[FF Freelance] The Red Moon (Chapter 2)

the red moon new

Tittle : The Red Moon || Author : PinkyPark || Cast : Kim Jongin, Jung Aekyung (OC) || Support Cast : All EXO member || Genre : Fantasy, Romance, Friendship || Length : Chaptered || Rating : PG-16 || Disclaimer : This Story Line Belong to ME! The cast belong to GOD and Themselfes.

Previous: Chapter 1,  

DON’T BE PLAGIATOR AND SILENT READERS

Chapter 2

Dengan langkah ragu, kaki ramping itu melangkah masuk. Wajahnya yang ketakutan berubah drastis ketika matanya menemukan objek yang lebih menarik. Interior ruangan itu terkesan klasik. Warna coklat muda sangat lekat dimana- mana. Ada banyak barang antik. Rumah ini seperti bukan milik anak muda yang usianya beru tujuh belas tahun. Rumah seperti ini tentu sangat mengagumkan dimata Aekyung. Membuat gadis itu melupakan ketakutan purbanya lalu mulai berjalan mengitari ruangan dengan perlahan. Jongin menutup pintu, suara decitan kecil membuat Aekyung menoleh lalu kembali ingat akan ketakutan yang akan dihadapinya. Matanya berubah khawatir, menatap Jongin seolah meminta pertolongan.

“ada tamu rupanya.” Sebuah suara pelan memecahkan kebisuan dan membuat Aekyung terlonjak, dalam sekali gerakan Aekyung melesat ke belakang punggun Jongin. Bersembunyi seolah- olah suara itu adalah suara monster yang jahat.

Jongin terkekeh pelan melihat reaksi waspada Aekyung. “tenanglah, yang ini tidak suka menggigit.”

Aekyung menyembul dari balik punggung Jongin. Matanya menatap lekat kearah seorang pria yang tengah menatapnya tanpa ekspresi. Rambut pria itu hitam pekat, matanya bulat dan tangannya memegang sebuah lap berwarna putih.

“namanya Kyungsoo. Dia tidak akan menggigit, tenanglah.” Ulang Jongin sembari membalikkan tubuhnya lalu menarik Aekyun dari posisinya. Membuat gadis itu menunduk sedikit untuk member hormat pada pria bernama Kyungsoo.

“jadi kau Jung Aekyung ? pantas saja Jongin…”

“Hyung!” Jongin memotong sembari melirik Aekyung waspada. Seolah tidak mau gadis itu mendengar sesuatu dibalik kalimat Kyungsoo selanjutnnya. Kyungsoo hanya terkekeh lalu melambaikan tangannya. “kemarilah, aku sudah membuatkan mu pancake.”

Aekyung menengadah menatap Jongin yang memang lebih tinggi darinya. Matanya menap Jongin seakan bertanya apa yang harus dilakukannya. Jongin mengangguk sembari berjalan mengikuti Kyungsoo ke dapur.

Ini keren. Interior dapurnya pun bahkan sangat klasikal. Semuanya seperti terbuat dari kayu. Tidak ada kesan modern sama sekali. Dan yang pasti, Aekyung menyukai itu.

Tubuhnya terduduk di salah satu kursi di meja makan. Mulutnya yang penuh dengan pancake sesekali bergumam memuji makanan buatan sang Chef Kyungsoo. Sedangkan sang Chef dan Jongin hanya diam memperhatikan gadis itu makan dengan berbahagia. “pelan- pelan nona. Aku masih punya banyak.” Ucap Kyungsoo tak hentinya menatap Aekyung.

Kebahagiaan dan kelegaan sementara yang dirasakan Aekyung pada saat ini pecah sudah saat sebuah geraman  pelan lagi- lagi membuatnya terlonjak. Kepalanya menoleh dan mendapati Park Chanyeol  tengah menatapnya tidak suka. Perlahan tangannya menyimpan sendok lalu detik selanjutnya gadis itu bersembunyi di balik Punggung Jongin lagi. Membuat sebuah suara lain kembali terdengar seperti sebuah tawa mengejek.

“untuk apa kau membawanya kesini Kim Jongin?” Park Chanyeol menegakkan tubuhnya yang semula condong lalu berjalan menghampiri tempat Aekyung duduk sebelumnya. Aekyung mengintip diam- diam di balik punggung Jongin. Menyaksikan Park Chanyeol menghabiskan Pancake nya dengan lahap.

“kenapa kau bersembunyi Jung Aekyung, aku sedang tidak mau makan daging sekarang. Lihatlah, aku makan ini..” gumam Chanyeol disela- sela mengunyah. Nada bicaranya sedikit lebih ramah dan tenang. Dari arah yang sama, pria yang tidak lain bernama Sehun dan Kris berjalan mendekati meja. Ah, jadi mereka yang tadi menertawakan reaksi Aekyung saat ketakutan.

“Jung Aekyung, sekarang kau tahu kan kenapa aku melarangmu datang kesini?” Jongin menarik Aekyung dari belakang punggungnya. Membuat Aekyung terhenyak dan kini terekspos jelas dihadapan semua pria. Aekyung berusaha kembali bersembunyi namun Jongin menahannya.

