[Oneshot] Love and Truth

lat

Love and Truth

 

Storyline by Atikpiece

Main Cast : G-Dragon as Kwon Jiyong (BIGBANG), Lee Chaerin (2NE1) | Genre : Sad Romance, Hurt | Rating : PG | Length : Oneshot

Warning! This story is lot of typo(s)

 

 

Let’s Enjoy!

 

Mengapa kebenaran itu datang ketika semuanya nyaris akan berakhir?

 

PROLOG

Tepat dua tahun yang lalu. Saat aku tengah menuliskan kata-kata pada secarik kertas kecil di tanganku, secara samar aku melihat dia berjalan dari arah berlawanan dengan kepala tertunduk. Matahari yang sebentar lagi terbenam, menyinari punggungnya yang terbalut kaus polos warna hitam. Rambut panjang coklatnya tergerai, dan melayang-layang akibat hembusan angin lembut. Kedua tangan mungilnya bersarang di saku celananya, dan langkahnya semakin lama semakin mendekatiku.

Pertama kali aku memalingkan wajahku darinya. Sampai dia benar-benar berhenti di hadapanku, kurasakan kedua lenganku digenggam erat olehnya. Aku tidak tahu mengapa, tapi kudengar akhir-akhir ini dia sudah banyak berubah.

Dulu, dia termasuk dalam kelompok gangster yang paling ditakuti. Aku tahu dia seorang wanita. Tapi, dia mempunyai skill dan stamina yang kuat untuk menjalankan tugasnya. Sudah ratusan kali dia memberontak bersama kelompoknya melucuti orang-orang tak bersalah. Mencuri, membunuh, bahkan dia pernah sesekali mengonsumsi narkoba.

Tapi, bukankah semua itu hanya sia-sia? Untuk apa dia melakukan hal bodoh seperti itu? Hanya untuk sensasi? Tidak, sampai dia bertemu denganku, di tempat ini. Aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa dia tidak pantas masuk dalam kelompok bejat semacam itu. Kukira dia akan merasa muak jika aku terus menerus memberikan nasehat. Dan kupikir, dia juga akan merasa jengkel ketika aku selalu menemaninya melakukan hal yang benar.

Namun, semenjak aku terus bersamanya, dia sudah tidak lagi mengikuti kawanan itu. Sedikit demi sedikit dia merubah pola hidupnya untuk menjadi wanita yang bersih dan dewasa. Dia bilang, ini semua berkat aku. Aku senang dia berubah, dan apa yang aku lihat di dalam dirinya sekarang, ternyata dia tampak sangat cantik dari yang kuduga.

Saat itu, hampir setiap hari dia mengajakku keluar. Entah untuk bermain bersama, makan malam, atau untuk keperluan lain. Padahal usianya jauh lebih tua dariku. Dan aku sudah tahu kalau dia sudah bersama lelaki lain.

Betapa aku merasakan sakit ketika dia selalu berbicara tentangnya, seakan aku menjadi tempat pelariannya dikala mereka bertengkar. Aku mengerti jika aku pendengar yang baik. Tapi, tak bisakah sekali saja dia berhenti membicarakannya?

Walau dia hanya menganggapku teman, tapi aku ingin dia menyebutku lebih dari itu. Aku ingin dia mengetahui keberadaanku di hatinya. Aku harap dia mengerti diriku. Hingga akhirnya perasaan itu benar-benar muncul dan mudah berbekas. Kau tahu apa artinya ?

Yah, aku menyukainya. Sangat menyukainya.

Tapi, hatiku terasa diterjang ombak berdesir dan terombang-ambing di lautan. Aku harus mengalami pengalaman pahit ketika dia membisikkan sesuatu di telingaku. Dia membuatku menatap langsung ke arah langit sore sehingga aku terpaku begitu kata-kata itu terlintas. Jemari mungilnya semakin erat menggenggam lenganku. Mungkin beginilah rasanya ketika seseorang yang sangat aku cintai, harus rela pergi meninggalkanku.

Aku melihat tatapan sendu itu tak bergeming. Butiran air matanya berjatuhan, menetes di kedua pipinya. Tanganku bergetar, meraih lengannya dan kugenggam, karena aku tidak ingin dia pergi. Aku tahu sebentar lagi dia akan terbang ke negeri seberang untuk menempuh pendidikannya. Tapi, bagaimana denganku? Meski aku bukan orang yang penting baginya, namun aku ingin dia mengerti bahwa aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa, dan aku benar-benar menginginkannya.

 

“Maafkan aku, Jiyong-ah. Tapi, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik…”

 

 

“… selamat tinggal.”

 

 

 

Apakah aku bisa menjalani hidupku tanpamu?

 

Tak bisakah kau membangun jembatan kesempatan untuk orang sepertiku?

 

Aku mencintaimu, Noona

 

Aku mencintaimu…

 

*****

~LOVE AND TRUTH~

 

 

1 Years Ago…

 

-Gangnam Severance-

Ini sudah kesekian kalinya Jiyong menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Arah matanya mengarah ke depan, namun tak ada satupun hal menarik yang bisa ia lihat. Kemanapun sepasang matanya bergerak, pasti ia tidak bisa menemukan sesuatu sebagai pencerah suasana hati. Napas yang ia hembuskan perlahan itu terdengar di ruangannya. Lalu ia memandang jauh, memperhatikan gumpalan awan yang berjalan tertiup angin, juga langit biru yang membentang di atas sana.

Pergelangan tangannya lalu menempel pada jendela. Terlihat masih ada sisa debu yang melekat, sehingga ini mempermudah Jiyong untuk melukiskan bentuk hati di tengah-tengah kaca menggunakan telunjuknya. Ia tersenyum tipis, merenungi masa lalu yang berakhir sia-sia. Menghabiskan waktu hanya untuk berpikiran bodoh. Memaksakan diri berharap agar orang itu kembali di sisinya.

Wajah pria itu tampak murung, terlihat bahwa ia masih merindukannya. Untuk itulah, ia mengeluarkan ponsel dan mendengarkan musik apapun yang disukainya. Jiyong menempelkan ponsel tepat di telinga kanannya karena ia lupa membawa earphone. Sampai suatu saat ia kembali menerawang, menatap pohon beringin beserta seorang anak kecil yang duduk di bawahnya—sedang bermain boneka yang sudah usang dan robek.

Anak itu tersenyum memainkan bonekanya. Bahkan karena terlalu senang, ia sampai melempar benda kecil itu ke jalanan.

Jiyong tertegun. Meski anak itu kelihatan ceria, tapi usia hidupnya pasti tidak akan bertahan lama. Ia dengar, anak itu mengidap penyakit semacam kanker. Kanker hati, otak, paru-paru atau semacamnya, ia tidak tahu. Tapi yang pasti, anak itu menderita penyakit kanker mematikan.

Gerakan bola matanya selalu mengikuti kemana arah anak itu pergi. Anak bertubuh mungil itu mencoba mengambil bonekanya. Tapi, sepertinya sudah ada orang lain yang mengambilkannya.

Ya. Seorang gadis berambut pirang kecoklatan itu berdiri sambil membawa bonekanya. Ia tersenyum menatap benda itu sebentar, lalu memberikannya pada anak itu. Terlihat jelas jika mereka berdua tengah mengenakan pakaian rumah sakit yang sama.

Dia mengelus puncak kepala anak itu lembut dan tertawa kecil. “Kau sangat manis. Siapa namamu?”

“Cha Mochi imnida.”

Annyeong, Mochi. Lee Chaerin imnida. Senang bertemu denganmu.” Gadis itu kembali tersenyum. Perlahan-lahan ia berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan anak itu. Sekali lagi, ia mengelus puncak kepala Mochi yang botak dan sedikit termenung memandangi wajah pucatnya. Walaupun Mochi sedang tertawa, tapi bagi Chaerin, tawanya tampak begitu menyedihkan. Kelihatan sekali jika sakit yang diderita anak itu sudah semakin parah. Ditambah lagi, tidak ada sehelai rambut pun yang menghiasi kepalanya. Hatinya bergetar, dan ia hampir saja menumpahkan air matanya.

“Kakak, aku bosan terus di sini. Aku ingin pulang…” Mochi merengek setelah ia menjabat tangan Chaerin dan menggembungkan pipi mungilnya. Gadis itu menghembuskan napas panjang lalu berdeham.

“Tapi, kau kan masih sakit.”

“Mereka semua juga bilang begitu padaku. Lalu, kapan aku bisa sembuh?”

Chaerin tersenyum lagi dan mengusap-usap bahu anak itu berkali-kali. “Tenang saja. Asal kau mempunyai niat, aku yakin. Sebentar lagi kau pasti akan segera sembuh.”

Mochi terdiam sambil mengedipkan mata kecilnya. Ia melihat pancaran mata Chaerin dalam agar bisa melihat kesungguhan hatinya. Terbukti jika gadis itu tidak berbohong. Tentu saja. Karena mimik mukanya yang cerah menandakan bahwa ia sungguh-sungguh mengatakannya.

Senyuman anak itu langsung mengembang. “Benarkah?”

Chaerin mengangguk, tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Dia menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya terdengar suara lantang dari belakang anak itu. Gadis itu menoleh, mendapati seorang wanita tua berambut ikal sedang menghampiri mereka. Ia segera berdiri dan membungkuk begitu wanita itu sudah berada di hadapannya. Sang wanita tersenyum, lalu memandangi Mochi.

“Terima kasih, sudah menjaga anakku…”

“Ah, tidak. Aku baru pertama kali bertemu dengannya.” Nada bicara Chaerin terdengar santun tapi sedikit ragu-ragu.

“Apa dia menyusahkanmu?”

Gadis itu menggeleng pelan. “Tidak. Dia anak yang baik.”

“… Syukurlah.” Wanita dengan wajahnya yang agak keriput itu bernapas lega. “Maafkan aku, tapi sebaiknya anakku harus kembali ke kamar.” tambahnya setelah terdiam beberapa saat.

Chaerin cepat-cepat mengangguk dan tersenyum. “Ya, baiklah.”

“Sekali lagi, terima kasih.” Wanita itu sedikit membungkuk dan menggenggam tangan Mochi erat. Chaerin menyambutnya dengan senyum saat anak itu tertawa manis ke arahnya. Bersamaan dengan keduanya yang terus berjalan meninggalkan Chaerin, Mochi tidak dapat berhenti melihat ke belakang dan melambaikan tangan sampai Chaerin membalasnya dengan lambaian kecil.

Jiyong, yang sedari tadi memandangi anak itu, kini beralih memandangi Chaerin. Ia melihat wajah Chaerin saksama. Rambutnya pirang, garis matanya sedikit panjang, bola matanya seperti bola mata kucing, bibirnya kecil, kemudian di salah satu tangannya terdapat selotip serta kapas bekas jarum infus. Raut wajahnya berubah sedih, tidak sesumringah saat ia bersama anak bernama Mochi tadi.

Ya, kelihatan sekali jika gadis itu merasa kesepian. Tidak ada seorangpun yang menemaninya, hingga suasana kali ini berganti sunyi. Chaerin menghela napas lalu dihembuskannya perlahan. Ia melihat hamparan pasir yang tertiup angin bersamaan dengan rambut panjangnya yang melayang tak tentu arah. Kepalanya mendongak, menghalau sinar matahari yang membuat kedua matanya semakin menyipit, kemudian terpejam.

