Because It’s You (Saranghae) Part 6


ul-300x192

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 6

Author: Keyindra_94

Cast: Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior,

Other Cast: Woohyun Infinite

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment.

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

@*@*@*@*@*

 

Flashback….

Seoul, January 1990

Lelaki muda itu berjalan penuh amarah memasuki sebuah ruangan didalam rumah besar disebuah kawasan elite. Wajahnya nampak tegang ketika ia harus berhadapan lagi dengan pria paruh baya yang notabene adalah ayah kandungnya sendiri itu. Ia tak habis pikir dengan perlakuan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri mengenai aturan dalam hidupnya. Perlakuan apapun yang ia dapat, setidaknya bisa memanusiakan orang. Bukan seperti yang baru ia dapat. Mata lelaki bermarga Kwon tersebut berkilat penuh amarah meminta pertanggung jawaban atas semua ini.

Brak..

Seketika itu pintu dibuka secara kasar olehnya. Matanya berkilat-kilat melihat dua orang yang sedang melakukan sarapan tersebut. Keduanya terkejut menatap lelaki muda itu. Lelaki berusia sekitar 27 tahun tersebut menatap tajam semua orang yang ada didepannya.

“jadi inikah ajaran yang pernah abeojie ajarkan padamu?. Sama sekali tak menghormati orang tua kandungmu sendiri heh?.” Pekiknya sinis, ia memandang meremehkan putra sulungnya itu.

“kenapa abeojie melakukan itu?!.” Tanyanya.

“apa kau masih ingat dan memiliki orang tua?. Huh?. Apa kau sudah memilih untuk meninggalkan gadis sampah itu!!.” Ucap sang ayah datar, meskipun terasa menusuk hati, ini sudah menjadi keputusan dalam hidupnya dan menerima semua konsekuensi yang dijalaninya.

“Sampai kapan abeojie akan menggangu hubungan kami, apa Abeoji tak bisa mengerti dan menerima bagaimana hubunganku dengan Lee Haena berlanjut?.” Lelaki bernama Kwon Sangwoo itu mencoba meredam emosi yang memuncak seketika, kedua tangannya mengepal mencengkeram erat, menatap wajah sang ayah yang tak kalah menahan emosi pula.

“sampai kau meninggalkan gadis murahan itu dan menuruti keinginan Abeojie dan menikah dengan Jin Seoyun itu!.” Lelaki tua itu kembali menatap seksama putra sulungnya. Ia tak mau bertele-tele dalam menunggu kepastian jawaban. “abeoji hanya minta, tinggalkan wanita itu dan menikahlah dengan wanita pilihan Abeojie. Setidaknya wanita itu sekelas dengan keluarga kita.

Kwon Sangwoo menghembuskan napas beratnya. Ia tak habis pikir dengan pemikiran yang diutarakan oleh ayahnya sendiri. Ia tak menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut ayahnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencoba menahan hati dan pikirannya dari emosi yang akan muncul, Hingga suara lelaki tua itu memekik keras sekali lagi.

“KWON SANGWOO!!.”

“tidak akan sampai kapanpun. Aku tak akan pernah meninggalkannya. Camkan itu Abeojie!!. Jika abeojie tak menyetujui hubunganku dengan Lee Haena. Lalu bagaimana dengan Abeojie sendiri?.” Tanyanya meremehkan. Kali ini ia ingin membuka kebusukkan yang dilakukan oleh ayah kandungnya itu dengan gadis remaja yang duduk disebelahnya itu.

“bukankah abeojie mengangkat dia sebagai saudara tiriku?. Dan bukankah juga Abeojie hanya menginginkan anak laki-laki yang sedarah agar bisa meneruskan ‘Whestin Chosun’?!!.” Ia kembali menatap sang ayah dengan sinis, lalu matanya beralih pendang memandang sekilas namun terkesan dingin pada seorang yeoja yang asing baginya.

 “Apa anda berubah pikiran sehingga menginginkan memiliki seorang putri?. Baik jika anda menginginkan seorang putri setidaknya itu putri kandungmu sendiri. Bukan putri yang dipungut dari tempat kumuh didaerah ini. Dan setidaknya pula  jika kau mengangkat seorang putri, kau pertimbangkanlah dulu. Apa dia putri simpananmu yang kau ambil begitu saja dari tempat kumuh itu?.” Ujar Sangwoo yang memekik keras seolah menekankan jika sang ayah adalah sama sepertinya, mempunyai cinta seorang wanita dengan kalangan bukan sekelas mereka.

Pria paruh baya itu merasa geram dengan perkataan putranya, dengan cepat diraihnya segelas air yang tepat berada didepannya lalu dengan begitu saja air didalam gelas tersebut mendarat tepat didepan wajah Sangwoo. “Kau lelaki picik!. Semua kau lakukan asal demi keinginanmu itu, bersama dengan gadis rendahan itu. Apakah pantas kau sebagai pewaris tunggal Whestin Chosun?.” Ujarnya menahan amarah. Emosinya tak terkontrol saat ia merasa dilecehkan oleh darah dagingnya sendiri.

“KWON SANGWOOO!!.” Teriaknya. Tangannya terangkat untuk segera mendarat dipipi anak kandungnya. Sepertinya lelaki bernama Sang

“Abeojie!!!..” pekik gadis itu terkaget saat melihat pertengkaran kedua lelaki berbeda usia tersebut. Ia meraih pergelangan tangan sang ayah untuk menghentikan keingannnya menampar putranya sendiri.

“Wae Abeojie?. Untuk apa Abeojie menamparku?!. Jika Abeojie bisa membunuhku. Kenapa Abeojie tega melakukan itu padaku dan Lee Haena?. Abeojie menyakitinya!.”

Pria paruh baya itu berjalan memaluinya begitu saja. Seakan tak mempedulikan teriakan dan isakan sakit hati nan pilu yang dialami oleh putra satu-satunya itu. Yang ada dihatinya adalah sebuah kebencian akibat anak yang dididiknya memilih jalan demi seorang wanita yang tak memiliki moral dan berasal dari tempat yang bahkan bukan setingkat dan setaraf dengan mereka. Bahkan ia dengan senang hati Sangwoo menerima anak wanita itu yang tak ber-ayah itu demi sang kekasih, dengan menganggapnya sebagai anaknya sendiri.

“Abeojie..Chakkamanyo..” henti Sangwoo. Namun pria paruh baya itu seakan tak punya telinga untuk mendengarkan omong kosong darinya. Bahkan ia hanya berlalu begitu saja. Meninggalkannya.

 

**

Diam bagai patung. Itulah saat ini yang bisa Sangwoo lakukan. Ia tak tahu harus bagaimana lagi untuk meluluhkan hati sang ayah agar menerima orang yang sangat dicintainya itu. Karena hal-hal masa lalu yang berkaitan dengan wanita itu tak penting baginya. Mata Sangwoo kembali berkilat kali ini memandang benci sosok yeoja yang berdiri didepannya.

“selamat akhirnya kau mendapatkannya.” Ucapnya pada akhirnya.

 “tapi satu hal yang harus engkau tahu. Jangan terlalu berharap kau akan berubah margamu gadis licik dan meningkatkan derajatmu. Kim  Hyorin!!. Jangan Harap kau bisa menggantikan posisi dari adikku. Kau hanya anak pungut!.” Tekannya sekali lagi.

Hyorin menatap Sangwoo dengan tatapan tak percaya, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tatapan Sangwoo penuh kebencian menatap tajam gadis yang bukan siapa-siapa dikeluarganya itu. Sementara Hyorin hanya bisa menatap pias lelaki yang kini menjadi kakak angkatnya itu. Inilah hidup penuh dengan penolakan dan kepahitan pula.

“terima kasih semuanya berkat kau!. Juga berkat kau aku diusir dari rumah. Tidak ada lagi yang bisa kukerjakan disini, baik aku pergi selamat bersenang-senang menjadi orang kaya baru.” Ucap Sangwoo pada akhirnya, ia pergi melangkah keluar dan meninggalkan semuanya.

“Sangwoo oppa!.” Panggilnya pelan.

“aku berterima kasih karena kau telah membukan Kartu As ku didepan semua orang. Dengan mulut penuh dosa yang tergambar jelas pada sikapmu dalam sekali tembakan bahkan semua orang kini menganggapku sebagai pecundang. Dan terima kasih pula telah mengusir Lee Haena dari rumahnya  hingga akhirnya aku kini bisa bersamanya.” Sangwoo mengucapkan terima kasih atas kejujuran ang diutarakan oleh Hyorin karena ia tahu dari gelagat sikap yang ditunjukkan Hyorin saat masuk kedalam keluarga ini adalah untuk mengusirnya selamanya.

Hyorin menatap dingn Sangwoo seolah hidupnya tak kalah pedih juga, sebelum ia bisa masuk kedalam rumah ini. “tahukah kau berapa banyak kepahitan yang telah kutelan sebelum aku bisa sampai dirumah ini?!. bagaimana aku menghadapi semua itu?. Hal apa yang bisa kulakukan agar bisa tetap bertahan?. Kau bahkan tak pernah bisa mengerti bagaimana sejak pertama kali kita bertemu dan mulai mencintaimu. Kau lebih memilih Lee Haena daripada diriku?.” Tukasnya penuh dengan emosi seakan menggambarkan keadaannya saat ini. Meskipun pelan dalam berucap, tapi ucapannya sukses membuat Sangwoo tercengang kembali.

Sangwoo menghentikan langkahnya sejenak  dan hanya bisa berucap datar tanpa membalikkan badannya, seakan beban dipundaknya kini semakin berat. Tapi inilah kehidupan. “karena Lee Haena jauh lebih baik darimu, maka aku mencintainya. Mungkin aku hanya lelaki munafik yang tak pantas hadir disini, karena yang pantas ada disini adalah seorang Kim Hyorin dan ibunya yang merupakan kekasih gelap Abeojie yang jauh lebih pantas berada disini. Bahkan Abeojie buta karena saking cintanya pada seorang wanita yang telah memiliki anak sepertimu. Hingga Abeojie rela mengangkatmu sebagai putrinya. Aku tak tahu harus bagaimana lagi bersikap, tapi aku bersyukur karena wanita murahan seperti ibumu yang mau menjadi gundik (simpanan para pengusaha besar Korea) telah mati. Kupikir legenda gundik dikeluarga Kwon akan hadir terus dan sepertinya dirumah ini akan berakhir, tidak ternyata. Karena abeojie sangat menyayangi anak dari simpanannya itu. Bahkan ia rela mengangkat menjadi putrinya, meski tak punya hubungan pertalian darah sama sekali.”

Kedua tangan Hyorin mengepal, dadanya berdesir kencang seakan memancing amarahnya meledak. Ia berusaha menangkan hatinya dengan menggigit bibir bawahnya agar menjadi lebih tenang untuk melawan Kwon Sangwoo.  

