[FF Freelance] Rain

FF 2-1-1-1

Tittle : Rain

Author : ieka (@ieka23)

Main Cast :  Cho Kyuhyun and Choi Sooyoung

Support cast : Found them

Genre  : Angst, romance and sad

Length : Oneshoot

Rating : PG-13

Disclaimer    : this story pure from my mind. Don’t plagiat and don’t bash.

If this story same with yours, please follow me @ieka23

Summary :

Ketika hujan Sooyoung bertemu dengan seseorang lalu membuatnya jatuh cinta, hingga  perasaan itu terus membuncah tanpa disadarinya. Hingga pertemuan-pertemuan berikutnya dengan orang yang sama, dia semakin menggilai dan ingin memilikinya. Akan tetapi, ketika hujan pula Sooyoung pun harus mengenal apa itu namanya terluka.

 

Happy Reading ^^

 

When rain,

I meet you..

I Fallin Love with you…

And now,

 I hurt because of you…

 

 

 

 

Hujan

 

 

Dingin, sejuk dan menenangkan. Itulah yang menggambarkan adanya hujan. Hujan yang turun tanpa diduga. Hujan yang turun diantara awan hitam yang hitam pekat. Membasahi semua yang ada di bumi tak kenal tempat dan waktu.

Seorang gadis berambut pendek sedang asyik menikmati suasana disaat hujan sedang turun. Terlihat dia sedang berteduh dari hujan yang turun dengan derasnya didepan sebuah pertokoan. Dia mengulurkan tangan kanannya. Membiarkan rintikan air hujan membasahi telapak tangannya dan membuat sensasi dingin yang menenangkan mengenai kulit tangannya. Dia juga mencoba untuk menutup matanya merasakan perasaan yang sangat menenangkan dan membuatnya nyaman. Meskipun banyak orang-orang yang terlihat sangat kesal dan kecewa dengan adanya hujan, tetapi gadis itu masih menikmatinya dengan senyum tipis yang terpancar di wajahnya.

Beberapa menit kemudian, dia melihat ke arah jam tangannya yang menunjukan pukul 4 sore. Dia menghela nafas panjang, wajahnya menyiratkan raut kegelisahan. Namun begitu, dia tetap terlihat menikmati rintikan air hujan dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

****

Januari 2011

 

 

 

Seorang pria berkulit putih pucat terlihat sedang terburu-buru bergegas menuju kasir untuk membayar minuman soda yang baru dibelinya. Tampak pria itu begitu gelisah dan terus melihat ke arah jam tangannya. Dia mendesah kecil untuk menenangkan pikirannya.

“ Ini uang kembalinya. Terima kasih. silahkan datang kembali.”

“Terima kasih.”

Dengan langkah cepat dia keluar dari supermarket untuk bergegas menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari supermarket itu. Namun setibanya diluar, dia mengerang kesal.

“Argh, kenapa harus hujan? Menyusahkan saja. Aku benci dengan hujan.”

“Jangan membencinya. Karena hujan itu sebenarnya sangat menyenangkan.”

Pria berkulit putih pucat itu lantas menengok ke samping kanannya. Dia melihat ada seorang gadis berambut pendek kurang lebih sebahu nampak masih muda. Memakai kemeja dan celana jeans panjang yang senada berwarna biru laut. Tidak lupa juga dengan tambahan kardigan berwarna putih yang dipakainya. Tas ransel berwarna soft cream yang disampirkan di bahu kanannya dan tangan kirinya membawa beberapa buah buku. Bandana berwarna merah muda yang menghiasi kepalanya menambah kesan manis pada gadis itu.

“Jangan pernah sekalipun mengatakan hujan itu menyusahkanmu. Sesungguhnya kita, sebagai manusia sangat butuh hujan. Selain membawa ketenangan, hujan juga membawa banyak manfaat untuk kita dan juga makhluk hidup lainnya. Coba pikirkan jika tidak ada hujan, mungkin kita tidak akan bisa bertahan dan juga bumi kita perlahan-lahan akan mati kekeringan.”

Pria berkulit putih pucat itu menatap gadis berambut pendek disampingnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tiba-tiba saja dia merasakan ketenangan saat mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu tentang fakta yang tak pernah dia sangka sebelumnya.

“Sepertinya hujan sudah mulai reda. Aku harus pulang. Senang berjumpa denganmu. Semoga suatu saat nanti kita bisa berjumpa lagi. jangan lagi membenci hujan, ok?”

Gadis berambut pendek itu bergegas berjalan perlahan menjauh dari supermarket itu menuju jalan raya. Tiba-tiba langkahnya terhenti, dia menengok ke belakang dan melihat pria berkulit putih pucat itu masih tetap berdiam diri di tempat yang sama. Dia memberikan senyum tipis di bibirnya sambil berkata,

“Ah, aku sampai lupa. Namaku Sooyoung, Choi Sooyoung.”

Pria berkulit putih pucat itu masih terdiam ditempatnya. Dia mendesah kecil lalu melihat ke arah jam di tangannya. Dengan berlari-lari kecil, pria berkulit putih pucat itu bergegas menuju mobilnya. Dia segera masuk kedalam mobilnya dan segera menyalakan mesin. Lalu pergi meninggalkan Sooyoung yang masih bertahan  memandangi mobil itu hingga tak terlihat lagi.

“Aku berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi.” lirihnya dalam hati.

****

 

Februari 2011

 

 

 

Seorang gadis berambut pendek sedang duduk di bangku paling belakang didalam bus. Dia melihat ke jendela untuk menikmati pemandangan diluar yang saat itu sedang turun hujan. Dia menghembuskan nafas pendeknya di jendela dan jendela itu nampak berembun. Suasana yang menjelang malam hari itu dengan panorama matahari tenggelam membuat pemandangan diluar sangat menakjubkan.

