SHE IS WOW!

SHE IS WOW

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Oneshot||Genre: Romance, School-life, Hate/Love||Main Characters: (B1A4) Jinyoung & (T-Ara) Jiyeon||Minor Characters: All B1A4’s members & (A-Pink) Chorong||Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. The plot is purely mine. The characters belong to God, themselves, their parents and their agencies||Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

HAPPY READING \(^O^)/

Kurasakan sinar mentari pagi menerpa wajah tampanku ketika aku dan Sandeul melewati pintu gerbang Shinhwa High School. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku selalu melakukan suatu hal yang aku rasa wajib untuk aku lakukan. Apa itu? Membagikan anugerah Tuhan yang diberikan padaku kepada yeojadeul yang aku lewati saat berjalan menuju kelas. Bahasa kerennya, FLIRTING!

Aku selalu memasang senyum manis setiap melihat yeoja cantik yang berpapasan denganku. Beberapa dari mereka membalas senyumku dan… beberapa dari mereka tertunduk malu dengan pipi yang merah merona.

Ow, what the….

“Ya! Bisakah kau berhenti melakukan itu?” protes Sandeul yang berjalan di sebelahku.

Aku menoleh padanya. “Wae? Tidak suka?”

Ne. Yeojadeul di sekolah jadi melihat ke arah kita.”

“Kita?” tanyaku heran, “Mereka cuma melihat ke arahku, bukan kau!” lanjutku, lalu memberikan satu kedipan mata pada seorang yeoja kelas 3.1 yang berdiri di ambang pintu kelasnya.

“Ish! Kau ini. Dasar!” gerutu Sandeul kesal, lalu berjalan meninggalkanku. Hah! Bilang saja kau iri pada ketampanan Jung Jinyoung, Lee Sandeul!

Aku terus berjalan menuju kelasku, kelas 3.5, sambil tetap ber-flirting ria. Aku bahkan sempat menggoda sekelompok yeoja yang sedang duduk di taman depan kelasnya. Ahahaha, Tuhan benar-benar sangat baik telah menciptakan makhluk seindah wanita.

“Sudah, ya, aku mau ke kelasku,” pamitku pada yeojadeul tersebut seraya memberi lambaian tangan singkat dan mereka pun membalasnya.

Hidup itu indah kalau kau menjadi tampan!

“BUUUK.”

“Ukh.”

Aku tidak sengaja menabrak seseorang, membuat dia terjatuh di lantai dan terdapat beberapa lembar kertas yang berserakan di dekatnya. Seorang yeoja dengan rambut hitam bergelombang dan panjangnya sebahu.

Gwaenchana?” tanyaku sambil berjongkok di depannya, membuat kami dalam posisi sejajar. Ia tidak menghiraukanku, malah sibuk memunguti lembaran-lembaran kertasnya.

“Ya! Nona, neon gwaenchana?” ulangku lagi. Barulah ia melihat ke arahku.

Seorang yeoja yang mengenakan kacamata ber-frame kotak berwarna putih. Namun, di balik kacamata itu terdapat sepasang mata yang indah dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya mungil bagai bunga yang tengah kuncup dengan bibir tipis berwarna merah cherry.

Gosh! What a beautiful face!

Tanpa menjawab pertanyaanku, ia berdiri sambil memegang lembaran kertasnya, membuatku spontan ikut berdiri. Ia membungkuk sekilas padaku, lalu berjalan melewatiku tanpa ada satu patah kata pun. Kata maaf saja tidak.

Ish!

Aku kembali melanjutkan perjalanan dan kegiatan flirting-ku yang sempat tertunda. Namun, sepertinya kakiku menginjak sebuah benda. Aku menundukkan pandanganku, melihat benda yang baru saja dilindas oleh sepatu Converse-ku. Sebuah kartu siswa. Aku memungut benda itu, membersihkan debu yang menempel, lalu membaca tulisan yang tertera di permukaan sepotong plastik tipis tersebut.

Park Jiyeon.

@@@@@

Bel tanda ‘neraka dunia’ berakhir sementara, baru saja berbunyi. Aku menjadi siswa pertama yang keluar dari kelas, disusul teman-teman yang lainnya. Bersama Sandeul, aku berjalan menuju kantin dan masiiiih melakukan kegiatan fliriting, tak peduli Sandeul suka atau tidak.

Setibanya di kantin, Sandeul memilihkan tempat untuk kami. Ia menunjuk meja yang berada di pojok kanan ruangan. Tapi, di dekatku, beberapa kelompok yeoja menawarkan tempat. Ini waktunya memetik hasil flirting-ku.

“Jinyoung-ah, duduk di sini,” panggil seorang yeoja yang tidak asing bagiku.

“Bagaimana, Sandeul-ah?” tanyaku, menoleh ke arah Sandeul.

Sirheo. Kalau kau mau bersama mereka, aku sendiri saja,” sahutnya. Sudah kuduga. Dasar payah!

Sandeul telah berjalan menuju tempat yang dipilihnya, sementara aku menghampiri yeoja tadi dan teman-temannya. Sembari menunggu pesanan, aku menceritakan beberapa joke yang membuat mereka tertawa dan memperhatikan aku.

“Jinyoung-ah, lain kali bisakah kau membuatkan lagu untukku?” pinta seorang yeoja yang tadi menawarkan tempat. Aku duduk bersampingan dengannya. Aku menoleh padanya yang tengah menunjukkan wajah manja.

Ne, kita lihat saja nanti.”

Ya, siapa di sekolah ini yang tidak tahu betapa Tuhan sangat sayang padaku. Selain diberkahi wajah tampan dengan senyum manis tentunya, aku juga diberkahi dengan bakat musik yang luar biasa. Jangankan menyanyi, mengkomposisi lagu juga bisa aku lakukan.