“seperti katamu, aku sudah separuh jalan untuk menuju tempat yang mau kutuju. Baiklah aku akui sekaramg jika aku gagal mendapatkan cinta dan hatimu. Tapi setidaknya dengan masuk kedalam keluarga ini melalui status ibuku yang merupakan simpanan dari Sajangnim,  aku bisa berada terus disampingmu. Tidak peduli menggunakan cara apapun jalan yang harus kutempuh itu tetap akan kutempuh hingga akhir. Karena ayahmu-lah yang membuat hidup ibuku hancur hingga akhir hayatnya, bahkan ibuku rela mendonorkan organ hatinya demi menyelamatkan sajangnim. Dan teruntuk dirimu, kau yang membuatku buta karena cinta yang tak pernah kau balas sama sekali.” Hati Hyorin merasa tertohok seketika, inilah konsekuensi yang dipilihnya. Ia sudah masuk dalam keluarga ini, dan ibunya juga sudah mengorbankan nyawa dan cintanya demi menjadi simpanan presiden direktur Whestin Chonsun. Sia-sia jika ia pergi dan meninggalkan semua ini.

“lakukanlah seperti apa yang menjadi keinginanmu. Bila saatnya tiba kemuafikkanmu justru yang akan menghancurkan dirimu sendiri. Hingga dunia akan mengucilkanmu.” Tegasnya. Untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi meninggalkan tempat penuh kenangannya ini. ia yakin semuanya pasti akan terbalaskan. Karena karma masih akan tetap berlaku.  

I can’t take this no more (aku tak bisa melakukan lebih)

I am going crazy(aku akan gila)

I know you’re not the one (aku tahu kau bukan satu-satunya)

I’ll just say this (aku hanya bisa mengatakan itu)

Back Song: Kim Jaejong – Just Another Girl

**

 

Flashback Off

           Rentetan demi rentetan kilasan memory lama itu terngiang jelas dalam kepala dan benak wanita yang kini hanya bisa memandang sudut suatu ruangan dengan tatapan kosong. Ia sudah sejauh ini melangkah demi mendapatkan semuanya, mengorbankan segalanya demi semua ini. Kejam memang, saat ia mencintai lelaki masa lalunya itu dan mulai masuk dalam kehidupan keluarganya. Status social yang dulu rasanya ia sudah melupakannya. Sekarang yang ada hanya Kwon Hyorin, putri tunggal dan calon penerus Whestin Chosun.

Hyorin menelungkupkan kepalanya penuh frustasi, raut mukanya tak tersirat adanya sebuah kebahagiaan sama sekali. Bertahun-tahun ia menyembunyikan semua ini. Semuanya bahkan terasa mudah saat kerikil-kerikil penghalang ia depak satu persatu dari hidupnya. Tinggal satu tujuan utamanya kini yaitu duduk sebagai ahli waris tunggal group Whestin Chosun.

“Maafkan aku Sangwoo oppa. Aku telah menghancurkan hidupmu dan melakukan ini semua. Ini semua kulakukan karena aku tak mau kembali ke tempat kumuh itu dan menjadi orang miskin yang dianggap sebagai sampah masyarakat itu. Aku sudah berjalan sejauh ini untuk mendapatkan semua ini. bahkan ibuku rela menjadi simpanan presdir agar bisa mengubah hidup kami. Aku berhak atas semua ini, karena ibuku mempertaruhkan nyawanya demi menolong presdir. Bukankah itu impas?.” Desahnya pada akhirnya. Senyuman licik namun pilu itu tersungging manis dibibir tipisnya. Ia memantaskan dirinya menjadi pewaris perusahaan, karena nyawa ibunya telah menjadi taruhannya untuk bisa merubah hidup Hyorin yang dulu menjijikkan.

Kriett…

Pintu ruangan kerja yang cukup besar itu terbuka secra otomatis, menampakkan sosok pria tua yang menggunakan tongkat berjalan kearahnya. Spontanitas Hyorin mencoba untuk tak menunjukkan sikap apa-apa selain sikap ternyum tulus penuh kemunafikkan.

“abeojie.. kenapa tak memberitahu jika datang kemari?.” Ucapnya tiba-tiba. Hatinya merasakan keemasan yang mendera, semoga saja sang ayah tak mendengar semua kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya. Tamatlah riwayatnya jika seseorang mengtahuinya.

“kau ambil alih rapat pemegang saham hari ini. abeojie ada urusan mendadak di Gyeonggi-Do. Ambillah keputusan sebisamu. Jika terjadi dualisme keputusan yang sangat rumit untuk pengambilannya. Mintalah pertimbangan pada putrimua, Yoona. Abeojie akan mengoreksinya besok jika Abeojie pulang.”

“urusan?. Untuk apa Abeojie ke Gyeonggi-Do. Bukankah Yoona sudah menyelesaikan urusan disana sejak dua minggu lalu.” Tanya Hyori balik, ia merasa ada hal yang aneh dengan ayahnya itu. Beberapa hari ini ayahnya selalu saja bersikap aneh padanya.

Tiba-tiba saja terlintas dalam benak pikirannya berkaitan dengan tanggal dan hari ini. ia. Benar setiap tahun Abeojie selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjunginya. Tidak salah lagi ini adalah hari peringatan kematian mendiang putranya.

“abeojie..”panggilnya pelan sekali lagi sebelum ia kemmbali melanjutkan perkataannya. “Sangwoo oppa..” Lirihnya..

Lelaki menarik napas panjang dan mendesal kecil tanpa membalikkan badannya. Dan akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan milik putri angakatnya tersebut bersama dengan sekretaris pribadi kepercayaannya. Ia menyesal karena telah mencampakkan darah dagingnya sendiri dan sepertinya Tuhan sedang menghukumnya karena untuk terakhir kalianya sebelum menemui ajalnya. Hingga saat ini ia belum pernah sama sekali dengan anak lelakinya atau keturunana dari putranya tersebut.

****

Entah mengapa siang hari ini Yuri merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya. Tidak seperti biasanya tubuhnya merasakan seperti ini. rasanya ia tak mempunyai raga, badannya terasa sangat lemas. Ini jarang terjadi biasanya. Meskipun ia bekerja hingga larut malam, tapi ini tak pernah tejadi.

‘mungkin hanya efek perubahan cuaca saja. Dan kelelahan belakangan ini karena deadline kerja yang menumpuk dan menyita waktunya’ pikirnya.

Kembali Yuri memaksakan dirinya untuk bekerja kembali dengan map-map yang bertumpuk didepannya. Ia harus segera menyelesaikannya agar bisa langsung pulang dan beristirahat kembali. Sepertinya tubuhnya tak mau diajak berkompromi dengan penyakit yang kini menghampirinya.

“Ya Tuhan!!. Kwon Yuri. Kau sakit?.” Suara itu tiba-tiba saja menganggetkan Yuri dari pekerjaannya. Ia menoleh sebentar dan dapat memperlihatkan raut wajahnya yang pucat.

“aniyo..hanya merasa tak enak badan.” Kilahnya.

“Hey, Kwon Yuri. Kau ini workaholic sekali. Apa kau tak sayang tubuhmu yang sakit ini.  pulang dan istirahatlah. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja.” Ujar wanita bernama Park Sunyoung tersebut. Ia khawatir saat melihat wajah Yuri tampak pucat seperti ini. Terlalu memaksakan diri untuk melakukan kerja hingga larut malam selama beberaapa hari ini.

“tap..tapi…” lanjutnya, sebelum omongannya terpotong kembali.

“sudahlah, biar aku saja yang menyelesaikan semua ini. kau istilahatlah.”

Omongan Sunyoung ada benarnya juga, ia butuh istirahat untuk memulihkan stamina dan kesehatannya terlebih dahulu dan hal ini disebabkan oleh dirinya yang kelelahan karena terlalu memforsir tubuhnya bekerja keras tanpa ada jeda istirahat sama sekali.

Dengan gerak secara tiba-tiba tubuh Yuri mulai bangkit. Langkahnya ia tujukan kearah toilet. Di atas sebuah wastafel ia keluarkan semua yang ada pada tenggorokannya. Kejadian ini sudah ia alami semenjak  beberapa hari yang lalu. Namun ia rasa hari ini adalah puncaknya. Tangan kanannya membekap mulut untuk menahan sesuatu yang akan keluar, sementara tangan kirinya mencengkeram perutnya agar gejolak dalam perutnya dapat ia tahan.

“Hooeeekkk… Hooeeekkk…” tak ada jawaban dari Yuri. Ia masih saja mengeluarkan semua isi perutnya. Namun nihil tak ada sesuatu yang keluar, selain saliva bening yang hanya bisa ia keluarkan. Setelah beberapa saat Yuri mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk di depan wastafel dan menatap dirinya di cermin yang ada dihadapannya Kedua matanya sedikit ia picingkan dengan ia pegangi sebelah kepalanya menahan sebuah denyutan hebat. Ia pijat-pijat pelan pelipis dengan jemarinya. Merasa mualnya sudah mereda, perlahan kedua kakinya ia gunakan untuk keluar dari ruangan tersebut.

“aigooo..sepertinya kau memang benar-benar sakit Yuri-ya.. pulanglah.” Yeoja itu menghampiri Yuri yang sudah kembali terduduk di kursi kerjanya lalu mengambilkan segelas air hangat untuk menenangkan perut Yuri yang bergejolak.

“ne..aku merasa jika terlalu banyak memforsir diriku dengan deadline kerja yang menumpuk.” Yuri meyesap minumannya. Matanya beralih pada sebuah kalender diatas meja yang telah ia lingkari semenjak beberapa minggu yang lalu. Sepertinya ia memang harus meminta izin untuk setengah hari bekerja hari ini. selain ia merasa tak enak badan, ia juga tak mau melewatkan hari ini. Hari dimana mendiang ayahnya tepat 11 tahun yang lalu meninggalkan dirinya utnuk menuju surga yang abadi

“Sunyoung-ah..” panggil Yuri kembali. “ sepertinya memang hari ini aku harus bekerja setengah hari. Aku meminta izin untuk memperingati hari 11 tahun kepergian mendiang ayahku.”

“aisshh..jinjayo. kau ini. Bahkan saat sakit seperti ini pun kau masih saja ingin pergi.” Dengusnya kesal. Ia heran dengan sifat keras kepala yang dimiliki oleh rekan kerjanya tersebut sulit dihilangkannya.

“ne..kau boleh pergi. Hubungi aku jika sakitmu bertambah parah. Kau harus segera  memeriksakan dirimu kedokter. Apa kejadian terbaringnya aku dirumah sakit ingin terulang dan terlebih lagi padamu?.”

“aniyo..aku baik-baik saja. Hanya butuh istirahat. Dan kupastikan aku tidak terbaring dirumah sakit seperti dirimu. Arraseo.” Yuri terkekeh geli mendengar penuturan temannya. Sementara terlihat sangat wajah Sunyoung yang terlihat sebal saat menasehati Yuri, justru ia yang menerima penuturan dari Yuri.

“Arra..arra..”

“ne..aku pulang. Sampai jumpa besok..” pamitnya.

**

Terhitung sejak satu jam yang lalu Yuri masih memandangi abu jenazah yang diletakkan didalam sebuah guci kecil disamping abu jenazah sang istri. 11 tahun berlalu, semuanya terasa sepi dan sunyi dalam menjalani kehidupan pada hari-harinya. Yuri menundukkan kepalanya, memejamkan matanya serta tak lupa menangkupkan kedua tangannya dalam diam, mengucap kalimat-kalimat pujian untuk Tuhan dalam do’anya khusyuk dan Khidmat.

“semoga Abeojie tenang. Dialam sana bersama eomma dan Donghae oppa yang menyayangi Abeojie.” Dalam diam Yuri berdo’a . Ia mengambil sebuah bingkai foto yang sudah lama terletak disana sejak kematian sang ayah 11 tahun lalu. Foto kebahagian sebuah keluarga yang paling diidamkannya selama ini hanya berlangsung singkat. Kebahagiaan itu terenggut satu persatu sejak sang eomma pergi mendahului mereka semua.