“kau pasti sangat ketakutan,” ejek Oh Sehun sembari berlalu kelain tempat. Kyungsoo terkekeh mendengarnya  lalu mengikuti Oh Sehun entah kemana.

“tenanglah. Jongin paling kuat, tentu saja kami tidak akan mengganggu kesukaannya.” Park Chanyeol angkat bicara sembari berjalan meninggalkan dapur, Kris yang sedari tadi membisu hanya menatap Aekyung dingin lalu berbalik meninggalkan gadis itu dan Jongin sendirian di dapur.

***

Kim Jongin duduk mematung di tepi ranjangnya. Sedangkan Jung Aekyung sibuk menjelajahi seluruh pelosok kamar Kim Jongin yang tidak begitu besar itu. Matanya terus berbinar mendapati berbagai barang antik yang dipajang Jongin dikamarnya. Sebuah Sound yang berukuran lumayan besar  tertata rapi di pojok ruangan. Disampingnya, sebuah rak besar terpampang kokoh dengan ratusan kaset atau piringan music yang menakjubkan. Hingga akhirnya mata Aekyung tertahan pada sebuah bingkai Foto berwarna coklat tua. Tangannya terulur mengambil bingkai itu. “satu, dua, tiga, ….., dua belas..” hitung Aekyung pelan seiring dengan telunjukknya yang menyentuh- nyentuh setiap wajah di dalam foto tersebut. Aekyung menoleh, mendapati Jongin masih tetap mematung diam. dalam satu gerakan Aekyung duduk di samping Jongin. Tangan Kanannya membawa bingkai foto itu lalu menunjukkannya kehadapan Jongin.

“Jongin, apa mereka semua tinggal disini ?” bisik Aekyung sembari menunjuk wajah- wajah datar di dalam foto. Kim Jongin menoleh lalu menggeleng pelan. Jari telunjuknya ikut menari- nari di wajah- wajah dalam foto.

“yang ini, ini, ini, ini, ini,dan ini..tidak tinggal bersama kami.”jelas Jongin sembari menunjuk wajah Suho, Chen, Lay, Xiumin, Tao, dan Luhan di dalam foto. Aekyung menyaksikan telunjuk Jongin sembari sesekali mengangguk mengerti.

“mengapa mereka tidak tinggal bersama kalian ??”

“apa kau perlu tahu ?” Jongin mendelik sembari bangkit dari duduknya. Aekyung hanya mendesah frustasi sembari menyimpan bingkai foto itu ke tempat asalnya.

“Kim Jongin.. tunggu sebentar ..” Aekyung menahan tangan Jongin yang sudah terulur hendak membuka knop pintu. Jongin menoleh bingung. Aekyung kembali menarik Jongin untuk duduk di tepi ranjang lagi.

“Kim Jongin, kau percaya padaku ??” Aekyung berbisik seolah merasa akan ada yang bisa mendengar perkataannya selain Jongin.

“tidak.”

“yasudahlah terserah kau saja. Tapi kau memang harus percaya padaku!” Aekyung bermonolog ria sembari melipat tangannya di dada, Jongin hanya menautkan alisnya melihat tingkah aneh gadis cantik disebelahnya.

“apa yang ingin kau katakan ?” Jongin bertanya tidak sabaran.

Aekyung melirik Jongin lagi lalu menggeser tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Jongin.
“apa kalian ber dua belas sama ??” Tanya Aekyung dengan wajah ingin tahu. Jongin semakin menautkan alisnya lalu terkekeh pelan.

“sama dalam segi apa? jenis kelamin ? ya, kami semua laki- laki asli.”

“yaishh.. bukan yang begitu, maksudku…” Aekyung menarik nafas lagi sembari menatap manic mata Jongin dalam. “apa kalian juga hidup menyendiri? Seperti yang kau lakukan dengan teman- teman mu disekolah ?”

Jongin tertegun sejenak. Matanya teralihkan menatap wajah Aekyung yang penasaran. Tangannya terkepal karena bingung harus menjawab apa. “ Ya, kelompok kami memang selalu menyendiri”

Aekyung mengangguk lagi, tapi masih ada satu guratan tanda Tanya di dahi putihnya, “kalau begitu katakan padaku, siapa kalian sebenarnya ?”

Jongin kembali tertegun. Tubuhnya sedikit gemetar saking gugupnya. Matanya tak henti menatap mimik wajah Aekyung yang menyelidik. Ayolah Kim Jongin, bagaimana bisa kau selemah ini??  “aku tidak bisa memberitahumu.” Jawab Jongin seraya mengalihkan pandangannya dari wajah Aekyung. Pundak Aekyung merosot dan ekspresinya berubah kecewa.

“bolehkah aku menebak ? tapi kumohon berikan aku satu petunjuk saja..” Aekyung menyatukan kedua telapak tangannya sembari memasang  wajah memelas.