Sekitar beberapa menit kemudian, pesanan kami datang. Aku sempat mengalihkan pandanganku ke arah Sandeul, ingin tahu apa yang dilakukannya di sana sendiri. Hah! Dia melamun sambil menunggu pesanan. Ck! Pasti melamunkan tentang yeoja itu.

“Jinyoung-ah, ayo makan.”

“Ah, ne.”

Aku menyumpitkan ramyeon ke dalam mulutku. Eum… mashitta.

“Bagaimana ini? Kartu pelajarku hilang!” seru seorang yeoja yang lewat di belakangku. Aku menyempatkan diri melihat ke belakang dan… ah, yeoja itu! Dia dan seorang temannya berjalan menuju meja dengan beberapa mangkuk bekas ramyeon di atasnya.

“Aku butuh kartu pelajar itu. Kalau tidak, aku tidak bisa ikut writing contest. Aish! Kenapa benda itu malah hilang?” gerutunya lagi. Hmm… sound’s good for me. Hehehe.

Baru menyumpitkan beberapa ramyeon ke dalam mulutku, aku langsung beranjak. Teman-teman perempuan yang satu meja denganku sempat protes, malah sempat membujuk agar aku duduk kembali. Ya, ya, ya, pesonaku ini memang sangat luar biasa. Cukup untuk mereka menikmati pesonaku hari ini. Waktunya untuk berbagi dengan yeoja lain.

“Aish! Kenapa kartu pelajar itu malah hilang di saat aku membutuhkannya!!!” gerutu yeoja itu saat aku berjalan menghampirnya.

“EHM!” Aku berdehem, membuat ia dan temannya melihat ke arahku.

“Kau mencari ini?” kataku seraya menunjukkan kartu pelajarnya.

Melihat benda yang ia cari telah berada di depan matanya, ia langsung berdiri dan berusaha merebut benda itu dari tanganku. “Kembalikan!”

“Eit! Tidak bisa! Aku yang menemukannya!” kataku sambil menjauhkan benda itu dari jangkauan tangannya.

Ia menatap mataku dengan mata indah miliknya itu. Sorot tidak suka terpancar jelas dari sana. Sedikit membuatku bingung, kenapa dia sama sekali tidak terpesona padaku. Padahal, sejak tadi temannya menatapku tanpa berkedip. Persis seperti tatapan yeojadeul lain yang selalu aku goda.

Tapi, dia beda!

Hmm… menarik!

“Itu milikku! Kembalikan!” tegasnya lagi.

Aku menyempatkan diri melirik sekitar. Hampir semua orang di kantin melihat ke arah kami yang menjadi sumber keributan saat ini.

“Kau mau benda ini kembali, eoh?” Aku malah bertanya balik, lalu kumasukkan benda itu kembali ke sakuku. Yeoja itu semakin menatapku tidak suka.

“Tentu saja! Benda itu milikku! Kenapa kau tidak mau mengembalikannya, eoh? Dasar pencuri!”

Ha? Apa-apaan ini? Belum ada satu perempuan di muka bumi ini yang mengataiku seperti itu!

“Terserah apa katamu! Tapi, kalau kau mau benda ini kembali ke tanganmu, temui aku sepulang sekolah. Aku tunggu di taman depan perpustakaan, Jiyeon.”

Sirheo! Kembalikan kartu pelajarku sekarang!”

Keras juga dia.

Sirheo! Bukankah aku sudah mengatakan bagaimana cara agar benda ini bisa kembali ke tanganmu, eoh! Jadi, terserah kau saja!” ujarku, lalu berjalan meninggalkannya. Aku sempat memperlihatkan evil smirk-ku padanya.

Kita lihat, sampai kapan kau bisa menahan pesona seorang Jung Jinyoung!

@@@@@

“Aku pikir kau tidak mau menemuiku,” ujarku saat kuhampiri ia yang telah duduk di taman depan perpustakaan sendirian.

“Aku sudah memenuhi permintaanmu, kan? Sekarang, kembalikan kartu pelajarku!” ujarnya. Kedua mata indah itu masih saja menatapku tajam. Wajahnya bahkan terlihat 2 kali lebih jutek daripada saat di kantin tadi.

“Duuh… galak sekali,” godaku. Aku mengambil tempat tepat di sebelahnya, namun dia malah berdiri. Pertama kalinya ada yeoja yang menolak untuk duduk bersebelahan denganku. Hmmm.

Ppalliwa! Aku masih ada urusan!” bentaknya. Sepersekian detik kemudian, ia memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot.

“Santai dulu, kenapa? Bisakah kita mengobrol sebentar, kenalan begitu. Setelah itu, aku akan memberikan kartu pelajarmu,” bujukku. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu mendengus sebal.

“Duduklah. Santai… santai. Jangan takut, aku tidak memakan wanita,” kataku.

Ia pun kembali duduk di dekatku, membatasi jarak di antara kami dengan tas ranselnya yang berwarna kuning.

Ia melihat ke arahku. “Ppalli!”

Bukan Jinyoung kalau semudah itu aku memberikan apa yang dia mau. Jujur, aku sedikit penasaran dengan yeoja ini. Dia jutek saat di dekatku (atau mungkin dengan namja lain juga), berbeda dengan yeoja lain yang malah genit-genitan.

Aku menatap setiap unsur di wajahnya. Dia bahkan tampak lebih cantik saat aku lihat dengan seksama seperti ini. Wajahnya sedikit merah padam, hasil dari kejutekannya beberapa saat lalu padaku.

“Ya! Kenapa kau malah melihat-lihatku seperti itu, eoh?” bentaknya.

