Invidus [3rd]

individus

Invidus

by

ellenmchle

Main Cast: f(x)’s Krystal – Jung Soojung, Miss’A Bae Suzy, EXO’s Kai – Kim Jongin & Infinite’s L – Kim Myungsoo | Support Cast: 2AM’s Jung Jinwoon & Jung Ilwoo | Genre: Romance, Family & Life | Length: Chaptered | Rating: PG-15 | Credit Poster : YooSpencer | Disclaimer: The plot is pure mine.

“No matter how great you are, not everybody is going to like you. That’s life…”

| Prologue | 1st | 2nd | 3rd |

§

 

Suzy berjalan menyusuri koridor Universitas Hanyang dengan langkah yang cukup tergesa-gesa—berusaha menghindari seseorang yang mungkin akan segera mengejarnya. Ia mendekap erat beberapa buku yang dipinjamnya dari perpustakaan tanpa memperdulikan keberadaan mahasiswa lain yang sedang menatapnya dengan penuh keheranan. Bukan kali ini saja. Mereka memang selalu menatap Suzy seperti itu sejak dirinya pertama kali menginjakkan kaki di universitas ini.

Suzy tidak peduli dan tidak akan pernah peduli. Tujuan utamanya di sini hanyalah demi cita-citanya menjadi seorang penulis dan tentunya juga demi sebuah status bukan untuk mencari teman atau bahkan kekasih. Ia meraih earphone-nya dari dalam tas dan segera memasangkannya di kedua telinganya—tanpa musik sama sekali.

Di lain sisi, Myungsoo juga ikut terheran-heran dengan sikap dingin Suzy padanya. Bagaimana mungkin gadis kecil yang begitu manis dan ramah tumbuh menjadi seperti itu?—batinnya. Mungkinkah Myungsoo memang salah orang? Sepertinya tidak. Myungsoo segera meraih iPhone-nya dan menghubungi seseorang yang ia yakini bisa memberikannya jawaban.

Annyeong, Soojung-ah

Wae?”

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Aku sedang tidak ingin berbicara. Lain kali saja.”

“Ayolah, ini sangat penting. Aku ingin bertanya mengenai Suzy.”

“Aku semakin tidak ingin bicara!”

(Tut…tut…tut…)

“YA! Soojung?! Jung Soojung?!” teriak Myungsoo frustasi. Ia hampir saja membanting iPhone-nya jika ia tidak segera menyadari bahwa iPhone yang sedang dipegangnya ini adalah milik adiknya—Moonsoo.

 

§

Soojung mengumpat kesal begitu telinganya menangkap suara ketukan dari arah pintu kamarnya. Sudah cukup tidur nyenyaknya digagalkan oleh Myungsoo yang hanya ingin mengorek informasi mengenai Suzy dari dirinya dan sekarang, saat ia baru saja berniat kembali ke alam mimpinya suara ketukan itu kembali mengagalkan semuanya.

“Nona, kau harus segera berangkat ke kampus,” ucap seorang ahjumma—pelayan keluarga Jung—mengingatkan.

“Aku tidak ada kelas hari ini,” jawab Soojung semaunya seraya menarik kembali selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.

“YA! Cepat bangun atau aku dobrak pintu ini!” teriak Jinwoon yang baru saja keluar dari kamar sebelah—memperingatkan.

Oppa, sudah ku bilang tidak ada kelas hari ini,” balas Soojung masih bermalas-malasan.

“Kau ingin membodohi siapa? Jika tidak ada kelas tidak mungkin Suzy sudah berangkat daritadi,” lanjut Jinwoon.

“Memangnya kau yakin dia ke kampus? Bisa saja dia pergi ke tempat lain lagi seperti kemarin.”

“Tidak mungkin. Jongin sendiri yang mengantarkannya sampai di depan kampus. Cepat bangun atau aku laporkan pada appa! Kau tidak lupa kan appa kembali sore ini,” ancam Jinwoon.

Soojung segera menyingkirkan selimutnya dan menarik dirinya dari kasur yang seakan-akan memilik magnet untuk menarik setiap orang kembali ke atasnya jika tidak segera beranjak dari situ.