Bus berhenti menandakan ada penumpang yang akan naik. Seorang pria berkulit putih pucat melihat satu tempat duduk kosong di bagian paling belakang. Setelah duduk, pria berkulit putih pucat itu segera merilekskan tubuhnya dan membersihkan pakaiannya yang sebagian basah terkena hujan. Pria berkulit putih pucat itu sama sekali tidak memperhatikan seorang penumpang yang duduk tepat di samping kanannya. Dia mencoba untuk menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan memejamkan mata untuk beberapa menit selama perjalanannya sampai ke tujuan. Dibutuhkan waktu sekitar beberapa menit untuk sampai di tempat tujuannya.

Beberapa detik kemudian, gadis berambut pendek itu segera beranjak dari tempat duduknya karena telah sampai di tempat tujuannya. Dia terlihat terkejut melihat seorang pria berkulit putih pucat yang duduk tepat disampingnya. Seulas senyum menghiasi wajahnya disaat dia melihat pria itu sedang tertidur. Dalam hatinya dia sangat senang bisa dipertemukan lagi dengan pria itu. Seakan tersadar bahwa bus ini masih berhenti untuk menunggunya agar segera turun, dia melihat kembali ke arah pria berkulit putih pucat itu dan mengucapkan beberapa kata sebelum akhirnya dia turun dari bus.

“Sampai jumpa lagi.”

****

 

 

 

Maret 2011

 

 

 

Seorang gadis berambut pendek terlihat berjalan dengan langkah yang riang dibawah air hujan yang cukup deras. Dengan membawa payung untuk melindungi tubuhnya dari air hujan dan beberapa bingkisan dia berjalan menuju tempat penyeberangan. Dia masih menunggu lampu penyeberangan hingga berubah menjadi warna merah yang menandakan dia bisa menyeberangi jalan raya itu dengan aman. Jalan raya di hadapannya juga nampak sangat ramai. Ditambah juga hujan yang turun dengan deras masih belum menunjukan kapan hujan akan berhenti.

Lampu telah berubah warna dengan segera dia bergegas menyeberang jalan. Saat itu kebetulan juga hanya dirinya yang menyebrang jalan tanpa ada orang lain yang menemani. Dia berjalan dengan hati-hati karena jalan raya itu sangat licin bisa saja jika dia berlari tiba-tiba jadi terpleset dan terjatuh. Sebelum sampai di ujung jalan, ada sebuah mobil yang melaju kencang dan menuju ke arahnya. Dia melihat ke arah datangnya mobil itu yang tepat disampingnya, terkejut melihat ada mobil yang akan menabraknya. Dia berteriak. Payung yang ada di genggamannya terlepas begitu saja. beberapa bingkisan yang di bawanya juga berjatuhan bercampur dengan air hujan. Dia jatuh terduduk dengan mata terpejam disaat mobil itu berhenti yang hanya berjarak beberapa centimeter dihapannya.

Dia masih memejamkan matanya berharap jika mobil itu tidak menabraknya. Pengemudi mobil tiba-tiba keluar dari mobil dan menghampiri gadis yang jatuh itu. Pengemudi mobil itu adalah seorang pria.

“Agasshi, gwenchana?”

Gadis berambut pendek itu membuka matanya secara perlahan dan melihat ada pria berkulit putih pucat yang ada dihadapannya mencoba untuk membantunya berdiri dan membawanya ke trotoar jalan. Dia terkejut melihat pria berkulit putih pucat itu, namun berbeda dengan pria itu yang menunjukan raut wajah bingung.

“Agasshi? Apakah ada yang terluka di tubuhmu? Maafkan aku karena membawa mobil dengan cukup kencang dan tidak memperhatikan lampu lalu lintas.”

“An—anniyo. Gwenchana. Nan gwenchana Terima kasih sudah membantuku.”

Gadis itu segera mengambil payung dan bingkisan-bingkisannya yang terjatuh di jalan. Dia kembali melihat ke arah pria berkulit putih pucat itu yang masih setia berdiri dihadapannya, sedang memperhatikannya.

“Agasshi mengingatku?”

Pria berkulit putih pucat itu menatap bingung gadis berambut pendek dihadapannya saat ini. Gadis berambut pendek itu bertanya kepadanya seolah-olah memang mereka pernah bertemu sebelumnya. Tetapi pria berkulit putih pucat itu sama sekali tidak mengingat wajah gadis dihadapannya itu. Akhirnya pria berkulit putih pucat itu menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan gadis itu.

“Sudah kuduga. Agasshi pasti tidak mengingatku. Sebelumnya kita pernah bertemu disaat kita sedang menunggu hujan berhenti di depan pertokoan setelah Agasshi membeli beberapa minuman di supermarket. Agasshi juga pernah mengatakan ‘aku benci hujan’ begitukan? Bagaimana? Apa sekarang sudah ingat?”

Pria berkulit putih pucat itu nampak sedang berfikir mengingat kembali kejadian yang telah mempertemukannya dengan gadis dihadapannya ini. Seakan dia telah mengingat lagi, lantas dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya jika dia bisa bertemu lagi dengan gadis yang menurutnya unik itu.

“Ya, aku mengingatmu sekarang. Ah, maaf aku harus segera pergi. Senang bertemu denganmu lagi.”

Pria berkulit putih pucat itu segera masuk kembali ke mobilnya. Tak lama kemudian mobil itu telah melaju kencang membelah jalan yang telah basah oleh rintikan hujan. Gadis berambut pendek itu termenung melihat pria berkulit putih pucat itu yang bersikap seolah tidak mengenalinya. Padahal sebelummnya mereka pernah bertemu dan bertemu lagi. Walaupun pria itu memang tak pernah menyadarinya. Dia masih memperhatikan jalan tempat menghilangnya mobil itu. Seakan telah tersadar dengan adanya petir, dia kembali berjalan dengan lesu bergegas pulang ke rumahnya.

