[FF Freelance] Bloody School (Chapter 3)

bloodyschoolcvrTitle : Bloody School (Chapter 3)

Author : DkJung (@diani3007)

Cast :

X [Miss A] Bae Sooji

X [F(x)] Jung Soojung

X [15&] Baek Yerin

X [JJ Project] Im Jaebum

X [A Pink] Oh Hayoung

X [B.A.P] Choi Junhong

X [EXO-K] Oh Sehun

X [F(x)] Choi Jinri

Other Cast :

X [JJ Project] Park Jinyoung

X [15&] Park Jimin

X [SNSD] Kim Taeyeon

X [2PM] Jang Wooyoung

X [Infinite] Kim Myungsoo

Genre : thriller, strictness, murder, horror, a little bit romance

Rated : PG 15

Length : Chaptered

Disclaimer : terinspirasi dari novel ‘Bleeding Survivor’

Previous : Chapter 1, Chapter 2,

Summary :

Menjadi korban bullying di sekolah memang tidak enak, sangat. Itulah yang dialami yeoja malang, Bae Sooji. Hanya karena melakukan kesalahan yang seharusnya bisa diangggap wajar, teman-temannya tega membullynya habis-habisan dengan cara yang tidak wajar. Mereka tidak pernah tahu, kalau perbuatan mereka, akan ada balasannya. Mungkinkah, kematian? Apakah dengan cara yang wajar juga?

Summary for Chapter 3 :

“Kau lihat sendiri, kan? Kalau kalian belum merasakan apa yang aku rasakan, kalian tidak sebanding denganku.”

 

 

“Chapter 3”

“AAAAAAAAAAAAAA!”

Yerin menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya setelah berteriak. Onggokan mayat Hayoung kini tergeletak di hadapannya.

Wae gurae?” Tanya Jaebum yang baru datang. Yerin tidak menjawab. Karena melihat Yerin yang diam, perlahan Jaebum melihat ke arah pandangan Yerin. Jaebum mendur selangkah dengan kaki yang bergetar. “Igenugu? Seolma…”

Keurae, ini Oh Hayoung,” ucap Yerin yang masih menatap kosong ke depan.

Mwoya ige?!” pekik Jaebum mendengar jawaban Yerin.

Jaebum terdiam agak lama, setelah itu, dia memutuskan untuk pergi ke kelas 3-3.

BRAKK

Sooji yang sedang duduk sendirian di kelasnya itu menatap Jaebum dengan dingin. Jaebum menghampiri bangku Sooji lalu memukul mejanya keras. “YA! BAE SOOJI!”

Mwoya?” tanya Sooji yang nampak tidak suka dengan kehadiran Jaebum.

“Pasti ini semua perbuatanmu!”

“Perbuatan apa? Apa yang kau bicarakan?”

“Tidak usah berpura-pura polos, Sooji-ya, aku tahu semuanya!”

“Tahu apa?”

“Kau… yang telah membunuh mereka, kan?”

Sooji tahu siapa yang Jaebum maksud. Sooji menggeleng.

Maldo andwae! Pasti kau pembunuhnya! Kau menyimpan dendam pada kami, huh? Jawab!”

“Kenapa kau begitu bersikeras bahwa aku pembunuhnya? Apa kau punya bukti?”

Jaebum diam saja. Nafasnya kini mulai beraturan. Jaebum memejamkan matanya sambil mengendus kesal. Sial, aku memang tidak punya bukti! Batinnya.

“…”

Yerin berjalan pelan memasuki kelasnya. Pikirannya sangat kacau setelah melihat sahabatnya mati dengan keadaan yang amat mengenaskan. Sesampainya di kelas, dia melihat Jimin dan beberapa temannya nampak sedang berkerubung. Entah apa yang mereka kerubungi. Yang jelas, Soojung ada di sana, dan dia diam saja di bangkunya, tidak ikut bergabung dengan yang lain. Yerin menatap Soojung agak lama, hingga Soojung membalas tatapannya dengan sinis. Yerin segera mengalihkan pandangannya lalu duduk di bangkunya yang berada di sebelah Soojung. Setelah menaruh tas, Yerin menghampiri Jimin.