“Aku bangun! Lain kali kau tidak perlu membawa-bawa nama dua orang itu jika ingin membangunkanku!” kesal Soojung.

“Jangan tunjukkan kecemburuanmu di depanku, Jung-ie,” goda Jinwoon.

“Memangnya kau sendiri tidak cemburu?!” balas Soojung semakin kesal.

Soojung memang berniat untuk tidak menghadiri kelas hari ini. Bukan karena tidak enak badan atau semacamnya melainkan karena suasana hatinya yang belum kunjung membaik. Ia hanya ingin melewati hari ini dengan menjelajahi alam mimpinya tanpa harus bertemu Jongin atau bahkan Suzy. Hanya untuk sehari. Namun niatannya memang sepertinya harus ia urungkan jika ia tidak ingin mendapat omelan dari Jung Ilwoo—appa-nya yang akan segera kembali dari Osaka sore ini.

“Aku berangkat duluan. Jika menunggumu bisa-bisa aku tidak diizinkan untuk mengikuti kuis hari ini,” lanjut Jinwoon.

Ne.”

 

§

Soojung berjalan menuju garasi rumahnya dengan santai seraya meneguk sebotol frappuccino mocha. Sesekali ia mengecek iPhone-nya untuk membaca beberapa pesan yang masuk tadi malam. Setelah sampai di garasi kegiatannya terhenti sejenak begitu menyadari mobil pribadinya tidak ada di sana.

Ahjumma! Di mana mobilku?” teriak Soojung.

Satu detik. Dua Detik. Tiga detik. Belum terdengar respon dari satupun ahjumma di dalam rumahnya. Soojung mulai kesal dan berinisiatif untuk lebih meninggikan suaranya agar salah seorang dari ahjumma yang bekerja di rumahnya bisa segera memberitahu kemana perginya mobil pribadinya itu.

Ah—“

“Jinwoon hyung membawa mobilmu. Katanya dia akan terlambat jika menunggumu. Jadi dia menyuruhku untuk mengantarkanmu,” jelas Jongin yang entah sejak kapan sudah berada di sana.

Sial!—rutuk Soojung. Soojung yakin ini semua pasti sudah direncakan Jinwoon. Tanpa menghiraukan perkataan Jongin, Soojung kembali berteriak pada ahjumma-ahjumma yang mungkin sedang sibuk dengan masakannya di dapur.

Ahjumma! Telepon taxi langganan kita secepatnya!” perintah Soojung.

“Kau masih marah?” tanya Jongin seraya tersenyum.

Soojung menatap Jongin dengan penuh kekesalan. Bisa-bisanya Jongin tersenyum padanya setelah semua yang terjadi dan beraninya ia memasang wajah tak bersalah di depannya saat ini.

“Aku sangat membencimu,” ucap Soojung dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.

Soojung menatap tajam kedua mata Jongin untuk sesaat—seakan memberitahu bahwa dirinya sedang tidak bercanda atau semacamnya. Jongin tersenyum kembali setelah Soojung meninggalkannya. Lebih tepatnya senyuman yang dipaksakan.

“Suatu saat nanti kau pasti akan benar-benar membenciku, Jung-ie. Dan jika saat itu tiba aku akan benar-benar menghilang dari kehidupanmu dengan atau tanpa kau usir,” gumam Jongin.

 

 

§

Beberapa pasang mata melihat pemandangan di sudut kantin kampus dengan penuh kekesalan dan keirian. Jika bagi mahasiswa lain bukan suatu hal yang luar biasa maka bagi pemuja dosen bermarga Kim pemadangan itu sangat amat luar biasa. Seorang Kim Myungsoo duduk semeja dengan seorang Bae Suzy—sepertinya akan segera menjadi trending topic di kalangan penggemar dosen bermarga Kim itu. Walaupun Suzy sama sekali tidak kelihatan sedang atau sedang ingin menggoda, merayu atau semacamnya namun tentu saja ia harus bersiap-siap mendapat cacian setelah ini.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Suzy dingin kemudian menghentikan kegiatannya melahap makan siang begitu Myungsoo menarik kursi yang tersisa di sana dan duduk tepat di hadapannya.

