[FF Freelance] Tujuh Lukisan Horror (Chapter 4 – END)

tumblr_muhzlmJjHU1sbd8nbo1_1280Tujuh Lukisan Horor

By marianavivin

Casting :

Jessica Jung | Tiffany Hwang | Bae Suzy

Other Casting :

Kris Wu | Kim Joon Myun | Other

Genre :

Horor | Mystery | Life School

Length :

Chapter

Rating :

PG15+

Disclaimer :

Semua cast dalam cerita ini tetap dan akan selalu menjadi milik agensi dan orang tua mereka. Fanfic ini juga di publish di marianavivin9.wordpress.com. Alur cerita terinspirasi dari buku karya Lexie Xu berjudul sama ^^ no bash or copy, happy reading^^. Poster by CJS ARTwork from YoongEXO (http://yoongexo.wordpress.com/)

Previous: Chapter 1Chapter 2, Chapter 3,

Cerita Sebelumnya…

Jessica dan Tiffany akhirnya berhadapan dengan dua Reaper yang selama ini mungkin menjadi dalang dari semua kejadian misterius di Genie High School. Tidak ada satupun di antara mereka berdua yang tahu identitas para Reaper, tapi…sepatu putih bergambar singa yang dilihat Tiffany seperti menjadi sebuah titik kemenangan untuk detektif J&H, lantas…siapa sebenarnya para Reaper tersebut? Apa dugaan Jessica benar? Dan bagaimana dengan semua bukti yang mereka dapatkan? Membawa kebenaran kah? Semua akan terjawab…saat ini!

Final Chapter

-Tiffany

“Sepatu putih dengan gambar singa? Aku tahu siapa pemiliknya”.

Kata-kata Jessica tadi malam terus-terusan berputar di kepalaku. Siapa sebenarnya yang memakai sepatu putih dengan gambar singa itu?. Salah satu orang yang kami kenalkah?

“Sica?”. Panggilku di depan pintu toilet perempuan, tempat aku dan Jessica janjian bertemu.

“Sini”. Sahut sebuah suara dari bilik kedua yang kukenali sebagai bilik tempat Jessica dan aku keluar dan memanjat pohon.

“Kenapa kau lama sekali?”. Tanya Jessica dengan nada protes. Bisa kulihat sebuah perban putih melingkar di kaki kirinya.

“Mian, kau tidak tahu polisi dan Minwoo sonsaeng terus berkeliaran kesana kemari, tidak mudah untuk terlihat tidak mencolok, kau tahu?”. Aku mencoba membalas protes Jessica dengan mengeluarkan fakta yang memang tadi baru kuhadapi. Inspektur Yunho ‘menepati’ janjinya untuk datang ke sekolah pagi-pagi dan mengecek semua hal yang Jessica beberkan padanya tadi malam. Jessica hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus memutar-mutar ponselnya di tangan. Entah apa yang di lakukannya.

“Ya! Kau berjanji mau memberitahuku siapa yang memakai sepatu putih dengan lambang singa itu…”.

“Shutt!! Itu bisa menunggu, ada hal lebih penting yang sedang kuurus”. Jessica memotong perkataanku sambil menekan beberapa deret nomor di ponselnya. Aku mengangkat alis sedikit ketika melihat ekspresi kesal Jessica.

“Waeyo?”.

“Mereka gak angkat telponnya”. Jawaban Jessica itu semakin membingungkanku. Mereka? Siapa?.

“Nugu?”. Tanyaku.

“Mir, Jae Bum dan Shindong. Gak ada satupun yang ngejawab panggilanku, padahal aku masih mau menginterogasi mereka”. Jawab Jessica sambil kembali memutar-mutar ponselnya.

-Jessica

“Cheogiyo…Jessica~ssi, Tiffany~ssi”. Suara dingin yang tiba-tiba menyebut namaku itu sontak membuat diriku dan Tiffany menoleh ke arah pintu. Di situ Suzy berdiri dengan kepala tertunduk. Membuat rambut panjangnya kembali menutupi sebagian wajahnya dan harus kuakui itu sedikit menyeramkan.

“Apa yang kau lakukan di situ? Menguping?”. Tanyaku sambil melewati Tiffany dan berdiri di depan Suzy. Dia bergerak-gerak tidak nyaman tanda perkiraanku sepertinya salah.

“Anio, ada sesuatu yang harus kalian lihat”. Jawabnya sambil memandang pintu toilet. Aku berpaling pada Tiffany dan melihat alis yeoja itu terangkat.

“Apa? Ruang Kesenian yang hancur berantakan? Tidak perlu, itu kami yang buat”.

“Anio, bukan itu”. Ada nada ketegangan serta ketakutan dalam nada suaranya yang menular padaku.