Aku menyunggingkan senyum. “Kenapa? Kau cantik. Jadi, apa salahnya kalau aku melihatmu, eoh? Mataku kan bisa sehat karena mendapat asupan vitamin A dari wajahmu.”

“Cih! Kalau kau mau matamu sehat, makan wortel sana!” katanya lagi dengan nada ketus. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Bahunya mulai naik turun, sedikit emosi menghadapiku. Haha… menghadapi yeoja jutek seperti ini memang harus punya kesabaran ekstra.

Ne, ne. Oh, ya, aku Jinyoung. Neo?”

Ia menoleh padaku. “Bukankah kau sudah tahu namaku? Kau menyebutnya waktu di kantin tadi!”

Aku terkekeh, membuat dia mendengus sebal. Entahlah, mungkin kepalanya sudah mau pecah menghadapi namja sepertiku. Jangan panggil aku Jinyoung kalau aku tidak bisa menaklukkan yeoja ini.

Aku menepuk dahiku, pura-pura lupa ceritanya. “Ah, ya. Namamu Jiyeon. Aku Jinyoung. Jiyeon… Jinyoung. Nama kita hampir mirip. Sepertinya kita jodoh.”

WHAAAT?” Ia melotot. “Jodoh denganmu? Hidiiih, amit-amit!” Ia bangkit dari duduknya, membuatku terpaksa harus mendongak untuk bisa menatapnya.

“Kenapa? Tidak suka?”

“TENTU SAJA. AKU TIDAK MENYUKAIMU!”

“Tapi, aku menyukaimu.”

“AISSSSHH! SUDAHLAH! BERHENTI MENGGODAKU! SEKARANG KEMBALIKAN KARTU PELAJARKU!!!” bentaknya, terlihat seperti monster yang ingin melahapku hidup-hidup.

“Woo… seram,” kataku pura-pura takut, lalu terkekeh. Aku pun merogoh saku celanaku, mengeluarkan sepotong plastik yang sejak tadi diinginkannya. Dengan satu gerakan cepat, ia langsung merebut benda itu dari tanganku, lalu pergi begitu saja.

“Ya! Kau belum mengucapkan terima kasih,” teriakku.

Gomawo,” teriaknya, tanpa menoleh sedikit pun.

Hmm… kau benar-benar menantangku, Jung Jiyeon? Baiklah… kita lihat di akhir cerita, siapa yang akan bertekuk lutut. Aku yakin… pasti kau, Park Jiyeon.

@@@@@

Keesokan harinya, begitu tiba di sekolah… aku flirting seperti biasa. Saat menapaki koridor utama, dari kejauhan kulihat yeoja itu. Siapa? Yap, Jiyeon. Ia sedang menempelkan kertas di papan majalah dinding. Hehehe….

Annyeong, Jiyeon,” sapaku yang telah berdiri di sampingnya. Ia menoleh sekilas. Catat! SE-KI-LAS! Padahal, yeojadeul yang lewat di dekatku malah berusaha untuk curi-curi pandang menatapku untuk beberapa detik.

“Sibuk, eoh?” tanyaku.

“Kau sudah lihat sendiri, kan!?” balasnya tanpa menoleh sedikit pun padaku.

“Ah, ne. Apa setiap hari kau seperti ini? Menempel kertas artikel di mading ini?” tanyaku sok penasaran. Ya, aku tahu kalau artikel sekolah di majalah dinding ini diganti setiap seminggu sekali.

Ani!” jawabnya singkat.

Jari-jemari lentiknya itu sibuk menempelkan beberapa artikel. Tampak serius, seolah tidak menganggap aku ada di sampingnya. Ada saatnya ia bergerak, berpindah dari satu kolom papan artikel, ke kolom papan artikel lainnya, membuatku terus mengikutinya.

“Kenapa kau mengikutiku, eoh? Kau punya urusan denganku?” tanyanya, mulai merasa terganggu.

Ne, aku masih mau berkenalan. Kemarin kan aku hanya tahu namamu. Aku masih mau tahu lebih banyak.”

Ia mendengus sebal. “Dengar! Aku… tidak mau berurusan dengan namja sepertimu, ara? Sebaiknya kau berkenalan dengan yeoja lain. Aku rasa… masih banyak yeoja lain di sekolah ini yang belum kau kenal.”

“Kau salah! Aku sudah mengenal semuanya. Semua, kecuali kau. Jadi, tidak salah kan kalau aku mau tahu lebih banyak tentangmu?”

Ia memutar bola matanya, seolah jengah dengan setiap kata yang aku keluarkan dari mulutku. Tak lama setelah itu, ia mendesah pelan. “Geurae. Kau mau tahu apa tentangku?”

Haha… menyerah juga dia.

“Bagaimana kalau sepulang sekolah kita mengobrol di suatu tempat?” tawarku.

“Dimana?”

“Dimana saja boleh. Di hatiku, di hatimu. Dimana pun kau mau…,” godaku lagi. Entah untuk keberapa kalinya, ia mendengus sebal.

“Di café dekat sekolah saja!” katanya.

Aku tersenyum. Bagus Jinyoung, sedikit lagi….

“Baiklah. Pulang sekolah, aku tunggu di dekat gerbang,” kataku, lalu mengedipkan sebelah mataku padanya dan sukses membuat dia menjulurkan lidahnya padaku.

Looks cute.

@@@@@

Selama mengobrol dengannya di café, aku tidak tahu sudah berapa kali dia mendengus sebal, sudah berapa kali dia memutar bola matanya dan sudah berapa kali ia membentakku. Aku pun sempat beberapa kali menarik-buang nafas untuk cooling down. Fiuh~, menaklukkan Park Jiyeon tidak semudah yang aku kira.

