[FF Freelance] The Red Moon (Chapter 1)

the red moon new

Tittle : The Red Moon || Author : PinkyPark || Cast : Kim Jongin, Jung Aekyung (OC) || Support Cast : All EXO member || Genre : Fantasy, Romance, Friendship || Length : Chaptered || Rating : PG-16 || Disclaimer : This Story Line Belong to ME! The cast belong to GOD and Themselfes.

 

DON’T BE PLAGIATOR AND SILENT READERS 

CHAPTER 1

Jung Aekyung adalah gadis jelita. Siapapun akan terkagum- kagum oleh keelokan wajahnya. Matanya yang besar, hidungnya yang tajam, pipi yang bersemu merah, juga bibir yang merekah. Selain cantik, Aekyung juga gadis yang ramah. Siapapun akan nyaman jika bebicara dengannya. Dia juga terkenal dengan senyuman manisnya. Sampai- sampai beberapa orang memanggilnya ‘Queen Of Smile’.

Dia adalah putri bungsu dari keluarga Jung. Ayahnya seorang pengusaha dan ibunya adalah mantan model terkenal. Aekyung  juga memiliki seorang kakak  bernama Jung SaeRan yang tidak kalah cantiknya.  Sejak umur Sembilan tahun, Aekyung memang sudah tinggal di London. Dan kini, dia kembali lagi ke kampung halamannya tepat setelah usianya menginjak angka tujuh belas.

Hari ini adalah hari kelima dia menjadi siswa Seoul High School. dengan langkah manisnya dia berjalan melewati koridor sekolah yang seolah tiada ujungnya. Sesekali dia tersenyum kepada beberapa siswa yang menyapanya. Ya, gadis ini memang sangat ramah. Dia terus berjalan mengelilingi sekolah, berusaha mengingat baik- baik letak dan formasinya. Dia juga khawatir kalau dirinya lupa jalan menuju kelasnya sendiri.

Kakinya terhenti, sebuah tikungan yang mencolok membuat matanya berbinar. Rasa ingin tahu mulai bergejolak di dadanya. Belum satu langkah dia berjalan, tangannya sudah ditahan oleh seseorang. Aekyung menoleh, lalu tersenyum manis.

“ada apa ?” Tanya Aekyung ramah. Cho Hana, yang adalah teman pertama Aekyung di sekolah ini hanya menggeleng tak percaya.

“kau mau kemana ?” Hana balik bertanya.

“kesana ..” Aekyung menunjuk tikungan yang akan dilaluinya tadi.

“kau tidak boleh kesana arachi ? kajja kita ke kantin..”

Aekyung terdiam, pernyataan Hana membuat gejolak ingin tahu  di benaknya kian menjadi. “aniyo hana-ya.. aku mau lihat ada apa dibelakang sana.. lagi pula kenapa aku tidak boleh kesana ?”

Hana memutar bola matanya lalu mulai berdehem. “ini adalah rahasia sekolah, kau tidak boleh memberitahukannya kepada orang lain arachi ?” Aekyung mengangguk tidak sabaran. Perlahan Hana mendekatkan mulutnya ke telinga Aekyung, lalu membisikkan sesuatu selama satu menit.

Aekyung membelalakan matanya. “itu aneh.. aku jadi ingin lihat .” seru Aekyung sembari mulai melangkah menuju tikungan itu.

“a-aniyo Aekyung~ jangann !” sergah Hana setengah berteriak, namun siapa yang bisa melawan sifat keras kepala Aekyung ? alhasil sekarang gadis cantik itu sudah menghilang dari hadapan Hana.

Aekyung melihat kesekeliling. Tempat ini indah, dan sangat sepi. Sepuluh meter di depannya berdiri kokoh sebuah pohon maple yang besar. Aekyung menyipitkan matanya, seorang pria tengah duduk bersandar dibawah pohon maple itu.

“siapa dia ?” gumam Aekyung sembari berjalan mendekati pohon itu. Rasa penasaran mulai membuncah di dadanya.

