[FF Freelance] Forever Not Hate You (Part 2)

asliJudul : Forever Not Hate You (Part II)

Author : Mettugi

Rating : General

Lenght : Chapter

Genre : Family and Romance

Main Cast :

–          Moon Chae Won as Han Seung Mi

–          Park Yoochun as Park Tae Woo

Disclaimer : FF asli buatan sendiri and no plagiarism. Tiba-tiba pengen pairing ini ada dalam FF-ku dan berharap suatu saat mereka bakal main drama bareng. Hehe..

 Previous: Part 1

Tanpa terasa sudah 4 bulan Seung Mi menetap di Inggris. Dia tinggal di sebuah apartemen sederhana yang tak jauh dari tempat studinya. Di tengah jadwal luangnya, ia memilih bekerja paruh waktu. Meski sang ayah sudah memberinya fasilitas, tapi ia menolaknya dan hanya menerima jatah uang untuk studi saja. Sedangkan biaya hidup sehari-hari, ia ingin dari hasil kerja sendiri.

Seorang profesor di universitasnya memberikan dia pekerjaan di klinik miliknya. Dia diberi kepercayaan untuk mengobati hewan-hewan yang sakit. Meski hanya sabtu dan minggu, tapi ia cukup senang. Setidaknya ilmu yang ia dapat tidak terbuang sia-sia.

“Anda perlu memberikan anjing itu vaksin secara berkala. Dan atur pola makannya, jangan sampai dia kekurangan makanan yang berprotein.” Seung Mi menjelaskan hasil pemeriksaannya pada pemilik anjing Siberian.

“Thank you so much miss.”

Jadwal kerjanya hari ini berakhir. Hari sudah sore. Dia merapikan ruang prakteknya dan meja kerjanya sebelum pulang. Rasanya lega dan bahagia, karena banyak pasien yang datang.

Ponsel Seung Mi berdering. Dia segera meraih ponsel itu dan memencet tombol ok. “Ya Hallo..” Seung Mi tampak serius dengan panggilan itu. “Apa yang kau maksud? Apa? Itu tidak mungkin..” dia menutup mulutnya tanda terkejut. Matanya berkaca-kaca. “Ayah tidak mungkin sakit. Asisten Jung, kau bercanda kan?”

Dia meninggalkan klinik yang masih berantakan dengan tergesa-gesa. Ya, dia harus pulang, kembali ke Korea sekarang juga.

***

“Ayah..” Seung Mi menangis melihat kondisi ayahnya yang tampak lemah. Tapi ayahnya masih bisa tersenyum.

“Jangan khawatir Seung Mi. Kau seharusnya masih disana sampai studimu selesai.” Sang Ayah memegang tangan anaknya.

“Bagaimana bisa aku disana, sedangkan ayah disini dalam keadaan sakit? Aku akan tetap disini sampai ayah sembuh.” Seung Mi terisak.

Ayah Seung Mi terkena diabetes. Pola makannya yang kurang teratur, dan kesibukan di peternakan membuatnya jarang makan. Asisten Jung menceritakan semua itu pada Seung Mi sesampainya di Korea. Banyak masalah-masalah di peternakan semenjak dia pergi. Seung Mi tahu, jika hanya ayahnya lah yang tahu akan seluk beluk peternakan sapi perah keluarganya di pulau Jeju ini. Sedangkan ibu dan saudara tirinya itu tidak peduli akan hal semacam itu.

***

Asisten Jung memberikan data-data pada Seung Mi. Sementara posisi direktur akan diambil alih oleh Seung Mi selama masa rehat ayah.

“Nona, ini dokumen-dokumen penting selama bulan ini. Asal nona tahu, peternakan kita 2 bulan terakhir ini mengalami kerugian karena pasokan pakan dan cuaca yang tak menentu. Banyak sapi perah yang sakit dan nafsu makannya berkurang.”

Seung Mi prihatin. Dia sedih membayangkan ayahnya seorang diri menanggung semua masalah yang ada di peternakan ini. Ribuan sapi perah tidaklah mudah ditangani meski banyak karyawan yang bekerja. Produksi susu yang menurun membuat kerugian yang signifikan. Terutama pada perusahaan pembuat susu yang sudah mengadakan kontrak perjanjian dengan peternakan ini. Mereka minta uang dikembalikan karena jumlah pasokan susu yang dikirim tidak sesuai dengan kontrak yang ada.