Beberapa saat kemudian, rasa iba itu datang, seiring dengan air matanya yang mengalir, hingga jatuh ke tanah. Gadis itu menangis, gumam Jiyong. Pria itu semakin mendekatkan diri pada jendela, memperhatikan Chaerin larut dalam kesedihan. Jika di perhatikan baik-baik, mungkin Chaerin tengah merindukan seseorang, atau ia menyesal akan penyakit yang dideritanya? Entahlah, Jiyong merasa terbawa suasana. Tapi, di lain pihak, wajah gadis yang ia lihat, sangat manis ketika menangis.

Memang ia tidak tahu apa yang Chaerin pikirkan. Jiyong juga tidak mengerti kenapa gadis itu menangis. Sepertinya, yang lebih meyakinkan hati itu adalah perasaan ini. Sama persis ketika seseorang yang ia cintai itu pergi. Ia juga merasakan sedih yang terlalu lama. Semuanya mengingatkan Jiyong pada lambaian tangan itu, senyum perpisahan itu, juga tangisan yang membuat kesedihannya mendalam.

 

Jiyongie… kau masih mengharapkannya, bukan?

 

Mungkinkah jika perasaan ini sama? 

 

*****

Next Day…

 

-Gangnam Severance-

“Selamat pagi, Eomma…” Jiyong memasuki kamar rawat inap ibunya sambil tersenyum. Sejenak ia menghirup aroma rumah sakit yang akhir-akhir ini sering ia rasakan, kemudian dihempaskannya perlahan. Saat ini, ia berpakaian dengan sangat rapi. Ia mengenakan kemeja putih dan jaket warna coklat muda serta memakai celana jeans biru juga sepatu warna putih keabu-abuan.

“Hari ini aku membawa buket bunga Lily kesukaan Eomma.” Ia meletakkan bunganya tepat di atas meja yang bersebelahan dengan ranjang. Sesaat ia masih bertahan dengan senyumannya. Namun, wajah cerianya yang terus diperlihatkannya itu, lambat laun menghilang, dan berubah murung. Karena ia sama sekali tidak mendapat respon apapun dari ibunya.

Ya, tentu saja. Sampai saat ini, ibunya masih mengalami koma akibat kecelakaan enam bulan yang lalu. Maka dari itu, Jiyong menganggap dirinya begitu bodoh. Bodoh karena terlalu banyak berbicara sendiri—seperti bicara dengan arwah gentayangan atau semacamnya. Sungguh tidak berarti.

Tapi, ia sudah bertekat untuk menunggu, menunggu sampai ibunya bangun. Sampai-sampai ia rela untuk tidak pergi kuliah. Setiap hari, Jiyong selalu pergi menjenguk ibunya dan memantau bagaimana perkembangan selanjutnya. Ia berusaha untuk menjadi anak yang baik karena ia adalah satu-satunya orang yang paling dibutuhkan ibunya, setelah ayahnya meninggal dunia.

 

 

Eomma.” panggil pria itu. “Selama ini, aku selalu menjalani kehidupanku yang membosankan.” kemudian ia mendengus seraya menggenggam jemari tangan ibunya. “Aku merasa sangat kesepian di rumah. Tidak ada Eomma di sisiku, rasanya tidak menyenangkan.”

Lagi-lagi tidak ada respon. Namun Jiyong tetap melanjutkannya. “Setiap kali aku akan pergi, aku selalu teringat olehmu. Tapi, rasanya cukup aneh ketika aku mengingatmu. Pasti kecelakaan itulah yang terlintas di benakku.” Jiyong lalu membasahi bibirnya. “Maka dari itu, kau cepatlah sadar. Lalu, Eomma akan melihat betapa menderitanya diriku.“

Genggaman tangan Jiyong semakin erat. Desahannya keluar ketika ia sudah tak lagi melihat wajah ibunya yang lemah. Kini, ia beralih memandangi pohon beringin dengan rantingnya yang bergoyang tertiup angin di halaman. Matanya berkedip dua sampai tiga kali saat ia kembali menatap jendela.

Rangkaian bentuk hati itu belum juga menghilang. Bentuknya masih sama seperti kemarin, membuat pria itu tersenyum samar. Sekali lagi ia mendesah. Sepertinya ia teringat lagi dengan gadis berambut pirang itu. Tubuhnya yang tinggi juga bentuk wajahnya yang mungil membuat Jiyong tak bisa memikirkan hal lain. Hari itu, ia mendapatkan waktu yang cukup singkat untuk melihatnya. Tapi, ia merasa sudah cukup lama memperhatikannya.

“… Dan lagi, aku pernah melihat seorang gadis di luar sana.” Jiyong kembali menatap ibunya lalu merubah posisi ia duduk. “Dia sangat manis, dan dia cukup lama berdiam diri di sana. Aku juga melihat dia… menangis.” Manik mata coklatnya mengarah ke bawah dan tersenyum.

“Aku pikir, dia sama menyedihkannya denganku. Benar, kan?”

Jiyong menelan ludah. Sejujurnya, ia tidak ingin membicarakan hal itu pada ibunya. Tapi apa boleh buat, tidak ada yang terpikirkan lagi selain masalah sepele macam itu. Bahkan, perihal itu bisa membuat Jiyong terpuruk. Memang benar, karena ia sama saja merendahkan diri sendiri. Rasanya benar-benar tidak nyaman.

 

“… Eomma, aku ingin ke toilet sebentar.”

 

*****

 

Jiyong menarik napas dalam-dalam, kemudian dihembuskan, setelah ia duduk sendirian di salah satu deretan kursi yang berada di depan kamar rawat inap ibunya. Ia memainkan jari-jarinya sesekali ia usapkan pada kedua lututnya yang tertutup kain celana jeans. Kadang-kadang, kedua kakinya itu juga tidak mau berhenti berderap di tempat. Ia akan menghentikannya ketika ada seorang pengunjung yang melewatinya. Untunglah hari ini rumah sakit sedang lengang. Jadi, ia bisa bebas bermain untuk menghilangkan kebosanannya.

Sebelum itu, Jiyong mengatakan pada ibunya kalau ingin pergi ke toilet. Namun alhasil, ia tidak jadi pergi kesana. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tiba-tiba saja ia enggan untuk pergi. Apalagi, ia juga tidak merasa ingin buang air. Mungkin, itu hanya alasan agar ia bisa keluar dan menghirup udara segar. Memang begitulah kenyataannya.

Saat di mana Jiyong masih berkutat dengan pikirannya sendiri, sejenak ia menangkap suara derapan kaki yang semakin lama semakin mendekat. Tapi pria itu mengabaikannya karena ia pikir mungkin akan ada pengunjung yang ingin lewat. Setelah berdiam diri cukup lama, Jiyong mendongak dan sedikit terkejut, mendapati seorang perawat dengan kacamata tebalnya, sudah berdiri menatapnya.

“Saya minta maaf. Tapi, apakah Anda ada janji hari ini? Atau mungkin, Anda sedang sibuk?”

Jiyong membulatkan matanya lalu menoleh kesana kemari, memastikan bahwa perawat ini memang sedang berbicara dengannya. “Ng… tidak. Kenapa?”

“Oh, syukurlah. Hari ini saya ada jadwal untuk menjaga pasien di kamar 405. Tapi, mendadak saya mendapat telepon dan ada urusan penting yang tidak dapat saya tinggalkan.”

Jiyong mengangkat sebelah alis dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Perawat itu berdeham sejenak. “Jadi, apakah Anda bersedia membantu saya untuk menjaga pasien itu? Saya mohon. Saya janji tidak akan lama. Lagi pula, saya sudah meminta ijin pada dokter.”

Mata Jiyong terbuka lebar karena kaget. “Apa? Ta—tapi, kenapa tidak kauberikan saja tugas ini pada perawat lain?”

“Sekarang, mereka sudah diberi tugas masing-masing, dan mereka kelihatan sangat sibuk. Saya takut jika saya mengganggu… “ Perawat itu mengakhiri penjelasannya. Pipi sebelah kanan Jiyong mengembang dan matanya menyipit.

“Jadi, Anda bersedia, kan?” tambah si perawat dengan sedikit mengernyitkan alis. Telapak tangannya ia padukan dan diangkat sebatas dagu, berharap supaya Jiyong menyetujuinya. Pria itu membutuhkan sedikit waktu untuk berpikir. Karena masih punya banyak waktu luang, akhirnya ia hanya membalas perintah perawat itu dengan senyum, lalu mengangguk.

 

*****

-405 Room-

Pintu kamar 405 terbuka perlahan, bersamaan dengan suara decitan pintu yang terdengar cukup nyaring. Kepala pria itu menyembul ke dalam seraya mengerjapkan matanya beberapa kali. Keadaan di dalam sana sangat sepi. Suasana kamarnya pun nampak gelap, tidak seterang kamar-kamar yang lain. Tapi, ini tidak sebegitu gelapnya karena masih dibantu cahaya matahari yang menerobos kaca jendela.

Jiyong mencari sosok pasien itu sampai ia bertemu dengan seorang gadis yang duduk di ranjang dengan memeluk kedua kakinya. Matanya melihat ke luar jendela. Padahal seharusnya gadis itu tersadar jika ada seseorang yang memasuki kamarnya. Tapi, ia hanya diam, bahkan sedikitpun tidak menggumamkan sesuatu. Mungkin ia sedang melamun.

Pria itu mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di depan ranjang. Awalnya ia ingin melihat wajah sang gadis lebih dekat. Namun, gadis itu sudah menatapnya duluan dengan kedua mata terbuka lebar. Ia cukup kaget mendapati Jiyong masuk ke kamarnya tanpa ijin.

Sebelum Jiyong membuka mulut, Chaerin menyembunyikan tangannya di balik selimut terlebih dahulu dan mengubah posisi duduknya untuk lebih tegap. Semua urat sarafnya menegang dengan sangat cepat, sampai Jiyong mundur beberapa langkah darinya.

“Eee… maafkan aku. Sepertinya, aku orang yang tidak mengerti sopan santun. Aku masuk ke kamarmu, tanpa mengetuk pintu.” kata Jiyong kikuk, lalu mencondongkan matanya sejenak. Ia tersadar jika pasien itu adalah gadis yang ia lihat kemarin.

“Jiyong imnida.“ Sapa pria itu seraya membungkuk dan tersenyum. “Dan atas persetujuanku dengan perawatmu, aku ditugaskan untuk menjagamu.” Jiyong kemudian mencoba meraih lengan gadis itu. Tapi, sebelum jari-jari Jiyong menyentuhnya, gadis itu sudah mengibaskan tangannya, menolak jika tangannya disentuh. Alisnya terpaut seiring dengan kedua matanya yang menatap Jiyong tajam. Ia sedikit memberi jarak pada pria itu sembari menempelkan tangannya di pipi.

“Jangan mendekat!” katanya, membuat burung-burung yang berjalan di tepi jendela kamarnya itu terbang bersama kawanannya supaya menjauh. Jiyong tersentak dan membulatkan matanya menatap gadis itu. Memang dirasakan cukup aneh. Ia tidak mengerti kenapa reaksinya bisa sebesar itu. Padahal, ia hanya ingin menjabat tangan gadis itu, tidak ada maksud lain.