Jongin kembali menatap Aekyung tidak percaya. Gadis ini beanr- benar keras kepala. Bukankah ini misteri ? bagaimana bisa ada gadis se keras kepala ini? “aku sudah memberimu banyak petunjuk.” Suara Jongin kembali datar dan dingin.

“satu saja, kumohon.. hanya satu..”

“saat bulan merah, adalakanya kami tidak berada dimanapun.” Jawab Jongin menyerah. Tubuh jangkungnya bangkit lalu berjalan keluar kamar. Aekyung terhenyak setelah mendengar jawaban Jongin. Bukan karena takut, tapi karena dia bingung.

Bulan Merah ??

***

  1. 1.   Mereka hidup berkelompok
  2. 2.  Mereka menyukai daging segar
  3. 3.  Tatapan mereka mengerikan
  4. 4.  Mereka terkadang menggeram
  5. 5.  Suhu tubuh mereka panas
  6. 6.  Mereka tidak akan ditermukan di saat bulan merah (?)

Untuk kesekian kalinya Aekyung menatap buku catatan kecilnya. Bolpoin yang dipegangnya dia ketuk- ketukan ke arah tulisan-tulisan rapi itu. Sesekali Aekyung menyandarkan tubuhnya ke kursi untuk berfikir sejenak, lain kalinya gadis cantik itu kembali menarik tubunya dari sandaran dan menatap catatan kecilnya itu sekali lagi. Ini sudah larut tentu saja, tapi Aekyung tidak bisa tidur saking banyaknya pertanyaan yang berseliweran di kepalanya.

“aa.. ini akan sangat sulit ..” Aekyung mendesah frustasi sembari menaruh bolpoinnya. Matanya terpejam berharap akan ada ilham yang menghampirinya malam ini. Detik selanjutnya matanya kembali terbuka dan sekilas menangkap bayangan Laptop putihnya yang tertutup. Tanpa fikir panjang, Aekyung mengambilnya lalu mulai menghidupkannya. Setelah terhubung ke internet, segala yang dia ingin cari segera dia tuliskan di mesin pencarian. Sesekali matanya beralih menatap catatannya untuk melihat poin mana saja yang harus dia cari.

Terkadang Aekyung mengerutu karena apa yang dia cari tidak sesuai, terkadang juga Aekyung mengangguk kagum dengan hasil pencarian yang didapatinya. Hingga pada menit selanjutnya , saat Aekyung mengklik sebuah judul yang terasa purba. Matanya membelalak dan mulutnya menganga karena terkejut. Kepalanya menggeleng tidak percaya dan deru nafasnya menjadi semakin cepat.

Aekyung menggeleng lagi, tangannya dengan sigap menutup Laptopnya keras. Tangan lainnya terangkat untuk memijat pelipis kirinya yang kian berdenyut. “ini pasti salah, kau tolol Jung Aekyung.” Gumam Aekyung pada dirinya sendiri. Tubuhnya terangkat dari kursi, menimbulkan suara decitan yang pilu.

“kau harus istirahat, mana mungkin? Itu tidak mungkin, Kim Jongin bukanlah … ah sudahlah, aku tidak mau memikirkannya!!” Aekyung terus menggerutu sembari berjalan menuju ranjangnya. Tubuhnya terbaring tegang di balik selimut, menatap langit- langit yang bisu seakan disana ada sesuatu yang menakutkan. Aekyung menggeleng lagi “ini tidak mungkinnn!!!” jerit Aekyung tidak percaya. “Jung Aekyung, kau harus mencari tahu sendiri!!” gumamnya kemudian seiring dengan tubuhnya yang meringkuk di balik selimut tebal.

***

Cho Hana terus bersenandung seiring dengan melodi- melodi lagu yang mengalir lewat earphone yang menggantung di telinganya. Sedangkan Cho Aekyung duduk melamun disebelahnya, kedua alisnya bertaut dan sesekali bergumam tidak jelas. Semua siswa mulai berhamburan keluar kelas, tapi kedua gadis itu tetap sibuk dengan aktivitas bisu mereka.

Aekyung menoleh, tangannya mencabut paksa Earphone yang menyumbat pendengaran Hana. Membuat gadis imut itu menggerutu kesal.

“apa maumu? Apa hanya ini yang bisa kau lakukan saat kau tidak menghabiskan waktu dengan si Jongin itu? Kembalikan Earphone ku!” kesal Hana sembari berusaha merebut kembali earphone putihnya.

“Cho Hana, apa itu mungkin ?” gumam Aekyung tidak menghiraukan kekesalan Hana sebelumnya. Hana mengerutkan keningnya bingung.

“apanya yang mungkin ?”

“manusia srigala..” Aekyung berbisik sembari mencondongkan tubuhnya kearah Hana. Hana semakin bingung, matanya menatap keatas seolah sedang berfikir keras.

“mungkin ? entahlah, manusia srigala seperti apa maksudmu ? seperti Jacob Black dalam film Twilight kah maksudmu ?”

“ah itu bisa jadi, seperti Jacob Black dan teman- temannya. Apa mereka benar- benar ada?”

