De Javu

De Javu

Title : De Javu

Cast : EXO Kai & Fx Krystal

Leght : OneShoot

Genre : Romance, Sad, Angst

Inspired by Super Junior Coagulation Fanmade MV

Thanks to hellospringbreeze for editing and Angelbesidemey for beautiful poster

©Immocha 2013

 ________

De Javu

Istilah yang sangat sering di gunakan saat kita mengalami kejadian yang dirasakan pernah dialami sebelumnya.

Apa kalian tau? Itu bisa saja menjadi pertanda akan kejadian selanjutnya.

Karena ‘dia’ pasti akan mengunjungimu tak hanya sekali….

***

Kai menyandarkan punggungnya pada pintu mobil yang terparkir di salah satu sekolah di Seoul. Kedua tangannya bersembunyi di balik saku mantel hangat berwarna hitam, sementara kepalanya sedikit tertunduk menghindari udara yang semakin dingin di sore hari.

Butiran demi butiran salju sudah mulai menumpuk memenuhi jalan, menutupi helai demi helai daun di pepohonan yang sudah membeku. Telinga Kai memerah dan kepulan embun putih terus keluar dari bibir tebalnyanya sebagai pias pertanda betapa dinginnya udara sore ini.

Beberapa kali Kai terlihat menoleh ke kanan, mengamati satu demi satu siswa Hanlim Multi Arts High School yang keluar dari gedung megah itu, seakan sedang mencari seseorang. Sudah hampir 3 jam ia menunggu di sana. Diam tanpa suara, namun penuh kesetiaan. Meskipun tak jarang ia berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan rasa jenuh yang melanda dirinya.

“Kim Jongin,” tegur seseorang tiba-tiba.

Mendengar namanya di panggil, spontan Kai menoleh ke sumber suara. Entah sejak kapan kedua sudut bibirnya sudah tertarik untuk membentuk sebuah senyuman manis. Ia menyambut seorang gadis yang berjalan menghampirinya, masih berseragam lengkap dilengkapi mantel tebal berwarna coklat.

“Sudah lama menunggu?” seru seorang gadis cantik yang tadinya menyapa Kai. Lelaki itu lagi-lagi hanya tersenyum, lalu sedetik kemudian menggelengkan kepalanya.

Bohong. Lelaki itu berbohong pada gadis di depannya. Bukankah 3 jam merupakan waktu yang lama untuk menunggu? Itu sangat membosankan dan ia tahu itu. Lalu kenapa sekarang ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya?

“Cepat masuk, udara semakin dingin.”

“Eum.”

Krystal berlari kecil memutari mobil dan membuka pintu penumpang, lalu menghempaskan tubuh rampingnya di kursi samping kemudi.

“Kau lupa mengenakan seatbeltmu nona Jung,” ujar Kai saat menyadari gadis di sebelahnya belum memasang seatbelt untuk keselamatan dirinya sendiri.

Krystal hendak menarik seatbelt yang terletak tepat disampingnya, namun gerakannya terhenti saat mengetahui tangan Kai sudah terlebih dahulu menarik seatbelt itu. Dari jarak sedekat ini Krystal dapat menghirup aroma tubuh Kai. Nafasnya terhenti, ia terlalu kaget atau gugup dengan kejadian seperti ini. Jadi ia memilih diam dan membiarkan Kai menyelesaikan pekerjaannya.

“Selesai. Kau ingin pergi kemana sekarang, princess?”

“Pantai, aku mau ke pantai.”

Kajja, kita berangkat. Kurasa kita masih sempat.”

Kai mengalihkan lagi pandangannya kedepan dan mulai melajukan mobilnya ke tempat tujuan mereka.

Rambut coklat gadis itu menari-nari bersama angin pantai yang berhembus semilir, wangi parfumnya yang khas dengan sangat mudah bisa Kai kenali. Kai memiringkan kepalanya untuk memandang Krystal. Gadis itu terlihat manis dengan mantel coklat selutut dan sepatu kets putihnya.

