[FF Freelance] Oppa & I (Chapter 6)

oppa Title                     :  Oppa & I

Author                 : @ulfahanum1 (DreamGirl)

Main cast            :

  • Do Kyungsoo
  • Kim Hyang Gi

Support cast      :

  • Kim Joon Myun
  • Kim Jongin
  • Kang Chan Hee
  • Kim Jeongmin

Rating                   : PG-13

Genre                    : Fluff, Family, Friendship, Little Romance

Length                  : Chaptered

COVER BY XIAO ART

Disclaimer         : Annyeonghaseyo. Heheh, maaf kalau baru bisa nge-post chapter 6nya. Wkwkw.  Maaf kalau typo(s) berserakan dimana-mana. Jangan lupa tinggalkan jejaknya, jejaknya readers semua adalah sumber kekuatan untuk author ngelanjutin next chapter. Gomawo. *bow*

Happy Reading

Previous: Part 1Part 2Part 3Part 4, Part 5,

Author Pov

“Op..pa.. “ lirih Hyanggi dan menatap manik-manik mata Joonmyun dengan dalam. Joonmyun hanya bisa menatap cemas Hyanggi dan bingung dengan tingkah laku Hyanggi yang seperti ini.

“Waeyo Hyanggi-ya? Apa kau sakit? Mukamu pucat..” ujar Joonmyun kalang kabut dan menyentuh wajah Hyanggi dengan telapak tangannya.

“A..anio Oppa..” geleng Hyanggi cepat. Dada Hyanggi tiba-tiba saja terasa sesak.

“Wae geurae Hyanggi-ya? Jangan membuat Oppa cemas seperti ini, jika Kyungsoo tahu Oppa membuatmu seperti ini pasti ia akan memarahi Oppa..” ujar Joonmyun dan menjongkokkan badannya didepan Hyanggi yang sekarang sudah terduduk lemas ditangga depan Rumah Kyungsoo.

“Apa sebaiknya kita dirumah saja? “ Hyanggi diam sejenak. Jika ia menolak ajakan Joonmyun, ia pasti akan merasa bersalah dan tidak enak hati kepada Joonmyun. Hyanggi tidak ingin membuat Joonmyun kecewa kepadanya.

“Anio Oppa, sebaiknya kita pergi saja..” ujar Hyanggi. Walaupun hati Hyanggi menolak kuat, apa boleh buat? Hyanggi harus pergi dan menutup sesuatu yang ditakutinya.

“Baiklah..” lenguh Joonmyun walaupun masih sedikit ragu dengan keputusan Hyanggi.

oOoOo

Lotte World, 11.00 KST

Joonmyun dan Hyanggi sudah sampai dikawasan Lotte World. Wajah Hyanggi semakin memucat, tangannya bergemetar hebat. Matanya berkunang-kunang dan kepalanya serasa ingin pecah saja.

‘Eottokhe? ‘ batin Hyanggi dan menghembuskan nafas pelan.

“Hyanggi-ya, kajja..” seru Joonmyun yang sudah berjalan dulu dari Hyanggi.

“N..ne Oppa..” sahut Hyanggi dan mengikuti langkah Joonmyun dari belakang dan pelan. Hyanggi menelaah kesana kemari, Lotte World hari itu cukup ramai pengunjungnya.

Bruuk!

“Hyanggi? “ Joonmyun membalikkan badannya, perasaannya tidak menentu. Ada yang menjanggal dihatinya.

“Kim Hyanggi? “ teriak Joonmyun dan bersila didepan Hyanggi yang sudah terduduk lemas. Sekarang, berpasang-pasang mata memandang heran Hyanggi.

“Hyanggi, gwenchana? “ tanya Joonmyun kalang kabut. Hyanggi hanya bungkam dan lama-kelamaan isakan tangis mulai terdengar ditelinga Joonmyun.

“Waeyo Hyanggi? Kenapa menangis? Apa ada yang salah di Lotte World ini?” ucap Joonmyun bertubi-tubi dan tentunya sedikit cemas melihat Hyanggi yang tiba-tiba saja menangis.

“Oppa..” isak Hyanggi dengan kepala yang ditundukkan.

“Waeyo Hyanggi? Katakan kepada Oppa apa yang terjadi? Jangan buat Oppa bingung seperti ini Hyanggi-ya..” seru Joonmyun. Rasa penasaran semakin melunjak tinggi di hati Joonmyun.

“Aku..aku…aku takut Oppa..” ucap Hyanggi dengan suara serak.

“Ne? Takut? “ ulang Joonmyun. Dengan segera Joonmyun menarik badan Hyanggi kedalam dekapannya. Tangan kanannya mengusap pelan punggung Hyanggi sedangkan tangan kirinya menopang badan Hyanggi.

“Gwenchana, ada Oppa disini..” ujar Joonmyun menenangkan.

“Aku takut Oppa, aku tak bisa disini Oppa. Aku takut, dada ini terasa sesak Oppa..” isak Hyanggi. Joonmyun mengangguk pelan dan mengecup pelan puncak kepala Hyanggi.

“Uljima, apa kau takut ditempat ramai seperti ini? “ tanya Joonmyun yang sekarang sudah paham dengan situasi Hyanggi.

