu pulang sebagai permintaan maafku. Kali ini aku bersungguh-sungguh. Tenang saja kau tidak akan kuapa-apakan.” Dia berkata dengan tatapannya yang benar-benar menatapku. Aku tau tatapan ini. mengapa mereka bisa memiliki tatapan yang sama. Aku buru-buru menghindari tatapan itu. tidak tahan.

            “tunggu disini, aku ambil mobil sebentar.” Katanya. Aku hanya menurut, berdiri dalam diam, memandang langkahnya setengah berlari meninggalkanku. Tatapannya benar-benar membuatku tidak bisa berpikir jernih, aku benar-benar merindukan tatapan itu.

            Tidak lama kemudian sebuah mobil audi putih tepat berhenti didepanku. Lagi lagi, pikiranku kembali berantakan. Bahkan mobil mereka sama. Aku takut. Aku tidak mau terulang lagi.

            Seseorang keluar dari balik pintu kemudi, kemudian berjalan mendekatiku, membukakan pintu untukku. Dia masih belum menyadari bahwa aku tidak bergerak. Aku masih diam memandang mobil itu.

            “halo? Kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil menggoyangkan tangannya didepan wajahku, menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.

            “mmm kau tidak usah mengantarku, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih atas tawarannya.” Aku berkata pelan, sebenarnya aku takut dia tersinggung karena dia sudah mengambil mobilnya dan menawariku pulang. Aku juga tidak tega memintanya mengganti mobilnya. Memangnya dia punya berapa mobil? Tidak tau diri sekali aku jika memintanya.

            “baiklah baiklah aku tidak akan memaksa. Sulit sekali menghadapi wanita ternyata.” Katanya dengan nada sedikit kecewa.

            “maafkan aku.” Sungguh kali ini aku tidak enak hati padanya. Tapi mau bagaimana lagi? tatapannya, dan mobil itu. mengingatkanku dengannya.

            “lagi-lagi, aku tidak akan memaafkanmu, kita belum berkenalan. Siapa namamu?” tanyanya sambil menyilangkan tangan didada. Memandangku gemas.

            Aku tidak bisa memandangnya, aku hanya mampu memandang dadanya. “Kay, mm namaku Kay.” Jawabku pelan.

            Dia hanya terperangah. “Kay? Benarkah? Namaku Kai.” Sambil mengulurkan tangannya

            “hah, aku tau kau marah tapi tidak perlu menirukan caraku mengucapkan ‘namaku Kay’.”

            Aku kembali menatapnya, berusaha untuk berani menatap wajahnya. Dia balas menatapku tapi dengan tatapan bingung.

            “aku tidak sedang menirukanmu, namaku Kai. K-A-I. well sebenarnya namaku Kim Jong In. tapi kau bisa memanggilku Kai. Lebih mudah.” Katanya menjelaskan dengan nada yang mengisyaratkan see? Aku tidak menirukanmu.

            Astaga aku malu sekali, bodohnya aku, memangnya didunia ini hanya aku yang memiliki nama Kay, biarpun hanya beda 1 huruf tetapi cara mengucapkannya tetap saja sama. Aku benar-benar menyesal. Menolak tawarannya pulang, salah sangka dengan maksud namanya. Sial sekali aku hari ini. aku pun segera meminta maaf lagi padanya.

            “tiga kali, dalam waktu kurang dari satu jam kau sudah meminta maaf padaku tiga kali. Dengar, ini bukan sepenuhnya salahmu dan …. “ ia tampak berpikir sejenak

            “dan aku masih belum memaafkanmu, jangan tambah dosamu lagi padaku okay? Kapan-kapan aku akan menagih permintaan maafmu, dan sebelum aku memberikanmu maafku biarkan aku memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa memaafkanmu.” Katanya dengan senyum tipis yang terukir dari bibirnya yg errr seksi.

            ‘Klik’ suapa apa itu? seperti suara jepretan foto. Aigo apa dia memfotoku? “apa yang kau lakukan?”

            “berapa nomormu?” tanyanya langsung tanpa menjawab pertanyaanku tadi.

            “aku belum membeli nomor baru. Aku masih menggunakan nomor lamaku, dan itu tidak akan aktif disini.” kataku baru ingat bahwa di handphone ku masih menggunakan nomor Indonesia. Kukutuk diriku sendiri benar-benar konyol.

            “Tuhan, yeoja ini membuatku gila.”

            Kai tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya kulihat dia mengambil spidol dan kembali menghadapku, mengambil tanganku dan mencoretkan sesuatu disana. Astaga bagaimana mungkin namja ini seenaknya mencoret-coret di tangan seorang yeoja?

            “nah, ini nomorku, setelah ini kau pulang lah dengan selamat sungguh aku takut kau kenapa-kenapa, baru kali ini aku bertemu yeoja yang rumit, firasatku sungguh tidak enak.” Dia berkata serius. “dan jangan lupa membeli nomor baru, jika sudah telfon aku. Okay?”

            “cih, memangnya kau siapa? Kenapa aku harus menelfonmu? Kurang kerjaan sekali.” Aku berkata dan memutar bola mataku. Menyebalkan sekali namja ini

            “pulanglah, ingat kau harus menghubungiku segera.” Ia masih mengingatkanku.

            “ne, bye” kataku malas, tidak ada niat melanjutkan percakapan ini dengannya. Lagi.

            Aku pun memutar badanku berjalan dengan kaki sedikit kuhentakkan sedikit kesal dengan perlakuan namja tadi, tidak bukan sedikit kesal tetapi sangat kesal. Cukup kesialan yang menimpaku hari ini, jangan ada yang selanjutnya kumohon.

 

            ***

 

            “chagi, ini appa belikan ponsel baru. Punyamu yang lama disimpan saja, ponsel ini sudah di setting menggunakan nomor korea.”  Kata appa menghampiriku ketika aku sedang duduk di ayunan sambil mendengarkan lagu.

            “thanks dad.” Balasku, aku kembali melanjutkan menikmati lagu yang kudengar. Lagu appa pun segera beranjak dari sisiku. Sebelum pergi aku sempat bergumam.

            “gomawoyo appa karena selalu berada disisiku. Aku merindukannya.” Gumamku memejamkan mata. Tiba-tiba appa duduk disebelahku dan memelukku. Aku pun tak kuasa menahan tangisku. Aku menangis. Menangis lagi karenanya.      

            “appa juga merindukannya chagi. Jangan menangis lagi, cukup sudah menyalahkan dirimu. Tidak ada yang menyalahkanmu. Kembalilah jadi bintang appa yang dulu. kita juga masih bisa melihat langit kita.” Appa berkata dan mengelus punggungku. Rasanya hangat sekali. Hanya appa yang bisa menenangkanku selain dia.

            Lama sekali appa memelukku. Menyalurkan segenap cintanya kepada anaknya. Appa sangat mengerti tentangku terlebih karena aku tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Ia rela melakukan apa saja. Pasti berat baginya mengurus dan menjaga kami sejak kecil. Tetapi appa menjalankannya dengan senang hati, tidak pernah merasa kerepotan. Sungguh aku amat menyayanginya. Tuhan tolong jangan ambil lagi orang yang kucintai.

            Appa lalu meninggalkanku yang masih duduk santai di ayunan. Aku memandangi ponsel pemberian appa, selalu saja ada bandul bintang yang menggantung. Aku selalu menyukainya. Kukotak-atik ponselku melihat-lihat kontak hanya ada nomor ponsel appa, halmeoni, halbeoji, nomor rumah, nomor supir, kantor appa. Ternyata appa sudah memasukkan nomor-nomor penting. Memangnya siapa lagi yang penting? Aku merutuki diriku sendiri, bisa dikatakan aku tidak punya teman. Siapa yang mau berteman denganku? Bergaul saja aku tidak pernah.

            Sekelibat bayangan namja yang memiliki bibir err sexy tadi menghampiri pikiranku, aku pun teringat dengan coretannya. Seenaknya mencoret tangan orang lain, menggunakan spidol marker pula. Jelas sekali masih berbekas nomor ponselnya di tanganku. Bagaimana menghilangkannya? Kai kau sungguh terlalu >.< eottoeke? Pertama-tama aku menyimpan nomornya, kuberi nama apa ya dikontakku? Ahh aku tau, Freak Kai. Nama yang cocok sekali. Amat sangat cocok, tadinya aku ingin memberi nama Kai babo tetapi aku kan masih punya hati hahaha. Lalu aku pun men-dial nya, masih terdengar nada pertama, kedua, sampai yang ketiga barulah telingaku mendengar suaranya yang aga serak-serak basah

            “yeoboseyo, nuguya?” sapanya

            Aku pun menjawab “mmm ini aku Kay.”

            “Kay? Hey yeoja rumit, ada apa menelfonku?”  awalnya suaranya agak kurang yakin, pasti dia masih mengingat-ngingatku, belum 24 jam tetapi dia sudah lupa. Dasar pikun, bahkan halbeoji tidak sepikun dia. Dan mengapa pula dia menanyakan mengapa aku menelfonnya, bukankah dia yang menyuruhku menelfonnya ketika sudah sampai rumah. Benar kan otaknya sudah benar-benar melewati halbeoji -___-

            “bukankah kau yang menyuruhku untuk menelfonmu ketika aku sudah dirumah?” aku bertanya kesal.

            “benarkah? Aku tidak ingat pernah menyuruhmu begitu. Ngomong-ngomong kenapa kau baru menelfonku sekarang? Hampir 10 jam sejak kita bertemu, sejauh itukah rumahmu?”

            Astaga namja ini benar-benar, rasanya aku ingin memukul kepalanya itu. sifat pikunnya sungguh terlalu. Dan sejak kapan dia menghitung kapan terakhir kali kami bertemu.

“aku hanya baru ingat bahwa ada nomor ponsel ditanganku, namja yang seenaknya mencoret-coret tanganku, dan sampai sekarang aku harus memutar otak bagaimana caranya menghilangkan tulisan ini.” aku mendengar dia terkekeh. “ Sudah ya sepertinya tidak ada yang perlu dibahas. Annyeong” aku berniat menekan tanda merah di ponsel tiba-tiba dia menahanku.

“mmm Kay?”

“ya?”

“good night, have a nice dream” katanya pelan.

“eh? Good night” balasku.

 

            ***

 

“setelah ini bagaimana kalau kita jalan-jalan mengelilingi seoul? Sudah lama kita tidak jalan-jalan chagi. Sekalian kita melihat sekolahmu.  Appa memutuskan untuk memilih sekolah seni. Kau bisa bermain musik, apalagi piano. Sudah lama sekali appa tidak mendengar suara dari alat musik kesayanganmu itu.” ntah mengapa appa sangat antusias dengan pilihannya ini.

            “please don’t, ahh maksudku shireo appa. homeschooling lebih baik.” Jawabku meyakinkan appa, sungguh aku belum memiliki keberanian bermain piano lagi. alat musik yang tidak pernah kumainkan lagi setelah 2 tahun terakhir.

            “sayang, bukankah selama ini kau hanya sekolah dirumah? Cobalah untuk bergaul, kau perlu menyesuaikan diri. Ayolah, kita lihat saja dulu. Siapa tau setelah melihat sekolah yang appa pilih kau akan berubah pikiran.” Bujuk appa.

            Aku harus menjawab apa? Halmeoni dan halbeoji hanya memandangku sepertinya mendukung apa yang appa lakukan.

            “baiklah, hanya melihat-lihat.” Kataku tegas.

 

            ***

            Berhubung di seoul sedang hangat-hangatnya aku memakai dress berwarna cokelat muda yang panjangnya selutut dan diserasikan dengan cardigan. Untuk sepatunya aku memakai flat shoes. Sebenarnya sepatu favoritku sepanjang masa adalah sneakers, selain nyaman sepatu itu cocok dipakai dimanapun, kecuali ketika pesta hahaha. Aku pun berdiri didepan kaca yang tinggi tetapi tidak lebar. Tingginya hampir sama denganku. Kupandangi diriku dari atas hingga bawah, masih kurang. Aku mengambil kain bando lalu kutaruh diatas kepalaku, kuikatkan ke belakang bagian bawah rambutku dan memutarnya kembali keatas untuk membentuk sebuah pita. Tidak lupa pula kupakaikan jam tangan berbentuk bintang dipergelangan tangan kiriku. Perfect.