“Aku tahu aku cantik, jadi tak perlu menatapku seperti itu Kkamjong,” ujar Krystal seraya meyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.

“Kau keberatan? Aku hanya ingin menyimpan kenangan tentangmu dalam bola mataku, dengan begitu aku akan selalu ingat wajah gadis jutek yang telah merepotkanku.”

Ya! Cepat lihat, jangan sampai kau melewatkannya Kai,” seru Krystal.

“Krys, kenapa kau begitu menyukai matahari terbenam?”

“Karena pemandangan saat matahari terbenam itu benar-benar indah. Bentuk matahari yang setengah lingkaran yang hanya dapat kulihat saat matahari terbenam. Kalau kau? Mengapa kau suka menemaniku melihat matahari terbenam?”

Karena dengan menemanimu, aku dapat melihat senyummu—senyummu saat kau melihat matahari terbenam. Benar-benar indah.

“Karena aku suka warna langit yang kemerahan saat matahari terbenam,” dusta Kai.

Krystal menoleh, menatap manik cokelat pekat milik Kai. Mereka terdiam untuk beberapa saat, tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara terlebih dahulu, mereka menikmati saat seperti ini.

“Apa kau masih ingin kita saling berpandangan seperti ini? Udara dingin ini membuat tubuhku kaku?”

***

Kriiiiiiiingggg Kriiiiiiiinggggggg

Seorang lelaki jatuh dari ranjangnya saat telinganya mendengar bunyi alarm yang berhasil mengganggu tidur panjangnya. Ia mengelus kepalanya yang terbentur lantai. Ia masih setengah sadar saat matanya menangkap siluet jam yang masih bertengger manis di mejanya.

Satu detik

Dua detik

Tiga –

“Astagaa~! Aku hampir saja terlambat menjemput gadis cerewet itu,” omelnya saat menyadari jam menunjukkan pukul tiga sore.

Tentu saja ia akan selalu mengomel saat mendapati dirinya tak bisa lepas dari godaan bantal dan kasur. Selalu saja seperti itu, saat ia baru saja merebahkan dirinya di atas kasur empuknya, dia pasti akan langsung tertidur.

Dengan kecepatan diatas rata-rata ia berlari menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, setelah itu dengan tergesa-gesa ia memakai sepatu ketsnya dan mengambil kunci mobil miliknya yang tergeletak di meja. Kai terus berlari hingga ia memasuki mobilnya. Ia harus menetralkan nafasnya yang masih memburu. Kai menginjak pedal gasnya, ia memacu mobilnya secepat yang ia bisa, ia hanya tak ingin terlambat menjemput Krystal atau gadis itu akan mengamuk.

Kini Kai telah sampai di depan sekolah Krystal. Ia memilih duduk di kap mobil bagian depan, kedua tangannya bersembunyi di balik saku mantel hangat berwarna hitam, sementara kepalanya sedikit tertunduk menghindari udara yang semakin dingin di sore hari.

Waktu terus berlalu, namun Krystal belum juga menampakkan batang hidungnya. Kai bangkit dari duduknya, kakinya berjalan ke sisi mobilnya, menyandarkan punggung lebarnya disana. Kakinya tak bisa berhenti bergerak.

‘Apa aku datang terlalu cepat?’

Kai menarik tangan kirinya, melihat arloji hitam yang ia pakai untuk memastikan ia tak salah.

‘Hmm, rasanya aku pernah melakukan hal seperti ini.’

Kai berfikir keras, apa mungkin dia pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya. Tapi tidak mungkin, ia baru saja menginjakkan kakinya di Seoul kemarin dan baru hari ini ia menjemput Krystal.

“Astaga, kenapa dia lama sekali,” gerutunya kesal.