“Kalau begitu ayo bawa kami”. Tiffany langsung melewatiku dan menarik tangan Suzy. Aku langsung menyusulnya walaupun dalam hatiku berharap apa yang Suzy akan perlihatkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘hilangnya’ Mir, Jae Bum dan Shindong. Melihat arah Suzy berjalan aku menebak yeoja itu berniat membawa kami ke kantin dan benar saja, perjalanan kami bertiga terhenti tepat di depan lapangan basket yang pada salah satu ringnya memperlihatkan tiga deret lukisan yang kukenali sebagai lukisan horror milik Suzy.

“Itu…”. Ucap Tiffany dengan wajah shock sambil menunjuk lukisan-lukisan itu. Aku tahu apa membuatnya terkejut. Tiga korban dalam lukisan itu sudah bukan lagi korban-korban tanpa identitas yang jelas. Korban-korban itu Mir, Jae Bum dan Shindong!!.

“Andwee, ini tidak mungkin, pasti ada yang salah!”. Aku berteriak kecil sambil terus memperhatikan lukisan-lukisan itu. Tidak mungkin mereka bertiga ada hubungannya dengan kematian Krystal dan Jiyeon. Tidak mungkin.

“Sica”. Panggil Tiffany sambil menyentuh bahuku. Aku harus menyelesaikannya sekarang.

“Kajja”. Aku langsung menarik tangan Tiffany yang juga masih menggenggam tangan Suzy dan membawa dua yeoja itu menuju arah gerbang sekolah.

“Sica chakkaman, Suzy tidak harus ikut kan?”. Aku memandang Tiffany dengan bingung. Oh baiklah, kurasa dia lupa sesuatu.

“No pabo ya? Apa kau tidak ingat kalau dia adalah korban terakhir?”. Tanyaku sambil memandang Suzy yang masih terus menunduk. Seketika wajah Tiffany seperti mendapat pencerahan.

“No! Mulai sekarang jangan jauh-jauh dari kami, dan kalau nanti terjadi sesuatu pada kami, kau harus menyelamatkan diri, arraso?”. Aku berusaha menatap wajah Suzy yang terus ‘bersembunyi’ di balik rambut hitamnya.

“Ne, gomawoyo”. Balas Suzy.

-Author

“Tiff, kau bawa uang? Kita tidak punya kendara…what the hell??!!”. Tiffany langsung mengikuti arah pandangan Jessica yang tertuju pada dua orang dengan pakaian serba hitam sedang berdiri di depan gerbang sekolah layaknya pembunuh bayaran.

“Apa yang kalian lakukan disini??”. Tanya Jessica yang sudah menderap maju ke arah Kris dan Suho dengan kecepatan tinggi.

“Waeyo? Ada sesuatu yang terjadi?”. Tanya Kris balik ketika menyadari ada nada ketegangan dalam suara Jessica.

“Mir, Jae Bum dan Shindong jadi korban!”. Jawab Jessica dengan nada geram. Kris melempar pandangan tidak perduli sementara Suho mencoba meminta penjelasan atas jawab Jessica tadi pada Tiffany. Akhirnya Tiffany menceritakan dengan singkat mengenai tiga lukisan yang tadi perlihatkan oleh Suzy. Wajahnya sedikit menegang sambil memandang Kris.

“Kalo gitu kalian sama kami aja”. Ucap Suho memberi usul. Tiffany berpaling pada Jessica untuk meminta pendapat yeoja itu mengenai usul Suho tadi. Selama beberapa detik Jessica hanya memandang Tiffany dengan wajah datar.

“Oke, tapi Suzy juga ikut”. Jessica menarik Suzy untuk maju mensejajari tempat berdirinya.

“Aku bisa menggonceng Tiffany dan Suzy sekaligus”. Suho menatap Suzy dengan senyum hangatnya. “Tidak apa-apa kan?”.

“Ne”.

“Oke, kalau begitu kami duluan”. Ucap Jessica yang sudah bertengger di motor Kris dan tidak lama kemudian pergi dengan kecepatan tinggi.

-Tiffany

Sementara Jessica dan Kris sudah menghilang dari pandanganku, aku dan Suzy sudah siap menaiki motor Suho ketika terdengar bunyi pesan masuk dari ponsel Suzy.

“Waeyo?”. Tanyaku penasaran karena Suzy hanya diam sambil memandang layar ponselnya.

“Itu…kunciku ketinggalan di Ruang Kesenian, aku ambil dulu ya”. Aku langsung memandang Suho yang hanya memandang kami dengan wajah biasa.

“Aku temani”.

“Aku juga”. Tiba-tiba Suho sudah berdiri sambil melepas helmnya dan mendekati ku.

“Gweancanayo, aku bisa sendiri”. Suzy membantah usulku sambil bergerak-gerak gelisah.

