[FF Freelance] Bittersweet Memories (Chapter 1)

camera - help your memoryAuthor: Ghina

Cast: Lee Sungmin, Han Jinhye

Genre: Romance, Angst

Length: Twoshot

Rating: PG 15

 

Note: Nah, saya kembali dengan ff twoshot lainnya. Sangat panjang dan membosankan. Selamat membaca aja deh. Kunjungi blog pribadi aku kalo berminat dan ada waktu, specialoves.wordpress.com

 

***

 

2 September 2011

 

Gadis itu terlihat kusut. Wajahnya pucat layaknya pesakitan. Dibagian bawah matanya terdapat lingkaran berwarna hitam yang menandakan bahwa ia tidak tidur dengan cukup. Rambut panjang sepunggungnya diikat longgar ke kanan sehingga beberapa helai anak rambutnya berkeluaran, berkibar-kibar tertiup angin musim gugur yang terasa menusuk tulang.

Poni depannya basah dan lengket, terkena air hujan saat ia berlari dengan terburu-buru mencari tempat berteduh, sedangkan baju kaos lengan panjang yang melekat ditubuhnya nampak berantakan. Tubuh gadis itu terlihat sangat lemah, membuatnya tidak mampu mempertahankan kedua kakinya agar tak berjalan mendekati gadis itu.

Gadis itu terkejut, terlihat dari tangannya yang berhenti bergerak merogoh-rogoh tas ranselnya. Dan ketika wajah itu akhirnya menoleh, tanpa sadar ia menahan napas selama beberapa detik yang terasa begitu lama.

Bulu matanya lebat dan lentik. Pipinya yang putih mulus dihiasi rona kemerahaan pada permukaannya. Hidung kecil itu bertulang lurus, bibirnya mungil dan sedikit pucat. Matanya bulat, tidak seperti orang Korea kebanyakan, tapi ia berani bertaruh kalau semua itu asli, tak pernah terkena pisau operasi. Memiliki lensa mata berwarna cokelat gelap yang memancarkan keceriaan dan kesegaran, membuat siapa saja betah berlama-lama melihatnya.

Itu… mata paling indah yang pernah ia lihat sepanjang eksistensinya.

“Maaf, apa saya mengenal Anda?”

Suara lembut yang mampir di telinganya, membangunkannya dari khayalan tak berujung. Bahkan suara gadis itu mampu menghipnotisnya. Apa gadis ini seorang malaikat yang turun dari surga? Wajahnya terlihat tidak manusiawi di kedua bola matanya, suara seperti sebuah simfoni yang mengalun indah, dan kemampuan untuk menghentikan kerja otak seseorang secara temporer, mungkin?

“Tuan…”

Telapak tangan gadis itu bergerak-gerak didepan wajahnya. Dahinya menunjukkan kerutan-kerutan halus—sama sekali tidak mengurangi kecantikannya—nampak bingung dan waspada di waktu yang bersamaan. Oh, tentu saja. Gadis mana yang tidak takut ketika seorang pria tak dikenal menghampirinya dan hanya diam terpaku menikmati wajahnya? Dia pasti dianggap lelaki tak baik.

“Oh. Oh!” serunya keras seolah ia baru terbangun dari mimpi indahnya.

Gadis itu menaikkan kedua alisnya, meminta jawaban logis dari keberadaannya yang tiba-tiba. Dia hanya bisa menunduk sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Kebiasaannya ketika ia sedang gugup.

“Boleh aku duduk?” Bodoh! Kenapa pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulutnya? Seharusnya ia mengajukan pertanyaan yang lebih penting atau menjelaskan alasan kehadirannya yang mendadak ini.

Sial! Gadis itu pasti akan semakin berpikiran buruk tentangnya.

“Silahkan.”

Dia sudah bersiap-siap menerima ucapan ketus yang dilontarkan gadis itu atau tamparan keras yang mengenai wajahnya—karena ia dengan tidak tahu diri menganggu kegiatan seseorang—teriakan murka gadis itu atau minimal saja, senyum sinisnya. Tapi semua yang ia pikirkan tidak satu pun terealisasikan.

Gadis itu menyanggupi permintaan bodohnya bukan dengan kemarahan maupun kebencian, melainkan dengan sebuah senyum lebar yang terlukis dibibir pucatnya. Dan ia meyakini kalau itu benar-benar tulus. Dia duduk dengan kaku, masih terbayang-bayang senyuman manis gadis itu. Dan hal itu cukup membuatnya gila.

“Apa yang sedang kau cari?”

Mulutnya tidak tahan untuk tak bertanya ketika sepasang indera penglihatannya menangkap gadis kesayangannya—panggilan khusus untuk gadis itu yang ia tentukan seenaknya beberapa detik lalu—kembali sibuk melakukan kegiatan awalnya, merogoh-rogoh tas. Gadis itu menoleh dan mengangkat kedua bahunya.

