So, I Married My Enemy | Chapter 3

Adorable poster by Cipzcagraph (Gomawo saeng ^v^)

Author: Shin Min Rin/Lin (@nzazlin)

Title: So, I Married My Enemy

Cast: Park Jiyeon (T-Ara), Choi Minho (SHINee), Choi Jin Ri (f[x]), and others…

Length: Chaptered/Series

Genre: Romance, Married Life, Drama, Little bit Family and Comedy/Humor

Rated: PG 15

Disclaimer: This plot and ideas belongs to me. The ideas, of course from God. The cast belong to themselves. Don’t claim as yours!!!! (Eventhough this ff not too good.)

Summary: “Park Jiyeon! Rasanya aku terkena racun. Racun pesona mu lagi.”

Read previous >>> Chapter 1 | Chapter 2

WARNING! TYPO(s), OOT, OOC dan alur yang semakin GAJE…

~Happy Reading~

CHAPTER 3

Aura hitam mencekam menyelimuti Minho. Dia tampak begitu tidak ikhlas dengan keadaannya sekarang ini. Dengan emosi yang tertahan Minho pun mulai berbicara, “Halmeoni… yang benar saja…..”

Rumput hijau yang lembab. Butiran tanah. Keranjang besar yang terbuat dari anyaman bambu. Pisau biasa, pisau pengupas buah, pisau pemotong daging hingga ke yang paling besar…. Jeng jeng jeng! gergaji! Sarung tangan yang penuh bekas tanah terletak di rerumputan. Hmm… sudah bisa dipastikan aroma tanah yang lembab dapat tercium oleh indra pencium.

Nenek tersenyum tanpa dosa dan menyipitkan matanya ke arah cucunya. Ia mulai menaikkan sedikit gagang kacamatanya dan sinar kelicikan muncul tiba-tiba sehabis nenek menaikkan gagang kacamatanya lalu tersenyum licik. Hanya ada mereka bertiga. Nenek. Minho dan Jiyeon. Yang lain? Mereka tidak ada waktu untuk mengurus hal tidak berguna seperti ini. Angin malam berhembus, suasana yang cukup tenang. Belum ada kelanjutan dialog setelah itu.

Sorot mata mereka yang berbicara diantara satu sama lain. Nenek melipat tangannya. Minho menatap Nenek dengan raut wajah kesal. Jiyeon berada di belakang badan Minho menggosok-gosok kedua tangannya yang terpasang sarung tangan penuh bekas tanah itu.

“Huh. Kau harus terima kenyataan cucu ku yang tampan.” Ucap Nenek memecah keheningan. Nenek tersenyum menatap Minho.

“Kenyataan? Apa yang kenyataan? Ini kelewatan! Halmeoni… kami ini bukan tukang rumput! Bahkan tukang rumput saja menggunakan mesin!!” protes Minho. Kemudian tangannya mengarah ke Jiyeon, menunjuk Jiyeon yang tampak kedinginan itu. “Halmeoni lihat! Jiyeon kedinginan. Hentikan hal tak berguna begini halmeoni. Ini sudah malam, yang benar saja…. Arghhhhhhhh.”

Minho tampak frustasi, Jiyeon hanya menatapnya sambil terus menggosok tangannya tanpa sepatah kata pun terucap keluar dari mulutnya.

“Khu khu khu khu khu~~~” Nenek tertawa sinis sambil berkipas dengan elegan. Drumroll berbunyi disertai dengan sorot lampu yang tiba-tiba muncul entah darimana menyinari tubuh sang Nenek layaknya seorang superstar di panggung megah. Ia mengeluarkan foto dari dalam tas kecilnya.

“Hukuman ini tidak seberapa. Yaaaa foto kalian yang mesra ini lumayan cukup untuk mengurangi hukuman kalian. Hanya mencabut rumput apa susahnya? Cabutlah rumput malam ini dengan santai berduaan dengan mesra. Bukankah udara yang dingin ini akan menambah kesan romantis kalian? Aaah~ Halmeoni bisa membayangkan. Jiyeon yang kedinginan dan kau akan memeluknya. Kyaaa~ sungguh romantis, membayangkannya saja halmeoni sudah senang begini. Duh, Halmeoni jadi teringat waktu pacaran dulu dengan Kakek mu.” Sejurus kemudian matanya kembali fokus menatap kedua orang itu.

