[Oneshoot] 60 Seconds

60 Seconds

“50 seconds and 60 seconds.”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast: Apink members || Genre: Romance, Angst || Length: Oneshoot || Rating: T || Credit Poster: Fearimaway

A/n: Ini buat mengisi yang menunggu Hard to Love chapter 5. Terimakasih sekali lagi untuk para readers yang sudah mau membaca Hard to Love. Saat ini Hard to Love sedang dalam pengetikan yang ekstra panjang. Jadi mohon ditunggu okay? Terimakasih.

oOo

50 seconds.

You came into my heart.

60 seconds.

You disappeared from my life.

**

Kim Myungsoo. Pemuda itu terus mendengus sepanjang jalan. Ia merasa kesal karena bibir kesayangannya itu sempat disambar oleh seorang gadis yang dibencinya – Jung Soojung. Gadis yang selama ini selalu mengajaknya bertengkar. Gadis yang selama ini selalu membuatnya kesal.

Namun, apa daya. Bibirnya tadi sudah disambar oleh Soojung atau yang sering disapa Krystal. Gadis itu mengambil bibirnya yang berharga itu saat sepulang sekolah. Karena Krystal ingin menjadi pacar dari pemuda itu.

Pemuda yang baru saja memasuki tingkat 3 SMA bulan lalu itu merasa kesal. Lantas akhirnya ia berlari menuju sungai yang sering ia kunjungi itu. Ia pun melempar tasnya diatas rumput kemudian dan langsung melempar dirinya di atas rumput itu.

Ia memandang langit lalu bangun dari posisinya. “Aish!!!” Ia mengacak rambutnya. “Sial benar aku! Kenapa harus aku yang dicium gadis itu?!”

Ia pun melempar batu ke arah sungai itu. Batu itu langsung masuk ke dalam sungai itu. “Aw!” Sebuah suara perempuan jernih terdengar dari dalam sungai itu. Myungsoo segera berteriak dan mundur dari sungai itu.

“Siapa itu?!” teriak Myungsoo lalu melempar lagi batu ke arah sungai itu. Myungsoo mengambil tasnya lalu berdiri menjauhi sungai itu.

“Ya!” pemilik suara itu langsung berteriak dan muncul dari dalam sungai itu. Lalu ia bercagak pinggang. Kemudian ia berjalan mendekati Myungsoo. Perempuan itu memukul kepala Myungsoo. “Kurang ajar sekali kau!”

Myungsoo yang awalnya ingin mendorong perempuan itu akhirnya terdiam. Ia memerhatikan gaun perempuan itu yang tidak basah sama sekali setelah muncul dari sungai. Perempuan itu merasa risih dan menjauh dari Myungsoo. “Sekali lagi kau melempar batu akan kuusir kau dari sungaiku!”

Perempuan itu melangkah pergi lalu loncat masuk ke dalam sungai itu. Myungsoo pun mengejar perempuan itu. “Ya!! Tunggu!!” teriaknya namun perempuan itu sudah masuk ke dalam sungai dan menghilang dari pandangan.

Myungsoo mendengus pelan kemudian kembali duduk dan bersender ke pohon di dekatnya. “Bagaimana bisa perempuan itu tidak basah sama sekali? Jangan-jangan dia setan?! Masa iya setan pakai gaun?!”

Pluk!

Myungsoo mengusap kepalanya. Ia menoleh ke arah kanan dan kirinya. Namun tak ada siapa-siapa. “Sial, siapa yang melemparku batu?!”

“Aku.”

Myungsoo menoleh ke arah depannya. Lalu ia berteriak namun akhirnya ia menutup mulutnya. “Kenapa kau muncul lagi?!” ujarnya sambil menunjuk perempuan tadi yang muncul dari sungai.

Perempuan itu menarik telinga Myungsoo. “Tentu saja! KAU MENYEBUTKU SETAN! Asal kau tahu, aku bukan setan. Dan yang pertama, aku ini penjaga sungai ini. Jadi, jika ada yang membuang sesuatu disini akan berhadapan denganku! Terutama kau! Kim Myungsoo! Orang pertama yang membuang sesuatu disini!”