Pria itu semakin jelas dilihat, mata pria itu kini tertutup. Apa dia sedang tidur ? rambut pria itu sedikit berantakan tertiup angin, dan kancing seragamnya terbuka di bagian atasnya.

Aekyung berhenti, entah mengapa dia  merasa bahwa pria itu menyadari kedatangannya. Apa pria itu memiki pendengaran yang sangat tajam ? Aekyung berjalan lagi, hingga kini jaraknya hanya dua meter lagi dari pria itu. Di langkah berikutnya, pria itu terhenyak lalu berdiri sembari menatap Aekyung tajam. Aekyung berhenti saat merasakan aliran listrik dalam tatapan itu, ada perasaan aneh saat pria itu menatapnya. Seperti sebuah peringatan akan bahaya. Aekyung sedikit takut tentu saja, namun sifat keras kepalanya lagi- lagi mengalahkan ketakutannya. Aekyung melangkah lagi, sekarang lebih lambat dari sebelumnya. Pria itu juga melangkah mundur, seolah waspada Aekyung  akan menerjangnya lalu menebas lehernya dengan pedang. Aekyung terus melangkah, terdengar geraman lemah dari pria itu, Aekyung berhenti lagi. Tatapan pri a itu lagi- lagi memasaknya mundur. Tapi Aekyung tidak peduli.

“ada apa ?” Tanya Aekyung penasaran. Pria itu tidak menjawab dan tertegun sejenak, ini ..

Pertama kalinya.

“ahh, annyeonghaseyo.. Choneun Jung  AeKyung imnida ..” Aekyung membungkuk dan lagi- lagi pria itu tertegun. Ini ..

Pertama kalinya.

“ireumi mwoeyo ?” Tanya Aekyung seolah tidak kehabisan cara memecahkan kebisuan pria itu. Namun nihil, pria itu hanya diam sembari terus menatapnya tajam. Aekyung terdorong lagi oleh tatapan pria itu, kali ini lebih kuat. Ini aneh, seakan kini Aekyung ada di zona berbahaya.

Pria itu menggeleng lemah, lalu berjalan meninggalkan Aekyung yang kini terdiam bingung. Aekyung berbalik, memandangi punggung  pria itu yang kian menjauh. Tanpa fikir panjang, gadis itu setengah berlari mengikuti langkah pria itu. Pria itu berhenti saat Aekyung berdiri dihadapannya sembari merentangkan tangan kurusnya. Pria itu tertegun lagi, ini ..

Pertama kalinya.

“kau, mengapa tidak menjawab ku ?” Tanya Aekyung sembari membalas tatapan tajam pria itu. Pria itu mencoba berjalan lagi, tapi Aekyung menghalanginya dengan tetap merentangkan tangannya. “kau ini bisu ? mengapa tidak mengucapkan sepatah katapun ?” Aekyung mulai jengkel dan menunjukkan wajah kesalnya, tentu saja, ini pertama kalinya seseorang memperlakukannya dengan dingin.

“apa maumu ?” Tanya pria itu datar. Aekyung berbinar, merasa berhasil membuat pria itu bicara.

“ayo kita berteman, namaku Aekyung dan kau ?” Aekyung menyodorkan tangannya namun pria itu hanya memandang lekat  tangan mungil itu. Ini benar- benar..

Pertama kalinya.

“eoh ? ada apa ?” Aekyung masih menyodorkan tangannya sembari menatap pria itu. Pria itu mengerjap saat bel masuk berbunyi. Focus Aekyung terpecah dan saat dia menoleh lagi, pria itu sudah tidak ada dihadapannya.

***

Ini kesekian kalinya Aekyung melirik jam dinding sembari mengetuk- ngetuk kepalanya dengan bolpoin. Pelajaran Trigonometri kali ini dilaluinya dengan abu- abu. Matanya memang terfokus kearah Choi Songsaengnim, tapi fikirannya melancong jauh entah kemana.