“Jadi, cabutlah rumput dengan santai dari teras tempat Halmeoni ini sampai pagar ya. Selesaikan malam ini. Halmeoni ingin lihat kesungguhan kalian berdua❤.” Nenek berbalik ke belakang dan akan kembali ke dalam membuka pintu.

“Jamkkaman Halmeoni! Ini tidak akan bisa selesai malam ini. Setidaknya biar kami lanjutkan besok saja. Malam ini dingin sekali. Jebal Halmeoni….” Jiyeon memohon sambil terus menggosok-gosok tangannya.

Nenek menutup kembali pintu yang sudah dibukanya tadi.

“Kalian tenang saja. Bisa selesai malam ini. Percayalah pada Halmeoni.” Nenek tersenyum yakin. Wajah Minho semakin kesal melihat ekspresi Neneknya yang sudah kelewatan tua juga cara hidup seperti jaman ‘siti nurbaya’ ditambah lagi gaya serta cara bicaranya yang seperti ratu serta gadis-gadis sosialita abad 21 modern sekarang ini.

“Ta-tapi Halmeoni, aku kedinginan, dan ngantuk.” Jiyeon kembali menyuarakan isi hatinya.

Nenek kembali tersenyum. “Aaaah, kalian tenang saja. Halmeoni sudah menyiapkan tenda yang hangat untuk kalian. Lihat disana.”

Mereka berdua menoleh ke arah tangan telunjuk Halmeoni. Sebuah tenda berwarna hitam yang berukuran lumayan bertengger di dekatn pohon besar. Luas pekarangan belakang Villa ini memang luas. Jadi wajar saja kalau hal-hal tak terduga muncul, contohnya saja wahana komedi putar serta bianglala ada di sini di dekat pagar belakang rumah. Orang kaya memang memiliki unsur seni beda dari yang lain -_- Dan harus kau tau satu hal, pekarangan belakang ini luasnya 4 kali lapangan basket. Jadi wajar Minho dan Jiyeon begitu protes.

“Sudah ya. Halmeoni kedinginan ingin tidur. Annyeong cucu-cucuku sayang. Chuuuu~ bermesralah~” Nenek menutup pintu setelah berkata-kata dengan suara imut yang dibuat-buat.

Mereka berdua hanya terdiam tanpa kata dengan ekspresi datar. Satu yang pasti mereka pikirkan: Nenek macam apa itu?!

Udara makin terasa dingin. Mereka mulai mencabuti rumput-rumput itu setelah tadi mereka sama-sama terdiam dan bertengkar mulut saling menyalahkan satu sama lain. Jiyeon tidak henti-hentinya menguap dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Matanya sudah tidak bisa melihat dengan baik akibat rasa kantuk yang begitu besar.

Tanpa disangka Jiyeon sendiri. Ternyata dari sudut sebelah kiri dari tempat Jiyeon mencabuti rumput yang agak mulai memanjang, Minho memandangi tingkah Jiyeon yang seperti itu. Kepala Jiyeon sudah naik turun akibat rasa kantuknya. Sebenarnya, dalam hatinya sendiri dia ingin menyuruh Jiyeon untuk tidur saja di dalam tenda, dan dia yang menggantikannya kerja. Hanya saja, gengsi menjadi penyebab utama hal itu tidak dilakukannya.

Jiyeon makin merasa ngantuk yang tak tertahankan. Kepalanya makin naik turun dan matanya sudah jelas tidak lebih dari 5 watt. Kemudian dia berhenti mencabuti rumput-rumput tersebut. Melepaskan sarung tangan plastik dan memasukkan tangannya ke dalam saku jaket tebal yang dipakainya sekarang ini. Kepalanya mulai naik turun menahan rasa kantuk. Hingga akhirnya dari posisi jongkoknya sekarang dia tersungkur mencium tanah yang sedikit lembab itu akibat ngantuknya.

Minho terperangah, dan dengan cepat mendekati Jiyeon yang posisinya terseungkur itu. Saat Minho ingin membantu menarik Jiyeon dari posisi itu, Jiyeon sudah bergerak sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk menyadarkan diri.

Dia menoleh ke belakang dan melihat Minho yang tangannya setengah menjulur.

“Ya! Apa kau lihat-lihat?!” ucap Minho tiba-tiba salah tingkah dan menarik tangannya kembali untuk masuk ke dalam saku jaket tebalnya itu.