****

Sepintas memori berjalan tidak terduga. Rintikan air hujan yang mulai berkurang membuat Sooyoung harus segera bergegas pulang ke rumahnya. Sooyoung tidak ingin membuat orang tuanya gelisah menunggu di rumah. Dengan menggunakan beberapa buku yang untuk melindungi kepalanya dari rintikan air hujan, Sooyoung berjalan melewati jalanan yang tergenang banyak air dan itu membuatnya harus berjalan dengan hati-hati. Masih dengan senyuman yang terkembang di wajahnya yang seakan tak pernah pudar.

Tiba-tiba ada sebuah mobil yang melintas disampingnya dan berhenti tidak jauh didepannya. Sooyoung berhenti sejenak untuk melihat siapa penumpang di mobil itu. Sooyoung melihat dari balik kemudi mobil ada seorang pria berkulit putih pucat yang turun dengan membawa payung. Sooyoung terkejut melihat pria itu. Pria yang tidak pernah disengaja sering bertemu dengannya. Pria yang sering muncul dalam memorinya kini sungguh nyata dihadapannya. Bukan mimpi. Bukan juga khayalannya. Pria itu membuka pintu mobil disebelah sisinya. Lalu keluarlah seorang wanita berambut keriting dengan membawa sesuatu dalam gendongannya. Pria dan wanita itu nampak memasuki sebuah rumah yang terlihat begitu mewah dan mereka lenyap dalam pandangannya.

Sooyoung masih tetap berdiam diri memandang rumah itu. Sooyoung benar-benar terkejut. Pandangannya tiba-tiba kosong. banyak hal yang datang mengganggu pikirannya saat ini. Sooyoung menduga bahwa sesuatu dalam gendongan waanita tadi bentuknya seperti, bayi. Apa? bayi? Jangan bilang kalau bayi itu? Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran negatif yang ada di kepalanya. Tapi pemandangan yang dilihatnya tadi seakan membuat hati dan pikiran Sooyoung jadi tak menentu. Cemas, gelisah, kecewa, sedih semua berkumpul membuat Sooyoung hanya bisa menunduk lesu.

Sooyoung memutuskan melanjutkan kembali menuju rumahnya. Sebelum melangkah pergi, Sooyoung memandang sejenak ke rumah mewah itu. Setelah puas memandang, Sooyoung kembali berjalan dengan pelan dan tidak bersemangat seperti awal sebelum dia melihat pemandangan di depan rumah mewah itu.

****

Sebuah mobil berhenti di depan rumah Sakit. Seorang pria turun dari mobil dan membantu seseorang yang juga turun dari mobil yang sama dengannya. Mereka berdua berjalan memasuki rumah sakit itu dengan perlahan menuju sebuah ruangan. Pintu diketuk dan sang pria membuka pintu tersebut lalu diikuti juga dengan seseorang di belakangnya.

“Selamat Sore, Tuan Cho?” seorang dokter menyapa pria yang dikenalnya dengan cukup akrab itu saat melihat priaitu memasuki ruang prakteknya.

“Selamat sore, dokter Choi.”

“Bagaimana kabar anda, Tuan Cho?”

“Seperti yang anda lihat dokter Choi, saya baik-baik saja.”

Dokter Choi tersenyum sambil melihat seorang perempuan yang ternyata adalah kakak dari pria itu. “Sudah lama tidak bertemu dengan anda Ahra-ssi. Bagaimana kabar anda? Wah, apakah ini anak Anda?”

“Saya baik-baik saja, dokter Choi. Iya, usianya baru memasuki 6 bulan. Tapi beberapa hari yang lalu dia sempat demam tinggi dan kemarin setibanya disini demamnya muncul lagi. Saya ingin memeriksakan keadaannya, dokter.”

Sang dokter mencatat beberapa hal yang didengarnya dari mulut wanita itu. dokter Choi mulai mengambil beberapa perlatan medisnya. “Baiklah, mari saya periksa dulu. Saya tinggal sebentar, Tuan Cho.”

“Silahkan Dok. Sebaiknya saya menunggu di luar saja, permisi.” Pria tersebut segera membuka pintu dan keluar dari ruang pemeriksaan dokter anak tersebut.

Pria itu terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Seorang wanita yang beberapa hari lalu dijumpainya kini dilihatnya tengah berbincang dengan seorang dokter yang usianya lebih tua. Sepertinya mereka membicarakan hal yang serius. Pikir Pria itu. Karena tidak mau ambil pusing, maka pria itu bergegas menuju ke cafe yang ada di rumah sakit itu. Di rumah sakit itu disediakan cafe dengan kualitas makanan dan minuman yang benar-benar bersih untuk menjamin kesehatan dari pasien rumah sakit juga.

Pria itu memasuki cafe dan bergegas menuju tempat duduk yang ada samping jendela memperlihatkan pemandangan taman bunga yang indah. Pria itu segera memanggil pelayan dan memesan satu gelas capuccino dengan tambahan cream yang tidak terlalu manis. Setelah mengatakan pesanannya, pria itu kembali melihat pemandanan taman bunga yang indah di hadapannya hingga tidak menyadari ada seseorang yang memasuki cafe dan tiba-tiba saja sudah duduk dihadapannya. Pria itu terkejut. Mengapa ada seorang gadis yang tiba-tiba saja duduk dihadapannya? Apa gadis itu tidak menyadari kehadirannya yang jelas-jelas sudah menempati meja ini? Tapi sepertinya pria itu mengenali wajah dari gadis yang duduk di hadapannya kali ini.

Pria itu terus memandang gadis di hadapannya dengan bingung. Melihat wajah gadis itu yang menyiratkan kesedihan dan menyimpan masalah yang berat, padahal sebelumnya pria itu melihat gadis ini tengah berbicara dengan seorang dokter. Apa yang mereka bicarakan sebenarnya hingga membuat wajah gadis ini jadi sedih begini? Apa yang mereka bicarakan hal yang cukup serius? Pertanyaan-pertanyaan kini telah banyak bermunculan di kepala pria itu. pria itu ingin sekali menyakannya kepada gadis ini, tapi melihat bagaimana wajah gadis ini dia jadi membatalkan niatnya.