“Tidak penting.”

Gadis itu melanjukan kegiatannya yang tertunda tadi. Kali ini berinisiatif mengangkat tas ranselnya yang berukuran kecil ke atas pangkuannya. Kepalanya ikut menunduk disertai mulutnya yang mengumpat dengan suara kecil. Kelakuan gadis itu yang menurutnya menggemaskan membuatnya tanpa sadar tersenyum geli.

Dia masih memperhatikan gadis itu hingga gadis itu mendongakkan kepalanya lalu meniup poninya dengan kesal. Lantas mencampakkan tasnya begitu saja keatas kursi kosong disebelahnya.

“Belum menemukannya?”

“Begitulah.”

Jelas sekali kalau gadis itu sedang dalam mood yang tidak baik sehingga ia malas berkomunikasi dengan seseorang. Senyum kecil lagi-lagi menghiasi wajahnya saat mulut gadis itu bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara. Seperti anak berumur 5 tahun, bibir gadis itu bersungut-sungut, membuat gadis itu nampak manis dimatanya. Dia lantas merogoh tas sandangnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

“Apa benda ini yang sedang kau cari?”

Gadis itu menoleh dengan wajah datar. Beberapa detik kemudian mata besarnya membulat sempurna. Mulutnya menganga lebar, sangat terkejut. Mata gadis itu bolak-balik menatap kearah benda yang ada pada genggamannya dan wajah penuh senyum kemenangan yang tercipta di bibirnya.

“Dimana, dimana kau menemukannya?”

Dia menghela napas dengan pelan. Menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku beserta tangan yang bersedekap di dada, mendadak merasa bangga karena berhasil membuat gadis itu… senang?

“Di trotoar jalan. Ketika kau berlari menghindari hujan, kalung itu jatuh.”

“Jadi, apa karena hal ini kau mengikutiku?”

Kepalanya menoleh dengan cepat, menatap gadis itu intens.

“Kau tahu?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya berulangkali, masih terpaku pada kalung berharganya. Gadis tersebut mendongak, menatapnya dengan raut wajah geli yang kentara sekali. Sialan.

“Tentu saja. Apa kau pikir aku tidak dapat merasakan kehadiran seseorang yang berada tepat dibelakangku? Dan asal kau tahu saja, suara tapak sepatumu itu keras sekali.”

Kalimat panjang pertama yang diucapkan gadis itu setelah beberapa menit yang lalu mereka berkomunikasi. Dan ia merasa senang karena berhasil membuat gadis tersebut berbicara sebanyak itu kepadanya. Mata gadis itu beralih ke sepatu kets yang ia gunakan, membuatnya ikut melakukan hal yang sama.

Apa langkah kakinya memang sekeras itu? Atau karena dia takut kehilangan jejak gadis itu, maka ia berjalan dengan terburu-buru?

“Tapi, terima kasih.”

Dia mendongak, masih belum sepenuhnya sadar. “Apa?”

“Terima kasih. Kau menolongku.”

Gadis itu tersenyum manis, menunjukkan deretan giginya yang putih dan bersih. Untuk kedua kalinya dalam 30 menit ini, gadis itu berhasil membuat perutnya seperti diaduk-aduk, seolah ribuan kupu-kupu tengah mengepakkan sayapnya disana. Hanya dengan melihat senyum gadis itu saja, dia merasa kalau jiwanya terlepas dari raganya, terbang keatas menuju angkasa dan berputar-putar sembari meneriakkan kata ‘yeay’ dengan semangat. Rasanya… menyenangkan.

“Kau tidak apa-apa?”

Jadi, sudah berapa kali dalam satu harian ini ia terlihat konyol dihadapan gadis itu? Setelah ketahuan menguntit gadis itu, kini untuk kesekian kalinya—dia bahkan tidak ingat—gadis itu mendapatinya tengah terpesona. Astaga, demi apapun yang ada di muka bumi, ini sangat memalukan!

“Oh, tentu saja. Perlu kubantu?”

Dia menawarkan diri ketika melihat gadis itu kesulitan memasangkan kalungnya. Gadis itu tersenyum malu lalu membalikkan tubuh mungilnya, membiarkan tangannya menyingkirkan rambut gadis itu dan memasangkan kalung sederhana-tapi-terlihat-sangat-cantik di leher jenjang gadis itu. Ujung jari telunjuknya tanpa sengaja menyentuh kulit leher gadis itu, membuatnya merasa seperti tersetrum, seolah listrik dengan arus kecil mengenainya.

“Su—sudah selesai.”