Jiyeon hanya memicingkan matanya. Dia tidak merespon dan malah berdiri tegap tepat di depan Minho saat ini.

“Hah sudahlah… Aku ngantuk, kau selesaikan semua ini ya. Aku mau tidur dulu.” Jiyeon berkata dan berjalan menuju tenda setelah itu.

Minho ingin protes sebelumnya tapi dia malah tertawa karena melihat ada sesuatu yang menempel di wajah Jiyeon. Sontak Jiyeon menoleh tiba-tiba dan berbalik menghadap Minho yang masih cekikikan.

“Ya! Otak mu sudah benar-benar miring ya Choi Minho??” tanyanya dengan kesal. Minho tidak menjawab dan cekikikan sambil menunjuk wajah Jiyeon. Jiyeon merasa bingung dan aneh kemudian dia memegang pipinya.

“Hahahaha… Wajahmu…. Hahaha!” kekeh Choi Minho. Jiyeon menarik tangan Minho dengan cepat seraya berkata, “Mana? Tunjukkan!”

Minho masih saja terkekeh. Membuat Jiyeon sedikit kesal dengan tingkahnya itu. Kemudian dia menghempaskan tangan Minho dengan kesal. Minho sedikit terkejut. Lalu Minho berdehem kecil dan mengarahkan tangannya dengan cepat menunjuk hidung Jiyeon.

“Disini… kotor terkena lumpur.” Ucapnya menatap Jiyeon. Jiyeon melirik Minho setelah tadi dia melirik ke arah lain dengan ekspresi sebal.

Tanpa disadari mata mereka malah menatap satu sama lain. Tidak ada percakapan apapun dan tangan Minho masih menunjuk hidung Jiyeon yang terkena lumpur. Begitu juga halnya dengan Jiyeon yang masih terdiam dan menatap mata belo Minho yang teduh dan tajam itu.

‘Ah, mata indah ini… sudah lama aku merindukannya…’, batin Minho, dia terpaku dengan pesona gadis yang sudah resmi menjadi istrinya ini walaupun mereka masih saja bermusuhan. Sama halnya dengan Jiyeon, dia juga terpaku. Menatap lelaki di hadapannya, tiba-tiba rasa rindu entah muncul darimana menyerbunya memasuki relung hatinya.

‘Aku rindu mata ini, tatapan mata yang teduh tapi tampak berkarisma…’, batin Jiyeon juga. Mereka masih sama-sama terdiam cukup lama. Masih memandang satu sama lain tanpa berucap sepatah katapun. Hanya deru nafas masing-masing yang dapat terdengar dan hembusan angin malam yang begitu dingin itu.

Hingga tiba-tiba dinginnya hawa malam ini terasa menusuk tulang-tulang menyadarkan Jiyeon. Jiyeon berdehem kecil lalu kemudian Minho menurunkan tangannya yang menunjuk hidung Jiyeon. Minho mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah lain.

“Hm gomawo sudah menunjukkannya.” Jiyeon mengusap hidungnya dengan lengan jaket tebalnya itu. Minho melirik Jiyeon lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil mengangguk dan kembali menatap ke arah lain.

Jiyeon sudah selesai mengusap-usap hidungnya yang kotor itu, lalu dia berjalan menjauh menuju tenda yang berada di sana karena rasa kantuknya yang muncul kembali. Dia menguap sambil berjalan menuju tenda tersebut. Minho melihatnya dan hanya membiarkan aksi Jiyeon tersebut yang berarti meninggalkannya sendiri untuk mencabut-cabuti rumput-rumput liar ini.

–=–=

Sinar matahari menyinari tenda yang berwarna hijau tua itu bahkan sinarnya memasuki celah yang sedikit terbuka dari tenda tersebut. Tampak kedua orang itu masih tertidur dengan nyenyak.

Kemudian, nenek membuka pintu belakang vila dan berjalan dengan cepat sambil membawa ponsel di tangannya. Nenek tampak senang dan bersenandung kecil menuju tenda tersebut yang dihuni oleh cucu dan menantu cucunya. Dengan langkah mengendap nenek memasuki mengintip celah kecil itu agar mereka berdua tidak terbangun. Ekspresi nenek begitu berlebihan setelah dia berhasil mengintip keadaan cucu-cucunya itu. Dia tersenyum lalu mengambil gambar dengan menggunakan ponselnya itu.