“Abeojie. Dia kembali. Dia kembali lagi pada kenyataan yang telah bertahun-tahun lalu ditinggalkannya. Aku takut jika dia kembali maka Hana harus tersakiti sama seperti Donghae oppa yang tersakiti pula olehnya, karena cinta sepihak yang Donghae oppa rasakan.” Butiran Kristal bening itu mendadak mengalir deras membasahi pipi. Yuri tak tahu lagi harus bercerita kepada siapa lagi agar beban dihidupnya menjadi ringan. Semua orang yang disayanginya satu persatu meninggalkan dirinya.

Tak jauh darinya sedari tadi seseorang menatapnya dengan nanar, tatapan itu tampak begitu penuh penyesalan. Puluhan tahun ia tak mengakui darah dagingnya. Seakan hatinya tertutup oleh sebuah kebencian dan amarah yang mengakar jelas dalam dirinya.

Menyesal, tentu saja. Dimana dia selama ini, seakan matanya tertutup oleh kenyataan dan kejujuran yang seharusnya menjadi landasan suatu sikap kepercayaan. Bahkan selama ini ia tak mencari keberadaan sang putra demi memperbaiki semuanya. Dan tentunya keturunan dari anak lelakinya tersebut.

**

Langkah pelan kaki itu mau tak mau akhirnya berjalan mendekatinya. Kepalanya menoleh sebentar untuk mendapati siapa yang berjalan mendekat kearahnya.. Manik mata Yuri menangkap sosok seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki tua yang tak asing baginya, benar tak salah lagi jika itu orang yang sangat dihormati dan disegani oleh Yuri dan semua orang yang menjadi bawahannya.

‘Presidir Kwon dari Whestin Chosun.’

Mata Yuri mengerjap beberapa kali memastikan jika ia tak salah melihat itu. Untuk apakah orang itu berada disini?.  Apakah ada dari anggota keluarga Presdir yang meninggal dan abu jenazahnya disimpan disini.

Kaget dan tersentak. Itulah ungkapan yang bisa diartikan dalam benak lelaki tua pemilik salah satu group hotel terbesar dikorea tersebut. Yuri masih saja diam bak patung saat kedua langkah kaki orang yang berpengaruh itu diikuti dengan langkah kaki orang lain datang mendekatinya. Mungkinkah dia?. Sepkulasi pemikiranya bercabang hingga ia berpendapat jika ada seseorang yang berharga yang telah meningalkan pengusaha kaya itu.

“annyeong haseo.” Sapanya. Yuri merundukkan badan 90 derajat tanda menghormati lelaki tua yang kaya itu. Lelaki tua itu menyunggingkan senyumannya lantas membalasnya dengan menganggukan kepalanya.

“kita bertemu lagi nona Kwon.” Balasnya. “sedang apa kau disini?.”

Yuri tersenyum hangat menampakkan kesan penuh kasih sayang dan peduli yang terlihat dari wajahnya. “hanya mengunjungi mendiang seseorang saja dan memperingati hari kematiannya.”

“kalau aku boleh bertanya. Siapa yang kau kunjungi?.”

“mendiang Ayahku. Ini tepat 11 tahun yang lalu ia meninggalkanku,.” Lirihnya. Ia memaksakan senyum sambil menyunggingkan bibirnya. Mencoba mencairkan suasana agar tak terkesan berlarut-larut dalam kesedihan karena ditinggal seseorang.

“aku yakin mendiang ayahmu sudah bahagia dialam sana. Dan kau jangan takut sendiri karena masih banyak orang disekitarmu yang tentunya sangat menyayangimu.” Lelaki bermarga Kwon itu mengehembuskan napas pendek, mencoba memberi ketegaran pada Yuri. Matanya tanpa sengaja menangkap sebuah papan nama yang tak sengaja dapat ia baca. Meski usianya sudah tergolong tua, namun masih dapat dengan jelas ia lihat tulisan apa yang tertera.

“Kwon Sangwoo!!.”

Nama itu kini yang tertera. Bingung seketika itu menylimuti pikiran dan benakknya. Mendadak ia mematung diam, tubuhnya bergetar karena tegang. Dia sangat berharap jika semua ini adalah mimpi belaka. “di—dia ayahmu?.” Tanyanya sekali lagi. Mendadak jantungnya berpacu cepat, ia takut jika kenyataan ini akan segera datang kepadanya. Sementara Yuri hanya bisa mengangguk pelan sembari mengernyit bingung, ia menatap penuh tanya sosok kakek yang  ada didepannya.

Tubuh pria tua itu kembali menegang. Ia remas kuat jemarinya seolah tengah menahan sesuatu. Hatinya merasa bergemuruh mendengar sekilas tentang satutus hubungan ayah dengan Yuri. Haruskah ia merasa bahagia? Bukankah itu adalah sebuah berita bagus?. Secercah harapan tentang cerita hidup anak kandungnya mulai terkuak, meski sang anak telah meninggalkannya begitu lama. Dan ia hanya mendengar tentang kabar kematiannya saja. Tidak…kata-kata itu yang hanya bisa ia rasakan, tak mampu memberi komentar apa pun. Bibirnya mengatup sempurna dengan kedua bola matanya yang seakan tidak mau berkedip.

Brukk…

Lelaki tua bermarga Kwon itu jatuh terduduk bersimpuh dihadapan Yuri. Ia kini tak tahu apa yang harus diperbuatnya kini. Kenyataan saat ini telah mengutuk dirinya, dan karma pun akan segera datang kepadanya. 11 tahun lalau waktu telah membuatnya hancur dengan sama sekali tak mengetahuinya. Sekeretaris kepercayaan yang ia bawa mencoba membantunya berdidri, namun hanya penolakan yang ia dapat dari dorektur tersebut.

“sajangnim..” pekik Yuri terkaget.

“katakan apa hubunganmu dengan orang bernama Kwon Sangwoo itu?.” Desaknya. Ia semakin yakin jika ada sesuatu dibalik ini semua. Terliebih lagi Sangwoo tak pernah memberinya kabar sama sekali tentang pernikahan yang pernah ia jalani tanpa restu itu.

“apa kau  putri dari lelaki yang bernama Kwon Sangwoo itu?.” Tanyanya kembali. Kali ini lebih meyakinkan. Ia tatap dalam manik mata Yuri yang sama persis dengan mendiang putranya  saat masih hidup. Sungguh mereka memiliki mata yang sanagat persis.

“dia ayah kandungku.” Dengan  ragu, Yuri mengaggukkan kepalanya memastikan jika abu jenazah yang tersimpan itu adalah mendiang sang ayah. Ia pandang dua bola mata milik pria tua itu yang kini nampak berkaca.

“mianhae…mianhae..jeongmal mianhae..Sangwoo-aa.” Ia meratapi nasibnya dengan terisak pelan. Air matanya mulai mengalir, menemui kenyataan jika Sangwoon telah memiliki sebuah keluarga yang ia tinggalkan dan ironinya pria paruh baya itu tak pernah sama sekali ingin mengetahui kelanjutan hidup anak kandungnya sendiri.

“mwo?. Sajangnim..” Yuri semakin terlihat bingung mendapati sang direktur menangis keras dihadapannya. Apakah ada kata-kata yang terlontar dari dirinya yang melukai pria paruh baya itu?.

“Sangwoo-aa..” ia semakin menangis keras. Ia merasa hina didepan Yuri. Bertahun-tahun Sangwoo hidup sendiri tanpa pernah menghubunginya dan disaat dirinya tengah menyesal, Sangwoo telah meninggalkannya tanpa ada permintaan maaf sebelumnya.

“mianhae..mianhae..maafkan aku selama ini. aku terlalu menutup hatiku untuk menrima semu kenyataan dan takdir. Hatiku sudah tertutup oleh keduniawian yang menjerumuskanku untuk tak mengakui keberadan putraku sendiri.”

“sajang—ngnim..sebenarnya ada apa?.” Tanya Yuri bingung. Entah sudah berapa kali lelaki tua itu mengatakan permintaan maaf. Tapi Yuri masih belum mengerti apa maksud permintaan maaf dari Tuan Kwon tersebut.

“Sang—woo.. Kwon Sangwoo putraku. Mendiang Ayahmu adalah putraku.” Ucapan spontanitas itu keluar begitu saja dari mulut Tuan Kwon. Lelaki itu baru menyadari jika yang berdiri dihadapannya kini adalah putrid kandung dari Kwon Sangwoo, cucu kandungnya.

Yuri menutup mulutnya saat telinganya masih sadar dan merespon ucapan Tuan Kwon. Tuan Kwon adalah orang tua dari ayahnya. Bagaimana bisa ini terjadi?. Kaki Yuri berjalan melangkah kebelakang, dadanya terasa sesak mengetahui kenyataan ini. tidak mungkin semua ini terjadi. Ia tak seolah tak percaya dengan semua ini.

“maafkan aku. Aku telah menelantarkan kalian. Aku bahkan telah tak mengakui Sangwoo sebagai putraku.” Sesalnya. Mungkin sudah tak termaafkan lagi kesalahnnya. Ia sungguh keterlaluan dimasa lalunya.

“mungkin kata maaf  tak akan berarti lagi. Kesalahanku sudah tk bisa termaafkan lagi. Putraku bahakan kuusir dari rumah hanya karena menikahi seorang gadis dengan kelas social yang beda. Dan bahkan aku tak mengetahui sama sekali jika aku masih mempunyai cucu. Kau pantas membenciku!. Kau pantas membenci manusia hina ini.” tuan Kwon mulai beranjak berdiri meninggalkan sosok Yuri yang masih menangis dan menatap sendu sosok Tuan Kwon yang menangis pula. Mungkin dengan kepergiannya, ini bisa mengurangi bebannya dengan tidak menmpakkan diri didepan cucunya. Putri kandung dari Kwon Sangwoo. Perlahan lelaki itu berjalan melangkah menjauhi tempat itu diikuti oleh ekretaris pribadi kepercayaannya. Ia merasa tak pantas berada disini.

“chakkamanyoo..” henti Yuri. Ia beranjak dari tempatnya sembari menghapus air matanya. Kaki jenjangjnganya melangkah mengejar pria tua itu. Sebelum pria tua itu pergie menjauh.

Tuan Kwon terhenti sejenak dan membalikkan badannya. Ia menatap bingung kearah Yuri.

“Sudah lama berlalu, seharusnya tidak perlu lagi kau ulang kata-kata itu” Yuri keluarkan suaranya.

“Semuanya sudah terjadi dan tidak mungkin bisa dirubah. Sekeras apapun usahamu mengucapkan kata maaf itu tetap saja tidak akan merubah kenyataan” Sahutnya semakin berlanjut. Ia kini mulai tundukan kepalanya. Ia semakin terisak menghadapi kenyataan ini. ia mendapati jika ayahnya sendiri tak pernah diakui keberadaannya. Hati Yuri mengis sakit. Namun tak tergambar dari raut wajahnya.  “abeojie telah tiada. Dan aku yakin jika Abeojie sudah memaafkan anda. Abeojie tak pernah mngajarkanku untuk membenci seseorang hanya karena orang itu melakukan kesalahan.

“Kwon Yuri..” lirihnya.