“tentu saja, mereka sangat tampan dan berotot. Dan aku mencintai mereka..” Hana berbinar sembari mengepal kedua tangannya di depan wajah. Bahunya bergerak kesana kemari seperti orang idiot.

“bukan itu maksudku, keberadaan mereka, apa mereka benar- benar ada? Apa warewolf benar- benar ada?”

“mereka ada di dalam cerita itu, dan apa kau baru saja bertanya padaku apakah mereka benar- benar nyata? Astaga Aekyung, kau ini bodoh atau apa? itu hanya legenda..tidak nyata dan tidak mungkin ada.” Hana menggeleng kesal sembari mendecak. “aku lapar, ayo kita ke kantin.” Tambahnya sembari berdiri, aekyung tidak menjawab dan tetap diam mematung setelah mendengar  jawaban Hana. Ya, Warewolf hanyalah legenda.

Tapi apa ini? Mereka semua mengarah ke hal- hal tentang itu. Jung Aekyung mengangguk mantap. “aku akan mencari tahu sendiri.”

Aekyung berlari ke tempat biasanya. Mendapati Jongin tengah berdiri diam di bawah pohon Mapple itu. Aekyung berlari, melangkahkan kakinya lebar- lebar agar cepat sampai. Jongin menoleh, sedikit tercengang karena ini pertama kalinya dia meliihat Aekyung benar- benar berlari.

Aekyung sampai dihadapan pria jangkung itu. Jongin hanya menatapnya bingung.

“kau beru mau pergi ? duduklah dulu..” ucap Aekyung dengan nafas terengah. Tangannya kembali menggantung di lengan Jongin dan menariknya untuk duduk. Jongin tidak melawan dan hanya menuruti apa mau gadis itu.

“apa?” Tanya Jongin datar. Aekyung menoleh masih dengan nafas terengah.

“dimana keenam temanmu yang lain tinggal?”

“untuk apa kau menanyakan itu?”

“aku hanya ingin tahu, bukankah kau yang menyuruhku menebak?” Aekyung mengangkat pundaknya sembari menatap Jongin penuh minat.

“Gyeongju.. mereka tinggal di Gyeongju.” Serah Jongin putus asa.

Aekyung mendekatkan lagi tubuhnya lalu menatap Jongin lebih dalam. “apa sesekali kalian bertemu?”

“satu bulan sekali kami akan berkumpul.”

“apa mereka…”

“apa kau sedang menyelidiki kami ?” potong Jongin balas menatap Aekyung, aekyung menggigit bibirnya karena kikuk, tangannya terangkat untuk menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

“kau yang menyuruhku menebak..” gumam Aekyung pelan.

Jongin tersenyum kecil lalu berdiri. Kepalanya merunduk untuk melihat Aekyung yang kini tengah menengadah untuk menatap Jongin. “kami besok tidak akan sekolah. Itu pengumuman saja dariku.”

“kenapa?”

“itu bukan urusanmu. Sampai jumpa nanti.” Jongin berlalu meninggalkan Aekyung yang nyaris mati karena penasaran.

Kim Jongin! Kau adalah misteri!

***

Jung Aekyung menggigit bibirnya karena gugup. Sedari tadi kepalanya tak henti menyembul ke atas untuk melihat kearah sang supir bus. Deru nafasnya tak beraturan karena kini, dia tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya. Apa yang aku lakukan disini? Kenapa aku bisa ada disini? Memangnya apa yang akan aku lakukan?, Batin Aekyung gelisah.

“nona, kita sudah sampai di Gyeongju.” Sang supir berseru dari kursinya. Aekyung terhenyak kaget. Ah, ya.. dia sekarang sudah ada si Gyeongju. Dengan langkah ragu, Aekyung berjalan kearah sang supir lalu menggumamkan terimakasih dan menghilang di balik pintu bis.

Dengan pikiran yang masih kalut. Aekyung berdiri seperti orang bodoh. Lagi- lagi bibir Cherinya dia gigit saking bingungnya. Tentu saja dia bingung, untuk apa dia disini? Kenapa tadi dia tidak berfikir terlebih dahulu saat akan pergi kesini? Dan yang paling utama, apa yang akan dilakukannya disini?

Kim Jongin, tentu saja karena pria itu. Sebenarnya Aekyung tidak tahu jelas dimana Jongin sekarang. Dan tempat ini adalah satu- satunya tempat yang terfikir olehnya. Jongin bilang hari ini dia dan teman- temannya tidak akan sekolah, jadi mungkin dia ada disini. Terlebih dia bilang mereka semua akan berkumpul satu bulan sekali di tempat ini. Dan yang membuat Aekyung semakin penasaran, Jongin bilang mereka tidak akan terlihat dimanapun pada saat bulan merah. Dan betapa sialnya, hasil di internet menunjukkan Bulan Merah adalah sebutan bulan purnama oleh Suku tertentu. Dan malam ini akan ada bulan purnama. Jadi apa ini? Aekyung sengaja bolos sekolah hanya untuk mengetahui dan memecahkan Misteri yang melekat pada diri sekelompok pria itu. Ya, Kim Jongin dan teman- temannya.