Myungsoo mengurut keningnya. Ia tampak gusar akan teriakan perempuan itu. “Hei, kau ini bisa bicara lebih pelan? Lagipula kau ini siapa? Dan kenapa kau bisa muncul dari sungai itu? Dan kenapa kau terus menghantuiku?”

Perempuan itu memukul kepala Myungsoo. “Haruskah kubilang dua kali? Aku bukan hantu atau setan. Kedua, aku ini penjaga sungai ini. Ketiga, aku ini peri jadi tentu saja aku tidak basah! Keempat, aku tidak menghantuimu, lagipula kau terus berada disini setiap hari. Setiap pulang sekolah.”

Alis mata Myungsoo terangkat. “Bagaimana bisa kau tahu?”

“Kan aku penjaga sungai ini. Jadi aku bisa mengetahui kalau kau selalu ada disini.”

“Lalu kau siapa?”

“Kau ini kenapa selalu ingin tahu? Pantas saja adikmu tidak menyukaimu.”

“Kau sebenarnya siapa? Kenapa kau tahu apa-apa tentangku?”

Perempuan itu berjalan ke atas sungai lalu memetikkan tangannya. Dalam waktu sekejap, sungai itu membasahi tubuh Myungsoo. Namun tak lama, tubuh Myungsoo kembali kering. “Ternyata kau penasaran sekali.”

“Karena kau tahu apa-apa tentangku.”

“Baiklah, aku tidak bisa terus berbohong kepadamu. Aku adalah penjagamu.”

Myungsoo membulatkan matanya dan juga mulutnya. Ia tidak bisa berbohong kalau ia tak percaya pada perempuan itu. “Penjaga? Hei, perempuan bergaun air, aku ini sudah berumur 18 tahun. Jadi aku tidak perlu dijaga seperti ini.”

“Semua orang juga punya penjaganya masing-masing. Kalau kau tidak percaya aku bisa menunjukkannya padamu. Aku Son Naeun.”

Myungsoo tertawa. Kemudian memutar bola matanya. Ia pun mengambil tasnya meninggalkan Naeun disana.

“Hei! Kim Myungsoo-ssi!”

Myungsoo berhenti melangkah kemudian ia membalikkan badannya. Ia pun mengusap dahinya menggunakan punggung tangannya. “Ada apa lagi?” tanyanya sambil mengelap keringat yang ada di tangannya ke celana seragamnya.

Aniyo. Aku baru pertama kalinya menunjukkan diriku ke orang yang kujaga. Selama ini aku tidak pernah menunjukkan diriku.”

“Jadi?”

“Semua orang bisa melihatku kalau aku seperti ini.”

“Kalau begitu jangan tunjukkan dirimu.”

“Hm, begitu ya?”

“Ya, itu lebih baik.” Sahut Myungsoo dingin. “Lalu, apa kau terus mengikutiku? Ke rumahku? Kamar ku? Kamar mandi?”

“Yang terakhir tidak.”

“Oh.”

Myungsoo membalikkan tubuhnya kemudian ia berjalan meninggalkan Naeun. Naeun pun memetikkan tangannya dan akhirnya ia kembali ke wujudnya yang tak terlihat. Naeun kemudian memetikkan jarinya lagi ke arah Myungsoo dan berjalan disamping Myungsoo.

Sesampainya di depan rumah Myungsoo, Myungsoo mengucek matanya. Dilihatnya Krystal yang berdiri di sana bersama kedua temannya – Choi Jinri dan Park Sunyoung. Ditambah lagi 3 orang perempuan muda yang menggunakan gaun seperti Naeun.

“Halo, L.” Kata Krystal sambil meraih tangan Myungsoo. Namun, Myungsoo menepisnya dulu. Kemudian Myungsoo langsung memasuki rumahnya dan menutup pagarnya rapat-rapat agar Krystal tidak bisa masuk.