“Ne Oppa, bawa aku ketempat lain Oppa..” rengek Hyanggi yang semakin menjadi-jadi. Joonmyun menghela nafas kecil dan mengangkat badan Hyanggi. Joonmyun membawa Hyanggi ketempat yang sangat-sangat sepi dan jauh dari keramain walaupun tetap ditempat induk yang sama, Lotte World.

Hyanggi terduduk lemas dibangku taman tepat disebelah Joonmyun yang menatap iba Hyanggi. Wajah pucat pasi Hyanggi masih tertempel jelas diwajah Hyanggi. Joonmyun mengelus pelan kepala Hyanggi dan melemparkan senyuman manisnya kearah Hyanggi, mungkin saja senyuman Joonmyun bisa menenangkan hati Hyanggi.

“Oppa…” lirih Hyanggi dan menundukkan kepalanya.

“Mian..” sesal Hyanggi dengan wajah menahan tangis.

“Gwenchana, Oppa mengerti dengan perasaanmu.. Kau pasti mengidap agoraphobia, benarkan? “ ucap Joonmyun dan semakin mendekat kearah Hyanggi.

“Ne Oppa, Aku takut berada dikeramaian seperti itu. “ tutur Hyanggi. Joonmyun memeluk badan kecil Hyanggi sembari menggoyangkan badannya yang memeluk Hyanggi kekanan dan kekiri.

“Aigoo, uri Hyanggi..” seru Joonmyun dan diakhir dengan helaan nafas kecil.

Agoraphobia, phobia atau takut akan dengan keramaian. Hyanggi, yeoja kecil itu mendapatkan Agoraphobia saat ia masih berumur 7 tahun bertepatan disaat ia bersama keluarganya pergi ke Amusement Park yang ada di Ilsan.

Flashback

“Oppa, tidakkah Oppa senang karena kita akan ke Amusement Park? “ seru Hyanggi dan menatap Kyungsoo yang ada disebelahnya.

“Tidak. Aku tidak senang. “ jawab Kyungsoo yang membuat senyuman Hyanggi memudar seketika.

“Waeyo Oppa? Kita bisa bertemu dengan badut disana Oppa. Mereka pasti bisa membuat Oppa tersenyum lebar seperti ini..” ujar Hyanggi dan memamerkan senyuman lebar kearah Kyungsoo.

“Aku benci keramaian.” Cetus Kyungsoo dan menjauh dari Hyanggi. Hyanggi mengerucutkan bibirnya kedepan dan menyandarkan kepalanya kesandaran kursi. Sesekali ia menatap sosok Oppanya yang sibuk mendengarkan lagu dengan kedua lubang telinga yang disumbat dengan earphone serta mata yang terpejam.

“Oppa..” gumam Hyanggi pelan dan mengelus pelan lengan Oppanya.

“Apa? “ ketus Kyungsoo tanpa membuka matanya sedikitpun.

“Aku ingin mendengarkan lagu juga Oppa..” pinta Hyanggi dengan wajah memohon.

“Jangan mengangguku! “ bentak Kyungsoo sedikit kasar.

“Kajja Hyanggi-ya, kita sudah sampai..” teriak Nyonya Kim atau Nyonya Do. Tanpa disadari sekarang mereka sudah sampai dikawasan Amusement Park. Hyanggi mendehem pelan dan menatap Kyungsoo dalam.

“Bagaimana dengan Kyungsoo Oppa? Apa Kyungsoo Oppa tidak keluar dan bermain bersamaku di Amusement Park? “ cuap Hyanggi. Kyungsoo melepas penyumbat telinganya dan membuka matanya.

“KARAGO! Jangan mengangguku bodoh! “ bentak Kyungsoo dengan tatapan mematikannya. Hyanggi menelan ludah dalam-dalam dan segera keluar dari mobil dengan hati yang was-was dan dag dig dug.

“Kyungsoo, kau tak boleh membentak dongsaengmu seperti itu..” nasihat Nyonya Kim kepada Kyungsoo.

“Mwoya Eomma? Dia itu berisik dan menjengkelkan lagipula dia bukan dongsaengku. Aku anak tunggal dan tidak punya dongsaeng. Eomma geunyang Ka! Jangan membuatku semakin marah! “ balas Kyungsoo kepada Nyonya Kim. Nyonya Kim hanya menghela nafas kecil, Ia sudah bisa memaklumi dengan tingkah laku Kyungsoo yang seperti itu.

“Baiklah, tunggu dimobil saja ne? “ seru Nyonya Kim dan turun dari mobil, meninggalkan sosok Kyungsoo sendirian diatas mobil.

oOoOo

Hyanggi bergelinjang senang, didepannya sekarang sudah terpampang jelas wahana yang  disukai dan digemari anak-anak. Senyuman merekah terpancar dibibir Hyanggi, sepanjang mata Hyanggi melihat, hanya ada satu kata yang ingin Hyanggi ucapkan yakni menakjubkan.

“Hyanggi, tunggu disini sebentar ne? Eomma ingin membelimu ice cream sebentar. Oh ya, jika Appamu sudah kembali dari kamar mandi, suruh saja Appa menunggu disini ne? “ ucap Nyonya Kim.

“Ne Eomma..” angguk Hyanggi cepat.