“Kau sudah punya namjachingu?” tanyaku. Kami duduk saling berhadapan dan di atas meja kami terdapat 2 gelas iced lychee dan 2 porsi strawberry cheese-cake.

Ia yang tadinya melihat keluar jendela, menoleh padaku. “Kalau aku punya pacar kenapa? Kalau tidak, kenapa?”

Aku tersenyum. “Kalau tidak punya… boleh kan aku—”

ANDWAE!” potongnya, padahal aku belum selesai bicara.

“He? ‘Andwae’ kenapa? Kau ini jahat sekali. Aku kan mau bilang, boleh kan aku jadi temanmu,” kataku. Sejujurnya, aku cuma mau mengetes saja.

“Te-teman?” tanyanya heran. Haha, sudah kuduga. Dia pasti mengira aku akan mengatakan, “Boleh kan aku jadi namjachingu-mu.”

Ne, teman,” ulangku. “Wae? Kau kira aku mau menjadi namjachingu-mu, eoh?” ujarku, lalu tertawa kecil. Raut wajahnya tampak kesal dan juga malu. Hmm… polos sekali.

“Ti-tidak juga. Lagi pula, siapa yang mau jadi yeojachingu-mu? Ih, amit-amit!” katanya sok jual mahal.

“Ya! Park Jiyeon, jangan bicara seperti itu, eoh? Kau tidak takut kena karma?” ucapku, menggoda sekaligus menakut-nakutinya. Ia terlihat memikirkan kata-kataku.

“Ka-karma? Maksudmu, aku akan jatuh cinta padamu, begitu? Ih, tidak akan!”

Jeongmal?”

“Tentu saja. Siapa yang mau jadi yeojachingu namja sok cakep dan sok keren sepertimu? Tiap hari tebar pesona ke yeojadeul di sekolah. Hidih, sok cool!” tukasnya panjang lebar. Sedikit pedas, tapi… sekali lagi aku menanggapinya dengan senyum.

Jangan salah, senyum itu ibadah dan bisa juga meluluhkan hati seseorang. Apalagi senyumku yang manis ini, jangankan seseorang, 100 orang pun bisa luluh.

Hampir 30 menit aku dan yeoja jutek itu menghabiskan waktu di café. Hasil dari 30 menit itu pun tidak banyak karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengeluarkan jokes yang tidak ada satu pun membuatnya tertawa. Sempat terlintas di benakku kalau Jiyeon ini mati rasa.

“Heh! Aku mau pulang sekarang,” katanya, lalu berdiri dari duduknya.

“Kenapa cepat sekali, eoh?”

“Ada PR!”

“Mau aku bantu kerjakan?”

“Tidak usah. Nanti salah semua!”

“Ya! Aku ini pintar.”

“Pintar bohong! Pintar menggoda yeoja! Pintar mengambil kartu pelajarku!”

Sadis sekali yeoja ini. Huhuhu….

“Ya sudah. Hati-hati di jalan.”

“Em….”

@@@@@

Sebulan berlalu setelah aku berkenalan dengan Park Jiyeon. Dia masih saja jutek padaku, tapi tidak sejutek awal aku mengenalnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya pun tidak sepedas dulu. Tatapannya juga tidak sesinis dulu.

Dan… aku rasa… aku benar-benar menyukainya.

She is wow!

Really wow!

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Baro, teman seapartemen.

Saat ini, aku berada di apartemen. Tepatnya, di dalam kamar, berbaring di atas tempat tidurku sambil memandangi paras cantik Park Jiyeon yang aku abadikan dalam sebuah foto yang terpampang di layar HP-ku.

Yeoja,” jawabku pada Baro yang juga berbaring di atas tempat tidurnya, di bawahku.

“Siapa? Yeojachingu-mu, eoh?”

“Calon.”

“Hahahah… Jinyoung-ah, Jinyoung-ah… tumben kau menjawab ‘calon’. Biasanya juga kau menjawab ‘Aniya. Teman main’” ujar Baro, meniru gaya bicaraku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Soalnya yang ini beda.”

“Oh, ya? Beda apanya? Dia setengah yeoja?” Aku langsung mengambil sebuah buku yang kebetulan ada di samping tubuhku, lalu kulemparkan ke arah Baro. Sukses mengenai wajahnya.

“Akh,” ringisnya.

“Maksudku, dia beda karena… Ah, untuk apa kau tahu?! Bukan urusanmu, kan?!” kataku.

Ne, arasseo. Tapi, apa dia mau pada namja sepertimu?”

“Maksudmu apa? Aku kenapa memangnya?”

“Sedikit playboy.”

Playboy darimana? Aku bahkan baru satu kali pacaran.”

Terdengar gelak tawa dari Baro di bawah. Huh, kayak dia pernah pacaran lebih dari satu saja. Memang kenapa kalau aku baru satu kali pacaran? Tidak ada masalah, kan? Lagi pula, pacaranku-yang-baru-satu-kali itu pun aku anggap bukan pacaran. Hanya seperti… ng~ kekasih yang tidak dianggap.

Cih! Untuk apa aku ingat lagi?

“Jinyoung-ah?” Gongchan—teman seapartemen yang lain—menyeruak masuk ke dalam kamar.

Ne?” Aku sedikit mengangkat tubuhku di bagian atas untuk bisa melihatnya yang duduk di tempat tidurnya, berseberangan dengan tempat tidur Baro.

“Tadi sore ada yeoja yang mencarimu.”

“Ciyeeeh… Kau laku juga, Jinyoung-ah,” ledek Baro. Huh, kusangka orang ini sudah tidur.

“O, ya? Nugu?”

“Dia bilang… namanya… Park… Park Chorong,” jawab Gongchan, sukses membuatku tertegun di tempatku.