“hey, kau tidak menulis ?” bisik Hana sembari menyikut perut Aekyung. Yang ditanya hanya menoleh lalu tersenyum lebar.

“nanti aku pinjam catatanmu, aku akan menulis di rumah saja.”

“eh, wae ? tidak biasanya kau seperti ini,”

“aniyo, tidak apa- apa. Aku hanya sedikit malas saja,” jawab Aekyung sembari menepuk tangan Hana. Tepat setelah itu, bel istirahat berbunyi. Tanpa sepatah katapun, Aekyung berlari keluar kelas. Hana hanya melongo melihat teman sebangkunya terburu- buru seperti itu.

Aekyung berlari menuju tempat kemarin. Semalaman penuh dia memikirkan pria itu. ‘dia pria aneh.’ , ‘apa dia pecandu narkoba ?’ , ‘mengapa dia menataku seperti itu ?’, ‘apa dia membenciku ?’ . banyak sekali pertanyaan di kepala Aekyung, sampai- sampai sesekali kepalanya berdenyut memikirkan semua itu. Kini langkahnya terhenti. Seperti biasa, tempat ini terlampau sepi. Matanya menerawang  kearah pohon maple . Detik berikutnya dahi gadis cantik itu berkerut. “siapa mereka ? apa mungkin __” gumam Aekyung sembari menyipitkan matanya. Hari ini, dibawah pohon maple itu dia  tidak sendiri. Ada tiga orang lainnya yang kini tengah berdiri sembari berbincang. Dan pria itu tetap dalam posisi favotitnya, duduk bersandar di batang pohon.

Aekyung memberanikan langkahnya untuk berjalan mendekat, dia berhenti saat tiga orang teman pria itu bergerak seolah menyadari kedatangan Aekyung. ‘apa pendengaran mereka juga sangat tajam ?’ batin Aekyung, penasaran.

Gadis cantik itu melangkah lagi, kini lebih cepat dan terburu. Dengan sekejap ketiga teman pria itu berbalik sembari memasang ancang- ancang waspada. Aekyung terhenti, tatapan ketiga orang itu kini lagi- lagi seolah mendorongnya menjauh. Aekyung takut tentu saja, energi itu kini lebih kuat. Terdengar geraman dari salah satu teman pria itu. Dua lainnya hanya tetap diam menatap Aekyung tajam.

“apa maumu ?” Tanya seorang pria yang menggeram tadi  dengan suara Bass nya. Aekyung membelalak karena terkejut mendegar ancaman dalam pertanyaan pria itu.

“a-a-aku … ah, Annyeonghaseyo.. Choneun Jung Aekyung imnida .” jawab Aekyung lalu setengah membungkuk. Energy disekitarnya berubah negative, seolah dia kini tengah dalam bahaya.

“apa maumu ?” Tanya pria bersuara Bass itu lagi.

“a- a-apa ?” Aekyung tergagap karena takut. Pria yang lainnya hanya tersenyum mengejek sembari terus menatapnya. Dan pria itu, dia tetap dalam posisinya. Seperti patung atau batu hasil kutukan. Tidak bergerak sama sekali.

“pergi !” titah suara lain dengan nada datar. Aekyung kembali terbelalak merasakan ancaman di dalam perintah itu.

“k-k-kenapa aku harus pergi ?”

“KAU !!” Teriak pria bersuara Bass dengan mata yang berapi- api. Tubuhnya condong ke depan, seperti hendak menerkam. Dua teman lainnya menahan pundaknya. Pria itu menggeram lagi. Aekyung mundur selangkah, seolah terdorong oleh tatapan pria marah itu.