Aekyung berjalan ragu menyusuri jalanan yang asing itu. Matanya kembali terpesona oleh kekuatan hijau yang bertebaran dimaman- mana. Ya, tempat ini sangat hijau dan asri. Terlalu hijau bahkan.

Seorang pria renta berjalan kikuk dengan tongkat kayunya. Aekyung mendekatinya lalu membungkuk memberi hormat. “Annyeonghasimnida.. apa aku boleh bertanya?” tsnya Aekyung sopan, Pria renta itu menoleh lalu mengangguk mengiyakan. “apa anda tahu tempat tinggal enam pria di daerah ini? ” Tanya Aekyung lagi konyol yang lantas membuat pria renta itu mengerutkan dahi karena bingung.

“ada banyak pria disini.. ”

“maksudku, mereka tidak pernah berinteraksi. Hanya berenam saja..” Aekyung menjelaskan sembari menunjukkan kelima jari tangan kirinya dan satu ibu jari tangan kanannnya. Pria renta itu kembali terlihat bingung untuk beberapa waktu. Namun kemudian pria itu terhenyak, seperti mengingat sesuatu. Dengan mata rentanya pria itu menatap Aekyung tidak percaya.

“mengapa kau ingin mencari mereka?” bisik pria itu was- was. Aekyung menjadi bingung dan mengangkat kedua alisnya.

“aku teman dari salah satu diantara mereka..” jawab Aekyung bohong, ya tentu saja dia bohong. bukan Kim Jongin yang tinggal disini.

“benarkah? Hati- hatilah anak muda. Komohon jaga dirimu baik- baik. Mereka mungkin tidak baik untuk kau ketahui. Sekarang lebih baik kau pulang. Sebentar lagi larut malam.” Sang pria renta menasehati sembari hendak pergi. Aekyung menahan tangannya segera masih dengan wajah bingungnya.

“ani, ani, aku kenal mereka. Aku hanya ingin tahu dimana mereka tinggal, komohon ahjussi. Aku jauh- jauh datang kesini..”

Pria renta itu menggeleng tidak percaya lalu menarik nafas panjang. “kau adalah gadis paling keras kepala yang pernah kutemui. Aku sudah mengingatkanmu!” pria itu menatap Aekyung dari atas hingga ke bawah. “mereka tinggal di dalam hutan tidak jauh dari sini, kau akan menemui jalan setapak di ujung sana. Jalanlah sedikit tapi setelah menemukan dua pohon besar yang berhadapan, jangan ikuti lagi jalan setapak! Beloklah ke kiri. Teruslah berjalan lurus dan kau akan menemukan rumah yang sangat besar disana..” jelas Pria tua itu ragu- ragu. Aekyung mengangguk sembari mengingat dengan baik apa yang pria itu jelaskan tadi. “hati- hatilah, aku harus pergi.” Pria itu menambahkan sembari melanjutkan langkahnya yang renta. Aekyung segera membungkuk lagi dan mengucapkan terimakasih.

Hari mulai beranjak gelap. Aekyung sudah menjalani jalan sulitnya. Dia bahkan sudah berbelok ke kiri saat menemukan dua pohon yang luar biasa besar berhadapan. Kini, kaki mungilnya terseok- seok mengarungi lautan rumput hijau yang menjulang seperti hendak memakan badannya. Jalan ini tidak seperti jalan yang sering dilalui oleh siapapun. Apa pria itu berbohong? Ah tidak mungkin!

Aekyung sesekali merintih saat kakinya tersayat oleh duri- duri yang bertebaran dimana- mana. Matanya mulai harus menyipit karena hari benar- benar sudah gelap. Yang menjadi sumber pencahayaannya hanyalah sebuah senter kecil yang tadi sengaja dibawanya sebelum pergi. Kepalanya menengadah. Sebuah bulan bulat mulai terlihat disela- sela rindangnya pepohonan yang bertengger diatas kepalanya. Aekyung merinding takut saat mendengar suara- suara aneh yang mengerikan. Apa yang aku lakukan disini ? gerutu Aekyung dalam hati.