“Andwee, kau tidak ingat apa yang tadi Jessica katakan padamu? Kau tidak boleh berkeliaran sendiri sekarang dan Suho~ssi, kurasa kau bisa menunggu di sini saja, kami akan segera kembali”. Aku langsung menggenggam tangan Suzy dan bersiap mengikutinya ketika tangan Suho menahan gerakan tubuhku.

“Kau harus langsung menghubungiku jika terjadi sesuatu”.Ucapnya sambil memandang lurus ke dalam mataku. Aku mengangguk dan akhirnya dia melepaskan tanganku.

Sambil terus berusaha mengenyahkan tatapan Suho tadi dari otakku, tanpa sadar aku dan Suzy sudah sampai di Ruang Kesenian yang gelap.

Klik

Tubuhku sontak berbalik ketika mendengar suara pintu yang terkunci tersebut. Sepasang wajah membalas tatapanku atau harus kubilang itu wajah Reaper yang tadi malam menghadapiku dan Jessica.

“Suzy…~ah?”. Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena pemandangan selanjutnya yang kulihat benar-benar membuatku terkejut. Di depanku Suzy berdiri dengan wajah pucat sementara di belakangnya berdiri sosok dengan rupa yang sama dengan sosok yang tadi mengunci pintu. Saat itu juga aku tahu, aku di jebak!.

-Jessica

Geurae wolf, naega wolf, auuuu~

Suara nada dering dari ponsel Kris itu langsung memenuhi gendang telingaku walaupun kepalaku tertutup helm. Kris terlihat tidak perduli dan tetap memacu motornya dengan kecepatan tinggi.

“Sica, angkat ponselku”. Kata Kris ketika ponsel tersebut tidak juga berhenti berbunyi. Dengan gerakan lincah aku menyelipkan tanganku ke bagian dalam jaket Kris dan menemukan nama Suho tertera pada layar ponsel tersebut.

“Yeoboseo?”.

“Sica, ada sesuatu yang terjadi pada Tiffany dan Suzy”. Nada suara Suho terdengar panik walaupun tetap teratur.

“Mwo?! Apa maksudmu?”. Tanyaku bingung. Dengan singkat Suho menceritakan bahwa tadi Tiffany dan Suzy pergi ke Ruang Kesenian dan tidak kembali. Tapi tiba-tiba Suho menerima panggilan dari ponsel Tiffany tapi ketika di telepon balik, ponsel tersebut justru mati. Jessica pabo!!! Seharusnya Suzy pergi denganku karena jelas-jelas dia korban terakhir dari Tujuh Lukisan Horor itu, umpatku dalam hati.

“Kris putar balik, Suzy dan Tiffany ditangkap”.

Dalam waktu singkat, aku dan Kris sudah berada di depan gedung sekolah yang sepi. Kulihat motor Suho tergeletak tidak bertuan tanda dia langsung mengejar Tiffany ketika mendapat panggilan dari yeoja itu. Ini mencurigakan. Apa mungkin Suho menyukai Tiffany?.

Stop Jess, ini bukan saatnya memikirkan hal lain.

Setelah menelantarkan helm yang tadi kami kenakan, aku dan Kris langsung melesat pergi menuju Ruang Kesenian dan mendapati Suho sedang berdiri di sebuah lukisan. Tepatnya lukisan horror terakhir milik Suzy yang sudah berubah!. Sosok dalam lukisan itu bukan lagi sosok Suzy seperti yang terakhir kami lihat. Walaupun sosok itu tetap seorang yeoja, tapi warna rambut dan juga bentuk wajah itu bukan lagi mirip Suzy. Sosok itu…

“Kenapa Tiffany bisa menjadi korban terakhir?”. Pertanyaan Suho itu langsung menyentakkan diriku.

“Kita sudah dekat dengan kebenaran”. Aku semakin tersentak dengan jawaban spontan yang tadi kukeluarkan. Benar juga.

“Sica, apa ini?”. Suara berat Kris langsung membuyarkan lamunanku mengenai nasib Tiffany. Dia pasti bisa bertahan. Aku yakin.

“Boks…taman belakang?”. Aku membaca tulisan jelek berwarna merah yang Kris tunjuk dengan susah payah. Boks kayu milik Klub Kesenian! Pasti itu yang di maksud Tiffany. Tanpa memberi aba-aba, aku langsung berlari menuju tangga kemudian mengambil arah menuju taman belakang tempat beberapa siswa kaya memarkir mobil mereka. Satu kali memandang aku bisa melihat sebuah boks kayu tergeletak di dekat jejak sebuah mobil yang masih baru.

Rumah J

Yep. J yang di maksud Tiffany jelas Junho si namja gugup dengan sepatu putih dan lambang singa yang ketinggalan jaman itu. Ya. Salah satu penyerang kami malam itu adalah Junho. Satu dari empat teman Krystal yang ternyata mempunyai kelicikan di atas rata-rata. Dia berhasil mengelabui kami semua dengan tampang polosnya sementara kenyataannya dialah dalang di balik semua teror tujuh lukisan horror ini.

