[FF Freelance] Ballerina (Chapter 2)

BallerinaTittle : Ballerina

Author : PinkyPark

Cast : GG’s Tiffany Hwang || EXO’s Xi Luhan

Other cast : EXO’s Kim Joonmyun || 2PM’s Nickhun || GG’s Kim Taeyeon

Genre : Romance || Angst

Rating : PG – 15

Length : Chaptered

Disclaimer : This Fanfic pure by me. This fanfic is 100% mine and if  you found some similar on other fanfic, it maybe just a chance. Please leave your comment and I’ll continuing this fanfic. And then, the cast is belong to their parents and theirselves .. Thank you ~

Previous: Prologue, Chapter 1,

Author Note : Maaf jika Fanfic ini tidak memuaskan, maaf jika ada Typo atau kesalahan lainnya, maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan, dan Maaf untuk posting yang lama. Bagaimanapun, saya juga sedang sibuk dengan beberapa Fanfic (Ballerina, In Your Eyes, The Red Moon, Beautifull Assistant.) jadi, mohon maklum dan tetap beri support untuk saya !~ satu lagi, jika ingin tanya-tanya bisa melalui Twitter : (@Putrii_Tasha) terimakasih Reader –nim ^^

***

Aku melihat bunga, atau mungkin bintang bahkan bulan..

Kala lain aku melihat salju, dan sejak saat itu aku tahu..

Bahkan tidak pernah ada yang bisa terlihat secantik gadis itu ..

Ballerina.

 

Kim Joonmyun menelan sepotong sandwich terakhirnya dengan enggan, matanya tertuju pada Xi Luhan yang kini duduk di sebelahnya. Luhan jelas-jelas tengah mengutak-atik ponselnya, dan pria itu tidak pernah berhenti tersenyum. Detik-detik berlalu dengan sunyi, hanya terdengar tegukan cola dari Joonmyun dan kekehan pelan Luhan yang menggantung di udara.

Merasa sedikit diabaikan, pria dengan senyuman malaikat itu menaruh sekaleng soda yang sudah habis sepenuhnya. Menatap Luhan dengan curiga. “Kau sedang lihat apa ?” pria itu sedikit mengeraskan suaranya, bagaimanapun kini mereka tengah duduk di cafeteria kampus yang sibuk.

Luhan mengalihkan tatapannya sekilas, namun kembali lagi menatap layar ponselnya. “Tidak ada apa-apa,” jawabnya pelan. Jelas-jelas Joonmyun memutar bola matanya dan mendesah pelan.

“Ayolah, kau menjijikan sekali saat ini. Tidak inginkah kau memberitahuku ada apa di dalam sana,” pria itu sedikit menelengkan kepalanya pada layar smartphone yang kini di genggam Luhan, namun pria itu segera menyembunyikannya.

“Ayolah teman, sungguh tidak ada apa-apa, hanya ─”

“Hei, itu disana –lihatlah !!” Joonmyun berseru dengan suara sedikit bergetar, tatapannya tertuju pada sesosok wanita ramping di ujung cafeteria. Dengan sebelah matanya, Luhan ikut menoleh –namun tertegun seketika. “Bukankah dia gadis yang kau lempar botol cola minggu lalu ?” Joonmyun bertanya dengan suara setengah berbisik. Tatapannya tetap tertuju pada gadis itu dan sepertinya setitik air liur akan segera menetes dari ujung bibirnya.

Luhan mengerjapkan matanya, masih menatap objek sempurna itu dengan intens. Gadis itu –Tiffany, hari ini luar biasa cantik dan menawan. Rambutnya dia ikat sedikit di bagian belakang, atasan hitam yang tampak melekat pada kulit putih susunya kini menjadi bagian yang paling menarik. Gadis itu selalu sederhana, namun apapun itu yang dinamakan sederhana –baginya adalah hal yang selalu luar biasa. Luhan meneguk air liurnya sendiri, menatap Tiffany yang kini tengah tersenyum senang dengan beberapa teman wanitanya. Gadis itu tampak sangat ceria, seperti sebelum-sebelumnya.