Pria itu berdehem untuk memecah keheningan dan membuat gadis itu menatap sang pria dengan wajah heran. Pria itu hanya mengerutkan keningnya memandang gadis di hadapannya. Kenapa dia jadi memandangku seperti itu? apa dia tidak sadar dia sedang duduk dimana? Pikirnya.

Gadis itu memandang wajah pria itu dengan pandangan kosong. Di dalam pikirannya hanya berputar satu kata yang diucapkan oleh dokter tadi. Lalu dia menundukkan kepalanya lagi. Tanpa sanggup ditahannya, tiba-tiba saja air matanya keluar dengan sendirinya. Gadis itu menangis dalam diam. Dia berusaha menahan tangisnya agar tidak semakin terdengar keras.

Tiba-tiba saja ada yang memberikan sebuah sapu tangan kepadanya. Dia mengambil sapu tangan itu tanpa melihat siapa pemiliknya. Dia membersihkan air matanya yang sempat jatuh di sekitar pipinya. Tidak lama kemudian dia tersadar. Cepat-cepat dia mendongak untuk melihat siapa yang memberikan sapu tangan itu kepadanya.

Gadis itu terkejut melihat seorang pria dihadapannya. Terlebih lagi, dia baru menyadarinya. Pria di hadapannya. Pria yang duduk satu meja dengannya saat ini adalah pria yang sama dengan yang ditemuinya secara tidak sengaja. Pria yang terus berputar di pikirannya dan pria yang sudah membuatnya mempunyai pikiran buruk.

“Hai, kita bertemu lagi.” pria itu memberikan sebuah senyuman. Senyuman yang baru pertama kali diperlihatkannya setelah seringnya mereka bertemu. “Ah, ya siapa namamu, agasshi? Kau dulu pernah menyebutkan namamu kan?”

“Maaf. Maafkan saya. Saya tidak tahu kalau agasshi sudah duduk disini. Maaf saya tidak sengaja.” Gadis itu membungkukan badannya meminta maaf.

“Gwenchana. Perkenalkan namaku Cho—”

“Kyu!” sebuah suara mengejutkan mereka datang dari pintu masuk cafe.

Kyu?Apa Kyu nama pria ini? Pikir gadis itu. Sementara pria di hadapannya hanya tersenyum begitu melihat sosok wanita yang memanggilnya tadi.

Wanita ini kan? Lagi-lagi gadis itu terkejut melihat wanita tadi yang berteriak memanggil pria itu. Akhirnya dia lebih memilih menunduk untuk menyembunyikan suatu fakta yang menyedihkan nantinya.

“Aish, aku mencarimu  sedari tadi. Eh, ternyata kau sedang disini? Apa kau sedang berkencan, eh?” tanya si wanita kepada pria yang lebih muda darinya itu sambil menunjuk ke arah gadis yang dilihatnya masih menunduk.

“Nuna! Kami baru bertemu, ah, lebih tepatnya memang kita sering bertemu secara tidak disengaja dan kali ini kita bertemu lagi disini.”

“Kalau begitu, wah, itu tandanya kalian jodoh, ya kan?” goda si wanita itu. “Siapa namamu, cantik?”

“Sooyoung. Choi Sooyoung.”

“Nama yang cantik sesuai dengan orangnya nih. Aku Ahra—Cho Ahra. Nuna dari pacarmu ini.”

“Nuna!”

Nuna? Jadi mereka? Sooyoung terkejut mendengar penjelasan Ahra.

“Nuna? Bukankah hubungan kalian ini? Dan bayi ini adalah—anak kalian?”

Ahra dan pria itu terkejut mendengar pertanyaan dari Sooyoung. Bagaimana tidak? Sooyoung mengira kalau mereka ini adalah pasangan suami istri namun kenyataannya hubungan mereka adalah saudara kandung.

“Ahahahaha kau salah sangka, Sooyoung. Kami ini saudara kandung. Dia adikku. Dan apa maksudmu kalau kami ini suami istri?” tanya Ahra yang penasaran dengan tuduhan dari Sooyoung.

Sementara si adik hanya bisa menahan tawa melihat kepolosan gadis itu.

“Aku pernah melihat kalian di sebuah rumah mewah beberapa hari yang lalu. Awalnya aku terkejut melihat kau—.” Tunjuk Sooyoung kepada pria itu. “Keluar dari sebuah mobil lalu eonni juga keluar dengan membawa bayi ini dalam gendonganmu. Jadi aku menduga kalau kalian ini pasangan suami istri.”

Setelah tidak mampu menahan lebih lama lagi, akhirnya pria itu tertawa juga dengan kerasnya hingga membuat pengunjung cafe memandang ke arah mereka. Sooyoung dan Ahra yang kedapatan tatapan dari para pengunjung cafe hanya bisa membungkuk meminta maaf. Walaupun Ahra juga sebenarnya ingin sekali tertawa dengan sekeras-kerasnya namun mengingat disini tempat umum jadi dia harus bisa menjaga sikap.

“Yak! Jangan tertawa keras begitu. Lihatlah, orang-orang memandangi kita!” omel Sooyoung karena tidak tahan melihat pria itu yang tersu saja tertawa. “Yak! Aku belum tahu namamu. Siapa namamu?”

“Hahaha aku lucu sekali. Aigoo. Baiklah, baiklah aku sudah tidak tahan. Perutku sakit jika terlalu lama tertawa. Namaku Cho Kyuhyun. Kau bisa memanggilku Kyuhyun, gadis bodoh.”

“Apa kau bilang?” Sooyoung menoleh spontan ke arah Kyuhyun.

“Gadis bodoh. Karena kau benar-benar bodoh. Bagaimana bisa kau mengira kalau aku dan nunaku ini adalah suami istri. Hahahahaha.”

“Yak, aku kan tidak tahu kalau kalian berdua saudara kandung.” Sooyoung memukul tangan Kyuhyun dengan keras karena dia benar-benar kesal dikatakan bodoh oleh Kyuhyun.