            Ketika akan berangkat kuputuskan untuk duduk dibangku belakang, masih takut untuk duduk disebelah kemudi. Mengingat kejadian itu. tetapi appa memaksaku untuk duduk dibangku depan, tentu saja dengan segala macam alasan.

            “Karena appa bukan supir chagi, dan teganya kau membiarkan appa duduk didepan sendiri? Meratapi nasib ini. teganya teganya teganya” kata appa agak lebay.

            “OMOOOOOOOOO, appaaaaa jangan berkata seperti itu lagi, aku jijik mendengarnya. Amat sangat tidak pantas. Ne ne aku duduk didepan.” Akhirnya aku menyerah dan dengan langkah cepat aku membuka pintu menghempaskan diriku di jok depan dan menutup pintu dengan kuat.

            “jangan marah seperti itu chagi, tampangmu bahkan lebih menyeramkan daripada hantu di film horror indonesia. Pasang seatbelt mu juga chagi ini bukan di Indonesia. Kau tidak mau appa masuk penjara bukan?” appa berkata panjang lebar. Astaga bagaimana bisa appa bisa berbicara begitu panjang mengalahkan kereta api? Kurasa jika appa bergabung dengan ibu-ibu PKK (Perempuan Kurang Kerjaan) appa akan sangat cocok -__-

            Tentu saja appa bisa menjadi seorang eomma. Tugas yang telah dilakukannya selama lebih dari 18 tahun. Aku bahkan tidak pernah tau bagaimana rasanya memiliki seorang eomma. Dan aku juga merasa tidak memerlukan seorang eomma biarpun aku wanita. Appa sudah menjadi orang tua yang hebat. Menjagaku dan juga dia dengan sangat baik. Aku juga bukan seorang pemaksa yang memaksa appa untuk menikah lagi dan mendapatkan seorang eomma.

            Terakhir kali aku ke Seoul kurang lebih 2 tahun yang lalu tidak banyak yang berubah dari Kota ini.Melewati taman, ah itu kan taman favoritku ingin sekali rasanya mampir tapi sudahlah. Sepanjang perjalanan appa terus mengoceh betapa ia merindukan seoul, dan berencana mengajakku ke lotte world. Demi tuhan itu kan tempat bermain dan aku harus menemani appa kesana? Malu sekali, kurasa appa harus ingat umur. Aku tau appa tidak bisa dibilang tua. Well ia masih sangat tampan diumur yang bahkan belum menginjak usia 40. Yeah appa dan eomma menikah muda katanya agar awet muda. Apa hubungannya? -_-  yang paling gila appa ingin ke kebun binatang karena ia merindungan harimau disana.

            “appa punya perasaan sendiri terhadap harimau disana chagi. Dan appa sudah berjanji dengan harimau itu untuk menjenguknya” kata appa

            “WHAT THE…………….? Appa itu hanya harimau. Ha-ri-mau. Untuk apa dijenguk?” aku berkata sambil menekankan setiap kata pada kata harimau. Maksudnya dengan perasaan dengan harimau itu apa? Jangan bilang appa akan memelihara harimau dirumah. Cukup anak macan yang pernah dipelihara itupun hanya bertahan 3 bulan karena keracunan. Appa bilang ia ingin peliharaannya menjadi seorang vegetarian? -______-

            “pokoknya kita tetap harus ke kebun binatang chagi. Akhir minggu ini karena minggu depan kau sudah masuk sekolah dan appa juga sudah sibuk dikantor, arasseo?” kata appa dengan memaksa.

            “shireoooooo, appa. Ketempat lain saja. Jebaallll” pintaku dengan gaya semelas mungkin.

            “no no no. appa harus menepati janji dengan harimau itu chagi. Sekali ini saja, ne?” sekarang giliran appa memasang wajah semelas mungkin.

Aku diam, oke ini berarti aku menyetujui. Ini gila, benar-benar aku menyerah sekarang. Seseorang tolong aku kumohon.

 

            *some minutes later*

 

            “alright, gotcha. Bagaimana chagi? Bagus kan sekolahmu?” appa bertanya dengan nada yang amat antusias.

            “biasa saja” jawabku santai

            “tunggulah sampai kita masuk. Kau pasti suka” appa berkata dengan sangat yakin

            Aku pun melepas seatbelt dan turun dengan tampang tidak bersemangat akibat pemaksaan yang dilakukan appa. Ini penindasan, pelanggaran terhadap hak asasi anak. Dimulai masuk lobby sekolah. Beberapa foto, piagam dan piala dipajang disepanjang ruangan yang amat besar itu. kesan pertama bagus, aku suka dengan interiornya yang tidak terlalu norak. Bahkan di lobby terdapat grand piano. Aku rindu memainkan itu. aku rindu dia. Aku tau appa tidak mungkin memasukkanku ke sekolah lamaku di seoul. Itu akan membuatku teringat padanya, ntah itu perasaan sedih atau bersalah. Biarpun sekolah ini berbeda tapi tetap saja segalanya tentang musik mengingatkanku padanya.

            “annyeong haseo. Apakah anda Tuan Choi?” Sapa seseorang membuatku dan appa beralih menatapnya.

            “annyeong haseo. Ne, saya ChoiSeung Ji dan ini anak saya Choi Hyo Na”

            “nama saya Lee Dong Won. ini pasti putri anda yang akan masuk sini? Teman anda Tuan Kim sudah memberi tahu saya tentang kedatangan anda hari ini, mari saya antar ke tempat lebih nyaman. Lobby bukanlah tempat yang enak untuk mengobrol.” Lelaki itu menawarkan kami untuk pindah, kami pun berjalan ke ruangan yang berisi beberapa buku dan foto-foto. Mungkin ini ruang tamu.

            “Hyo Na, kau suka seni? Bermain alat musik, melukis, menari,  atau acting, ah maaf aku lupa kau mungkin belum lancar berbahasa korea? Benar?” Tanya Tuan Lee padaku.

            “anda bisa memanggil saya dengan nama Kay. Ne, belum terlalu lancar. Saya hanya sesekali saja ke korea. terakhir kali mengunjungi seoul sekitar 2 tahun lalu. Lagipula tidak ada lagi yang bisa saya ajak bicara dalam bahasa korea. Saya dan appa terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa inggris.” Jawabku menggunakan bahasa inggris menjelaskan bahwa aku belum lancar berbahasa korea.

            “maaf Tuan Lee, sebenarnya anda juga tau sendiri Hyo Na bukanlah orang korea asli. Dia hanya mendapat gen itu dari saya. Ibunya orang Indonesia asli, dan saya sendiri juga bukan korea asli. Ibu saya murni orang korea dan ayah saya orang inggris. Itulah mengapa Hyo Na tidak terlalu menganggap bahasa korea penting  untuknya. Kalau saya tidak memaksa mungkin kami tidak akan tinggal disini.” Kata appa menjelaskan panjang lebar agar Tuan Lee memaklumi bagaimana aku berbicara dan bersikap.

            Aku tau sebenarnya Tuan Lee pastilah mengetahui bahwa aku tidak terlalu lancar berbahasa korea. Dari tampang saja sudah menunjukkan bahwa aku bukan orang korea asli. Well kecuali rambut hitamku yang panjang tetapi bergelombang hingga mencapai pinggang. Aku tidak memiliki mata yang sipit seperti orang korea kebanyakan, hidungku juga tidak terlalu mancung. Bibirku kecil tipis, alisku hitam tidak terlalu tebal dengan bulu mata yang bisa dikatakan amat lentik, aku bangga sekali dengan bulu mataku ini. Kulitku juga tidak seputih orang korea yang sudah seperti susu. Dan yang terakhir bola mataku berwarna cokelat.

            “gwenchana Tuan Choi, saya mengerti. Bukankah bahasa inggris juga sangat penting? Saya rasa nanti Hyo Na bisa beradaptasi dengan cepat, saya melihat dia anak yang mudah bergaul. Teman-temannya disini juga pasti akan menerimanya dengan senang hati.” Tuan Lee berkata sambil menyunggingkan senyumnya. Selang berapa lama ada pelayan menawarkan kami minuman. Aku hanya meminum sedikit lalu beranjak mengelilingi ruang tamu di sekolah ini. appa dan Tuan Lee sedang berbincang-bincang dengan cukup serius. Aku tidak mau mengganggu acara kedua orang tua itu.Tuan Lee berkata bahwa aku bisa berkeliling sekolah ini kalau mau dan menawariku untuk ditemani oleh staff disini tetapi aku menolak. Berkeliling sendiri rasanya lebih menyenangkan.

            “Kay, jangan terlalu jauh, nanti kau tersesat. Ingat kalau ada apa-apa telfon appa. Atau kau bisa bertanya dimana ruang tamu berada. Hati-hati , kalau jalan lihat-lihat jangan sampai menabrak seseorang” appa menasihatiku dengan aksi lebaynya.

            “Ne, arasseo appa. Tidak perlu menasehatiku seperti itu aku bukan lagi anak umur 5 tahun” balasku kesal dengan memanyunkan bibirku.

            Tuan lee terkekeh melihat tingkahku dan appa. “anda terlalu mengkhawatirkannya tuan, bukankah Kay sudah bisa dibilang dewasa.”

            “bukan begitu tuan Lee. Aku sudah pernah merasakan yang namanya kehilangan, dua kali. Itu bukan sesuatu yang menyenangkan dan aku juga tidak berharap ada yang ketiga.” Appa menerawang. Aku buru-buru keluar ruangan sebelum mendengar percakapan ini lebih lanjut. Tidak tahan jika sudah membahas kehilangan.

            Aku menyusuri koridor yang panjang, ohh ternyata ini  wilayah kelas 12 karena aku melihat papan kecil diatas pintu bertuliskan kelas 12. 12-1 12-2 12-3 aku berhitung dalam hati ternyata ada sampai 12-7. Aku pun melanjutkan eksplorasiku di sekolah ini, dan menemukan ada jembatan. Aku berdiri ditengah-tengahnya melihat pemandangan yang ada dibawah dan disekeliling. Masih sepi, oh iya kan masih jam pelajaran aku bergumam sambil melihat jam tanganku. Aku melihat hanya ada beberapa anak di ruang dance sedang berlatih, ada juga yang sedang bermain flute, dan ada juga yang berada di kantin berkumpul.

            Aku hanya meletakkan daguku diatas tanganku yang kuletakkan di pinggiran jembatan yang berada didalam sekolah ini. sampai akhirnya aku menyadari ada seseorang yang menawariku permen lollipop.

            “Hai, boleh berkenalan? Sedang apa disini?” namja itu bertanya sambil menyodorkan lollipop cokelat, rasa favoritku.

            “Siapa kau?” aku mengamatinya dari atas sampai bawah. Dia menggunakan jas berwarna kuning. Seragam sekolah ini tentu saja di dada sebelah kirinya ada tulisan SOIA, School Of International Arts. Oh siswa disini rupanya.

            Kami berbicara menggunakan bahasa inggris. Aku tidak tau darimana dia mengetahui jika aku tidak terlalu lancar berbahasa korea. Aduh ingin sekali rasanya menerima lollipop itu tapi kata appa aku tidak boleh menerima sembarangan pemberian orang asing >.<

            “ambil dulu permen ini, tidak baik menolak sesuatu dengan orang yang bermaksud baik denganmu.” Kata namja itu. sedikit memaksa.

            “tidak baik menerima pemberian orang yang tidak dikenal, berbahaya.”

            “pengecualian untukku, ini” dia mengambil tanganku lalu meletakkan permen lollipop itu. benar kan pemaksa sekali -__-

            “namaku Oh Sehun. Namamu?”

            “harus kuberitahu?” aku balik bertanya.

            “tentu saja, aneh sekali rasanya berbicara dengan seseorang tetapi tidak tahu namanya.”