“Hey, jadi bagaimana? Apa kalian sudah saling berkenalan ?” Joonmyun menyeret lamunan Luhan dengan menyikut di bagian perut pria itu. Luhan menoleh, masih dengan tatapan kosongnya. Pria itu menatap layar smartphonenya sekilas, lalu tersenyum cerah.

“Kami bahkan saling bertukar nomor ponsel,” Joonmyun membelalakan matanya seketika, menatap layar smartphone Luhan dengan mata terbuka sepenuhnya. “dan aku harus makan siang dengannya hari ini,”

Belum sempat Joonmyun berucap, Luhan segera menempelkan ponselnya ke telinga. Untuk beberapa saat terdiam lalu kembali tersenyum cerah. “Hai,” pria itu membuka percakapan, Joonmyun hanya diam seperti orang idiot. Menengok kearah Tiffany yang juga tengah mengangkat ponselnya. “Aku bisa melihatmu,” lanjut Luhan dengan nada suara menggelitik, dan Joonmyun hanya menatap sahabatnya dengan mulut terbuka.

“Halo nona Hwang,” kali ini Luhan melambaikan tangannya, Lagi – Joonmyun ikut menoleh pada Tiffany yang kini juga tengah melambaikan tangannya. Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah lalu cukup membeku saat Luhan berjalan pergi ke meja lain. Meninggalkannya sendirian dengan sejuta tanda tanya yang perlahan-lahan memecahkan kepalanya. Lalu pria itu menengok setelah sekian lama, tatapannya tertuju pada dua orang manusia di salah satu meja. Dia kenal jelas si pria, dan gadis di hadapan pria itu adalah gadis yang luar biasa cantik –Tiffany Hwang.

Ballerina.

“Selamat Ulang Tahun,” Tiffany menyerahkan sebuah kotak berwarna coklat dengan senyuman yang mengembang. Luhan hanya menatap kotak itu dengan mata yang berbinar, kemudian beralih pada pesona Tiffany yang seakan tidak pernah ada habisnya.

“Apa ini ? ini hadiah ulang tahunku ?” Luhan menanyakan sesuatu yang membuat Tiffany menghela nafas dan duduk di sampingnya. Gadis itu menatap Luhan dengan datar.

“Memangnya kau pikir apa? Tentu saja itu hadiah ulang tahunmu, aku tidak mungkin lupa.” Tiffany berujar seraya menggerakan kepalanya untuk menunjuk kotak yang kini berada di pangkuan Luhan.

Luhan tersenyum, “Kalau begitu terimakasih, ini adalah hadiah ulang tahun pertama darimu.” Pria itu kemudian menghabiskan waktunya dengan perlahan membuka pita yang menyelimuti sedikit bagian dari kotak itu. Dalam detik selanjutnya, kotak terbuka dan tiga buah garis horizontal terbentuk di dahinya. “Bintang ?”

Tiffany menganggukan kepalanya, membuat rambutnya yang terikat kebelakang bergerak-gerak. “Kau bilang saat malam hari kau selalu merasa kegelapan menyelimutimu, lalu kemudian aku bingung setengah mati akan memberimu apa –jadi, aku memilih itu. Tempelkan di langit-langit kamarmu makan bintang-bintang itu akan bersinar,”

Luhan memperhatikan ucapan Tiffany dengan dahi yang mulai kehilangan kerutannya, kemudian pria itu mengangguk lagi. “Bagaimanapun, aku sangat berterimakasih –dan karena hari ini hari ulang tahunku, ayo kita merayakannya bersama-sama.”

Tiffany terlihat berpikir sekilas, kemudian gadis itu menghela nafasnya. “seandainya aku bisa, tapi aku harus tampil malam ini.” Luhan sepenuhnya kehilangan senyuman, lalu kemudian Tiffany tersenyum lagi. “Tapi aku punya satu tiket untukmu, jadi kau bisa menyaksikanku –sudah terhitung satu bulan kau tidak menonton pertunjukkanku kan ?”