Chorong? Park Chorong?

Da-darimana dia tahu aku tinggal di sini?

Dan… kenapa dia datang mencariku?

“Dia siapa, eoh?” tanya Gongchan ingin tahu.

Ani. Bukan siapa-siapa. Oh, ya, aku mengantuk. Jaljayo.”

Aku menarik selimutku, memiringkan tubuhku membelakangi Gongchan. Pura-pura tidur, tapi… sebenarnya tidak. Aku bahkan masih mendengar ocehan-ocehan Baro dan Gongchan yang membicarakanku, seolah tahu aku hanya pura-pura tidur.

Hmm… Chorong. Park Chorong. Dia adalah mantan yeojachingu-ku. Orang yang membuatku seperti sekarang, selalu mencari perhatian. Tadi aku mengatakan kalau aku seperti kekasih yang tidak dianggap, kan? Ne, seperti itulah kenyataannya. Bahkan, banyak orang yang mengatakan kalau Chorong menjadi kekasihku hanya karena… aku pintar, murid kesayangan guru. Dulu.

Yaah, bisa dikatakan, Chorong adalah versi yeoja dari diriku yang sekarang. Selalu menebarkan pesonanya pada namja di sekolahku dulu. Padahal, saat itu ada aku, namjachingu-nya. Sebagai lelaki normal, perasaan cemburu ada. Tentu saja. Siapa yang tidak kesal melihat yeoja-nya lebih sering mengobrol dengan namja lain dibanding namjachingu-nya sendiri?

Pasti kesal, kan?

Lalu, sampai hari itu tiba… hari dimana dia sudah tidak membutuhkanku. Aku diputuskan begitu saja… dan… yah, goodbye Jung Jinyoung.

Tapi, setidaknya, aku yang sekarang sedikit berbeda dari Chorong yang dulu. Aku tidak punya yeojachingu. Jadi, tidak akan ada orang yang sakit hati. Iya, kan?

@@@@@

“Heh! Jung Jinyoung!” tegur seseorang saat aku sedang mengobrol dengan Sandeul di taman depan kelas kami. Aku dan Sandeul menoleh ke asal suara dan kedua mataku menangkap sosok Jiyeon yang berjalan ke arah kami sambil memegang selembar kertas kosong beserta pulpen.

“Oh, Jiyeon-ah? Ada apa mencariku? Rindu, ya?” godaku. Entah kenapa, aku sangat suka melihat wajah Jiyeon yang kesal setiap aku menggodanya. That’s what make her beautiful.

“Ih, amit-amit!” sahutnya ketus. “Ng, bisa ikut aku?” tanyanya.

Aku tersenyum jahil. “Kemana? Ke pendeta?”

“Duuk!”

“Akh!” ringisku setelah ia sengaja menendang kakiku.

“Siapa yang mau menikah denganmu, Dasar Bodoh! Aku mau mewawancaraimu. Minggu ini aku harus menulis artikel tentang klub musik,” jawabnya masih ketus.

“Oh, baiklah. Apapun untuk Jung Jiyeon yang cantik. Jangankan wawancara, menyuruhku untuk menyanyikan lagu untukmu aku juga bersedia.”

“Hidiih! Siapa yang mau mendengar suaramu yang cempreng itu? Seperti suara kucing terjepit pintu! Jelek!”

“Duh, sadisnya.”

“Aish! Berhentilah mengatakan hal-hal bodoh, Jung Jinyoung!”

“Baiklah… baiklah. Apapun yang kau minta. Tapi, sebelum mewawancaraiku, kau mau menemaniku jalan sore ini?”

Ia memutar bola matanya. “Sirheo! Aku sibuk!”

“Ya, sudah. Sekarang aku juga sibuk. Tidak bisa diwawancarai,” godaku. Yeoja itu merengut.

“Jung Jinyoung! Kau kan sudah mengatakan kalau kau mau aku wawancara. Kenapa sekarang kau tidak mau, eoh?”

“Terserah aku. Kalau kau tidak mau menemaniku jalan-jalan, aku juga tidak mau diwawancarai. Wawancarai anggota klub musik yang lain saja. Itu pun, kalau mereka juga bersedia.”

Ia menghentakkan kakinya ke tanah. Kesal.

“Baiklah, aku akan pergi denganmu. Puas?”

Aku tersenyum lebar. “Begitu. Harusnya dari tadi kau mengatakannya. Sekarang, kau mau mewawancaraiku dimana?”

“Ikut aku.”

Yeoja itu pun berjalan duluan dan aku mengekorinya. Sejujurnya, mewawancaraiku di tempat yang tadi kan bisa. Tapi, mungkin dia malu karena ada Sandeul. Atau, dia ingin berduaan denganku. Hahahaha.

Setibanya di tempat yang ia maksud, taman kecil di depan UKS, ia mulai membacakan pertanyaan-pertanyaan yang telah ia susun dan tulis di selembar kertas kecil. Sesekali aku menjawabnya sambil bercanda. Karena itu, sesekali ia juga menabok kepalaku dengan pulpen yang dipegangnya.

“Terakhir, sebagai ketua klub musik, apa harapanmu untuk klub musik ke depannya?”

“Yaaa… aku hanya mengharapkan yang terbaik. Sekolah lebih memperhatikan klub musik dan siswa-siswi yang tergabung dalam klub musik lebih aktif mengikuti kegiatan di klub. Daan….”

“Dan apa?”

“Aku mau Park Jiyeon menjadi yeojachingu-ku.”

Kedua pipinya merona saat mendengar kata-kata itu. Membuatnya diam sebentar untuk mencernanya baik. Lalu, seperti biasa…, “Cih! Out of topic. Siapa yang mau jadi yeojachingu-mu? Weeeek! Jelek!”