Satu jepretan dengan flash menyala berhasil diambil oleh sang nenek. Dia tersenyum melihat hasil foto tersebut.

“Eungh.”

Nenek membulatkan matanya kaget karena mendengar erangan Jiyeon, dengan cepat dia berjalan kembali memasuki vila karena takut ketahuan.

Jiyeon mengerang kecil, dia masih memejamkan matanya. Jiyeon makin menyandarkan kepalanya pada sesuatu yang masih didekapnya dengan nyaman itu. Terasa begitu hangat dan enak baginya. Dia tersenyum dan memeluk sesuatu yang didekapnya itu. Entah apa yang diimpikan Jiyeon dia tampak sangat nyaman pagi ini, walaupun samar-samar sinar matahari pagi tampak menyilaukan.

“Ehm ehm.” Deheman itu membuat Jiyeon sedikit tersadar dalam keadaan kedua matanya yang masih terpejam. Dia mengernyitkan alisnya, merasa sedikit aneh. Karena sumber deheman tersebut berasal dari sesuatu yang didekapnya ini. Deheman itu kembali terdengar. Dia mulai membuka sedikit demi sedikit kedua matanya dan langsung disambar oleh suara Minho.

“Dada bidang ku ini sangat nyaman ya sampai-sampai kau begitu senang mendekapnya?”

Dengan cepat mata Jiyeon terbuka dengan lebar. Dia melebarkan matanya dan menatap sesuatu yang dipeluknya itu. Sweater rajutan berwarna abu-abu itu tampak jelas didepan matanya.

“Aaaaaaaa…” kaget Jiyeon dengan cepat dia mendudukkan dirinya agak menjauh dari Minho yang masih terbaring dan tertawa cekikikan itu. Dengan cepat dia menyilangkan kedua tangannya tepat di dada memberi aba-aba bahwa ‘jangan mendekat’.

“Mw-mwo-mwoya??! Ya! Berhenti tertawa! Tidak lucu tau! Aku kan tidak tau kalau itu kau….lagian siap—aaa aissssh.” Kesal Jiyeon yang masih pada posisi sama tersebut. Minho yang awalnya cekikan dengan posisi terbaring dihadapannya kemudian juga mendudukkan dirinya.

“Alasan saja kau Park Jiyeon! Bilang saja kau menyukai tubuh ku ini…hahahaha.”

“Yaaaaa! Diam kau!!” kalap Jiyeon sambil menunjuk-nunjuk Minho dengan kesal. Wajahnya memanas dan sedikit memerah karena malu akan hal yang dilakukannya. Mana Jiyeon sadar kalau yang dipeluknya itu adalah dada bidang suaminya itu.

Minho tiba-tiba diam. Wajahnya menatap Jiyeon lurus, menampakkan aura seriusnya. Jiyeon membulatkan matanya kaget karena melihat perubahan ekspresi Minho. Dengan cepat Jiyeon kembali menyilangkan kedua tangannya.

Minho tersenyum jahil. Dia merangkak dengan pelan mendekati Jiyeon yang wajahnya memerah dan agak sedikit terkejut itu.

“Ya! Park Jiyeon! Aku……” Minho tepat berada dekat sekali dengan Jiyeon dalam tenda mereka ini. Dengan jelas deruan nafas membara Minho terasa didekat telinganya. Membuat Jiyeon bergidik.

Minho mengalihkan kepalanya menatap mata istri sahnya itu. Sama. Mereka menatap satu sama lain. Tanpa diketahui diantara keduanya, sengatan-sengatan kecil terasa diantara tubuh masing-masing. Jantung mereka berpacu. Pikiran mereka melayang pada kejadian disaat mereka tidak seperti sekarang ini. Itu sudah lama sekali….

….

Flashback

Mata kedua pasangan itu menatap satu sama lain, tidak bosan-bosannya mereka untuk menyudahi kegiatan ini. Senyum merekah diantara keduanya. Jantung yang sama-sama berdetak. Dan semilir angin musim semi menambah keromantisan sore ini, di taman ini.

Kedua orang ini masih berpakaian sekolah lengkap. Tampaknya mereka baru pulang sekolah atau dari kegiatan sekolah.

“Saranghae, Yeonnie-ah.”

“Ne, nado saranghae Minho-ya.”