            “Ingin tahu namaku? Ingin kuberitahu nama koreaku atau nama yang kusukai?” tanyaku skeptis.

            “Serius, ini pertama kalinya aku menemukan seseorang yang membuat segalanya sulit. Hanya menanyakan nama kenapa harus balik bertanya? Memangnya kau punya berapa nama?” sehun sedikit tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

            “Apa yang salah? Aku hanya ingin memastikan. “ aku menjawab tanpa memandangnya

            “Ne ne sebutkan semuanya, nama korea mu nama favoritmu nama orang tuamu, sekalian nama peliharaanmu juga boleh. Hahaha…………” sehun tertawa dengan keras.

            Menarik, bagaimana aku bisa berpikiran seperti itu? belum sejam aku bertemu dengannya. Oke dia menyebalkan. Me-nye-bal-kan .

            “Hyo Na. Choi Hyo Na. tapi kau bisa memanggilku Kaysha, aku lebih suka nama Kaysha. Kay saja juga sudah cukup.” 

            “nama yang bagus, aku suka. Kau akan mendaftar disini?”

            “thanks, belum. Aku hanya melihat-lihat saja dengan appaku. Tapi kurasa aku akan masuk sini meskipun aku menolak tidak akan ada gunanya. Appaku orang yang sedikit pemaksa. Hey bagaimana kau tau aku bukan siswi disini?” tanyaku baru sadar. Memandangnya penasaran

            “Biarpun aku tergolong orang yang jarang masuk sekolah at least aku mengetahui wajah-wajah mereka. Dan kau terutama, the unique one.”

            “Kau kelas 12?” tanyaku lagi.

            “Hmm hmm,kau akan suka disini. Kalau kau memang menyukai seni.” Gumamnya.

            “Bahasa inggrismu cukup bagus, kau pintar hahahha” aku tertawa mengejek

            “kau terlalu meremehkan, baiklah aku pakai bahasa korea saja. Agar kau cepat lancar berbahasa korea dan tidak akan dibodohi disini karena kau sudah bisa berbahasa korea. kau harus selalu bersamaku” katanya yang berhasil membuatku terkejap seketika. Bukan, bukan diawal tapi diakhir ucapannya.

            Sebelum aku bertanya lebih lanjut tentang maksudnya itu tiba-tiba lagu missin u  mengalun.

            “Yeoboseyo, appa? Ne? mm aku lagi di………… “ kata-kataku terputus ketika appa menanyakan dimana aku sekarang, aku melihat sekeliling mencari tau dimana aku sekarang. Sehun yang tau gelagatku pun berdehem

            “Di jembatan perbatasan kelas 12. Katakan saja begitu.”

            “Di jembatan perbatasan kelas 12 appa. Appa akan kesini? Ne aku tunggu. Arasseo arasseo aku akan menunggu disini tidak akan kemana-mana.” Kataku meyakinkan. Konyol sekali rasanya jika aku menjadi korban anak hilang disekolah ini.

           

            *some minutes later*

 

            “Wah wah belum seminggu kau disini kau bahkan sudah berhasil mendapatkan pacar? Siapa namamu nak?” Tanya appa memandang sehun dan aku sambil senyum-senyum.

            “Mwo? Dia bukan pacarku appa. Kami baru bertemu hari ini”

“Oh Sehun imnida. Ahaha aku bukan pacar Kay, ahjussi. Tetapi aku juga tidak akan menolak gadis secantik Kay” Kata sehun berhasil membuatku ternganga tak percaya. Punya maksud apa dia berkata seperti itu? bagaimana jika ternyata appa menganggap perkataannya serius. Huh !!

            “Kay akan masuk sekolah ini, jadi ahjussi mohon bantuannya agar kau mau membantu Kay jika dia butuh bantuan, karena dia belum bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Tidak merepotkan?”

            “Tentu saja ahjussi. Dengan senang hati saya akan membantu Kay.”

            “Kalau begitu kami pergi dulu sehun-ah,kami masih harus mengurusi beberapa urusan.” Aku ragu dengan kata-kata appa tentang beberapa urusan. Salah satunya pasti mengenai menjenguk harimau dikebun binatang. Aigoo kenapa appa kekanak-kanakan sekali.

“ Semoga harimu menyenangkan.” Sahut appa. Kami pun pergi meninggalkan sehun yang masih dibelakangku. Sekilas kutatap ia yang masih mengamati langkahku meninggalkannya jauh. Sebelum benar-benar jauh dia melambaikan tangannya padaku. Ragu-ragu aku membalas lambaiannya plus sedikit senyumku.

 

***

 

Minggu ini kuhabiskan hanya dirumah saja, menonton tv, browsing, main bersama anjing chihuahuaku, Mars dan Venus. Anjing pemberian appa, katanya ketika melewati pet shop anjing ini mengingatkannya dengan anak-anaknya. Sejak kapan aku disamakan dengan Chihuahua? Aku kan bukan peliharaan Paris Hilton -__-

Karena mulai senin besok aku sudah masuk sekolah. Malas sekali rasanya, ya ini pertama kalinya aku masuk sekolah formal karena seumur hidupku aku selalu bersekolah dirumah bersamanya. Intinya dihidupku hanya ada dia selalu.

Suara appa membuatu mengalihkan perhatianku. Appa masuk kedalam rumah sambil berteriak-teriak memang dikiranya rumah ini hutan. Omo kurasa appa dulunya ingin jadi tarzan.

“KAYYY YUHUUUUsini sebentar Kay, ada yang mau appa kenalkan.” Appa berteriak dari bawah. Aku segera turun kebawah dengan sedikit berlari.

“Nah, Kay ini Tuan Kim, Kim Young Dae dan ini anaknya Cher. Putri Tuan Kim ini juga seumuran denganmu. Cher juga a half Korean.”

Aku melihat dua orang sedang duduk di sofa, seorang pria semumuran dengan appa, ah tidak lebih tua sedikit, Appaku itu masih muda untuk ukuran bapak-bapak hahaha. Dan disebelah kanannya seorang anak perempuan yang masih remaja mungkin seumuran denganku, cantik dan mirip denganku. Maksudnya mirip kami sama-sama memiliki muka blasteran, dan yang sangat amat jelas bola mata kami berwarna cokelat terang dan tidak sipit. Hidungnya mancung. Kesan pertamaku dia bukan anak yang feminin, dilihat dari caranya berpakaian dia hanya mengenakan celana panjang dengan kaos putih belambang peace, dipaskan dengan kalung yang juga berlambang peace. Rambutnya yang berwarna agak sedikit cokelat dikuncir kuda menyisakan beberapa helai rambut disisi kiri dan kanan wajahnya. Dia berjalan mendekatiku dan mengulurkan tangannya

“Hello Kaysha, my name is Cheryl but you can call me Cher. Nice to meet you.” Sapanya menggunakan bahasa inggris.

“Hai, you can call me just Kay, nice to meet you too.” Balasku sambil menyunggingkan senyumku. Aku tidak pernah lagi bergaul dengan orang lain sejak dia pergi. Tapi entah kenapa Cher seperti membawa aura positif, hanya dengan melihatnya semuanya  terasa nyaman.

“Sebagai tanda perayaan atas pertemuan kita hari ini aku punya sesuatu untukmu. Look! Here it is.” Ia berkata sambil menggoyangkan 2 lembar kertas di tangannya.

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Tiket konser tentu saja.” Jawabnya antusias.

“Mmm aku tidak terlalu suka nonton yang seperti itu Cher. Pasti ramai sekali.”

            “No no no tidak ada penolakan, believe me you wont regret. Lagipula ini tiket VVIP tenang saja, kita akan berada persis didepan panggung. kita tidak akan berdesak-desakkan. Kau hanya tinggal duduk manis dan mendengarkan aku yang akan berteriak-teriak” katanya sambil nyengir.

            “Tidak baik menolak ajakan orang yang bermaksud baik padamu Kay. Tenang saja kau sudah dapat SIP dari appa.” Kata appa.

            “Apa itu SIP? Tuan Choi?” Tanya Cher.

            “Surat Izin Pergi” appa hanya nyengir. Astaga Cher dan Appa cocok sekali.

            “Sebaiknya kau ajak Cher main ke kamarmu Kay atau ke taman belakang.” Jelas appa.

            “Mmm kita ke taman belakang saja yaa, lets go.” Aku menarik tangan Cher.

 

            ***

 

            “Whoooaa tamanmu bagus sekali. Banyak sekali bunganya.” Cher berkata dengan semangat.

            “Thank you. Ini semua yang mengurus halmeoni-ku. Beliau sangat suka bunga.” Pandanganku tidak pernah lepas dari bunga anyelir merah muda yang ada didepanku, kusentuh pelan kelopak bunga ini.

            “Oh ya where are your grandparents?”  Tanya Cher.

            “Mereka sedang menghadiri acara rekan bisnis halbeoji di jepang. Halbeoji ku itu workaholic. Padahal sudah ada appa yang mengurus perusahaan tetapi halbeoji tetap ingin turun tangan.”

            “Hahaha orang tua, begitulah mereka. Ngomong-ngomong ini bunga apa?”Tanya Cher menunjuk bunga yang kusentuh.

            “Anyelir atau carnation. Melambangkan ikatan kasih sayang, kesehatan, energy. Merah muda, aku tidak akan melupakanmu, merah juga berarti aku menginginkanmu.” Gumamku pelan.

            “bunga yang indah, seindah namanya.” Cher berkata tanpa tau aku sedang melamunkan seseorang yang amat sangat jauh.

            “ayo duduk diayunan sana saja. Tempat favoritku sepanjang masa” ajakku.

            Kami pun duduk diatas ayunan yang sudah beralaskan busa empuk, menggerakkan kaki kami perlahan membuat ayunan bergoyang ke depan ke belakang. Bercerita tentang masa kecil kami, kebanyakan aku hanya mendengar kisah kecil Cher ketika masih di kanada. Sama lagi sepertiku, ibunya Cher juga telah tiada tetapi setidaknya Cher pernah merasakan kehadiran seorang ibu. Ibunya meninggal ketika ia berumur 7 tahun karena kecelakaan. Semenjak saat itu Cher dan ayahnya tinggal di Seoul. menjauh, mungkin itu kata yang tepat untuk kami melupakan orang yang pernah mengisi hari-hari kami. Tidak banyak yang bisa kuceritakan pada Cher, hanya beberapa kisah kecilku yang tinggal di Indonesia ketika masih bersamanya. Cher tau bagaimana rasanya kehilangan sehingga ia tidak banyak bertanya tentang dia.

            Cher juga bercerita tentang sekolahnya, maksudnya sekolah kami. Ya aku bersyukur kami akan satu sekolah karena aku tidak yakin tentang ‘mendapatkan sahabat baru’ disini.

            “besok kau akan masuk sekolah bukan?” tanyaku pada Cher.

            “tentu saja, why?”

            “ahh tidak, hanya saja aku bersyukur kita satu sekolah, setidaknya aku sudah mendapatkan satu teman, aku takut sekali besok, untung saja ada kau.” Aku tersenyum.

            “tenang saja, kau tidak akan jadi korban bully. Karena ada aku. Kau tau? Aku juga tidak punya teman dekat, dengan mereka aku selalu merasa berbeda, entahlah hanya berbeda. Kau tau kan kita berbeda dengan mereka. Aku tidak tau mereka menganggapku berbeda atau tidak, atau hanya perasaanku saja. Maksudku berbeda bukan karena status kita. Dilihat dari wajah kita saja sudah menunjukkan kita berbeda, sebelum pergi ke sekolah aku akan menjemputmu dulu, okay?” kata Cher sambil mengangkat tangannya menyatukan ujung jari telunjuk dan jempol.

            Karena ada aku. Kumohon jangan pergi lagi. Aku teringat padanya. Selalu.

            Cepat-cepat aku menyadarkan diriku sendiri, “tidak usah Cher, aku saja yang menjemputmu besok, lagipula aku ingin tau rumahmu. Besok aku akan meminta supirku untuk kerumahmu lalu kita berangkat sekolah bersama.” Kataku pada Cher. Sungguh aku tidak enak hati jika dia menjemputku. Lagipula yang butuh pertolongankan aku.