“Kau sedang melihat ap–“

Yerin terpaku. Dia tidak jadi melanjutkan kalimat pertanyaannya itu pada Jimin karena dia sudah menemukan jawabannya. Jawabannya ada di depan matanya. Mayat Jinri dengan perutnya yang bolong. Yerin tak kuasa lagi menahan air matanya. Pertama Hayoung, dan sekarang Jinri. lalu siapa lagi? Tidak. Jangan sampai ada kata ‘lagi’. Ini sudah lebih dari cukup. Yerin tidak ingin salah satu dari sahabatnya mati dengan mengenaskan lagi seperti Hayoung dan Jinri. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?” gumam Yerin.

Kajja, Yerin-ah! Kita harus melaporkan ini kepada kepala sekolah!” seru Jimin.

“…”

Tangisan orang tua Jinri dan Hayoung terdengar sangat nyaring di halaman depan sekolah. Apalagi ketika mobil ambulan datang menjemput mayat Jinri dan Hayoung.

“Hhuuaaaa… bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang tega membunuh anakku?” ucap ibu Hayoung yang masih menangis di pelukan suaminya. Begitupun ibu dari Jinri.

Sooji hanya menatap kosong pemandangan itu dari jendela ruang kelasnya yang berada di lantai dua. Tiba-tiba, kehadiran sosok Soojung menyadarkan lamunannya.

“Apa yang kau rasakan saat ini?”

“Takut.”

Mwo? Takut apa?”

“Mereka mencurigaiku.”

Soojung tertawa meremehkan. “Kau takut karena itu? Memangnya mereka punya bukti?” Sooji menggeleng. “Dengar ya, kalaupun mereka mencoba untuk menyelidiki kasus ini, mereka tidak akan bisa menemukan pelakunya. Di pisau yang menancap pada tubuh Jinri dan Hayoung itu sama sekali bersih dari sidik jari manusia.”

Keurom, bagaimana dengan CCTV?”

“Kau lupa? Walaupun penampilanku sudah seperti manusia, aku tetap saja hantu. Bayanganku tidak akan tertangkap kamera apapun.”

Sooji hanya mengangguk pelan. Dia cukup lega mendengar ucap Soojung. Tapi dia tetap saja takut pada Yerin ataupun Jaebum yang tiba-tiba berbuat jahat padanya karena insiden ini.

“…”

Sonsaengnim memanggilku?” tanya Sooji ketika masuk ke ruang guru dan menghampiri meja guru Kim. Guru bernama lengkap Kim Taeyeon itu hanya mengangguk lalu mempersilakan Sooji untuk duduk di kursi di hadapannya.

“Dua orang temanmu baru saja pergi,” Taeyeon mengawali pembicaraan. Sooji hanya mengangguk.

“Apa kau tahu sesuatu?”

Nde?

Aniyo, maksudku… apa kau menyaksikan pembunuhan itu?”

Aniyo, aku sama sekali tidak tahu tentang pembunuhan itu,” jawab Sooji bohong.

Keuraeyo? Aku baru saja mendapat laporan dari murid-murid kelas 3-1. Mereka semua bilang, kau pembunuhnya.”

Sooji menggigit bibir bawahnya. “­Saem, apa kau percaya perkataan mereka? Mereka bahkan tidak punya bukti! Bagaimana bisa mereka berkata seperti itu? Apa mereka melihat orang yang melakukannya?” Sooji mendadak panik.

“Tentu saja aku tidak percaya begitu saja. Kau benar, memang harus ada bukti. Keunde,” Taeyeon menatap Sooji penuh selidik. “Benar bukan kau pembunuhnya?”

Sooji menelan ludahnya. Dia lalu menggelengkan kepalanya.

“…”

Eottokhe, Jang sonsaengnim?” tanya Taeyeon begitu melihat guru Jang Wooyoung keluar dari ruangan pengawas CCTV.

Eobseo, kamera CCTV tidak menangkap gambar si pelaku. Aku justru curiga sekolah ini berhantu.”

“Memangnya kenapa?”

“Di dalam CCTV, pisau-pisau itu bergerak sendiri dan menancap sendiri di tubuh Jinri dan Hayoung. Tidak ada orang lain di sana, selain mereka berdua.”