Hyanggi benar-benar mematuhi ucapan Nyonya Kim. Ia hanya berdiri ditempat yang disuruh Nyonya Kim hingga tiba-tiba saja ia menangkap sosok yang disukainya lewat didepannya.

“Badut! “ teriak Hyanggi dan melompat-lompat girang.

Badut yang dipanggil Hyanggi itupun hanya berlalu didepan Hyanggi dan sukses membuat Hyanggi sedikit kesal. Dengan sigap Hyanggi mengikuti langkah sang badut dari belakang dan Hyanggi tidak tahu ia semakin menjauh dari tempat yang disuruh Nyonya Kim untuk menunggu.

oOoOo

“eomma! Eomma! “ teriak Hyanggi keras dan menangis histeris. Sekarang Hyanggi dikerumuni oleh banyak orang yang tinggi-tinggi darinya. Hyanggi merasa terpojok dan takut dengan tatapan semua orang yang mengerumuninya.

“Eomma! Tolong aku! “ teriak Hyanggi dengan air mata yang terus mengalir dari kedua ujung matanya.

“Appa! “ isak Hyanggi. Bisikan-bisikan iba terdengar jelas ditelinga Hyanggi dan membuat tangisan Hyanggi semakin menjadi-jadi.

“Silyehamnida..silyehamnida..” ucap seseorang dan menerobos masuk dan kerumunan orang-orang yang ramai itu.

“Kajja..” orang yang menerobos masuk itupun langsung menarik tangan Hyanggi keluar dari kerumanan orang.

“Op..pa? “ ucap Hyanggi tersentak kaget saat melihat sosok Kyungsoolah yang menolongnya.

Plak!

Tamparan keras mendarat mulus dipipi Hyanggi saat Kyungsoo membawa Hyanggi ketempat sepi dan jauh dari keramaian. Hyanggi membulatkan matanya, ditatapnya Kyungsoo dengan tatapan tidak percaya.

“Apa kau sudah mengerti kenapa aku tidak mau kesini eoh? “ teriak Kyungsoo dengan lantangnya.

“……” Hyanggi hanya bungkam. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tidak pecah,  belum lagi rasa sakit yang teramat dipipinya.

Flashback End

Setelah kejadian itu, Hyanggi seolah-olah mendapatkan phobia atau ketakutan  baru setelah Claustrophobia. Dan semenjak itu juga, Hyanggi selalu menghindari segala sesuatu yang bisa membuat phobianya kambuh atau muncul dan berakibat bisa diketahui oleh orang-orang disekitarnya.

“Apa kau ingin pulang Hyanggi? “ tanya Joonmyun kepada Hyanggi. Hyanggi menatap Joonmyun dalam.

“Bolehkah Oppa? “ tanya Hyanggi balik.

“Tentu saja, demimu..” ucap Joonmyun dan mengulurkan tangannya yang langsung diterima Hyanggi dengan senyuman tipis.

Author Pov End

Hyanggi Pov

Kurasakan sebuah benda menusuk-nusuk permukaan wajahku, serta ada juga sesuatu yang menyumbat pernapasanku. Kubuka mataku perlahan dari tidurku.

“Eoh? Oppa..” gumamku pelan.

“Kita sudah sampai yeoja manis, kau tampak kelelehan..” celoteh Joonmyun Oppa. Aku tersenyum tipis. Sepertinya aku tadi tertidur saat diperjalanan menuju rumah.

“Gomawo Oppa..” cuapku dan membuka seatbelt yang melilit ditubuhku.

“Ne. Kajja.” Ajak Joonmyun Oppa. Aku hanya mengganguk pelan dan keluar dari mobil.

Kulihat mobil mewah milik Kyungsoo Oppa terparkir didepan rumah. Tunggu, bukankah Kyungsoo Oppa kuliah? Apa sudah pulang? Tapi ini masih jam 1 siang, tidak mungkin Kyungsoo Oppa sudah pulang.

CKLEK!

“Darimana saja kau Hyung? “ seru Kyungsoo Oppa saat aku baru saja membuka pintu. Wajah dingin Kyungsoo Oppa membuatku hanya mampu menelan ludah dan lebih memilih bersembunyi dibalik badan besar Joonmyun Oppa.

“Hanya jalan-jalan Kyungsoo. Kau mengagetkanku saja..” gerutu Joonmyun Oppa sembari tersenyum polos.

“Jalan-jalan dari mana? Kenapa tidak memberitahuku? “ celetuk Kyungsoo Oppa. Entah kenapa aku tersenyum tipis, aku senang mendengar ocehan-ocehan Kyungsoo Oppa yang seperti ini.

“Lotte World. Kau kan sibuk kuliah..” jawab Joonmyun Oppa.

“Mwo? Lotte world? Hyung! Neo micheosseo? “ amarah Kyungsoo Oppa yang tiba-tiba saja meledak.

“Dia agoraphobia Hyung, ia takut keramaian! Kenapa Hyung membawanya kesana? “ ujar Kyungsoo Oppa. Dari ucapannya terlihat jelas kalau Kyungsoo Oppa benar-benar marah saat ini.

“Kim Hyanggi! Kau baik-baik sajakan? “ tanya Kyungsoo Oppa kepadaku. Aku yang bersembunyi dibalik badan Joonmyun Oppa dengan ragunya berjalan kearah Kyungsoo Oppa.

