[Vignette] Right Timing

PicsArt_1382634366155

Right Timing

 

By

Quiterie

 

Cast : [2NE1] Sandara & [EXO] Chanyeol  ||  Genre : Fluff & daily-life|| Length : Vignette || Rating : Teen||

Disclaimer : the plot is mine

special thanks to brokenpetals/HS’s

 

 

Park Chanyeol membenci lari setengah mati.

Tak peduli dengan figur jangkung dan kakinya yang kelewat panjang untuk bocah seusianya yang sebenarnya malah bisa menunjangnya berlari lebih cepat dari yang anak-anak lain bisa lakukan, pokoknya Chanyeol benci berlari.

Karena lari selalu mengantarkannya ke berbagai rupa kesialan.

Dari penyakit sesak napasnya yang kumat, jatuh tersandung karena keseimbangan tubuhnya yang berada dalam taraf mengkhawatirkan, atau bahkan ada juga satu saat dimana ia kena omel ibunya karena kacamatanya yang berganggang longgar melorot melewati batang hidung lalu jatuh terinjak olehnya sendiri saat berlari –yang berarti pengeluaran untuk kacamata baru yang tidak murah.

Tapi hari itu Chanyeol tidak keberatan berlari dari sekolahnya tepat ketika bel pulang sekolah baru berdering menuju halte bus.

Ia sudah memastikan obat sesak napasnya masih tersimpan di tas seperti biasanya untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan dan bahkan ia berlari dengan sebelah tangan menekan kuat bagian bridge kacamata berlensa tebalnya ke pangkal hidung agar tidak jatuh melorot.

Chanyeol tidak peduli meski jantungnya seakan terpental naik turun dan membuatnya bahkan merasa sakit untuk menarik napas.

Juga tidak peduli meski pangkal hidungnya terasa nyeri karena nosepad kacamata yang menekan kuat disana.

Karena ada seseorang yang sedang membutuhkan kedatangannya.

Seseorang yang cukup berharga untuk membuatnya mau berlari tanpa diminta apalagi mengeluh, membuatnya tanpa paksaan menekan kuat-kuat rasa bencinya pada berlari ke titik minimum.

Chanyeol tiba di halte bus dua puluh menit kemudian dan tepat sesuai prediksinya sejak masih berada di kelas, hujan langsung tumpah dari langit yang sudah mendung sejak pagi tadi.

Tanpa dibuka rintik atau gerimis tapi langsung ruah dan membuat semua orang yang sedang berada di sepanjang trotoar berlarian kesana kemari dengan tergesa-gesa demi mencari tempat berteduh, beberapa juga dengan buru-buru mengeluarkan jas hujan dan payung kemudian langsung meneruskan langkah mereka dengan tempo cepat.

Dengan nafas yang masih patah-patah, mata Chanyeol mengedar ke orang-orang yang berdiri memenuhi halte. Dari sepasang kekasih yang sibuk berbisik dan sesekali terkikik, segerombolan ibu-ibu dengan plastik belanjaan yang begitu penuh sampai ke seorang pria paruh baya yang bersandar di tiang halte sambil terkantuk-kantuk.

Chanyeol mendesah kecewa ketika menyadari orang yang ia cari ternyata belum tiba.

Jika prediksinya tidak salah, orang yang ia cari harusnya sedang dalam perjalanan kemari, berada di bus yang sekarang sedang melaju kesini.

Dalam hati Chanyeol berhitung.

Satu . . .

Dua . . .

.

.

.

Sepuluh

.

.

.

Enam belas

.

.

.

Dua puluh tiga

 

Fokus Chanyeol pada hitungannya diinterupsi oleh suara decit roda dan gerakan serentak beberapa orang disekitarnya. Ketika ia mendongak, matanya kontan membulat saat bersitatap dengan bus bercat biru yang kini sedang berhenti, memberi kesempatan bagi para penumpang untuk naik dan turun.

Matanya dengan awas menyelidik ke setiap wajah orang yang baru saja turun dan senyumnya langsung terkembang ketika matanya menangkap sekelabat gadis berambut ikal sebahu dengan seragam SMA kotak-kotak diantara kerumunan yang berdesakan untuk turun dari bus.

“Aku harusnya menuruti nasihat ibu untuk membawa payung tadi pagi.”