Sial. Kenapa dia merasa segugup ini? Dan kenapa mulutnya malah berulah dengan berucap seperti orang gagap?

“Terima kasih, Tuan—“

“Lee Sungmin. Kau bisa memanggilku Sungmin.”

Gadis itu berbalik. Kedua bola mata cokelatnya yang menawan berbinar-binar.

“Ah, baiklah. Terima kasih, Sungmin ssi.”

“Tidak masalah. Boleh aku tahu—“

“Namaku Han Jinhye. Salam kenal.”

***

 

20 Oktober 2011

Gadis itu mengeluarkan ponsel dari tasnya. Menyampirkan anak rambutnya ke belakang telinga lalu mulai sibuk mengutak-atik layar sentuh pada alat komunikasi itu. Punggungnya bersandar pada kursi yang di dudukinya. Nampak sangat nyaman dengan posisinya. Tetapi, ia tahu kalau gadis itu tengah berusaha mengabaikannya. Oh, itu memang salahnya karena menelantarkan gadis kesayangannya selama 3 jam yang terasa sangat membosankan.

Gadis itu benci menunggu. Dan dia malah melakukannya.

Dia memainkan cangkir kopinya yang berwarna putih dan dihiasi berbagai macam lukisan tangan, sangat cantik. Kedua matanya terpaku pada satu objek paling mempesona dihadapannya. Mengamati ekspresinya. Memenuhi setiap ruang dalam kepalanya dengan wajah gadis itu.

Dia melirik jam tangannya dan mulai menghitung. Tersenyum kecil saat menyadari bahwa hanya membutuhkan interval waktu 7 jam saja untuk membuatnya merindukan gadis itu habis-habisan. Seperti tidak bertemu selama setahun. Dan semuanya terasa sangat benar ketika pada akhirnya ia bisa melihat gadis itu lagi.

Pesanan datang. Membuat gadis itu mendongakkan kepalanya dan menatap es krim di atas meja dengan mata berbinar-binar. Raut wajahnya mendadak berubah cerah, seolah menunjukkan isi hatinya yang sedang bahagia. Oh, yang benar saja. Sejak kapan semangkuk besar es krim rasa cokelat mampu membuat gadis kesayangannya terlihat sesenang ini? Bodoh. Dan tidak masuk akal.

Setidaknya dua kata itu yang mampir di pikirannya.

Gadis itu mulai menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya. Kedua matanya terpejam rapat dengan mulut yang sedikit mengerucut. Apa itu salah satu caranya menikmati es krim berlumuran cokelat? Astaga, gadis itu nampak sangat manis. Dia bahkan harus menahan gejolak perasannya untuk memajukan tubuhnya, membiarkan kedua tangannya memerangkap sisi-sisi wajah gadis itu dan menyentuhkan bibirnya pada bibir gadis itu yang—oh, ini sinting—sangat menggoda.

Dia mendengus. Berusaha menghapuskan pikiran busuk yang bergumul di kepalanya. Matanya kembali memperhatikan gadis itu yang tengah mengunyah butiran cokelat chips dalam mulutnya. Rahangnya yang terukir sempurna bergerak-gerak dengan cepat.

“Terlalu bersemangat, hmm? Pelan-pelan saja.”

Gadis itu mendongak. Menatapnya dengan wajah datar lalu kembali menikmati es krimnya.

Ya Tuhan! Bahkan es krim bisa membuat gadis kesayangannya itu mengabaikannya begini. Apakah wajahnya lebih buruk dibandingkan makanan cair seperti itu? Menjengkelkan.

“Maaf, tadi—”

“Sudahlah.”

“Kau memaafkanku?”

“Hmm.”

Itu hanya gumaman singkat yang terlontar dengan frekuensi sangat kecil. Tapi dia masih bisa mendengarnya. Dan merasa lega karenanya. Kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan gadis itu adalah tiga hal yang paling dihindarinya. Dia tidak suka dan tidak mau menjadi orang yang menyebabkan ketiga hal itu. Yah, walaupun dia malah melakukannya hari ini. Tapi gadis itu memaafkannya. Setidaknya dia merasa tenang.

“Lee Sungmin…”

Cepat-cepat dia mendongak.

“Wae?”

“Terima kasih.”

Dan yang dilakukan gadis itu selanjutnya mampu membuat seluruh alat geraknya terbujur kaku seolah urat saraf yang ada pada tubuhnya mendadak mengalami disfungsional. Otaknya berhenti bekerja, mungkin.

Itu… senyum pertama yang diberikan gadis kesayangannya hari ini.

***

 

13 Desember 2011

 

Dia mengunci mobil Ferrari hitamnya dengan tergesa-gesa. Sedikit berlari menuju taman yang menjadi tempat pertemuannya kali ini. Lalu tersenyum miring saat mendapati gadis itu tengah duduk di salah satu bangku taman dengan mata terpejam rapat dan telinga yang terpasang headset putih.