-Tiffany

Aku tidak tahu sudah berapa lama dan jauhnya perjalanan yang kami berempat tempuh sejak meninggalkan sekolah tadi. Ya, berempat. Aku, Suzy, Junho dan Kai. Aku tidak menyangka Junho si namja polos yang waktu itu di interogasi Jessica termasuk dalang di balik semua kejadian ini. Dan Suzy!. Tapi kurasa dia hanya menjadi orang yang mengubah lukisan yang artinya dia tidak bersalah! Dia pasti diancam oleh kedua namja kurang ajar itu.

“Tunggu di sini, aku mau ambil bekal untuk para tawanan”. Kudengar suara Junho sedikit menjauh tanda dia menyelesaikan kalimatnya sambil keluar dari mobil.

“Untuk apa? Biarkan saja mereka kelaparan”. Suara protes Kai terdengar keras tanda dia berteriak. Ughhh suara namja itu jelek sekali. Derap langkah kaki yang mendekat menjadi tanda bahwa Junho kembali lagi.

“Andwe. Tujuan kita bukan itu”. Menarik sekali. Rupanya Junho dan Kai punya pemikiran yang berbeda soal ‘mengurus’ para tawanan. Setelah beberapa saat tidak terdengar lagi suara dari Kai ataupun Junho yang artinya namja itu sudah masuk ke dalam rumahnya, dan aku tidak membuang-buang kesempatan ini. Dengan insting superku, aku langsung mengalungkan ikatan pada tanganku di kursi penumpang yang kuyakini menjadi tempat Kai berada.

“Ya! Apa yang kau inginkan? Bebas? Akan kulakukan!!”. Suara Kai menjadi seperti teriakan histeris ketika aku terus menguatkan cekikanku pada lehernya. Dengan cepat aku melonggarkan cekikanku dan Kai benar-benar melakukan perkataannya.

“Sekarang ngaku! Dimana kalian menahan para tawanan?”. Tanyaku sambil memegang tali yang tadi digunakan untuk mengikat tanganku di depan leher Kai. Namja itu sepertinya sadar apa yang akan kulakukan jika dia tidak menjawab pertanyaanku.

“Gudang! Gudang kosong di dekat YG High School! Aku tidak bohong!”. Kai menjawab pertanyaanku dengan histeris. Ahhh telingaku sakit. Suara jeritan lain yang berasal dari Suzy sontak membuat tubuhku berbalik. Dengan mata kepalaku sendiri aku bisa melihat rambut Suzy sedang ditarik oleh Junho dan sebuah pecahan kaca tergenggam di tangannya yang lain.

“Lepasin atau muka dia rusak”. Ancam Junho sambil mendekatkan kaca tadi ke wajah Suzy yang anehnya tetap datar. Apa kepalanya tidak sakit?. Dengan sentakan keras aku melempar tali dari leher Kai dan memandang Junho yang sudah melepaskan cengkramannya pada Suzy.

“Apa sebenarnya tujuan kalian melakukan hal ini?”. Tanyaku sambil menahan sakit ketika cengkaraman tali kembali mengikat tanganku. Kai kurang ajar! Dia pasti membalas dendam karena tadi sudah ku cekik.

“Tidak ada hubungannya dengan kalian, kalian hanya collateral damage, walaupun harus kukatakan kalian akan menjadi hal berguna agar rencana ini sukses”. Jawab Junho dengan nada dingin.

“Rencana?”. Ulangku. “Rencana apa? Membalas dendam terhadap kematian Krystal dan Jiyeon?”.

“Ya. Semua yang bersalah pantas di hukum”. Aku tidak bisa lagi melihat wajah Junho karena lagi-lagi mataku ditutup. Jadi ini tujuan surat kaleng itu dari awal. Semua berujung pada kematian Jiyeon dan Krystal. Dan kasus pencurian Kai, apa itu termasuk dalam salah satu rencana mereka?. Mereka sudah merencanakan hal ini sejak lama?.

-Author

Dua motor hitam yang tadi saling menyalip satu sama lain itu sekarang sudah terparkir mulus di balik rerimbunan pohon. Sementara tiga orang dengan wajah tegang terus mengintai sebuah gudang kosong yang berada tidak jauh dari sekolah elite, YG High School.

“Aman”. Ucap Suho yang bertugas mengintai gerak-gerik mobil Ford milik Junho yang membawa Tiffany dan Suzy.

“Kita lewat situ”. Kris menunjuk sebuah pagar kawat yang sudah tertutup rumput liar.

