[Chapter 5] Hard to Love

Hard to Love

“Love? Never!”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast : Lee Howon, Jung Eunji || Genre : Romance, School Life || Length : Chapter 5/? || Rating : PG-15 || Credit Poster: Fearimaway

Hard to Love  Chapter 5 – Love?

oOo

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4

Naeun tersadar dari tidur pulasnya. Entah itu tidur pulas disengaja atau tidur pulas tak disengaja. Ia menatap sekelilingnya. Ia mengenali tempat itu – UKS Hankeum High School. Naeun menghela nafas sampai akhirnya ia menyadari bahwa ada seseorang yang tengah tidur juga disamping tempat tidurnya.

“Myungsoo sunbaenim!” panggil Naeun sambil menepuk pelan laki-laki itu. Namun, rupanya laki-laki itu terlalu pulas dengan tidurnya. “Myungsoo sunbaenim!” panggil Naeun lagi. Laki-laki itu tak kunjung bangun. “Apa dia koma?” tanya Naeun pada dirinya sendiri. Gadis itu kemudian menggelitik laki-laki itu dibagian pinggang.

Akhirnya laki-laki itu terbangun dengan sedikit rasa marah menatap Naeun karena telah membangunkannya. Laki-laki itu menatap Naeun kemudian meregangkan otot-otot tubuhnya karena telah tertidur dengan posisi yang tidak benar.

“Ah, kau sudah bangun?” tanya Myungsoo sambil menatap Naeun. Naeun menganggukkan kepalanya pelan kemudian ia memegangi kepalanya. “Ada apa?” tanya Myungsoo cepat-cepat.

Naeun hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian terbukalah pintu UKS. Di balik pintu, berdiri seorang perawat Hankeum High School. “Haksaeng, kalau sudah baikan silahkan keluar, kalian tidak bisa berlama-lama disini.”

Ne!” kata Naeun dan Myungsoo bersamaan. Perawat itu kemudian menganggukkan kepalanya lalu segera menutup pintu kamar rawat itu. Naeun dan Myungsoo kemudian bertatapan.

“Ayo, bangun.” Kata Myungsoo. “Setelah ini kita harus mengadakan acara pemakaman kakakmu.” Myungsoo bangkit dari kursinya lalu mengambilkan sepatu Naeun yang berada di bawah tempat tidur lalu memakaikannya ke kaki Naeun.

Naeun hanya terdiam mengingat bahwa kakaknya sudah meninggal. Kemudian ia memperhatikan cara Myungsoo memakaikannya sepatu. Setelah selesai, Myungsoo menatap Naeun. “Ayo, sudah selesai.”

Tak ada respon yang muncul dari wajah Naeun.

“Hei?”

Naeun akhirnya tersadar kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan. Myungsoo membukakan pintu untuknya kemudian Naeun melangkah keluar dari ruang rawat itu.

**

“Mengadakan pemakaman?”

Ne, kira-kira seperti itu.”

Guru Jung menatap Myungsoo tidak percaya. Kemudian bola matanya beralih menatap Naeun. “Siapa yang meninggal?”

Nae oppa, seonsaengnim.”

Raut wajah Guru Jung langsung berubah. Kemudian ia segera menepuk pundak Naeun. “Maafkan aku, Naeun. Aku tidak tahu. Aku turut berduka cita.” Naeun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya.

“Baiklah kalau begitu, kalian boleh pergi.”

“Terimakasih, seonsaengnim.”

Kedua murid itu segera membungkukkan tubuh mereka ke arah Guru Jung lalu melangkah keluar dari ruangan yang bau AC-nya tercium masih baru. Naeun hanya bisa tersenyum getir saat menutup pintu ruangan itu.

Telunjuk Myungsoo menyentuh pundak Naeun. Lantas, Naeun segera membalikkan tubuhnya menatap Myungsoo. “Ada apa?”

“Sudah siap?”

“Hm, sudah.”