Beberapa kali Kai terlihat menoleh ke kanan, mengamati satu demi satu siswa Hanlim Multi Arts High School yang keluar dari gedung megah itu, seakan sedang mencari seseorang. Sudah hampir 3 jam ia menunggu di sana. Kai benci menunggu dan kali ini dia melakukannya demi sahabatnya. Diam tanpa suara, namun penuh kesetiaan. Meskipun tak jarang ia berjalan mondar-mandir untuk menghilagkan rasa jenuh yang melanda dirinya.

“Kim Jongin,” tegur seseorang tiba-tiba.

Mendengar namanya di panggil, spontan Kai menoleh ke sumber suara. Entah sejak kapan kedua sudut bibirnya sudah tertarik untuk membentuk sebuah senyuman manis. Ia menyambut seorang gadis yang berjalan menghampirinya, masih berseragam lengkap dilengkapi mantel tebal berwarna coklat.

“Sudah lama menunggu?” seru seorang gadis cantik yang tadinya menyapa Kai.

“Tentu saja bodoh. Kenapa kau lama sekali, aku hampir saja mati kedinginan disini,” cerocosnya.

Eum, arraseo. Berarti trikku kali ini berhasil.”

Mwo? Trik? Jadi?”

“Ya, kau benar. Aku memang baru pulang sekarang dan aku sengaja mempercepat waktu di jam bekermu dan jam tanganmu semalam. Aku mengenalmu lebih dari kau mengenal dirimu Kkamjong.”

Tanpa perlu repot-repot mendengar protes Kai, Krystal berlari kecil memutari mobil dan membuka pintu penumpang, lalu menghembaskan tubuh rampingnya di kursi samping kemudi. Ia menunggu beberapa saat, tapi Kai tak kunjung masuk.

‘Ini benar-benar aneh. Mana mungkin ini bisa terjadi.’

“Ya! Cepat masuk, kau benar-benar ingin mati kedinginan?”

“Ck, dasar cerewet.”

Kai akan melajukan mobilnya saat menyadari gadis di sebelahnya belum memasang seatbelt untuk keselamatan dirinya sendiri. Gadis itu asik mengulum lollipop dengan pandangan lurus ke depan.

“Kau lupa mengenakan seatbeltmu nona Jung,”

Eum?”

Krystal hendak menarik seatbelt yang terletak tepat disampingnya, namun gerakannya terhenti saat mengetahui tangan Kai sudah terlebih dahulu menarik seatbelt itu, dari jarak sedekat ini Krystal dapat menghirup aroma tubuh Kai. Nafasnya terhenti, ia terlalu kaget atau gugup dengan kejadian seperti ini, Jadi ia memilih diam dan membiarkan Kai menyelesaikan pekerjaannya.

‘Jika kejadian ini pernah ku ulangi sebelumnya, berarti aku harus memperbaiki sesuatu.’

“Selesai. Kau ingin pergi kemana sekarang, princess?”

“Pantai, aku mau ke pantai.”

Kajja, kita berangkat. Kurasa kita masih sempat.”

Kai mengalihkan lagi pandangannya kedepan dan mulai melajukan mobilnya ke tempat tujuan mereka.

***

Rambut coklat gadis itu menari-nari bersama angin pantai yang berhembus semilir, wangi parfumnya yang khas dengan sangat mudah bisa Kai kenali. Kai memiringkan kepalanya untuk memandang Krystal. Gadis itu terlihat manis dengan mantel coklat selutut dan sepatu kets putihnya.

“Aku tahu aku cantik, jadi tak perlu menatapku seperti itu Kkamjong,” ujar Krystal seraya meyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.

“Aku hanya melihat sosok bidadari berkepribadian devil seperti dirimu.”

“Dasar pembual.”

“Sungguh, sebenarnya kau cantik jika kau tidak menyebalkan.”

“Dan kau lebih menyebalkan dariku, Kai. Kau benar-benar devil sejati.”

“Benarkah?”

Ya! Cepat lihat, jangan sampai kau melewatkannya Kai,” seru Krystal.