            “sippoooooo.”

            Kami masih bermain-main di taman belakang bersama Mars dan Venus. Lama sekali kami bermain. aku merindukan saat-saat seperti ini sejak dia pergi sahabatku juga pergi. Sampai akhirnya appa memanggil kami karena sudah tiba saatnya Cher pulang.

            “aku pulang dulu ya Kay. See ya tomorrow.” Katanya dan memelukku sekilas.

            “see ya. Hati-hati dijalan.” Balasku.

            “don’t forget to call me tonight. Teriaknya dari dalam mobil.”

            “sippooooo” aku menirukan gayanya tadi ketika kami mengobrol di taman.

            “hahahaah nice trying!” Cher tertawa.

 

            ***

 

            Pagi ini aku sedikit bersemangat karena akan masuk sekolah. Awalnya aku sangat tidak menyukai sekolah formal, bagiku selama masih ada dia yang senantiasa membantuku aku tidak butuh teman, tetapi  sekarang aku bisa sedikit mengobati luka itu. ini juga pertama kalinya aku menggunakan seragam sekolah. Seragam yang didominasi warna kuning danrok abu-abu tua sedikit diatas lutut. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Cher. Ketika sampai dirumahnya kulihat rumahnya masih sepi, hanya ada beberapa pelayan, mereka menuruhku masuk kudapati Cher duduk di depan TV sambil menyantap sarapannya.

            “Cher, kenapa masih santai? Ini sudah hampir jam 8.” Kataku lalu duduk disampingnya

            “hey kapan datang? Tenang saja babe kita tidak akan dihukum, don’t worry.”

            “kenapa?” tanyaku

            “tentu saja karena kau murid baru.” Jawabnya santai sambil meneguk minuman.

            “apa hubungannya?”

            “karena aku akan mengantarmu. Murid baru tidak akan dimarahi hanya karena terlambat dihari pertama masuk sekolah Kay hahahhaaha” Cher tertawa.

            “mmm baiklah.” Aku hanya menurut. Cher hanya tersenyum senang melihat tingkahku yang menurut sekali. Aku hanya menunggu Cher menyelesaikan sarapannya. Dia juga menawariku sarapan tetapi aku menolak karena aku sudah sarapan. Setelah selesai Cher mengambil tasnya dan menarik tanganku.

            “ayo berangkat, sudah jam 8” katanya tanpa dosa.

            “sudah lewat jam 8 Cher, sekarang bahkan sudah hampir jam setengah 9.”

            “hehehe ne, kajja” Cher hanya nyengir.

 

            ***

 

            Pertama kali menginjakkan kaki di sekolah formal. Kupandangi seluruh bangunan sekolah dari luar, gedung utama yang kukira memiliki 6 atau 7 lantai. Diatasnya bertuliskan tulisan korea, dan dibawah tulisan Hangeul bertuliskan School of International Arts Seoul. Sepi tentu saja karena sudah jam setengah 9. Cher berjalan santai masuk ke gedung utama sekolah aku hanya mengekorinya dibelakang.

            “ehm, bukankah sekarang sudah lewat jam 8? Nona Kim? Bisa kau jelaskan padaku? Kuharap kau punya alasan yang cukup rasional.” Ucap seseorang yang membuat kami menghentikan langkah kami.

            “begini seonsangnim, aku terlambat karena mmm karena aku menemani nona ini. dia siswi baru disini.” Cher mencoba menjelaskan dan menyenggol lenganku pelan.

            “ah Choi Hyo Na imnida, minggu lalu saya dan appa sudah kesini.” Kataku seraya membungkukkan badan.

            “ohh jadi ini nona Choi? Saya sudah dengar tentang kepindahan anda kesini. Rekomendasi dari appa mu nona Kim?” seonsangnim memegang dagunya manggut dan bertanya pada Cher.

            “benar seonsangnim, karena itu saya hari ini bertugas menemani Kay.”

            “baiklah kalau begitu mari ikut saya ke ruang guru, anda juga nona Kim.”

            “yes, kamsahamnida seonsangnim.” Cher tersenyum senang. Tentu saja ini berarti dia mengundurkan waktu untuk masuk kelas. Ckck dasar Cher.

            Selama perjalanan menuju ruang guru pikiranku melayang kemana-mana. Bagaimana dulu aku sangat menginginkan masuk sekolah formal tapi appa sangat menentangnya, awalnya aku juga bingung mengapa appa sangat menentangnya sampai aku tahu sesuatu yang tidak baik sedang melandaku. berbeda sekali  dengan sekarang kenyataan bahwa appa yang memaksaku masuk sekolah formal. Mengingat dulu masih ada dia yang membujukku untuk tetap sekolah tentu saja aku menyetujuinya, hanya dengan dialah aku jadi sangat penurut. Bagaimana dia menjadi temanku jika kami sedang sekolah. Sekolah dirumah.

            Sekolah, dulu aku sangat membencinya. Sebenarnya benci bukan kata yang tepat, bisa dibilang aku iri. Iri dengan mereka yang bisa bebas melakukan apa saja. Maksudku dalam arti apa yang biasa dilakukan remaja. Sering sekali aku jalan-jalan dan melihat beberapa perempuan dan laki-laki masih mengenakan seragam sekolah, berpikir kapan aku bisa seperti itu? ketika pertanyaan itu membayangi otakku aku bertanya padanya. Dia hanya menjawab hanya karena kau menginginkannya bukan berarti itu yang terbaik bukan?  Aku juga bukan orang yang bodoh, I’d love to say im genius. Sama seperti dia. Tetapi dialah yang paling jenius. Sekolah hanya 3 jam sehari dan itu pun dirumah. Dan ketika aku mulai merengek-rengek ingin jalan-jalan dialah yang dengan rela menemaniku.ketika aku ingin tidur dialah yang menyanyikanku lagu, ketika aku takut dialah yang menenangkanku. Bagaimana bisa aku melupakannya ketika dihidupku selama ini hanya dia. Aku bahkan tidak tau apakah dia bahagia karena selama ini hanya aku yang memenuhi hidupnya. Membuatnya tidak bisa seperti remaja lainnya. Dia selalu berkata karena aku bintangnya. Tentu saja di akan selamanya menjadi langitku.

            Kenanganku selama kurang lebih 17tahun hidupku dan hidupnya,hidup kami merasuki otakku. Kelainan jantung. Penyakit konyol. Setelah mengetahui bahwa aku menderita kelainan jantung aku mengerti alasan appa dan dia yang sangat protektif terhadapku. Bagaimana aku bosan dengan obat, bahkan obat-obat itu mengalahkan banyaknya cemilanku. Bau rumah sakit apalagi. Saking seringnya aku bolak-balik rumah sakit membuat suster-suster disana dan satpam mengenalku. Aku sangat membenci hidupku, aku ingin memberikan sesuatu untuk orang lain bukan memintanya. Bodoh sekali dia. Sekalipun aku selalu memaksanya melakukan sesuatu yang kuinginkan dan dia dengan senang hati melakukannya tanpa mengeluh tetapi bukan berarti dia seenaknya merelakan hidupnya untukku. Bukankah itu namanya bodoh?

            “Kay? Kau tidak apa-apa? Melamunkan sesuatu?” perkataan Cher menyadarkanku.

            Aku terkejap, “Im okay. Thanks.”

            Setelah melakukan Tanya jawab bisa dibilang wawancara aku hanya menjawab sekenanya. Seonsangnim hanya menanyakan nama orang tuaku, alamatku, alasan mengapa aku pindah untuk yang satu ini bukan pertanyaan yang kuharapkan. Mengapa aku tertarik masuk SOIA, tentu saja karena suruhan appa, aku berkata sejujur-jujurnya. Seonsangnim juga bertanya tentang minatku dalam bidang seni. aku menjawab bahwa aku tidak suka dance ataupun berniat menjadi artis, model apalagi. Bukannya aku tidak percaya diri hanya saja aku tidak suka diperhatikan banyak orang. Walaupun aku terbiasa diperhatikan oleh nannies (pengasuh) dirumah dan juga dia. Aku suka bermain piano dan kadang-kadang melukis. Berbeda dengan Cher yang sangat amat berbakat dalam bidang tari-tarian. Dia juga pernah menjadi model untuk beberapa produk baju. Mungkin karena wajahnya yang unik, bukan wajah orang korea asli. Tanya jawab berakhir ketika pria yang kukenali sebagai kepala sekolah dan orang yang kutemui dengan appa minggu lalu masuk ke ruang guru dan menemukanku.

            “hello Kay, how are you? You look beautiful with your new uniform.” Ucap pria itu.

            “well I’m okay, thank you and how are you?” jawabku dengan senyum terbaikku aku pun balas bertanya.           

            “I’m fine thank you. Saya rasa sudah cukup sesi Tanya jawabnya. Nona kim dan Nona Choi bisa kembali ke kelas. Kapan-kapan saya ingin berbincang dengan anda, bolehkah?” Mr. Lee bertanya padaku.

            “Tentu saja. My pleasure.”

            “kalian boleh meninggalkan ruangan ini. nona kim bisa anda membantu nona choi?” Tanya Mr. Lee kepada Cher.

            “yes I could. I promised my dad to help her. You can believe me.” Jawab Cher yakin

            “saya sudah mengatur semuanya. Kalian akan sekelas. Ini permintaan langsung dari tuan Choi kepada saya supaya Kay bisa sedikit relax dengan lingkungan barunya.”

            “kamsahamnida tuan Lee.” Aku menyunggingkan senyum terbaikku.

            “kami permisi dulu” ucap kami bersamaan sambil membungkuk.

 

            ***

 

            Cher menyeretku ke kelas kami. Kami melewati beberapa ruang kelas lorong yang sama dengan yang kulewati minggu lalu, untunglah kami sekelas. Kata Cher kelas kami adalah kelas 12-3, ada sampai 12-7. Kelas 12-3 berada ditengah-tengah didepan kelas 12-4. Ketika sudah sampai Cher membawaku masuk, semua murid yang dikelas memperhatikanku, tidak nyaman rasanya. Aku hanya memandang lurus ke arah Cher yang sedang berbincang dengan seorang guru wanita yang sedang mengajar di kelas kami. Cher berbisik padaku menyuruhku memperkenalkan diri dan dia seenaknya melenggang santai ke tempat duduknya. Dasar Cher sudah tau aku pasti gugup.

            Seonsangnim menyentuh bahuku pelan, sepertinya beliau mengetahui kegugupanku. Beliau menyuruhku memperkenalkan diri.

            “Choi Hyo Na imnida, saya baru pindah dari indonesia. Mmm mohon bantuannya.” Ucapku seadanya tidak lupa membungkukkan badan. Aku bingung sekali mau bicara apalagi.

            “kau tidak terlihat seperti orang korea.” Ujar seonsangnim.

            “memang saya bukan asli orang korea seonsangnim. Eomma orang Indonesia dan appa berdarah inggris dan korea karena halmeoni dari appa adalah orang korea dan halbeoji dari appa orang inggris.” Kataku menjelaskan.

            “wah menarik sekali, bisa berbahasa inggris?”

            “kami memakai bahasa inggris sehari-hari. Saya juga jarang menggunakan bahasa korea kecuali jika sedang berbicara dengan halmeoni.” Jawabku.

            “begitu? Bagus. Apa yang kau minati dari seni?”

            Tanpa banyak bicara aku menjawab “piano, saya sangat suka bermain piano”

            “kapan-kapan kau harus menunjukkan permainan pianomu pada kami, okay?

            “tentu” ayolah seonsangnim biarkan aku duduk, aku malu sekali berada didepan kelas begini. Aku masih belum menatap teman-teman baruku.

