[FF Freelance] Sunrise Never Rise (Prolog)

IMG_20131013_165920Tittle : Sunrise Never Rise (prolog)

Author : Miss. Park

Genre : Romance

Lengt : Chapterd

Rate : All Age

Main Cast : Kris EXO M as Wu Yifan/Kevin Wu

Choi daeun (oc)

Other cast : EXO K Kai as Kim Jongin

Song Mira (oc)

FB/Twitter : Siti Rahayuningtyas/@LeeYeppeo1004

 

Annyeonghaseyo, Miss. Park imnida. Ini ff pertama yg sengaja di publish di sini. Sebelumnya ff2 aku semua aku publish di facebook. Sebenernya ini ff hasih ngarang bersama temenku yg lagi sama-sama kita suka bgt sama Wu Yifan hehe. Ka MongK. Ini murni bikinan kita dan ga ada unsure plagiat dan semacamnya. Semoga kalian suka sama ceritanya ya.

                                                                              …

“Aku mohon jangan pukul lagi eomma”. Aku terus menangis sambil berlutut memeluk kaki ibuku, ibu kandungku yg masih terus memukul punggungku dengan sapu. Sakit, sakit sekali.

 

“Eomma tidak akan memukulmu kalau kau tidak berbuat jahat pada Mira. Lihat, kau membuat tangannya terluka!”. Teriak eomma sambil menunjuk Song Mira yg sedang tersenyum licik padaku.

“Aku tidak menyakitinya eommaia sendiri yg membuat tangannya terluka. Aku bersumpah aku tidak bersalah”. Aku terus meronta memohon ampun dari eomma. Tapi percuma saja. Eomma sudah buta, buta karena kelakuan licik Song Mira.

“Eomma tidak peduli, cepat minta maaf!”. Eomma mendorongku kea rah Mira yg sekarang ekspresi wajahnya di ubah sesedih mungkin. Tidak ada cara lagi selain menuruti perintah eomma.

 

“Ma…maafkan aku Mira. Aku tidak akan mengulanginya lagi”.

Mira mendekatkan badannya untuk memelukku. Namun aku mendengar ia berbisik di telingaku.

“Bagus. Permainan belum berakhir Choi Daeun, sampai aku berhasil merebut semua harta kekayaan orang tuamu. AKu tidak akan berhenti. Ingat itu!”.

 

 

.

 

 

“Andwae! Jangan ganggu aku…! Aku mohon! ANDWAE…!”.

Aku tersadar dari tidurku. Mimpi itu lagi. Kenapa kejadian sewaktu aku kecil harus kembali kuingat?

Kusandarku tubuhku di kepala ranjang yg kokoh, keringat mengucur dari dahiku. Ku lirik jam dinding yg terpajang rapi di dinding kamarku, masih pukul 2 pagi. Itu artinya semua orang masih terbawa kealam mimpinya.

Ya Tuhan, kenapa masa lalu ku yg kelam it uterus saja kuingat dan sangat sulit untuk dihilangkan? Sungguh aku ingin mengapusnya. Bukan, bukan orang tuaku. Tapi gadis itu. Song Mira. Dia yg merebut semua kasih sayang orang tuaku dan bahkan orang tuaku berniat mengalihkan semua harta dan perusahaan pada Mira. Padahal aku yg berhak atas itu. Entah aku terlalu takut atau apa, yg pasti aku tidak tau harus berbuat apa. Aku menyerah. Aku kalah. Sebanyak dan sekeras apapun aku membujuk orang tuaku untuk percaya padaku tetap Mira yg menang, mulutnya yg manis ketika berada di depan eomma dan appa membuatku semakin sulit untuk merebut kembali kasih sayang mereka.

Semuanya percuma. Itu semua karena Song Mira. Yah, Song Mira adalah adikku. Ah lebih tepatnya dia diadopsi eomma dan appa saat kami mengunjungi panti asuhan tempat appa menyumbangkan sebagian uangnya untuk anak-anak yg membutuhkan disana. Dan pada saat itu Mira muncul dan orang tuaku langsung memutuskan untuk mengadopsinya.

Awalnya baik-baik saja. Aku sangat dekat dengan Mira dan itu membuat kedua orang tuaku senang, tapi semuanya berubas saat kami beranjak remaja. Entah sifat dan ajarn dari mana Mira mulai berbuat licik padaku dan berusaha mengambil perhatian kedua orang tuaku. Itu berlaku sampai sekarang. Mira benar-benar berhasil menghasut orang tuaku dan hasilnya…. Aku seolah disaingkan dan aku lebih memilih tinggal di apartemen kecil yg aku beli dengan cara dicicil dari uang hasil aku bekerja di sebegai seorang sekretaris di sebuah perusahaan terbesar di Korea. Dengan mengandalkan otaku yg lumayan pintar, tidak sulit untukku mendapatkan pekerjaan dimanapun.

 

 

.

 

 

Aku mengendarai mobilku berniat menuju kantor tempat aku bekerja, tapi entah kenapa aku malah memacu mobilku menuju tempat ini. Gedung sekolahku saat SMA. Banyak sekali kenangan yg tak bisa aku lupakan.

Sepi. Kupastikan murid-murid sudah masuk kelas karena jam menunjukkan pukul 9 pagi. Kakiku melangkah menuju halaman belakang sekolah. Disana terdapat pohon meple besar dan dibawahnya ada bangku panjang tempat aku melihat ‘oksigenku’. Yah, setiap jam istirahat dan pulang sekolah aku selalu kesini. Duduk disini sambil mengunci pandanganku pada sosok ‘oksigenku’ itu.

Sungguh aku merindukanmu. Akankah kau mau menemuiku, meluruskan masalah ini dan memafkanku? Aku merindukanmu.

“Choi Daeun?”. Aku menoleh kebelakang melihat siapa yg memanggilku tadi. Aku terhenyak melihat sosok itu yg kini berada dihadapak. Aku sedikit menyipitkan mata dan merentangkan telapak tanganku karena sinar matahari yg cukup terang menghalangi pandanganku untuk melihat siapa orang yg memanggilku.

“Jongin?”.

 

TBC

Gimana ceritanya? Pasti penasaran ya sama cerita selanjutnya hehehe. Ditunggu selanjutnya ya.

Oh ya, jgn lupa berikan komentar kalian ya. Gamshahamnida ^^

 

 

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Sunrise Never Rise (Prolog)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s