Luhan mulai memunguti kesedihannya, dan kemudian pria itu mengangguk patuh. “Baiklah, itu tidak terlalu buruk –dan mengenai aku sudah satu bulan tidak menontonmu, itu bukan karena aku tidak ingin, tapi tiket nya saja yang selalu habis. Dan kau jarang sekali memberikanku tiket gratis seperti ini,”

Tiffany terkekeh ditempatnya, suara lembutnya sempat menggantung diudara sebelum akhirnya ikut terbang terbawa angin. “Bukan karena aku tidak ingin memberimu tiket gratis, tapi aku juga sedikit kesulitan mencuri itu dari para staff,”

“jadi kau mencuri yang satu ini?” Luhan mengacungkan tiket yang baru saja Tiffany tunjukkan. Dan untuk kesekian kalinya Tiffany hanya terkekeh.

“Kau gila, mana mungkin aku berani. Yang satu itu adalah hasil rengekanku pada Taeyeon Unnie, ”

“Ah Taeyeon yang manajermu sekaligus temanmu itu ? yang tubuhnya mungil tapi sedikit ketus itu ?” goda Luhan dengan tatapan yang menyelidik. Tiffany hanya memukul pelan lengan pria itu sebelum akhirnya tertawa lagi. Mereka ingat jelas saat Taeyeon memandangi Luhan dari atas hingga bawah ketika untuk pertama kalinya Tiffany memperkenalkannya. Saat itu juga Taeyeon selalu uring-uringan pada Tiffany yang selalu sibuk mengutak-atik ponsel selang beberapa menit sebelum tampil. “Dia itu kan hanya temanmu, bukan kekasihmu –jadi suruh dia berhenti mengirimimu pesan-pesan penyemangat yang mengganggu itu!”.begitu tepatnya Taeyeon memarahi Tiffany yang tidak pernah kapok. Sejak saat pertemuan pertama mereka, Tiffany dan Luhan memang sudah sangat berteman dekat. Sejak saat itu juga, setiap Tiffany akan tampil –selalu ada pesan dari Luhan yang isinya hampir selalu berisi ‘Fighting Nona!~’ ‘Fighting Sun ! ’atau mungkin ‘Selamat menari’. Hal itu jelas baru bagi Tiffany, diberi semangat oleh seorang Luhan memberikan efek tersendiri bagi penampilannya.

“Tapi omong-omong, aku harus pergi sekarang sebelum Taeyeon menyeretku –jadi sampai jumpa di pertunjukkan nanti malam, aku akan menampilkan yang terbaik.” Tiffany tersenyum saat dirinya sudah selesai bicara, Luhan mendengar dirinya sedikit kecewa dan pria itu hanya mengangguk lagi.

“Baiklah, sampai jumpa lagi Sun !” Luhan mengangkat tangannya lemas, dan Tiffany hanya mencibir pria itu dengan meniru gerakkannya.

“Yasudah, sampai jumpa –Star ?”

“Star ?” Luhan menaikkan sebelah alisnya, dan Tiffany hanya mengangguk.

“Tiffany adalah Sun dan Luhan adalah Star,” gadis itu mulai berdiri dan mengambil tas tangan berwarna putihnya, kemudian gadis itu menepuk pundak Luhan. “Aku pergi,”

Luhan mengangguk seraya memperhatikkan punggung Tiffany yang mulai menjauh, gerakan gadis itu tidak pernah lepas dari pandangannya. Dan di detik selanjutnya, pria itu tersenyum kecil. “Sun and Star ?”

Ballerina.