“sudahlah ..” ucap pria yang sedari tadi menjelma menjadi patung. Matanya masih tertutup, lalu kemudian dia berdiri membelakangi Aekyung. Berbincang dengan ketiga temannya tanpa suara. Lalu  Detik selanjutnya ketiga pria itu berlalu pergi tanpa menatap Aekyung sedikitpun. Aekyung mengekori kepergian ketiga pria itu dengan penasaran. Lalu matanya kembali beralih kearah pria dihadapannya. Rambutnya sedikit berantakan oleh angin, tatapannya tetap tajam dan dingin.

“mereka temanmu ?” Aekyung membuka pembicaraan.

“ya.”

“mengapa mereka terlihat sangat marah ?”

“apa sekarang aku tidak terlihat seperti  sedang marah ?” pria itu balik bertanya dengan nada datar. Aekyung hanya menggeleng.

“apa kau juga marah seperti mereka ?”

“ya.”

Aekyung terdiam. Kepalanya tertunduk memandangi sepatu hitam yang di pakainya. Sembari menarik nafas Aekyung mengangkat lagi wajahnya. Membalas tatapan pria itu yang sedari tadi menatapnya. Matanya sedikit sendu dan mimik wajahnya berubah sedih.

“mengapa kalian membenciku ?” pria itu terdiam, jantungnya berdetak sangat cepat. Matanya menatap ke dalam mata Aekyung yang sedih. Sungguh, ini bukan maksudnya. Bagaimana bisa ada wanita sebodoh ini ? dia salah paham.

“dari mana kau mendapatkan gagasan bahwa kami membencimu ?”

Aekyung hanya menggeleng sembari tersenyum miris. “hanya kalian yang tidak menerima salam perkenalan ku. Semua siswa disini sangat ramah padaku. Kecuali kalian .. ”

“kau tidak mengerti ,” pria itu berjalan melewati Aekyung yang terdiam. Aekyung membalikkan badannya. Menatap punggung pria itu seperti kemarin. tapi kini dia tidak berlari mengejarnya, dia hanya terdiam seorang diri.

“Aekyung-a!! Aekyung-a !!” teriak Hana dari kejauhan sesaat setelah pria itu menghilang dari pandangan. Aekyung hanya melambai tanpa beranjak sedikitpun. Dengan langkah ragu, Hana berlari mendekati Aekyung. “aigoo.. apa yang kau lakukan dengan pria itu ?” Tanya Hana saat sudah berdiri dihadapan Aekyung.

“tidak, tidak ada ..”

“dia menyakitimu ?” Tanya Hana khawatir. Aekyung menatap Hana tajam.

“mengapa kau berpikiran seperti itu ?”

“kau tahu ? cara mereka menatap, sangat menyeramkan. Seperti akan menerkam..” bisik Hana sembari bergidik.

“pria itu, siapa namanya ?” Aekyung mulai berjalan diikuti oleh Hana.

“pria yang tadi maksudmu ? namanya Kim Jong In. dia sangat tampan bukan ? tapi sudahlah, sepertinya tidak ada satupun wanita disini yang sesuai dengan selera nya.. selera teman-temannya juga ..”

“oh ya. Teman- temannya, siapa nama mereka ?”

“Kim Jong In hanya brinteraksi dengan tiga orang di sekolah ini. Park Chanyeol, Oh Sehun, dan Byun Baekhyun.” Jawab Hana layaknya seorang pemandu wisata.

“mengapa pria bernama Kim Jong In itu hanya berinteraksi dengan mereka ?”

“entahlah, tapi sebenarnya. Mereka berempat tidak pernah berinteraksi dengan siapapun. Seperti sekawanan serigala di tengah- tengah sekumpulan manusia. Mereka mengasingkan diri mereka sendiri, seperti berusaha memberitahu kami bahwa mereka berbeda.”

“pria itu, kelas berapa ?”

“dia itu Sunbaenim kita .. ”

“apa? dia kakak kelas kita ?”

Hana hanya mengangguk sembari menarik tangan Aekyung . “sudah bel, ayo kembali.”