“Jung Soojung, jangan ke rumahku. Atau juga memanggilku L. Kalau kau memanggilku lagi dengan sebutan L akan kubunuh kau.” Sahut Myungsoo di balik pagar lalu melangkah memasuki rumahnya.

Krystal pun berteriak dan mulai menangis. “Kau jahat, Myungsoo!!! Aku membencimu!!”

Myungsoo keluar dari rumahnya dan berdiri di dekat pagar. “Apa? Kau membenciku? Aku juga membencimu, Krystal!”

**

“Apa yang kau lakukan dengan mataku?” tanya Myungsoo sambil membalik-balik buku komiknya. Tak lama, Son Naeun menunjukkan dirinya dan kini ia sudah berganti baju. Entah darimana ia mendapatkan baju itu.

Myungsoo mengangkat kepalanya. Dilihatnya Son Naeun berdiri di dekat pintu kamarnya dengan kemeja berwarna pink yang dimasukkan ke dalam celana jeans-nya dan lengan digulung sampai sikunya. Lalu ia juga mengenakan sabuk kulit kecil berwarna cokelat mengelilingi celana jeans nya. Rambutnya diikat semua menampilkan wajahnya yang lebih terlihat segar. Myungsoo tak dapat menutup mulutnya.

“Darimana kau dapatkan itu?”

“Dari kakakku.”

“Kau punya kakak?” tanya Myungsoo sambil menutup komiknya. Kemudian ia memutar kursinya menghadap ke arah tempat tidur. “Duduklah disana.” Kata Myungsoo.

Son Naeun pun menurut lalu ia duduk di tempat tidur Myungsoo. Kemudian ia tersenyum. “Begitulah. Namanya, Son Dongwoon. Ia adalah laki-laki yang menjadi sahabatmu selama ini. Dulu aku meninggal tertabrak mobil. Seorang perempuan berponi menyadarkanku saat aku sudah menjadi arwah. Tubuhku mengenaskan. Perempuan itu bernama Park Chorong. Dia sangat baik padaku.”

Myungsoo tampak terdiam. Mulutnya terbungkam. Tubuhnya melemas ketika mendengar nama Park Chorong. “Park Chorong?”

“Ya, perempuan yang sempat menjadi noona mu itu adalah penjaga dari Dongwoon oppa. Begitulah tepatnya, lalu aku tadi mengunjungi rumah Dongwoon oppa. Ia tampak terkejut dan menangis. Kemudian ia membelikanku baju ini lalu ia menyuruhku untuk mengikat rambutku seperti ini. Karena menurutnya aku terlihat lebih cantik dengan ikatan rambut seperti ini. Menurutmu?”

Myungsoo mengangkat bahunya. “Entahlah.”

“Oh ya, kau tadi bertanya padaku bukan? Iya, aku yang membuatmu melihat 3 perempuan menggunakan gaun itu. Mereka adalah teman-temanku juga. Krystal adalah milik Yoon Bomi. Jinri adalah milik Jung Eunji. Dan, yang terakhir Sunyoung adalah milik Oh Hayoung.”

“Baiklah. Aku percaya padamu. Lalu siapa yang menabrakmu?”

“Hm? Entahlah. Aku belum mengetahuinya sampai sekarang. Karena ia lari begitu saja. Namun, kata Chorong eonni dia adalah perempuan.”

**

Sudah 1 minggu berlalu sejak Naeun dan Myungsoo bertemu. Dan, sejak malam itu, Myungsoo akhirnya menyuruhnya untuk menunjukkan dirinya saat di luar sekolah, di luar rumah, dan kamarnya. Ia juga merasa risih kalau arwah itu terus mengikutinya.

“Hei, Myungsoo, kenapa kau membenci Krystal? Aku sampai sekarang tidak mengerti kenapa kau membencinya.”

“Karena-.”

“Karena dia yang membunuh Chorong eonni?”

