[FF Freelance] Forever Not Hate You (Part 1)

asliJudul : Forever Not Hate You (Part I)

Author : Mettugi

Rating : General

Lenght : Chapter

Genre : Family and Romance

Main Cast :

–          Moon Chae Won as Han Seung Mi

–          Park Yoochun as Park Tae Woo

Seorang gadis terisak di sudut ruangan. Entah masalah apa yang menimpanya, namun isakan itu semakin menjadi-jadi dikala temannya menghampiri dan berusaha menenangkannya.

“Seung Mi, tak apa-apa. Laki-laki masih banyak di dunia ini.” Temannya mengusap-usap pundak gadis yang dipanggil Seung Mi itu.

Seung Mi menangis di pelukan temannya.

Mereka berdua sudah berdiri di lantai tertinggi sebuah gedung. Pemandangan begitu indah dan jelas. Matahari sore hari sepertinya juga sudah bersiap untuk istirahat.

Seung Mi meneguk sebotol minuman yang sempat dibelikan oleh temannya. “Go Eun, apa cinta selalu berakhir seperti ini?”

Temannya yang ternyata bernama Go Eun itu menoleh, menatap Seung Mi penuh prihatin. Seung Mi masih memandang ke depan tanpa harapan. “Seung Mi, cinta tidak seperti yang kau bayangkan. Mungkin untuk saat ini, cinta itu belum datang padamu.”

“Sampai kapan? Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk mencintai seseorang.”

“Hei, kenapa kau bicara seperti itu? Takdir itu hanya Tuhan yang tahu. Aku yakin kau akan menemukannya.”

“Sewaktu SMA, orang yang aku anggap lebih dari teman, memilih gadis lain yang lebih cantik, kaya, dan pintar dariku. Sialnya lagi, dia mencurigaiku karena aku iri pada gadis yang ia sukai itu.” Seung Mi tersenyum getir mengingat kisah cintanya. “Dan sekarang, aku kira dia orang yang akan menjadi jodohku, cinta sejatiku, tapi ternyata, dia hanya memanfaatkanku untuk bisa mendekati Han Ye Jin. Bodohnya aku…” Seung Mi menutup muka dengan kedua tangannya.

Go Eun merangkul pundak Seung Mi. “Kawan, kau pasti akan menemukan laki-laki yang kau cari. Pasti itu.”

“Entahlah. mungkin aku akan menyendiri terus untuk waktu yang lama. aku sudah trauma dengan laki-laki, dan tidak ingin mempercayai mereka lagi. Terlalu sakit.”

***

“Ayah, bolehkah aku melanjutkan studi ke Inggris?” Seung Mi sudah duduk di ruang kerja ayahnya.

Sang Ayah yang sedang sibuk menulis agendanya tiba-tiba menghentikannya, “Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran?”

“Aku hanya ingin menambah ilmu dan pengalaman, ayah. Aku pikir belajar mengurus peternakan keluarga kita tidak cukup hanya melihat ayah bekerja, tapi aku juga harus menemukan sesuatu yang penting untuk kemajuan peternakan kita ayah. Kumohon..”

Tanpa sedikit keraguan, ayahnya menyetujui permintaan Seung Mi. Seung Mi langsung memeluk ayahnya senang. Dalam hati ia juga merasa bersalah, ‘Ayah, maafkan aku. Aku tidak ingin meninggalkan ayah sendiri disini, aku juga tidak ingin meninggalkan peternakan ini. Maafkan aku tidak mengatakan hal sejujurnya padamu. Aku akan benar-benar belajar rajin untuk menjadi seorang veteriner yang berkompeten demi malangsungkan peternakan ini, ayah.’

Seung Mi kembali ke kamarnya. dia sedikit lega tapi juga bersalah pada sang ayah. Tujuan ia ke Inggris sebenarnya bukan karena ia ingin melanjutkan studinya, namun ia hanya ingin melupakan masalah yang menimpanya selama ini. Sebenarnya, sangat berat hati meninggalkan ayah seorang diri dan peternakan yang sudah menjadi ladang ilmu baginya melebihi ilmu yang ia dapat semasa kuliah.

***

Siang itu, Seung Mi sudah siap dengan kopernya. Ia akan berangkat ke Inggris.

“Kau mau kemana?” Saudara tirinya yang bernama Jin Yi berdiri di hadapan Seung Mi. Sedikit terlihat kontras dengan pakaian yang dikenakan oleh Seung Mi. Meski dia akan pergi ke Inggris, tapi ia tetap memilih pakaian yang sederhana dan casual. Sedangkan Jin Yi, memakai dress yang cukup glamour. Maklum, dia seorang model.

“Jin Yi, aku akan ke Inggris.” Seung Mi tetap menunjukkan senyum meski tatapan tidak suka dari Jin Yi. Seung Mi berjalan meninggalkan Jin Yi.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa? Bukankah ini yang kau harapakan? Jika aku tidak ada, kau akan mendapatkan segalanya. Bukankah kau harusnya senang, adikku?” Seung Mi menoleh kembali ke Jin Yi yang lebih muda 1 tahun darinya.

“Maksudmu?” Jin Yi merasa sebal dengan senyuman Seung Mi yang terkesan mengejeknya. Ia terbakar api emosi melihat punggung Seung Mi yang semakin menjauh.