“Aku? Hanya ingin makan siang,” jawab Myungsoo santai kemudian meraih sepasang sumpit di atas meja.

Suzy meraih tasnya—hendak meninggalkan Myungsoo sebelum tangan kanannya ditahan oleh pemuda itu yang dengan cepat menariknya kembali terduduk di atas kursi.

“Kau hanya perlu melanjutkan makan siangmu,” mohon Myungsoo masih memegang erat tangan Suzy.

“Aku tidak akan menggangumu,” lanjutnya kemudian tersenyum dan melepaskan tangan Suzy.

“Apa maumu?” tanya Suzy menatap tajam kedua mata Myungsoo.

“Berhenti berpura-pura untuk tidak mengenalku.”

“Aku tidak ingin mengingat masa laluku,” tegas Suzy.

“Baiklah, lupakan masa lalumu dan anggap aku sebagai orang baru dalam hidupmu.”

“Kau masa laluku, Oppa,” lirih Suzy seraya menatap Myungsoo dengan tatapan sendu—seakan memohon agar pemuda itu tidak lagi memaksanya untuk mengingat kembali masa lalunya.

Myungsoo terdiam sesaat. Ia membalas tatapan sendu Suzy dengan perasaan iba. Ia tahu ia terlalu menuntut gadis itu untuk mengingat kembali masa lalunya. Ia tahu betapa berat perjuangan Suzy untuk melupakan masa lalunya yang begitu kelam dan ia juga sadar bahwa dirinya sendiri termasuk dalam masa lalu yang kelam itu.

 

“Suzy-ah, aku akan segera pindah ke Jerman karena appa ditugaskan untuk bekerja di sana,” ucap Myungsoo—yang saat itu berusia tiga belas tahun.

“Kau akan meninggalkanku?” tanya Suzy hampir meneteskan airmata.

“Kenapa semua orang selalu meninggalkanku? Kenapa semua orang yang ku sayang selalu meninggalkanku?” lanjut Suzy sedikit berteriak berusaha menahan tangisannya yang akan segera meledak.

“Aku—“

“Apa kau ingat? Kau pernah bilang bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku sendiri.”

“Suzy-ah.”

“Pergilah jika memang kau harus pergi tapi jangan pernah memintaku mengingatmu jika kelak kita bertemu lagi.”

“Suzy-ah.”

“Jika aku harus melupakan appa yang telah menelantarkan eomma dan aku. Maka sekarang aku juga harus melupakanmu, oppa.”

Suzy meninggalkan Myungsoo dan kali ini pemuda itu sama sekali tidak berniat untuk menahan kepergian Suzy karena ia sendiri masih tenggelam dalam pikirannya. Myungsoo baru menyadari bahwa kepergiannya saat itu benar-benar telah membuat hubungan antara dirinya dan Suzy berakhir untuk selama-lamanya.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Soojung berhasil menyadarkan Myungsoo.

“Apa katamu?” tanya Myungsoo balik.

“Sedang apa kau di sini? Sejak kapan kau mau makan di tempat yang sesak seperti ini?” ulang Soojung kemudian menarik kursi yang tadi diduduki Suzy.

“Hanya sedang ingin menikmati suasana baru,” bohong Myungsoo.

“Benarkah? Lalu ini bekas siapa?” tanya Soojung menyelidik seraya menunjuk kotak makanan bekas Suzy.

Molla. Memang sudah ada sebelum aku duduk di sini,” bohongnya lagi.

“Begitu?” Soojung tampak ragu.

“Aku butuh bantuanmu,” lanjut Soojung seraya memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.

“Kenapa aku harus membantumu?” tanya Myungsoo seakan tidak berminat sama sekali untuk membantu.

“Karena aku butuh bantuanmu.”

“Aku tidak bisa membantu,” jawab Myungsoo ketus.

Mwo? YA! Kau—“

“Kau seenaknya memutuskan teleponku tadi pagi dan haruskah aku tetap berbaik hati membantumu, Jung Soojung-ssi?” sindir Myungsoo.