Hari ini gadis itu mengenakan kaos kuning lengan pendek dan celana cokelat panjang berbahan kain yang bermotif kotak-kotak. Rambut sepunggungnya digeraikan begitu saja. Sedangkan sebuah topi rajut berwarna merah menjadi penghias di kepalanya. Dan gadis itu masih nampak luar biasa cantik seperti hari-hari sebelumnya.

Kakinya melangkah, mendekati gadis itu. Memasukkan kedua tangannya dalam saku celana kerja yang ia kenakan. Berhenti tepat dihadapan gadis itu.

Butuh waktu beberapa detik sebelum gadis itu menyadari kehadirannya. Kepala itu mendongak dengan sepasang manik mata cokelat yang menatapnya intens. Dia memberikan senyum terbaiknya, dan ajaibnya gadis itu melakukan hal yang sama pula. Sempat membuat jantungnya berdetak diluar kendali, namun melihat gadis itu menggeser duduknya membuatnya terpaksa harus mengabaikan salah satu organ vitalnya itu. Dia duduk di tempat kosong yang disediakan gadis itu.

“Kau terlambat 15 menit, Tuan Lee yang terhormat.”

Senyum miringnya yang mempesona tercipta begitu saja saat mendengar protes dari gadis itu.

“Yah, kau tahu sendiri bagaimana sibuknya menjadi seorang direktur di perusahaan besar.”

“Cih.” Gadis itu menolehkan kepalanya, menatap lelaki disebelahnya dengan raut wajah meremehkan. “Sedang menyombongkan diri, huh?”

Lagi-lagi ia menarik sedikit otot-otot bibirnya, lalu mengulurkan tangannya pada gadis itu.

“Bergandengan tangan?”

Terdengar dengusan dari gadis itu. Namun ia tetap mengulurkan tangan kirinya. Membiarkannya mengenggam tangan mungil gadis itu.

“Mau mendengar?”

Dia menggangguk pelan, membuat gadis itu memberikan headset bagian kirinya, lantas memasangkan headset itu ditelinganya. Menikmati alunan musik yang masuk ke indera pendengarannya. Bukankah ini romantis? Menghabiskan waktu senja di sebuah taman yang sedang sepi pengunjung, mendengarkan musik bersama gadis yang ia sukai dan jari-jemari yang tertaut satu sama lain. Menyenangkan. Sekaligus menenangkan.

“Oh? Depapepe?”

Kelopak mata gadis itu yang sebelumnya terpejam kini terbuka.

“Hmm. Kau tahu judulnya?”

Dia mengerutkan keningnya. Nampak berpikir sebentar.

White Flowers?”

Dia berkata dengan logat Inggris asal-asalan, membuatnya geli sendiri.

Majayo.”

“Kau suka instrumen ini?”

“Sangat.”

Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi diantara mereka. Tak ada suara, selain suara gesekan batang pohon yang tertiup angin. Sepasang manusia itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Menikmati pemandangan saat matahari akan kembali ke singgasananya menjadi satu-satunya hal yang mereka lihat. Ditemani musik yang terputar di iPod gadis itu, mereka mengagumi kekuasaan Tuhan akan indahnya alam ini. Semuanya masih terasa tenang dan damai sebelum lelaki itu mengeratkan genggaman tangannya. Refleks membuat gadis itu menoleh dan menatapnya yang juga tengah memandang gadis itu.

“Jadilah kekasihku.”

Dia bisa merasakan tubuh gadis disebelahnya menegang. Bola matanya yang besar membulat. Menunjukkan keterkejutan yang nyata. Gadis itu tidak mungkin tak mendengar permintaan konyolnya barusan. Salah satu telinga gadis itu tak terpasang headset jadi indera pendengarannya pasti masih bisa melakukan tugasnya dengan baik. Dan gadis itu sedang menatapnya. Sudah dipastikan gadis itu membaca gerak mulutnya dan—Ya Tuhan, dia jadi salah tingkah.

Sial. Bagaimana bisa kalimat seperti itu yang keluar dari mulutnya?

Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berpura-pura mengamati pepohonan rindang.

“Kau bercanda.”

Ada perasaan sakit yang terselip dihatinya saat kata-kata itu meluncur dari bibir gadis tersebut. Dia serius. Meskipun ia tidak memprediksi sama sekali kalau mulutnya bisa berbicara sendiri tanpa melakukan sinkronisasi dengan otaknya, tapi semua itu memang sungguh-sungguh.

“Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku.”