Suara-suara aneh itu kini kian terdengar. Gemerisik daun kering, langkah kaki yang mengerikan, geraman- geraman rendah. Semuanya mampu membuat nyali Aekyung ciut seketika. Aekyung menghentikkan langkahnya. Secara naluriah mematikan senternya yang dianggap membahayakan karena mungkin siapapun dan apapun itu akan segera mengetahui keberadaannya. Aekyung menggenggam senter itu kuat, tangannya gemetar dan dia hanya melihat sekitarnya dengan samar. Jantungnya terus memompa dengan kencang. Membuat keheningan yang mencekam itu dapat menyerap suara degup jantungnya yang nyaring. Aekyung memejamkan matanya, memikirkan hal terburuk yang dapat terjadi dan kemungkinan selamat yang sangat sedikit. Matanya terbuka kembali seiring dengan suara gaduh yang terlintas di telinganya. Dengan reflex, kakinya melangkah lagi lebih lambat. Mengikuti asal suara seolah hanya inilah yang dapat dilakukannya di akhir hidupnya. Dan betapa kagetnya Aekyung. Tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Sebuah rumah yang luar biasa besar berdiri kokoh dengan megahnya. Halamannya terlihat seperti lapangan berkuda saking luasnya. Dan anehnya, penerangan di rumah itu dimatikan. Ya, semuanya gelap gulita. Saat ini satu- satunya penerangan yang dimiliki Aekyung hanyalah cahaya bulan purnama yang entah kenapa terasa begitu sangat mengerikan saat ini. Aekyung melangkah lagi, kali ini dia menginjak sebuah ranting kering. Menimbulkan sebuah suara retakan yang cukup nyaring di malam yang hening ini. Saat itu juga beberapa pergerkan tak kasat mata berkelebat di dekat rumah itu. Aekyung menyipitkan matanya dan menyipitkannya lagi untuk bisa melihat lebih jelas apa itu. Tapi nihil, semuanya terjadi begitu cepat dan bahkan terlampau cepat. Kekecewaan yang purba membuncah di dada Aekyung. Membuat pundak gadis itu merosot dan rasa antusiasme pada dirinya hilang tanpa sisa. Tapi sesuatu bergerak lagi. Membuat sesuatu pada diri Aekyung yang hilang tadi mulai kembali sedikit demi sedikit. Aekyung kembali menyipitkan matanya. Namun detik selanjutnya matanya kian membelalak seakan tidak betah ada disana. Mulutnya otomatis menganga dan senter yang dipegannya terlepas dari genggamannya.

Sesosok Kim Jongin yang hari ini dicarinya. Muncul dari kegelapan rumah itu. Hanya berbalutkan sepotong celana pendek selutut dengan tubuh yang telanjang dada. Kulit eksotisnya terlihat luar biasa menggiurkan dibawah selimut cahaya bulan purnama. Pria itu sepertinya tidak menyadari Aekyung yang kini tengah shock berat di balik semak- semak. Atau mungkin Jongin memang sengaja pura- pura tidak mengetahuinya. Yang jelas, perlahan- lahan. Seiring dengan tubuhnya yang tersiram cahaya bulan purnama. Sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Membuat Aekyung lebih memilih pingsan atau bahkan mati dari pada mengetahuinya. Perlahan- lahan tubuh jangkung Jongin menegang. Buku- buku jarinya memutih dan lebih putih lagi. Getaran hebat melanda tubuh coklat itu dan dalam sekali hentakan. Suara robekan keras terdengar nyaring seiring dengan berubahnya sosok Jongin menjadi sesosok srigala coklat yang luar biasa besar dan bahkan sangat besar. tubuh baru Jongin itu bergerak- gerak seolah sedang membiasakan diri. Di sekitarnya, robekan kain Jeans berceceran dimana- mana. Detik selanjutnya, srigala coklat yang tidak lain adalah Jongin itu berlari kedalam semak- semak yang gelap.

Jung Aekyung berdiri mematung seperti benar- benar sebuah patung. Tubuhnya merinding dan gemetar luar biasa. Matanya menatap ceceran kain Jeans Jongin tidak percaya. Perlahan kakinya melangkah mundur dan nyaris terjengkang karena sebuah batu. Aekyung menggeleng lemah. Seolah berharap ini adalah mimpi tidurnya yang tidak bermakna. Sekarang Aekyung merutuki kebodohannya datang kesini. Aekyung terus mengira ini mimpi. Perlahan tubuhnya bergerak cepat, terus berlari tak tentu arah setelah yakin ini kenyataan dan ini bukanlah mimpi. Sesekali tubuhnya terjatuh dan terjatuh lagi, beberapa luka bertebaran di kulit tubuhnya. Tapi semuanya tidak terasa seperti sebuah luka. Semuanya terasa sangat kebas dan yang diinginkan Aekyung hanya pulang lalu berlindung dibawah selimutnya yang tebal. Aekyung berjalan terseok saat keluar dari hutan, dirinya belum menyadari seutuhnya bahwa kini dia berhasil melarikan diri dari hutan mengerikan itu. Langkahnya terasa sangat berat dan Aekyung tidak suka itu. Air mata yang terus merebak sama sekali tidak dipedulikannya. Aekyung tidak tahu apa yang terjadi? Mengapa dia tidak mati saja? Atau mungkin mendadak terkena Alzheimer agar dia melupakan kenyataan ini.

Setengah jam kemudian, ingatan Aekyung mulai pulih. Semua yang dilihatnya kembali menyeruak masuk kedalam memori ingatannya seperti derasnya air sungai. Aekyung lebih tenang sekarang. Walau nafas dan degup jantungnya masih belum stabil dan tidak teratur. Tubuhnya terduduk di kursi halteu ini. Jam berapa ini? Mengapa sepi sekali? Ah, ini pasti sudah larut malam. Aekyung meraba- raba saku jaketnya. Berharap segera menemukan ponselnya agar dia bisa cepat pulang. Tapi nihil. Ponselnya tidak ada di saku manapun. Aekyung mulai panik. Matanya kembali terpejam dan dirinya lagi- lagi menggigit bibirnya kesal.