***

Seminggu ini Aekyung  tidak pergi ketempat di belakang  sekolah itu. Dia tetap dalam gagasannya bahwa mereka membencinya. Seminggu ini pula Aekyung tersiksa dengan berjuta pertanyaan di benaknya. ya, pertanyaan tentang murid- murid aneh itu.

Hari ini Aekyung berjalan ke tempat itu lagi, sebenarnya dia ingin ke tempat ini sejak seminggu yang lalu. Namun dia bertekad tidak akan ke tempat itu lagi dan ternyata rasa penasaran dan tanda Tanya besar di benaknya hanya membuatnya bertahan selama satu minggu.

Tempat ini sangat sepi, hanya terdengar suara desiran angin atau gemerisik daun kering yang berjatuhan. Seperti biasa, matanya menerawang ke arah pohon maple. Kosong. Pria bernama Kim Jong In itu tidak ada disana. Dengan langkah ragu Aekyung berjalan kearah pohon, tangan kurusnya memeluk buku novel yang dibawanya.

Aekyung berhenti. Tidak ada siapa- siapa disini. Kemana Kim Jong In ? seharusnya dia duduk disini. Aekyung menarik nafas panjang, matanya menyapu sekelilingnya yang bisu. Tempat ini tidak begitu buruk. Suasananya sangat cocok untuk menenangkan diri. Tidak salah Jongin selalu duduk disini.

“baiklah, kita coba disini ..” ucap Aekyung sembari beruusaha duduk di akar pohon maple yang mencuat keluar. Dalam diam dia membuka novelnya lalu mulai tenggelam dalam dunia di dalamnya. Belum genap sepuluh menit, sebuah suara menyeretnya ke dunia nyata.

“apa yang kau lakukan disini ?” Aekyung menoleh dan mendapati Jongin sedang berdiri di belakangnya. Tatapannya tetap dingin seperti biasanya.

“kau tidak lihat aku sedang  memegang apa ?”

“pergilah, ini tempatku..”

“mwo ? kau mengusirku? Aku juga siswa disini, dan orang tuaku sudah membayar biaya administrasi sekolah ini. Jadi, aku juga berhak duduk disini. ”

Jongin terdiam, berfikir keras bagaimana bisa gadis ini tidak takut kepadanya.”yasudah..” Jongin berbalik hendak pergi. Namun Aekyung menahannya.

“duduk lah disini kalau kau mau..” Aekyung menarik tangan Jongin hingga kini mereka duduk berdampingan. Jongin terhenyak kaget saat gadis itu menyentuh tangannya. Lembut, lembut sekali.

“tempat ini luas, kau pikir kau siapa ingin menguasai tempat ini sendiri ? mulai sekarang, aku juga akan duduk disini. ” Aekyung kembali membaca novelnya. Pria itu hanya tersenyum diam- diam.

Matanya menelusuri lekuk wajah Aekyung yang sempurna. Ini gila, apa yang dipikirkannya?

Aekyung menoleh, mendapati pria itu tengah menatapnya. “ada apa ?” Tanya Aekyung sembari mengangkat alisnya. Jongin tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya lalu mulai menyandarkan tubuhnya ke batang pohon  dan mulai menutup matanya.

“aku tahu, kau pasti terkagum- kagum pada kecantikanku..”

Jongin membuka matanya lagi  lalu menatap Aekyung tidak percaya. Aekyung hanya tertawa lalu menepuk pundaknya. “aku hanya bercanda.. lanjutkan saja semedi mu ..”

“dari mana asalmu ?” Tanya Jongin ragu- ragu. Aekyung menoleh lalu menutup novelnya. Ini ajaib! Pria yang nyaris seperti orang bisu ini bertanya kepadanya.

“London ..”

“oh.”

“kau dari mana ?” Aekyung mulai membuka sesi pertanyaannya. Berusaha mengingat- ngingat sederetan pertanyaan yang sudah direncanakannya selama seminggu ini.

“pertanyaan lain saja ..”