Ia pun beranjak meninggalkanku.

“Ya! Nanti aku tunggu di Namsan Tower. Jam 5. Kau harus datang, ara?” teriakku sebelum ia berjalan begitu jauh.

Ia berbalik badan, melihat ke arahku. “Aku tidak mau datang. Weeek!” Ia lalu berbalik badan lagi, membelakangiku.

“Awas ya kalau kau tidak datang!” ancamku. Ia menolehkan kepalanya, menjulurkan lidahnya lagi. Dasar!

@@@@@

Mengenakan baju kaos lengan pendek berwarna putih bergaris-garis horizontal hitam dan bawahan jeans, aku duduk di tepi kolam dekat menara jam di kawasan Namsan Tower. Aku melihat jam tanganku sekali lagi—entah sudah berapa kali aku melihat jam sejak aku tiba. Sudah lewat 15 menit dari jam 5. Yeoja itu benar-benar tidak datang. Ish!

“Jinyoung-ah!” teriak seorang yeoja yang suaranya sudah sangat aku kenali.

Aku menoleh ke sumber suara. Otot-otot di sekitar bibirku bereaksi, membiarkan bibirku membentuk sebuah lengkungan manis seperti biasa, saat kedua mataku menangkap sosok yeoja itu berlari ke arahku.

“Hhh… hhh… mianhae, terlambat,” sahutnya dengan nafas yang tersengal-sengal.

“Katanya tidak mau datang. Kenapa sekarang datang?” godaku.

“Aish! Kalau kau masih menggodaku seperti itu, aku pulang sekarang!” ancamnya.

“Baiklah. Baik…. Aku tidak akan menggodamu.”

“Sekarang apa, eoh?”

“Kita naik kereta gantung itu, melihat-lihat Seoul.”

“Oh, ne.”

Aku dan Jiyeon pun berjalan memasuki bagian dalam menara, mengantri untuk menaiki kereta gantung yang disediakan oleh pihak setempat sebagai wahanan hiburan. Setelah tiba giliran kami, aku langsung menarik lengannya untuk masuk ke dalam kereta.

Bukan Jiyeon namanya kalau dia tidak membentakku saat itu.

Tapi, segalak-galaknya dia saat di awal menaiki kereta, keadaan mulai membaik saat kereta itu bergerak. Duduk bersampingan dengan Jiyeon dan (terpaksa) harus berbagi kereta dengan pasangan lain yang duduk berhadapan dengan kami.

“Ya! Ya! Lihat! Orang-orang di bawah jadi terlihat seperti semut,” seru Jiyeon.

Aku diam saja. Lebih memilih memandangi sesuatu yang lebih indah dari pada pemandangan Kota Seoul.

Wajah Jiyeon.

Menikmati mimik wajah Jiyeon yang berbeda saat ini. Mimik wajah Jiyeon yang sedang bahagia. Bibir cherry-nya menyunggingkan senyum yang baru kali ini bisa aku lihat, sorot matanya terlihat berbinar-binar, memancarkan apa yang ada di hatinya. Sesekali mulutnya berceloteh, mengagumi keindahan pemandangan di luar sana.

She is wow!

“Ya! Kau kenapa diam saja, eoh? Kau tidak mau melihat-lihat pemandangan?” tanyanya, menoleh padaku, membuat kami bertatapan dengan jarak yang begitu dekat.

“Siapa yang bilang kalau aku tidak melihat pemandangan, eoh!? Aku melihat pemandangan.”

“Oh, ya? Kau hanya diam saja di tempatmu.”

“Untuk apa aku melihat pemandangan Seoul kalau aku bisa melihat pemandangan yang lebih bagus dari pemandangan Seoul.”

Mwoya?”

Aku tersenyum. “Wajahmu.”

Ia memutar bola matanya, lalu menoleh kembali ke arah pemandangan Seoul yang ada di luar kereta. Namun, sebelum ia benar-benar menoleh, aku sempat melihat seulas senyum di bibirnya. Hehehe… fiuh, berhasil juga aku membuat Park Jiyeon tersenyum.

Kereta pun berhenti, lalu sepersekian detik setelahnya, pintu pun terbuka. Aku dan Jiyeon pun segera keluar dari kereta, lanjut berjalan ke luar menara.

“Ya! Aku mau ke toilet dulu,” kata Jiyeon.

“Oh, mau aku temani?”

Mwoya? Ih, andwaeyo! Nanti kau mengintip! Dasar mesum!”

“Ya! Ya! Aku kan hanya bercanda.”

“Ish!”

“Hmm… ppalli. Aku tunggu di tempat yang tadi, ara.”

Setelah yeoja itu pergi, aku pun berjalan kembali menuju tempat dimana aku menunggunya. Berjalan santai sambil menyelipkan kedua telapak tanganku ke dalam saku, menikmati udara sore dan langit senja yang terlihat mulai gelap.

Angin dingin mulai berhembus. Sedikit menusuk kulitku, membuatku sedikit menggigil. Cepat, kulangkahkan kakiku menuju kolam. Begitu aku tiba, aku langsung duduk di tepinya, menyelonjorkan kakiku ke depan sambil mellihat-lihat orang-orang yang berlalu lalang di sekitar.

“Jinyoung-ah?” Sebuah suara mengagetkanku.

Aku tertegun saat kutolehkan kepalaku, melihat siapa yang memanggilku.

“Cho-Chorong-ah?”

Yeoja itu langsung tersenyum sumringah melihatku. Dengan setelan kemeja lengan panjang berwarna orange pastel dan hot pants bahan denim, ia berdiri di hadapanku.