Gadis itu terdiam. Dan ia tidak ingin mengganggu. Jadi, ia hanya menunggu sambil berusaha fokus pada lagu—instrumen yang ia dengarkan. Masih sama seperti yang tadi karena gadis itu tak sedikit pun berniat untuk menggantinya. White Flowers milik Depapepe.

1, 2, 3, 4, 5…

Dia menghitung setiap detik yang terlewat. Merasa semakin was-was saat detik ke 117 dalam hitungannya tak kunjung membuahkan jawaban dari gadis itu. Apakah artinya ia ditolak? Dan jika itu benar, bagaimana ia harus bersikap setelah ini? Berpura-pura tidak tahukah? Atau berpikir bahwa kejadian ini tak pernah terjadi? Oh, atau mungkin menjauh dari gadis itu demi menghilangkan rasa malunya?

Yang benar saja, hal terakhir tak akan pernah ia lakukan. Mustahil. Dia bisa pastikan itu.

Pikiran-pikiran buruk masih memenuhi kepalanya. Dia menajamkan indera pendengaran dan penglihatannya, berjaga-jaga. Mungkin saja gadis itu terlalu malu untuk menjawab jadi ia hanya menganggukkan kepalanya. Atau mungkin gadis itu tidak seberani yang dipikirkannya jadi dia hanya menjawab dengan suara lirih. Kedua hal itu bisa saja terjadi, kan?

“Baiklah.”

Gadis itu tidak tahu kalau sebuah kata yang diucapkannya berhasil membuat perasaannya melayang dan hal itu sangat berpengaruh bagi dirinya. Berpengaruh besar pada masa depannya kelak. Berpengaruh pada kehidupannya yang mendatang. Satu kata itu telah berhasil membuat tubuhnya kaku seolah seluruh darah yang mengalir dalam tubuhnya mendadak membeku.

Ia tidak ingin membuang-buang waktu. Jadi yang ia lakukan selanjutnya adalah menarik bahu gadis itu kearahnya dan memeluk tubuh mungil itu erat-erat. Memenjarakan gadis itu dalam dekapan hangatnya yang posesif.

Dan semuanya terasa sangat tepat.

***

 

19 Juli 2012

 

“Bagaimana bisa kau lupa menukar uang? Untung saja aku membawa uang tunai hari ini.”

Gadis itu mengomel dengan tangan yang sibuk memasukkan kembalian ke dalam dompetnya. Sedangkan ia yang berdiri disebelah gadis itu hanya bisa terdiam. Dia yang mengajak gadis itu kencan di hari minggu ini setelah 3 hari mereka tidak bertemu karena ia harus pergi ke Tokyo untuk mengurusi salah satu cabang perusahaannya disana. Dan dia pula yang membuat masalah karena lupa menukar uang yen dalam dompetnya dengan beberapa lembar won Korea.

Yah, dia terlalu merindukan gadisnya sampai-sampai hal lain pun terlupakan begitu saja. Bukankah gadis itu sudah menjungkirbalikkan dunianya terlalu jauh?

“Aku lupa.”

“Sudahlah. Lagipula uangku masih cukup membayar semua ini.”

Gadis itu mengalihkan pandangannya pada sekantong besar plastik belanjaan yang berisi cemilan. Lalu tersenyum padanya dan mengecup pipinya singkat. Membuahkan seringaian samar yang tercipta dibibirnya.

Dia dan gadis itu memang berencana menghabiskan waktu seharian ini dengan menonton bermacam kaset film yang ia beli beberapa waktu lalu diapartemennya. Gadis itu salah satu pecinta film komedi romantis. Sedikit tidak cocok mengingat sifat gadisnya yang sinis tetapi juga kekanakkan di waktu yang bersamaan.

“Ayo.”

Dia menggenggam tangan gadis itu. Merasa senang ketika gadis itu balas menautkan jari-jemari lentiknya ditangannya yang dingin. Dia selalu suka mengenggam tangan gadis itu. Kulitnya yang bersentuhan dengan kulit gadis itu selalu berhasil membuatnya merasa nyaman. Seolah kulit gadis itu memiliki magnet tersendiri sehingga tangannya betah berlama-lama disana. Bahkan saat tangannya mulai mengeluarkan titik-titik air sebagai salah satu bentuk sistem ekskresi tubuhnya, tak sedikitpun ia berniat melepaskan genggamannya pada gadis itu. Dia hanya merasa perlu memegang gadis itu erat-erat. Dunianya, dia tak mau kehilangan itu.

Ini sudah bulan ketujuh ia menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan gadisnya. Kesalahpahaman yang berakhir dengan pertengkaran masih sering terjadi. Tetapi setelah itu, hubungannya dengan gadis itu akan menjadi jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Dengan pertengkaran itu, dia bisa tahu segala sesuatu yang disukai dan tidak disukai oleh gadisnya lebih banyak lagi.

“Tunggu sebentar.”