“Gwenchanayo Oppa. Tidak usah cemas seperti itu..” seruku. Kyungsoo Oppa mendecakkan lidahnya seraya menatap Joonmyun Oppa tajam.

“Maafkan aku Kyungsoo-ya, jika aku tahu ia agoraphobia.. aku pasti tidak akan membawanya kesana. Mianhaeyo..” sesal Joonmyun Oppa.

“Oppa, geumanhae. Ini tidak salah Joonmyun Oppa, aku yang salah Oppa..” ujarku.

“Hah…” desah Kyungsoo Oppa pelan.

“Geundae Oppa, apa Oppa tahu tentang phobiaku ini? “ tanyaku sedikit ragu.

“Geurom, aku ini Oppamu. “ jawab Kyungsoo Oppa cepat.

“Geurae..” lenguhku pelan.

“Masuklah, aku akan membuatkan sesuatu yang bisa kita makan..” Aku mengangguk pelan dan menggandeng tangan Joonmyun Oppa, membawanya masuk kerumah.

“Gomawo Hyanggi-ah, kau sudah menyelamatkan Oppa dari Kyungsoo..” bisik Joonmyun Oppa.

“Ne Oppa..” sahutku sembari tersenyum sangat tipis.

oOoOo

Cheongdam Middle School, 07.30 KST

Kudongakkan kepalaku keatas, kutatap dengan ragu tulisan ‘Cheongdam Middle School’ yang tertera dipapan itu. Apa yang harus kulakukan hari ini? Apa situasi akan berubah menjadi lebih baik setelah aku meliburkan diri 2 hari ini? Atau akankah situasi menjadi lebih buruk dari kemarin ini?

Greep!

“Eoh? Mwoya igo? “ ujarku kaget saat seseorang tiba-tiba saja memelukku dari belakang.

“Welcome back uri Hyanggi..” suaranya sangat terdengar familiar ditelingaku. Dengan segera kubalikkan badanku menatap sosok yang memelukku. Dugaanku ternyata benar, Jeongminlah yang memelukku barusan. Kenapa ia memperlakukanku seperti ini? Aku tidak tahu harus berbuat apa jika ia seperti ini.

“Ng, kau kurusan Hyanggi..” ujar Jeongmin sembari menepuk pelan kepalaku.

“Bukankah itu bagus untuk seorang yeoja? “ jawabku membuat Jeongmin tersenyum kecil.

“Anio, bagiku kau akan terlihat cantik jika memiliki pipi chubby seperti kemarin ini. “ seru Jeongmin.

Blush!

Baiklah Kim Jeongmin, sepertinya kau memang benar-benar pintar membuatku terpana akan perkataanmu yang entah tulus dari hati entah tidak. Aku mengalihkan pandanganku kesisi lain, berharap Jeongmin tidak melihat gumpalan rona kemerahan dikedua belah pipiku. Tapi, sepertinya aku salah mengambil arah. Aku malah harus melihat sosok Chanhee dari kejauahan, ia menatapku lekat dan itu sukses membuatku semakin tak karuan.

“Jeongmin-ah, aku kekelas dulu..” pamitku dan berjalan meninggalkan Jeongmin.

“YA! Kenapa tidak sama-sama saja? Kita ini sekelas! “ teriak Jeongmin.

‘Ayolah Jeongmin, aku sedang ingin sendiri jadi jangan ganggu aku..’ batinku dan mempercepat langkahku.

Bruk!

“Akh! “ pekik seorang yeoja yang tanpa sengaja kutabrak.

‘Kim Hyanggi bodoh, apa yang sudah kau lakukan eoh? Lihat! ‘ gerutuku kesal dan mendekat kearah yeoja yang terjatuh itu.

“Saeronnie, kau baik-baik saja? Maafkan aku..” sesalku dan menarik tangannya agr segera bangun.

“YA! Sialan kau Hyanggi! Apa masih belum cukup eoh siksaan kemarin ini? “ teriak Saeron kepadaku.

“Mianhaeyo, akukan tidak sengaja..” belaku kepadanya. Cukup sudah aku menjadi carciannya selama ini, aku tidak ingin lagi terlihat lemah dimatanya.

“Heh, 2 hari dirumah kau sudah bisa melawan rupanya..” ejek Saeron. Aku meniup poni depanku, tanganku mengepal seketika. Jika diizinkan, aku ingin menonjok ataupun menyerang wajah jutek Saeron.

“Shikeuro! “ bentakku.

“Mworago? “ balas Saeron tak mau kalah.

“Kubilang diam babo! Jaga etikamu! “ sahutku dan mendorong badannya dengan keras.

“YA! “ teriak Saeron yang tak ku gubris sama sekali.

BAAM!

Kubanting dengan keras pintu kelasku membuat semua orang menatapku tajam kali ini. Aku hanya membalas tatapan tajam itu dengan senyuman tipis dan kecut.

“Hei Hyanggi, kau masih hidup? “ cerca seseorang pedas. Aku menatapnya sengit dan dengan mantapnya aku mengangguk, mengiyakan ucapannya.