Sudah terhitung empat bulan semenjak pertemuan pertama mereka. Dan kini keduanya sudah sangat dekat satu sama lain. Tiffany dan Luhan sejatinya bukanlah manusia yang sulit berkomunikasi, keduanya tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Seperti tentang Joonmyun yang sebenarnya selalu mengigau, atau mungkin Taeyeon yang setiap malam selalu minum susu peninggi badan. Tidak pernah ada hal yang membosankan, perbedaan pemikiran dari keduanya selalu menghasilkan sebuah perdebatan hangat yang mengasyikan.

Pernah sekali waktu, Tiffany bertanya pada Luhan tentang mengapa siput berjalan lambat, dimulai dari situlah perdebatan dimulai. Jika Luhan menjawab dengan realistis bahwa sebenarnya siput berjalan pelan karena dia harus membawa rumahnya. Berbeda dengan Tiffany, Tiffany berpikir bahwa siput berjalan lambat karena terlalu banyak beban kehidupan yang ditanggungnya. Lalu kemudian saat Luhan mulai mengumumkan argumentasi lain tentang siput berjalan lambat karena itu adalah takdirnya, Tiffany kembali menyangkalnya karena menurutnya siput berjalan lambat karena siput tidak ingin waktu berjalan lebih cepat.

Bagi seorang Luhan, Tiffany adalah sosok gadis dengan pemikiran luar biasa tulus. Gadis itu cenderung memandang sesuatu dari sisi yang tak terlihat. Seolah tuhan memberikannnya kelebihan pada hal yang satu itu.

Sedangkan bagi Tiffany, Luhan adalah sosok pria dengan pemikiran yang sangat realistis. Luhan akan menilai sesuatu berdasarkan logika dan dirinya tidak akan menyangkut pautkan dengan nilai emosional.

Selama mereka menghabiskan waktu sebagai dua orang yang saling mengenal, satu hal yang mereka ketahui satu sama lain. Tiffany adalah sosok dari negeri dongeng sedangkan Luhan adalah sosok dari dunia nyata. Bertolak belakang memang –namun keduanya tidak pernah sekalipun mempermasalahkan itu. Luhan memang realistis, namun dirinya selalu terhibur saat Tiffany mengatakan sesuatu dari otak polosnya. Begitupun Tiffany, pemikirannya memang seperti anak kecil, tapi pemikiran realistis Luhan juga membantunya dalam menghadapi orang-orang disekitarnya.

Begitulah –saling melengkapi.

Lalu hari ini adalah hari ulang tahun Luhan, pria itu sedikit terkejut Tiffany akan benar-benar mengingatnya. Walaupun seperti itu toh dia juga akan luar biasa sedih jika Tiffany melupakan hari ulang tahunnya.

Pria itu kini duduk di salah satu dari sederetan kursi penonton yang mulai penuh. Sesekali matanya melirik jam tangan Rolex yang melekat di tangan kirinya –pukul delapan lewat lima belas. Itu artinya pertunjukkan akan dimulai lima menit lagi.

Lima menit yang membosankan itu akhirnya berlalu saat kemudian tirai merah terbuka dan musik klasik mulai mengalun. Lima penari ballet berjalan anggun pada tengah panggung sebelum akhirnya memberi  Host pada penonton. Semua bertepuk tangan dan Luhan mendapati dirinya melakukan hal yang sama. Pria itu memang tidak menikmati pertunjukkan seperti saat Tiffany tampil. Tapi dirinya mengakui bahwa balet adalah tarian yang luar biasa indah. Tarian yang seolah-olah memberi tahu kita bahwa setiap manusia diciptakan dengan keanggunannya masing-masing.

Beberapa penampilan penari balet sudah terlewatkan, tapi Tiffany belum juga menunjukkan pesona kecantikkannya diatas panggung. Sebelumnya Tiffany mengatakan bahwa dirinya akan tampil di akhir pertunjukkan –untuk menutup pertunjukkan di bulan ini.