Jin Yi duduk di kursi makan dan meminum sebotol air putih dingin. Ibunya datang membawa sekantong belanjaan dari supermarket.

“Kau kenapa?” Ibunya memagangi wajah anaknya yang memerah karena teredam emosi.

“Ibu, ini tidak adil. Kenapa gadis itu yang diijinkan ayah untuk ke Inggris? Padahal aku yang jelas-jelas mendapat beasiswa tidak boleh kesana. Kenapa ibu?”

“Jin Yi, kau tenangkan pikiranmu. Ibu juga awalnya kaget dengan berita itu. Tapi setelah ibu pikir-pikir, ada baiknya juga dia pergi.”

“Jadi ibu mendukung dia? Ibu berpihak padanya?” Jin Yi berdiri kesal. Semakin kesal dengan kata-kata ibunya.

“Bukan begitu maksud ibu. Saat dia pergi, kesempatan yang bagus untukmu mencari perhatian ayah. Kau tahu kan, selama ini, perhatian ayahmu lebih ke gadis sial itu?”

Jin Yi duduk kembali dan tersenyum. Sepertinya dia tahu maksud perkataan ibunya itu. Ya, dia bisa mendapatkan perhatian ayah tirinya itu. Ayah tirinya yang tidak suka akan profesinya sebagai model, dia yakin bisa menunjukkan hal-hal yang menarik untuk membuat ayah tirinya lebih perhatian padanya.

“Kau harus menunjukkan minatmu pada peternakan ini. Bagaimanapun juga, ini akan menjadi aset yang menguntungkan bagi kita jika dia meninggal.”

“Ibu, kenapa ibu bicara seperti itu..” Seung Mi tersenyum.

Tanpa mereka sadari, asisten ayah mendengar percakapan kedua orang itu. Dia memang tidak terkejut dengan hal semacam itu, karena dari awal kehadiran mereka dalam keluarga ini sudah menimbulkan kecurigaan dan sikap yang tidak senang dengan keluarga ini.

***

Inggris, pemandangan yang luar biasa. Kota-kota yang tertata rapi dan indah. Seung Mi mengitari pandangannya, dan semua berwajah asing. Ya, ia sadar sekarang bukanlah di Korea atau Asia, tapi Eropa.

Dia sudah berada di Hotel. Sebenarnya dia menolak layanan ini dari ayahnya, namun sang ayah memintanya untuk menginap di hotel sembari mencari apartemen yang layak huni. Ya, dia hanya menerima bantuan dari sang ayah itu saja, selebihnya dia sendiri yang akan mengurusnya.

“Excusme, I need some room. Not VIP but middle class.”

Sang resepsionis yang memakai seragama berwarna coklat itu tersenyum, dia membuka komputernya untuk mengecek kamar yang masih kosong.

Seorang laki-laki berwajah Asia berdiri di sebelah Seung Mi. Dia juga memesan kamar. Seung Mi tampaknya kesal begitu tahu bahwa sang resepsionis itu lebih memilih melayani laki-laki di sebelahnya. Memang tampan wajahnya, tapi masalah pelayanan seharusnya jangan dicampr adukkan dengan masalah perasaan.

“Yes, this is your key’s room Mr Park.” Resepsionis tadi memberikan kunci pada laki-laki itu. Seung Mi terbengong melihatnya. Dia yang sudah datang sebelumnya masih harus menunggu, sedangkan dia??.

“I’m sorry Miss, hanya tersisa satu kamar VIP. Tuan itu sudah memesan kamar non VIP tadi.” Ucapnya dengan bahasa inggris yang cukup Seung Mi pahami meski sulit.

“Apa?” Seung Mi lemas seketika. Laki-laki yang masih berdiri di sebelahnya itu langsung pergi namun dicegah oleh Seung Mi.

“Tunggu, kau orang Korea kan?” Seung Mi bertanya dengan bahasa Korea.

“Excusme?” Dia memandang heran Seung Mi.

“Tidak bisakah kita tukaran kamar?” Kali ini Seung Mi memakai bahasa Inggris lagi.

“I’m sorry, this is mine.”

“But, I come here first.” Seung Mi masih ngotot dengan pendiriaannya.

“Silahkan kau tanyakan pada resepsionis itu. Aku sudah memesannya sebelum sampai kemari.” Laki-laki itu pergi, meninggalkan tatapan kesal dari Seung Mi.

Dengan terpaksa, ia harus memberikan semua jatah uang penginapan untuk mengambil kamar VIP itu.

Semua badannya terasa pegal. Seung Mi merebahkan badannya ke kasur empuk dan luas itu. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Ia memilih pergi langsung ke restoran di bawah daripada memesan ke pelayan untuk diantar ke kamarnya.

“Oh.. ” Seung Mi terkejut begitu bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu lagi di koridor hotel. Tapi sepertinya dia tampak cuek dengan reaksi Seung Mi. “Dasar, laki-laki sialan.” Seung Mi mencerca laki-laki itu dengan bahasa Korea. “Merasa sok keren, sok cool. Padahal??” dia masih berjalan sambil berbicara sendiri.

Sepertinya laki-laki itu mendengar dan memilih tidak bereaksi. “Kau pikir aku tidak tahu maksudnya?” ucapnya dalam bahasa Korea.

***

 

4 thoughts on “[FF Freelance] Forever Not Hate You (Part 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s