“Geurom, memangnya kenapa jika aku masih hidup? Ingin membullyku lagu? Joha. Silahkan saja chigudeul..” entah setan darimana aku berbicara seperti itu. Walaupun aku sadar mereka semua benar-benar akan melakukan hal itu kepadaku, menyiksaku lebih dari yang kemarin dan mungkin jika bisa mereka pasti akan membullyku hingga aku mati.

oOoOo

Jam pelajaran pertamapun dimulai. Aku berpangku tangan dan menundukkan kepalaku seraya sesekali melirik kearah papan tulis.

“Hyanggi-ah..” bisik seseorang yang membuat konsentrasi belajarku buyar.

“Hm? “ cetusku kepada Jeongmin yang duduk disebelahku.

“Jika berbicara dengan seseorang itu, kau harus menatapnya..” komentar Jeongmin. Aku mendengus kesal dan meletakkan pena yang kugunakan keatas meja. Perlahan kutolehkan kepalaku kearah kiri, kearah dimana Jeongmin duduk.

Deg!

“Pikachu..” ucap Jeongmin dengan wajah menggemaskan dan diiringi dengan senyuman manisnya. Tidak hanya bibirnya yang tersenyum, matanya juga ikut tersenyum. Ya, Jeongmin memilik Eyes smile.

“Mwoya? “ rutukku kepadanya dan tersenyum kecut. Padahal didalam hati, aku senang melihat ada yang  mencoba menghiburku seperti ini.

“Kim Hyanggi! Kim Jeongmin! Keluar sekarang juga! “ teriak Lee Songsaenim didepan sana. Aku mengangguk pasrah dan dengan lunglainya aku berjalan keluar dari kelas. Aku patuh bukan? Sebenarnya aku hanya malas melawan Lee Songsaenim yang terkenal killer itu.

Aku keluar kelas diriingi dengan Jeongmin dibelakangku. Tujuanku jika diusir seperti ini hanyalah satu yakni Taman. Semakin lama berjalan aku semakin mempercepat jalanku begitu juga dengan Jeongmin yang terus mengekor dibelakangku.

“Aish! Kenapa mengikutiku seperti itu huh? “ celetukku kesal kepada Jeongmin.

“Aku hanya ingin bersamamu Hyanggi, lagipula aku diusir karena ulahmu..” balas Jeongmin.

“Apa kau bilang? Karenaku? Kau ingin batu itu melayang kekepalamu eoh? “ erangku sembari menunjuk batu dibawah sana.

“Ne? “ seru Jeongmin kaget. Aku tertawa geli ketika melihat wajah kaget sekaligus takutnya. Ah, kurasa ini adalah kali pertama bagiku tertawa saat ada di sekolah ini.

Jam pertama ini hingga jam istirahat ku habiskan waktu berdua bersama Jeongmin. Kami sibuk duduk dibawah pohon rindang yang ada ditaman sambil sesekali tertawa geli.

“Hyanggi-ah, kau ingin apa? Biar aku yang membeli..” tanya Jeongmin. Dahiku mengernyit, aku tengah memikirkan minuman dan makanan apa yang ingin kutitip kepada Jeongmin.

“Bubble Tea saja. “ jawabku setelah lama berpikir.

“Baiklah, tunggu saja disini. Aku tak akan lama..” ujar Jeongmin yang sudah mulai berjalan menjauh dariku.

“Ne..” sahutku dan tersenyum kecil.

Hyanggi Pov End

Author Pov

Sudah hampir 15 menit lamanya Hyanggi menunggu sosok Jeongmin, tapi apa yang didapat Hyanggi?  Hanya kebosanan dan kejenuhan karena menunggu Jeongmin yang tak kunjung-kunjung datang.

“Ck, dimana dia? “ decak Hyanggi sedikit kesal.

“Jeogi, Jeongmin menyuruhku untuk mengatakan bahwa Ia menunggumu dikolam berenang..” tegur seseorang sembari memukul pelan lengan Hyanggi.

“Jeongmin? Ah, Gomawoyo..” seru Hyanggi dan membungkuk sopan.

“Cheonman..” balas yeoja yang mengatakan hal itu kepada Hyanggi.

Tanpa ragu lagi, Hyanggi berjalan menuju Kolam Berenang yang ada dikawasan sekolahnya karena Jeongmin tengah menunggunya disitu. Rasa kesal dan jenuh yang tadi melanda Hyanggi pudar begitu saja.

“Jeongmin-ah?  “ teriak Hyanggi dan menatap seluruh sudut kolam berenang.

“Mwoya? Dimana Jeongmin? “ rutuk Hyanggi dan semakin mendekati kolam berenang.

BRUUK                !

“Kyaaa….” Teriak Hyanggi saat seseorang mendorongnya kedalam kolam renang. Hyanggi meronta-ronta meminta tolong sedangkan yang mendorongnya langsung lari pontang-panting dan tidak mau menolong Hyanggi.

“Tolong aku! Aku tidak bisa bere…” ujar Hyanggi yang terputus saat badannya tenggelam kedalam kolam yang dalam itu.

“To..loong…” lirih Hyanggi dengan lafal yang kacau karena badannya yang tenggelam itu.

Byuuur!

Sesosok namja yang tak lain adalah Jeongmin segera meloncat masuk kedalam Kolam renang, menolong sosok Hyanggi yang mungkin hampir mati. Ya, tadi saat Jeongmin akan kembali ketempat ia meninggalkan Hyanggi, ia sempat melihat sosok Hyanggi berjalan menuju Kolam Renang. Tapi sayangnya, Jeongmin tidak tahu siapa yang mendorong Hyanggi.