Lalu detik-detik yang terasa membosankan bagi Luhan itu beralih sudah saat dua belas penari balet memasuki arena panggung. Disana, Tiffany merundukkan badannya dengan lembut. Seperti biasa, rambutnya tergelung keatas dan kini gadis itu terlihat luar biasa cantik dengan gaun tutu putih berkilaunya. Melihat cara berpakaian dan tempat berdiri Tiffany –siapapun akan tahu. Dalam pertunjukkan kali ini, Tiffany lah bintang utamanya.

Kemudian musik kembali berputar, berkolaborasi dengan lampu-lampu yang bergerak kesana kemari mengikuti arah gerak para ballerina. Detik yang berganti menjadi menit-menit memabukkan itu terhenti saat musik tidak terdengar lagi. Lampu kehilangan cahayanya dan kemudian para Ballerina yang lain sudah menghilang –hanya ada Tiffany dengan sebuah sorotan lampu yang mengagumkan. Kemudian suara lantunan biola dengan tempo lambat mulai mengalun. Tiffany mulai menggerakkan tubuhnya dengan anggun. Glissade, Pirouette, Fondu, Chapp, dan gerakan lainnya tidak pernah sedetikpun terlewatkan. Tiffany menari seolah-olah dirinya dilahirkan hanya untuk menari. Dan kemudian musik berhenti dan gadis itu tetap dalam posisinya yang anggun. Riuh tepuk tangan mulai menggema dan Tiffany membungkuk dengan secercah senyuman bahagia di wajahnya.

Ballerina.

Tiffany mengitari apartemen milik Luhan dengan asyiknya. Sesekali jemari kurus itu menyentuh pelan beberapa pajangan yang sengaja Luhan tempatkan pada titik-titik tertentu. Setelah sekiranya dua puluh menit yang lalu Luhan merengek untuk meminta Tiffany  membantu memasangkan bintang-bintang, kini Tiffany yang memang melakukan itu tidak lain karena hari ini adalah hari ulang tahun Luhan hanya membisu dan terkagum-kagum pada selera interior Luhan yang berkelas.

Luhan berjalan dari arah dapur, membawa dua cangkir teh hijau kesukaan Tiffany. Gadis itu sempat mencium aroma teh kesukaannya itu, kemudian nyaris berjingkrak dan berjalan menghampiri teh nya.

Luhan terkekeh melihat Tiffany yang meniupi canngkir panas dengan asap yang masih mengepul. Pria itu meraih kotak hadiahnya. “Ayo kita pasangkan ini,”

Tiffany belum sempat menyeruput tehnya dan lagi karena alasan hari ini adalah hari ulang tahun Luhan –Tiffany hanya mengangguk dan menyimpan kembali cangkir tehnya.

“Tapi sungguh, kau bisa meminum tehnya dulu.” Ucap Luhan kemudian, dan Tiffany hanya memutar bola matanya.

“Sudah terlambat, aku akan meminumnya nanti. Ayo kita pasangkan dengan cepat, aku tidak mau Taeyeon mengunci pintu rumah karena aku pulang larut malam,” gadis itu berjalan kearah kamar Luhan. Dan pria itu hanya tertawa pelan seraya mengikutinya.

Luhan memasangkan bintang-bintang itu dengan sesekali menggerutu. Leherku, pinggangku, tanganku, atau semacam itu. Dan Tiffany hanya membalasnya dengan ucapan-ucapan sederhana seperti, tahanlah, kau pasti bisa, ataupun semangat ! sembari memegangi tangga yang dinaiki Luhan dengan asal.

“Akhirnya, oh punggungku –”

“Matikan lampunya !!” Tiffany bersorak senang sesaat setelah Luhan kembali mendarat di lantai apartemennya. Dan Luhan kini dengan lemas berjalan menuju stop kontak untuk mematikan lampu kamarnya.

Satu, dua, tiga. Lampu sepenuhnya mati dan kini satu-satunya cahaya adalah dari bintang-bintang itu. Cahayanya memang tidak begitu terang, namun cukup membuat Tiffany dan Luhan terkagum-kagum di tempatnya.