“Tidak pernah ada kata terlambat. Entah ini tulus atau tidak, tapi baiklah….mungkin ini saatnya aku menerima kenyataan ini. “ Yuri berjalan mendekati pria itu meraih tangannya. Ia dapati pria paruh baya itu yang masih menundukan kepalanya, menyesal dengan sikapnya.

“aku tak tak pernah ingin memutus pertalian antara anak—ayah—dan cucu. “Mari, kita mulai semuanya dari awal. “ia ucapkan kalimat itu dengan tulus. Kyuhyun terima dengan lapang saat kedua tangan pria itu merengkuh kedua belah sisi pipinya dengan gemetar. Kedua mata pria paruh baya itu sudah berkaca-kaca merasa tidak percaya jika kini ia bisa bertemu dengan cucu kandungnya. Meski putranya telah tiada.

“apa kau bersungguh-sungguh menerima kakek yang hina ini?. aku bahkan..”

Sebelum omongannya berlanjut Yuri sudah memutusnya, ia tahu lanjutan omongan dari lelaki itu mengarah kemana. Hati pria itu semakin bergetar manakala ia lihat kepala puetranya mengangguk. Ia rengkuh dengan cepat tubuh Yuri seakan dia tengah mendapat apa yang dia harapkan selama ini. Rasa penyesalan memang terkadang butuh sesuatu yang hebat dulu baru bisa dirasakan. Walau itu harus kesakitan, tidak masalah jika dapat membuat seseorang sadar akan kesalahannya.

“aku Kwon Yuri putri dari Kwon Sangwoo.”

“terima kasih.” Ucap pria tua itu. Ia memeluk Yuri erat. Memeluk cucu yang tak pernah dicarinya sama sekali.

Hati Yuri seolah tengah dihangatkan dalam waktu sepersekian detik. Ia jujur kala mendengar pria paruh baya itu mengatakan jika dirinya adalah ayah kandung dari ayahnya dan kakek dari dirinya, yang amat sangat membuat dirinya bahagia.

“Abeojie.. gomawoyo.” lirihnya.

*****

Im Yoona. Wanita itu mengukir senyum bahagia saat melihat langkah seorang yang akan ia ajak berkompromi agar jalannya lancer saat mendapatkan Jongwoon. Wanita paruh baya itu mengukir seulas senyum tanda menypa Yoona, sebelum ia mendudukkan dirinya tepat didepan Yoona disebuah restaurant. Tempat mereka berdua berjanji untuk bertemu.

“annyeong Ahjumma.” Ucap Yoona penuh hormat. Ia membungukkan badannya 90 derajat tanda mengohormati wanita paruh baya itu.

“hey..Yoong. sudah lama tak bertemu. Bagaimana keadaanmu dan karirmu?.”

“semua seperti yang ahjumma lihat. Tak berbeda jauh dengan apa yang ahjumma lihat sebelumnya.” Yoona tersenyum penuh arti. Jika memang mendapatkan Jongwoon secara terang-terang telah ia lakukan dengan mengakui perasaannya. Namun gagal sama sekali, ternyata lelaki itu jauh lebih mencintai gadis brengsek bernama Kwon Yuri itu meski ia jauh lebih mengenal Jongwoon lebih jauh. Setidaknya wanita paruh baya itu bisa membantu memperlancar dirinya untuk menghancurkan hubungan Jongwoon-Yuri.

“Yoong. Chukkaeyo. Sebentar lagi akhirnya kau akan menikah.” Ujarnya tulus. Wanita yang diketahui berstatus dari ibu kandung Kim Jongwoon tersebut berucap ringan, mencairkan suasana. Sementara Yoona hanya tersenyum miris mendapati jika berita tentang perjodohan gila yang direncanakan oleh keluarganya itu bisa sampai ke telinga ibu Jongwoon.

“ahjumma.” Panggilnya sekali lagi.”

“hmm..” wanita itu menyesap secangkir kopi yang berada didepannya sambil menyaksikan pemandangan sekitar. Firasatnya mengatakan jika ada sesuatu yang akan Yoona utarakan saat ini. “bicaralah!. Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan. Jangan berbohong pada ahjumma. Gelagatmu nisa ahjumma baca.”

“mwo?.”

“ada apa young?.” Selidiknya sekali lagi.

“eeerr…ini tentang Jongwoon oppa ahjumma.” Yoona tersenyum mereponnya, jemari lentiknya ia ketuk-ketukkan pelan diatas meja tersebut. Inilah initinya. Lihat saja aiapa yang akan menang.

“waeyo dengan Jongwoon?.” Tanyanya penasaran.

“ini tentang gadis yang akan dinikahi oleh Jongwoon oppa!.” Tukas Yoona singkat namun sukses membuat ibu kandung dari Jongwoon tersebut menatapnya bingung. Sedetik kemudian ia bisa membaca arah pemikiran Yoona akan berbicara kemana.

“Kwon Yuri?!. Maksudmu begitu?!.” Nyonya Kim mengernyit bingung. Kali ini ada apa lagi?. Bukankah Jongwoon sudah mengutarakan keinginannya itu dihadapan kedua orang tuanya dan Kwon Yuri pun gadis baik pula, selain itu ia juga cerdas.

“jika tentang ia yang sudah mempunyai seorang putri. Itu bukan putri kandung Kwon Yuri. Kwon Yuri hanya membesarkan putri dari mendiang kakaknya yang telah tiada, karena eomma yang melahirkannya telah membuang putri cantik itu.”

Yoona tercengang seketika. Brengsek!. Ternyata Kim ahjumma tahu apa yang akan dibicarakannya. Ternyata gadis bernama Kwon Yuri itu sudah mengenal Kim Ahjumma. Sejauh mana hubungan mereka berdua hingga ia tak mengetahuinya sama sekali.

“Yoong. Sekali lagi maafkan ahjumma. Ahjumma tahu kau sangat mencintai Jongwoon sejak kalian berdua dipertemukan di New York. Tapi inilah keadaannya Yoong, Jongwoon hanya menganggapmu menjadi tak lebih dari seorang Dongsaeng. Jadi ahjumma mohon supaya kau mengikhlaskan Jongwoon untuk mencintai gadis lain.”

Yeoja paruh baya itu menggenggam erat jemari tangan Yoona berusaha menangkan hati Yoona dari kekecewaan akibat perkataannya. Ia tahu jika Yoona kini tengah terluka perasaannya akibat mendengar jika Jongwoon akan menikahi wanita lain. Perasaan wanita mana yang tak sakit hati saat melihat pria yang dicintainya bersama dengan orang lain.

“ahjumma..” lirihnya pelan. Ia menjadi sedikit terisak dengan perkataan yang dilontarkan oleh Kim Ahjumma. “tidak bisakah aku diberi kesempatan untuk sedikit saja memiliki hati Jongwoon oppa. Aku mencintainya. Bahkan aku rela melakukan segala cara agar Jongwoon oppa membuka sedikit hatinya untuk menerima kehadiranku?.” Yoona mulai terisak pelan seiring dengan perkataan yang keluar begitu saja dari mulutnya.

“bukannya ahjumma tidak menyetujui hubungan kalian jika kalian bersama. Namun kenyataannya berbeda Yoong. Kau ingat saat Jongwoon menjalin hubungan dengan Jung Nicole saat masih di New York?. Ahjumma memaksakan kehendak ahjumma untuk mendekatkan mereka berdua dalam pertalian kasih?. Jongwoon dan Ahjumma akhirnya bertengkar hebat kala itu, dan Jongwoon memutuskan untuk pergi dari rumah karena perjodohan sepihak yang ahjumma lakukan untuknya. Dan kau tahu tentunyunya jika akubat Jongwoon kabur dari rumah, kalian berdua terlibat kecelakaan beruntun yang mengerikan itu. Ahjumma bukan tak mau membantumu untuk mendekati Jongwoon. Tapi Jongwoon punya hak untuk memlih siapa, kepada siapa ia melabuhkan hatinya. Ahjumma tak mau memaksa Jongwoon lagi, hingga terjadi kecelakaan itu untuk kedua kalinya.”

 

Flashback 5 years Ago….

            Tangisan itu mendadak menggema disebuah rumah sakit elite di kota Ney York tersebut. Berbondong-bondong orang mendatangi resepsionis untuk menanyakan biodata nama korban kecelakaan beruntun itu. Wanita yang diketahui sebagai istri dari salah satu dokter spesialis dirumah sakit tersebut hanya bisa menangis pilu dan pasrah saat menti kepastian yang tak kunjung dari dari sebuah berita mengenai keadaan dari anaknya yang menjadi salah satu korban dari kecelakaan mengerikan itu.

            “bagaimana ini yeobo. Jongwoon hingga petang ini belum ditemukan dalam kecelakaan itu.” Suara itu terdengar bergetar karena kekhawatiran berlebih yang melanda. Tangisannya semakin menggebu taatkala belum ada sedikitpun kaber mengenai kabar putranya.

            mata Yeoja kini berbalik arah dan memandang sesosok kornam yang tengah didorong menuru ruang gawat darurat. Korban kecelakaan lagi, tapi kali ini sesosok yeoja yang sangat dikenalnya. Wanita itu dalam keadaan berlumuran darah karena kecelakaan. Satu teriakan histeris tiba-tiva saja memekik keras, membuat orang yang berada didekatnya mencoba untuk memenagkannya.

            “Yoong..Im Yoona!!..”

            Wanita bermarga Kim tersebut melihat histeris dan penuh ketakutan pada sosok yeoja yang dikenalnya itu. “yeobo..bagaimana dengan Jongwoon?.” Ia mengikuti ranjang dorong yang berisi Yoona masuk kedalam Unit Darurat untuk menerima penanganan yang berkelanjutan, karena kondisi Yoona saat ini bisa terbilang kritis.

            “bagaimana dengan Jongwoon?!.” Nada bicaranya terlihat menyedihkan. Ia tak kuat jika harus seperti ini. Panik dan ketakutan. Saat ini hanya itulah yang hanya bisa tergambar dari keadaan ini. ia tak sanggup jika kehilangan putra sulungnya itu.yang ada dipikirannya kini hanya satu, semoga tim penyelamat segera menemukan dan mengevakuasi Jongwoon dalam kecelakaan beruntun itu.

            Sepertinya Tuhan masih memberikan keajaibannnya untuk umatnya yang selalu taat dan patuh menjalankan apa yang diperintahkannnya. Beberapa jam setelah menunggu penuh harapan keajaiban itu muncul. Saat keputusasaan mendera, setitik cahaya datang dan member harapan. Kim Jongwoon, lelaki yang dnantikannya itu akhirnya datang juga.  

            Knop pintu besar berlapis kaca itu bergerak seraya sosok pria berjubah putih dengan iris khas orang barat yang berwarna biru itu. Pria yang berstatus sebagi dokter tersebut segera memberi kabar tentang bagaimana keadaan selanjutnya.

            Dokter itu menghembuskan napas panjangnya memandang sendu kedua orang yang sedari tadi menantikan kabar dari Jongwoon. “we’ll let inform it now!.”

            “condition is critical and partly his heart is broken. And then We need the same liver donors so that we could take some of the core cells grafted into his heart to.” (kami butuh pendonor hati yang sama agar kami bisa mengambil beberapa inti sel hatinya untuk dicangkokkan).