Maldo andwae!

Keurae, aku tahu ini memang tidak masuk akal. Bagaimana jika kau periksa juga, Kim sonsaengnim?

“…”

Ya, Jung Soojung!” panggil Yerin. Soojung menoleh ke sebelah kiri tanpa membalas panggilan Yerin.

“Kau tidak berduka?”

“Karena?”

“Jinri dan Hayoung baru saja meninggal! Mereka teman sekelasmu, apa kau tidak merasa iba sedikitpun?”

“Kenapa aku harus iba? Memangnya apa yang sudah mereka lakukan padaku hingga aku harus peduli pada mereka? Mereka hanya seonggok daging yang tidak berguna, sama seperti dirimu.”

Mworagu? Ya! Kau pikir kau sehebat apa, huh? Berani-beraninya kau merendahkanku seperti itu!”

“Kehebatanku? Kau tidak tahu?”

Soojung pun menoleh ke sebelah kanan. Hanya satu detik, Soojung pun kembali menolah ke sebelah kiri, ke arah Yerin dengan keadaan wajahnya yang pucat dan kepala yang bolong lalu menyeringai. Sontak Yerin kaget dan berteriak. “AAAAAAAAAA!!!! NEO MWOYA?!

Seisi kelas pun menatap Yerin dan Soojung. Namun, tidak terlihat ada yang aneh selain Yerin yang berteriak. Di mata mereka, wajah Soojung biasa saja. “Ini semua perbuatan kakakmu, bodoh,” gumam Soojung.

“Yerin-ah, kau kenapa?” tanya Jimin.

“Wajahnya! Kepalanya bolong dan penuh darah!” teriak Yerin.

Ya, jangan mengada-ngada! Kau ini bicara apa? Wajahnya baik-baik saja!” ucap Junhong.

Yerin hanya bisa terdiam mendengar ucapan teman-temannya. Apa matanya salah lihat? Jelas-jelas dia melihat kepala Soojung yang penuh darah. Dia sangat yakin itu.

“Kau lihat sendiri, kan? Kalau kalian belum merasakan apa yang aku rasakan, kalian tidak sebanding denganku.”

Apa maksudnya?

“…”

Hari ini, seluruh murid Hwayeon high school dan guru-guru dikumpulkan di lapangan untuk membahas insiden meninggalnya sua orang murid, Hayoung dan Jinri.

“Anak-anak semuanya, seperti yang sudah kita ketahui, hari ini ada berita duka,” ucap kepala sekolah yang berdiri di depan microphone.

“Oh Hayoung dan Choi Jinri, teman kalian sekaligus murid Hwayeon high school ditemukan sudah tak bernyawa tadi pagi dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Saya sebagai kepala sekolah pun merasa sangat kaget karena ini pertama kalinya terjadi di sekolah kita.”

“Huh, gotjimal! Pertema kali katanya? Mereka selama ini tidak pernah tahu aku terkurung di kamar mandi, keterlaluan,” gumam Soojung setelah mendengar ucapan kepala sekolah yang jelas-jelas berbohong.

“Pihak keamanan sekolah juga sudah mengecek CCTV. Dan kenyataannya, wajah dan bahkan tubuh si pembunuh tidak terekam kamera. Benda-benda tajam itu menancap sendiri di tubuh Hayoung dan Jinri, seperti melayang. walaupun kedengarannya tidak masuk akal, tetapi sepertinya sekolah kita berhantu.”

Suasana lapangan langsung berubah menjadi ribut. Beberapa murid mulai menyoraki kepala sekolah. Mana mungkin ada hantu? Namun, di tengah keramaian itu, Yerin hanya terdiam. Pernyataan kepala sekolah tidak sepenuhnya salah baginya. Perlahan, dia mulai melirik ke arah Soojung yang berdiri tak jauh di depannya. “Hantu?”

“…”

Jaebum, Junhong, dan Sehun sedang sibuk berdiskusi di meja kantin. Mereka masih tidak menyangka atas kematian Hayoung dan Jinri yang secara tiba-tiba dan tidak diduga itu.

“Kau masih bersikeras Sooji pelakunya, Jaebum-ah? Bukankah kepala sekolah sudah bilang ini karena hantu?” tanya Sehun.