“Huh! Akhirnya kita bisa bertemu. Aku mencarimu kemarin di apartemen tempat kau tinggal. Tapi, kau belum pulang sekolah,” kata Chorong sedikit menundukkan kepalanya untuk bisa bertatapan denganku.

“Untuk apa mencariku? Ada perlu?” tanyaku dengan nada suara sedikit sinis. Entahlah, melihat Chorong, aku kembali teringat cara ia memperlakukanku dulu.

Mimik wajah cerianya, perlahan berubah sendu. Mungkin kaget karena aku berbicara sinis padanya. “Kau… marah padaku?”

Aku memalingkan wajahku.

Tidak perlu aku jawab. Toh, dia sudah bisa lihat dari bagaimana reaksiku saat melihatnya. Haruskah aku menjawabnya dengan mulutku? Tidak, kan?

“Jinyoung-ah, mianhae… aku tahu aku salah. Seharusnya, aku… aku tidak sepantasnya memperlakukanmu seperti—”

Ne, gwaenchana. Lupakan saja. Aku juga sudah melupakannya,” ujarku santai, masih melihat ke arah lain.

Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi tangan kanannya itu meraih tangan kananku, memegangnya, sesekali mengelusnya. Diperlakukan seperti itu, aku melihat ke arahnya, menatapnya seolah bertanya, ‘apa yang kau inginkan?’

“Jinyoung-ah, bisakah kita kembali seperti dulu?”

Aku diam, belum tahu harus mengeluarkan kata-kata apa untuk menjawab pertanyaan itu. Kutatap kedua matanya. Ya, sorot matanya memang tampak menyesal. Menyesali perbuatannya padaku dulu.

“Bagaimana? Kau… mau, kan?”

“Ji-Jinyoung-ah?” Suara itu sontak membuatku menoleh ke sumber suara. Bukan, bukan suara Chorong, tapi… suara Jiyeon. Yeoja itu memandangi aku dan Chorong bergantian. Tidak lama, pandangannya bertumpu pada satu titik, tanganku yang masih dipegang oleh Chorong. Menyadari itu, buru-buru aku melepaskan tanganku dari genggaman Chorong.

“O-Oh, mi-mianhae… a-aku mengganggu kalian. Mianhae,” ucap Jiyeon lirih, membungkuk sekilas, lalu berjalan meninggalkan kami. Melihat wajah Jiyeon yang tampak sendu seperti tadi, aku berniat untuk mengejarnya, namun… Chorong langsung menghalangiku.

Nugu?” tanyanya.

“Kau tidak perlu tahu. Tidak ada hubungannya denganmu,” jawabku ketus, lalu mengambil jalan di sebelahnya. Tapi, lagi-lagi ia menghalangiku, tangan kanannya langsung mencengkram lengan kananku.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Jinyoung-ah.”

Aku menghela nafas. “Mianhae, aku tidak bisa. Permisi, Park Chorong,” kataku dingin, kemudian berlari meninggalkan Chorong. Terserah apa yang mau dilakukan yeoja itu selanjutnya. Aku tidak peduli lagi.

Saat ini, yang ada dalam pikiranku adalah Park Jiyeon. Dimana dia sekarang?

@@@@@

Setelah beberapa menit berlarian di sekitar area Namsan Tower, mencari sosok Jiyeon, akhirnya aku melihat ia sedang berjalan keluar dari area pekarangan Namsan Tower. Bergegas aku menghampirinya. Dan begitu jarakku sudah dekat, kujulurkan tangan kananku untuk menyentuh bahunya, memutar tubuhnya agar berbalik menghadapku.

Kepalanya menunduk saat kami berdiri berhadapan. Kedua tangannya tidak memegang dua gelas yang tadi dipegangnya. Entahlah, mungkin dia sudah membuangnya. Tangan kanannku yang masih menyentuh bahunya, berpindah ke dagu lancipnya. Mengangkat dagu itu agar aku bisa melihat wajahnya. Dia tidak protes sama sekali.

Aku sediki terkejut dan merasa bersalah ketika aku bisa melihat wajahnya. Kedua mata yang bersembunyi di balik kacamatanya itu nampak sembab. Bahkan, aku bisa melihat bekas-bekas air mata yang baru saja diseka di kedua pipinya.

“Kau baru saja menangis, eoh?” tebakku.

Ia diam, namun tangannya bergerak untuk menurunkan tanganku yang masih memegang dagunya.

“Aku… aku tidak menangis. Hanya kelilipan.”

Aku menatapnya curiga. “Gojitmal!”

“Ya! Jung Jinyoung! Kau tahu apa, eoh? Jangan seenaknya mengatakan aku bohong!” Dia kembali membentakku seperti biasa. Tapi, mimik wajah berbeda. Bukan mimik wajah kesal yang ada terpampang di wajahnya, melainkan mimik sedih, kecewa. Apalagi, kulihat kedua matanya mulai berkaca-kaca.

Dia membentakku untuk menyembunyikan sesuatu.

“Kau memang sedang berbohong. Aku tahu itu!”

“Sudah aku katakan, jangan seenaknya menuduhku seperti itu! Aku tidak suka! Memangnya kau tahu apa, Jung Jinyoung? Kau tidak tahu apa-apa! Kau bodoh! Bodoh!” katanya emosi, beriringan dengan jatuhnya cairan bening yang menyusuri pipinya.

“Lalu, kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini, eoh? Apa yang kau tangisi?”

Dia tidak menjawab, hanya menundukkan kepalanya. Aku menghela nafas, cooling down sekali lagi. Suasana pun menjadi hening di bawah langit Seoul yang mulai gelap. Lampu-lampu taman pun mulai bersinar temaram di sekitar kami.