            Shock. Satu kata yang bisa tergambar dan diungkapkan oleh kedua orang tua itu. Saat ini mereka tak bisa berkomentar lagi terhadap keadaan. Dan tak tahu harus bagaimana lagi. Yang bisa dilakukan adalah menerima semua kenyataan yang ada dengan ikhlas.

            “Jongwoon-ah..” isaknya.

“patient loses a lot of blood.” 

Panggilan dari asisten dokter tersebut menambah kekalutan hati kedua orang tua itu. Disaat mereka tak tahu apalagi yang harus mereka lakukan menyangkut nyawa .  Jongwoon dalam keadaan kritis.

**

Duduk terdiam, mengamati dengan seksama keadaan yang kini berada didepannya. Layar monitori itu masih bergerak menampilkan detak jantung seseorang yang masih berdetk, menandakan jika orang yang terbaring masih mempunyi kesempatan untuk hidup.

“aku tak tahu harus memulai darimana. Kita belum sama-sama kenal dan belum perah bertemu juga. Namun batinku menyatakan dengan kuat jika aku harus menolongmu.

“bertahanlah. Karena sebentar lagi kau akan tersadar. Semoga apa yang aku berikan bisa membuatmu bertahan hidup dan kau akan tersadar, Tuhan memberkatimu.”

“setidaknya dengan membantumu dengan mendonorkan sebagian hatiku, aku bisa membantu dua orang sekaligus. Dan aku berharap keajaiban Tuhan yang datang padamu bisa menghampiri kakak lelakiku.” 

Sebuah kalung salib ia kenakan pada pergelangan tangan lelaki yang bernama Kim Jongwoon itu. Berharap akan ada keajaiban Tuhan yang akan datang kepadanya agar lelaki itu segera tersadar. 

“semoga kau segera tersadar.” Bisik Yuri sekali lagi seolah-olah ingin meyakinkan Jongwoon.

Dan disaat itu juga tanpa terlihat oleh Yuri, mata orang bernama Kim Jongwoon yang tengah terpejam erat tak sengaja meneteskan butiran-butiran krisal bening didalam matanya. Pria itu memangis. Meski ia berada dibawah alam sadarnya, tapi ia masih bisa merasakan jika ada seseorang yang telah mengorbankan diri untuk menolong lelaki itu.

“nona Kwon Yuri-sshi..”

Panggilan itu menyadarkan Yuri dari acara berdo’anya. Ia menolehkan kepalanya sebentar pada sosok dua orang yang saat ini berdiri dibelakangnya. Pria dan wanita itu mencoba menahan tangisnya saat do’a-do’a Yuri yang ia panjatkan terdengar jelas dalam telinga mereka. Mereka tak tahu harus bagaimana lagi jika tanpa gadis itu, entahlah. Mungkin Jongwoon akan pergi untuk selamanya.

“ne..Uisanim.”

Lelaki yang bermarga Kim yang diketahu sebagai ayah Kim Jongwoon, yang tak lain dan tak bukan adalah lelaki yang terbaring koma ituberjalan mendekati Yuri. Sementara Yuri hanya bisa mengusap airmatanya, agar tak terlihat ketika sedang menangis.

“operasinya akan dimulai satu jam lagi. Apa kau akan siap menerima konsekuensinya?.” Tanya dokter itu menyakinkan.

“jika Tuhan berkehendak lain aku bisa menerima. Tapi sebagai manusia aku hanya bisa berusaha, dan Tuhan-lah yang menentukan. Ku mohon selamatkan kakak lelakiku.”

Lelaki itu kemudian berjongkok, menatap Yuri intens yang saat ini masih duduk dikursi roda. Gadis berusia hampir delapan belas tahun itu menatap penuh harap agar operasi segera dilakukan berjalan lancar. Ia ingin melihat kakak lelakinya sehat kembali.terpancar sangat dari wajah cantiknya sarat akan pebuh pengharapan.

“Uisanim—nyonya. Aku pemisi dulu. Aku ingin melihat keadaan kakak lelakiku menjelang operasi yang akan dilakukan.”

 “tunggu dulu.” Henti Tuan Kim saat kursi roda yang didorong oleh suster itu beranjak keluar dari ruangan ICU, tempat dimana Jongwoon dirawat.

“aku tak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi. Kau telah berjuang mnyelamatkan Jongwoon dari kecelakaan itu dan kau juga yang telah mendonorkan darah dan sebagian hatimu untuk kau berikan ada Jongwoon agar ia bisa segera tersadar. Aku tak tahu lagi harus bagaimana berterima kasih.”

“Tuhan tak pernah tidur, Tuhan mencintai umatnya. Ia tak akan memberikan cobaan lebih berat daripada kemapuan umatnya aku tak sengaja diertemukan dengan putra anda. Aku hanya bisa menolongnya sebisaku.”

“ah, —dan satu lagi. Tolong jangan beritahukan pada Donghae oppa. Jika aku mendonorkan hatiku untuk putra anda. Aku tak ingin menambah beban untuk Donghae oppa. Aku juga tak ingin Donghae oppa salah paham jika aku mendonorkan hatiku bukan untuk agar ia bisa melakukan operasi itu. Aku ikhlas dari hati terdalamku untuk menolong putra anda.”    Lanjut Yuri pada akhirnya, ia berjalan keluar dibantu oleh dorongan kursi roda dari suster tersebut keluar dari ruangan itu dengan seulas senyum tipis tersungging dibibirnya karena sebuah keikhlasan.

 

**

Kini Yuri hanya bisa terpaku diam menatap sosok yang terbaring kaku didepan matanya. Ia seolah tak bisa menangis lagi. Air matanya seakan habis untuk menangisi mendiang kakak lelakinya itu, seolah-olah stok air matanya sudah mengering dan minta diisi kembali.

“Donghae oppa. Mianhae..jeongmal mianhae, karena aku memaksakan dokter untuk melakukan operasi itu kau harus pergi untuk selamanya.”

Berapa kalipun Yuri mengatakan permintaan maaf keadaan Donghae tetaplah sama. Ia terbujur kaku namun tetap menyunggingakan senyuman hangatnya. Saat jiwa dan raganya telah terpisah meninggalkan dunia ini.

“nona Kwon.” Panggil sebuah suara yang datang menghampirinya, kali ini seorang wanita paruh baya yang ia lihat beberapa jam yang lalu saat masih berada didalam ruangan ICU itu,

“kami turut berduka cita,” ucapnya lirih. Wanita itu mengangguk 90 derajat tanda memberi penghormatan pada Yuri.

Yuri mencoba menganggukkkan kepalanya, meski sendi yang menghubungkan natar tulang dikepala dan badannya terasa berat untuk bisa mengangguk pelan. Sedetik kemudia ia kembali memandangi sosok Donghae yang masih dalam keadaan diam.

“gamshamida ahjumma-nim.” Lirihnya.

“nona Kwon.” Panggil seseorang kembali. Kini giliran pria yang berstatus suami dari wanita itu yang merupakan orang tua kandung dari Jongwoon datang menghampirinya.

“ne?.”

“maafkan aku. Kau pantas menyalahkanku jika kau tak terima dengan kepergian kakak lelakimu itu. Karena aku gagal dalam operasi pengangkatan kanker otaknya dan terjadi pendarahan dalam operasi itu.”

“aniyo..tidak ada yang patut dipersalahkan, semuanya sudah menjadi takdir dan rencana Tuhan. Aku hanya bisa menerimanya. Justru aku hanya bisa berterima kasih karena dokter telah mencoba menyelamatkan Donghae oppa. Meski takdir berkata lain. Tuhan telah memnaggil Donghae oppa.

Hati wanita itu teriris pilu saat mendengar penuturan kata demi kata yang keluar dari mulut Yuri, wanita bermarga Kim itu mencoba menahan tangisnya.  Ia menangis tak kalah hebat dan sebisa mungkin menutup mulutnya, takut jika Yuri akan mendengar isaknnya. Bagaimana bisa ia menemui sosok seorang wanita yang tergolong masih remaja tegar menghadapi dan menjalani kehidupan. Saat dirinya memohon dengan sangat agar dokter bisa menyelamatkan sang kakak. Rasa ikhlas dari hati gadis itu saat menolong putranya tanpa ada balasan atau apapu yang diinginkan.  Terlebih lagi ia tak menyalahkan suaminya saat sang kakak dinyatakan telah pergi untuk selamanya karena mengalami pendarahan saat operasi itu sedang dilakukan. Justru gadis itu berterima kasih atas usaha yang telah dilakukan para dokter untuk menyelamatkan nyawa sang kakak, sama sekali tak menyalahkan atas kepergian sang kakak pada kegagalan operasi itu.

 “nona, tuan Kwon Donghae menitipakan saya ini, ia meminta saya untuk memberikan amplop ini pada anda, ketika ia—pergi.

“gamshamida.” Yuri mencoba memaksakan senyuman saat tangannya menerima sebuah amplop berwarna biru itu kepadanya.

Perlahan tangan yang masih bergetar itu mulai mebukan amplop yang beisikan sirat didalamnya. Jantung Yuri berdegup kencang saat ketas itu mulai ia pegang, nafasnya seakan terasa terthan ditenggorokan. Namun perasaan tegar itu tetap ia tampakkan, ia tak mau bersedih yang berkelanjutan. Yuri membuka lipatan surat itu dan membacanya.

Teruntuk adikku tersayang..

Kwon Yuri.

Sayang, adikku tersayang. Mungkin saat menerima surat ini, oppa telah pergi meninggalkan dunia ini. oppa harap kau jangan menangisi kepergian oppa. Oppa tak ingin melihat adik oppa yang cantik itu menjadi jelek saat menangis. Tidak ada yang perlu ditangisi karena oppa sudah bahagia.

Yuri-ya.

Lewat surat ini oppa ungkapkan rasa bangga oppa karena telah memiliki dongsaeng yang sangat baik hati karena telah menolong seseorang. Saat oppa tahu jika kau terlibat dalam kecelakaan beruntun itu, kau tahu betapa hancurnya hati oppa saat oppa tak bisa menjaga dirimu dan menjadi kakak yang baik. Saat itu juga oppa mengutuk diri oppa karena tak pernah becus menjagamu. Justru malah merepotkanmu.

Kau tahu, meski kau diam tak member tahu semuanya. Oppa tahu jika kau mendonorkan sebagian hatimu kepada seseorang yang belum sama sekali kau kenal, tapi sayangnya kau merahasiakan ini dibelakang oppa. Oppa bangga padamu, karena kau masih bisa menolong orang lain disaat kau juga masih dalam kesakitan dalam kecelakaan itu.

Oppa mohon dalam surat ini jangan pernah menangis lagi karena oppa. Jangan pernah menyalahkan dirimu akibat keprgian oppa. Oppa tahu jika waktu oppa tak lama lagi didunia ini. karena penyakit oppa sudah tak bisa disembuhkan lagi. Dan juga terima kasih banyak karena kau telah melakukan banyak untuk kesembuhan oppa, termasuk merelakan liburan musim panasmu untuk pergi menemani oppa mencari keberadaan ibu Hana.

Aku sungguh minta maaf padamu. Maaf tak bisa berada disisi adik tercintaku selamanya. Oppa harap kau bisa menjalani hidupmu tanpa kesedihan karena oppa tak lagi disisimu. Tapi meskipun begitu oppa akan terus disisimu dan akan terus menjagamu dan Hana. Percayalah kasih sayang oppa tak akan pernah berkurang sama sekali. Oppa titip Hana. Jaga Hana untuk oppa, karena ia tak lagi mempunyai eomma.