            Akhirnya seonsangnim menyuruhku untuk duduk, ternyata ada kursi kosong didekat jendela, tempat duduknya juga tidak terlalu belakang, nomor 3 dari depan. Kuputuskan untuk duduk disana, kakiku melangkah dengan pelan, kulirik Cher yang sedang mengobrol dengan teman dibelakangnya karena bangku sekolah kami satu-satu. Bukan satu meja berdua. Kuletakkan tasku diatas meja dan aku duduk kupandangi arah luar sekolahku lewat jendela, cukup puas dengan posisiku seperti ini. dari tempatku duduk kulihat lapangan yang cukup besar. Ada yang sedang bermain bola basket, pikiranku membawaku ke masa lalu. Bukankah basket merupakan olahraga favoritnya, tetapi dia jarang memainkannya jika didepanku. Karena bisa kupastikan aku akan merengek-rengek ikut main juga dan pastinya dia dengan tegas menolak menurutiku.

            Masih dengan pikiranku tentang masa lalu, sampai seseorang menepuk bahuku pelan. Ternyata Cher.

            “heyyaa melamun lagi? jangan sering-sering melamun nanti kau bisa kerasukan. Ayo kukenalkan dengan teman-teman, mereka excited sekali ingin mendengar ceritamu. Kajja.”

            Dan seperti biasa seenaknya Cher manarik tanganku membawaku ke bangkunya. Kulihat beberapa anak sedang berkumpul di depan meja Cher. Apa yang harus aku ceritakan? Dasar Cher selalu seenaknya. Tetapi aku tetap sayang padanya. Cher mendudukkanku di bangkunya kulihat beberapa pasang mata menatapku intens seperti ingin menginterogasiku.

            Awalnya aku agak risih dengan tatapan mereka tetapi Cher meyakinkanku bahwa mereka semua baik. Beberapa anak-anak di kelas mengerumuniku kami berbincang-bincang kebanyakan mereka menanyakan bagaimana Indonesia dan dengan senang hati aku menceritakan tentang Indonesia, mereka juga bilang bahwa kapan-kapan kalau sempat mereka akan mengunjungi Indonesia dan memasukkan Indonesia kedalam list vacation mereka.

            Hanya beberapa dari mereka yang aku ingat. 3 orang gadis yang cukup dekat dengan Cher. Yaitu Han Jihyun gadis mungil agak sedikit tomboy seperti Cher berambut sebahu yang memiliki lesung pipi di pipi kanan dan kirinya, kata Cher, Jihyun juga masuk kelas dance sama seperti cher, jihyun itu lincah diakibatkan kemungilannya.

            Ada juga Wu Hyera gadis  yang menurutku sangat kalem. Dan dia memakai softlens warna biru. Cukup aneh karena orang korea tidak memiliki warna bola mata biru. Keahliannya dibidang melukis. Ternyata keluarganya memang bekerja dibidang yang bisa dibilang cukup menguras imajinasi. Ayahnya seorang arsitek dan ibunya memiliki usaha dibidang design interior. Tidak aneh bakat hyera itu melukis.

            Dan yang terakhir Kang Jiwon gadis yang cukup tinggi untuk ukuran gadis remaja berumur 18 tahun. Kata Cher dia itu model kesan pertama aku melihatnya kukira dia anak yang sombong tetapi kata Cher, Jiwon itu sebenarnya gadis yang ramah jika kita berdekatan dengannya hanya saja dia sedikit cerewet tetapi tidak terlalu cerewet seperti Cher. Jiwon juga menyapaku ramah.

            Kami ber-5 bercerita panjang lebar kebanyakan aku hanya mendengar cerita-cerita teman-teman baruku ini. ternyata mereka termasuk keluarga terpandang. Dimulai dengan kisah Jihyun yang keluarganya masih memiliki perusahaan di bidang fashion yang pusatnya berada di Paris, awalnya dia berminat untuk menjadi model tetapi karena tingginya kurang mencukupi untuk seorang model jadilah dia memilih untuk menjadi dancer, dan orang tuanya juga menyetujui. Katanya keluarga mereka keluarga yang demokratis (?)

            Lain lagi dengan Hyera. Dia memiliki museum sendiri maksudnya museum yang isinya merupakan hasil karya yang tercipta dari tangan keluarga Wu yang berbakat. Museum tersebut ada di pusat kota, dan juga beberapa ada di eropa. Kata hyera di museum keluarga Wu bukan hanya berisi lukisan tetapi juga arca, patung, beberapa hasil pahatan dari kayu dan juga beberapa barang unik yang terbuat dari tanah liat. Aku ingin sekali melihatnya. Hyera berbakat sekali.

            Kalau jiwon dia bercerita tentang pengalamannya selama menjadi model, dikarenakan ibunya juga mantan model dan sekarang sudah pensiun dan memilih untuk menjadi designer. Dan juga jiwon merupakan anak terakhir dari 3 bersaudara, jiwon memiliki 2 kakak laki-laki kembar. Mungkin karena dia perempuan satu-satunya tidak heran ibunya menjadikannya seperti boneka Barbie. Dia juga bercerita betapa dia suka dijadikan mainan oleh kedua kakaknya yang menyebalkan itu.

            Aku tidak heran dengan mereka-mereka yang bisa dikatakan kalangan atas karena memang sekolah ini termasuk sekolah elite. Dari luar saja gedungnya sudah mewah. Bayangkan sekolah yang memiliki luas kurang lebih 5 hektare, biarpun sekolah seni isinya tetaplah sekolah. Ada kolam renang, lapangan basket, voli, badminton indoor! Kecuali lapangan sepak bola yang ada dibelakang sekolah, terdapat beberapa taman di area sekolah karena sekolah ini tidak hanya dari SMA tetapi dari TK. Rata-rata yang bersekolah disini memang mereka yang dari kindergarten dan turun temurun, jadi jangan heran kakak beradik bersekolah disini. Bangunan sekolah dengan 6 tingkat. Tidak salah sekolah ini mempunyai lift.

Cukup bersyukur aku bisa masuk disekolah ini. maksudku bukan dikarenakan keluargaku yang termasuk keluarga berada, aku tidak pernah merasa tidak bersyukur. Materi, kasih sayang, semua kudapatkan. Semenjak langitku pergi semua orang tentu sangat memperhatikanku. Appa, halmeoni, halbeoji, biarpun sebelumnya juga sangat perhatian, mungkin rasa kasihan lebih tepat untuk gadis yang dari kecil menderita lemah jantung dan menjadikan rumah sakit seperti rumah keduanya. Seperti appa yang lebih protective dari sebelumnya tentu saja karena trauma, siapa yang tidak frustasi ketika salah satu anaknya ada yang pergi?Jadilah aku menjadi anak tunggal, dan juga cucu tunggal. Aku masih berharap langitku masih disini.

Cher dan teman-temannya melanjutkan perbincangan mereka. Aku tidak terlalu niat mengikuti apa yang mereka perbincangkan, aku lebih suka kembali ke tempat dudukku sambil melihat keluar jendela, tentu saja melihat langitku. Bukankah lebih indah jika kita bisa menikmati bersama?   

            ***

 

            Malam harinya aku hanya duduk didepan tv bersama halmeoni dan halbeoji sambil mengunyah cemilanku, di pangkuanku ada setoples chocochips oleh-oleh dari halmoni dan halbeoji dari jepang, cokelat selalu membuatku senang ^^. Appa belum pulang dari kantornya, kenapa appa sibuk sekali sih? Padahal sudah lewat jam makan malam. Bagaimana bisa appa melewatkan acara makan malam bersamaku. Padahal aku ingin bercerita banyak, haruskah aku bercerita pada halmeoni dan halbeoji? Tetapi mereka tidak gaul, tidak seperti appaku >.< Mars dan venus juga ikut-ikutan nonton tv, dasar anjing sok gaul.

            Kudengar telfon rumah berdering kuabaikan saja, pasti nanti akanada salah satu pelayan yang menjawabnya. Benar kan tidak lama kemudian salah satu pelayan dirumah menjawab telepon tersebut. Pelayan tersebut memberikan telepon rumah kepadaku. Siapa yang meneleponku?

            “yeoboseyo kay!” kudengar pekikan Cher yang berhasil membuatku menjauhkan telepon.

            “aku belum tuli dan tidak berkeinginan untuk menjadi tuli oke? Ada apa?” kataku sambil memasukkan chocochips kemulutku.

            “besok sehabis pulang sekolah temani aku jalan-jalan ya”

            “kemana?”

            “mall maybe?

            “mmm baiklah. Sudah dulu ya bye.” Kataku mengakhiri pembicaraan

            “see ya bye” balasnya.

 

            ***

 

            Bel istirahat berbunyi, teman-teman sekelasku langsung berhamburan keluar kelas. Masih memandang keluar jendela, gerimis. Aku ingin bermain hujan tetapi dilarang sama appa. Kuputuskan untuk ke luar kelas karena bosan. Cher sedang dipanggil ke ruang dance, sepertinya seonsangnim ingin membahas persiapan penampilan team dance SOIA untuk acara TV. Ketika melewati ruang music kulihat ada grand piano, ruangannya sedang sepi, aku pun berjalan kearah grand piano, mengelusnya sebentar teringat bagaimana dulu aku sangat senang menghabiskan waktuku dengan benda ini karena tidak ada yang bisa kulakukan selain bermain piano bersama langitku.

            Kumainkan tuts-tuts nya, tuhan aku benar-benar merindukannya. Kumainkan lagu favoritku, lagu ciptaan langitku. Aku tidak kuasa menahan air mata lagi, kuseka air mata yang jatuh dipipiku. Kudengar langkah seseorang menghampiriku

            “kau bisa bermain piano?”

            “hmm iya” jawabku. Aku segera beranjak dari situ berniat untuk pergi. Mungkin dia ingin bermain piano, aku juga ingin meminta maaf sudah memainkan piano tanpa izin.

            “tunggu, kenapa pergi? Permainan pianomu bagus sekali. Mainkan lagi dan aku akan memberikan hadiah.” Katanya.

            “kenapa?” sepertinya aku mengenal namja ini, oh ya diakan yang namja yang memberikanku lollipop rasa cokelat.

            “kau sungguh amat sangat yeoja yang rumit. Ayo sini” dia menarik tanganku dan mendudukkanku di kursi piano, menunjuk piano mengisyaratkanku untuk memainkannya.

            Aku mendengus kesal, selalu begini seenaknya saja menyuruh-nyuruh. Berani sekali dia, dia pikir dia siapa. Karena aku sedang tidak mood untuk bertengkar aku hanya menuruti perintahnya.

            Aku masih memutar otak kira-kira lagu apa yang akan kumainkan, kuputuskan untuk memainkan lagu super junior my all is in you. Ntah kenapa lagu ini yang terlintas dipikiranku. Mungkin karena judulnya. My all is in you. Karena semua yang ada didiriku ada padanya.

            Alunan nada-nada dari lagu yang kumainkan lambat laun mulai berhenti, kulirik Sehun masih berdiri disampingku tetapi wajahnya sedang menatapku. Ketika lagu selesai tanpa pikir panjang aku langsung berdiri melangkahkan kakiku keluar ruangan.

            “chakkaman, tidak mau dibayar?”  teriak sehun ketika aku sudah hampir didepan pintu.

            “lain kali saja.”

 

            ***

 

            “Hey mau kemana?”

            Teriakan seorang yeoja yang aku sangat yakini berasal dari suara melengking Cheryl. Astaga kenapa yeoja itu senang sekali berteriak-teriak? Tetapi bagaimanapun dia sahabatku.

            “cher, demi tuhan pelankan suaramu, ini masih disekolah tidak perlu berteriak seperti itu.” aku memutar bola mataku.

            “baby-ya no need to get mad. Kau mau kemana?  Jangan bilang kalau kau mau pulang? Bukankah kita sudah ada janji berbelanja hari ini?”

            Pertanyaan beruntun Cher menyeruak yang sudah kuakui sebagai bukti sifatnya yang tidak sabaran. “aku ingat Cher, aku tadi sudah menyusulmu ke ruang dance ternyata kau tidak ada, kupikir kau akan kembali ke kelas.”

            “hehehe mianhe, setelah berlatih aku langsung ke ruang ganti. Cepat ganti bajumu aku tidak ingin ketika kita belanja kita masih mengenakan seragam, kajja” Cher langsung menyeretku ke ruang ganti.