Semakin Jiyong mendekat, gadis itu malah berteriak. “Sudah kubilang jangan mendekat! Dan jangan menyentuhku!”

Lagi-lagi pria itu terkejut dengan kedua tangannya yang gemetaran karena gugup. “Ke—kenapa kau…”

“Kau masih berani menantangku, huh? Apa kau tidak mengerti ucapanku barusan?? Jangan mendekat dan jangan menyentuhku!! Aku tidak butuh pria sepertimu! Kau hanya pengganggu, selamanya kau akan menjadi hama!” Nada bicaranya terdengar semakin meninggi. “Lebih baik kau keluar dari sini!!”

Kali ini dahi Jiyong berkerut samar, memandangi gerak-gerik sang gadis yang tengah berusaha melindungi diri darinya. Entahlah, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Sebelum ini, gadis itu bersikap manis pada anak kecil, juga pada perawatnya. Bahkan, sampai pada dokter pun ia tidak akan mungkin berbicara seperti itu. Sedangkan waktu ia bertemu Jiyong? Selayaknya cuaca yang sedang cerah tiba-tiba berubah mendung. Semuanya menghilang bagaikan mimpi, tidak seperti yang pria itu bayangkan sebelumnya.

Jiyong hanya bisa berdiri mematung melihat gadis itu mengatur napasnya yang terengah sambil meletakkan tangannya di dada. Dia masih menatap Jiyong dengan tatapan tajam bersamaan dengan butiran air matanya yang tiba-tiba jatuh. Sudah dua kali ini Jiyong melihat gadis itu menangis. Tatapan matanya yang teduh, memperhatikan lekukan wajah sang gadis dengan penuh rasa iba. Dan apa yang gadis itu katakan barusan? Jiyong pengganggu? Hama?

Apa yang sebenarnya terjadi?

 

*****

 

-Jiyong’s Home-

Sambil ditemani secangkir kopi dan beberapa cemilan kecil, Jiyong duduk di meja belajarnya dengan kedua tangan menopang dagu. Dari jendela, ia melihat hiruk pikuk orang-orang yang melewati rumahnya. Beberapa di antara mereka berjalan bersama anak kecil. Bahkan, ada juga yang tengah bersepeda bersama kekasih, atau semacamnya. Jiyong tersenyum kecil. Mereka semua cukup bahagia. Sedangkan dirinya? Ia hanya bisa berdiam diri di rumah sakit untuk menjaga ibunya yang koma.

Jiyong memukul kepalanya beberapa kali sampai ia merasakan denyutan di urat sarafnya. Rasanya tidak enak jika menjelek-jelekkan martabatnya sendiri. Menjaga ibu adalah kewajibannya. Jadi, tidak mungkin jika ia harus menyalahkan kenyataan, bukan?

Kemudian ia kembali menatap ke luar jendela, merenungkan sesuatu yang menurutnya pantas untuk direnungi. Bayang-bayang kejadian barusan membuat alisnya berkerut dan ia menghembuskan napas panjang.

Sejenak Jiyong menyesap kopinya perlahan lalu diletakkannya cangkir tepat di samping kirinya. Gerakan matanya kini berganti memandangi buku-buku yang tertata rapi di rak, yang menyatu dengan meja belajar. Dia melihat deretan buku itu sampai ia menemukan salah satu buku yang menarik perhatiannya. Sesaat kemudian ia kembali mengingat kata-kata si perawat beberapa jam yang lalu.

“Selama 12 tahun ini, dia sudah terkena penyakit HIV. Dan memang, dia akan selalu memberontak jika bertemu dengan seorang pria sepertimu karena dia mempunyai pengalaman buruk ketika masih berumur 15 tahun. Kecuali jika dia bertemu dengan seorang anak kecil dan seorang dokter. Karena mereka tidak termasuk dalam ingatannya.”

Sedikit demi sedikit ia mengerti, kenapa gadis itu menolak untuk bertemu dengannya. Jiyong tak habis pikir jika gadis seperti itu sudah terkena HIV. Dalam usianya yang masih 17 tahun, pasti terasa sangat sulit ketika menjalani hidupnya. Semua peristiwa itu membuat Jiyong mengacak-acak rambutnya pertanda kesal. Mungkin gadis itu berpikir jika Jiyong menyentuhnya, maka ia juga akan tertular penyakitnya.

Kalau perawat itu tahu jika sang gadis tidak ingin bertemu dengan pria semacam Jiyong, untuk apa ia menugaskan Jiyong untuk menjaganya? Dasar, perawat aneh, batin pria itu jengkel.

Sebelum Jiyong kembali merenung, seketika ia menggagalkan usahanya, begitu pancaran mata itu mengarah pada salah satu buku yang berkaitan dengan penyakit sang gadis. Tidak ada salahnya jika ia mempelajari sedikit tentang asal-usul penyakitnya. Tanpa buang-buang waktu ia segera mengambil buku itu dan mulai membacanya.

 

*****

 

– Gangnam Severance, 405 Room-

Chaerin masih berkutat dengan pikirannya sendiri semenjak ia terbangun dari tidurnya sekitar pukul sebelas malam. Suara lirihnya itu digunakan untuk bersenandung kecil seraya memainkan bantal juga gulingnya. Gadis ini seperti hewan nokturnal saja—sangat aktif di malam hari.

Dan dari semua kamar yang dipenuhi oleh penghuni rumah sakit ini, hanya kamar Chaerin yang lampunya masih menyala.. Lagi pula, di kamarnya tidak ada seorang pun perawat yang menjaganya. Tidak seperti pasien lain. Jujur, ia cukup kecewa, karena ia merasa seperti dibiarkan saja—atau lebih tepatnya ditelantarkan.

Lalu, ia duduk termenung dengan kepala di atas lututnya. Tanpa ia sadari, ia pun kembali mengingat masa lalunya yang kelam. Masa lalu dimana ia masih menjadi bahan ejekan karena penyakit ini. Mereka bilang, ia tidak memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama. Semua ini terasa sempit di otaknya. Berbagai kata-kata kasar yang terus membayanginya, membuat ia tidak dapat mengontrol emosi yang membuncah sampai ia membuang bantalnya ke pintu.

Tetapi, sebelum bantal itu membentur pintu, benda berisi kapas lembut itu sudah mengenai seorang pria yang berdiri di depan Chaerin tepat di wajahnya. Bantal itu terjatuh sampai pria itu tak berkutik dan diam seribu bahasa. Ia menatap Chaerin datar, lalu mengambil bantalnya dan diletakkan di depan dada.

Langkahnya semakin mendekat, membuat Chaerin tak bisa berbuat apapun selain menarik selimut yang ia genggam dan mengeratkan kedua kakinya di depan dada. Kedua matanya kembali menatap pria itu tajam. Ia benar-benar tidak mengerti. Semenjak ia bertemu dengan sang pria, pasti ia teringat akan kejadian 2 tahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya terpuruk selama beberapa tahun disini.

“Untuk apa kau kemari?? Aku sudah katakan padamu bahwa aku tidak butuh pria sepertimu!!” Bibir mungilnya langsung melontarkan kalimat kasar—yang entah darimana ia dapatkan. Namun yang pasti, kata-kata itu sama sekali tak pernah ia pikirkan.

“Jangan salah paham… Aku..”

 

BRAK!!

 

“Sekarang juga kau keluar!!”

Pria itu—Jiyong mendengar bantahan sang gadis, namun ia tidak menanggapinya. Hanya dengan satu kali melangkah, ia langsung membuang bantal dan menggenggam lengan Chaerin cepat sampai gadis itu terkejut dan berusaha untuk melepaskan tangan pria itu darinya. Sekalipun ia melunta-lunta, namun Jiyong tetap menggenggam lengannya dan semakin lama semakin erat.

“Lepaskan aku!!”

Jiyong pura-pura tidak mendengarkan bantahan Chaerin.

Mata gadis itu berkaca-kaca akibat rasa nyeri di lengannya. Awalnya pria itu masih bersikeras menggenggam lengannya. Tapi, karena melihat air mata Chaerin yang hampir jatuh dari kelopak matanya, Jiyong lambat laun tidak lagi mempererat genggamannya, dan Chaerin juga sudah berhenti mengguncang-guncang lengannya.

Gadis itu mulai terisak. Dengan kedua tangan yang masih bersentuhan, tatapan mereka pun bertemu. Chaerin melihat sekelebat cahaya kecil di bola mata Jiyong, yang sedikit bersinar tertimpa cahaya bulan.

“Kumohon, dengarkan aku…” Pria itu merendahkan suaranya. Ia menunggu Chaerin untuk menenangkan pikirannya. Ditatapnya kedua mata Chaerin dalam, kemudian berdeham. “… HIV, tidak akan menular kalau hanya lewat sentuhan.”

Sesaat hening. Gadis itu masih menunggu Jiyong menyelesaikan kalimatnya. “Jika kita tidak berhubungan darah, penyakitmu itu tidak akan menular padaku.”

Mendengar ucapan Jiyong yang begitu lembut membuat Chaerin tak bisa berbuat banyak. Senyum pria itu perlahan merekah, menatapnya bisu di tengah keheningan malam. Kini ia mendesah pelan ketika pria itu mencoba duduk di tepi ranjangnya. Sedikit ragu-ragu ia melirik wajah pria itu. Dia tetap tersenyum, entah jika itu senyum yang dipaksakan atau bukan.

Ia sadar saat melihat air matanya sudah jatuh mengenai selimutnya. Hatinya kembali bergetar bersamaan dengan Jiyong yang mengusap puncak kepalanya pelan. Kedua tangan gadis itu tersentuh lagi oleh jemari Jiyong yang hendak meyakinkannya.

“Aku mengerti. Jika aku menjadi kau, aku juga akan bersikap sepertimu. Selebihnya pun aku akan melakukannya. Aku mengerti…”

Chaerin menatap Jiyong cepat, lalu mengusap sisa air mata di pipinya. Kedua alisnya berkerut dan ia menggertakkan giginya.

“Kau tahu apa tentangku??” Suaranya kembali meninggi. “Kau sama sekali tidak mengerti aku. Jangan sok tahu!”

Jiyong terperanjat. Ia memandangi wajah Chaerin cukup lama sampai gadis itu beranjak dari ranjang dan berlari meninggalkan Jiyong. Pria itu segera berdiri begitu gadis itu sudah membuka pintu dan berlari keluar.

Derapan kaki Chaerin terdengar begitu nyaring sampai di lantai bawah. Meski begitu, ia tetap tidak peduli bagaimana resikonya jika keluar malam-malam. Namun, ketika Chaerin tengah menyusuri koridor rumah sakit, tiba-tiba tali sandalnya putus. Ia mendengus tidak sabar dan terpaksa untuk berhenti melarikan diri.

Chaerin merasa ia sudah jauh dari kamarnya. Kemudian ia membutuhkan sedikit waktu untuk mengistirahatkan kakinya. Sembari duduk di lantai marmer yang dingin, ia berdecak pelan dan tidak bisa berhenti melihat ke belakang, takut jika Jiyong ikut mengejarnya. Selain itu, kaki kanannya juga terasa sakit dan terdapat luka kecil. Keadaan semacam itu membuat ia sungguh kesal karena kesempatannya untuk pergi dari Jiyong jadi menghilang.