“Naskah novel terbaruku hilang.”

“Itu salahmu sendiri.”

“Ada seseorang yang menghapusnya dan orang itu juga mengganti naskah yang sudah ku kirimkan dengan naskah cerita pendek anak SD. Terkutuk sekali bukan orang itu?! Cih!”

“Kau menuduhku?”

“Tentu saja tidak!”

“Lalu?”

“Aku benar-benar butuh bantuanmu untuk melacak si ‘terkutuk’ itu!”

“Aku tidak mengenal si ‘terkutuk’ yang kau maksud itu.”

“Maka dari itu kau harus membantuku melacaknya!”

“Bagaimana caranya?”

“YA! Kim Myungsoo!”

Soojung menghela nafas berat dan dalam sekejap nafsu makannya hilang begitu saja. Rasanya semua orang memang sedang bersekongkol untuk membuatnya emosi. Entahlah. Mungkin melihat Soojung frustasi seperti ini merupakan hiburan tersendiri bagi mereka.

“Ceritakan kejadiannya,” akhirnya Myungsoo berbaik hati.

Soojung tersenyum. Pemuda itu memang tidak akan pernah bisa menolak permintaan Soojung. Tanpa menunggu lebih lama lagi Soojung mulai menceritakan semuanya pada pemuda yang sedang melanjutkan makan siangnya itu. Soojung menceritakannya dengan begitu detail tanpa melewatkan sedikitpun.

“Bisa disimpulkan bahwa pelakunya adalah salah seorang yang juga tinggal di rumahmu,” ucap Myungsoo begitu mendengar selesai cerita Soojung.

“Jadi siapa saja yang ada di rumahmu saat itu?” tanya Myungsoo layaknya seorang detektif.

“Maksudmu? Tentu saja semua orang yang selama ini tinggal di rumahku. Apa perlu ku sebutkan? Appa, Jinwoon oppa, para ahjumma.”

“Kau melupakan seseorang.”

“Oya? Sepertinya tidak,” bela Soojung.

“Suzy?”

“Ah! Benar! Aku lupa menyebut namanya. Cih! Ternyata kau masih belum bisa melupakannya?” sindir Soojung dengan sinis.

“Sebenarnya aku tidak berniat menuduh tapi aku rasa dia pelakunya,” lanjut Soojung.

“Itu namanya kau sudah menuduh! Tapi aku rasa bukan dia pelakunya,” balas Myungsoo.

“Kenapa kau begitu yakin bukan dia pelakunya?”

“Suzy bukan orang seperti itu,” jelas Myungsoo berusaha meyakinkan Soojung.

“Begitukah? Harus ku akui bahwa kau memang mengenalnya lebih baik daripadaku,” balas Soojung kemudian melanjutkan kembali makan siangnya.

 

§

Dengan mendorong sebuah troli, Suzy tampak sedang memilih-milih bahan makanan di Lotte Mart. Hal itu ia lakukan bukan karena pesanan ahjumma-ahjumma di rumahnya melainkan karena kemauannya sendiri mengingat hari ini merupakan hari kepulangan Jung Ilwoo setelah hampir sebulan sibuk dengan urusan bisnisnya di Osaka. Suzy hanya ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan memasakan makanan kesukaan ayah angkatnya itu. Tidak lebih.

Saat Suzy sibuk memilih potongan ikan salmon segar yang ada di sana tanpa sengaja matanya menangkap sosok seorang wanita yang sangat tidak asing baginya. Bukannya mendekati wanita itu atau menegurnya Suzy malah mendorong trolinya dan segera pergi dari tempat itu. Namun sepertinya wanita itu sudah terlebih dahulu menyadari keberadaan Suzy.

Setelah memperhatikan keadaan sekitar dan memastikan bahwa Suzy memang sendirian wanita itu pun dengan hati-hati mengikuti langkah Suzy. Dan ketika Suzy berhenti di tempat penyimpanan bumbu masakan yang cukup sepi wanita itu pun mendekatinya.

“YA! Beraninya kau menghindariku!” bentaknya.