Jadilah Jessica, Kris dan Suho terlihat seperti kakek-kakek tua yang bertugas menjadi mata-mata. Untungnya Suho melihat sebuah pintu samping yang tidak terlalu kentara jika di lihat dari jendela atas gudang kosong tersebut.

“Assa!”. Teriak Suho dengan suara kecil ketika ia berhasil membuka pintu tersebut. Segera saja mereka bertiga masuk dan mulai berjalan pelan menyusuri tangga untuk mencari ruangan yang digunakan untuk menyekap para tawanan.

Dari kejauhan terdengar langkah-langkah bergema. Jessica sontak meletakkan telunjuknya di bibir agar dirinya bisa mendengar siapa yang datang.

“Akhirnya tawanan terakhir sudah kita urus”. Ucap Junho lega.

“Junho hyung, sebenarnya kenapa kita harus menggunakan kostum ini? Ini sangat merepotkan”. Terdengar suara Kai mengeluarkan protes.

“Karena kita harus melepaskan para tawanan begitu semua selesai”.

“Untuk apa? Mereka yang sudah menyebabkan Krystal dan Jiyeon mati!”. Suara Kai terdengar bergema di gudang kosong tersebut.

“Tenang Jong In~ah, mereka tidak benar-benar berniat membunuh Krystal atau Jiyeon”. Ucap Junho dengan nada rendah.

“Terserah, tapi apa hyung lupa dengan perbuatan Eunjung pada Krystal? Dan hyung bahkan berpura-pura berteman dengan Eunjung agar bisa melindungi Krystal”.

-Jessica

Mworagu? Jadi Junho mencoba melindungi Krystal? Apa namja itu juga mencintai Krystal? Tapi kenapa justru Kai yang menjadi namjachingu Krystal?.

“Aku tidak bilang aku lupa dengan hal itu”. Suara Junho kali ini menjadi dingin.

“Dan juga hyung harus ingat, Eunjung yang bikin semua uang kita hilang hanya karena dia menyuruh kita ikut permainan poker Mir, Jae Bum dan Shindong. Dia bilang dengan gitu kita bisa menambah pundi-pundi kita, tapi hasilnya?”. Jadi ini motifnya. Semua berujung pada Eunjung dan juga malam poker Mir.

“Tidak perlu mengungkit masalah itu sekarang. Dan jangan pernah berkata padaku dengan nada tinggi seperti tadi. Ah benar, kau sendiri juga harus ingat bahwa kau ikut rencana ini karena ingin uangmu kembali, sementara kami? Kami murni ingin membalaskan kematian Krystal dan Jiyeon. Mrs.Kwon bersalah karena dia hanya percaya dengan omong kosong para saksi itu dan tidak meminta polisi melanjutkan penyelidikan terhadap kasus Jiyeon dan Krystal. Sementara tiga setan poker itu bersalah karena saat Jiyeon meminta bantuan mereka untuk membongkar kasus Krystal, mereka justru menolaknya!”.

Bingo! Ini semakin menjelaskan semuanya. Pantas Mir, Jae Bum dan Shindong selalu terlihat gugup jika aku dan Tiffany menanyakan tentang malam poker mereka. Ternyata fakta besar ini yang mereka sembunyikan.

“Aku hanya menyesal kita harus mencelakai Suzy dan Tiffany”. Junho melanjutkan kalimatnya lagi-lagi dengan nada rendah.

“Tapi kita tidak akan melepaskan mereka semua. Terutama Eunjung. Dia psikopat. Bisa-bisanya dia mengait kaki Krystal dengan tali dan membuat Krystal jatuh. Dia juga yang mencekik Jiyeon dan memutar balikan fakta dengan mengatakan bahwa Jiyeon bunuh diri”. Aku tidak bisa mempercayai telingaku. Satu fakta terus menerus muncul seiring dengan bertambahnya satu pertanyaan dalam otakku. Motif Junho dan Kai sangat berbeda. Tapi kenapa mereka bisa menjadi satu tim seperti ini? Pasti masih ada satu fakta besar yang tidak kami ketahui.

“Jadi bagaimana?”. Tanyaku ketika mendengar suara derap kaki Junho dan Kai menjauh.

“Kita harus punya rencana dulu dan lagipula aku masih curiga…dari semua yang kita dengar tadi jelas motif Kai dan Junho berbeda, tapi mereka justru bekerja sama seperti ini”. Suho menyuarakan isi pikirannya yang sama persis denganku.

“Baiklah gini aj…”. Ucapan Kris seketika berhenti ketika terdengar suara ribut-ribut dari arah tempat Junho dan Kai menghilang.

“Tiffany”. Ucap Suho yang langsung menyusulku menuju pintu yang sedikit terbuka. Dengan wajah keras aku membuka pintu itu dan melihat sebuah mata kapak tajam sudah terarah ke leher Tiffany.