“Yak! Kenapa kau memukulku. Aish, hentikan! Yak!” Kyuhyun berusaha menghindar dari pukulan Sooyoung dengan melindungi tangannya sendiri.

“Aish, sudah, sudah, hentikan. Kyu, antar aku pulang. Aku sudah lelah.”

“Arasseo.” Kyuhyun bersiap untuk berdiri. “Dan kau gadis bodoh, urusan kita belum selesai. Kau ikut denganku.” Kyuhyun menarik tangan Sooyoung dengan paksa.

Sooyoung yang kaget hanya berusaha untuk berontak. “Yak! Kenapa kau menyuruhku untuk ikut juga. Aish, aku mau pulang. Aku kan punya rumah.”

“Aku tidak akan membiarkanmu pulang sebelum urusan kita ini selesai sekarang juga.”

Kyuhyun terus berusaha menarik tangan Sooyoung agar mengikutinya menuju mobilnya yang ada di parkiran. Ahra yang berjalan di belakang mereka hanya bisa terkikik geli melihat kelakuan adiknya kepada Sooyoung. Karena selama dekat dengan Hyemi, Kyuhyun tidak pernah bersikap jahil seperti saat ini. Yang selama ini dilihatnya hanya Kyuhyun yang pendiam, keras dan terkesan dingin.

****

Kyuhyun terus menatap Sooyoung yang sedang duduk gelisah di hadapannya dengan sangat dalam. Entah apa yang ada di pikiran Kyuhyun saat ini. Dia merasa perasaannya sedikit nyaman berada di samping gadis itu. Namun dia tidak bisa untuk terus bertahan dengan perasaan yang seperti ini. Dia tidak bisa terus membiarkan perasaannya mengalir begitu saja karena dia punya tanggung jawab lain dengan hatinya juga.

“Jadi, kalian sering bertemu beberapa hari ini?”

Tiba-tiba Ahra datang memecah keheningan dengan membawa tiga gelas minuman dan meletakkannya di meja ruang tamu dimana Sooyoung dan Kyuhyun duduk dengan suasana saling diam.

“Bukan dalam beberapa hari ini, Eonni. Tetapi dalam jangka waktu sebulan kami bisa tidak sengaja bertemu hingga dua kali.” Sooyoung memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Kyuhyun yang tidak pernah mengalihkan pandangannya.

Mereka bertemu pandang selama beberapa detik kemudian. Hingga Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Sooyoung. Sooyoung yang melihat Kyuhyun mengalihkan pandangannya mengira bahwa Kyuhyun sedang gugup. Sooyoung tersenyum senang dalam hati.

“Ah, aku jadi semakin penasaran dengan cerita awal kalian bertemu. Soo, ceritakan pada Eonni bagaimana awal pertemuan kalian hingga bertemu beberapa kali di bulan ini.”

“Mwo?” Sooyoung kaget mendengar penuturan Ahra.

“Nuna!” Kyuhyun berseru untuk menghentikan aksi noonanya.

“Ada apa, Kyu? Kau keberatan? Sooyoung saja tidak ada masalah. Ya, kan Soo?”

“N—Ne.”

“An—Aniyo. Aish, terserah Nuna saja!” Kyuhyun mendengus sebal selalu kalah dengan nunanya. Akhirnya dia memutuskan untuk diam saja mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Sooyoung, tentunya sambil memandangi Sooyoung.

“Wah, pertemuan kalian ini seperti sebuah drama saja. Jika memang bisa dijadikan sebuah drama pasti akan melejit dan disukai banyak orang. Kalian seperti berjodoh saja, apalagi kalau hubungan kalian bisa berlanjut ke jenjang pernikahan. Ah, romantisnya!”

Kyuhyun dan Sooyoung kaget mendengar perkataan Ahra. Mereka menampakkan ekspressi yang sama. Tidak sengaja keduanya saling memandang, lalu menatap Ahra. Ahra yang merasa perkataannya sudah mulai tidak beres mendadak diam. Dia pun menyadari kesalahannya. Dia memandang Kyuhyun dan Sooyoung. Mereka saling memandang. Hingga sebuah suara mengagetkan mereka.

“Annyeonghaseyo.”

Ketiga orang itu sontak menoleh ke arah pintu utama. Dua orang diantara mereka mengenal suara itu. sedangkan satu orang lainnya tidak begitu tahu.

“Ehhmm. Biar aku yang buka pintunya.” Ahra beranjak menuju pintu meninggalkan kecanggungan diantara mereka.

“Jangan perdulikan omongan Nuna. Dia memang suka berkhayal begitu.” Sahut Kyuhyun mencoba meluruskan pemahaman yang ditangkap Sooyoung atas ucapan Ahra Nunanya.

“Ne? Mworago?”

“Jangan tertalu diambil pusing perkataan Nuna tadi. Dia memang suka begitu. Aku takut kau jadi salah paham nantinya.”

Sooyoung merasakan sesak didadanya. Apa maksud ucapan Kyuhyun?ucapnya dalam hati.

“Oppa, Kyuppa.” Sebuah suara menggema di dalam rumah itu.

Muncul dua sosok perempuan. Seorang gadis tinggi dan cantik dan Ahra yang berada di belakangnya dengan raut wajah cemas. Gadis yang memanggil Kyuhyun sontak berlari memeluk Kyuhyun yang masih terkejut dengan kedatangannya, namun kemudian membalasnya dengan senyuman. Sooyoung yang melihat adegan tersebut hanya mengernyit bingung. Siapa perempuan ini? Seenaknya saja dia memeluk Kyuhyun. Kyuppa? Bahkan dia mempunya nama panggilan untuk Kyuhyun? Batin Sooyoung.

Kyuhyun membalas pelukan gadis itu namun hanya beberapa detik setelah itu dia melepasnya. “Kau tahu aku berada disini, Hyemi-ah?”