“Kau sendiri yang bilang bahwa aku harus berpura-pura tidak mengenalmu jika kita berada di tempat umum seperti ini,” balas Suzy sama sekali tidak berniat untuk memandang wanita yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri itu.

“Bukan berarti kau harus menghindariku! Lagian kau juga sedang sendirian jadi kau tidak perlu repot-repot untuk berpura-pura tidak mengenalku!” jelasnya kemudian melirik sekitar—memastikan tidak ada seorang pun yang melihat mereka.

“Aku dengar bahwa Jung Ilwoo akan kembali hari ini. Apa itu benar?” lanjutnya setelah memastikan bahwa keadaan sekitar memang sedang aman.

“Dari mana kau tahu?” tanya Suzy sedikit heran.

“Tidak penting aku tahu darimana. Yang terpenting sekarang adalah kau harus bisa meminta uang sebanyak mungkin dari laki-laki tua itu, mengerti?”

Eomma!”

Wae?! Kau ingin menentangku?!”

Geumanhe, jebal geumanhe,”

“Kau tidak lupa kan tujuanku menelantarkanmu dengan sengaja di depan rumah laki-laki tua itu belasan tahun yang lalu? Itu semua demi uang dan demi appa-mu!”

Geumanhe, eomma!”

“Apa kau lupa bagaimana ia mendepak appa-mu dari Jung Financial Group, eoh? Apa kau lupa aku menjadi pelacur seperti ini karenanya? Apa kau lupa hidupmu menjadi sengsara karenanya?!”

Appa yang berkhianat!!”

“Terserah apa katamu! Aku hanya butuh uang dan kau harus memberikannya padaku! Jika kau tidak memberikannya maka akan ku pastikan cepat atau lambat kau akan didepak dari keluarga Jung dan impianmu menjadi penulis tentunya juga tidak akan pernah terwujud! Dan jika saat itu tiba kau hanya bisa mengabdikan sisa hidupmu di atas ranjang dengan melayani laki-laki hidung belang yang sudah menunggumu!”

Suzy mati-matian menahan tangisannya. Tangannya yang sedari tadi mengenggengam erat pegangan troli mulai bergetar. Kehidupan terlalu kejam. Tuhan bersikap terlalu tidak adil padanya. Ia bahkan tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti semua kemauan wanita yang sudah melahirkannya itu.

“Hukumlah aku seberat dosa-dosa yang telah ku perbuat, Bapa,” gumam Suzy di tengah ketidakberdayaannya.

 

 

to be continued…

 

 

 

Halo~

Sebelumnya aku minta maaf karena telat publish chapter ini. Dan bagi readers yang punya pertanyaan seperti ini “Katanya bakalan ada rahasia besar yang terbongkar di chapter ini? Mana? Ga ada tuh.” Aku cuma bisa minta maaf karena rahasia besar yang aku maksud itu terpaksa harus aku pending untuk chapter berikutnya, kenapa? Karena aku ngerasa alurnya bakalan kecepatan aja kalau aku masukin ‘scene’ itu  ke chapter ini. Jadi mohon bersabar ya 🙂

Seperti biasa aku butuh komentar kalian baik itu berupa saran ataupun kritikan dan komentar kalian juga tentunya bakalan nentuin cepat-lambatnya next chapter dipublish.

 

Advertisements

31 thoughts on “Invidus [3rd]

  1. Main baru sempet comment thor #bow 😀
    FFnya keren, penggunaan katanya jg bagus 😀
    Tp knpa harus Kai Soojung ?
    Suamiku 😦

  2. kak author jng buat peran suzy jahat yah,jng buat suzy yg mengganti naskahnya sojung itu,n smg endingnya myunzy yah hehe,kak author buat peran suzy jd tersakiti aja jng buat dya balas dendam yah kak author aku mohon hehe maaf sblmnya

  3. Myungstal myungstal myungstal!!! Plis thor banyakin myungstal momentnya. Jongin sebenernya statusnya siapanya krystal selain supir?

  4. lanjut thor.. jgn lama2 ya… soalnya suzynya kasian… semoga suzy dapat jalan keluar untuk masalah dengan ibunya… bener2 tega ibunya…..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s