“Jadi, sampai sekarang kita belum menemukan solusi untuk mengembalikan uang, karena semua dana sudah dikeluarkan untuk membeli obat maupun makanan dari luar pulau Jeju.”

“Pasti ada solusi Pak Jung. Bukankah ayah punya tabungan??”

“Beberapa hari yang lalu aku diminta tuan untuk memakai uang yang dia simpan di Bank itu, tapi uang yang ada tidak sesuai dengan nominal yang dibilang tuan. Sepertinya Nyonya dan nona Jin yi mengambilnya.”

“Apa kau bilang?”

Asisten Jung mengangguk. “Aku memang tidak ada bukti, tapi beberapa bulan setelah anda pergi, sepertinya mereka merencanakan misi rahasia.”

Seung Mi lemas. Dia tidak bisa membayangkan jika ibu tiri dan saudara tirinya itu begitu licik dengan keluarganya. Berani berbuat sampai seperti itu.

“Kau terus pantau mereka. Jangan ada yang tahu akan hal ini. Kita semua harus menyelesaikannya.”

Seung Mi keluar dari kantor. Dia berjalan-jalan di sepanjang kandang sapi-sapi perah itu. Peternakan yang memiliki luas 15 hektar dan ribuan sapi perah. Tidak hanya sumber ekonomi keluarganya saja, tapi juga beberapa puluh keluarga di sekitar lingkungan peternakan. Naluri akan sayang hewan tergerak kembali, dia memeriksa sapi perah yang tampak sakit dengan hati-hati dan penuh rasa sayang. Baginya, peternakan ini seperti hidupnya. Banyak kenangan indah disini, termasuk kenangan dengan mendiang ibunya yang dulunya berprofesi sebagai dokter hewan. Seung Mi memang mengikuti jejak ibunya. Baginya, dengan ini dia bisa membahagiakan ibunya yang sudah meninggal sejak dia usia 8 tahun.

***

Hari ini Seung Mi berjalan-jalan dengan ayahnya. Akhirnya ayah diijinkan pulang. Ayah meminta Seung Mi untuk mengantar ke makam ibunya, entah kenapa sang ayah merindukannya.

Tanpa ibu tiri dan sauadara tiri, hanya dia, ayah, dan makam ibu kandungnya. Seperti bereuni kembali walau sang ibu berada di alam yang berbeda.

“Seung Mi, kau tahu pesan terakhir ibumu sebelum dia pergi?”

“Ya, dia meminta ayah untuk mengijinkan anaknya memilih hidup yang ia sukai. Dan sampai sekrang aku merasa ayah mewujudkan semuanya.”

Ayah tersenyum. “Seung Mi, jika ayah mengingkari janji itu, apakah kau akan membenci ayah?”

“Apa maksud ayah?”

“Menikahlah. Itu permintaanku sebelum ayah pergi.”

Seung Mi memandang sang ayah heran. Dia cukup terkejut dengan permintaan sang ayah yang terkesan mendadak itu.

“Sebenarnya, aku sudah mengambil keputusan yang cukup bodoh. Perusahaan yang bekerjasama dengan peternakan kita itu, dulunya adalah teman ayah. Kami selalu bersama-sama dan bercita-cita untuk menjadi seorang pengusaha. Sampai kami berjanji jika suatu hari nanti, kami akan menjalin hubungan yang baik, dan akan menjodohkan anak kami masing-masing. Setelah masing-masing dari kami sukses, kami sudah melupakan janji konyol itu. Tapi setelah peternakan itu berada di ambang krisis,..”

“Ayah menawarkan aku untuk dijodohkan ke anaknya?” Seung Mi melanjutkan sendiri kalimat ayahnya. “Tidak. Aku tidak mau, Ayah. Pasti ada jalan lain.”

“Seung Mi, ini keputusan yang baik, peternakan ini akan tetap milik kita.”

“Tapi ayah. Aku masih punya banyak mimpi. Lagipula, aku trauma dengan yang namanya cinta ayah. Bagaimana aku bisa percaya dan mencintai orang yang sama sekali belum aku kenal? Sedangkan yang sudah kenal baik saja, aku ditipu oleh mereka. Aku tidak mau ayah.”