Sebelum gadis itu bangkit, ia mulai merasakan ada sesuatu yang datang. Ya, sudah dipastikan jika yang datang itu adalah Jiyong. Benar saja ketika langkah sepatunya yang berdebam itu terdengar jelas di telinga Chaerin. Pria itu bergegas menghampiri Chaerin lalu berjongkok, melihat kaki kanan Chaerin yang terkilir. Ia tahu karena Chaerin terus menerus memegangi kaki kanannya. Walau pria itu tengah berada di sampingnya, Chaerin tetap membuang muka dan kembali berdecak.

 

Sial, kenapa orang ini selalu mengikutiku?

 

“Ini akibatnya karena kau tidak mendengarkanku.” Pria itu tersenyum puas, melihat Chaerin mengernyitkan alis dan menggembungkan sebelah pipinya.

Jiyong terdiam sejenak begitu melihat gadis itu mendesis menahan sakit. Memang kaki Chaerin terluka. Namun, ini sudah larut malam dan Jiyong enggan jika harus memanggil perawat yang berjaga malam ini.

Tapi, berhubung ia masih mempunyai selotip di kantung celananya, dengan segera ia mengambil selotip itu dan menempelkannya tepat pada luka. Chaerin sedikit tertolong berkat bantuan Jiyong. Meskipun ia bersikap cuek pada pria itu, namun di dalam hatinya, ia sungguh berterima kasih.

“Nah, begini sudah beres, kan?” Kemudian Jiyong sedikit melangkah membelakangi Chaerin—masih tetap dengan posisi jongkok. Kedua tangannya ia rentangkan ke belakang dan sedikit menoleh pada gadis itu. “Ayo naik.”

Mwo? Apa maksudnya? Batin Chaerin bertanya-tanya.

Orang ini berniat untuk menggendongku, begitu?

“Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri.”

“Dengan kondisi kakimu yang seperti itu mana mungkin kau bisa berjalan. Jangan memaksakan diri. Aku akan membantumu. Bukankah kau ingin keluar?”

Meski bukan itu yang Chaerin pikirkan, ia hanya mengangguk pelan. Pria itu seperti bisa membaca pikirannya jika ia memang sedang bosan. Melihat senyuman yang menghiasi wajah Jiyong, Chaerin merasakan wajahnya mulai memanas hingga muncul semburat merah di pipinya. Dia malu. Tentu saja. Siapa yang tidak malu jika mendapatkan senyuman macam itu? Lagipula, pria itu juga terlihat tidak begitu buruk baginya.

Tanpa mengulur waktu, tangan Chaerin langsung terulur meraih pundak Jiyong sampai pria itu mengangkatnya. Kedua lengan Chaerin melingkar di leher Jiyong dan sedikit tersenyum begitu pria itu menghela napas sejenak.

“Haah… Ternyata kau lebih berat dari yang kuduga.”

Chaerin cemberut dan memukul pundak Jiyong, mengakibatkan pria itu meringis kesakitan. “Kalau begitu turunkan aku!”

Yak! Tak bisakah kaupelankan suaramu? Membuat telingaku berdengung saja. Lagi pula, aku hanya bilang kalau kau lebih berat dari yang kuduga.”

Lagi-lagi gadis itu berdecak. “Begitukah? Kurasa aku sudah cukup kurus.”

Jiyong mengangkat sebelah alis sembari melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. “… Siapa yang bilang begitu?”

“Itu menurut pemikiranku.”

Jiyong hanya mengangguk mengerti. Sesekali ia melirik wajah Chaerin yang berada di sebelah kanannya. Senyum simpulnya itu terlihat dan ia bergumam. “Ternyata cukup mudah untuk menjinakkanmu.”

“Apa? Kau mengatakan sesuatu?” Mata Chaerin membulat. Ia tidak mendengar apa yang baru saja Jiyong ucapkan. Itupun karena Chaerin sesaat sedang melamun.

“…Tidak. Lupakan.” Jawab pria itu singkat, membuat Chaerin kembali cemberut. Tapi tiba-tiba ia memukul pundak Jiyong lagi. “Katakan!” Ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya sambil mengguncang-guncangkan kakinya—meskipun masih sakit. Tubuh tegap pria itu pun sedikit oleng dan hampir saja ia berjalan mundur karena Chaerin tiba-tiba menarik lehernya.

“Hei, awas! Kau mencekik leherku!”

Gadis itu tertawa. “Kajja, katakan sekali lagi!”

Aishshireo!

“Ck. Dasar namja ini.”

Akhirnya mereka larut dalam perdebatan kecil itu sampai menimbulkan suara tawa yang sedikit mengganggu tidur penghuni rumah sakit. Tidak bisa dibayangkan jika gadis itu bisa seceria ini, setelah beberapa tahun yang lalu hidup dengan suasana yang terlihat sepi juga mengerikan.

Lagi pula, ini semua berkat pria itu. Dia mampu mengubah sikap Chaerin yang cuek dan suka emosi itu menjadi sedikit lebih tenang dan ramah. Tingkah laku Chaerin yang suka berbicara dengan nada tinggi dan kasar pada Jiyong pun berkurang—walau hanya sedikit. Semuanya berganti, meski terjadi insiden kecil di koridor rumah sakit. Gadis itu cukup senang ketika bersama Jiyong. Rasanya begitu hangat, dan nyaman.

 

Tapi, kenapa orang ini begitu baik padaku?

 

*****

 

-Bench, near Gangnam Severance-

Di bawah sinar bulan yang menghiasi sekitar Gangnam, kedua insan tersebut tengah asyik memandangi benda langit itu seraya menikmati angin malam yang rasanya sangat dingin. Sampai-sampai Jiyong harus meminjamkan jaketnya pada Chaerin, takut jika gadis itu kedinginan. Ia tersenyum sesaat setelah Jiyong memakaikan jaket pada tubuhnya.

“Terima kasih. Kau terlalu baik.”

Jiyong ikut tersenyum. Lalu ia mengambil botol air mineral yang baru saja  dibelinya dari minimarket 24 jam yang berada di sampingnya, kemudian meneguknya hingga hampir setengah botol. Sepertinya ia cukup haus.

Gwenchana…” katanya tanpa melirik Chaerin. Karena gadis itu masih menatapnya, ia buru-buru menambahkan. “Oh iya, kau tidak perlu memanggilku Oppa. Cukup Jiyong saja.”

Mata Chaerin menyipit dengan mulut sedikit terbuka. “Mwo? Kau bahkan lebih tua dariku.”

“Khusus untukmu, kau boleh memanggilku Jiyong.”

Gadis itu memiringkan kepalanya. Padahal ia baru saja mengenalnya. Tapi pria itu sudah seperti menganggapnya istimewa. “Apa karena aku terlihat kasar padamu, begitu?” Chaerin tertawa. “Rasanya, itu tidak adil.” Katanya disertai dahi yang berkerut samar. Seseorang yang berada di sampingnya itu pun hanya diam seraya tetap tersenyum.

“Jiyong… “ Chaerin berhenti sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya. ”…Atau Jingyo?” Wajah Chaerin terlihat cerah begitu mendengar nama ‘Jingyo’ keluar dari bibirnya. Gadis itu memang sedang bercanda dan rasanya juga terdengar aneh. Tapi, menurutnya nama itu cukup lucu dan mudah diingat. Sampai-sampai ia terkekeh geli.

Namun, ini sangat berbeda jauh dengan pendapat Jiyong. Pria itu berdecak lalu mengacak-acak rambut Chaerin pelan. “Jangan bergurau…” gumamnya, membuat gadis itu menunduk dan mengangguk paham.

“Dan aku juga akan memanggilmu Chaerin.”

Chaerin mendongak dengan mata disipitkan, merasa curiga. “Dari mana kau tahu namaku?”

Jiyong tertawa pelan. Kaki kanannya ditopang di kaki kirinya. Sedangkan pergelangan tangannya bersembunyi di dalam kantong celananya yang hangat. Ia terdiam cukup lama, sengaja membuat gadis itu semakin penasaran. Chaerin masih menunggu jawaban Jiyong hingga pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Chaerin perlahan.

Sejenak Jiyong melihat semburat merah menghiasi kedua pipi Chaerin. Gadis itu malu, sama seperti waktu mereka berada di koridor rumah sakit. Tapi, ini cukup berbeda karena debaran jantung Chaerin dirasa makin cepat dari sebelumnya. Sedari tadi pria itu memamerkan senyumnya yang tampak santai.

“Itu … rahasia.” Kata Jiyong dengan sedikit penekanan pada kata ‘rahasia’. Lalu ia menjentikkan jarinya ke dahi Chaerin. Gadis itu terhenyak dan berteriak menahan sakit. Diusapkan dahinya berkali-kali sampai rasa sakitnya mereda. “Kau ini.” Gumamnya pelan. Beruntung Jiyong tidak mendengarnya.

Beberapa saat kemudian, mereka larut dalam keheningan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Chaerin, tengah asyik memainkan ujung rambutnya yang melayang-layang terbawa angin. Sedangkan Jiyong, ia begitu serius mengingat penyakit yang diderita sang gadis. Otaknya itu tidak mau berhenti memikirkan hal itu sebelum akhirnya ia menatap Chaerin dengan sebelah mata. Gadis itu sangat senang ketika tatapannya kembali mengarah pada Jiyong. Ia tertawa, membuat pria itu ikut tersenyum.

 

Meskipun tertawa, akankah ia bisa bertahan hidup lebih lama?

 

“Jiyong-ah.” Panggil Chaerin di tengah-tengah lamunan pria itu. Jiyong menyahutnya dengan gumaman kecil yang sempat terdengar oleh Chaerin. Gadis itu tersenyum simpul dan menyentuh tangan Jiyong perlahan.

“Apakah kita bisa… seperti ini lagi, ya?”

Mata Jiyong terbuka lebar. Ia menatap Chaerin dalam, bertanya-tanya untuk apa ia mengatakan hal itu.

“Rasanya, aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin bersamamu, untuk yang kedua kalinya…” Chaerin berhenti sejenak, lalu menambahkan. “Meski bagimu aku terlihat begitu merepotkan, tapi setidaknya aku ingin… bahagia.”

Gadis itu berkata gugup dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berkali-kali ia menggigit bibir bawahnya dan ia juga cukup ragu jika suatu saat pria itu menanggapinya dengan kata ‘tidak’. Walau bagaimanapun, itu sungguh menyakitkan.

Tapi, pria itu tersenyum simpul. Kemudian mengelus puncak kepala Chaerin pelan. “Baiklah.”

Jinjja?” Sahut Chaerin tiba-tiba dan tersenyum dengan raut wajah senang. “Kau mau bersamaku? Janji?”

Jiyong berpikir sebentar, kemudian mengangguk mantap. “Aku janji.”

Tiba-tiba Chaerin memekik girang, lalu berlari kesana kemari mengitari bangku. Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat sang gadis tertawa riang. Sungguh, untuk kali ini saja, Jiyong tidak mengerti tentang perasaannya. Rasanya ia begitu yakin jika ia bisa mengorbankan semuanya demi gadis itu.