            “aku tidak bawa ……….” Sebelum melanjutkan kata-kataku Cher sudah melemparkan bajunya padaku. 

            “aku sudah punya firasat ini akan terjadi, cepatlah ganti ini sudah amat sore.”

            Tanpa banyak protes aku pun mengganti bajuku. Kami pun langsung menuju ke parkiran, sudah ada supir Cher disana. Selama perjalanan aku menelepon appa, tidak aktif mungkin sedang rapat lalu aku menghubungi rumah dan minta izin kepada halmeoni untuk pulang telat karena sedang pergi bersama Cher. Halmeoni pun mengizinkan.

            Akhirnya kami pun sampai di pusat perbelanjaan yang menurutku cukup besar dan mewah. Kami masuk ke beberapa toko memilih-milih baju. Well mungkin sudah kodrat wanita bahwa belanja merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Jujur saja baju-baju disini bagus semua aku sampai bingung memilih yang mana. Aku tidak khawatir uangku tidak cukup karena appa sudah memberiku kartu kredit yang unlimited. Saranghaeyo appa❤

            Baru beberapa menit aku berpisah dengan Cher dia sudah menghampiriku membawa 5 kantong belanjaan. Banyak sekali.

            “kenapa tidak sekalian kau beli tokonya Cher?” tanyaku

            “karena 1 toko  saja tidak akan cukup puas baby, sudah dapat apa?”

            “mm aku hanya membeli beberapa tshirt saja.” Kataku sambil menunjukkan baju yang kupegang.

            “astaga baby-ya inikan baju biasa. Kembalikan. Sini biar aku saja yang memilihkanmu baju.”         Protes Cher

            “apa yang salah?” tanyaku tidak terima

            “karena aku mengajakmu belanja baju untuk acara kita akhir minggu ini. jadi tidak mungkin kau hanya pakai tshirt.”

            “bukankah biasanya kau juga pakai tshirt dan hotpants? Memangnya ada apa akhir minggu ini?

            “kita akan melihat konser SKY  bukan? Jadi tidak mungkin kau hanya pakai baju ini.”

            “kita hanya akan duduk dan mendengarkan mereka. Mereka juga tidak mungkin memperhatikan kita Cher.” Sepertinya aku harus menyadarkan Cher

            “no no no kita akan bertemu mereka.”

            “aku tidak mengerti”

            Cher hanya membalasku dengan senyum nya yang indah.

 

            ***

 

            “halo cantik, ada acara malam ini?” Tanya harabeoji ketika aku melangkah ke ruang tengah. Ada halmeoni dan appa juga. Kulihat appa masih berkencan dengan tugas-tugas kantornya dan laptop. Kasihan appa tidak bisa menikmati satnight-nya.

            “aku mau pergi bersama Cher harabeoji. Kenapa? Apa harabeoji mau ikut?” tanyaku menggodanya

            “begitu? Rencananya harabeoji ingin mengajakmu kencan malam  minggu ini.” Aku hanya tertawa mendengarnya. “lain kali saja. Aku janji” Aku pun duduk disebelah appa, menyandarkan kepalaku di lengannya.

            “Cher akan kesini?” Tanya appa masih sambil mengetik

            “iya, dia akan kesini. Beogoshippo appa.” Kataku. Appa hanya tertawa kecil lalu mengecup kepalaku singkat.            

            Kudengar suara klakson menggema, “itu pasti Cher. Aku pergi dulu yaa appa, grandma, grandpa.” Kucium pipi mereka satu per satu.

            “hati-hati chagi” kata harabeoji

            “selamat bersenang-senang.” Disusul oleh halmeoni

            “carilah pacar” kata appa. Untuk yang satu ini aku tidak heran

            “appa duluan nanti aku menyusul. Bye”

 

            ***

 

            Baru didepan pintu masuk saja antriannya sudah sepanjang ini. aku tidak suka keramaian. Kulihat banyak sekali fans yang sedang mengantri menunggu untuk bisa masuk. Mereka bahkan membawa poster idola mereka, menggunakan kaos I Love KRY, ada juga yang memakai bandana kerlap kerlip yang akan menyala ketika gelap dan lain sebagainya. Aku bahkan bukan fans KRY, melihat mukanya saja belum, mendengarkan lagunya juga aku belum pernah. Kulihat Cher sedang asik mengobrol dengan seorang fans. Betapa menyenangkannya menjadi Cher, dia bisa seketika itu juga akrab dengan orang yang baru dikenal.      

            Cher menarikku menuju pintu yang agak sepi. Kulihat dia menyerahkan 2 lembar tiket. Petugasnya langsung menyuruh Cher dan aku masuk. Hanya ada 2 kursi yang benar benar paling depan. Ini bukan lagi VIP tetapi special seats Kujamin dengan jarak sedekat ini kita bisa memotret KRY dengan sangat jelas tanpa menggunakan zoom. Pasti seat disini mahal sekali. Kutanya kepada Cher berapa harga tiket yang sudah ia beli, dia hanya menjawab bahwa tiket ini harganya sama dengan sekali dia belanja. Oke aku sudah pernah menemaninya belanja dan sungguh aku sangat takjub dengan harga belanjaannya yang bisa kukatakan cukup fantastis untuk anak remaja yang masih sekolah. Syukurlah Cher tergolong orang yang cukup mampu.

            Biarpun aku anak tunggal, aku bukan anak yang boros, aku juga jarang meminta ini itu dari appa. Sekalipun appa selalu membelikanku sesuatu yang tidak terlalu aku butuhkan. Uang? Bukan masalah untuk keluarga Choi, aku pernah bertanya kepada appa mengapa ia tidak ke kantor selama 2 minggu tetapi appa malah menemaniku liburan keliling eropa pasca kejadian yang membuatku trauma. Appa bilang jika ia tidak kekantor selama sebulan pun dan kehilangan perusahaan disebuah negara tidak akan membuat keluarga Choi bangkrut (katupkan bibir kalian dan jangan tercengang haha). Well bukannya bermaksud sombong tetapi siapa yang menolak appa? Bahkan ketika ia sudah menjadi seorang duda pun sampai sekarang pun masih ada wanita yang ingin menjadi istri appa. Betapa beruntungnya eomma.  Kalian tau Tom Cruise? Bayangkan saja appaku seperti Tom Cruise.

            “sebentar lagi dimulai. WOOOOOOOOOOOOOO” suara teriakan Cher benar benar memekikkan telinga. Sepertinya tadi aku membawa headphone saja.

            Tiga pria muncul dari bawah panggung dan menyanyi. Suara mereka bagus sekali. Aku sangat suka suara pria yang ditengah. Sayang sekali aku tidak tau namanya. Aku hanya duduk sambil memandang pria yang ditengah itu. Hanya tersenyum ketika ia memandangku. Mungkin dia bertanya tanya dalam hati mengapa aku tidak seheboh fans yang lain berteriak histeris atau ikut menyanyi. Tidak usah dibandingkan dengan fans lain yang bertaburan yang membuat bangku penonton menjadi lautan sapphire blue, bandingkan saja dengan gadis yang disebelahku ini siapa lagi kalau bukan Cher yang sudah berdiri melompat lompat menyanyi berteriak teriak seperti ini hutan saja. =.=

            Sekitar 15 lagu sudah dinyanyikan oleh KRY. Aku penasaran mengapa namanya KRY? Tetapi aku tidak ambil pusing. Akhirnya selesai juga kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat sedikit. Pertama kalinya aku menghabiskan malamku sampai hampir tengah malam setelah sekian tahun.

            “hey mau kemana?” cher memanggilku ketika aku berlalu didepannya.

            “pulang” jawabku tanpa pikir panjang

            “siapa yang akan pulang? Kau tidak tahu setelah ini kita ada acara apa?”

            “tidur?”

            “baby ya kau tau mengapa seats ini namanya special seats? Karena ketika kau duduk disini itu artinya kau juga mendapat perlakuan special. Setelah ini kita tidak akan pulang. Kita akan bertemu mereka.” Cher tersenyum lebar

            “bagaimana bisa?” pertanyaan bodoh kulontarkan

            “tentu saja bisa, aku sudah membeli tiket ini yang harganya sama dengan sekali aku belanja. Aku bahkan sudah merelakan untuk tidak belanja minggu lalu. Tidak usah membayangkan betapa sengsaranya aku seminggu tidak menginjakkan kaki ditempat yang bernama Mall.” Cher berkata sambil menerawang dengan pandangan menyedihkan. Sebegitu cintanyakah dia dengan tempat yang bernama Mall? Kurasa Cher benar benar gadis menakjubkan nan aneh

            “apakah lama? Aku sudah lelah.”

            “apanya yang lelah? Daritadi aku hanya melihatmu duduk manis. kita akan makan malam bersama mereka. Sudahlah dinikmati saja.”

            “tentu saja lelah, apalagi telingaku yang mendapat masukkan suara yang overlimit dari sekelilingnya.” Aku memutar bola mataku

            Lalu ada seorang petugas menghampiri kami dan berbicara dengan Cher. “kajja kita sudah ditunggu”

            Aku hanya pasrah diseret Cher. Petugas itu membawa kami kesebuah ruangan yang sudah tersedia banyak makanan. Ruangan itu begitu sepi. Hanya ada 3 pria yang sedang berdiri sambil memegang minuman yang masing masing berada ditangan mereka. Ketika melihat aku dan Cher salah seorang dari mereka menyapa kami dan menyuruh kami untuk mendekat. Seperti biasa aku menurut saja. Membangkang itu tidak menyenangkan

            “annyeong haseo. Pertama tama kuucapkan banyak terima kasih kalian sudah menjadi fans kami. Kami tidak tau harus membalas dengan cara yang bagaimana tetapi kami harap dengan acara makan malam ini bisa membalas semua perlakuan kalian terhadap kami yang sudah menjadikan kami idola kalian. Mianhe hanya ini yang baru bisa kami berikan. Sekali lagi kamsahamnida.“ ketiganya lalu membungkuk

            “oh iya siapa nama kalian?” pria yang menurutku sangat imut menanyakan nama kami.

            “ngg, Choi Hyo Na imnida tetapi kalian bisa memanggilku Kay, senang bertemu kalian.” Aku membungkuk hormat

            “dan kau?” pria bersuara emas mendang Cher.

            Cher hanya diam terpaku melihat mereka, aku menyikut lengannya dengan sikuku.

            “ah iya? Kim Cheryl imnida”

            Kurasakan pria yang ditengah menatapku sendu. Ada apa dengannya? Kulihat matanya. Hanya ada tatapan kosong. Bukan tatapan sedih atau kaget, hanya memandangku, entahlah mungkin berbeda.

            Acara makan malam pun berlangsung. Kebanyakan hanya obrolan santai. Cher dan pria bernama yesung lah yang paling banyak bercerita. Sesekali pria imut bernama Ryeowook menimpali. Tetapi berbeda dengan pria yang kuketahui bernama Kyuhyun ini. ia hanya makan dalam diam, tidak berbicara. Hanya memandangku. Aku begitu risih, apa dia tidak suka padaku?

            Akhirnya acara makan malam pun selesai, sebelum berpamitan kami sempat berfoto dan tidak kusangka ternyata yesung mendekatiku menanyakan nomor handphone Cher. Apakah yesung berencana mendekati Cher? Diam diam ternyata Cher pintar menggaet lelaki hanya dalam hitungan jam. Siapa yang tidak terpesona dengan Cher, dia memiliki aura yang membuat orang langsung menyukainya.

            “kuharap kita bisa bertemu lain waktu” Ryeowook berkata setelah memelukku.

            “aku harap begitu” aku membalas pelukannya.

            Kulirik Cher dan Yesung yang juga sedang berpelukan. Muka Cher merah merona. Love at the first sight? Wah akan jadi berita heboh ketika Cher jatuh cinta. Aku bersumpah setelah ini aku akan bercerita dengan appa dan menyuruh appa memberitahukannya kepada appanya Cher.