“Tentu saja! Memangnya kau percaya pada kepala sekolah yang mengatakan kalau sekolah ini berhantu? Maldo andwae! Itu semua hanya omong kosong. Kalau bukan dia siapa lagi? Dan aku yakin, dia pasti ingin balas dendam pada kita!”

Keunde, kita kan tidak punya bukti apa-apa,” ucap Junhong.

“Kita bisa mendapatkan buktinya dari orang yang bersangkutan secara langsung,” ujar Jaebum lalu menyeringai.

“Maksudmu?” tanya Junhong.

“Ayo kita buat Sooji mengaku!”

“…”

Sooji menyusuri koridor menuju pintu keluar utama sekolahnya. Sekolah sudah sepi karena memang sudah sore. Sooji menghentikan langkahnya sejenak. Dia menoleh ke segala arah, takut-takut ada yang ingin menjebaknya atau semacamnya. Sooji menghela nafas pelan. Setelah dirasa aman, ia kembali melanjutkan langkahnya. Namun, ketika dia hampir mencapai pintu, sebuah tangan menahan kakinya hingga ia tersandung. Sooji melihat lututnya yang agak lecet. Dia lalu berdecak kesal.

“Aku sudah bosan, jangan ganggu aku!” teriak Sooji.

Tapi teriakannya itu tidak berarti. Tangan-tangan yang lainnya mulai mengikat tangan kaki Sooji dan juga membungkam mulut Sooji hingga ia sulit berteriak.

“…”

Dalam satu detik, lampu gudang itu menyala.

“Apa tidurmu nyenyak, Bae Sooji?” tanya Jaebum seraya mengambil kursi untuk duduk di hadapan Sooji yang sedang ia sekap sekarang dengan mulut yang ditutup lakban. Tentu saja dia tidak akan bisa menjawab. Dengan kasar, Jaebum membuka lakban itu hingga membuat Sooji meringis dan meninggalkan bekas merah di kulitnya.

“Mengakulah sekarang!” bentak Jaebum.

“Mengaku apa?”

“Kau yang membunuhnya, kan?”

Sooji diam saja. Dia melihat dua orang namja lain di belakang Jaebum, Junhong dan Sehun.

“Sudah kubilang tidak!”

“Kau bohong! Apa kami perlu berbuat kasar dulu baru kau akan mengaku?”

Sooji mencibir. “Kalian semua brengsek!”

Jaebum bangkit lalu menampar keras pipi Sooji hingga ujung bibirnya sedikit berdarah. Sooji kembali meringis.

“Masih tidak mau mengaku? Apa masih kurang?”

“Kenapa aku harus mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan?”

“Kau melakukannya!”

Aniya!”

Gotjimal, tidak mungkin ada orang lain yang membunuh mereka selain kau!” kini Junhong yang berbicara.

“Memangnya apa alasanku membunuh mereka? Kenapa aku harus membunuh mereka?”

“Karena kau ingin balas dendam atas sikap kami, kan?” tanya Junhong.

“Kalau kalian sudah tahu alasannya, kenapa kalian tidak berubah? Kenapa kalian masih bersikap seperti ini padaku? Kalian tidak takut mati?” pertanyaan Sooji sukses membuat ketiganya terdiam.

“Huh, jadi benar kau pelakunya?” tanya Jaebum.

“Sudah kubilang bukan!”

“Dari cara bicaramu itu, kelihatan sekali kalau kau pembunuhnya!”

Jinjja aniya!”

SET

Lampu gudang tiba-tiba mati. “Ya, apa-apaan ini?!” teriak Jaebum. Dia mulai merogoh saku lalu mengambil kunci gudang kemudian membukanya. Sesampainya di luar, tidak ada siapapun di sana. Saklar lampu gudang memang berada di luar. Tetapi siapa yang mematikan lampunya? Jaebum berjalan beberapa langkah menjauhi pintu gudang diikuti oleh Sehun. Mereka berdua sibuk mencari siapa yang mematikan lampu. Sementara Junhong masih di dalam mengawasi Sooji.

Di ambang pintu, berdirilah Soojung dengan kedua tangannya yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

“Soojung-ssi?”