Bukankah itu berarti Jiyong juga senang bersamanya? Ya, hari ini ia cukup senang meski harus mendengar nada bicara Chaerin yang terdengar sedikit kasar. Tapi, Jiyong berniat untuk terus bersamanya, apapun yang terjadi. Ia berjanji—dalam hati akan selalu menjaganya—sampai akhir.

 

“Jiyong-ah… kau adalah orang yang paling baik sedunia!”

 

*****

“Yak ! Untuk apa kau bermain-main dengan benda itu?”

 

“Itu karena… aku penasaran bagaimana rasanya.”

 

 

Aigo, kau ini bagaimana? Kau sangat kesulitan menggunakannya.”

 

“Iya, aku tidak bisa seleluasa itu. Kau bisa membantuku melakukannya?”

 

“Aish… sebenarnya aku takut. Tapi, akan aku coba.”

 

 

“…Rasanya sakit tidak?”

 

“I—Iya. Sedikit.”

 

 

Oh, astaga… aku harus cepat kembali. Kalau begitu, sampai jumpa.”

 

“Eh? Tapi tunggu dulu! Aku… yah, dia sudah pergi…”

 

 

Kenapa?

 

Kenapa kau malah pergi?

 

*****

 

Four week later…

-Jiyong’s Home-

Jiyong tiba-tiba terbangun dari tidurnya disaat mimpi buruk itu berakhir. Akhir-akhir ini, ia sering mendapatkan mimpi semacam itu. Mimpi yang aneh, batinnya. Tentu saja. Karena mimpi itu selalu muncul tiba-tiba, dan sama sekali tidak terketahui asal-usulnya.

Kemudian, Jiyong memegangi kepalanya yang sedikit pusing dan menunduk. Enggan rasanya ketika ia harus cuci muka ke kamar mandi. Masih pagi, dan ia juga masih mengantuk.

Diliriknya layar ponsel yang tergeletak di sampingnya. Tidak ada pesan masuk. Lalu ia beralih melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam pagi. Meski terlalu cepat, ia berniat untuk pergi mandi—walaupun Jiyong yakin bahwa air yang ia gunakan untuk membasahi tubuhnya itu akan terasa dingin. Sebelum ia beranjak dari ranjang, ia sudah terganggu oleh suara bising dari ponselnya.

Ada sebuah panggilan, dan itu berasal dari Gangnam Severance. Aneh, baru kali ini ia mendapat telepon dari rumah sakit. Mungkin, ini berkaitan dengan kesehatan Eomma, pikirnya. Jiyong berdeham sejenak sebelum akhirnya ia menerima panggilan.

Yeoboseyo.”

Yeoboseyo. Tuan Kwon Jiyong?”

Pria itu menautkan alisnya. “Ya, ini aku. Waeyo?”

“A—ada… Ada seorang pasien yang ingin bicara dengan Anda. Di—dia…”

Sebelum perawat itu menyelesaikan kalimatnya, Jiyong mendengar sudah ada seseorang yang merebut gagang telepon rumah sakit sambil berbicara keras. Suaranya terdengar cukup lantang, membuat Jiyong samar-samar bisa menebak suara siapa itu. Mungkinkah jika dia…

YeoboseyoYak! Jiyong-ah! Ini aku, Chaerin!” telinga kanan Jiyong langsung berdengung dan dia sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar teriakan di seberang sana. Sudah ia duga jika pasien itu adalah Chaerin. Sudah lama ia tidak bertemu dengannya. Ternyata dia masih sama seperti dulu—sedikit kasar.

Ne. Untuk apa meneleponku?”

Aish! Kau sudah lupa dengan janjimu? Aku ingin bertemu denganmu lagi… Ingat?” Wajah Chaerin berseri-seri lalu tersenyum.

“Bukankah aku sudah memenuhi janjiku waktu itu? Dua minggu yang lalu aku sudah bertemu denganmu. Bahkan, kita juga sudah bermain bersama.”

“Tapi, dua minggu setelahnya, kau tidak pernah mengunjungiku lagi!” Chaerin berteriak, membuat seseorang yang sedang berbicara dengannya itu menunduk lesu dan mengacak-acak rambutnya. Astaga, dia masih bersikap manja padaku, batin Jiyong. Meski begitu, kelihatannya suara Chaerin tidak senyaring dulu. Sudah berubah kah dia? Entahlah. Ia juga tidak tahu.

Tanpa berpikir panjang, akhirnya pria itu menyerah. Ia segera bangkit dari ranjang dan berjalan keluar untuk mengambil handuk. “…Ya. Baiklah, baiklah. Tapi, tidak untuk pagi ini.”

Mwo? Wae?” Mimik muka Chaerin seketika berubah murung. Bibirnya yang kecil itu mengerucut. Ia tidak sadar jika suaranya yang keras itu membuat banyak orang memperhatikan gerak-geriknya karena mengganggu ketenangan rumah sakit.

“Aku harus menjenguk Eomma.” jawab Jiyong malas setelah ia menarik handuk yang tergantung di atas jemuran. Lalu melangkah ke kamar mandi. “Bisakah lain kali saja?”

“Tidak bisa! Aku ingin bertemu denganmu sekarang…!” pekik Chaerin memaksa. Jiyong mendesah dan mengusap-usap tengkuknya. “Kenapa harus sekarang?”

“I—Itu karena… karena… aku…”

Kalimat Chaerin terputus bersamaan dengan langkah Jiyong yang terhenti. Suasana disana menjadi hening. Jiyong menunggu kata-kata Chaerin selanjutnya. Cukup lama ia menunggu, karena orang yang berada di seberang sana tengah ragu-ragu untuk mengatakannya.

“Karena…aku… merindukanmu… bogoshippo!”

Sekujur tubuh Jiyong seketika membeku. Bola matanya bergerak-gerak dan berkedip beberapa kali sampai bibirnya sedikit terbuka. Mendengar suara Chaerin barusan membuat jantungnya berdenyut. Ia tidak bisa memaksakan diri untuk berpangku tangan ketika ia merasakan dadanya sedikit sesak. Memang, ia pernah merasakan hal itu di masa lalunya. Tapi, apakah ini pertanda bahwa ia juga merindukan gadis itu?

~Flashback~

 

Two week ago..

Pagi itu, mereka kembali duduk di bangku panjang sebelah rumah sakit untuk mengistirahatkan diri setelah berjalan-jalan cukup jauh. Gadis itu tidak mau berhenti menatap ke depan. Sedangkan Jiyong? selama mereka duduk, ia sama sekali tidak mengubah pandangannya dari Chaerin. Tanpa melirik kemanapun, ia tetap memandang Chaerin. Gadis ini cukup lucu, dan menarik. Wajahnya yang mungil juga tingkahnya yang terkesan cukup menyebalkan itu, membuatnya tidak bisa berpikir banyak mengenai apa dan bagaimana pribadi gadis ini sebenarnya.

Bahkan, ia jadi teringat ketika tali sandal Chaerin putus—lagi karena terlalu banyak berlari menyusuri pesisir pantai. Sampai-sampai, ia mengorbankan sepatunya untuk gadis itu meskipun akhirnya sepatu bagian kanan Jiyong terbawa ombak karena Chaerin melepaskannya begitu saja—dengan sengaja. Bukannya merasa bersalah, gadis itu malah menahan tawa ketika melihat mata Jiyong yang melotot ke arahnya.

Ini kali pertamanya ia mendapatkan pengalaman semacam itu. Tapi, ia masih bisa bersabar menghadapi kelakuan Chaerin yang sedikit liar itu. Toh, menurutnya sepatu itu harganya yang paling murah—dari beberapa sepatu yang ia miliki.

Belum lagi ketika pria itu membeli es krim. Satu eskrim untuknya, dan satu eskrim untuk Chaerin. Tapi, saat gadis itu baru mendapatkan dua gigitan, tiba-tiba ia menjatuhkan eskrimnya karena ia terkejut ketika ada seseorang yang menabrak bahunya. Amarah Jiyong pun hampir tersulut sampai ke ubun-ubun. Padahal, harga eskrim itu terkesan sangat mahal—atau bisa dibilang paling mahal.

Meski begitu, karena Jiyong tidak ingin melihat Chaerin bersedih, akhirnya ia berbagi eskrimnya dengan gadis itu untuk dimakan berdua. Mereka tidak menyadari disaat mereka menciptakan sebuah kenangan dimana Chaerin sengaja mengotori wajah Jiyong menggunakan eskrim. Sama halnya dengan pria itu sampai akhirnya mereka saling kejar mengejar—tanpa mengenakan alas kaki untuk membalas perbuatan masing-masing.

Chaerin tertawa melihat wajah Jiyong yang sudah penuh dengan eskrim. Berbeda dengan reaksi Jiyong yang tawanya cukup menggelegar saat gadis itu berkaca di depan cermin besar di sekitar toko pinggiran kota. Meski jengkel, tapi Chaerin juga ikut tertawa.

Melihat suasana yang seperti ini rasanya begitu menyenangkan. Chaerin sudah mendapatkan beberapa kebaikan dari Jiyong. Mulai dari meminjamkan sepatu, sampai pria itu melindunginya dari anjing galak di jalanan karena Chaerin takut anjing. Semuanya Jiyong lakukan demi gadis itu. Sampai pria itu kembali menggendong Chaerin karena kakinya terkilir untuk kedua kalinya. Mereka berdua sudah mengukir kenangan yang sangat dramatis. Antara suka dan duka bercampur jadi satu. Semua yang mereka lakukan, membuat hari-hari Chaerin menjadi lebih berwarna.

Walaupun Jiyong rasanya sudah lebih mengenal Chaerin, namun pria itu masih digeluti rasa sedih dan penasaran. Bagaimana jika semuanya akan berakhir menyedihkan? Apa yang menyebabkan Chaerin menderita penyakit mengerikan itu?

“Chaerin-ah… dari mana kau mendapatkannya?” pertanyaan itu sudah berulangkali diucapkan Jiyong dan Chaerin baru tersadar karena pria itu mengatakannya dengan suara keras. Gadis itu terdiam sejenak, kemudian menarik napas dalam-dalam.

“Maksudmu, HIV? … Seingatku, aku seperti ini karena suntik.”

Alis Jiyong terangkat. “Suntik?”

“Ya, suntik bekas HIV. Awalnya aku tidak tahu. Karena iseng, aku menancapkan suntik itu di lenganku. Tapi, setelah 10 tahun kemudian, Appa-ku yang dulunya seorang dokter memeriksa darahku. Dan di saat itulah aku tahu kalau aku sudah terinfeksi HIV.”

Jiyong hanya diam—masih ingin mendengarkan kelanjutan cerita Chaerin.

“Tapi sekarang, mereka semua membuangku. Bahkan, saat umurku masih 15 tahun, banyak teman laki-lakiku yang mengejek dan mencelaku karena ini. Sampai ada yang menjulukiku gadis jelek dan menjijikkan. Aku mengalami trauma menyedihkan dan sebegitu takutnya aku ketika melihat laki-laki dewasa, sepertimu. Ini lebih buruk dari yang kau bayangkan, bukan?”