Sepanjang perjalanan pulang, mereka berdua diam. Seung Mi memilih melengos dan menatap pemandangan luar dari balik kaca mobil.

***

“Ibu, ini benar-benar gila. Seung Mi akan menikah dengan anak pemilik perusahaan susu. Bagaimana dengan nasib kita ibu? Sepertinya ayah sudah tidak mempedulikan kita lagi.”

“Jin Yi, kau tenanglah. Di situasi seperti ini, mungkin ayahmu memang memutuskan hal yang baik. Untuk saat ini kita bersabar dulu.”

“Tapi ibu, jika perusahaan dan peternakan ini bersatu, dan Seung Mi menikah dengan anak pemilik itu, maka habislah hidup kita.”

Dua gelas cuppucino yang terasa lezat sepertinya tidak berguna untuk kedua orang tersebut. Mereka sedang dilanda perasaan khawatir yang berlebihan. Khawatir akan kelanjutan hidupnya.

***

Pagi yang cerah. Seorang laki-laki bangun dari tidurnya sambil menggeliatkan tangannya. Sudah jam 7 dan dia harus bersiap-siap bekerja. Ada rapat di kantor jam 9.

Laki-laki itu turun dari kamarnya yang ada di lantai atas, di bawah dia sudah disambut oleh ayah, ibu, dan adik perempuannya di meja makan. Kebiasaan keluarga itu yang tak boleh ditinggalkan meski sesibuk apapun aktivitas mereka.

“Tae Woo, kau sudah cukup umur untuk menikah. Ayah punya jodoh yang baik untukmu.” Ayah memulai pembicaraan di tengah-tengah acara sarapan mereka.

“Jodoh?” Tae Woo yang sedang makan tersedak mendengarnya. “Uhuk, uhuk,, kenapa uhuk.. ayah tiba-tiba bicara seperti itu?”

Ibunya dan adiknya juga ikut heran dengan penuturan ayah.

“Kau yang akan meneruskan perusahaan ini selepas ayah tidak ada. Kau juga yang akan menjadi kepala keluarga disini.”

“Tidak bisa.” Tolaknya.

“Ayah benar, Tae Woo. Ibu lihat kau tidak pernah dekat dengan gadis selama ini. Apa kau akan terus membujang seperti ini?” ibu yang sejak tadi diam kini mulai mendukung suaminya.

“Kata siapa, Oppa sudah punya gadis idaman Bu, tapi dia takut mengungkapkannya.” Adik perempuannya ikut menambahi. Dan langsung dibalas dengan pelototan tajam kakaknya.

“Jika kamu sudah punya gadis pilihanmu, kenapa tidak kau kenalkan pada ayah dan ibu?”

“Bukan begitu Bu, aku hanya.. aku.. aku sudah besar dan dewasa, sudah bisa memilih pilihan yang tepat Bu.” Tae Woo berusaha mempertahankan egonya. “Ayah, kenapa ayah menjodohkan aku ke orang yang tidak aku kenal sebelumnya? Bagaimana bisa menikah tanpa saling mencintai?”

“Kau sudah pernah bertemu dengannya. Dia anak Han Dong Woo. Teman lama ayah. Dan juga mitra kerja di perusahaan kita.”

“Jadi ayah menggunakanku demi perusahaan?” Tae Woo tidak berselera lagi dengan hidangan yang ada, dia meletakkan makanannya yang masih setengah dan pergi.

“Sayang, kenapa kau memaksanya? Kita sendiri tahu bahwa dia anak yang keras kepala.” Ibu khawatir melihat sikap anaknya itu.

“Sudahlah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ayah Tae Woo kembali menyelesaikan sarapannya yang tinggal setengah.

***

 

4 thoughts on “[FF Freelance] Forever Not Hate You (Part 2)

  1. Bener2 jahat deh ibu dan adik tirinya, semoga aja diakhirnya mendapat penderitaan yg setimpal ats kejahatannya.
    Thoor, konfliknya jgn berat2 dan jgn trlalu brbelit2 yaaa, dan banyakin cerita yg bahagia….
    Sukses terus…

  2. Sebenarnya apa rencana ibu tiri seung mi ya?? Kok jahat bgt sampe curi uang gt. Dan kenapa kok keliatan kl ibu tiri n ayaH tdk akur gt?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s