“Krys, kenapa kau begitu menyukai matahari terbenam?”

“Karena pemandangan saat matahari terbenam itu benar-benar indah. Bentuk matahari yang setengah lingkaran yang hanya dapat kulihat saat matahari terbenam. Kalau kau? Mengapa kau suka menemaniku melihat matahari terbenam?”

“Entahlah, mungkin karena aku kasian melihatmu harus pergi sendiri.”

Ya! Bagaimana kau bisa seperti itu?”

Kai tertawa puas, ia selalu senang mengganggu Krystal, menjahili gadis itu menjadi kepuasaan sendiri untuk dirinya. Krystal mempoutkan bibirnya, ia kesal dengan kebiasaan Kai.

“Berhentilah tertawa atau aku akan membungkam mulutmu itu dengan kaus kakiku.”

Krystal semakin kesal, bukannya berhenti menertawainya, tawa Kai semakin membahana.

“Oke, kali ini terserahmu Tuan Kim.”

Krystal mengambil ipodnya, memasang sepasang headset di telinganya untuk menghalau suara bass Kai yang menganggu pendengarannya. Kai masih mengamati apa yang dilakukan Krystal, tak ada protes yang keluar dari bibirnya. Ia menikmati setiap waktu saat ia bersama Krystal.

“Krys,”

“Apa kau mendengarku?”

Bodoh.

Kai memang orang bodoh. Mana bisa Krystal mendengarnya sementara kedua telinganya tersumbat oleh headset.

“Gadis ini benar-benar tengah kesal.”

Sebelah tangannya terjelur kedepan, melepaskan headset Krystal yang membuat gadis itu menoleh ke arahnya.

“Maaf, aku telah membohongimu dan membuatmu kesal,” jelas Kai lembut.

“Kau selalu seperti itu, menyebalkan.”

Krystal langsung membuang mukanya, tangan kanannya akan menyumpal lagi telinganya dengan headset yang telah di lepas Kai.

“Tunggu, ada yang ingin aku katakan.”

“Katakan saja.”

“Kau marah padaku?”

“Tidak.”

“Jung Krystal, look at me please,” pinta Kai.

Kai memajukan wajahnya mempersempit jarak diantara mereka, tapi siapa sangka saat ia memajukan wajahnya disaat yang bersamaan Krystal memalingkan wajah cantiknya ke arahnya.

“Ada ap– ”

Tentu saja itu terjadi. Bibir mereka saling menempel. Krystal membulatkan matanya terkejut sedangkan Kai hanya membeku tak bergerak dari posisinya. Seolah mereka nyaman dengan apa yang terjadi saat ini. Kai terlebih dahulu menarik bibirnya dari bibir Krystal. Kebutulan yang menyenangkan pikirnya, dengan begitu urusannya menjadi lebih mudah.

“Kenapa kau memandangku seperti itu Kkamjong?”

“Kau keberatan? Aku hanya ingin menyimpan kenangan tentangmu melalui mataku dan terekam jelas di otakku, dengan begitu aku akan selalu ingat wajah gadis jutek yang telah merepotkanku.”

“Lihat, kau benar-benar menyebalkan Kai.”

Krystal memundurkan badannya tapi dengan sigap Kai menahan punggung gadis itu dengan sebelah tangannya.

Saranghae Jung Soojung.”