            Ragu ragu kulihat kyuhyun sedang berjalan mendekatiku dan ‘Grep’ dia membawaku kepelukannya. Erat sekali dia memelukku seolah aku orang yang sangat dirindukannya. Aku tidak berusaha membalas pelukannya atau melepasnya, hanya berdiri diam ketika ia memelukku. Ada yang berbeda ketika Kyuhyun memelukku, seperti aku pernah merasakannya. Padahal aku tidak mengenalnya, baru hari ini, bahkan sebelum sebelumnya kami belum pernah bertemu.

            Aku bertanya dalam hati, “siapa sebenarnya kau Kyuhyun? Mengapa hatiku sangat merindukanmu?”

 

            ***

 

            “good morning chagiya, kau sudah bangun? Apakah masih mengantuk? Tidur lagi saja jika kau masih lelah. Nanti biar sarapanmu dibawakan oleh ahjumma.” Appa menyapaku ketika aku baru akan duduk di meja makan.

            “good morning appa, tidak apa apa aku sudah tidak lelah.”

            “ayo sarapan dulu manis, kau mau selai yang mana?” halmeoni menyiapkanku sarapan. Sambil memberikanku susu cokelat. Halmeoni kau selalu tau apa yang kusuka. Aku sayang padamu <33

            “cokelat saja.”

            “ada acara hari ini? harabeoji dan halmeoni ingin mengajakmu jalan jalan mumpung hari ini sedang libur. Selama disini kami belum pernah menemanimu jalan jalan. Tinggal pilih mau kemana.” harabeoji berkata padaku

            “mmm kemana yaa? Aku sedang ingin menikmati seoul. Bagaimana kalau jalan jalan ke taman saja? Setelah itu kita beli es krim dan makan siang diluar. Bagaimana?” tanyaku sambil berpikir dan sendok yang masih berada di mulutku.

            “ide yang bagus, sayang, appa ingin sekali ikut tapi pekerjaan appa masih banyak.” Appa berkata dengan raut wajah kecewa

            “begitu? Ya sudah tidak apa apa. Biar aku halmeoni dan harabeoji saja yang pergi. Appa jangan terlalu banyak bekerja, kalau sakit bagaimana?” aku berjalan mendekati kursi appa dan mengelus bahu appa.

            “appa baik baik saja. Jangan khawatir chagi. Nah sekarang lebih baik princess appa yang cantik mandi kalau tidak mandi nanti cantiknya hilang.”

            “aish appa biarpun aku tidak mandi aku tetap menyebarkan bau harum tau.” Protesku.

            “hahahahhahahahahaa kalau kau wangi seharusnya kau sudah punya pacar sekarang”

            “apa hubungannya wangi dan punya pacar?  Seharusnya appa duluan yang mencari pacar. Lihat appa, sudah berapa tahun berstatus single? Lagipula aku kan masih muda” merasa konyol dengan pertanyaan appa

            “chagiya, biarpun appa single tetapi pesona appa tidak akan luntur. Malah semakin banyak wanita yang mendekati appa. Appa hanya memikirkan nasib appa, jika appa punya pacar maka appa akan menjadi lebih stress mengurus 2 wanita. Hanya kau saja sudah membuat appa kalang kabut.

            “aku tidak nakaaaaaaaaaaaaaaal” aku berkata sambil menghentak hentakkan kakiku.

            “lihat begini saja kau sudah berniat menghancurkan istana ini bagaimana jika appa memelihara seekor wanita lagi? tidak bisa appa bayangkan betapa istana ini akan menjadi kandang singa.”

            “AKU MANDIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII” teriakku sambil menaiki tangga menuju kamarku.

            “hahhahahahahhahahahhahahaha” tawa 3 orang yang sedang berada di ruang makan terdengar keras ditelingaku.

            ***

 

            Senang sekali menikmati angin yang menerpa. Kurentangkan tanganku sambil menikmati terpaan angin. Sedikit dingin tetapi tetap saja menyenangkan. Halmeoni dan harabeoji sedang duduk di bangku tidak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya mereka sedang ingin menikmati masamasa berduaan. Dan aku tidak ingin menjadi pengganggu karena itu kuputuskan untuk berjalan jalan sendiri. Lagipula aku bukan anak kecil yang akan hilang hanya karena jalan jalan sendiri.

            “kita bertemu lagi yeoja rumit.” seseorang berbisik didekat telingaku. Aku langsung membuka mataku dan melihat kesamping. Seperti dugaanku ternyata orang yang kukenal, siapa lagi kalau bukan namja menyebalkan yang seenaknya mencoret tanganku menggunakan spidol marker!

            “bagaimana kau bisa disini?” pertanyaan yang sama meluncur dari mulut kami berdua.

            “aku sedang jalan jalan saja. Bosan dirumah. Kau?

            “kurang lebih alasan yang sama seperti alasanmu. Kau sendiri?” tanyaku penasaran

            “kenapa? Kau sudah mulai memperhatikanku ya? Bagaimana jika aku tidak sendiri dan membawa yeojachinguku?” kai mulai jahil.

            Aku memutar bola mataku mendengar pertanyaannya. “aku akan bilang ke yeojachingumu kalau kau sedang menggoda wanita lain”

            “apanya yang menggoda? Aku hanya bertanya padamu. Apa kau berharap aku menggodamu? Wah ternyata kau begitu menyukaiku ya? Padahal kita baru bertemu 2 kali.” Kai berkata dengan PDnya sambil terkekeh.

            Arrrggghhh menyebalkan sekali. Aku malas meladeni namja seperti dia. Kuputuskan untuk langsung pergi dari situ sementara kai masih tertawa dengan penuturannya yang gila. Bagaimana bisa didunia ini ada namja seperti dia? Hanya bisa mengerjai orang dan menggoda wanita. Eh? Sebenarnya yang tadi bukan dikategorikan menggoda juga sih, Kai kan hanya bertanya bagaimana aku bisa disini? Memang aku saja yang sedikit penasaran dengannya. Aish dosa apa aku bertemu dengan makhluk seperti itu? lupakan.

            Bisa kupastikan Kai sedang mengikutiku okay dan dia sekarang juga sedang berjalan disampingku, kuabaikan saja dia.

            “Hey mau kemana?” tanyanya

            “Bukan urusanmu.”

            “Baiklah baiklah, aku tidak akan bertanya lagi.” akhirnya Kai menyerah. “Kita mau kemana?” lanjutnya.

            Demi tuhan bukankah dia tadi sudah bilang tidak akan bertanya lagi? ocehannya benar benar menggangguku. Sebelum aku memprotesnya halmeoni dan harabeoji sudah menghampiriku.

            “Hey cantik, siapa ini? kekasihmu kah?” harabeoji menggodaku.

            “Annyeong harabeoji, naneun kim jong in imnida. Aku namjachingunya Kay.”

            “MWOO??!!! Tidak tidak bukan. Astaga pergi dari sini cepat sebelum harabeoji dan halmeoni berpikir yang tidak tidak.” Teriakku sambil mendorong Kai menjauh.

            “Chagi kau tega sekali padaku.” Kai memasang tampang memelas.

            “Menjijikkan.” Cibirku.

            “Sudah jam makan siang, bagaimana kalau kita pergi makan siang?” halmeoni bertanya padaku.

            “Ke restaurant jepang saja, ne? please please.” Aku merayu halmeoni.

            “Iya, terserah kau saja, jong in ikut juga. Okay?”

            Huaaaaaaaaaaaa kenapa halmeoni mengajak namja kurang ajar itu? hidupku akan sangat tidak tentram dan damai. Tuhan jauhkan dia dariku.

            “Tentu saja halmeoni.” Jawab Kai. Sudah kuduga dia tidak akan menolak ajakan makan siang bersama.

            Setelah itu halmeoni dan harabeoji berjalan duluan menuju mobil, aku menyusul dibelakangnya. Kai masih berada disampingku sambil terkekeh melihat tingkahku yang berjalan menghentak hentakkkan kaki sesekali menendang batu.

            “Mengapa kau menerima ajakan makan siang dari halmeoni?” aku memberanikan diri bertanya padanya. Awas saja jika dia bilang aku menggodanya.

            “Karena tidak baik pria tampan dan berstatus sebagai pacar Kay ini menolak ajakan makan siang dari keluarganya.” Kai menjawab dengan PD nya.

            Aku memasang tampang ‘makhluk apa kau yang suka membanggakan diri sendiri?’ “apa hubungannya dengan tampan?”

            “tentu saja ada, kalau aku tidak tampan mana mungkin aku mau menjadi namjachingu seorang gadis cantik bernama Kay?” katanya sambil menunjukkan aksi waving hair nya. Huh, dia benar benar makhluk tuhan paling narsis. Tapi aku sangat suka matanya. Ketika aku menatapnya aku seperti melihat langitku. Dia juga balik menatapku. Lama sekali sampai aku sadar handphone ku berbunyi, ternyata halmeoni menelfon katanya kami disuruh segera ke mobil.

            “aku sangat suka matamu.” Bisik kai

            ***

 

            Sepanjang hari aku hanya belajar tetapi tidak benar benar berkonsentrasi. Pikiranku melayang kemana mana. Kyuhyun, siapa sebenarnya dia? Aku yakin sekali aku tidak pernah mengenal apalagi bertemu sebelumnya tapi perasaan ini, seolah olah aku merindukannya. Kyuhyun, tiba tiba saja aku sangat ingin bertemu dengannya. Ken, aku merindukanmu. Seandainya kau disini, dengan siapa aku bisa bercerita?

            Berjam jam telah berlalu. Hari ini rasanya panjang sekali. Aku ingin mampir dulu tidak ingin langsung pulang. Rencananya aku ingin mengajak Cher ke café Twosome, tetapi dia harus latihan. Tidak mungkin aku ke café sendiri. Seperti biasa aku duduk di bangku sekolah sambil menunggu supirku untuk menjemput.

            “hey, belum pulang?” hyera menyapaku. Aku agak sedikit terkejut Hyera menyapaku, sejak hari pertama aku masuk sekolah hanya sesekali kami bertegur sapa paling hanya say hello.

            “aku menunggu supirku. Kenapa kau belum pulang?” tanyaku balik.

            “aku menunggu oppaku menjemput. Sudah biasa dia menjemputku terlambat. Tebakanku dia masih di kantor.”

            Aku hanya manggut manggut. Senang sekali Hyera masih memiliki oppa. Pasti mereka saling menyayangi. Kerinduanku terhadap Ken kian memuncak. Selang beberapa menit kemudian aku sudah dijemput. Aku tidak enak hati meninggalkan Hyera sendiri disini, jadi aku menawarkannya untuk pulang bersama. Awalnya dia menolak tetapi aku terus memaksanya. Aku hanya ingin dekat dengan teman yang lain, tidak hanya dengan Cher. Hyera akhirnya menerima tawaranku, ia berkata untuk mengantarkannya ke kantor oppa nya saja.

            Kira kira 15 menit kemudian kami sampai di sebuah gedung yang menurutku sangat elegan apalagi arsitekturnya yang unik. Siapapun yang merancangnya aku beri 2 thumbs. Dilihat dari luar tidak menunjukkan sama sekali bahwa ini sebuah kantor. Gedung ini lebih mirip istana, maksudku dengan nuansa warna cokelat krim dan oldschool, dengan dindingnya yang menunjukkan batu bata tersusun rapi berwarna merah. Seperti di abad pertengahan tetapi tidak ada unsur gothic.

            Hyera mengajakku masuk awalnya aku menolak, tetapi katanya aku wajib menerima ajakannya untuk minum teh bersama sekalian melihat isi gedung ini. dan yang paling utama katanya aku harus bertemu dengan oppanya yang sangat menyebalkan tetapi tampan. Aku mempunyai firasat tidak enak mengenai hal ini. aku juga penasaran dengan isinya dan kuputuskan untuk ikut masuk bersama Hyera. Sepertinya aku memang ditakdirkan menjadi orang yang tidak bisa menolak.