Dalam diam ingatan itu kembali menyeruak dan bergentayangan di fikirannya. Kim Jong In. kau adalah seorang Werewolf. Sekarang aku tahu itu.

***

Kim Jongin berlari dengan tubuh barunya. Empat kaki yang kini dimilikinya seakan memfasilitasinya untuk bergerak lebih cepat. Keheningan malam yang purba membuatnya dapat mendengar apapun dengan telinga berunya kini. Seperti derasnya aliran air sungai, bermacam suara penuh menerjang pikirannya. Namun setelah fokus dan lebih fokus lagi. Indra pendengarannya itu hanya terfokus pada satu suara. Menyegel suara suara lainnya dan terus berkonsentrasi pada suara tersebut. Derap langkah Aekyung yang terseok terus menghujam pendengaran Jongin. Membuat pria itu melambatkan larinya saat mengira gadis itu tengah terjatuh dan terjatuh lagi. Hingga pelan- pelan suara itu sedikit menjauh. Membuat Jongin lega karena kini Aekyung sudah menjauhi arena berbahaya. Langkah kaki empatnya berpacu lebih cepat. Menimbulkan suara berisik yang memilukan di tengah malam seperti ini.

Langkah kaki berbulu itu melambat saat dirinya sudah mulai sampai. Hamparan padang rumput luas terasa begitu mistik saat kesebelas srigala lainnya menoleh mendapati Jongin yang terlambat. Sebuah batu berukuran raksasa yang biasanya dijadikan singgasana sang alpha terlihat menakjubkan saat tersiram cahaya bulan merah yang abadi.

Jongin sedikit mendengking menggumamkan kata maaf. Srigala abu yang tidak lain adalah Kyungsoo berjalan pelan menyambutnya. Sedangkan yang lainnya, berputar- putar gusar seperti biasa saat ada sesuatu yang buruk terjadi. Srigala Hitam pekat yang luar biasa besar melolong berkali- kali menandakan rapat akan segera dimulai. Membuat srigala- srigala yang kalut menjadi diam tak berkutik. Jongin dan Kyungsoo berdiri paling belakang. Membiarkan srigala lainnya menempati posisi lebih dekat dengan batu singgasana sang alpha.

Srigala Hitam yang sudah pasti adalah sang alpha memanjat batu besar dengan tangkas. Kuku- kuku tajamnya menjerat batu raksasa itu dengan paksa. Menimbullkan beberapa guratan tak terobati disana. Sang Alpha yang bernama Suho mengetukkan kaki kirinya ke dasar batu. Seakan memerintahkan semuanya untuk mendengarkan.

“kudengar ada kekacauan hari ini.” Suho berujar untuk membuka pembicaraan. Sontak semua srigala diam dan menatap Jongin. Mereka semua beranjak dari tempatnya dan membuat Jongin menjadi satu- satunya yang tegak lurus dengan sang Alpha.

“anak kecil itu membuat masalah kali ini.” Luhan yang memilliki posisi sebagai Beta menambahkan sembari menggeram kesal. Bulu tubuhnya yang berwarna hitam dan putih sedikit menegang. Sebagian lainnya ikut menggeram mengiyakan. Suho dengan tangkas mengeluarkan geraman khas Alpha yang mampu membuat suasana kondusif kembali.

“Kim Jongin, jelaskan padaku apa yang terjadi.” Titah suho dengan dada membusung. Kim Jongin melangkah maju beberapa langkah. Membuat tubuh coklatnya berjarak sangat dekat dengan batu singgasana.

“aku hanya merasa aku tertarik padanya.” Jongin menjawab dengan sedikit ragu.

“kau fikir kau siapa? Kau kan hanya manusia kutukan, apa daya mu menyukai gadis manusia?” Xiumin angkat bicara sembari menggerakan tubuhnya kekanan dan kekiri, bulunya yang berwarna putih terlihat sangat menakjubkan dibawah cahaya bulan. semua srigala beralih menatapya. Xiumin mungkin memang bukan Alpha ataupun Beta. Tapi Xiumin terbilang istimewa dengan bakat alami yang dimilikinya. Srigala manapun akan segan padanya.

“Kim Jongin, tidakkah kau fikir kau sangat bodoh? Dia adalah santapanmu!” srigala berwarna emas bernama Chen menambahkan sembari mulai menyeringai. Park Chanyeol dengan tubuh hitamnya mulai menggeram membela Jongin. Walaupun warna bulunya tidak sehitam Sang Alpha. Tapi warna hitam Park Chanyeol memiliki keistimewaan tersendiri. Seperti biasa, Baekhyun yang bertubuh lebih kecil berjalan pelan kehadapan Chanyeol, berniat mengahalanginya untuk bertengkar. Bulu coklat putihnya menghalangi pandangan Park Chanyeol dan membuat srigala hitam itu menggeram lebih keras.