“Tentu saja oppa. Kita kan memiliki ikatan batin.” Hyemi merangkul lengan Kyuhyun dengan mesra. Kyuhyun menoleh ke arahnya. Hyemi melihat ada perempuan asing di hadapannya, “O..oppa,  siapa perempuan ini? Ahra eonni chinguya?”

Sooyoung yang merasa ditunjuk pun bangkit dari duduknya. “Annyeong. Choi Sooyoung imnida.”

“Annyeong. Han Hyemi imnida, tunangan sekaligus calon istri Kyuhyun oppa.” Hyemi menjawab ssambil tetap merangkul manja lengan Kyuhyun.

Sooyoung terkejut. Dia merasakan dunianya runtuh seketika mendengar kalimat tunangan dan calon istri Kyuhyun oppa. Badannya seketika membeku. Dia hanya menatap miris pada Kyuhyun dan Hyemi.

“Ah, maaf Soo. Kami belum menyampaikan berita jika Kyuhyun sudah bertunangan dengan Hyemi dan mereka akan segera menikah. Nah, mereka ini sudah bertunangan sebulan yang lalu.mungkin saat itu kalian pernah bertemu.”

Ahra menyampaikan berita yang sebenarnya tentang hubungan Kyuhyun-Hyemi kepada Sooyoung dan itu membuat hati Sooyoung bertambah sakit mendengarnya. Sebulan yang lalu? Apa disaat aku dan dia bertemu saat itu dan dia terburu-buru untuk pergi. astaga Sooyoung tak menyangka bahwa pertemuannya dengan Kyuhyun membawa kejutan yang membuatnya jatuh secara bersamaan. Sooyoung hanya memasang senyum tipisnya guna menutupi kerisauan hatinya. Dia ingin segera pergi dari rumah itu.

Kyuhyun memandang Sooyoung dengan pandangan sedih. Dia tahu kalau saat ini Sooyoung sangat sedih mendengar kabar kalau dia akan menikah. Dia juga tahu kalau sebenarnya Sooyoung menyukainya. Begitu pula dengan dirinya. Namun dia juga tidak bisa menolak jika dia memang masih sangat mencintai Hyemi.

Kyuhyun menyadari jika dia memang mulai jatuh cinta dengan Sooyoung. Dimulai dari pertemuan-pertemuan awalnya dengan gadis itu dia menyadari bahwa perasaannya sungguh berdebar apabila melihat mata gadis itu. Rencana pernikahan sudah di depan mata. Undangan pun sudah disebarluaskan. Hanya tinggal menunggu beberapa hari saja bahwa dia sudah menikah dengan gadis lain. Gadis yang sudah menempati hatinya sejak lama sebelum kedatangan Sooyoung. Seandainya dia dipertemukan oleh Sooyoung sejak awal sebelum dia bertemu dengan Hyemi, mungkin dia akan bertunangan dan menikah dengan Sooyoung. Tetapi sepertinya takdir tidak berpihak pada mereka.

“Kalau begitu aku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian nantinya. Seandainya saja aku bisa mengenal kalian sebelumnya, pasti aku akan hadir di pertunangan kalian. Semoga pernikahan kalian lancar.”

“Terima kasih, eonni. Pasti kau seumuran kan dengan Kyuhyun oppa. Jadi tak masalah kan kalau aku memanggilmu eonni?” Hyemi melepaskan rangkulan Kyuhyun dan berjalan menuju Sooyoung. Digenggamnya tangan Sooyoung sebagai tanda pertemanan mereka.

Sooyoung menggangguk. Dia membalas genggaman tangan Hyemi dan berusaha tersenyum semanis mungkin. mencoba menyembunyikan rasa sakit di hatinya yang semakin membuatnya sesak. Mungkin dia bukan jodohku. Pikirnya.

Hyemi lantas memeluk Sooyoung dengan erat. “Aku senang berkenalan denganmu eonni. Berarti sekarang kita sudah berteman kan? Nanti saat aku menikah kau akan mendapatkan undangan pertama dan menjadi tamu spesial di pernikahanku. Kau akan datang, bukan?”

Tubuh Sooyoung menegang. Namun sebisa mungkin dia tidak menunjukkannya. Keringat dingin membasahi tangannya membuat dia mau tak mau mengepalkan tangannya lalu membalas pelukan Hyemi. Dia sudah tak tahan. Air mata telah mengenang di matanya dan bisa turun hanya dalam hitungan detik. Sebisa mungkin Sooyoung tahan agar dia tidak terlihat menangis di hadapan Kyuhyun untuk saat ini.

“Ne, aku akan datang.” Jawab Sooyoung lirih sambil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya.

Kyuhyun sama sekali tak bisa mendengar percakapan dua gadis dihadapannya. Dia juga tak melihat kalau air mata Sooyoung telah turun perlahan-lahan. Dia hanya bisa melihat bahwa dua gadis yang disayangnya tengah berpelukan erat tanda persahabatan mereka. Dia ikut merasakan terharu sekaligus sedih secara bersamaan. Mengapa takdir memporak-porandakan hidupnya sampai seperti ini.

Namun, terlambat, Ahra telah melihat semuanya. Melihat bagaimana Sooyoung menahan rasa sakitnya. Melihat bagaimana gadis itu mencoba tersenyum walaupun sebenarnya dia sangat ingin menangis.dan melihat sendiri bagaimana air mata gadis itu turun tanpa diminta. Dia tahu kalau Sooyoung dangat menyukai adiknya terlihat dari caranya memandang dan sikap gugupnya bila berdekatan dengan Kyuhyun. Begitu pula dengan Kyuhyun yang mulai menyukai Sooyoung namun dia tak bisa berbuat apa-apa.

“Kalau begitu aku ingin pamit pulang dulu.” Sooyoung melepaskan pelukan Hyemi padanya.

“Kau yakin ingin pulang sekarang, Soo? Diluar sedang hujan deras. Apa tidak sebaiknya kau menunggu saja?” Ahra mencoba menahan Sooyoung yang memaksa untuk pulang padahal diluar sedang hujan deras.