“kenap__ ah, baiklah .” Aekyung menatap langit sembari memikirkan pertanyaan yang lebih pantas. Yang benar saja, mana mungkin Aekyung bertanya ‘mengapa kalian selalu berempat ?’ atau ‘mengapa kalian berbeda dari kami ?’

“kau tinggal dimana ?”

“distrik gangnam .”

“dengan siapa ?” pria itu menoleh dan menatap Aekyung datar.

“apa kau akan melamarku? Tanyakan hal yang lebih umum .”

“baiklah,” Aekyung berfikir lagi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “kemana teman- temanmu ?”

“mereka tidak sekolah .”

“kenapa ?”

“kau tanyakan saja pada mereka.”

Aekyung mendengus. Bertanya pada pria ini benar- benar membutuhkan kesabaran yang tinggi. “mengapa kalian tidak pernah telihat di kantin ?”

“kami tidak lapar, dan makanannya tidak enak.”

“meurutku enak, memangnya makanan apa yang menurut kalian enak ?”

Jongin membetulkan letak duduknya, lalu menatap Aekyung tajam. “daging segar ..”

Sontak Aekyung membelalak dan jantungnya berdegup kencang. Jongin masih mengawasi reaksi gadis cantik itu. Detik kemudian dia tertawa, membuat Aekyung seolah seperti orang bodoh.

“kau takut kan ?”

“t-t-tidak.. semua orang tentu suka daging segar. Hanya orang tolol saja yang suka daging busuk.” Jawab Aekyung brusaha menghibur diri. Wajah Jongin kembali datar dan dia kembali menatap kearah lain.

“apa kita berteman ?” Aekyung bertanya dengan suara pelan.

“mengapa kau ingin berteman denganku ?” Jongin balik bertanya.

“entahlah, aku juga tidak mengerti..”

“dengar, akan lebih baik jika kita tidak berteman. Bukan karena aku membencimu. Tapi ini kenyataannya..”

“mengapa begitu ? ”

“sudah kubilang ini kenyataannya..”

“aku tidak suka kenyataan. Jadi kau tidak perlu memperdulikan itu.”

“walaupun aku seorang yang tidak baik?” Tanya Jongin hati- hati, tubuhnya menegang dan tangannya terkepal  membuat buku- buku kuku nya memutih.

“tidak, aku yakin kau orang baik ..” Aekyung menoang dagunya dengan kedua tangannya sembari menatap Jongin lekat.

“dari mana kau tahu ? dasar bodoh ..”

“hmm.. entahlah, dan sepertinya aku lebih suka jadi orang bodoh ..”

“kenapa ?” Jongin belik menatap Aekyung, yang ditanya hanya mengangkat bahunya.

“karena aku bodoh jadi aku akan terus menganggapmu baik ..”

***

Satu bulan sudah berlalu. Kini semuanya kembali seperti semula. Aekyung  juga sudah tidak menjadi sorotan sekolah lagi. Kini semuanya membaur seperti asalnya. Sama, tidak ada yang berbeda. Ya, terkecuali sekelompok siswa itu. Mereka tetap pada kebiasaan mereka menjauhkan diri. Siswa yang lain lebih menganggap mereka tidak ada. Dan mereka pun seperti itu. Terus menjauh.

Tapi berbeda dengan Jung Aekyung. Selama ini dia terus berhubungan baik dengan Kim Jongin. Meskipun yang dimaksud ‘berhubungan baik’ disini tidak sama dengan hubungan pada umumnya. Selama ini Jongin tetap dalam kebisuannya dan Aekyung juga tetap mengambil alih segala pembicaraan diantara mereka. Kim Jongin, jika tidak ditanya dia tidak akan mengatakan sepatah kata apapun.  Jika di sapa pun terkadang dia hanya diam seperti orang yang tidak mendegar. Tapi Aekyung sudah sedikit terbiasa dengan kondisi itu, walaupun sesekali Aekyung harus membalikkan badannya lalu mengomel tidak jelas dibelakang pria itu.