-Tiffany

Kilatan tajam mata kapak itu langsung membuatku bergerak. Dengan penglihatan minim aku bisa melihat ujung kapak itu menghantam tempat aku berdiri tadi. Napasku memburu ketika merasakan nyeri di bagian betis kananku. Sebuah keajaiban sepertinya muncul. Samar-samar walaupun terlambat aku mulai terbiasa dengan ruangan penyekapan itu. Tidak terlalu besar walaupun cukup untuk menampung Eunjung, Mrs.Kwon, dan tiga sahabat Jessica. Mir, Jae Bum dan Shindong. Mereka bertiga pingsan dengan posisi tubuh bertumpuk.

Aku juga menyadari walaupun si Reaper ketiga. Ya. Ternyata masih ada satu Reaper lagi selain Junho dan Kai yang kurasa menjadi tokoh utama dibalik semua ini karena tubuhnya lumayan tinggi dan besar,- si Reaper ketiga ini tidak berani untuk melukai para tawanan. Jadi yang perlu kulakukan hanyalah bersembunyi, bersembunyi dan bersembunyi. Beruntungnya aku, Suzy sepertinya mengerti posisiku dan mencoba membantu dengan menjegal kaki si Reaper.

Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalaku. Dari penglihatanku sebelumnya aku  menyimpulkan bahwa si Reaper ketiga lebih berhati-hati pada Mir dan teman-temannya. Jadi sepertinya yang bisa kulakukan adalah menarik tubuh Jae Bum yang berada paling atas dan melemparkannya pada si Reaper.

Jae Bum~ah mianhae

Sesuai perkiraanku si Reaper itu langsung menangkap tubuh Jae Bum dan melepaskan pegangannya pada dua kapak yang tadi digenggamnya. Dengan cepat aku mengambil satu kapak terdekat dan berhasil walaupun kapak yang lain tetap berada di jangkauan si Reaper. Sekarang seimbang.

Aku mulai mengayun-ayunkan kapakku dan berhasil membuat si Reaper ketiga mundur ke arah dinding. Tapi ternyata aku salah. Dia mundur ke arah pintu yang tidak lama kemudian terbuka dan menampakkan sosok Kai dan Junho dalam setelan bebas. Sial. Tiga lawan satu? Lima kapak lawan satu?. Tapi lagi-lagi aku salah. Setelah sosok Junho dan Kai masuk, muncul lagi tiga sosok yang kukenali sebagai Jessica, Kris dan Suho. Assa!!!

-Jessica

“Ada tiga Reaper rupanya”. Ucapku dingin ketika melihat satu sosok yang sama seperti Junho dan Kai sebelum mereka mengungkap identitas mereka.

“Jessica~ssi”. Terdengar suara Mrs.Kwon menggema dalam ruang yang sudah lumayan terang karena pintunya terbuka itu. Aku menoleh untuk melihat kepala sekolah kami itu dan mendapati rambutnya sudah kusut dan wajahnya kotor. Beberapa sayatan luka juga terlihat di lengan yeoja berumur itu.

“Mrs tenang, kami akan bebasin kalian semua, sini maju pengecut sialan!”. Aku memberi tanda pada Reaper ketiga yang memiliki tubuh lebih besar dari Junho dan Kai untuk maju. Dia terlihat terpancing dan mulai mengayun-ayunkan kapaknya dengan sedikit teratur. Bukan orang sembarangan macam Junho dan Kai rupanya.

“Kalian, urus sisanya”. Aku memberi tanda pada Kris dan Suho. Kulihat Kris maju mendekati Junho yang sudah bersiap juga untuk bertarung sementara Suho bergabung dengan Tiffany yang sedang berdiri di depan Kai.

“Mau menyelesaikannya sekarang juga?”. Tanyaku dingin dengan senyum mengejek. Kali ini si Reaper tidak lagi hanya mengayun-ayunkan kapaknya pada udara kosong. Sasarannya sekarang adalah bagian-bagian tubuhku yang sayangnya bergerak lincah untuk menghindar. Walaupun cara bertarungnya tidak sebrutal Junho atau Kai, bahkan terlalu rapi tapi tetap saja dia punya kelemahan. Kulihat pegangannya pada kapak di tangannya sedikit gamang ketika dia mengayunkan kapaknya terakhir kali padaku. Aku tidak membuang kesempatan ini. Dengan satu sentakan kaki, aku berhasil membuat kapak Reaper itu jatuh bergelontangan di lantai. Si Reaper tampak terkejut sampai akhirnya dia mulai menyerangku dengan tangan kosong. Ini akan lebih menyenangkan.

-Tiffany

“Ampun Tiff, ampun!”. Kai mulai berteriak ketika aku dan Suho maju mendekati dirinya. Dasar namja aneh. Dia pikir kami pengecut seperti dirinya yang akan menyerang bersamaan?. Tapi sepertinya memang itulah yang dia fikirkan karena sedetik kemudian dia mulai berteriak lagi.