“Benar kata Ahra eonni. Eonni tunggu disini saja sambil kita mengobrol. Bagaimana? Pasti menyenangkan. Ya kan, Kyuppa?”

Kyuhyun sontak mengangguk. Sooyoung memandang Kyuhyun dengan pandangan datarnya. Kyuhyun menyadari itu namun dia memilih diam memperhatikan Sooyoung.

Sooyoung menggeleng. “Aku tidak bisa. Aku harus segera pulang pasti Aboeji dan eomma sudah menungguku, jadi aku harus pulang sekarang juga. Maafkan eonni, Hyemi-ah. Mungkin lain waktu kita bisa mmengobrol lagi.”

“Sudahlah Hyemi-ah. Jangan memaksa. Mungkin memang Sooyoung ingin pulang. Sebaiknya kau pulang diantarkan Kyuhyun ya, Soo?” Ahra mencoba memberikan waktu kepada Sooyoung dan Kyuhyun dengan mengusulkan Kyuhyun mengantarnya pulang.

“Ani, gwencanayo. Aku bisa pulang sendiri, eonni. Sekali lagi tidak usah. Aku takut merepotkan kalian. Lagipula aku bisa pulang naik bus.” Sooyoung menolak dengan halus tawaran Ahra.

“Apa tidak bahaya jika perempuan disaat turun hujan naik bis sendirian? Kyu, kau bisa kan mengantarkan Sooyoung pulang? Aku takut terjadi sesuatu nanti padanya.”

“Iya, oppa. Sebaiknya oppa antarkan Sooyoung eonni pulang. Kasian Sooyoung eonni pulang sendiri disaat turun hujan malam-malam begini.” Hyemi menambahkan.

Akhirnya Sooyoung menyerah karena semua sudah memaksanya maka dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kyuhyun memandang Sooyoung dan lantas mengangguk. “Baiklah, ayo aku antarkan kau pulang.”

“Eonni gomawo untuk hari ini. Dan Hyemi-ah eonni pulang dulu ya.”

Sooyoung memeluk Hyemi terlebih dahulu. “Eonni terima kasih karena kau sudah menerimaku jadi temanmu.”

“Ne, sama-sama. Eonni pulang dulu ya.”

“Sooyoung, maafkan eonni ya. Eonni tahu perasaanmu kok. Aku yakin Tuhan pasti memberikan jalan yang terbaik untuk kalian.” Sooyoung memeluk Ahra dengan sangat erat begitu mendengar perkataan Ahra. “Aku mencintainya, eonni.”

Sooyoung berjalan menuju mobil Kyuhyun dengan didampingi oleh Ahra dan Hyemi. Setelah membuka pintu mobil, dia segera masuk dan menutup pitu mobilnya. Tak lupa dia melambaikan tangan untuk Ahra dan Hyemi. Mobil Kyuhyun pun meluncur meninggalkan halaman rumahnya menerjang hujan yang saat itu turun dengan derasnya.

“Alamat rumahmu dimana?” tanya Kyuhyun memecah keheningan.

“Nanti lampu merah depan belok kiri saja. Setelah itu di ujung jalan ada restoran Jepang, aku turun didepannya saja. Rumahku di belakang restoran itu.” Sooyoung masih memandang ke arah jalanan.

“O. Arasseo.”

Dalam perjalanan kesunyian pun terjadi di dalam mobil Kyuhyun. Baik Sooyoung maupun Kyuhyun hanya diam sambil memandang jalanan di hadapannya. Beberapa menit kemudian tibalah mobil Kyuhyun didepan restoran Jepang. Keduanya masih tetap terdiam di dalam mobil.

“Sudah sampai di depan restoran Jepang.” Kyuhyun memandang ke arah Sooyoung karena tidak kunjung mendapat respon. “Soo? Ah, tertidur rupanya. Soo, bangun. Sudah sampai di depan restoran Jepang.”

“aku men..cintaimu…Kyu.” gumam Sooyoung lirih dalam tidurnya.

Kyuhyun yang semula berniat membuka pintu mobil untuk menggendong Sooyoung menuju rumahnya pun terhenti. Walaupun Sooyoung menggumam dengan sangat lirih tapi Kyuhyun mampu mendengarnya. Kyuhyun memandang Sooyoung dalam tidurnya.

“Aku mencintaimu, sangat. Dari awal pertemuan kita saat di depan supermarket hingga aku mengira kau dengan Ahra eonni sudah menikah. Aku sudah jatuh cinta padamu. Hingga perasaan ini semakin tumbuh tanpa bisa aku hentikan. Salahkah jika aku terlanjur mencintaimu disaat kau telah bertunangan bahkan akan menikah dengan gadis yang kau cintai? Aku tahu diri Kyu. Aku pasti akan memilih mundur dan aku akan mengalah demi kau dengan gadis itu.” isak kecil Sooyoung dalam mimpinya.

Kyuhyun yang mendengar ungkapan hati Sooyoung pun hanya menatap sedih dirinya. Dia tahu bahwa pertemuan mereka memang sudah takdir dan itu tidak bisa disalahkan.

“Maafkan aku, Soo. Jebal, aku tidak bermaksud menyakitimu sampai sejauh ini. Aku juga merasakan hal yang kau rasakan juga tetapi di satu sisi aku mencintai Hyemi. Aku tidak bisa meninggalkannya. Menikah dengannya juga merupakan mimpiku dengannya, Soo. Jebal, maafkan aku.”

Kyuhyun mengelus pelan puncak kepala Sooyoung. Sedikit mengangkat poni Sooyoung, lalu mencium kening indahnya cukup lama. Dia ingin memberi kekuatan untuk Sooyoung lewat ciumannya itu. Menyampaikan maafnya dan perasaannya yang sama dengannya lewat ciuman itu pula. Setelah cukup Kyuhyun melepasnya ciumannya dan menjauhkan diri. Dia menghapus bekas air mata di pipi gadis itu. setelah itu dia berniat membangunkannya.