“Apa karena yeoja tadi, eoh? Park Chorong?” tebakku, memecah kesunyian.

Dia masih tidak menjawab.

“Dengar. Dia bukan siapa-siapaku sekarang. Dulu, aku dan dia memang pernah berpacaran. Tapi, itu dulu. Sekarang tidak lagi. Jadi, tolong jangan salah paham.”

“Siapa yang salah paham, Bodoh? Dan, untuk apa kau jelaskan semuanya? Kau dan yeoja itu tidak ada hubungannya denganku,” katanya bersuara, namun kepalanya masih memandang ke bawah.

Aku menghela nafas yang entah untuk keberapa kalinya. Lalu, dengan lancang, kedua tanganku meraih tangannya, menggenggam telapak tangan yang halus dan lembut yang sedikit gemetaran. Perlahan, ia menegakkan lehernya, menatapku.

Johahae. Saranghae,” kataku, balas menatap kedua mata yang berada di balik kacamatanya. Tangan kananku malah menambah kelancanganku saat ini. Dengan lembut, aku menyentuh pipinya, menyeka sisa-sisa air mata yang masih berada di sana.

“Aku sudah sering mendengar kau mengatakan itu padaku,” balasnya lirih.

Ne, aku tahu. Tapi, kali ini… beda. Kata-kataku ini benar-benar tulus dari hatiku. Bukan sebuah gombalan seperti yang biasa aku lakukan,” sahutku lembut.

“Oh, ya?”

Ne.”

Kemudian sebentuk bulan sabit dari bibirnya terukir. Aku bisa melihat senyum manisnya itu dengan jelas dan dekat, membuatku juga ikut tersenyum. Sepersekian detik setelahnya, Jiyeon mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, menyandarkan kepalanya di bahuku.

Nado johahae. Nado saranghae,” bisik lembut, membuat bibirku semakin tersenyum lebar. Kulepas genggaman tanganku dari tangannya, berpindah, memeluk tubuh mungilnya.

“Aku sudah tahu kau pasti menyukaiku. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Jung Jinyoung?” ujarku, terkekeh. Ia pun terkekeh sambil tangan kanannya memukul bahuku pelan. Ya, aku sudah menduga dari awal, kan?

“Kalau kau masih menebar pesonamu dengan yeoja lain, akan kubunuh kau!” ancamnya. Aku tidak tahu hari ini aku sudah berapa kali tersenyum karenanya.

Ne, aku janji.”

Dan mulai detik ini, aku benar-benar berjanji akan berhenti melakukan hal yang aku anggap sebagai sebuah kewajiban itu. Aku akan berhenti melakukannya karena… aku sudah memiliki kewajiban lain yang harus aku lakukan. Membahagiakan Jiyeon-ku. Park Jiyeon-ku.

-END OF JINYOUNG’S STORY \(^o^)/-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

-1st published: http://noeville.com

-2nd HSF-

Soooo… yang Halmae mana suaranyaaaaaaaa?

Gimana FF-nya? Udah puas ya digombalin*?* sama kakak saya (re: Jinyoung). Sudah puas, kan? Kan? Kan? Kalo gak puas, puas-puasin aja deh… hehehe *maksa*.

Btw, FF ini sebenarnya bagian dari FF Series aku yang berjudul 5 Men 5 Stories, cuma di sini aku gak publish ke-5 seri-nya dan She Is Wow ini adalah seri pertama. Gak sempet ngeditin cast-nya soalnya… ehehe ^^v #dilempar.

Hope you like this.

Ditunggu komennya :3

26 thoughts on “SHE IS WOW!

  1. Jinyoung ya ampun narsis gila … Sumpah ini ff keren bgd suka karekternya jiyi yang susah d taklukin tapi ternyata dy juga suka hahaaaa… Pkknya suka bgd ayo dunk chingu buat yang castnya jiyi pasti aku selalu hadir hehehegee

  2. Suka-sukaaa
    Pengennya jadi chapp..
    Untung dah jiyi buat Jinyoung tobat kkeee
    Ditunggu ff dengan cast Jiyeon lainnya chingu

  3. Wkakakaj .bkin ngakaj bacanya .lucu …
    Ah apkg cast uri eonni .heheheb
    Makin suka . Katanyabini dinpublish di hsf ya ? Aju srg kunjungi blog itu .tpi kok gak ada yah .o.i

  4. wah parah tuh si jinyoung
    tepe2 mulu
    tapi ngebayangin ada cwok kyk gitu d skolah kok rasanya ilfeel y?
    mngkin krn bukan jinyoung kali y? hehe

  5. Karakter jinyoung pas banget
    Bisa ngebayangkan.
    Khehehehe
    Uwaaa,,senang skli ªϑa͡ª couple ini
    Krna jrg skali yg buat ff mrka brdua
    Dtggu ya next ff jiyeon..
    Klo bisa namja castnya juga Jinyoung,,lee hyunwoo,L,GD
    Hahahahhahaha

    Author jjang!!

    • Haha… ada yang sependapat(?) dengan saya rupanya😀 #plak
      Oh, ne. Jarang ya couple ini ada FF-nya. Padahal suka juga kalo Jinyoung dipasangin sama Jiyeon. ^^v
      Oke, tapi gak janji untuk Lee Hyunwoo dan GD, ya. Soalnya kalo Jiyi, lebih dapet feel-nya kalo dipasangin sama Myung atau Jinyoung heheh ^^v

      Gomawo udah RC, ya~ ^^

  6. bagus…
    jd jinyoung ngikutin chorong #tebarpesona
    berhasil jg jinyoung nakhlukin jiyi🙂
    chukhae ^_^
    #yg udh punya pacar mau berubah ni ceritanya :v

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s