Kemudian mereka sama-sama tersenyum menatap satu sama lain. Minho menggenggam tangan Jiyeon. Lalu dia tersenyum senang.

“Aku tidak menyangka, aku akan mempunyai yeojachingu semanis dan secantik ini. Aku tidak bermimpi kan?” ucap Minho raut wajahnya sangat amat terlihat bahagia.

Jiyeon menundukkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah disaat Minho memuji dirinya. Ditinjunya bahu Minho dengan tangan kirinya membuat Minho meringis kesakitan.

“Omo omo! Nae Yeonnie kau berani memukul neo Minho ya??” canda Minho menatap Jiyeon yang sekarang sudah mendongakkan kepalanya.

“Ya! Minho babo! Kalau kau bermimpi tidak mungkin kan tinjuan ku terasa sakit? Hahaha.” Balas Jiyeon. Mereka tersenyum bersama kemudian.

End of flashback

…..

‘Wajahnya dekat sekali…’ batin Jiyeon. Entah kenapa kekuatannya terasa seakan menghilang karena ditatap mata teduh yang tajam penuh karisma itu.

Dan entah kenapa pula, Minho dengan pelan mengusap-usap pipi Jiyeon. Sepertinya mereka berdua kehilangan akal sehat kali ini. Keegoan masing-masing seolah dilupakan. Pertengkaran mereka, ya mereka musuh bebuyutan bukan? Seolah dilupakan sejenak.

Jiyeon memejamkan matanya saat Minho masih mengusap-usap pelan pipi Jiyeon. Minho mulai makin memajukan wajahnya menghilangkan jarang yang tercipta diantara mereka. Deru nafas Minho terasa begitu jelas menerpa wajah Jiyeon.

‘Ah, Jiyeon untuk kali ini, tolong lupakan masalah kita… aku pikir aku gila pagi ini, karena bayang mu masih terasa jelas. Dan aku mohon Jiyeon jangan jauhi aku setelah ini.’ Batin Minho harap-harap cemas pada saat itu dia berhenti menatap Jiyeon yang memejamkan matanya. Bahkan jarak mereka hanya berbataskan hidung mereka masing-masing.

Minho kembali, dia memiringkan wajahnya untuk mencari bibir Jiyeon.

“Oppa! Eonni! Ayo kita sarapan! Appa, Eomma, dan Halmeoni sudah menung…….” Jin Ri membulatkan matanya saat dia menyibak kain tenda itu lebar-lebar.

Bibir mereka sudah saling bersentuhan. Dengan posisi yang mengagetkan adik Minho itu. Minho yang memegang pipi Jiyeon dan Jiyeon yang terduduk sambil memejamkan mata.

“Oh, mianhe! Kalian bisa lanjutkan… a-aku duluan ya!” dengan cepat Jin Ri berlari masuk menuju vila, meninggalkan tenda mereka berdua. Mereka membelalakkan mata mereka.

Dan dalam waktu tidak sampai 3 detik. Jiyeon sudah mendorong Minho dengan kuat menjauh darinya hingga Minho terbaring menabrak bantal.

Jiyeon menundukkan wajahnya yang memerah. Malu sekali bukan? Di hari yang masih pagi, dan disaat mereka ‘kepergok’ secara tidak sengaja oleh adik Minho sendiri.

==-==–

“Ya! Kau… jaga jarak 2 meter dari ku!” bentak Jiyeon kesal saat mendapati Minho berjalan disampingnya yang memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket tebal itu. Minho mengernyitkan dahinya. Dia mendekati Jiyeon yang didekatinya hanya mundur.

“Kenapa? Kau ini aneh sekali!” ucap Minho dengan tampang tanpa dosanya itu.

Jiyeon kembali menyilangkan kedua tangannya itu tepat di dada.

“Kalau kau tidak mau, aku saja yang menjaga jarak darimu!”

Jiyeon berjalan dengan cepat menuju pintu masuk vila meninggalkan Minho yang masih berdiri mematung menatap Jiyeon itu.

Dia tersenyum agak sedikit bersalah dan dengan cepat ia mengikuti Jiyeon dari belakang.