            Ketika kami masuk beberapa staf kantor membungkuk kearah Hyera. Pastilah karena dia anak pemilik gedung ini dan siapapun yang bekerja didalamnya wajib menghormati pemiliknya dan keturunannya. Dari luar saja sudah membuatku kagum dan didalamnya, amazing. Lukisan lukisan, patung, semua yang berbau seni terpajang semua disini. Keluarga hyera benar benar keluarga seni. Kami menaiki lift, Hyera membawa kami menuju lantai 17. Aku jadi penasaran dengan kantor appa, maksudku kantor Appa yang di Korea, selama disini aku belum pernah mengunjungi kantor keluarga Choi, pasti bentuknya tidak semenarik punya keluarga Hyera, selera appa kan payah =.=

            “apa oppaku ada didalam?” hyera bertanya kepada seseorang ketika kami tiba di lantai 17.

            “Tuan Wu ada didalam nona. Silahkan.” Lelaki yang berbicara pada Hyera langsung mengantarkan kami menuju sebuah ruangan.

            Tanpa basa basi bunyi dentuman keras terdengar oleh telingaku, “OPPAAAAA!!!!!!! TEGA SEKALI KAU PADAKUUUUUUUUUUUUU” teriak Hyera yang kuakui teriakannya jika digabungkan dengan teriakan Cher bisa membuat tanah retak.

            Aku melihat seorang pria yang cukup tampan dengan rambut gold sedang duduk dikursinya mungkin sambil memeriksa beberapa berkas. Dia terlihat cukup kaget dengan teriakan seorang yeoja yang mampu membuat gempa seketika.

            Lelaki yang cukup dewasa menurutku, sangat tinggi cocok menjadi pemain basket bermata tidak terlalu sipit, aku mengira umurnya sekitar 20an berjalan menghampiri kami. Dia langsung meraih tangan Hyera tetapi langsung ditepis oleh yeoja manis itu. sepertinya Hyera benar benar marah besar dengan oppanya. Tidak kusangka yeoja sekalem Hyera bisa mengamuk juga. Luar biasa.

            “aigooo adikku yang imut, maafkan oppa. Sungguh pekerjaan oppa tidak bisa ditunda. Oppa harus bertemu dengan client oppa dulu, tidak bisa ditinggalkan karena ini menyangkut proyek penting.” Ujar oppanya Hyera, sementara Hyera memalingkan wajahnya.

            “Aku tidak peduli, setidaknya Oppa bisa menelfonku jadi aku bisa mencari alternative lain untuk pulang.” Protes Hyera

            “Oppa benar benar minta maaf, ini tidak akan terulang lagi. jangan marah lagi, ne? bagaimana setelah ini kita makan es krim?” bujuk lelaki tinggi itu lalu memeluk Hyera dan mengelus elus kepalanya. Hyera akhirnya memaksakan senyumnya.

            Melihat perlakuan yang dilakukan oppanya Hyera dengan Hyera membuatku miris, dulu aku selalu memiliki seseorang yang selalu bisa membujukku. Sekarang ia sudah pergi. Rasanya ingin sekali bertukar posisi dengan Hyera. Merindukan pelukannya, bujukannya, semuanya. Aku hanya tersenyum melihat pemandangan didepanku. Tuhan aku ingin menangis, tidak bisakah kau kembalikan dia padaku?

            Sepertinya Hyera baru menyadari kehadiranku.dia melepaskan pelukan oppanya, menarik tanganku dan memperkenalkannya pada lelaki didepanku ini.

            “Kay, kenalkan ini oppaku yang tampan dan menyebalkan”

            “tampan itu benar but I disagree with the last statement.” Katanya dan memandang Hyera. “Namaku Wu Yi Fan tetapi kau bisa memanggilku Kris.”

            Aku mengerutkan keningku lalu menatap bingung Hyera, seakan mengerti ia lalu berkata, “oh aku lupa bilang padamu sebenarnya aku bukan asli korea, bisa dibilang hanya menumpang lahir dan tinggal disini. Aku asli china tapi berdarah Canada juga. Aku menyukai nama koreaku itulah sebabnya seringkali aku memperkenalkan diriku sebagai Hyera, nama china ku Wu Li Han.”

            “aku mengerti, namaku Kaysha tapi kau bisa memanggilku Kay.”

            “Kau bukan orang korea? Benar kan? Kau boleh memanggilku Oppa juga, lagipula Kau seumuran dengan adikku.” Kris oppa tersenyum sangat manis.

            “Oppa, mengapa Kau tiba tiba tebar pesona begitu pada Kay? Sudahlah lagipula Kay jelas tidak akan mau menjadi yeojachingumu, kau itu terlalu kaku dan arogan” Hyera berkata tanpa dosa. aku yang mendengarnya langsung menunduk, malu sekali.

            “memangnya kenapa kalau aku menyukainya hah? Lagipula aku masih 20 tahun, masih muda.” Kris seperti tidak terima dengan perkataan Adiknya.

            “apanya yang muda, kau kan sudah kepala 2.” Cibir Hyera.

            Seorang lelaki yang tadi mengantar kami datang dan mengatakan bahwa client yang ditunggu Kris oppa sudah datang. Kris oppa menyuruh aku dan Hyera duduk di sofa dan bermain boneka disana. Memang dikiranya kami anak umur 5 tahun bermain boneka =.=

            Aku tidak menyadari siapa yang datang sampai suara seseorang yang amat kukenal menyuarakan namaku. “Bintangku yang cantik apa yang kau lakukan disini?”

            “harabeoji!! Teriakku kaget langsung menghambur kepelukannya. “aku baru pulang sekolah lalu mengantarkan temanku kesini untuk bertemu dengan oppanya. Apa yang harabeoji lakukan disini?” tanyaku menyipitkan mata.

            “tentu saja untuk menemui client, memangnya kau kira harabeoji seorang yang pengangguran hmm?” harabeoji mencubit pelan hidungku.

            “hahaha aku lupa.” Aku tertawa seperti merutuki kebodohanku dengan perntanyaanku sendiri.

            “annyeong haseo Tuan Choi.”

            “annyeong Tuan Wu.” Harabeoji membalas tetapi masih dengan sebelah tangan merangkulku.

            “Jadi Kay adalah cucu anda? Saya tidak menyangka. Karena tadi Kay memperkenalkan dirinya tidak menyebutkan marganya. Wah kebetulan sekali. Adik saya ternyata berteman dengan cucu anda.” Komentar kris.

            “hahaha yeah Kay memang sangat menyukai nama Indonesianya. benarkah itu? adik Mr. Wu ini temanmu?” harabeoji beralih memandangku

            “Aku memang lebih menyukai nama indonesiaku. Sangat simple dan mudah untuk diingat apalagi disebutkan.” Ucapku bangga. “Yeps, adik Kris Oppa yang bernama Wu Hyera adalah temanku, bahkan kami teman sekelas hanya berbeda skill.” Aku menjelaskan.

            “Great. Baiklah Kay, Harabeoji ingin berbisnis dulu dengan Kris, kau duduklah dulu, mau menunggu harabeoji dan kita pulang bersama atau kau mau pulang duluan? Biar harabeoji suruh supir untuk mengantarmu pulang sekarang.”

            “kita pulang bersama saja, aku tidak apa apa menunggu disini bersama Hyera.”

            Setelah itu Aku dan Hyera kembali ke sofa bermain dengan laptop Kris Oppa, melihat video bahkan kami webcam bersama. Tidak terasa sudah 2 jam aku disini harabeoji juga sudah selesai mengurus urusan bisnisnya dengan Kris oppa. Aku pun berpamitan dengan Hyera dan Kris.      

            “oh ya Tuan Wu, aku ingin kita tidak hanya berbicara tentang bisnis. Bisakah kita membahas suatu hal yang lain, lain waktu?” Tanya harabeoji ketika kami hendak beranjak.

            “kalau boleh tau tentang apa?”

            “datanglah ke kediamanku. Nanti kita bicarakan lebih lanjut.” Kata harabeoji tersenyum

            “aku pasti akan datang. Terima kasih atas tawarannya.” Kris membungkuk. Annyeong!

            “annyeong Hyera, Kris oppa.” Aku balas membungkuk.

            Selama perjalanan pulang harabeoji meminta pendapatku tentang keluarga Wu, kukatakan bahwa aku sangat kagum dengan keluarga Wu. Benar benar keluarga seniman. Aku juga bercerita tentang museum keluarga Wu yang ada di eropa dan mengajak harabeoji kesana jika kami sedang vacation ke eropa.

            “Kris sangat tampan kan?” harabeoji mulai menggodaku. Apakah ada maksud tersirat?

            “tentu saja.” Jawabku asal

 

            ***

            Aku berbaring di balkon menikmati angin malam sambil mendengarkan lagu. Tiba tiba ada panggilan masuk, unknown number. Kutekan tombol answer

            “yeoboseyo”

            “annyeong Kay” seseorang bersuara merdu menyapaku.

            “Kyuhyun?” aku bertanya ragu. Ntah kenapa malah Kyuhyun yang kusebutkan apa karena aku sedang mendengarkan lagunya dan memang akhir akhir ini lagunya sering kunyanyikan.

            “ne, ini aku. Mm apa kita bisa bertemu besok?”

            “besok? Tentu saja. Ada apa?” tanyaku penasaran. Mengapa Kyuhyun mengajak bertemu?

            “aku akan menjemputmu disekolah besok. Sampai nanti. Good night.”

            “baiklah. Goodnight.”

            Keesokan harinya setelah pulang sekolah seperti biasa aku menunggu jemputan di lobby sekolah. Tadi pagi aku sudah meminta supirku untuk tidak menjemputku, appa juga tidak kuberitahu jika aku akan pulang terlambat karena menemui Kyuhyun terlebih dahulu. Kupastikan appa tidak mengizinkanku karena apa? Karena Kyuhyun adalah seseorang yang baru kukenal dan belum dikenal baik. Overprotective sekali.

            Sebuah mobil Audi hitam berhenti didepanku. Sebelah kacanya terbuka. Kulihat si pengemudi ternyata Kyuhyun. Dia membukakanku pintu dan menyuruhku masuk. Aku menurut saja. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Aku juga tidak berniat membuka percakapan karena aku tidak tahu ingin membicarakan apa. Bukahkah dia yang ingin bertemu. Mengapa membuat suasana seperti ini? dasar pria.

            Kyuhyun membawaku ke sebuah taman yang agak sepi. Aku mengerti keadannya yang tentu saja tidak memungkinkan mengajak ke tempat ramai karena dia artis. Begini saja dia sudah memakai topi dan masker untuk menutupi sedikit menutupi mukanya. Kami duduk dibangku taman dekat air mancur. Kulihat beberapa burung yang sedang tidak terbang hanya berada diatas tanah seolah mencari makanan. Sore ini hangat sekali, aku sangat suka taman ini.

            “Ken sangat merindukanmu” Tiba tiba perkataan Kyuhyun membuatku beku seketika. Apa katanya? Ken? Bagaimana ia bisa mengenal Ken? Aku yakin sekali Ken tidak mengenalnya karena Ken pasti akan memperkenalkan temannya kepadaku.

            “apa maksudmu? Bagaimana kau mengenal Ken?” aku sangat terkejut.

            “ceritanya panjang, tetapi percayalah aku bukan orang gila. Mungkin yang akan kuceritakan sangat tidak masuk akal. Aku sendiri juga tidak mempercayai keadaan diriku sekarang.” Kyuhyun berkata lalu menghela nafasnya.

            “apa kau percaya padaku?” Kyuhyun menggenggam tanganku dan menatap mataku lekat.

            Aku memandangi matanya, tidak ada kebohongan tetapi aku juga tidak bisa mempercayainya. Semua yang menyangkut Ken seakan membuka lukaku. Aku hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun.

 

            ***

 

***

 

– to be continued –

BAGAIMANA BAGAIMANA? I WILL POST THE NEXT CHAPTER AFTER YOU ALL COMMENTS.

DAN INI BENAR-HASIL-KARYA-SAYA

Kalau ada mirip atau sama silahkan di bash punya yang asal nyuri ide orang itu. sekalian aku diajak biar aku bisa nyiapin senapan sama pisau, eh ga keren, bazoka aja.

3 thoughts on “[FF Freelance] The K’s – Without You (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s