“Ini bukan rencanaku. Semua rencana mereka! Mereka yang merencakan ini semua dari awal. Dia!”. Kai menunjuk Reaper ketiga yang tadi melawanku dengan wajah takut. Aku berpaling sebentar dan mendapati mata Reaper itu sedang menghujam Kai.

“Dia Junsu!”. Ucapan Kai yang terakhir itu membuat mataku dan mata Jessica melebar. Junsu? Security yang memergoki Kai mencuri? Paman Krystal dan Jiyeon?.

“Bagus Kai! Kau benar-benar pengkhianat yang handal”. Ucap Junsu yang sudah membuka topengnya dan menghentikan aktivitas bertarungnya dengan Jessica.

“Junsu?”. Suara berat Mrs.Kwon terdengar di sela-sela keheningan yang tercipta di ruang penyekapan itu.

“Ne, ini saya Mrs”.

“Wae Junsu~ssi?”. Tanya Mrs.Kwon dengan nada rendah. Kulihat sebuah senyum kecil terbentuk di bibir namja itu. Dingin dan…menyeramkan.

“Karena yeoja itu sudah membunuh keponakan-keponakan saya”. Junsu menunjuk Eunjung yang hanya bisa menatapnya dengan takut.

“Anio!! Aku tidak membunuh Krystal!”. Eunjung berteriak sambil menatap Mrs.Kwon.

“Pembohong! Kau juga membunuh Jiyeon hanya karena Thunder bilang padamu kalau Jiyeon mengetahui keterlibatanmu dalam kematian Krystal. Ah dan tiga namja poker itu…” Junsu menunjuk Mir dan teman-temannya yang masih tergeletak “…mereka juga ikut bersalah karena membuat semua orang yang berada di sekitar kolam tidak memperhatikan kejadian Krystal hanya untuk mengurus malam poker sialan itu”. Aku menatap Jessica dan yeoja itu mengangguk pelan.

“Dasar pathetic! Semua yang tadi ahjussi ungkapkan semata-mata berujung pada uang kan? Aku sudah mendengar semuanya dari Junho dan Kai”. Kali ini Jessica yang membuka suara sambil menunjuk Junho dan Kai bergantian.

“Lebih baik kami mengambil uang mereka daripada nyawa mereka…” balas Junsu dengan nada rendah “…Setidaknya itu bisa membantu keluarga yang di tinggalkan”.

“Tapi…ada satu yang tidak ku mengerti”. Aku membuka suara dan semua tatapan mengarah padaku.

“Kenapa ahjussi mau melibatkan Kai dalam rencana ini?”. Kai terlihat kaget ketika aku menyebut namanya sementara lagi-lagi tatapan dingin Junsu jatuh padanya.

“Pertanyaan bagus. Kai juga bersalah karena dia tidak pernah membela Krystal ketika keponakan saya itu di bully oleh Eunjung. Dia juga terus-terusan berbicara mengenai pembalasan dendam yang nyatanya dia justru meminta bantuan saya dan Junho untuk melakukannya. Kai~ssi, harusnya kau sadar dari awal, korban terakhir lukisan horror itu bukanlah Suzy atau Tiffany, tapi kau!”. Aku bisa melihat mata Kris dan Jessica terbelalak ketika kusadari bahwa sebuah mata kapak mengarah pada Kai.

Untuk sesaat kami semua terdiam melihat yang terjadi. Sebuah mata kapak menancap kuat di bahu Kai, sementara si korban hanya bisa ternganga sambil melihat penyerangnya yang tidak lain adalah Junho.

“Dasar ahjussi gila! Ini semua sudah hampir berakhir, kenapa ahjussi dan Junho malah melakukan hal ini??!”. Kudengar suara Jessica berubah menjadi geram sambil menatap Junsu dan Junho bergantian.

“Inilah tujuan kami dari awal Jessica, semua masalah ini berujung pada Kai. Kalau saja dia tidak mendekati Krystal, Krystal  tidak akan mati dan keluarga Junsu tidak akan hancur”. Kali ini Junho-lah yang menjawab pertanyaan Jessica sambil berdiri di samping Junsu yang gilanya sudah memberikan senyuman pada namja itu.

Aku hanya bisa menatap keduanya dengan bingung dan sedikit simpati. Jujur saja sebenarnya mereka tidak salah tapi jika apa yang mereka lakukan mambahayakan nyawa semua orang, ini tidak bisa di sebut sebagai pembalasan dendam. Ini hanya pembunuhan tanpa alasan. Aku heran kenapa ada dua orang yang sebenarnya cukup bersahaja seperti Junsu dan Junho, mau berubah menjadi sepasang psikopat yang tega menghabisi nyawa orang tidak bersalah(dalam kasus ini Kai bersalah tentu saja).