Gadis itu tampak mantap dengan pernyataannya. Myungsoo kemudian tersenyum kemudian ia menelpon seseorang untuk mempersiapkan acara pemakaman kakak Naeun. Naeun tersenyum kecil karena Myungsoo mau membantunya.

**

“Terimakasih untuk hari ini, sunbaenim. Kau sangat membantuku.”

Myungsoo hanya tersenyum kecil. “Ini bukan apa-apa, aku hanya ingin membantu saja. Lain kali, mungkin kau bisa membalas kebaikanku ini.” Kata Myungsoo sambil tertawa kecil. Tanpa sadar, Naeun juga ikut tertawa – lebih tepatnya, masuk perangkap Myungsoo – kecil. Naeun segera menghentikan tawanya.

“Oh, sudah jam 7 malam, kau bisa pulang dulu, sunbaenim.” Kata Naeun.

“Apa sebaiknya aku menelpon Jongwoon hyung untuk menemanimu? Toh, dia pacarmu bukan? Daripada aku yang menemanimu, aku takut dia berprasangka buruk padaku.” Kata Myungsoo sambil mengambil minuman dari dalam kulkas. “Bagaimana?” tanyanya kemudian ia meneguk air soda yang diambilnya itu.

Naeun terdiam, kemudian ia teringat akan rencananya. “Sunbaenim?” Myungsoo menghentikan aktifitasnya kemudian ia menatap Naeun.

“Ada apa?”

“Bisakah kau membantuku? Sekali lagi?”

“Membantumu?”

Ne. Aku ingin kau berpura-pura menyukaiku, aku ingin kau berpura-pura mencintaiku, merayuku sampai akhirnya Jongwoon oppa memutuskanku.” Ujar Naeun terus terang. Myungsoo langsung terdiam. “Ada apa? Tidak bisa ya?”

Cepat-cepat laki-laki itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku bisa, kurasa. Kau bisa memintaku untuk melakukan itu padamu. Tapi, kalau-.”

“Kalau apa?” potong Naeun dengan cepat. Ia tidak ingin Myungsoo mengatakan hal yang tidak-tidak. Ia hanya menginginkan Myungsoo membantunya, setelah itu mereka bisa kembali seperti hubungan biasanya – antara sunbaenim dengan hoobae – seperti normal. Ia tidak ingin ada gossip antara dirinya dengan laki-laki itu.

Myungsoo menatap Naeun pelan. “Bagaimana kalau tiba-tiba aku benar-benar mencintaimu?” tanya Myungsoo. Pertanyaan itu membuat mulut Naeun terbungkam, kemudian Myungsoo tertawa keras. “Tidak, aku hanya bercanda! Kenapa kau menanggapinya serius?”

Aniyo!!” kata Naeun menolak dengan cepat. “Bisakah kita mulai besok? Tapi kau harus melakukannya di depan Jongwoon oppa, tidak di depan anak-anak sekolah. Bisa-bisa aku mati karena kau mencoba merayuku.” Naeun mengalihkan pembicaraan.

Myungsoo tersenyum kecil, kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Tentu. Tapi, kau tidak akan membayar untuk ini?”

“Bayar?” Naeun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak punya uang sebanyak dirimu.”

**

Sesuai dengan rencana, Naeun meminta Jongwoon untuk datang menjemputnya dikarenakan Dongwoon yang sudah tidak ada. Luka kesedihan itu masih membekas di hati Naeun, bagaimanapun Naeun sangat mencintai kakaknya.

Arasseo, chagiya. Aku akan menjemputmu sepulang sekolah!” kata Jongwoon dari ujung telepon. Naeun tersenyum getir, masuk jebakan pertama.

Naeun menutup teleponnya. Myungsoo yang ikut mendengarkan juga tersenyum senang. “Jadi apa yang harus kulakukan?” tanya Myungsoo yang membuat Naeun tampak berpikir keras. Kemudian Naeun menjentikkan jarinya. Ia tersenyum lebar.