Secepat mungkin Jeongmin menarik badan Hyanggi keluar dari kolam yang dalam itu. Wajah Hyanggi sedikit sendu akibat terlalu lama tenggelam didalam air dan syukurnya ia tak jatuh pingsan. Jeongmin mengangkat tubuh Hyanggi dan mendudukkannya ditepi Kolam Renang. Kemudian Jeongmin mengambil handuk yang tak jauh dari posisinya dan juga Hyanggi.

“Gwenchanayo? “ tanya Jeongmin cemas. Hyanggi mengangguk pelan sembari menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan.

“Kau yakin Hyanggi? “ tanya Jeongmin lagi. Hyanggi lagi-lagi menganggukan kepalanya, terlalu berat bagi Hyanggi mengucapkan sepatah katapun saat itu.

“Siapa yang melakukan itu eoh? Apa kau tahu orangnya? “ celoteh Jeongmin.

“Molla..” geleng Hyanggi cepat. Jeongmin mendesah pelan seraya tangannya sibuk mengeringkan rambut Hyanggi yang basah kuyup akibat ulah orang-orang yang menurut Jeongmin kurang ajar.

“Mianhaeyo..” lenguh Jeongmin pelan.

“Untuk apa? “ seru Hyanggi dan menatap lekat Jeongmin.

“Mianhae karena tidak bisa menjagamu dengan baik..” jawab Jeongmin. Hyanggi menggelengkan kepalanya berulang kali, ia tak suka saat mendengar Jeongmin mengucapkan itu kepadanya.

“Anio, aku bahkan tidak memintamu untuk menjagaku..” elak Hyanggi.

“Tapi hatiku berkata harus menjagamu..” sahut Jeongmin yang membuat Hyanggi mengatupkan mulutnya. Hyanggi menoleh kekiri, didapatinya sosok Chanhee yang tengah menatapnya iba dan juga lekat seperti tadi.

“Kau pasti sangat takut Hyanggi..” komentar Jeongmin.

“Huh? N..ne..” lenguh Hyanggi pelan dan kembali memfokuskan dirinya kepada Jeongmin.

oOoOo

“Sial, perasaan apa ini? Kenapa dadaku berkecamuk sakit saat melihat Hyanggi ditolong Jeongmin? Aish, kenapa tadi aku tidak bisa berlari kencang dan melompat kekolam agar bisa menyelamatkan Hyanggi? “ gerutu Chanhee dan berjalan dengan tampang sedikit lesu.

Chanhee terus berjalan meninggalkan lokasi Kolam Renang dan tanpa ia sengaja, ia melihat sosok Saeron yang ia yakini adalah pemicu dan biang kerok dari tenggelamnya Hyanggi tadi.

Flashback

Chanhee yang baru saja akan keluar dari kelas tiba-tiba saja dikerumuni oleh beberapa teman sekelasnya yang dipimpin oleh Saeron. Chanhee menatap Saeron dengan datar dan mencoba menyingkirikan Saeron dari hadapannya.

“Pigyeo..” seru Chanhee ketus dan singkat.

“Chanhee-ya, kau akan membully Hyanggi lagi kan? “ tanya Saeron antusias.

“Siapa bilang? Aku sudah lelah membullynya, biarkan ia bernafas lega..” cetus Chanhee dingin.

“Wae? Bukankah kau selalu ingin membullynya? “ rengek Saeron manja dan sekarang tangannya sudah terlilit manja ditangan Chanhee.

“Ah Mwoya? Sekarang sudah tidak lagi. Aku lelah..” seru Chanhee dan mencoba menyingkirkan tangan Saeron dari lengannya.

“Ayolah..” rengek Saeron lagi.

“YA! Kubilang tidak berarti tidak. Kau tak mengerti? “ bentak Chanhee yang sukses membuat Saeron ternganga sejenak.

“Kenapa kau berubah Chanhee-ya? Kau tidak lagi Chanhee yang kukenal, yang selalu mau menjahili semua orang. Ada apa denganmu? Apa alasanmu berubah eoh? “ tanya Saeron bertubi-tubi.

“Alasan aku berubah? Aku ingin mematuhi ucapan Orang Tuaku, aku ingin membuat Noonaku tidak lagi bersedih dan makan hati akibat ulahku dan terakhir aku tidak ingin menyakiti yeoja yang..” Chanhee menggantungkan kalimatnya saat ia sadari perkataannya sudah mulai mengawur.

“Yeoja yang apa? “ cuap Saeron penasaran.

“Minggir! Aku ingin lewat.” Ketus Chanhee dan mendorong badan Saeron ketepi.

Flashback End

Chanhee menghentikan langkahnya saat mendengar suara gaduh beberapa orang yeoja yang ia yakini adalah suara gaduh Saeron. Tangan Chanhee tiba-tiba saja mengepal.

“Kim Saeron! “ teriak Chanhee yang membuat yeoja-yeoja itu terdiam. Saeron yang dipanggilpun langsung memandang Chanhee kaget.

“Waeyo Chanhee-ya? “ tanya Saeron polos seperti tidak melakukan kejahatan apapun.