Myungsoo menjilat es krimnya kemudian menganggukkan kepalanya. Naeun tertawa kemudian ia mengaitkan tangannya di tangan Myungsoo. Lalu ia berjalan menghadap Myungsoo.

“Krystal tidak salah. Kau saja yang berlebihan. Bertemanlah dengannya. Dia tidak salah, lagipula Chorong eonni menganggapnya itu hanyalah sebuah kecelakaan semata.”

Myungsoo tampak kaget akan kaitan tangan Naeun. Akhir-akhir ini ia memang sering tertawa dan setiap pulang sekolah mereka membeli es krim. Lagipula juga, ia merasa lebih hidup sejak adanya Naeun. Ia lebih sering tertawa.

Naeun pun kembali ke posisinya dan berjalan di samping Myungsoo sambil mengaitkan tangannya. “Hei, Myungsoo. Bolehkah aku memanggilmu oppa?”

Myungsoo yang tampak berpikir pun terkejut akan ucapan Naeun. “Eoh?”

“Ya! Kau tidak mendengarku. Bolehkah aku memanggilmu oppa?” tanya Naeun lagi sambil menatap Myungsoo. Myungsoo pun menolak tatapan Naeun.

“Terserah kau saja.”

“Oh yeah!! Myungsoo oppa!” ucapnya sambil tertawa. Myungsoo hanya bisa tersenyum kecil melihat Naeun bertingkah seperti itu.

**

“Eoh, oppa.”

Myungsoo mengangkat kepalanya. Kemudian ia menatap ke arah Naeun yang duduk di tempat tidurnya. “Kau tidak belajar?”

“Aku cukup belajar di sekolah saja. Tidak di rumah.”

Naeun mengangkat bahunya kemudian ia tidur di atas tempat tidur Myungsoo. Ia pun menatap langit-langit kamar Myungsoo. “Oppa, apa kau pernah berpikir bahwa suatu hari aku akan meninggalkanmu?”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Karena kau arwah. Memangnya ada arwah yang meninggal?”

“Bukan begitu.”

Myungsoo menatapnya tajam. “Jadi, kau berniat meninggalkanku? Kapan?” tanya Myungsoo lalu melipat kedua tangannya. Entah kenapa ia merasa jantungnya terus berdegup kencang kalau ia sedang menatap Naeun.

Naeun pun bangkit dari tempat tidur Myungsoo. “4 hari lagi.”

“Kenapa?”

“Aku tidak akan bertugas lagi sebagai penjaga melainkan sebagai peri. Jadi aku akan menjaga orang-orang tertentu saja. Aku tidak tahu, apakah aku nanti akan menjagamu lagi atau tidak.”

**

D-3

Myungsoo mengajak Naeun ke arah bioskop. Karena itulah, Naeun pun merasa senang karena sudah lama ia tidak pernah ke bioskop alias sejak ia meninggal waktu itu. Myungsoo pun menarik tangan Naeun memasuki bioskop itu dan membeli satu pop corn.

Oppa?”

Myungsoo menolehkan kepalanya ke arah Naeun. “Hm?”

“Apakah ini tidak berlebihan?”

Myungsoo menggelengkan kepalanya kemudian menyerahkan uangnya ke arah kasir itu dan mengambil pop corn pesanannya. Ia pun memberikannya ke arah Naeun lalu menggandeng Naeun memasuki studio 3 yang memutar film yang sudah dibeli mereka.

**

D-2

“Oh, kau mau mengajakku kemana lagi?” tanya Naeun saat Myungsoo menariknya ke arah lain sepulan sekolah. Myungsoo tersenyum kemudian ia justru menggandeng tangan Naeun menuju tempat yang dimaksudnya.

“Jangan banyak bertanya.”

“Kalau begitu aku hanya akan menanyakan 1 hal. Jadi, kau sudah berteman baik dengan Krystal?”

“Ya, begitulah. Tapi aku tidak akan pernah menerima ajakannya untuk berpacaran sampai kapanpun.”

