[FF Freelance] Almost (Part 1)

almostreal3Title                 : Almost

Author            : @nadyacintya_

Rated               : PG-15

Genre               : Drama

Length               : Chapter

Main Cast         :

–          Shim Hyunra             (OC)

–          Kim Jongin     (EXO Kai)

–          Xi Luhan        (EXO Luhan)

Disclaimer        : All story is mine.

 

 

 

Shim Hyunra duduk dengan tenang di bawah rindangnya pepohonan yang terdapat pada halaman belakang kampusnya, tenggelam dalam sebuah buku sketsa tipis. Rambut coklat gelapnya terurai indah dan melambai ringan disapu angin, membuatnya tampak berbeda diantara kerumunan orang-orang yang saat itu juga tengah menghabiskan waktu senja mereka di tempat yang sama. Sebelumnya tidak ada yang pernah melihat Hyunra sefokus itu. Shim Hyunra yang ada dalam pandangan orang-orang adalah sosok tuan putri dari keluarga konglomerat Shim yang tidak pernah bekerja keras, bergantung pada nama keluarga, anti-sosial, dan angkuh. Dan ketika disuguhkan pemandangan sosok Hyunra yang terduduk di tempat umum bersama atensi yang terfokus seutuhnya pada sebuah buku sketsa—yang menurut mereka tak berharga, orang-orang itu langsung mengambil tempat bergerombol dan sibuk bertukar gosip atasnya.

Sebagai orang yang dibicarakan, Hyunra sendiri tidak benar-benar ambil pusing. Gadis itu cuma memutar bola matanya bosan, namun tetap tidak berkomentar  ketika beberapa omong kosong tentang dirinya tersampaikan samar oleh desir angin. Dia tidak peduli, dan tidak ingin peduli. Orang-orang yang membicarakan atau membual cerita tentangnya tidak tahu apa-apa, mereka hanya melihat sosoknya, bukan hatinya. Mereka hanyalah makhluk berkepala kosong yang dianugerahi mulut besar. Dan bagi Hyunra, dibanding menanggapi orang-orang itu, sketsa pakaian yang tengah ia gambar jauh lebih berharga.

Dengan acuh dan tetap mempertahankan sikap kalemnya, perlahan Hyunra mengalihkan pandangannya dari buku sketsa, menggapai-gapai ke sisi kanannya dengan malas, dalam upaya meraih Caramel Frappucino kepunyaannya. Namun, alih-alih mendapatkan gelas Frappuccino-nya, manik jernih kepunyaannya malah bertemu dengan sepasang permata obsidian yang lama tak dia jumpai, permata obsidian yang kini menjadi hal paling memuakkan baginya, permata obsidian yang pemiliknya ingin dia usir dari bayang masa lalu juga kehidupannya.

~ ~ ~

Helaan napas berat lolos dari bibir tebal Kim Jongin. Pandangan pemuda tampan berambut legam itu terkunci pada sosok yang sangat familiar, Shim Hyunra. Tiga puluh meter di depannya, gadis itu terduduk dalam diam di bawah pohon, begitu menonjol dalam kesenderiannya. Perlahan dan tanpa perintah dari otaknya, Jongin melangkah tersaruk ke arah gadis yang lama menyita perhatiannya, gadis yang posisinya belum pernah tergantikan.

Dia bisa melihat bahwa seluruh atensi Hyunra tertuang pada buku sketsa tipis bersampul biru tua dalam pangkuan gadis itu, terlalu fokus dan serius hingga tidak menyadari sosoknya yang kini berusaha mendekat. Selama beberapa saat, dia masih tenggelam dalam sosok Hyunra sementara kakinya sendiri sibuk bergerak. Hyunra tidak pernah berubah dalam pandangannya, tetap cantik, karismatik, dan selalu memiliki daya tarik tersendiri baginya. Namun kali ini, dia menyadari ada yang berbeda dari gadis itu. Hyunra yang saat ini terduduk bersama buku sketsa di depannya itu tampak jauh lebih mandiri dan lebih tenang dari yang pernah dia ingat. Hyunra yang terekam dalam ingatannya mungkin memiliki sifat cuek dan dingin yang membuatnya jarang bersuara, namun ketenangan yang dia lihat pada Hyunra saat ini bukun berupa kesunyian, tapi terbentuk dalam auranya.