Oh, begitu. Pantas saja waktu itu sikapnya begitu sarkastis saat pertama kali bertemu denganku, batin Jiyong. Ia mengusap-usap pundak Chaerin untuk bersikap tabah. Senyum gadis itu merekah, menatap mata Jiyong lekat-lekat.

“Tapi, sampai sekarang, aku masih merasa ada sesuatu yang hilang. Dia berada di sampingku. Dia satu-satunya orang yang sangat aku harapkan…” Chaerin mencoba mengingat masa lalunya dengan kening berkerut. Namun akhirnya ia menyerah, takut jika kepalanya akan terasa pusing.

“Sayang, aku lupa bertanya siapa dia. Tapi… ah, sudahlah. Yang terpenting sekarang, karena kau, trauma yang kudapati berangsur-angsur menghilang. Terima kasih karena kau sudah menjagaku. Terima kasih juga, untuk hari ini.” Chaerin meraih tangan Jiyong perlahan dan digenggamnya erat. Kedua alisnya sedikit demi sedikit bertemu, memperlihatkan senyum tipisnya.

“Jiyong-ah… Menyenangkan sekali karena kau bersamaku seharian. Andaikan aku bisa berada di sisimu… lebih lama lagi.”

 

Bisakah?

 

~Flashback end~

 

*****

 

-Gangnam Severance –

Suasana di sekitar rumah sakit terlihat begitu ramai. Suara-suara gaduh secara samar terdengar oleh pengunjung. Terutama dari lantai dua rumah sakit. Gadis itu—Chaerin tengah berteriak beberapa kali ketika dua orang perawat langsung menggenggam kedua lengannya dan menyeretnya masuk ke kamar. Tapi, gadis itu terus memberontak dan memekik berusaha melepaskan tangan kedua perawat itu darinya. Sampai mereka berdua kewalahan menanganinya karena baru kali ini Chaerin bersikap sangat kasar pada mereka.

Yak!! Aish… lepaskan aku, perawat pabo!! Aku harus bertemu Jiyong!!”

Perawat itu berusaha untuk tidak menanggapi kata-kata kasar itu dan masih menjaga sopan santun mereka. “Kami harus membawa Anda ke kamar karena Anda harus minum obat.”

“Obat apa lagi, huh?? Aku sudah beberapa kali minum obat. Tapi apa hasilnya? Aku tetap seperti ini!”

Mereka berdua hanya diam saja dan tetap membawa Chaerin masuk ke kamarnya. Mereka membawa Chaerin seperti sedang membawa orang tidak waras yang suka berteriak tidak jelas. Mereka langsung merebahkan tubuh Chaerin di ranjang dengan kasar. Satu perawat bertugas memegangi tangan Chaerin, sedangkan perawat lain bersiap-siap untuk memasukkan obat ke mulut gadis itu.

Awalnya obat itu berhasil masuk, tapi secara paksa Chaerin mengeluarkannya lagi dan membuangnya ke luar jendela. “Aish…obat apa itu? Rasanya tidak enak!!”

“Tapi Nona Chaerin… Anda harus meminum obat Anda.” Paksa salah seorang perawat.

Gadis itu berdecak dan terus meronta untuk melepaskan tangannya. “Tidak mau! Lepaskan aku!”

Karena sudah tidak bisa bersabar lagi, tidak peduli jika gadis itu memekik meminta tolong atau semacamnya, perawat itu langsung mengambil obatnya lagi dan menjejalkannya tepat di mulut Chaerin. Meski perawat itu merasa kasihan, tapi itu merupakan tugas dari dokter. Kedua perawat itu juga merasa takut akan tingkah laku Chaerin karena mereka berdua tidak pernah melihatnya seperti itu.

Chaerin memekik keras ketika obat itu masuk ke dalam mulutnya dan ia ingin mengeluarkannya lagi. Tapi tidak berhasil karena perawat itu segera memberikan air mineral ke Chaerin dan secara terpaksa pula gadis itu meminumnya. Ia tidak sadar jika satu tetes air matanya telah jatuh. Kuku-kuku panjangnya menggenggam erat selimut dan meringis menahan sakit di tenggorokannya.

Kedua perawat itu merasa lega—karena tugas mereka telah selesai. Mereka berusaha untuk tidak melihat gadis itu menangis. Dengan sikap mereka yang dingin, keduanya lalu berbalik dan sedikit terkejut mendapati Jiyong sudah berdiri di depan pintu dan menatap mereka dengan tatapan tajam. Awalnya ia melirik Chaerin sebentar, lalu memandangi kedua perawat itu.

“Apa yang kalian lakukan padanya?”

Keduanya saling berpandangan, merasa gugup. “Ah, Tuan… kami hanya…”

“Kalian telah berbuat jahat?” Nada bicara Jiyong mulai meninggi. Mereka berdeham sesaat, kemudian berkata tegas. “Kami sudah berbuat baik agar dia mau meminum obatnya. Tapi, karena dia bersikap seperti itu pada kami. Kami terpaksa menjejalkan obat ke dalam mulutnya lalu…”

 

PLAK!

 

“Perawat macam apa kalian ini??” perasaan berkecamuk menyelimuti Jiyong setelah ia menampar pipi kanan salah satu perawat dengan mata melotot, melihat gerak-gerik mereka yang bergidik ngeri akibat ulahnya. Wajahnya memerah menahan amarah. Berbeda dengan Chaerin yang terhenyak dan membuka mata lebar-lebar melihat kejadian itu.

“Tidak seharusnya kalian bersikap seperti itu pada pasien seperti dia!” teriak Jiyong bersamaan dengan telunjuknya yang menunjuk Chaerin. “Kalian semua bodoh!”

Sejenak mereka berdua menunduk, entah jika mereka merasa bersalah atau tidak. Tapi yang terpenting, mereka takut dengan tatapan mata Jiyong yang tajam dan terasa menusuk pada keduanya. Apalagi ketika mereka mendengar kata ‘bodoh’. Sungguh, itu menyakitkan.

“Kalian tidak pernah merasakan apa yang dia rasakan. Kalian semua tidak mengerti jika dia sangat kesepian. Orang-orang yang bersikap individualistis dan mementingkan egonya pasti tidak akan tahu bagaimana rasanya.”

Sesaat hening, Jiyong kemudian menambahkan. “Yah… seperti kalian yang sama sekali tidak memiliki hati.” Lalu ia memicingkan matanya menatap kedua perawat itu sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan Jiyong dan Chaerin. Syukurlah karena kedua perawat itu sadar jika mereka harus cepat pergi dari ruangan sebelum Jiyong mengatakan ‘Lebih baik kalian pergi sebelum tangan ini melayang di pipi kalian’.

Sepertinya kejadian tadi memberikan berkah pada Chaerin. Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan pria itu. Sama halnya dengan Jiyong yang tersenyum menatap Chaerin. Ia juga sangat merindukan Chaerin—setelah apa yang ia lakukan bersamanya dua minggu yang lalu. Meski Chaerin hanya tersenyum masam, Jiyong pun segera memeluknya erat dan membiarkan gadis itu menumpahkan air matanya di dada Jiyong. Sejenak suara lirih Chaerin terdengar samar.

“Kau menepati janjimu lagi…”

Jiyong mengangguk pelan. “Ya… tapi, berhentilah menangis. Aku sudah ada di sini.”

Chaerin mengelap ingus bersamaan dengan jemari Jiyong yang menghapus air mata gadis itu pelan dengan tatapan mata teduhnya. Ia tersenyum sejenak. Lalu memeluk Jiyong lagi. “Yang tadi itu… tidak seharusnya kau memarahi mereka. Mereka hanya ingin aku minum obat penambah darah tapi aku saja yang tidak mau. Kau sedikit keterlaluan.”

“Bukankah mereka yang bersikap keterlaluan padamu? Memaksa dan menjejalkan obat ke mulutmu, begitu?”

“Tapi, sungguh. Seharusnya aku sadar diri… kalau aku memang salah.” Chaerin melepas pelukannya dan mendongak menatap mata Jiyong lekat-lekat. “Maaf.”

Jiyong menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Lupakan saja.”

 

*****

-At Beach-

 

“Baiklah, Jiyong-ah. Akhirnya, kita berkunjung ke tempat ini lagi.” Chaerin membentangkan tangannya dan menghirup udara segar di pesisir pantai. Angin laut yang menerpa wajahnya lembut serta beberapa ombak berdesir terbentang di hadapannya. Beberapa burung gagak terbang di atas matahari yang akan terbenam—berwarna merah manyala membentuk gradasi dengan langit yang berwarna jingga kekuningan. Sungguh pemandangan yang indah. Bukan begitu?

Mereka berdua duduk di atas hamparan pasir putih di sekitar pantai. Jiyong mengambil segenggam pasir, kemudian ia merenggangkan genggaman hingga butiran-butiran pasir itu berjatuhan dengan sendirinya. Senyuman berkarisma itu terlihat seiring dengan udara sejuk yang menggerakkan rambut pendeknya.

Chaerin menatap ombak disertai langit jingga diatas sana sambil duduk bersila. “Baru kali ini aku melihat yang seperti itu.” Kemudian ia menunjuk ke arah matahari dan tersenyum. “Bagus… kenapa waktu itu kita datang ke sini saat siang hari?”

Jiyong mengangkat bahu, ikut serta menyaksikan matahari terbenam. “Entahlah… aku hanya mengikuti apa yang kaumau. Tapi selebihnya, waktu itu, kau sedikit menyebalkan.” Katanya seraya meletakkan tangannya ke sisi bibir—berpose layaknya orang berbisik. Ia masih terngiang-ngiang soal sepatu bagian kanannya yang hilang ditelan ombak.

Chaerin sedikit tertawa “Yah… aku memang orang yang menyebalkan.” Lalu berdeham. “Aku bukan tipe gadis yang suka menolong orang. Menolong dan ditolong. Kurasa itu hal yang sangat menyebalkan, juga merepotkan. Lagi pula, tidak banyak orang yang ingin melihatku lebih jauh. Kau pasti mengerti kenapa aku seperti itu.”

Masih dengan posisi bersila dan menatap Jiyong, Chaerin buru-buru menambahkan. “Karena aku gadis yang buruk. Benar begitu?” Ia tersenyum tipis dengan kedua mata menyipit—membentuk garis mata yang panjang di sebelah matanya. Bukan berarti ia merendahkan diri sendiri di hadapan Jiyong. Lagipula, pria itu juga tidak keberatan jika bersamanya. Baginya, Chaerin sangat manis, lucu, dan menarik perhatian. Setidaknya hanya itu yang Jiyong pikirkan. Tapi, ia juga masih terasa asing dengan perasaannya. Apakah itu penting?

“Chaerin-ah… eh, tidak. Maksudku, kau sangat cantik.”

Chaerin cepat menoleh, heran dengan tiga kata yang dilontarkan Jiyong barusan. “Apa yang kau katakan?” Gadis itu meminta Jiyong mengulangi kata-katanya.

Astaga, aku juga tidak tahu kenapa kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku, batin Jiyong. Tatapan mata Chaerin sejenak membuatnya jadi salah tingkah dan menggaruk-garuk tengkuknya bodoh. “Ti—tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa.” gumamnya. Chaerin mengangkat sebelah alisnya, bingung. Ia mendengar Jiyong mengatakan sesuatu. Tapi, sudahlah. Mungkin hanya perasaannya saja.