“Eungghh..” lenguh Sooyoung yang terusik dengan sentuhan lembut di pipinya.

“Kau sudah bangun?” tanya Kyuhyun setelah menjauhkan diri dari Sooyoung.

“O, apa aku ketiduran?” Sooyoung mengucek matanya mencoba memperjelas pandangannya yang masih kabur. “Sudah sampai ya? Pasti kau menunggu lama. Maafkan aku, aku ketiduran.”

“Aniyo, gwenchanayo. Oh, ya, ini pakai payung ini. Diluar masih hujan.” Kyuhyun menyerahkan sebuah payung untuk Sooyoung.

“Gomawoyo sudah mengantarku. Sampaikan salamku untuk Ahra eonni dan juga…Hyemi.” Sooyoung sudah bersiap membuka pintu mobil, namun Kyuhyun menahannya.

“Chamkaman.”

“Mwo?”

Kyuhyun mendekat ke arah Sooyoung membuat Sooyoung sontak mundur hingga membentur jendela mobil. Sooyoung pun sudah semakin terdesak, dan itu membuat Kyuhyun terus menghapus jaraknya dengan Sooyoung. Kyuhyun menyisakan jaraknya dengan Sooyoung tidak kurang dari dua centimeter hingga hidung mereka bersentuhan.

“Apapun yang akan terjadi nantinya, aku meminta satu permintaan padamu. Lanjutkanlah hidupmu. Jangan kau terus membuat hati dan pikiranmu hanya terpusat padaku. Kau masih memiliki banyak orang yang akan selalu ada disampingmu selamanya, menyayangimu dengan tulus. Jadi, tetaplah tersenyum dan terus lanjutkan hidupmu…tanpa aku.”

 

Cup

 

Setelah mengecup pelan bibir Sooyoung, wajah Kyuhyun perlahan naik hingga bibirnya menyentuh kening Sooyoung. Dikecupnya pelan kening Sooyoung cukup lama. Seolah dia belum puas untuk mengecup kening gadis itu. Perlahan air matanya terjatuh tanpa dimintanya.

Sooyoung pun terkejut dengan perkataan Kyuhyun. Belum lagi dengan tiba-tiba Kyuhyun mencium bibirnya dan keningnya. Air mata Sooyoung pun keluar. Semakin lama dia semakin terisak. Kyuhyun yang merasa Sooyoung menangis sesenggukan pun perlahan melepaskan ciumannya. Diusapnya pelan kepala Sooyoung kepala Sooyoung agar berhenti menangis.

“Aku percaya kau gadis yang kuat, Soo. Masih banyak pria lain di luar sana yang pasti bisa mencintaimu dan menjagamu selamanya melebihi aku. Jebal, maafkan aku. Aku tak tahu jika pertemuan kita membuat kita saling tersakiti seperti ini, telebih kau. Tapi ini takdir Tuhan dan rencana Tuhan belum menyetujui kita untuk bersama. Aku harap kau bisa mengerti, Soo. Jebal, berhenti menangis.”

Sooyoung masih terus menangis. Dia berusaha untuk menghentikan tangisannya dengan menahan mulutnya dan memejamkan matanya untuk mengurangi sakit di hatinya. Namun tetap tak bisa. Setelah beberapa menit kemudian, tangisannya pun reda walau masih ada air mata yang terus mengalir di mata indahnya. Dan Kyuhyun pun tahu itu.

“Gomawo sudah mau mengantarku. Aku mengucapkan selamat atas pertunanganmu dan pernikahanmu nantinya. Aku tidak bisa berjanji akan datang. Jadi, aku sampaikan maaf dan tolong katakan pada Hyemi bahwa aku tidak bisa berjanji untuk datang karena ada sesuatu hal yang harus kukerjakan.” Sooyoung mengusap pelan air mata yang jatuh di pipinya “satu lagi. Aku akan tetap mencintaimu. Perasaan ini tidak akan pernah bisa hilang dan berubah walaupun kau menikah dnegan orang lain tetapi aku berusaha akan baik-baik saja jadi kau tidak perlu cemas. Aku pamit. Annyeong.”

Sooyoung turun dari mobil tanpa membawa payung. Dia letakkan begitu saja payungnya di bawah kursi penumpang yang didudukinya. Kyuhyun terkejut melihat Sooyoung keluar tanpa menggunakan payung. Dia melihat ke arah bawah yang terdapat payung yang telah diberikannya kepada Sooyoung. Ternyata Sooyoung menolak payung pemberiannya. Dia hanya mampu memandang sedih ke arah Sooyoung.

Tanpa disadarinya setetes air mata pun jatuh dari mata beningnya disusul tetes-tetesan lainnya yang turut membasahi wajah tampannya. Dia ikut merasa bersalah telah menghancurkan harapan gadis itu. Kyuhyun tahu gadis itu tulus mencintainya. Dia tidak bisa melarang gadis itu untuk tidak mencintainya akan tetapi dia juga tidak bisa membalas perasaan gadis itu secara nyata. Namun satu yang tidak Sooyoung tahu bahwa Kyuhyun juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Mencintai dan terluka.

 

 

 

 

 

 

The End…..

 

 

 

Maaf ya aku buat sad ending,, habisnya aku bingung untuk buat ending ceritanya, takut ngegantung. Jadi beginilah hasilnyaaa ^.^

Menurut kalian bagaimana? ^.^

Jangan lupa komentarnyaaaa, terima kasih sudah membaca ff  ini J

5 thoughts on “[FF Freelance] Rain

  1. kmren ak dh bca n FF tp lupa dblog mna.
    tp yg pasti ak sbg kyuyoung shiper gk rela klo sad ending kyak gni..
    sequel….. min astor lh.

  2. ngasi tau aja kalo agashi itu panggilan buat cewe, jadi kalo sooyoung ngomong ke kyu pake agashi salah..hehee, ngasi tau aja kok🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s