Dia berjongkok dan membenarkan tali sepatu kekasihnya yang tidak terikat. Gadis itu memang jarang sekali memakai flat shoes ataupun high heels jika bukan diacara formal. Dan sialnya, gadis itu juga selalu malas untuk sekedar mengikat tali sepatunya.

Bagaimana jika dia terjatuh karena tali sepatunya itu terinjak oleh orang lain? Terkadang kadar kebodohan gadis itu membuatnya khawatir sendiri. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada gadis itu meskipun hanya berupa luka lecet. Gadis itu wanita paling berharga dihidupnya setelah ibunya, jadi dia bertekad untuk menjaganya dengan baik.

Dia bangkit berdiri dan menunjukkan tatapan kesalnya.

“Sudah berapa kali kubilang kalau kau harus mengikat tali sepatumu, hah? Kenapa susah sekali untuk menuruti satu permintaan sederhanaku itu?”

Gadis itu menunjukkan deretan giginya yang rapi. Tersenyum lebar. Matanya berkilat-kilat senang, membuatnya was-was.

“Apa kau baru saja terang-terangan menunjukkan kekhawatiranmu terhadapku?”

Bagus, sekarang bisa ia pastikan wajahnya melongo parah. Gadis itu… bagaimana bisa gadis itu menebaknya dengan sangat tepat? Dia memang tidak pernah memperlihatkan perasaannya secara gamblang pada siapapun, termasuk kekasihnya. Dia adalah seorang lelaki yang lebih memilih mengungkapkannya secara tersirat. Jadi, dia tidak perlu merasa terlalu malu.

“Menggelikan.”

Hanya itu yang terlintas di otaknya. Maka, kata itulah yang ia ucapkan.

Dia merampas sekantong plastik penuh belanjaan dari tangan gadis itu dan berjalan lebih dulu, meninggalkan gadis itu beberapa langkah dibelakangnya. Tidak sadar bahwa kekasihnya itu kini tengah tersenyum senang ditempatnya berdiri sekarang.

“Yak, tunggu aku.”

Cepat-cepat gadis itu menyusul, berusaha memperlebar langkah kakinya dan melingkarkan tangan mungilnya di lengan kekarnya. Dan secepat itu pula desisan pelan keluar dari mulutnya. Meskipun yang sebenarnya ia rasakan adalah kebahagiaan.

“Kau malu?”

“Tidak.”

“Jujur saja.”

Dia diam.

“Iya! Kau malu, kan?”

Gadis itu nampak sangat antusias. Tanpa sadar suaranya menjadi setingkat lebih tinggi.

“Tidak.”

“Iya!”

“Yak! Berhenti berteriak dan memaksaku mengatakan iya!”

Dia berhenti melangkah dan memberikan tatapan galaknya pada gadis itu. Lalu melepaskan tangan gadis itu yang melingkar di lengannya dan kembali melanjutkan langkah dengan cepat. Tapi tidak cukup cepat sehingga gadis itu masih bisa menyusulnya dan kembali mengamit lengannya. Menunggu lampu untuk pejalan kaki berubah menjadi hijau.

Gadis itu mendecak pelan. “Mengaku saja. Apa itu terlalu susah?”

“Tidak.”

“Iya.”

“Tidak.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Ah, akhirnya.”

Gadis itu tertawa geli. Sedangkan dia mengacak rambutnya frustasi, merasa bodoh karena mengikuti permainan konyol gadis itu.

Dia menghentikan langkahnya dan manjatuhkan kantong belanjaan begitu saja. Membuat gadis itu berhenti tertawa dan menatapnya dengan heran. Lantas dia memberikan seringaiannya dan menarik pinggang gadis itu sebelum menempelkan bibirnya di permukaan bibir gadisnya. Membungkam segala macam bentuk cacian dan protes yang pasti akan ditujukan gadis itu padanya dan tidak mengindahkan orang-orang yang terkejut melihat aksi mereka.

Dia melumat bibir itu dengan rakus seolah besok adalah hari terakhirnya hidup di dunia ini. Dan merasa semakin gila ketika gadis itu membalas ciumannya dengan malu-malu. Dia nyaris membuat gadis itu kehabisan napas jika saja akal sehatnya tidak berkerja dengan cepat. Jadi, ia melepaskan ciumannya meskipun masih enggan menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Kelopak matanya terpejam menikmati hembusan napas gadis itu menerpa wajahnya.

“I—ini di tengah jalan.”

Akhirnya gadis itu bersuara setelah berhasil menetralkan deru napasnya yang memburu.

“Kau pikir aku peduli?”