“Star, aku suka star.” Gumam Tiffany dengan kepala yang menengadah. Luhan berjalan mendekati Tiffany dalam gelap, kemudian menatap bintang-bintang itu sama halnya dengan Tiffany.

“Sun, aku suka sun.” ucap Luhan kemudian, kali ini keduanya saling menatap satu sama lain. Dalam kegelapan yang entah mengapa keduanya masih dapat melihat sorot mata satu sama lain.

“Rasa sukaku pada Star lebih besar dari pada rasa sukamu pada Sun,” Ujar Tiffany pada Luhan. Pria itu menggelengkan kepalanya.

“Tidak, rasa sukaku pada Sun lebih besar dari pada rasa sukamu pada Star,”

Tiffany mengerucutkan bibirnya, kemudian berpikir sejenak. “Bagaimana jika kita menyukai dengan besaran yang sama besar. Rasa sukamu pada sun, sama dengan rasa sukaku pada star.”

Luhan kemudian mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh pundak Tiffany, membuat gadis itu berjengit sekilas. “Astaga Tiffany, ternyata kau benar-benar polos.” Tiffany mengerutkan keningnya dan Luhan tersenyum kecil, “Apa kau tahu apa artinya kata-katamu itu ?”

Tiffany menganggukan kepalanya, kemudian membuka mulutnya untuk kembali berucap. “Itu artinya Star = Sun. Rasa sukamu pada Sun sama besarnya dengan rasa sukaku pada – Star ?”

Luhan terkekeh pelan kemudian mengangguk, “Kau adalah Sun dan aku adalah Star, kau bilang kau menyukai Star dan kemudian aku juga berkata aku menyukai Sun, jadi –”

“Sun ? Star ? Sun adalah Tiffany dan Star adalah Luhan. Itu artinya –” Tiffany tampak masih kebingungan dengan pemikiran polosnya, dan Luhan terus berusaha untuk menjelaskan.

“Itu artinya kau menyukaiku dan aku menyukaimu, lalu kau bilang kau lebih menyukai aku daripada aku menyukaimu dan aku juga berkata sebaliknya. Dan akhirnya kau menarik kesimpulan bahwa rasa sukamu padaku sama besarnya dengan rasa sukaku padamu, ”

Tiffany sepenuhnya merona dan gadis itu kini menundukkan kepalanya karena tidak kuat menahan malu.  Luhan hanya tersenyum, “Jadi sekarang, apa kau masih menyukai star sebanyak aku menyukai sun ?”

Keheningan yang cukup panjang sengaja diciptakan oleh Tiffany dan gadis itu kemudian mengangkat kepalanya –menatap Luhan dalam gelap. “Jadi, mari kita perjelas ini tuan, apa kau sedang bertanya padaku apakah aku menyukaimu ?”Luhan nyaris terjengkang karena ucapan Tiffany yang sepenuhnya mengganti suasana seakan dirinya adalah korban dalam drama. Kemudian pria itu tergagap dan mengangguk. “Sun menyukai Star,”

Disaat yang sama, saat pernyataan itu menyentuh gendang telinga Luhan. Luhan merasakan dadanya penuh dengan bunga-bunga dan seolah-olah awan mulai membawanya terbang. Pria itu tersenyum senang, “Star lebih menyukai sun.”

Keduanya saling berpandangan dan tersenyum, detik selanjutnya secara bersamaan berkata “Star dan Sun saling menyukai.”

Dan setelah itu, seiring dengan detik-detik penuh cinta yang berlalu. Kedua insan itu saling berpelukan. Dalam diam menikmati degup jantung satu sama lain. Detik-detik yang tidak ingin mereka hentikan itu kemudian berganti pada detik dimana mereka menjauhkan diri satu sama lain.

“Sun akan menjadi cahaya di siang hari, dan Star akan menjadi cahaya di malam hari.” Tiffany berkata dengan secarik senyuman yang mengembang.

Luhan menggenggam tangannya, “aku akan menjadi cahaya malam untukmu dan kau akan menjadi cahaya siang untukku.”