Jongin menghentikan langkahnya ketika sadar bahwa atensi Hyunra mulai teralih dari buku sketsa itu, memutuskan untuk berdiri dua meter jauhnya di depan gadis itu. Matanya bergerak mengikuti gerakan gadis itu, cemas. Ada ratusan maaf yang ingin dia sampaikan, ada ribuan rindu yang menanti untuk diungkap, dan ada jutaan cinta yang masih terpenjara dalam benaknya, namun sayangnya hingga saat ini dia masih bisu. Tepat ketika Hyunra mengangkat kepalanya, jantung Jongin berdegup tiga kali lebih cepat. Dia menangkap arah pandang gadis itu dengan sisa-sisa keberanian yang masih dia miliki untuk bertemu dengan Hyunra, membiarkan manik obsidiannya bertemu dengan sepasang mutiara jernih yang selalu berhasil membuatnya tenggelam, menguncinya dalam satu titik pandang yang dia sendiri tak bisa melukiskannya.

Long time no see, Hyunraya.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Jongin, terlepas bersamaan dengan senyum canggung yang berusaha dia ulas di bibirnya.

Jongin bisa mendengar suara desisan Hyunra ketika gadis itu dengan sepihak memutus kontak mata mereka. Dia juga bisa melihat ada gurat tidak suka ketika Hyunra dengan kasar meraih gelas minuman di sisinya agar bisa mengalihkan pandangan dari tatapannya.

Annyeonghasiminika, Kaissi.” Hyunra menyahut dengan formal usai meneguk setengah dari isi gelas minumannya. Dan setelahnya, Jongin bisa merasakan hatinya mencelos begitu saja. Hyunra mengabaikannya.

Dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berdiri mematung dengan mata yang belum melepas pandangannya dari sosok Hyunra. Mendengar Hyunra menyapanya dengan formal dan sebutan ‘Kai’ yang dia lontarkan benar-benar sudah meremukkan hatinya, membuatnya seakan-akan baru saja dihujam oleh palu beton super kuat. Jongin ingat betul bahwa Hyunra tak pernah memanggilnya dengan sebutan Kai, gadis itu selalu memanggilnya dengan nama kecilnya—nama aslinya, Kim Jongin, dengan nada hangat nan manis yang selalu dia rindukan. Paling tidak itu yang masih membekas dalam ingatannya setelah setahun lamanya pergi menetap di Amerika.

Don’t you miss me?” Jongin berbisik pelan, namun cukup untuk terdengar hingga ke telinga Hyunra. Suara bisikkannya terdengar seperti denting harpa, merdu sekaligus menyedihkan, seakan-akan tengah memohon dalam sebuah pertanyaan retoris.

Hyunra hanya bergeming di tempatnya, kembali fokus pada buku sketsa yang terletak dalam pangkuannya. Gadis itu bertingkah seakan Jongin tidak ada, seakan-akan mereka tidak saling mengenal, seakan-akan mereka tidak pernah berada dalam hubungan dekat yang intens. Hyunra mengabaikannya, mengacuhkannya, dan memberi penolakan dalam waktu bersamaan. Padahal Kim Jongin tidak pernah menerima perlakuan semacam itu, padahal Kim Jongin selalu mendapat apa yang dia inginkan, dan apa yang telah Hyunra lakukan seakan-akan tengah menghinanya. Namun sejak awal Jongin tahu, Hyunra berbeda. Dan mulai saat ini, Hyunra merupakan pengecualian dalam hidupnya. Dia mungkin merupakan sosok idola di Universitas bahkan sejak hari pertamanya kembali ke Korea, mungkin juga sosok lelaki yang selalu diidamkan wanita karena pembawaannya, dan mungkin juga pria yang selalu diinginkan para ibu sebagai pendamping anak-anak mereka, namun dia tahu, Hyunra tidak akan melihatnya dari sudut pandang itu. Hyunra pasti punya sudut pandang lain tentangnya, atau paling tidak, Hyunra masih punya sudut pandang yang bisa melukiskan sesuatu tentangnya. Gadis itu berbeda dari orang-orang yang pernah dia temui, bahkan hingga saat ini. Dan Hyunra akan selalu begitu.

 

3 thoughts on “[FF Freelance] Almost (Part 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s