Maaf jika selama ini merepotkanmu sayang…

Saranghae…Kwon Yuri.

           

 

Yuri mengangkat kepalanya dari surat itu, ia tak percaya apa yang telah ditulis oleh Donghae sebelum kepergiannya untuk selamanya. Tanpa sadar Yuei meremas ujung kertas tersebut hingga surat itu menjadi sedikit kusut terkena keringat dingin tangannya.

“Donghae oppa..” ucapnya dengan nada bergetar dan sarat akan rasa sakit yang melekat pada setiap kata yang terlontar. Saat itu juga Yuri menangis sejadi-jadinya. Melampiaskan semua kesedihannya. Hingga tanpa sadar ia terjatuh dari kursi roda yang ia duduki.

“oppa..Donghae oppa..” teriaknya pilu dengan air mata yang mengalir deras.

“tenangkan hatimu nak. Tuhan sedang mengujimu.” Wanita paruh baya itu berusaha memeluk Yuri erat, memberikannya sebuah ketenangan agar gadis itu bisa menghadapi kehidupanny dikelanjutan hari.

 

Flashback off

 

Air mata nyonya Kim semakin mengalir deras taatkala rentetan-rentetan masa lalu itu teringat kembali. Ia tak tahu lagi harus bagaimana bersikap. Rasa bahagia itu membuncah saat dirinya bisa bertemu lagi dengan gadis bernama Kwon Yuri itu. Sebagai penyelamat hidup Jongwoon. Saat gadis tu dibawa ke hadapannya dengan status sebagai kekasih hati Jongwoon yang akan dinikahinya.

“ahjummanim..” lirih Yoona kembali, ia semakin terisak. Apakah takdir terlalu kejam padanya?. Saat ia mencintai seseorang dan disaat itu pula orang itu mencintai orang lain.

“mencintai tak harus memiliki. Seberapa besar cinta yang telah kau berikan untuk Jongwoon. Ahjumma yakin Jongwoon dapat merasakannya. Yoong..mungkin ini saatnya kau harus melepas bayang-bayang Jongwoon. Melepaskannya bukan berarti melupakannya. Ahjumma yakin, diluar sana masih banyak lelaki yang mencintaimu sepenuh hati.”

*****

Memang sudah di jelaskan jika seorang manusia yang merasa terluka akan mengolah rasa sakitnya sendiri sehingga menjadi sebuah bentuk kebencian. Maka hidupnya memang tidak akan pernah tenang. Tidak akan pernah ada rasa puas. Setan akan terus merasuki pikiran manusia itu untuk terus menerus merasa benci pada apa pun. Memupuk perasaan buruk itu sehingga semakin meninggi dan dalam di dasar hatinya.

Im Yoona. Wanita itu semakin benci dengan kehadiran Yuri saat didepan matanya. Ia hanya bisa melihat dari jauh kineerja wanita itu. Memang bagus, tapi rasa bencinya jauh lebih besar menutupi hatinya kini.

“Sedang melihat apa?.” Seloroh sebuah suara dari belakang.

“sepertinya kau sangat jeli dalam bekerja. Dan kau bekerja sesuai dengan apa yang digambarkan pada sketsa pembuatan gedung tersebut.” Lelaki yang diketahui bernama Choi Siwon tersebut melipat tangan didadanya seraya tersenyum penuh arti. Sesekali ia melirik Yoona yang masih saja mengacuhkannya dan sekilas menatap sebal dirinya.

“kau pikir aku main-main dalam bekerja. Aku tak mau perusahaanku rugi hanya karena aku kurang maksimal dalam bekerja.” Ketusnya. Ia mengacuhkan perkataan yang tak penting, yang dilontarkan oleh lelaki yang berdiri disampingnya tersebut.

‘Aisshh…Jinjayo..lelaki ini benar-benar menyebalkan.’ Sungutnya membatin.

Yoona mengamati keadaan lelaki itu sekali lagi. Matanya memincing mengamatinya dari atas hingga bawah. Tampan memang, tapi sayangnya wajah yang dimilikinya terlalu membosankan.

“mau makan bersama?!.” Tawarnya..

“tidak!. Terima kasih!. Masih banyak yang harus ak kerjakan!.” Yoona mendengus sebal dengan perasaan jengkel. Salah satu tangannya yang membawa gulungan kertas berisi design bangunan tersebut ingin ia pukulkan kepada lelaki yang selalu saja merepoti hidupnya itu. Sepertinya ia harus segera menjauh dari orang ini

Otak Yoona berpikir cepat, ia harus segera mencari cara agar bisa menjauhi lelaki sialan ini. sepertinya Tuhan memang masih sayang padanya, terbukti. Pandangan mata Yoona mendadak menangkap sesuatu. Seseorang yang ia kenal.

“arsitem Nam..” panggilnya.

“jeongsohamnida. Sepertinya lain kali saja kita makan bersama. Ada yang lebih penting harus kukerjakan terlebih dahulu.” Ujarnya sebelum ia pergi melangkah menjauhi sosok Siwon yang menatapnya bingung,

“anda memanggilku?. Apa masih ada yang salah dalam bangunan yang akan dibangun?.” Tanyanya mentelidik. Lelaki berpostur tinggi itu menatap Yoona penuh Tanya seakan butuh jawaban saat ini juga.

“aniyo..bukan itu. Tapi tolong selamatkan aku dari lelaki stress itu!.” Tunjuk Yoona pada sosok Choi Siwon yang masih juga menatapnya. Ia benar-benar dengan sikap orang itu. Memang benar status calon tunangan atau lebih tepatnya calon istri itu masih melekat pada dirinya.

“kajja..” ajak Yoona. Ia mengisyaratkan untuk segera pergi dari tempat tersebut. Agar segera pergi menjauh dari pandangan mata Siwon yang mengusiknya.

Suasana tampak hening untuk sejenak, mereka berdua masih sama-sama canggung untuk membuka sebuah pembicaraan atau hanya sekedar menyapa. Bagi lelaki itu sungguh sebuah keberuntungan jika dipertemukan kembali dengan seorang Im Yoona setelah mereka tak bertemu sekian lama tak bertemu.

“sebelumnya aku minta maaf arsitek Nam. Aku telah merepotkan anda!.”

Lelaki itu tersenyum manis sembari menyesap secangkir moccahino  yang sudah berada dalam genggaman tangannya. Ia justru tertawa kecil melihat Yoona dengan kelakuan seperti itu.

“wae..waeyo kau tertawa. Adakah yang lucu?.” Tanya Yoona tak mengerti. ia memandang dirinya, ‘ apakah ada yang lucu pada dirinya.

“lama sudah kita tak bertemu noona. Apa kau masih mengenali diriku?. Aku sungguh beruntung dipilih menjadi salah satu arsitek yang dipercaya untuk mernangani design dihotel ini.

“noona?. Arsitek Nam!. Kau mengenal diriku?.” Pekik Yoona sekali lagi. Ia bahkan baru pertama kalinya bertemu dengan lelaki itu. Sepertinya starateginya untuk menghindar dari Siwon gagal total. Yoona pikir dengan berdalih berpura-pura berurusan dengan lelaki ini ternyata hasilnya sama juga.

“aigoo.. noona. Apa kau lupa dengan diriku?. Aku Nam Woohyun noona. Lama sudah kita tak bertemu. Bagaimana kabarmu noona?. Kau sangat berubah total noona hingga melupakan diriku?.” Pria itu terkekeh pelan mencairkan suasana. Ia tertawa geli dengan raut wajah Yoona yang tampak lucu didepan matanya. Ia mengehntikan tertawanya,

“bagaimana kabarmu  noona?.” Ulang lelaki itu.

“apa sebelumnya kita pernah bertemu?. Kenapa kau mengenalku akrab?.” Kali ini raut wajah Yoona melunak, ia menatap intens lelaki itu. Karena ia heran siapa lelaki itu sebenarnya.

“aigoo..aku Nam Woohyun. Kita dulu sering bertemu saat aku dan Kwon Yuri masih bersekolah bersama dan pulang bersama.” Ujarnya ringan.

“kk—kkau mengenal Kwon Yuri?. “mwo?.Kau mengenal Kwon Yuri?. Darimana kau mengenalnya?.” Ulangnya sekali lagi. Kali ini ia sudah bisa mengontrol emosinya. Dalam benaknya ia mendadak berpikir?. Sejak kapan ia, Kwon Yuri dan orang bernama Nam Woohyun ini saling mengenal?.

Perkataan pria bermarga Nam tersebut spontanitas membuat Yoona terperanjat kaget. Darimana sebenarnya elaki ini berasal mengapa ia tiba-tiba saja mengenalnya dan mengenal Kwon Yuri?. Sepertinya ada yang aneh. Ia butuh penjelasan yang berlebih.

“Noona..noona..kau ini. apakah kau menderita Alzheimer?. Sehingga kau melupakan semuanya bahkan kau melupakan lelaki tampan ini yang selalu datang kerumah kalian setiap pagi untuk bertemu dengan Kwon Yuri. Dan juga aku tak mengka jika aku bertemu dengan anda dan tentunya Kwon Yuri. Apa kalian masih hidup bersama hingga saat ini?.”

“Woohyun-sshi?…” pekik Yoona sekali lagi.

“jika bercanda jangan seperti ini noona. Tentu saja kau mengenal Kwon Yuri. Bagaimana kalian tidak tinggal satu rumah secara kalian berdua adalah saudara ipar?.” Lanjutnya.

“Kwon Yuri. Adik dai Donghae Hyung?.” Lanjutnya kembali.

Yoona membelalakkan mata seketika?. Dia dulu punya hubungan dengan yeoja brengsek yang menjadi incarannya kini. Bagaimana bisa?. Padahal sama sekali ia tak mengenal Kwon Yuri. Sebenarnya apa yang terjadi ia bingung dengan hidupnya kini. Sejak kepulangannya dari Amerika ia tak tahu sama sekali tentang keadaannya sendiri.

“jika memang aku memiliki hubungan dengan Kwon Yuri. Lalu apa hubunganku?. Dan kenapa aku tak mengenalinya sama sekali.” Rentetan pertanyaan itu seolah-olah mencecar lelaki yang kini duduk dihadapannya, ia tak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa, dulu Yoona mengenal Yuri karena pernikahan kakak lelakinya dengan Yoona. Dan saat itu pula lelaki bernama Nam Woohyun itu mengenal sosok Yoona merasakan sebuah kejanggalan terhadap apa yang terjadi pada diri Im Yoona.

“kau jangan bercanda noona?. Kau itu istri dari Donghae Hyung. Kakak Kwon Yuri. Kenapa kau mengingkarinya?.” Tanya Woohyun tak percaya.

“MWO?. Donghae?. Siapa lelaki itu?. Dan menikah..me—nikah. Siapa yang kau maksud menikah Woohyun-sshi!!..” pekik Yoona setengah berteriak.

“kau dan Kwon Donghae Hyung pernah menikah. Dan kalian berdua telah memiliki seorang put..” ucapan spontanitas Woohyun seketika itu terpotong oleh sebuah teriakan tept didepan merka berdua.

“hentikan Nam Woohyun-sshi!!. Kau tak perlu ikut campur pada urusanku!” suara lantang seorang yeoja berhasil menutup rapat mulut lelaki itu. Ya, pada akhirnya semua ini merupakan sketsa Tuhan yang tidak pernah bisa ditebak oleh siapapun.