Wajah itu mendekat lagi. Membuat jantung Krystal berdegup dengan kencang. Tatkala hidung keduanya bersentuhan, Krystal menutup kedua belah matanya takut dan gugup mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Detik berikutnya bibir Kai berhasil mendarat dan membekap bibir Krystal  yang terlampau lembut. Satu dua lumatan Kai lakukan tanpa menghiraukan pandangan aneh di sekitarnya. Krystal diam, tidak membalas. Pikirannya tiba-tiba saja kosong dan ia tak tahu harus berbuat apa. Dirinya hanya bisa memegang ujung mantel milik Kai sambil berusaha mengontrol detak jantungnya yang terus berlalu dengan cepat. Krystal tersadar sekarang. Bahwa Kai berhasil mengeliminasi kekesalan yang sempat ia rasakan. Sentuhan di bibir keduanya terhenti seiring dengan wajah Kai yang mundur perlahan. Melihat Krystal yang masih mematung di tempat sembari mencoba membuka kedua matanya, membuat Kai membawa tubuh Krystal ke dalam pelukannya. Tak lama, Kai melepaskan pelukan itu kemudian memandang intens manik mata Krystal mencari sebuah jawaban yang ditunggunya.

Nado.”

Tanpa berpikir lagi, untuk kesekian kalinya Kai mencium bibir Krystal. Namun tiba tiba Krystal melingkarkan lengannya di leher Kai dan bibir kecilnya kini mulai bergerak gerak. Ia membalas ciuman Kai yang lembut dan hangat. Kai pun mengeratkan pelukannya pada pinggang Krystal. Mereka memejamkan mata, saling melumat bibir satu sama lain. Tak lama kemudian Krystal melepaskan wajahnya untuk menghirup oksigen, nafasnya sedikit tersenggal. Mereka masih tetap berpelukan. Kai tersenyum, tangan besarnya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata gadisnya.

***

Di tengah keramaian kota siang itu, terlihat sepasang kekasih berjalan bergandengan tangan penuh sayang. Keduanya terlihat begitu mesra dan serasi. Mereka menatap satu sama lain penuh cinta tanpa ada lagi keraguan dan prasangka buruk.

Keduanya asik melihat-lihat sepasang gaun pengantin dari etalase sebuah boutique ternama. Setelah beberapa waktu akhirnya mereka menentukan pada sebuah gaun sederhana yang menurut Kai cocok dipakai oleh Krystal. Senyum itu masih merekah hingga mereka meninggalan tempat itu.

Mobil mereka melaju dipinggiran kota Seoul, gelak tawa yang mereka ciptakan seolah menggambarkan perasaan bahagia diantara mereka. Tanpa mereka sadari beberapa meter di depan mereka terdapat jalan menikung. Kecepatan mobil yang di kendarai Kai melaju di atas rata-rata, tidak mungkin ia menabrak pembatas jalan.

.

.

.

.

.

Brrrraaaaaaakkkk

.

.

Mobil yang mereka kendarai terbalik, beberapa kepingan mobil itu tercecer di jalanan akibat benturan yang sangat keras. Krystal terpental beberapa meter dari tempat mobilnya yang terbalik, namun ia masih sadarkan diri. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia menghampiri Kai yang masih terjebak di dalam mobil. Ia merangkak mendekati Kai, tak memperdulikan lengan mulusnya yang tersayat kaca ataupun telapak tangannya yang harus menahan perih akibat serpihan kaca.

“Kai,” panggilnya parau, tangannya tak henti-hentinya menarik seatbelt Kai yang tak bisa terlepas.

“Kai bangunlah, aku akan mencari pertolangan.”

Krystal mengaduk isi tasnya, berharap menemukan handphone miliknya masih dalam keadaan normal. Ia menghela nafas lega saat benda yang ia cari masih berfungsi.

“Tolong, kumohon tolong kami. Cepatlah,” isaknya tergugu.

“Bertahanlah Kai, kumohon,” ia mengguncang tubuh Kai yang telah berlumur darah.

Kai mengerjapkan matanya. Perih, hanya itu yang dapat ia rasakan sekarang.

“Kai, aku akan mencoba melepaskannya.”

Krystal sudah terlentang tepat di bawah Kai, ia tak lelah untuk mengoyak seatbelt Kai menggunakan pecahan kaca.

“Hentikan Krys,”

“Tidak akan, sebelum seatbelt sialan ini melepas tubuhmu.”