==-===-

Dari kemarin sang nenek tidak ada mengomel ataupun kembali menyuruh-menyuruh mereka berdua –Minho dan Jiyeon- untuk melakukan hal aneh lagi. Padahal sudah jelas kerjaan mereka kemarin malam tidak selesai sedikitpun. Nenek hanya bersikap manis pada mereka berdua. Rumah mendadak tentram dan aman setelah insiden itu. Keadaan rumah normal, seperti biasa, mereka bercanda tawa sesama keluarga sambil meminum teh.

Soal Jin Ri, dia semakin dekat dengan Jiyeon seperti sahabat. Mereka biasa menghabiskan waktu duduk di teras vila sambil bercerita.

Hal aneh yang terjadi ialah, Minho dan Jiyeon benar-benar jarang sekali bertengkar semenjak kejadian, hm… itu. Yang membuat mereka yaaaaa, sama-sama lagi merasakan debaran-debaran tersebut. Semenjak kedua keluarga itu juga ikut menginap sementara di vila ini. Minho dan Jiyeon mau tidak mau harus berbagi kamar karena mematuhi peraturan yang ada. Suami dan istri bukankah harus sekamar?

Pagi tadi Jin Ri bercerita mengenai suatu hal yang sedikit mengagetkan Jiyeon. Jin Ri hanya bisa berharap agar hubungan kakak laki-lakinya ini membaik dengan Jiyeon yang dianggapnya sahabat sekaligus kakak ipar itu.

“Eonni, aku tau saat kau mengamuk dan mengacaukan baju-baju Oppa dan menyembunyikan foto aku dengannya. Haha, kalian lucu sekali saat aku mengetahuinya.”

Sontak Jiyeon menoleh dan merasa malu akan sikapnya itu. “A..a..ahahaha. Kau tau darimana Jin Ri-ya?”

“Pelayan Oh. Hahaha, dia dekat dengan ku. Jadi terkadang kami suka saling bercerita.”

Jiyeon teringat dengan wajah pelayan yang memiliki rentang umur paling tua itu. Dalam hatinya dia sungguh merasa malu jika mengingat-ingat kelakuan dan kemarahannya saat itu.

“Eonni, Oppa memang suka menyimpan foto yang dianggapnya berharga kemanapun dia pergi. Bahkan aku kemarin tidak sengaja dengan iseng membuka dompetnya. Hahaha.”

“Daebakk Jin Ri-ya, kau berani juga ternyata ya… hahaha. Ku kira kau adik yang manis tidak suka menjahilinya.”

“Ani, itu tidak benar. Hahaha. Aku suka menjahili Oppa menyebalkan itu. Rencananya aku ingin mengambil semua uangnya karena dia pelit tidak mau membantu ku sesuatu. Eh tapi waktu aku membuka dompetnya. Aku iseng melihat fotonya. Tapi Eonni!!! Dibalik fotonya sendiri ada foto kalian berdua yang tersenyum cerah masih menggunakan seragam SMA! Dulu kalian berhubungan ya?” ucap Jin Ri dengan semangat. Karena kedua orang yang disayanginya ternyata memiliki hubungan dekat dulunya.

“A…ahahaha.” Jiyeon tertawa canggung. Dia teringat akan suatu hal. Jin Ri tersenyum senang.

“Eonni dan Oppa cocok lho! Aku suka melihat kalian berdua. Yaaa kalian memang sering bertengkar kan? Salah satunya gara-gara aku waktu itu, hahaha. Aku memang sudah lama sekolah ke USA Eon, bahkan aku tidak tau kalau Minho Oppa dulu punya yeojachingu secantik Eonni.”

Jiyeon menoleh menghadap Jin Ri yang sekarang tersenyum. Jiyeon tidak terlalu memfokuskan perkataan Jin Ri barusan. Satu yang dipikirkannya, foto mereka yang dulu masih disimpan Minho?

Diam-diam Jiyeon tersenyum.

Karena ini sudah menginjak hari ketiga mereka semua disini. Orangtua Jiyeon maupun orangtua Minho memiliki kesibukan masing-masing keduanya harus pulang ke Seoul bersama nenek dan Jin Ri tentunya. Karena tidak mungkin kan disaat Jiyeon dan Minho sedang bulan madu menghabiskan waktu mereka sebulan, Jin Ri tinggal di rumah ini.