Seringaian licik tercipta dibibirnya. Kini ia menjauhkan wajahnya—dengan tidak rela—demi melihat ekspresi gadis itu. Merasa senang mendapati wajah merona gadis itu. Membuat gadis itu terlihat seribu kali lebih cantik. Dia mengulurkan tangannya dan menggerakkan punggung tangannya di permukaan bibir gadis itu yang basah karena ciuman membabi buta darinya.

“Apa kau masih ingin memaksaku mengatakan iya dan berakhir seperti ini?”

“Ti—tidak. Eh, mak—maksudku itu…”

Nah, ciuman tiba-tiba memang bisa menghentikan keras kepala seorang wanita, kan? Sekaligus membuat wanita itu gugup setengah mati.

“Ayo, jalan.”

***

16 Agustus 2012

Dia mengambil sebuket mawar merah yang ia letakkan di jok belakang mobil. Membauinya sebentar lalu tersenyum senang membayangkan ekspresi wajah gadis itu saat ia memberikan hadiah ini nantinya. Dia tidak pernah sekalipun memberikan gadis itu—gadis manapun bunga apapun jenisnya. Menurutnya hal-hal semacam itu hanya membuang-buang waktu saja.

Tapi kemudian, ia menjemput gadis itu di kampusnya dan gadis itu berceloteh mengenai sahabatnya yang diberikan sesuatu oleh kekasihnya. dan gadis itu mulai berandai-andai kalau seseorang  juga akan melakukan hal yang sama. Lalu ia menyadari suara gadis itu menjadi semakin menggebu-gebu dengan wajah yang sangat ceria.

Dan pada detik itu juga, prinsipnya berubah.

Dia mulai berpikir bahwa hal itu tidak lagi menjadi sesuatu yang menggelikan. Bahwa memang sudah sepantasnya bagi seorang lelaki memberikan hal-hal yang diinginkan gadisnya. Bahwa mungkin ada baiknya bersikap seperti lelaki lain diluar sana yang dengan bebas memamerkan cinta mereka.  Bahwa keromantisan, sedikit-banyak diperlukan dalam suatu hubungan.

Setelah memarkirkan mobilnya, ia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan parkiran dan menuju bioskop. Salah satu tangannya memegang sebuket bunga, sedangkan yang satunya lagi ia masukkan ke dalam ke saku celana. Dia bisa merasakan beberapa pasang mata, menatapnya dengan kagum.

Seingatnya, ia hanya mengenakan mantel cokelat yang sengaja tak dikancingkan—menampakkan kaos hitam didalamnya, celana jeans panjang berwarna senada dan rambut yang dibiarkan berantakan. Apa yang istimewa dari penampilannya sehingga gadis-gadis itu menatapnya seolah ia adalah hadiah natal yang mereka inginkan? Atau apa anehnya seorang yang terkenal dingin dan cuek seperti dirinya mau mempermalukan diri dengan membawa sebuket bunga untuk gadisnya?

Dia mendengus dan membiarkan wajah dingin mendominasinya. Tidak tertarik sama sekali bahkan ketika salah seorang gadis sengaja melintas dihadapannya sembari tersenyum genit. Menjijikkan. Dia melanjutkan perjalanannya dengan perasaan tidak tenang. Bukan, bukan karena ia takut tergoda pada gadis-gadis itu—dia sudah berhenti beranggapan kalau gadis manapun menarik sejak bertemu dengan gadis itu—melainkan takut gadis itu akan menertawainya.

Rasa-rasanya, jantungnya berdetak terlalu cepat. Semakin dekat ia dengan tempat tujuannya, semakin gugup pula ia rasa. Ini pertama kali baginya menunjukkan sisi lain dari dirinya. Pertama kali dalam seumur hidupnya, ia mau memberikan sesuatu untuk seorang gadis tanpa paksaan dari siapapun. Dan dia merasa khawatir jikalau gadis itu menolak hadiah pertamanya. Sial. Kepercayaan dirinya mendadak menguap entah kenapa.

Apa seharusnya ia membeli sesuatu yang lebih mahal? Perhiasan, baju atau sejenisnya? Tapi sekali lagi, sial. Hanya tinggal tujuh langkah lagi dan dia sudah berdiri tepat dihadapan gadis itu. Beruntung gadis itu membelakanginya dan sedang berbincang dengan seorang lelaki sehingga gadis itu tidak menyadari kehadirannya. Tunggu. Sepertinya ia mengenali lelaki itu—ah, benar.

Ada perasaan tidak nyaman saat ia melihat lelaki itu menarik-narik pergelangan tangan gadisnya sedangkan gadis itu diam saja dengan kepala tertunduk lesu. Dengan perasaan kesal yang tak bisa ditutupi, dia berjalan mendekati kedua orang yang pernah terjalin asmara di masa lalu itu dan berniat memanggil gadis itu ketika ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Atau sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi. Atau—sialan!