Kwon Yuri, ia berdiri tegak di hadapan Yoona dan Woohyun saat ini. Sejujurnya, ia sangat kecewa pada Woohyun. Namja itu, entah karena apa, justru berani berbicara tentang rahasia itu pada Im Yoona. Ia menyesal bertemu lagi dengan sahabat lamanya itu jika pada akhirnya ia bertemu dan hampir saja menceritakan semuanya pada Im Yoona.

“Kwon Yuri!.” Pekik lelaki itu terkaget. Woohyun tercengang seketika saat mendapati Yuri berada didepannya dengan mata yang mlai berkaca-kaca.

“kau tak berhak mencampuri urusanku. Aku kecewa adamu Nam Woohyun!.” Lanjut Yuri pada akhirnya. Ia menekankan kata-kata dingin didepn Woohyun.

Sesak. Tentu saja sesak. Ia tidak mengira jika kenyataan ini justru akan terbuka begitu cepat. Sesal. Dan benar-benar sesal … kenapa justru ada orang lain yang turut ikut campur pada privasi keluarganya. Biarlah ini menjadi rahasia selamanya jika memang wanita itu tak mau mengakui keberadaan masa lalunya.

“yak!. Brengsek kau!.” Pekik Yoona tiba-tiba. Wanita itu kini menghampiri Yuri yang tepat berdiri didepan Woohyun.

“Yoona noona..Yuri-sshi. Sebenarnya apa yang terjadi.

“Nam Woohyun-sshi. Jangan dengarkan omongan gadis brengsek itu. Cepat katakana!. Apa yang kau ketahui tentang hubunganku dengan wanita sialan ini dan Lee Donghae.” ujar Yoona seraya bangkit dari duduknya. Ia menatap Yuri dengan tatapan tajam. Sementara itu, Yuri mengepal kuat kedua tangannya. Ingin rasanya ia menghantam keras wajah yeoja itu. Namun, ia sadar bahwa telapak tangannya akan sia-sia jika menanpar wajah manis nan munafik itu.

“Noona..” lirih Woohyun. Ia tak percaya dengan semua ini. secara kasat mata Woohyun melihat pertengkaran keduanya. Aura kemarahan terpancar jelas dari wajah keduanya. Meski dulu mereka berdua sering terlibat adu mulut antar keduanya.

Woohyun menyadari, sebagai teman dekat Yuri selama 12 tahun lebih itu, ia mengerti betul kehidupan Yuri semanjak sang kakak menikah dengan Im Yoona. Bahkan pernikahan itu pun terjadi secara sepihak. Tapi meskipun begitu Yuri bisa menerima keadaan Yoona dulu. Namun sekarang, berbalik 180 derajat. Pemikiran Woohyun justru salah kaprah, ia pikir dengan seiring berjalannya waktu keduanya akan akur dan hidup bersama dengan puri yang telah dilahirkan Yoona. Tapi kenyataannya tidak, bahkan pemikiran Woohyun cenderung berasumsi jika Yoona mengalami hilang ingatan.

“ Ada tidaknya urusan dimasa lalu itu bukan urusanmu. Lebih baik jika kau tak hadir dalam hidup kami kembali. Aku tak ingin kehilangan lagi. Sudah cukup kau menghancurkan hidup kami. Aku tak ingin dia tak mengalaminya!!.” Ucapnya terakhir kali sebelum ia melangkah keluar. Ia sembunyikan air matanya guna tak menangisi takdir kehidupan yang pedih ini. ia ingin berjalan menuju masa depan yang lebih baik tanpa ada baying-bayang masa lalu yang buruk menghantui.

“Yuri-sshi… Yuri-sshi… Yuri-sshi…” panggil lelaki itu. Ia mengejar Yuri tanpa mempedulikan Yoona yang berada dibelakangnya juga tak kalah meneriakinya. Ia ingin mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi.

Sementara itu Yoona hanya bisa terduduk lesu dengan semua penuturan dan kata-kata Yuri dan Woohyun yang telah mereka keluarkan tadi. Ia temenung seketika dalam diam. Tubuhnya melemas, tak mengerti dengan semua hal yang terjadi. Sebenarnya apa yang terjadi?. Hubungan masa lalu dengan Kwon Yuri dan orang yang bernama Lee Donghae?. Apa sebenarnya yang terjadi ini. bingung apa yang harus dilakukannya kini.

Tak jauh darinya sesosok namja tak sengaja mendengar pembicaraan mereka bertiga. Ia juga tak kalah bingung dengan semua yang terjadi ini. Hubungan Lee Donghae-Kwon Yuri-dan Im Yoona. Apa hubungan antar ketiganya. Jika dulu Donghae pernah menikah dan memiliki seorang puti. Yuri pun tak pernah memberitahunya siapa istri dari mendiang Donghae itu. Namun spekulasi pemikirannya semakin menggebu untuk mengetahuinya. Mungkinkah jika Yoona adalah mantan istri Donghae?. Tidak mungkin. Tidak mungkin itu semua bisa terjadi. Maldo andwee..

*****

            Yuri terhenti seketika saat mendengar derap langkah yang memburu dan terkesan mengejarya. Ia menolehkan pandangannya sesaat kearah belakang saat mendapati lelaki itu muncul kembali.

“Yul..!.” teriaknya.

“sudah kubilang berapa kali untuk tidak mengikutiku Nam Woohyun-sshi!!!.”

“aku tak tahu apa masalahmu dengan Yoona noona. Tapi yang jelas aku tak akan mencampurinya lagi. Maafkan aku jika lancang.” Sesalnya.

Mata Woohyun menangkap ada sesuatu yang aneh terjadi pada Yuri. Ia menatap dengan seksama kembali raut wajah Yuri. Dan saat melihatnya. Ternyata wanita itu menangis kembali.

“aku tak mau sesuatu terulang lagi kembali terjadi. Donghae oppa sudah tersakiti, kini hanya tinggal Hana yang aku punya. Aku tak mau wanita itu menyakiti Hana.” Isaknya.

“Yul..” lirihnya. Yuri semakin menagis keras dan tersedu mengingat semua kenangan-kenangan buruk antara dirinya dan Lee Donghae serta perlakuan yang telah dilakukan Yoona kepadanya.

Tanpa sempat melanjutkan petanyaannya kembali. Nam Woohyun, lelaki itu melingkarkan kedua tangannya untuk mendekap tubuh Yuri dan memluknya sejenak. Ia yakin akibat perkataannya itu Yuri harus menelan kepahitan kembali.

“menangislah..jika itu memang membuatmu lega. Aku tahu masa lalumu begitu berat kau lalui bersama dengan Yoona.” Gumam Woohyun.

Woohyun melepaskan pelukannya untuk sejenak lalu menatap Yuri yang sudah agak tenang. Sebenarnya ia masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan Yuri dan Yoona hingga hubungan mereka seperti ini.

Yuri berbalik dan langsung membeku ditempat saat itu juga. Ketika tangisnya belumlah usai, kedua bola matanya melihat dengan jelas siapa yang berdiri tak jauh darinya. Ia terkejut dengan melihat orang itu berdiri disana.

Kim Jongwoon.

Lelaki itu kini mendapati orang yang dicintainya itu berpelukan dengan orang lain. Pria itu menatap datar Yuri dengan tatapan dinginnya dan sama sekali tak tersenyum. Tatapan tajamnya seolah megisyaratkan jika kini ia diliputi oleh sebuah amarah yang baru saja menghampirinya.

“Jongwoon..oppa..” panggilnya.

Yuri menggigit bibir bawahnya. Kilatan perasaan bersalah menyeruak datang menghampirinya. Ia merasa bersalah pada Jongwoon. Namun sia-sia saat lelaki itu tak menggubrisnya sama sekali. Dan perlahan langkah kaki Jongwoon menjauhi kedua insan itu. Meninggalkan Yuri yang mematung diam ditempatnya memandangi peunggung Jongwoon yang telah melangkah pergi menjauhinya. Marah, sakit hati atau mungkin lebih tepatnya cemburu datang menghampiri lelaki itu.

“Jongwoon oppa.semua bisa kujelas ini..” panggil Yuri kembali dengan air mata yang sudah mulai keluar. Namun tak dengar oleh lelaki itu. Jongwoon telah melangkah pergi menjauhinya.

**

Seperti hari-hari biasanya, Yuri bangun pagi-pagi sekali mempersiapkan semua kebutuhan yang diperlukan Hana untuk sekolah. Kepalanya mendadak berdenyut kencang memikirkan masalah yang baru saja menghampirinya. Tangisannya semalam membuatnya pusing setengah matai. Baik masalah dengan Im Yoona atupun kesalahpahaman antar dirinya dengan Jongwoon semalam. Ia menjadi semakin bersalah terhadap lelaki itu. Dengan berat hati mau tak mau ia akhirnya menyeret langkahnya untuk keluar mempersiapkan segalanya.

Bau masakan itu menguar begitu saja memenuhi ke semua penjuru ruangan. Tampak gadis kecil itu mengucek-ucekkan matanya tanda alam sadarnya baru ia temua setelah tidur panjangnya selama satu malam. Tangan Yuri sedikit memijit pelipisnya yang sedikit berputar. Ia memijit kepalanya dengan pelan. Sesaat dirinya merasa lebih baik. Tapi setelah itu kepalanya kembali berdenyut hebat seiring dengan mulutnya yang terasa ingin memuntahkan sesuatu namun masih bisa tetratan dengan tangannya yang bisa membekap mulut untuk menahan gejolak didalam perutnya.

“eomma..” panggilnya manja. Gadis kecil itu dengan langkah pelan menghampiri sang eomma dan memluknya dari belakang begitu saja.

Yuri tersenyum manis penuh arti saat memandang putri satu-satunya itu berjalan masih dalam keadaan sedikit mengantuk menghampirinya. Ia mencoba tak menampakkan wajah pucat karena sejak beberapa hari ini ia merasakan rasa yang seperti ini.

“aigoo..ternyata..sudah bangun ya..” pujinya. Ia mensejajarkan  diri dan membelai hangat rambut panjang Hana. Mencoba menyembunyikan semua masalah yang datang menghampirinya secar bertubi-tubi.

“eomma. Gwenchanayo?.” Tanya Hana polos. Ia memegang pipi Yuri seakan mengkhawatirkan sesuatu terjadi padanya.

Tangan Yuri menepis pelan tangan Hana yang memeganginya. Wanita itu tersenyum kearah putri kecilnya itu yang memandangnya khawatir. “eomma hanya kelelahan saja, karena pekerjaan kantor yang menyita. Kajja, mandi, lalu berangkat kesekolah.”

“tapi eomma sakit.” Hana menatap Yuri datar. Gadis kecil itu lantas segenara naik ke kursi makan yang ada didepannya dengan tampang kesal namun terlihat lucu bagi Yuri.

“sudah eomma bilang, jika eomma tidak..hhhmmmmpppttt…”Yuri menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan saat tiba-tiba ia merasakan ada dorongan kuat dari dalam perutnya yang mendesak untuk keluar datang lagi. Kaki rampingnya segera berlari kearah toilet. Memuntahkan sesuatu yang seolah menyumbat isi tenggorokan. Baru berapa menit yang lalu ia merasakan mual, kali ini ia bahkan perutnya lebih bergejolak lagi.

“Hueek..hueekk…Hueek..”