“Hm. Kurasa, aku tahu ini ke arah mana. Myeongdong?”

“Ya.”

Myungsoo terus menariknya memasuki pusat perbelanjaan itu. Kemudian mereka memasuki sebuah toko perhiasan. Pelayan toko tersebut segera memberikan Naeun sebuah kalung berlian kecil. Tidak terlalu ramai, hanya satu 3 berlian kecil yang menghiasi pusat kalung itu. Lantas, Myungsoo memakaikan kalung itu pada leher Naeun.

Oppa, kau kan yang membelinya?”

“Begitulah. Kau menyukainya?”

Naeun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang walaupun ia merasa sedih karena lusa sudah menjadi hari terakhirnya. Naeun meraba kalung itu lalu ia tersenyum pelan. “Gomapta.” Gumamnya.

**

D-1

“Jangan mengajakku kemana-mana lagi.” Ujar Naeun sambil mengerucutkan bibirnya. Kemudian ia berjalan disamping Myungsoo. Myungsoo tertawa kemudian ia mengacak rambut Naeun.

“Tidak. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

Myungsoo segera menarik tangan gadis itu lalu mereka berjalan dengan cepat menuju tempat itu. Tak lama Naeun pun menyadari tempat yang akan dikunjunginya dan Myungsoo itu – sungai.

“Oh, kau membawaku kesini.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya kemudian membersihkan rumput yang akan diduduki Naeun. “Duduklah.”

“Aku tak mengerti kenapa kau membawaku ke tempat-tempat seperti ini di akhir-akhir hariku. Sebenarnya bukan akhir juga, namun perpisahan.”

Myungsoo tersenyum lalu melempar batu ke arah sungai. “Kenapa? Kau tak suka?”

“Bukan begitu. Ini terlalu berlebihan. Kau bahkan membelikanku sebuah kalung berlian yang entah berapa mahalnya. Aku tahu kau orang yang mampu membeli barang seperti ini, tapi bukankah ini tidak cocok untukku?”

Myungsoo menolehkan kepalanya. Dilihatnya kalung itu lalu wajah Naeun. “Tidak, itu cocok untukmu. Sudahlah jangan banyak protes.” Katanya sambil memalingkan wajahnya dari Naeun.

“Yah, kau ini. Besok aku harus berpisah denganmu, kau justru marah-marah.” Kata Naeun sambil ikutan melempar batu ke arah sungai. “Jangan marah, aku hanya berpisah denganmu, siapa tahu aku bisa bertemu lagi denganmu.”

“Bodoh.”

**

D-Day

Sepulang sekolah, Myungsoo kembali mengajak Naeun ke sungai itu. Mereka berdiam diri cukup lama. Karena mereka tahu itu adalah hari perpisahan mereka. Akhirnya Myungsoo pun menghela nafas panjang.

Naeun terdiam. Kemudian dipandangnya Myungsoo yang ada disebelahnya. “Kenapa kau kemarin menyebutku bodoh?”

Myungsoo balik menatapnya. Kemudian ia menatap Naeun dalam. “Tentu saja kau bodoh. Bagaimana bisa kau tidak menyadari kalau aku menyukaimu?”

Seketika itu, Naeun terasa kaku. Ia tak dapat berbuat apa-apa. Bibirnya terasa kelu. Waktu seakan-akan berhenti. Myungsoo pun mendekatkan wajahnya ke arah Naeun lalu memejamkan matanya dan mencium bibir Naeun.

1..

2..

3..

4..

Lalu di detik 49, Myungsoo masih menunggu balasan ciuman dari Naeun. Ia tak sabar menunggu kapan itu.

50..

Naeun pun menutup matanya. Ia membalas ciuman itu. Ia menyukai Myungsoo sejak menjadi penjaga Myungsoo namun ia harus memendam rasa itu jauh-jauh karena itu tidak mungkin. Myungsoo segera melonjak senang karena di detik 50, Naeun akhirnya membalas ciumannya. Mereka segera berciuman layaknya pasangan kekasih.