Kemudian ia kembali larut dalam pikirannya sendiri di saat matahari di ufuk barat akan segera terbenam. Telapak tangannya tergenggam erat disertai  angin yang masih berhembus melewati wajah dan mengibaskan rambut pirangnya yang tergerai. Tentu saja hal itu menarik perhatian Jiyong. Ia melihat wajah Chaerin dari samping. Ternyata benar, selama ini, dilihat dari penampilan luar, Chaerin sedikit menakutkan. Tapi jika dilihat dari sisi dimana Jiyong duduk sekarang, seperti seorang gadis innocent dengan senyum khas yang menghiasi wajahnya. Belum pernah ia melihat seseorang sampai perasaannya melayang ke mana-mana.

“Hei.” Panggil Chaerin membuyarkan lamunan Jiyong. Suara lirihnya terdengar begitu jelas sehingga menarik perhatian pria itu untuk menatap matanya. Chaerin mendongak dan mendekatkan diri sampai kepalanya diletakkan di dada Jiyong. Secara samar Chaerin mendengar detak jantung Jiyong yang awalnya normal menjadi sangat cepat—semenjak kepala Chaerin berada di dadanya.

Jiyong merasakan wajahnya mulai memerah, dan terasa panas. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa seperti itu ketika Chaerin mendekat ke arahnya. Tidak ada hal lain selain kesehatan jantungnya yang ia pikirkan. Bukankah itu sangat berpengaruh? Mendapati ia merasa aneh dengan semua ini. Kenapa? Kenapa begini?

“Kau terlihat gugup.” Kata Chaerin disusul kepala Jiyong yang tertunduk, melihat puncak kepala Chaerin.

“Apa… kau juga merasa aneh?”

Pria itu bertanya-tanya dalam hati. Merasa aneh? Seperti apa?

Masih digeluti perasaan kalut seiring dengan kepala Chaerin yang menjauh dari dadanya, gadis itu mendongak dan tersenyum mendapati Jiyong menggigit bibir bawahnya. Sejenak Chaerin meletakkan tangannya di dada Jiyong dan menunduk, menyebabkan pria itu bingung akan sikapnya.

“Maaf kalau aku mengatakannya tiba-tiba.” Gumam Chaerin pelan. Meski Jiyong tidak mengerti apa maksudnya, ia hanya mengangguk pelan dan memasang telinga—bersiap-siap mendengarkan apa yang akan Chaerin katakan. Sekelebat perasaannya menyatu bersamaan dengan mata Chaerin yang menatap mata Jiyong dalam. Gadis itu meremas kaus Jiyong dan menarik napas.

 

“Apa kau mencintaiku?”

 

*****

 

-Gangnam Severance-

Langkah kaki Jiyong menggema di sekitar lantai satu rumah sakit. Ia cukup lelah dan ini sudah saatnya ia kembali ke rumah karena hari menjelang sore. Kepalanya berputar kesana kemari melihat orang yang berlalu lalang melewatinya. Sepertinya memang masih banyak pengunjung yang memadati rumah sakit karena besok adalah hari libur—entah hari libur apa Jiyong juga tidak tahu.

Sinar matahari dari arah barat menembus jendela besar di samping rumah sakit dan sedikit menyilaukan mata Jiyong. Sejenak ia berhenti melangkah, mendapati seorang kakek tua duduk diatas kursi roda—yang tengah didorong oleh salah seorang perawatnya. Wajahnya keriput dan tampak lesu. Lekukan-lekukan di matanya itu terlihat jelas. Kulit luarnya yang berwarna kuning, menandakan bahwa si kakek tua itu menderita hepatitis.

Lagi-lagi Jiyong menatapnya iba. Kenapa banyak sekali orang-orang yang menderita penyakit mematikan di sini? Sama halnya dengan…

“Apa tugasmu sudah selesai?”

Jiyong menoleh mendengar sayup-sayup percakapan dokter dengan salah satu perawat di ujung ruangan. Ia memperhatikan gerak-gerik keduanya serta melihat pergerakan mulut mereka.

“Ya, saya sudah menangani pasien di kamar 405. Perilakunya masih sama seperti dua hari yang lalu. Dia tetap tidak mau minum obat.”

“Tapi, kau sudah menyuntikkan cairan penambah darah untuknya, bukan?”

“Sudah. Seperti yang Anda perintahkan, saya menyuntikkannya sebanyak dua kali. Jujur, saya kasihan melihat dia menangis dan mengerang kesakitan. Tapi, karena ini tugas, saya siap melakukannya.”

Jiyong yang berdiri dari kejauhan dapat mendengar pembicaraan mereka. Seketika itu juga seluruh tubuhnya berubah kaku, tidak bisa digerakkan karena tercengang. Ia melihat beberapa jarum suntik tertata rapi di atas kotak yang dibawa sang perawat. Salah satu dari mereka terdapat sisa darah segar yang hampir menitik dari tempatnya. Jarum suntik itu sejenak mengingatkannya pada sesuatu. Tapi, entah apapun itu ia tidak kunjung mengerti.

 

Yak ! Untuk apa kau bermain-main dengan benda itu?

 

DEG!

 

Tiba-tiba ia merasakan kepalanya berdenyut, dan semakin lama semakin terasa sakit. Ia meringis dengan sebelah tangan memegang kepalanya sekalipun harus menarik rambutnya kuat-kuat. Kedua alisnya berkerut seiring dengan sekelebat kata-kata yang entah mengapa selalu mengitari otaknya.

 

Kenapa?

 

Apa yang sebenarnya terjadi?

 

Yang barusan tadi itu apa?

 

Itu karena… aku penasaran bagaimana rasanya.

 

Tidak. Ini bukan hal yang mudah untuk mengingatnya. Bahkan, pria itu tidak mengerti akan ini semua.

Jadi… ingatan siapa ini?

Pertahanan tubuh Jiyong mulai goyah ketika ia melangkahkan kaki entah kemana arahnya. Kepalanya masih terasa sakit diikuti pergelangan kakinya yang mulai terasa lemas. Ia tidak sanggup lagi untuk menerawang jauh. Pikirannya masih dipenuhi oleh momentum di masa lalunya. Di matanya terdapat bayang-bayang hitam putih yang memperlihatkan dimana usianya masih sangat belia. Saat itu, ia tersenyum bersama seorang anak perempuan di sampingnya.

Jiyong melihat wajah anak itu yang sepertinya sudah tidak asing lagi dengan matanya. Senyuman itu merekah bersamaan kedua tangan Jiyong yang terlulur ke depan untuk menjangkau kedua anak itu. Rasa sakit di kepalanya semakin meningkat ketika anak itu bermain-main dengan suntik dan langsung ditancapkan pada lengannya. Jiyong tersentak dan diliputi perasaan berkecamuk di hatinya. Apa itu? Apa yang sedang aku lihat?

Rasa menyesal itu tiba-tiba datang menghantuinya. Tapi, untuk apa ia menyesal? Tidak, bukan itu. Ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan. Sesuatu yang hilang begitu saja.

Tapi, melihat wajah anak perempuan itu, rasanya ia sudah pernah mengenalnya. Dia sangat mirip dengan seseorang yang terus berada di sisinya. Semua ini membuat kepalanya berdenyut dengan kedua mata terbuka lebar.

 

Lee Chaerin.

 

Mungkinkah?

“Tuan, Anda tidak apa-apa?” Jiyong segera menatap perawat itu dan memandangnya dengan wajah pucat pasi. Kedua tangannya bergetar serta lirikan matanya mengarah pada jarum yang dibawa sang perawat. Ia membuka matanya lebar dan seketika itu pula ia beranjak dari posisinya dan pergi begitu saja. Ia berlari sekuat tenaga diikuti rasa menyesal dan tersadar atas apa yang ia lakukan pada gadis itu beberapa tahun yang lalu.

Wajahnya berlinang air mata. Ia tidak mengerti kenapa Tuhan baru mengingatkannya sekarang. Seperti yang ia pikirkan di sepanjang perjalanan menuju kamar Chaerin. Dunia ini begitu sempit, karena terlalu banyak kebetulan.

 

“Iya, aku tidak bisa seleluasa itu. Kau bisa membantuku melakukannya?”

 

Meski kamar Chaerin sudah berada tepat di depan matanya, tapi ia merasa sangat jauh. Jauh dari apa yang ia lihat. Suara tangis Chaerin terdengar, membuat pria itu menjadi serba salah. Dadanya terasa sesak dan ia hampir saja tidak bisa bernapas karena rasa bersalahnya terhadap Chaerin terlalu besar. Langkahnya gontai menuju pintu seakan semuanya akan segera berakhir.

Tidak. Ini tidak boleh berakhir. Ia merasa tugasnya untuk menjaga Chaerin itu belum terselesaikan. Pengorbanannya terhadap gadis itu serasa belum cukup untuk memaafkan kesalahannya. Kenapa ini harus terjadi padanya? Kenapa?

Ia rasa, pendapatnya dalam diri sendiri itu tiba-tiba muncul dalam benaknya. Seakan baru terpikirkan sekarang.

 

Orang yang hanya memiliki cinta sesaat, cenderung akan melupakan masa lalunya..

Semua yang ada di depan matanya akan berubah, dan dia akan melihat dunia dimana tak ada sedikitpun keraguan untuk memulai hidup baru…

Kenangan masa lalu itu… sedikit demi sedikit akan menghilang… dan tak terpikirkan lagi…

 

*****

“Chaerin-ah…” Suara Jiyong terdengar parau sementara langkahnya perlahan mendekati Chaerin. Gadis itu membuka matanya sehingga Jiyong dapat dengan mudah melihat manik matanya yang sudah berwarna hitam kelam. Ia melihat bahwa sekarang, tubuh gadis itu sudah sangat kurus dan hampir saja menampakkan tulangnya. Penyakit sialan itu sudah merenggut banyak darah di dalam tubuhnya.

Gadis itu menangis ketika tatapan Jiyong mengarah padanya. Ia enggan jika harus menghadapi kenyataan bahwa pria itu sudah pasti akan merasa jijik melihatnya. Tubuh tegap Jiyong perlahan melemas. Ia sudah lelah menangisi semua ini. Wajahnya basah, serta tangannya memeluk Chaerin erat, membiarkan gadis itu larut dalam pelukannya.

Jantungnya berdebar, dan kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Untuk saat ini, ia sedikit mengerti akan perasaannya. Perasaan dimana ia tengah merindukan gadis itu dari kejauhan, perasaan dimana ia bisa mengorbankan segalanya untuk Chaerin. Rasa sayangnya pada Chaerin ketika ia harus berbagi sesuatu untuknya. Ia sudah mengerti.

 

“Apa kau mencintaiku?”

 

“Maafkan aku…” Suara lirih Jiyong terdengar, membuat gadis itu mendongak dan menatapnya sendu.

“Untuk apa kau meminta maaf padaku?”

“… Semua ini salahku.”