Chanyeol tidak bisa mencegah sudut bibirnya makin meninggi ketika kini gadis yang ia cari-cari sejak tadi berhasil lepas dari kerumunan dan mulai menggerutu –salah satu kebiasaan khasnya.

“Jika aku tidak segera pulang, aku tidak akan bisa melihat kelanjutan kisah Maru dan Eungi. Aku penasaran sekali apakah rencana Jaehee berhasil atau tidak. Aish, bagaimana ini.”

Dan ketika gadis itu mulai mengungkit-ungkit drama favoritnya yang sedang ia ikuti, Chanyeol tahu sudah saatnya ia menunjukkan diri.

Sebagai pahlawan.

“Dara noona!”

Sandara Park –siswi SMA yang rumahnya bersampingan langsung dengan rumah keluarga Chanyeol –langsung mengedarkan pandangan kesekeliling ketika mendengar namanya dipanggil dan ia tampak terkejut setengah mati saat menemukan sosok Chanyeol berdiri ditengah-tengah halte dengan cengiran lebar.

“Apa yang kau lakukan disini?” Dara masih tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya ketika sudah berdiri berhadapan dengan Chanyeol, ia sedikit membungkuk dengan telapak tangan bertumpu pada lutut untuk menyejajarkan tinggi dengan Chanyeol. “Apa kau baru saja pulang dari bermain dengan temanmu?”

Chanyeol buru-buru mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Dara. Ia tidak mungkin mengaku jika ia datang kemari demi Dara.

“Kurangi keluyuran sepulang sekolah, dasar nakal,” Dara menyentil dahi Chanyeol sambil tertawa kecil. “Ketika ibumu marah-marah karena nilaimu anjlok sejak kau terlalu sering bermain dengan teman-temanmu, suaranya terdengar sampai kamarku tahu.”

Chanyeol bisa merasakan pipinya memanas mendengar nasihat-setengah-omelan Dara. Entah karena ia malu bahwa Dara tahu bahwa ia sempat dimarahi habis-habisan oleh ibunya, atau karena sentilan Dara yang meninggalkan jejak hangat di dahinya.

“Tapi syukurlah kau ada disini,” Dara menegakkan diri kemudian bersandar ke tiang halte dengan malas-malasan. “Aku tidak akan mati bosan sendirian karena menunggu hujan reda.”

“Kurasa kita tidak perlu menunggu sampai hujan reda.”

Dara menunduk dengan sebelah alis terangkat. “Memangnya kenapa?”

“Aku bawa payung,” Chanyeol buru-buru membuka ranselnya dan mengacungkan payung lipat warna-warni sambil menampilkan cengiran jenakanya yang khas. “Noona dan aku bisa pulang menembus hujan bersama-sama.”

 “Kenapa kau tidak bilang dari tadi?” bentak Dara sambil melayangkan jitakan, kali ini keras dan tidak main-main, di kepala Chanyeol. “Apa kau tidak tahu aku sedang cemas setengah mati karena Nice Guy akan segera dimulai? Kau ini benar-benar . . .”

Chanyeol mengerucutkan bibirnya sambil mengusap-usap kepalanya yang berdenyut karena kena jitak. Tadinya ia berharap akan ‘dihadiahi’ senyuman lebar Dara yang tak pernah gagal membuatnya terpesona karena sudah bertindak ‘heroik’ dengan jauh-jauh berlari seperti orang gila kemari demi membawakan payung, bukannya mendapat jitakan dan diomeli.

Dara dengan cepat merebut payung di tangan Chanyeol kemudian membentangkannya. “Ayo cepat. Kita harus segera pulang sebelum Nice Guy dimulai.”

Dan sebelum Chanyeol sempat bereaksi dengan tindakan Dara yang seenaknya, Dara langsung menarik leher Chanyeol kedalam rangkulannya dan menggiringnya menembus hujan dibawah lindungan payung.

Selama beberapa menit mereka berjalan dalam diam dan hanya ditengahi suara titik-titik hujan yang membentur permukaan payung, memberi kesempatan bagi Chanyeol untuk menstabilkan jantungnya yang berdetak gila-gilaan dan ekspresi gugupnya karena berjalan bersama menembus hujan dengan sisi tubuh saling menempel tanpa jarak karena jangkauan payung yang tidak luas.