Junhong yang bingung dengan kehadiran Soojung hanya bisa mengerutkan alis. Berbeda dengan Sooji yang kini sibuk mengatur nafasnya yang mendadak sesak. Dia tahu, Soojung akan mengabulkan permintaannya yang belum terselesaikan.

“Kenapa kau menyanderanya?” tanya Soojung dingin.

“Ah, keuge… ah! Kau tidak perlu tahu!” balas Junhong.

Keuraeyo? Jadi kau tidak akan memberi tahuku? Keurom, di mana Jaebum dan Sehun?”

“Mereka… b-bagaimana kau bisa tahu aku bersama mereka? Apa yang tadi mematikan lampu itu kau?”

Soojung hanya mengangguk pelan.

“Woaah! Apa masalahmu? Kau mau cari ribut denganku? Kami sedang menyelesaikan masalah kami dank au malah menggangu!”

“Masalah apa?”

“Sudah kubilang kau tidak perlu–“

“Hayoung dan Jinri?”

Mwo?

“Kalian pasti sedang mencari tahu siapa pembunuhnya, kan?”

Junhong terdiam. “Aku benar kan?” tanya Soojung lagi.

“Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau menguping dari luar?”

“Huh, tanpa menguping pun aku sudah tahu!”

“Apa maksudmu?”

“Kau pasti penasaran siapa pembunuhnya, bukan?”

“Katakan saja apa  maksudmu ke sini!”

“Aku orangnya.”

Mworagu?

“Kau berhasil menemukannya. Akulah yang membunuh mereka.”

Maldo andwae! Kenapa aku harus percaya padamu? Omong kosong!”

“Aku tidak sedang bercanda dan aku bisa membuktikannya padamu.”

Soojung berjalan pelan mendekati Junhong yang masih terpaku ketika Soojung mulai mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari dalam saku jas seragamnya. “Aku bisa merobek nadimu sekarang juga kalau kau mau bukti.”

“Omong kosong! Memangnya kau berani?”

“Kenapa aku harus takut dengan manusia?”

Seketika, wajah Soojung kembali berubah menjadi penuh darah dan lubang di kepalanya.

“Kau… b-bukan manusia?”

“Wah, kau pintar sekali! Tebakanmu benar, Junhongie,” ucap Soojung sambil mengelus pipi Junhong pelan sebelum ia mencabiknya.

“…”

“AAAAAAAAA!!!”

Sehun menepuk bahu Jaebum. “Ya, bukankah itu suara Junhong?”

Keurae! Bagaimana kalau kita periksa?”

Kajja!”

Jaebum dan Sehun yang saat itu sedang berada di tangga segera naik kembali menuju gudang untuk memeriksa apa yang terjadi sesampainya di atas. Benar saja, Junhong sudah tidak berteriak lagi.

“Junhong-ah…”

“Untung saja ada kalian!”

Bukan. Itu bukan suara Junhong. Bukan Junhong yang lega atas kedatangan mereka, tapi Soojung.

“Aku senang kalian datang, jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk mencari dan mengejar kalian. Karena kalian sendiri yang menghampiri.”

“Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan pada Junhong?!” teriak Jaebum saat melihat kondisi Junhong yang mengenaskan.

“Mudah saja. Aku hanya memotong pergelangan dan lehernya.”

Mwo? neo micheoso?

Aniya. Orang gila tidak akan membunuh, karena mereka mengalami gangguan akal dan jiwa. Kenapa kau mengira aku gila?”

Heol…

“Apa maumu? Kita selesaikan sekarang juga!”

Arrasseo, kita selesaikan sekarang!”

To be continued…

 

 

Wwuuaaaaaa maafkan aku karena lama banget update >.<

Semoga tidak mengecewakan hasilnya dan maaf kalo banyak typos ._.v

Maaf juga kalo pendek ya, soalnya aku lagi sibuk nih /sok sibuk/

Berhubung aku udah kls 9, jadi aku pasti sibuk sama tugas2 yg menumpuk, ditambah lagi harus rajin belajar (disuruh ortu dikarenakan aku ngga bimbel) -_-

Mohon dimaklumi ya…

Keep RCL please~

 

24 thoughts on “[FF Freelance] Bloody School (Chapter 3)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s