Daun kering berguguran siang ini, membuat pohon maple yang gagah perkasa sedikit berkurang kerindangannya. Tempat ini tetap sepi seperti biasanya, hanya ada Jongin, Aekyung dan debu yang berterbangan.

Aekyung bersenandung kecil sembari mendengar sebuah lagu dari earphone yang tersangkut di telinganya. Di sampingnya, Jongin menutup matanya sembari menyandarkan tubuhnya di batang pohon maple yang renta, selalu seperti itu, seperti biasanya.

Aekyung melirik teman pasifnya. Setiap bertemu hanya moment seperti ini yang dialaminya. Jongin tertidur dan dirinya terbengkalai seperti debu yang digiring angin kesana kemari.

“Jongin !” bisik Aekyung sembari menggoyangkan bahu pria itu dengan telunjuknya. Pria itu tidak bergeming. “Ya~ Jongin.” Bisik Aekyung lagi. Namun tetap tidak ada respon dari yang disentuh. Aekyung mendengus lalu memeluk lututnya. Memandang kedepan dan menyaksikan daun kering yang berkejaran.

“sampai kapan kau akan mengacuhkanku ?” gumam Aekyung sedih. Matanya dengan liar mengikuti beberapa daun yang berjatuhan. “tidur saja terus sampai kau mati ..” gerutu Aekyung pelan, berfikir ucapannya tidak akan pernah terdengar.

“aku masih mendengar itu ..” suara di sebelahnya membangunkan Aekyung yang tertunduk. Matanya mengikuti lekuk wajah  Jongin yang datar.

“kau tidak tidur  kan ?”

“tidak ..”

“lalu mengapa kau tidak menyahut saat ku panggil tadi ..” Aekyung megerutkan bibirnya yang tipis. Jongin hanya mengangkat bahunya.

“aku malas ..”

“apa menurutmu ini yang dinamakan berteman ?” Aekyung mengalihkan pandangannya dari Jongin. Seolah bosan menatap wajah datar disana.

“ya, berteman itu bukan berarti harus banyak bicara. ”

“hah ..” ejek Aekyung mulai kesal.

“teman itu seperti dinding. Cukup tahu dinding itu tetap di tempatnya dan sesekali menyandarkan tubuh disana bila lelah ..”

Aekyung menoleh lagi, kendati kini dirinya terkagum- kagum oleh ucapan temannya itu.  “Kim JongIn. Besok, biarkan aku berkunujung ke rumah mu ne ?”

Kim Jongin tertegun, matanya terbuka dan menatap Aekyung tidak percaya. “untuk apa kau ke rumah ku?”

Aekyung hanya tersenyum lebar lalu bertepuk tangan . “Aku, akan belajar banyak darimu besok ..”

Kim Jongin terdiam, darahnya serasa menyusut dan jantungnya terus berdebar kencang. Jung Aekyung, apa dia akan segera tahu siapa dia sebenarnya??

***

Waktu menunjukkan pukul dua siang. Seperti biasanya, pada waktu tersebut semua siswa akan berhamburan keluar sekolah. Begitupun dengan para siswa Seoul High School. hiruk pikuk mulai terjadi sesaat setelah bel pulang dibunyikan. Jung Aekyung dengan rambut indahnya yang sesekali berterbangan terbawa angin, berdiri diam di depan sebuah kelas. Tangan rampingnya memeluk beberapa buah Novel kesukaannya. Beberapa siswa yang lewat tak segan tersenyum sembari sesekali menyapa kepada gadis ramah itu. Tapi apa yang dilakukannya disana? Sudah jelas dia sedang menunggu seseorang. Seperempat menit kemudian, saat suasana sudah lebih tenang. Kim Jongin dengan wajah datarnya keluar dari dalam kelas. Ya, dialah yang ditunggu- tunggu oleh Jung Aekyung.

Kim Jongin menghentikkan langkahnya, tertegun sejenak melihat Jung Aekyung  tengah tersenyum lebar kepadanya.