“Jika sekali lagi kau membully Hyanggi, kau akan berurusan denganku. Ingat itu! “ ancam Chanhee dan pergi begitu saja setelah melepas amarahnya kepada Saeron.

“Heh..” sinis Saeron. Teman-teman Saeron langsung mencoba menenangkan Saeron yang mulai terlihat kalang kabut ingin menangis.

oOoOo

Chanhee dengan lincahnya melambungkan bola basket yang ada ditangannya. Chanhee sekarang tengah menenangkan hatinya dengan cara bermain bola basket dilapangan sekolah. Sepi? Tentu saja tidak, banyak siswa-siswi yang melihat permainan Chanhee.

“YA! Kang Chanhee! “ teriak seseorang yang tidak diacuhkan Chanhee.

Buugh!

“Mwoya? “ bentak Chanhee yang sedikit oleh akibat pukulang Jeongmin dipunggungnya.

“Seharusnya aku yang bertanya, apa-apaan kau hah? Kenapa kau masih membully Hyanggi? “ erang Jeongmin yang berancang-ancang akan memukul wajah tampan Chanhee. Hyanggi yang tak jauh dari Jeongmin dan Chanhee hanya bisa diam tak berkutik.

“Naega? Kapan? Jangan asal bicara! “ balas Chanhee dengan suara yang ditinggikan.

“Brengsek kau! “ teriak Jeongmin.

Buugh!

Badan Chanhee tersungkur kebelekang. Disudut bibirnya muncul cairan bewarna merah. Hyanggi menyekap mulutnya sendiri, ini kali pertama baginya melihat Jeongmin begitu marah apalagi terhadap Chanhee.

“Masih mau mengelak? “ cetus Jeongmin. Chanhee tersenyum kecut dan menatap Hyanggi yang sekarang sudah mulai mendekati Jeongmin, mencoba menenangkan Jeongmin yang sudah mulai kehilangan kendali. Bagaimana tidak hilang kendali jika yeoja yang disukainya disakit habis-habisan oleh orang-orang biadab dan tak berperasaan.

“Ne. Aku tidak melakukan hal bodoh itu, kau percaya kepadakukan Hyanggi? “ ujar Chanhee bertanya kepada Hyanggi. Hyanggi terpaku, matanya menatap dalam mata Chanhee. Hyanggi mencoba mencari kepastian ucapan Chanhee dari mata Chanhee.

Kini, ditenga-tengah lapangan basket yang luas itu. Semua orang menatap Chanhee, Hyanggi dan Jeongmin. Semua orang seolah-olah bertanya-tanya bagaimana dengan akhir kisah yang mengenaskan itu.

“Jangan berceloteh lagi bodoh! “ teriak Jeongmin dan bersiap-siap akan melayangkan pukulannya lagi kepada Chanhee.

“Andhwae! “ Hyanggi berteriak keras sembari melindungi sosok Chanhee dibelakang badannya. Mata Hyanggi tertutup rapat, kepalan tangan Jeongmin berhenti begitu saja diawang-awang saat melihat Hyanggi yang melindungi Chanhee.

“Aku..aku..percaya kepadanya..” lenguh Hyanggi yang sukses membuat mata Jeongmin terbelalak seketika.

“Mwo? “ ulang Jeongmin tak percaya.

“Aku percaya kepadanya. Ia tak salah dan ia bukan pelakunya Jeongmin. Kumohon berhentilah! “ seru Hyanggi. Bahkan sekarang, wajah manis Hyanggi sudah basah akibat jatuhnya air mata Hyanggi.

“Jebal..” mohon Hyanggi dan bangkit dari posisinya tadi. Hyanggi berjalan dengan tertatih-tatih menuju kelasnya, ia ingin pulang. Pulang ke Ilsan, bukan ketempat Kyungsoo.

“Hyanggi..” lirih Jeongmin dan menatap Hyanggi yang sudah mulai menjauh.

oOoOo

Hyanggi berangsut pergi dari sekolahnya, ia ingin pulang dulu ke rumah Kyungsoo dan mengambil beberapa barang yang bisa ia bawa ke Ilsan. Tangisan Hyanggi sedari tadi tak kunjung henti-henti, bahkan semakin lama ia menangis tangisannya semakain menjadi-jadi.

Mungkin banyak yang akan bertanya-tanya kenapa Hyanggi menangis dan kenapa Hyanggi ingin pergi ke Ilsan. Pertama, Hyanggi merasa lelah dan letih dengan siksaan-siksaan teman satu sekolah. Ia sudah merasa cukup puas dijamahi dengan siksaan seperti itu. Kedua, Hyanggi seolah merasa menjadi pembawa sial. Karena ia, Jeongmin dan Chanhee bertengkar hebat. Ia merasa ialah menjadi pemicu dari segala hal yang dilakukan teman sekelasnya. Dan yang terakhir, ia tak sanggup lagi ada di Seoul hidup bersama Oppanya yang entah menyayanginya entah tidak.

Hyanggi duduk dibangku bus paling belakang. Matanya menerawang keluar jendela, burung-burung yang biasanya menari ceria tak tampak dimata Hyanggi dan sekarang awan biru sudah berubah menjadi awan gelap dan hitam.