Kata-kata yang mereka ucapkan sedari tadi akhirnya berakhir pada sebuah moment dimana sesuatu yang lembut saling menyentuh bibir satu sama lain. Bukan sebuah ciuman penuh nafsu atau semacamnya. Hanya sebuah ciuman manis yang bermakna. Detik itu juga, hari dimana Luhan dilahirkan kedunia, adalah hari dimana cinta diantara mereka lahir dan benar terlihat jelas adanya. Star = Sun.”Luhan, kau mencuri ciuman pertamaku –”

 

Ballerina.

Empat pria duduk bermalas-malasan di atas sebuah tikar yang menghadap pada sebuah televisi yang menyala. Luhan duduk diantara Kim Jongin dan Byun Baekhyun yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Jika sejatinya Jongin tentu saja tengah berperang melawan kantuk, Byun Baekhyun kini tengah sibuk mengutak-atik headphonenya yang beberapa menit lalu berhenti bekerja karena Sehun tidak sengaja menjatuhkannya.

Mereka hanyalah kumpulan pria yang sesekali bertemu bila waktunya tidak tersita oleh urusan kuliah. Berteman sejak kelas tiga sekolah dasar membuat mereka sudah saling mengerti satu sama lain.

Pintu terbuka dengan keras, menampakkan sesosok Kim Joonmyun yang tampak konyol dengan rambut yang berantakan. Baekhyun berpaling singkat dari Headphonenya, begitupun dengan Luhan dan Sehun. Tak terkecuali Jongin yang nampaknya kini mulai menggerutu karena mimpi indahnya hancur begitu saja.

“Ada apa sih ?” Jongin masih belum bisa memfokuskan penglihatannya pada Joonmyun diambang pintu, pria itu mengusap ujung bibirnya yang sedikit berair.

Dengan langkah lebar-lebar, Joonmyun berjalan pada mereka. Berdiri tepat dihadapan Luhan yang kini hanya menatapnya dengan bingung. “Ada apa ?” tanya Luhan bingung.

Joonmyun hanya menatap sahabatnya dengan mata penuh kekhawatiran, kendati seperti itu belum ada satupun yang menyadarinya –bahkan Jongin sekalipun yang kini sudah benar-benar membuka matanya.

Joonmyun menarik nafasnya perlahan, kemudian dengan susah payah meneguk air liurnya sendiri, “Xi Luhan, kudengar Liu Fang baru saja tiba siang ini.”

Dengan seluruh kekuatan yang ada, Luhan bangkit dari duduknya. Menatap Joonmyun tidak percaya. Tiga orang lain yang mengikuti pembicaraan itu tidak bisa menutupi keterkejutan mereka.

“A –apa katamu ? L –Liu Fang ?”

Joonmyun mengangguk pelan, mengamati air muka Luhan yang mengeras. “Kudengar dia tiba dengan kakaknya. ”

Saat itu juga, Luhan memejamkan matanya. Memori dan ingatan beberapa tahun lalu yang tersimpan rapi mulai kembali menggerayapinya dan pria itu merasa lututnya lemas seketika. Jantungnya bertalu –talu di dada dan pria itu kembali terduduk.

“Liu Fang, apa kabarmu ?”

 

Ballerina.

To Be Continued..

5 thoughts on “[FF Freelance] Ballerina (Chapter 2)

  1. waaah, konfliknya bakalan. ada nih setelah ini ::)
    kalo pas konfliknya nanti bikin. fellnya yang ngeeeh ya thor😀
    di tunggu kelanjutannya :’)

  2. Duh romantisnya couple ini.. :3
    “Sun menyukai Star sama besar seperti Star menyukai Sun”
    Liu Fang? Jangan-jangan first love-nya si Luhan nih? Ato mantan pacar? U,u
    Padahal baru aja bahagia loo~😥
    Kok udah mau konflik? Tp gpp deh, pokoknya harus happy ending nih🙂
    Ditunggu part selanjutnya ya~~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s