Bahkan Dara tidak melepaskan rangkulannya di leher Chanyeol, membuat kepalanya bersandar di pinggang gadis itu dan Chanyeol mulai merasa pusing karena selera parfum Dara yang sangat buruk.

“Harusnya kau bawa payung yang lebih besar,” seru Dara menengahi suara berisik titik-titik hujan diatas mereka. “Sulit berjalan dengan posisi berdesakan seperti ini.”

Chanyeol memutuskan diam karena ia tidak menemukan jawaban yang cukup pintar untuk menyanggah omelan Dara, lagipula ada kemungkinan suaranya bergetar hebat karena ia masih belum bisa menemukan cara untuk mengontrol detak jantungnya yang nakal.

“Tapi kau memberiku ide yang cukup menarik,” Dara melanjutkan sambil menjentikkan jarinya. “Suatu saat aku akan membawa payung yang kecil jika berada dalam posisi yang sama dengan pacarku. Well, sebenarnya momen seperti ini bisa jadi sangat romantis jika saja yang bersamaku bukan bocah kelas tiga SD sepertimu.”

“Aku juga bisa jadi pacar noona,” gerutu Chanyeol kesal.

“Yang benar saja,” Dara tergelak geli. “Demi celana renang kakekku, aku tidak akan mau berpacaran dengan anak dibawah umur sepertimu.”

“Jaehee mau berpacaran dengan Maru. Bukankah Jaehee jauh lebih tua dari Maru?” Chanyeol bersyukur ibunya dirumah juga mengikuti drama yang diikuti Dara sehingga dia bisa menemukan analogi cerdas untuk membalas perkataan Dara.

“Kau benar,” Chanyeol bisa merasakan Dara sedang mengangguk-angguk. “Tapi jika kau mau membuatku mempertimbangkanmu sebagai pacarku kau harus sepintar Maru. Dan kau harus bisa terlihat cute sekaligus cool diwaktu yang bersamaan seperti Maru, mungkin kau harus memulai dengan menambah berat badan, karena tidak ada laki-laki cute yang kurus kering . . . “

Dara terus bicara tentang pacar idealnya sepanjang perjalanan mereka, seakan dia sedang bercerita tentang cuaca hari ini sambil lalu tanpa menyadari bahwa diam-diam Chanyeol mencatat dalam hati setiap kata, setiap kalimat, setiap detail, dan setiap penekanan yang dijelaskan Dara.

Karena untuk gadis ini, yang membuat Chanyeol mau berlari demi jadi pahlawan yang bahkan hanya diimbali jitakan dan omelan, yang membuat Chanyeol mempertimbangkannya sebagai orang selain ibunya yang akan ia pegangi tangannya ketika suatu saat langit runtuh, Chanyeol akan melakukan apapun permintaannya.

Apapun.

 

fin

a/n :

/ketawa kayak setan/

Aku maklum jika setelah membaca kata fin kalian bertanya-tanya apa hubungannya antara judul, poster (iya ya ampun posternya jelek banget), dan isi ceritanya. Sama sekali nggak ada korelasi.

Jadi ceritanya, awalnya ‘Right Timing’ ini omnibus yang berisi tiga cerita berbeda. Tapi apalah daya, aku merasa tidak sanggup menyelesaikan dua cerita lain karena banyak alasan, jadi aku publish-lah cerita ini sendirian. Sebenarnya aku juga ragu soalnya menurutku cerita ini kurang kuat dan nampol kalo berdiri sendiri, tapi karena sudah terlanjur janji dengan orang yang namanya disebut di special thanks diatas, sebagai gadis yang baik, aku berusaha tepat janji /ditimpuk/

Apa kesan kalian setelah membaca cerita ini? Mungkin kalian mau berbagi pendapat? /tunjuk comment box dibawah/

3 thoughts on “[Vignette] Right Timing

  1. uwaaaa ku ketawa ketawa sendiri bacanya hihi kupikir awalnya channie udh gede sma gitu eh taunya kls 3 sd wkwk, kalo ada ky semacam prolog nya lg kayanya lebih bagus author. Jd ada future nya gitu, di future pas gedenya channie jd chanyeol exo trus dara jd dara 2ne1. imaji aku jd nyambungin fict ini kesana sih haha thx for sharing!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s