“jaga sikapmu Chanyeol. Tidakkah kau tahu apa yang kau lakukan? Kau ingin melawan klan utama ?” Lay bergerak tidak sabaran. Tubuh abunya selalu terlihat mempesona dan menakjubkan.

“aku bilang aku hanya menyukainya, aku tidak pernah berfikir untuk bersamanya.hal seperti ini juga baru untukku.” Jongin angkat bicara di tengah- tengah hiruk pikuk pra perkelahian. Yang lainnya menatap Jongin kesal dan merendahkan. Luhan terus mendengking menandakan dirinya sudah tidak tahan lagi.

“Luhan, komohon sabar sedikit. Biarkan si bungsu kita ini menjelaskannya terlebih dahulu.” Suho menengahi sembari mencondongkan tubuhnya kedepan. Membuat Luhan, Chen, Lay, dan si pendiam Tao menundukkan kepalanya tanda mengerti.

“aku menyukainya. Dia wanita pertama yang membuatku terus memikirkannya. Dia sangat mempesona.”

“tapi tidakkah kau egois Kim Jongin? Kau menyukainya dan cepat atau lambat dia akan mengetahuinya. Termasuk mengetahui identitas kita semua. Semua tahu jika itu terjadi, Klan kita akan dalam bahaya!” Xiumin berbicara lagi dengan kepala condong kedepan. Ujung bibirnya tertarik dan menampilkan Gigi- gigi taringnya seolah siap menerkam.

“dia sudah mengetahuinya.” Aku Jongin pelan. Sontak Luhan mengangkat tubuhnya yang terduduk dan berlari menghadang Jongin yang pasrah. Xiumin tak mau kalah. Perlahan kekuatan istimewanya bekerja. Tubuh Jongin tidak bisa melakukan perlawanan karena pengaruh kekuatan Xiumin. Luhan dengan senang hati terus menggeram sembari berusaha mencakar dan menggigit Jongin.

Kyungsoo hendak membela namun Sehun menahannya. Jelas semua tahu kekuatan Xiumin yang lain akan membuat salah satu dari mereka ikut terluka jika mereka membantu Jongin kali ini. Ya, Xiumin memiliki banyak kemampuan.

Sang Alpha menatap tenang tubuh Jongin yang terhuyung kesana kemari. Jongin terus mendengking kesakitan seiring dengan kulitnya yang tercakar disana dan disini. Luhan tidak berhenti, terus melampiaskan amarahnya yang berapi- api.

“sudah cukup!” sang Alpha memerintah. Luhan yang terlalu terbawa emosi tidak bergitu memperhatikan itu, “kubilang sudah cukup!” kali ini sang Alpha menggeram keras. Membuat Luhan berhenti dan bergerak mundur. Jongin terkapar lemah tak berdaya. Tubuhnya penuh luka saat ini. Perlahan Kris yang tubuhnya nyaris sebesar sang Alpha mendekatinya lalu menariknya ke pinggir.

“kau harus mempertanggungjawabkan ini semua. Jika gadis itu sampai tahu dan semua orang menjadi tahu akan keberadaan kita. Aku tidak akan membiarkan kau mati dengan tenang Jongin. Pulanglah! Dan di bulan merah selanjutnya. Datanglah kesini dan buat gadis itu bersaksi dihadapan kami agar dia tidak membocorkan hal ini pada siapapun,” Ucap sang Alpha disertai dengan geraman. Suara lolongan kedua terdengar lagi menandakan rapat sudah selesai. Sang Alpha melompat turun dari batu singgsana. Tubuh gagahnya berjalan masuk kedalam rindangnya pohon kehidupan. Luhan dan Xiumin mengikuti setelah sebelumnya menggeram rendah. Tao, Chen, dan Lay hanya mengikuti mereka tanpa suara. Meninggalkan Jongin dan yang lainnya sendirian di tengah padang rumput.

Ya, mereka adalah Klan utama. Dan tidak ada yang bisa melawan keputusan mereka.

To Be Continued …

10 thoughts on “[FF Freelance] The Red Moon (Chapter 2)

  1. Akhrnya trkuak juga siapa mereka sbenarnya…
    Bgaimn ya hubungan jongin dan aekyung? Apa mereka bakalan brpisah atau gmna??nextt part aja deh

  2. Idenya bagus, tapi akan lebih seru jika kai dan sejenisnya(?) Itu tidak langsung diungkapkan, menurutku alurnya cepet banget .-.
    Terus untuk kalimatnya sebelum tanda tanya dan titik tidak perlu di beri spasi.
    Terus lagi, ada bagian yg muter muter, seperti, aekyung disana ambil bingkai eh tiba2 di sebelah kai terus kainya kan udah mau pergi (udah pegang knop pintu) terus aekyung tiba-tiba udah lengan kai aja, eh di kalimat selanjutnya ada kai yang duduk di kasur ._.

    Itu aja kritik dan saran saya ^^ semangat berkarya ‘-‘)b

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s