“Sebentar lagi pasti hujan..” komentar Hyanggi dengan suara serak. Hyanggi menyentuh rambutnya dan juga pakaiannya.

“Masih basah..” seru Hyanggi lagi. Hyanggi menghirup udara banyak-banyak, ujung hidungnya sedikit merah akibat menangis ditambah dengan mata yang sembab dan suara serak.

Hyanggi turun dari bus yang mengantarnya ke rumah Kyungsoo. Sejenak, ia terdiam didepan rumah Kyungsoo. Matanya menatap setiap sudut rumah Kyungsoo, ia pasti akan sangat merindukan rumah ini. Rumah yang sudah memberinya kesan buruk dan juga baik walaupun baru seminggu lebih.

“Eomma.. Appa…” isak Hyanggi.

“Mianhaeyo, aku tak bisa berlama-lama disini..” sambung Hyanggi dan berlari menuju kerumah Kyungsoo. Dengan cepat dan sigap ia mengganti baju dan memasukkan beberapa helai pakaian kedalam tas ranselnya.

“Hiks..” Tangan Hyanggi yang akan memasukkan baju terakhirpun bergemetar hebat, Hyanggi duduk diatas ranjangnya dan memukul-mukul dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.

“Oppa…” isak Hyanggi yang semakin menjadi-jadi. 5 menit lamanya Hyanggi mencoba menenangkan dirinya hingga ia sudah berangsung membaik. Hyanggi keluar dari rumah Kyungsoo. Langkahnya masih terasa berat untuk pergi tapi keputusannya sudah benar-benar bulat dan padat serta tidak bisa ditunda lagi-lagi. Pintu rumah Kyungsoo dibiarkan terbuka begitu saja.

Hyanggi berjalan dengan kepala yang ditundukkan menuju Halte yang tidak lumayan jauh dari rumah Kyungsoo. Hyanggi akan menunggu bus jurusan Ilsan disana.

Setengah jam selang Hyanggi pergi, mobil mewah dan familiar terparkir indah didepan rumah Kyungsoo. Sesosok namja berkulit hitam turun dari mobil itu. Ditangannya sudah ada kantung plastik bewarna putih yang berisi makanan yang diperuntukkan untuk Hyanggi saat Hyanggi pulang sekolah nanti.

“Eoh? “ Jongin mengernyitkan dahinya bingung saat melihat pintu Rumah Kyungsoo terbuka lebar.

“Dia sudah pulang? Ini baru jam 12. Bukankah ia pulang sekitaran jam 1? “ tanda tanya memenuhi otak Jongin saat ini.

Jongin memasuki rumah Kyungsoo dengan wajah heran dan bingung. Ditatapnya keseluruh ruangan, tak ada yang aneh hingga Jongin memasuki kamar Hyanggi. Kamar Hyanggi yang biasanya tertata rapi dan baik sekarang tampak kumuh dengan baju dan barang-barang Hyanggi yang berserakan dimana-mana. Lemari pakaian Hyanggi juga terbuka lebar.

“Mwoya? Tidak mungkin…” gumam Jongin pelan dengan wajah yang kaget. Dengan segera ia merogoh ponselnya yang ada dikantung celana jeansnya. Ia harus menelfon Kyungsoo dan melaporkan perihal ini.

“Ayolah Hyung, angkat telfonku ini..” gerutu Jongin dengan wajah kusut sekaligus kalang kabut.

“Hm? “ Akhirnya Kyungsoo menjawab panggilan Jongin dengan deheman singkat yang semakin membuat amarah Jongin membuncah.

“Hyung..” lenguh Jongin pelan.

“Hm? “ dehem Kyungsoo lagi.

“Hyung…” lenguh Jongin lagi dengan suara yang lebih pelan.

“Mwol? “ cetus Kyungsoo.

“Hyanggi Hyung..” ucap Jongin ragu.

“Hyanggi wae? “ tanya Kyungsoo yang masih terdengar biasa-biasa saja.

“Ia kabur Hyung, lemari pakaiannya terbuka dan isinya berserakan dimana-mana. Tadi saat aku baru sampai dirumah, pintu rumahmu terbuka lebar Hyung…” ujar Jongin.

“Ne? Jongin-ah, pasti dia masih berada disekitar rumah. Cepat cari ia. Aku akan segera menyusulmu bersama dengan Joonmyun Hyung..Biip!” Kyungsoo mengakhiri panggilan Jongin. Jongin kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.

“Hyanggi-ah, kau dimana? Kenapa kau suka sekali membuat ketiga Oppamu mati cemas? “ rutuk Jongin dan mencampakkan kantung plastik yang dipegangnya ketas ranjang Hyanggi.

Author Pov End

-TBC-

 Note : Oke. Maaf kalau typo(s) dimana-mana. Maaf kalau ceritanya gaje dan maaf atas segala-galanya. Ini udah diujung cerita loh. Next chapter adalah chapter terakhir. Hehe, bagaimanakah nasih Kyungsoo dan Hyanggi? Akankah Hyanggi kembali lagi ke Seoul atau tetap bertahan di Ilsan? Bagaimanakah dengan kisah cinta antara Jeongmin, Hyanggi dan Chanhee. Siapakah yang akan dipilih Hyanggi? Silahkan kembangkan pikiran masing-masing.  Terakhir, part ini masih kurang panjangkah? x)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s