Chaerin menatapnya bingung. Karena Jiyong sudah tak lagi menatapnya, ia kembali mempererat pelukannya. Biarlah Jiyong yang mengendalikan semuanya. Ia mulai melepas pelukannya disaat Jiyong menggenggam kedua lengannya dan menunduk. Lagi-lagi air matanya menetes, melihat wajah pria itu sudah penuh dengan air dari kelopak matanya. Awalnya Jiyong menarik napas dalam, kemudian dihembuskannya perlahan disertai tatapan matanya yang langsung mengarah pada mata Chaerin.

 

“Aku… aku juga mencintaimu…”

 

Chaerin membuka matanya, melihat gerak-gerik Jiyong yang mulai menyentuh pipinya lembut. “Aku ingin bersamamu… lebih jauh lagi.”

“Apa?”

“Kumohon…biarkan aku terkena penyakit itu juga…”

Gadis itu serasa berhenti bernapas, seperti napasnya tercekat di tenggorokan. Tentu saja ia tidak mengerti apa yang dimaksud Jiyong. Setelah berpikir sejenak, mungkinkah dia akan…

“Tapi, aku tidak mau kau akan menderita sepertiku…”

“Tidak apa-apa!” teriak Jiyong sambil memegang lengan Chaerin lebih erat. “Asalkan aku bersamamu… aku tidak akan apa-apa.”

 

Untuk menebus semua kesalahanku, aku harus melakukannya…

Mungkin, jika suatu hari nanti Tuhan sudah tidak memberikan kita kesempatan untuk hidup lagi… biarkan ini menjadi kenangan pahit kita di dunia…

 

*****

A week later…

 

Sekarang, aku sudah duduk di kursi depan ruangan—yang entah apa namanya. Di dalamnya berisi seorang dokter juga beberapa orang perawat, diikuti berbagai macam peralatan medis untuk menyembuhkan salah seorang pasien yang sangat aku cintai.

Semasa hidupnya, dia sudah terlalu banyak menderita. Terlalu banyak kesepian yang selalu ia dapati di kamarnya. Dan juga, terlalu banyak orang yang tidak menginginkan dia untuk hidup.

Tapi, berbeda denganku. Sungguh, aku ingin dia hidup lebih lama lagi bersamaku. Terlebih lagi, aku sudah memakai pakaian rumah sakit yang sama dengannya. Ya, itu karena aku sudah berhubungan dengannya lebih jauh. Tidak. Maksudku, sangat jauh. Dia sudah menularkan penyakitnya padaku karena kami sudah berhubungan darah. Aku menatap ruangan itu dengan tatapan kosong.

Aku tidak sadar jika sudah ada satu tetes air mata jatuh dari kelopak mataku. Pergelangan tanganku berada di depan pintu. Aku melihat dari balik kaca, terlihat bahwa di tubuh gadis itu, sudah banyak selang yang melilit, juga petugasnya untuk membantu agar ia bisa bertahan hidup lebih lama. Aku terdiam tak bergeming saat ia menarik napas kuat-kuat di dalam tempat oksigen yang terekat di hidung juga mulutnya.

Para petugas medis itu merasa kewalahan menanganinya. Sedangkan aku? Aku hanya bisa melihatnya menderita. Aku hanya bisa diam melihatnya berusaha untuk bertahan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Aku tidak berada di sisinya, dan aku juga merasa sudah tidak ada disaat dia membutuhkanku. Semuanya terasa hampa, dan segala pengorbananku untuknya, sudah pasti akan terasa sangat sia-sia.

Hatiku masih diselimuti rasa menyesal, juga bersalah. Sampai aku melihatnya sudah tidak bernapas lagi di dalam tempat oksigen itu. Di tambah lagi mesin pemeriksa detak jantungnya itu sudah menimbulkan garis lurus warna hijau pada layarnya. Dokter beserta para perawat itu sudah memberikan segala usaha mereka sampai keringat mengalir deras di dahi mereka. Akhirnya semua ini berakhir, ketika sehelai kain putih telah menutupi wajah pasien itu.

Wajahnya yang kulihat sangat manis juga menarik, wajah senang yang selama ini kulihat darinya. Wajahnya ketika menangis saat dia merindukanku itu…

 

Sudah menghilang…

 

……

 

Maaf…

 

Aku benar-benar minta maaf…

 

Karena aku sadar, bahwa akulah yang membuatmu begini…

 

Aku tidak berani mengatakannya padamu karena aku takut kau akan membenciku…

 

Ketika saat di mana aku sudah berada di surga, dan mulai melihatmu lagi… kau boleh memberontak seperti dulu… kau boleh memarahiku seperti saat kita masih hidup di dunia…

 

Maka semuanya akan selesai… tepat pada waktunya…

 

*****

EPILOG

10 years ago…

Anak perempuan itu sedikit berdecak ketika ia harus menghadapi kenyataan jika Appa-nya yang seorang dokter itu harus bekerja dari siang sampai malam untuk menangani pasiennya. Selama berhari-hari ia mengikuti kemanapun Appa-nya pergi di rumah sakit karena ia takut jika harus tinggal sendirian di rumah. Apalagi Eomma-nya sedang pergi ke luar negeri.

Saat itu, sambil berjongkok di bawah pohon beringin, ia melihat gerak-gerik Appa-nya dari balik jendela kamar pasien dengan tatapan penuh selidik. Appa-nya terlihat sangat sibuk sehingga anak perempuannya saja sampai dilantarkan begini. Waktu bermain mereka hanya di pagi hari. Lalu selanjutnya, pria paruh baya itu harus bekerja mengumpulkan uang demi keluarga.

Pikiran anak itu—Chaerin masih tertuju pada Appa-nya yang tiba-tiba saja meletakkan suntik di tepi jendela. Awalnya ia tidak peduli. Tapi, rasa penasarannya itu muncul setelah ia melihat ujung jarumnya yang runcing sehingga menarik perhatiannya. Karena hanya berdiam diri saja seperti orang bodoh, akhirnya ia berinisiatif untuk mengambil jarum itu secara diam-diam dan ia yakin jika jarum itu sudah pasti tidak akan digunakan lagi.

Chaerin mengguncang-guncangkannya dua kali setelah ia menatap sedikit darah di dalam suntik itu lekat-lekat. Ia penasaran bagaimana rasanya jika jarum itu masuk menembus kulitnya karena ia sama sekali belum pernah merasakannya. Kepalanya berputar kesana kemari, memastikan bahwa tidak ada orang di sekitarnya. Senyumnya mengembang disaat ia akan menancapkan suntik itu tepat di lengannya dan…

“Tunggu!”

Gerakan Chaerin terhenti dan cepat menoleh ke asal suara, mendapati seorang anak laki-laki berdiri tidak jauh darinya.

“Kau sedang apa?” tanyanya seraya menatap jarum beserta Chaerin bergantian. Ia terkejut melihat benda itu hampir masuk dalam lengan anak perempuan itu.

Yak! Untuk apa kau bermain-main dengan benda itu?

Dengan sekali melihat, anak perempuan itu meringis dan tersenyum kikuk. “Itu karena… aku penasaran bagaimana rasanya.

Anak laki-laki itu—Jiyong terdiam sejenak. Aneh, dia sama sekali belum pernah merasakannya ? pikir Jiyong bingung. Karena tidak ada respon, Chaerin pun melanjutkan aksinya. Tapi, sepertinya ia tidak akan pernah berhasil. Karena saat ingin ditancapkan, pasti akan sedikit meleset, entah ke kanan atau ke kiri. Semua sama saja.

“Aigo, kau ini bagaimana? Kau sangat kesulitan menggunakannya.

Chaerin menautkan alisnya. “Iya, aku tidak bisa seleluasa itu. Kau bisa membantuku melakukannya?

Mata Jiyong perlahan membulat. Astaga, dia ingin aku membantunya? Yang benar saja. Sayang sekali, dia tidak tahu benar kalau aku takut suntik, batinnya kesal. Namun, melihat gadis itu bingung melihat mulutnya berkomat-kamit sendiri, akhirnya Jiyong tersenyum paksa dan bergidik.

Aish… sebenarnya aku takut. Tapi, akan aku coba.

Ia berjalan mendekati Chaerin dan membantu mengarahkan jarum suntik tepat di lengan anak itu. Demi rasa keingintahuan Chaerin, dengan perlahan ia menancapkannya sampai-sampai Chaerin sedikit mendesis dan meringis menahan sakit. Ia pun beberapa kali menggigit bibir bawahnya.

… Rasanya sakit tidak?

I—Iya. Sedikit.” Gumam Chaerin pelan. Entah kenapa Jiyong tidak mempedulikannya. Apalagi melihat raut wajah Chaerin yang sudah dipenuhi rasa gelisah dengan keringat dingin membasahi keningnya. Rasanya ia terlalu fokus terhadap jarum suntik itu. Karena mendengar Chaerin mendesis berulang kali, Jiyong pun segera melepaskannya dan menghirup udara segar, merasa lega karena semuanya sudah berakhir.

“Nah, kau sudah merasakannya, kan?” kata Jiyong tersenyum puas.

“I—Iya.” Chaerin tersenyum kecil setelah melihat respon baik dari Jiyong. Tapi, rasanya sedikit aneh karena mereka baru saja bertemu, bahkan belum berkenalan. Jiyong akhirnya mengambil kesempatan untuk mengenalkan diri terlebih dahulu.

“Kebetulan aku sedang jalan-jalan lewat sini, lalu aku bertemu denganmu. Namaku Kwon Ji—”

“Hei!!”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Jiyong sudah memutar kepalanya ke belakang, mendapati ibunya sedang melambai-lambaikan tangannya pertanda sudah saatnya ia pulang ke rumah. Anak laki-laki itu menepuk jidatnya karena baru ingat jika dia datang ke rumah sakit ini bersama ibunya. Ia pikir, mungkin ibunya sudah selesai dengan urusannya.

Oh, astaga… aku harus cepat kembali. Kalau begitu, sampai jumpa.

Eh? Tapi tunggu dulu! Aku…” Jiyong akhirnya pergi meninggalkan Chaerin duluan dan seketika itu pula wajah Chaerin berubah sedih. Padahal anak laki-laki itu belum selesai memperkenalkan diri. Lalu, Chaerin juga sama sekali belum menyebut namanya. Dan yang anak perempuan itu lihat, ternyata anak laki-laki tadi wajahnya sangat manis—menurutnya.

Yah, dia sudah pergi…” katanya kecewa.

“Hei, Nak. Apa yang kaulakukan dengan suntik itu?”

Chaerin terperanjat melihat ayahnya sudah berdiri tepat di belakangnya. Entah sejak kapan ayahnya datang, ia menatap suntik itu sebentar, lalu memberikannya pada pria paruh baya itu. “Tadi, aku menemukannya di tepi jendela itu lalu…”

“Lain kali jangan ambil suntik sembarangan lagi, ya. Suntik ini suntik bekas penderita HIV. Dan ini sangat berbahaya untukmu.”

Sebenarnya Chaerin ingin mengatakan bahwa ia sudah menancapkan suntik itu di lengannya. Tapi, ia mengurungkan niatnya untuk itu dan mengangguk pelan dengan wajah tertunduk. Lagi pula ia juga tidak tahu apa itu HIV. “Iya, Appa. Arraseo.” desahnya.

“Anak pintar. Sekarang, kajja, kita pulang.”

Ne!”

 

 

 

-Fin-

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s