“Gweancana?”. Sebuah suara rendah tiba-tiba terdengar di telingaku. Aku menoleh dan mendapati Suho sedang tersenyum. Tanpa sadar aku ikut tersenyum dan mengangguk dan tidak lama kemudian… dia menarikku dalam pelukannya.

Epilog???

Dua yeoja yang asik menikmati Caramel Macchiato mereka itu seketika berbalik ketika menyadari ada hawa menyeramkan yang sedang berusaha menyelubungi mereka. Jessica yang berbalik pertama langsung menumpahkan minumannya tepat di atas sebuah sepatu dengan tulisan Adidas usang di sampingnya.

Creepy!! Bisa gak sih kamu kalo datang bilang-bilang?”. Jessica menatap Suzy dengan geram sementara yeoja itu hanya menunduk dengan wajah memerah.

“Ada apa? Masalah Tujuh Lukisan Horor itu sudah selesai, apa ada masalah lagi?”. Tiffany bertanya setelah sebelumnya menyerahkan minuman miliknya yang diambil paksa oleh Jessica.

“Anio, aku hanya ingin ngobrol dengan kalian”. Jawab Suzy sambil menampakkan sebuah senyum dingin yang tidak sampai di matanya. Tiffany dan Jessica langsung berpandangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tapi kami tidak ingin”. Jessica menyahut dengan nada biasa sementara Tiffany sedikit terkejut karena tidak menyangka Jessica akan mengatakan hal itu dengan santainya.

“Kalian pasti ingin. Akan kuberitahukan satu rahasia kecilku”. Wajah Suzy mendekati telinga Tiffany dan Jessica.

“Aku memang bisa melihat masa depan”.

END!

Note : Finally!! Apa pelakunya sesuai dugaan kalian? Atau kalian justru bingung? Sebelumnya author mau ngucapin terima kasih untuk reader(maupun siders) yang sudah membaca ff ini. Ini ff chapter pertama yang ceritanya author ambil dari novel ka Lexie Xu. Author juga minta maaf kalo selama chapter sebelumnya ada typo yang tersebar dan juga kesamaan cerita. Tapi sebelumnya sudah author katakan di kolom komentar(Chap 1) bahwa author mendapat izin dari Ka Lex-nya. Terima kasih juga untuk RFF yang mau menerima ff ini. Author sangat berharap kalian mau menunggu karya lain dari author #curhat. Ya udahlah. Annyeong!!!! ^^

19 thoughts on “[FF Freelance] Tujuh Lukisan Horror (Chapter 4 – END)

  1. Jadi siapa sih pelakunya thor? Yang suzy bilang ‘aku memang bisa melihat masa depan’ itu maksudnya apa?.
    Pelakunya Junsu kan? Aaa bingung T–T

    Bagus thor ff-nya😀 *mindblowing*
    Suka banget sama karakter Jessica sama Tiffany disini yang berlaku kayak detektif beneran. Mereka juga berani sama reaper-reapernya, keren.

    Good job, keep writing!~

    • yup! pelakunya Junsu,hehe
      mksudny suzy ya? ehmm it mksudny ya si suzy bisa liat masa dpn dan yg dia liat dia ama JeTi itu jd temenan…
      aaa makasih yaa *deepbow*…semoga mw nunggu karya yg lain…

  2. maaf ya kalo gk komen dari awal. hehehe

    tpi klo suzy bisa liat masa depan berarti seharusnya dia tau kan nanti apa yg terjadi sama lukisannya…
    ff ini bagus bgtttt…tpi agak rada” bingung
    tpi seru jadi bacanya sambil mikir…hehehe

  3. maaf yaa author..gk kmen di chap sblumnya.. bcanya lngsung akk abisin sichh…#curhat

    ff’ny kren bnget thor..beneran
    tbkan akk bnar..junsu..biasany klo ff bginian plakuny kan mlah jrang di.shoot
    akk kdang bingung* gk faham..
    otakq gk kuatt :D:D
    itu yg d’chap 1 awal sypa ??gk faham..^ ^

  4. Dari pertama udh curiga ama si security sekolah apalagi mengetahui fakta klo kry ama yeon keponakannya tpi untuk si polos itu gk diceritain jdi kerasa terlalu maksa ceritanya, tapi bagus aku suka xD

  5. APA INI APA INI

    YAAMPUN
    INI SANGAT SANGAT MINDBLOWING

    DAN AUTHOR TAU?

    I REALLY REALLY LOVEEEEEEEJXBDJDNDHDHDHDHDHDHDH IT! What the hell,aku baca muter muter otaknya! Dan aku suka! Endingnya pas! Aku gak minta sequel tapi kalo bisa mau dong HEHEHEHR good job author,damn,i love ur ff

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s