BUGH!

Sebuah tinju mentah mendarat sempurna di pipi kanan Kim Seung-Ha—mantan kekasih gadis itu, membuat tubuh lelaki itu terjatuh sehingga ciuman mereka terlepas. Dia bisa melihat sudut bibir lelaki itu berdarah, tapi dia tidak menggubrisnya dan mengalihkan pandangannya pada gadis itu yang tengah menatapnya takut-takut. Melihat bibir gadis itu yang basah dan sedikit memerah membuat amarahnya memuncak.

“Berciuman?”

“Tidak, bukan seperti itu—“

Tawa ringannya yang terasa hambar menghentikan segala hal yang ingin dijelaskan gadis itu.

“Kau ingin bilang kalau aku salah paham?”

“Kami memang berciuman, tapi—“

“Benar,” potongnya cepat. “Kau sudah mengaku, apalagi yang ingin kau bicarakan?”

Gadis itu terlihat gelisah dan ingin menangis. Matanya mulai berkaca-kaca sedangkan wajahnya nampak pucat, kecuali bibirnya yang masih terlihat basah. Sial, sial, sial!

“Kumohon dengarkan aku.”

Dan selanjutnya yang ia lihat adalah bagaimana air bening itu mengalir turun ke kedua belah pipi gadisnya. Dia merasa menyesal—tentu saja, tapi dadanya masih terasa panas dan emosinya masih mendominasi.

“Apa ini alasannya kau tidak ingin aku menjemputmu? Karena kau ingin bersama dia, hah?”

Gadis itu memilih bungkam dan menggigit bibirnya kuat-kuat, mungkin menahan isakannya. Airmatanya semakin deras mengalir, membuat jantungnya terasa diikat kuat-kuat oleh sesuatu.

“Brengsek. Apa kalian sengaja melakukannya?”

“Tidak, tidak. Ini tidak seperti yang kau pikirkan—Lee Sungmin!”

Dia berlari meninggalkan gadis itu setelah mencampakkan sebuket mawar merah yang ia bawa. Samar-samar ia mendengar gadis itu memanggil namanya, tetapi ia mengacuhkannya. Dia tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Bahkan ketika ia menemukan mantan kekasihnya tidur dengan sahabatnya, dia tidak mempermasalahkan hal itu.

Tapi, gadis itu berbeda. Dia bukan seperti mantan-mantan kekasihnya yang ia kencani tanpa ada rasa suka didalamnya. Bukan seperti gadis-gadis diluar sana yang harus bersikap agresif demi berkencan dengannya barang sekali saja.

Gadis itu memiliki pesona tersendiri yang membuatnya jatuh cinta. Bukan. Ini bukan kisah tentang cinta pada pandangan pertama. Tapi, rasa kagum yang perlahan-lahan berubah menjadi rasa yang lebih tulus dan memiliki banyak makna.

Gadis itu, entah bagaimana, telah berhasil membuat dirinya, seorang lelaki yang tidak pernah memikirkan pernikahan mendadak merasa harus berpikir ulang. Bahwa mungkin menjalin komitmen tidak seburuk yang ia duga. Asalkan ada gadis itu didalamnya, dia bisa menjamin kehidupannya akan bahagia. Gadis itu, benar-benar telah membuatnya jatuh cinta habis-habisan. Jadi tidak heran jika ia merasa patah hati ketika melihat gadis itu berkhianat dihadapannya.

“Lee Sungmin.”

Teriakan gadis itu membuatnya menoleh kebelakang dan mendapati gadis itu berada di seberang jalan. Tangan gadis itu membawa sebuket mawar merah yang ia campakkan tadi. Napas gadis itu putus-putus sedangkan ekspresi memohon di wajah cantiknya membuatnya sedikit tidak tega. Mantel merah yang ia kenakan nampak kusut. Tapi, dia tidak boleh berhenti. Dia harus terus berlari agar gadis itu tidak bisa mengejarnya. Agar gadis itu tahu, kalau dia terluka karena perbuatan gadis itu.

Baru dua langkah ia berlari, bunyi decitan ban mobil membuatnya terhenti. Beberapa orang yang berada disekitarnya berlarian melihat kejadian itu. Dia tidak berani berbalik, takut sesuatu yang ia pikirkan terjadi. Tapi kemudian, dia mendengar sekerumunan orang heboh mengucapkan sesuatu yang membuat aliran darahnya berhenti seketika.

“Gadis bermantel merah itu tertabrak.”

“Keluar darah dari hidung dan telinganya. Astaga.”

“Kasihan sekali. Dia pasti habis bertemu kekasihnya.”

“Panggil ambulans. Cepat. Dia bisa meninggal.”

Tidak, kumohon jangan. Han Jinhye…

***

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s