Tidak! Jin Ri hanya menumpang sementara sampai keluarga mereka datang kesini, karena ini di Incheon. Jin Ri sudah agak lupa dengan arah jalan dan tempat di Seoul, ya sudah terhitung sekitar dari dia lulus SD, Jin Ri melanjutkan sekolah ke USA. Dia ingin mendalami dunia desainer ke luar negeri agar bisa menjadi sukses sesuai cita-citanya. Orangtua mereka mengizinkan, karena ada beberapa paman dan bibi Jin Ri menetap tinggal disana, memperlebar cabang perusahaan besar keluarga Choi.

Siang ini, mereka semua sudah berada di depan vila megah milik keluarga Choi. Minho lumayan sibuk dengan mengangkat koper kedua orangtua dirinya dan Jiyeon.

Jiyeon berbincang-bincang dengan ibu serta bermanja-manja karena mulai hari ini hingga dua minggu ke depan, dia tidak akan bertemu kedua orangtuanya.

Persiapan sudah selesai. Keluarga Choi dan keluarga Park sudah memasuki mobil mereka masing-masing untuk pulang.

“Hati-hati di jalan, Eomma, Appa!” Jiyeon tersenyum menatap wajah kedua orang tuanya. Kemudian dia berjalan menuju mobil yang berada di belakang mobil kedua orang tuanya itu.

“Hati-hati di jalan, Eomonim, Abeonim, Halmeoni, dan Jin Ri-ya!” ucap Jiyeon sambil tersenyum manis.

Mereka yang berada di mobil tersenyum menyambut salam perpisahan Jiyeon. Minho tersenyum dibalik badan Jiyeon.

Mereka juga menjawab dengan anggukan dan salam perpisahan juga untuk pasangan ini. Salah satunya seperti. “Ya, kalian juga ya. Kalian bersenang-senanglah dengan bulan madu ini.” Yang diucapkan oleh ibu Minho sambil tersenyum hingga matanya menyipit.

Mendengar itu, Jiyeon dan Minho hanya terdiam sambil tersenyum terpaksa.

Mobil mulai berjalan dengan perlahan. Jiyeon melambai-lambaikan tangannya kepada kedua mobil itu yang siap keluar dari pagar.

Entah sinar apa atau kilatan blitz dari mana. Sinar kacamata nenek mungkin.

Nenek menyembulkan kepalanya dari jendela mobil menatap kedua mempelai itu. Dia mengedipkan mata sebelahnya.

“Nanti saat pulang ke Seoul. Aku ingin mendengar kabar Jiyeon hamil, Minho-ah! Fighting!” sang nenek setengah berteriak berkata seperti itu sambil tersenyum dan membetulkan kacamatanya. Kedua orangtua Minho yang duduk di depan menahan senyum. Apalagi Jin Ri yang mendengar kespontanitasan nenek yang duduk disampingnya, dia menyengir menahan tawanya.

Minho dan Jiyeon membelalakkan matanya menatap satu sama lain. Wajah Jiyeon tiba-tiba memerah. Minho menggeram sedikit menatap neneknya.

Saat mobil keluarga Choi sudah benar-benar keluar dari pagar. Jin Ri menyembulkan kepalanya.

“Fighting Oppa-ya!!! Hahahaha.” Ledek Jin Ri sambil tertawa dan dengan cepat masuk dan menutup kaca jendela mobil.

“Ya! Choi Jin Ri! Ku ledek nanti kau habis-habisan!” teriak Minho yang salah tingkah.

Jiyeon menunduk menahan malu. Semburat merah sudah benar-benar sangat jelas jika Minho melihatnya. Apalagi dalam pikiran Jiyeon teringat kata-kata Jin Ri tadi pagi.

Jiyeon berbalik dan memutuskan akan memasuki vila untuk bersembunyi karena malunya ini. Minho menatap kelakuan Jiyeon dan menghadangnya.

“Mau kemana?” tanyanya.

“Kenapa bertanya Choi Minho?”

Minho geser ke kiri agar Jiyeon bisa lewat. Dia mengernyitkan dahinya setelah sekilas melihat ekspresi Jiyeon. Lalu dia tersenyum jahil sambil menepuk tangannya.

‘Wajahnya tadi merah?’ batin Minho lalu dia masuk juga ke dalam.

==-==–

Lima hari sudah berlalu. Tampaknya keadaan berubah memanas lagi. Semenjak kedatangan keluarga mereka, mereka berada di kamar yang sama. Tapi jangan dikira mereka berada di tempat tidur yang sama. Salah satunya mengalah, Minho yang mengalah, dia tidur di lantai dengan alas selimut dan bantal seadanya. Seorang Choi Minho yang kompetitif mau mengalah dengan musuh bebuyutan yang pernah dicintainya.