Rasanya percuma karena tidak ada yang keluar. Tapi kenapa selalu ingin muntah. Merasa lebih baik Yuri mengelap bibirnya. Lalu melihat pantulan dirinya dari cermin. Pucat dan tampak tak sehat memang. Yuri berjalan lemas kearah sofa ruang tengah. Menjatuhkan dirinya untuk sesaat dari keadaan yang mengenaskan ini.

“kenapa kau harus sakit seperti ini?. jinjayo?.” Ia memnggigit bibir bawahnya dan mengumpat kecil. Sakit, kenapa harus dating tidak pada waktunya. Runtuknya dalam hati. Ia memejamkan matanya untuk sejenak, untuk sekedar mengurangi rasa sakitnya.

**

“Aishh..jinjayo?..tumben sekali rumah ini sepi dari penghuni. Apa mereka berdua sudah pergi semua.?. Aiisshh..” Umpatan-umpatan kecil itu keluar seiring dengan tangannya yang menekan bel pintu sebuah rumah yang tak kunjung dibuka oleh sang pemilik rumah.

“ya!. Kwon Yuri!!..Hana!!.” teriaknya sekali lagi.

Cklekkk….

Wanita itu menatap kearah pintu yang terbuka. Matanya menangkap sosok gadis kecil yang kini berdiri didepannya sedang mengamatinya. “Kristal Ahjumma..” pekiknya terheran.

“Aigoo…ini jam berapa sayang?. Kenapa masih dirumah dan belum berangkat kesekolah?.” Tanyanya. Ia heran mengapa hingga jam seperti ini Hana belum berangkat kesekolah?. Padahal sudah rapi mengenakan seragam sekolah.

“eomma sakit ahjumma. Jadi Hana..”

Belum sempat Hana menyelesaikan omongannya. Tiba-tiba Yuri berjalan menghampirinya. “aniyoo..gwencanaseumnika.” ujarnya. Ia tersenyum agar tak tampak terlihat sakit dihadapan orang. Yuri mensejajrkan diri dengan Hana lalu memakaikan tas yang akan Hana kenakan untuk pergi kesekolah. “kajjaa..nanti bisa terlambat kesekolah.” Perintah Yuri. Ia mencium sekilas pipi Hana.

“Kris..bolehkah kali ini aku meninta tolong padamu kau yang mengantarkan Hana kesekolah?. Aku sedang tak enak badan.”

Wanita bernama Kristal Jung itu memperhatikan secara seksama dari atas hingga bawah keadaan Yuri yang tergambar saat ini. “kau benar-benar sakit Kwon Yuri?!.” Tukasnya singkat. Kristal melipat tangannya didada, memincingkan matanya sejenak, menginterogasinya cepat.

“aku hanya kurang enak badan saja Kris..” Yuri berkilah. Padahal sebenarnya ia merasakan badannya benar-benar tak enak sama sekali.

“kenapa seperti denganku saat aku mengalaminya?.” Ucapan Kristal otomatis terdengar oleh Yuri. Sebenaranya ia hanya menganalisa dirinya saja, kenapa temannya itu bisa sama dengan dirinya saat mengalaminya.

“wae?.” Tanya Yuri tak mengerti.

“apa kau sedang datang bulan hmm?. Bisa saja itu efek dari datang bulan yang sedang kau alami.” Selidik Kristal dengan muka penuh tanda Tanya.

“ya, mungkin saja. Itu efek menjelang siklus bulananku akan datang.” Ucapnya pada akhirnya. Yuri mengehmbuskan napas kesal. Asumsi temannya itu sungguh-sungguh menyebalkan. Ia kira akan terjadi apa-apa dengannya, misalnya seperti penumpukkan cairan diotak atau sebagainya. Ternyata..Jung Kristal benar-benar menyebalkan saat membuat asumsi yang berspekulasi menurut pemikiran konyolnya sendiri. Benar-benar tidak waras.

“Ya. Sudah, istirahatlah!. Aku pergi dulu ne..”

“bye eomma..”

**

Langkah kaki Yuri akhirnya menyeretnya kembali masuk kedalam rumah. Jung Kristal membuat harinya tambah sakit saja. Ada-ada saja mengenai penyakit sebelum siklus bulanan terjadi. Memang benar itu dialami beberapa wanita menjelang siklus bulannya saat akan datang. Biasanya ia tak pernah sakit menjelang siklus bulanannya akan datang. Kenapa ini sangat berbeda sekali?. Mengenai siklus bulanan, Yuri mencoba mengecek kalender yang ada dikamarnya. Dan mulai menghitung rentang waktu seharusnya ia mengalami siklus bulanan itu.

“16..17..dell..”

“mwo?!!.”

Mendadak kedua bola mata dan pikiran Yuri saling berkaitan dengan apa yang dihitungnya kini. Dia baru sadar, ternyata dia sudah melewatkan siklus bulanannya 2 minggu lalu. Yuri terdiam seketika, pandangannya mendadak kosong saat ia menunjuk angka dalam kalender tersebut, dimana seharusnya ia mendapat siklusnya. Ia membiarkan otaknya bekerja memikirkan sesuatu sambil menggigit bibir bawahnya. Takut sesuatu akan terjadi.

Kembali Yuri berpikir jika tidak akan terjadi sesuatu yang akan terjadi padanya. Ia menggelengkan kepalanya sebentar. Yuri menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya, mengusir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padanya. Tidak mungkin itu terjadi padanya. Mendadak pikirannya kembali mengingat kejadian malam itu. Malam dimana ia menyerahkan semua kendali dirinya pada lelaki yang dicintainya itu, serta malam dimana ia menyerahkan semua yang dimilikinya kepada kekasihya.

“maldo andwee..Andweeyo….” gumamnya pelan.

Dengan gerak cepat Yuri segera berlari keluar rumah, menuju sebuah tempat dimana aI bisa memperoleh jawaban dengan mengujinya. Sekelebat pemikirannya tertuju, jika hal itu tidak mungkin terjadi.

‘semoga tidak terjadi’

**

Yuri menghembuskan napas pendek sambil menggigit bibir bawahnya secara takut. Berkali-kali Yuri menyakinkan pada dirinya sendiri, jika tak akan terjadi apa-apa dengan dirinya, tangannya bergetar hebat sembari memandang beberapa alat dengan bentuk memanjang tersebut. Dan semuanya akan baik-baik saja. Mungkin benar jika siklus bulanan bisa telat namun setelah itu akan kembali normal kembali.

Yuri mengambil strip tersebut dan membuka bungkusnya, wajahnya tampak tegang. Sesuatu bisa saja terjadi jika alat uji tersebut menampakkan hasilnya. Ia duduk di kloset toilet dan mulai mengikuti cara pemakaian sesuai dengan petunjukknya.

Menunggu dengan perasaan cemas tengah Yuri lakukan. Setelah sebelumnya ia melihat kalender. Kesepuluh jemarinya terasa bergetar saat ia sentuh alat itu. Semoga semua alat uji yang telah digunakannya menampakkan hasil yang berbeda.

5 menit untuk menunggu itu pun akhirnya berlalu. Harap-harap cemas kini tengah dinatikan Yuri. Matanya seakan membulat sempurna dengan rasa yang seolah tak dapat ia gambarkan. Tangannya kembali bergetar hebat menggengam satu benda terakhir bernama testpack tersebut sementara sudah ada beberapa alat penguji sama itu pun  menampakkan hasil sama terjatuh dilantai. Ia berharap testpack terakhir yang digunakannya menghasilkan hasil yang berbeda, namun nihil, semuanya sama. Terpampang jelas dua garis merah.

“positive..aku posistive..” Yuri terus terisak. Ia genggam erat alat test kehamilan yang baru saja ia pergunakan. Dua garis yang merubah hidupnya. Saat ini mendadak ia tak bisa merasakan apa-apa selain hanya bisa berpikir tentang lelaki itu.

“Jongwoon oppa….” Lirihnya. Nama itu kembali ia kumandangkan. Betapa saat ini dia begitu membutuhkan kehadiran pria itu. Di saat dirinya tengah merasa sakit dia sadar jika kehangatan itu sangat ia perlukan. Pikirannya kembali melayang dengan sosok lelaki itu. Semalam Jongwoon terlihat marah padanya. Dan apakah ia mau menerima anak yang ada dirahimnya

Kristal bening itu mendadak keluar begitu saja. Perasaanya bercampur aduk entah apa yang ia rasakan. Apakah ia bahagia atau justru takut mendapati kenyataan jika kini ada seorang calon individu tumbuh didalam rahimnya. Ia terisak dalam diam sambil mengelus perut ratanya. Teringat jelas dalam pikirannya. Malam dimana ia melakukan yang seharusnya ia tak lakukan bersama dengan Jongwoon. Hanya berdasarkan cinta tanpa adanya sebuah ikatan yang remi dihadapan Tuhan maupun Negara. Yuri tak tahu apa ia harus menyesalinya atau tidak. Saat itu hati dan ucapanya sangat bertolak belakang.  Ia hanya ingin memiliki pria itu dan tak ingin kembali ke masa lalunya yang berkaitan dengan Im Yoona selaku orang yang berarti pula untuk Jongwoon.

“Tuhan.. maafkan perbuatanku. aku telah melakukan dosa besar dalam hidupku.” Isaknya kembali..

*****

Aneh yah? owwhh..owwh… maafkan aku karena jujur aku mentok hikssssss T^T
Maaf pula jika feelnya ga berasa U,U

Usahaku buat bikin FF ditengah-tengah berpikir keras pada judul proposal skripsi yang akan diseminarkan membuatku gundah gulana tujuh turunan memikirkan semuanya. Endingnya malah bikin tulisan g jelas ky begini, ya walaupun kepalaku rannya nyut-nyutan 7 keliling kaya makan oskadon 1 truk, dan tanganku mendadak menji kriting karena selain nulis ini juga ngtik laporan di laptop, yang bikin nangis kalo lagi gadep benda cantik itu. Karena g bisa nonton drama. #hikss.. T_T

Part ini memag gak ada scene couple, karena part ini aku mulai menguak masa lalu mereka yang tabu. *ceilee, kaya Silet aja*. OK. Untuk part selajutnya aku g bisa janji kapan akan nge-postnya. Tergantung waktu kosong juga. dan juga mungkin kalian bingung karena aku mnyelipkan cameo berupa biasku..kekekee.. Yapp…Woohyun INFINITE …*maklum ane INSIPIRIT*

Aku nyesek juga sih karena semakin kesini readers aku semakin berkurang,
dan siders semakin bertambah.

Yuppssss ini memang ff paling membosankan yang mungkin pernah kalian baca.
tapi apapun yang terjadi, mohon kerja samanya.

              Comment please!!…

50 komentar ga memberatkan kalian kan untuk bisa lanjut ke part selanjutnya. maaf sebelumya jika aku lakukan ini untuk menghindari siders yang gak bertanggung jawab.

Thank for all  *bow*

110 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 6

  1. Heemh tuan kwon jahat bangettt :(…Dan untuk Yoona Dan Eommany kalian luar biasa jahat -_-…mwoo O_O !!! Yuri Hamil ? Chukhae eonni :y dokter Kim :)…akhirnya kebenarannya sedikit demi sedikit terungkap

  2. Tambah keren eonn, semoga sungppa nggk marah deh sm yul eonnie;'(
    Nextnya ditunggu lohh dan jangan lupa happy end^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s