“mengapa kau keluar paling akhir?” Aekyung bertanya sembari berjalan mendekati Jongin. Kepalanya melirik sekilas kebelakang Jongin untuk memastikan Jongin memang pulang paling akhir. Yang ditanya hanya diam dan berjalan melewati Aekyung tanpa suara.

“hari ini aku akan ke rumah mu kan ??” Jung Aekyung kembali bertanya sesaat setelah langkah ringkihnya kembali sejajar dengan langkah Jongin. Jongin menghentikkan langkahnya, lalu menoleh untuk menatap Aekyung yang berbinar. Astaga, gadis ini!

“sudah kubilang kau tidak bisa.”

Aekyung menggeleng kuat, seperti anak kecil yang menolak bonekanya di buang. “aku tidak mau tahu, aku akan ke rumah mu. Aku akan mengikutimu !”

Kim Jongin terdiam, tangannya terangkat ragu. Detik selanjutnya tangan itu sudah menggantung di kedua pundak Aekyung. “dengarkan aku Jung Aekyung, kau tidak bisa datang ke rumah ku. Kau tidak tahu siapa saja yng tinggal dengan ku kan?” Jongin menatap Aekyung meyakinkan. Tapi semua orang di dunia ini tahu, Aekyung adalah gadis keras kepala.

“maka dari itu aku ingin tahu, kajja..”Aekyung tersenyum lalu menggandeng tangan Jongin yang masih terkejut. Keduanya berjalan berdampingan, seperti sepasang kekasih. Atau mungkin lebih dari itu. Tapi  itu tidak benar, mereka hanya teman. Teman yang berbeda dari hubungan pertemanan lainnya.

“kau keras kepala Jung Aekyung.” Gumam Jongin pasrah. Tatapannya kembali datar dan dingin.

“aku tahu.” 

Aekyung berdiri mematung. Mulutnya nyaris menganga atau mungkin memang benar- benar menganga. Dihadapannya, sebuah rumah dengan halaman yang luar biasa luas terpampang jelas bagaikan negeri dongeng. Mata indahnya berbinar tak berkedip. Sesekali gadis cantik itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Jongin hanya diam sembari melesakkan kedua tangannya kedalam saku celana.

“berubah pikiran? Pulang lah.” Titah Jongin sembari berjalan mendahului Aekyung yang masih melongo seperti orang idiot. Gadis itu mengerjap, lalu berlari kecil mengikuti Jongin yang sudah mulai menjauh.

“Kim Jongin, ini kereenn.. kau tinggal disini?” Aekyung berucap sembari sedikit berjingkrak ringan. Matanya tak henti mengulas setiap sudut tempat di halaman rumah Jongin.

“kau fikir memangnya aku membawa mu kemana? Tentu saja ini rumah kami.”

Aekyung terdiam, menoleh saat menyadari kata ‘kami’ yang diucapkan Jongin adalah kata ganti yang sedikit mengerikan. “Park Chanyeol, Byun Baekhyun, dan Oh Sehun, mereka tinggal disini juga?” Tangan Aekyung menahan Jongin yang akan membuka pintu. Jongin mengangkat alisnya lalu mengangguk pelan. Matanya terus tertuju menatap mimik wajah Aekyung yang berubah ngeri.

“kau takut kan pada mereka? Sudah kubilang juga kau tidak bisa kesini. Kuberitahu kau, mereka itu suka menggigit.” Jongin sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Aekyung. Aekyung membelalak lalu bergidik ngeri. Membuat Jongin tertawa kecil lalu mulai membuka pintu. “kau mau masuk tidak?” Jongin menyadarkan Aekyung yang membeku di ambang pintu. Matanya tak henti- hentinya menikamati ekspresi Aekyung yang takut. Ya, sejak awal Aekyung memang takut kepada ketiga teman Jongin.

 

 

To Be Continued …

Advertisements

10 thoughts on “[FF Freelance] The Red Moon (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s