Malam demi malam yang telah berlalu. Mereka masih tidur di kamar yang sama. Tapi malam ini, entah kenapa Minho tidak mengalah. Dia membuat Jiyeon kesal.

“Ya! Babo! Turun ke bawah!” gertak Jiyeon. Minho masih saja berbaring dengan malas, mengambil semua tempat di atas kasur lebar itu.

“Ya! Babo! Kau membuat ku marah! Cepat turun atau kau mau ku tendang hah!?”

“Berisik!” timpal Minho yang membuka matanya. Membuat Jiyeon semakin geram saja.

“Ya!….”

Kata-kata Jiyeon terhenti saat Minho menarik tangannya dengan kuat hingga berbaring disampingnya.

“Berisik Park Jiyeon! Tinggal tidur saja apa susahnya.” Ucap Minho dengan ekspresi yang tidak bisa ditafsirkan.

“Ya! Kau namja mesum!” Jiyeon berkata seperti dan dengan cepat bangkit dari posisinya tersebut.

“Mesum? Aku ini suami mu Park Jiyeon!”

“Ya! Kau terkena racun apa hingga seperti ini baboya namja!” Jiyeon berkata seperti itu dengan menahan rasa debaran jantungnya dan berjalan cepat membuka pintu kamar mereka.

BLAM!

Minho tersenyum kecil.

“Park Jiyeon! Rasanya aku terkena racun. Racun pesona mu lagi.” Minho mendudukkan dirinya sambil mendengar sayup-sayup suara Jiyeon dari luar yang masih mengomel akan dirinya.

To be Continue? Or……….??

————

Me: Haloooo! Akhirnya selesai juga chapter 3 ini huuuuft….
Maaf ya lama ngepostnya, dan kyaknya ga ada yg nungguin? hahaha.

aku mengalami writer block sama lupa klo ada utang ff sama readers sekalian huuhuhu -.- Maba pedih kawan, bnyak tugas euy, jd lupa aku.
btw, komeeeeen yaaa^^ maaf klo gaje en krg bagus sm alurnya ada yg jelek.

sorry jg for the typo. krn ga ngedit soalnya main langsung copas abis post dr wordpress pribadi~
RCL Guyssssssss😀 kunjungi blog ku kalo mau, sama niat aja hahaha >> lin16296.wordpress.com

okeeee makasssiiiiih banyak yaaaa saranghae chuuu❤ *plakk*

13 thoughts on “So, I Married My Enemy | Chapter 3

  1. aku masih menunggu ni ff,, iya lama banget ampe lumutan n lupa ceritanya tp udh inget age ko,, duh kata kata minho yang terakhir beneran tu dia udh suka g ma jiyeon berharap gitu

  2. Setelah sekian lama akhirnya dipost jg ffnya🙂
    hahaha Halmoeni parah bgt, lucu tapi sukses jg rencana halmoeni walaupun minho n jiyeon msh sering bertengkar tapi mrk sdh mulai saling suka lagi.
    Ditunggu lanjutannya yah😀

  3. Annyeong… aku readers baru, mianhae baru koment part ini…
    Aku penasaran deh, kenapa mereka sampe jd musuhan, kan kt nya mereka dlu pernah pacaran…
    ditunggu kelanjutannya…..

  4. aku baru baca part ini .. jadi aku akan terus mengunggu kelanjutannya lohh… ^^

    neneknya gokil abis~~ kkk

    ditunggu next chapnyaa~~ hwaitting!!

  5. Huahhh ditunggu ßųųααπğèť chinguu..
    Jangan ampe ngak dilanjut..
    Penasaran sama kelanjutaanyaa dan semoga Minji cepat menyadari perasaan masing-masing dan kegengsian mereka segera memudar..

    Ditunggu-ditunggu

  6. wah part 3 udh ada y
    kemana aj chingu? lama g mncul

    well ikut deg2an gara2 minho-jiyeon
    keren!! dan cepet lanjuttin,,,,,

  7. kyaaa Minho mau kiss jiyeon tapi gak jadi😦
    emang dulu mereka pernah pacaran ya??
    kenapa sekarang bisa berantem mulu??
    aduh penasaran..keren ceritanya
    next part chingu🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s