“Krys,” Kai menangkup wajah Krystal dengan kedua tangannya.

Krystal terus menggelengkan kepalanya, air mata tak henti keluar dari pelupuknya. Percikan api dari mesin mobilnya menyebabkan ledakan kecil yang membuat Krystal semakin tersedu.

“Keluarlah, selamatkan dirimu. Aku masih bisa bertahan disini sampai petugas penyelamat datang.”

Krytal menggelengkan kepala menolak permintaan Kai.

“Setidaknya bertahanlah demi aku, Apa kau masih tidak mau bertahan untukku?”

“Tapi– ”

Belum selesai Krystal menyelesaikan kata-katanya, bibirnya sudah tersumpal dengan bibir Kai. Asin dan amis, itu yang ia rasakan. Ciuman bercampur air mata dan darah.

“Cepat, keluar,” perintah Kai lembut tapi menuntut.

Tak ada perlawanan, Krystal merangkak keluar dari mobil setelah mengambil paper bag yang lusuh. Baru saja beberapa kaki mungilnya melangkah, mobil di belakangnya telah meledak –dan Kai masih ada di dalamnya.

Ia jatuh terduduk, tak ada lagi tangis yang keluar dari pelupuk matanya. Ia terlalu shock dengan apa yang terjadi di hadapannya. Jika dengan menangis dapat mengembalikan Kai di sampingnya, maka ia akan menangis meraung sejadinya.

***

Rambut panjangnya ia biarkan tergerai, menari-nari bersama angin pantai yang berhembus semilir menerpa wajahnya. Kedua telinganya tersumbat headset, membiarkan telinganya dipenuhi oleh alunan musik dari ipodnya. Mungkin jika ada orang yang melihat penampilannya sekarang, mereka akan berpikir gadis cantik ini gila. Bagaimana bisa ia saat ini berada di pantai dengan wedding dress berwarna gading melekat di tubuhnya dan sepatu kets putih di kedua kakinya.

Krystal terduduk diatas kap mobil bagian depannya menikmati pemandangan yang beberapa hari sempat ia lewatkan, memandang matahari terbenam. Ia menoleh kesamping kanannya saat headset yang bertengger manis di telinganya terlepas.

“Kai,”

De javu

“Aku tahu kau sedang mencari perhatianku, tapi kali ini aku tak akan melewatkan pemandangan matahari terbenam.”

Angin sore menerpa pergelangan tangannya seolah ada seseorang yang melarang untuk mengacuhkannya.

“Aku tahu kau disini dan aku akan memberitahumu satu hal, dengarkan baik-baik. Aku menyukai matahari terbenam, karena dengan begitu kau akan selalu ada di sampingku, menemani melihat indahnya ciptaan Tuhan.”

“Tenanglah disana, aku melepaskanmu. Tunggulah aku sampai waktuku tiba, dengan begitu kita dapat melanjutkan kisah kita yang tertunda.”

END

Hallo semuanya…Kembali lagi dengan membawa FF kaistal. Otte? Suka? ato jelek?

Terima kasih sudah mau baca FF ini, buat exostan  visit this place please~

Ditunggu komennya ne? Buat silent reader, terima kasih sudah mau baca ^^

Advertisements

9 thoughts on “De Javu

  1. eungg ???
    Metong
    ahh
    sad ending.
    De javu emang bikin bingung.
    Sberapa kraspun kita mengingat, ttp jja tidak dapat jwaban, tppi kita benar-benar merasakan pernah.
    Authornim (y)

  2. yah…. bkin nangis …
    knp sih kbnykan klo ttg kaistal sad ending ?
    ak heran dh

    hmmm tp smga aj bwt clandestine part 5/ENDny gk kkkk

  3. Ending nya ga terduga hueeeeee Kainya meninggal. Tapi aku suka pas “accident” scene nya bener-bener dapet feelnya nyesek bangetttt. Nice fic author.Keep writing yaaaa 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s