51..

52..

53..

54..

55..

56..

57..

58..

Saat itu juga Naeun mulai menangis. Ia menjatuhkan air matanya satu persatu. Ia membenci perasaannya. Kenapa ia harus menangis saat ia berciuman dengan orang yang disukainya sejak awal? Ia merasa kesal namun ia terus menangis sembari berciuman dengan Myungsoo.

59..

60..

Tubuh Naeun menghilang begitu saja dari padangan Myungsoo. Myungsoo membuka matanya. Dilihatnya Naeun yang tak ada lagi disana. Ia terdiam. Pandangannya kosong. Seperti orang tak punya akal, ia meraba-raba angin yang ada di hadapannya, berharap bahwa Naeun masih disana.

Namun, nihil. Naeun telah pergi meninggalkannya. Myungsoo terdiam. Pandangannya kosong menatap sungai yang mengalir itu. Lama-lama, air mata Myungsoo mulai berjatuhan satu-persatu saling menyusul.

Menangis dalam kehampaan.

**

Sudah 2 bulan lebih, Kim Myungsoo mengunjungi sungai itu setiap sepulang sekolah. Kemudian ia melempar berbagai batu ke arah sungai itu namun tak ada yang muncul dari sungai itu. Ia belum juga menyerah.

Ia masih menganggap bahwa Naeun adalah kekasihnya dan ia juga yakin bahwa Naeun pasti akan kembali dan mengunjunginya sebagai manusia asli atau yang lainnya. Hari ini ia pun pergi melangkah menuju sungai itu untuk terakhir kalinya.

Dipandangnya sungai itu lemah. Mengingat sungai itu justru membuatnya semakin percaya bahwa Naeun pasti akan kembali padanya. Ia pun melempar batunya. Kemudian ia mengambil tasnya lalu melempar seikat bunga ke arah sungai itu dan melangkah pergi meninggalkan sungai itu.

“Myungsoo.”

Langkahnya terhenti. Ia sepertinya mengenali suara itu. Kemudian ia membalikkan tubuhnya. Dilihatnya gadis yang menggunakan kemeja berwarna hitam dan celana jeans berwarna biru. Gadis itu tersenyum padanya. Rambutnya berwarna cokelat dan diurai begitu saja membuatnya semakin cantik.

“Son Naeun?”

Myungsoo segera berlari ke arah gadis itu. Lalu ia segera memeluk Naeun. Naeun kembali menangis. Ia tidak tahu kenapa ia harus menangis di saat-saat bahagianya. Kemudian Myungsoo melepaskan pelukannya lalu tersenyum ke arah Naeun dan segera mencium bibir Naeun.

**

50 seconds.

You came into my heart.

60 seconds.

You disappeared from my life, Son Naeun.

But, now in 60 seconds, you’re mine. Forever.

The End

bagaimana? jangan lupa berkomentar^^

18 thoughts on “[Oneshoot] 60 Seconds

  1. Dibikin sequel thor please~~

    ahh kereenn…. critanya daebak, nyeseeekk bacanya T^T

    SEQUEL PLEASEEE !!! /pake tao eh toa/-,-

  2. agak sedih karena cuma oneshoot😦 /ngga tau malu/
    ffnya bagus banget! aku suka~
    aku kira bakal sad ending pas baca ’60 seconds, You disappeared from my life, Son Naeun.’
    ternyata happy ending ^_^ /seneng banget/
    wwaaaa myungeun, myungeun, myungeun!! >.<
    btw, naeun di akhir udah jadi manusia? atau masih sebagai penjaga myungsoo? atau sebagai peri? /berharap sequel/ hehehe😀 /slapped/
    ditunggu lho, hard to love nyaaaa, semangat!🙂

  3. sequel,sequel,sequel,sequel.(kaya lagi mau demo aja)
    thor buat sequalnya dong,ending nya kecepetan.tapi tetep bagus ko.hwaiting

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s