“Seharusnya sunbaenim yang memikirkan ini. Kenapa aku? Tapi, yasudahlah. Kau cukup memanggilku untuk pulang bersama dan mengatakan bahwa dari awal kau sudah ada janji pulang bersama denganku. Lalu, aku akan pura-pura lupa dengan janjimu lalu kau mencoba mengingatkanku. Akhirnya aku pulang bersamamu!”

Myungsoo tertawa keras dan hampir jatuh dari bangkunya. Untung saja mereka berada di atap sekolah yang tidak ada murid sama sekali. Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Oh, ini akan menjadi pertunjukkan terbaik! Kau sangat cerdas, Son Naeun!”

“Tentu saja!”

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa pulang sekolah.”

Myungsoo melangkah pergi meninggalkan Naeun. “Jangan lupa naskahmu!” ujar Naeun dan membuat Myungsoo kembali tertawa. Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar tawa dari Myungsoo.

“Sebenarnya, apa salah ya aku mengerjainya seperti ini?” tanya Naeun pada dirinya sendiri. “Tidak! Dia memang pantas mendapatkannya! Son Naeun, fighting!” Naeun mengangkat kepalan tangannya ke atas.

**

Chagiya! Akhirnya kita bertemu juga, setelah sejak kita berpacaran kita tidak pernah bertemu! Aku sangat merindukanmu!” kata Jongwoon sambil menepuk kepala Naeun. Dengan terpaksa, Naeun tersenyum kecil.

Gadis itu menatap mobil mewah milik Jongwoon, ia tidak pernah menaiki mobil itu. Oh, tidak, dia pernah. Milik Howon.

Nado, aku juga merindukanmu, Oppa.”

Dibalik kata-kata yang diucapkan Naeun tersembunyi sebuah kata yang muncul dari hatinya, Keparat! Aku tak sudi mengatakan hal ini kalau bukan karena kau memaksaku untuk berpacaran denganmu, Kim Jongwoon!

Selain itu, Myungsoo yang mendengar perbincangan mereka berdua hanya bisa terkikik kecil dibalik pohon. “Dasar Son Naeun, gadis itu memang penjilat. Ada saja maunya. Lihat saja nanti, aku akan mencegah segalanya.”

“Ayo, chagi! Waktunya kita pulang dan bertemu kakakmu tercinta!”

Bajingan! Dongwoon oppa sudah meninggal! Ini semua karenamu, brengsek! Kalau saja aku mengetahui penyakitnya yang dikarenakan dirimu sering menendang kakakku, ujar Naeun dalam hati. Walaupun begitu ia harus tetap tersenyum. Dimana Myungsoo? Kenapa ia belum muncul juga? Bisa sial aku, kalau aku harus meneruskan drama sialan ini!

Tepat saat itu, orang yang ditunggu-tunggu oleh Naeun dengan langkah ringan mendekati sepasang kekasih ‘palsu’ itu.  Myungsoo tersenyum ke arah Naeun, lalu ke arah kakaknya. Kakaknya menatapnya heran.

“Naeun? Bukankah kita sudah janjian akan pulang bersama?”

Naeun berpura-pura menatapnya heran. “Pulang bersama? Janji? Pernahkah kita?”

“Tentu! Tadi pagi saat kita berdua sedang berjalan menuju kelas. Apa kau tidak ingat? Aku juga mengatakan padamu, kalau aku akan mengajakmu ke tempat romantis!” kata Myungsoo sambil menahan tawanya. Ia berusaha untuk tetap ‘kalem’ di hadapan kakaknya. Myungsoo tidak mau rencana Naeun gagal.

Naeun berakting seakan-akan ia tampak berpikir. Kemudian ia menjentikkan jarinya. “Ah ya! Aku baru ingat. Tapi aku akan pulang bersama Jongwoon oppa. Bagaimana?”

“Ah, kan tadi pagi, kau sudah janji padaku.”

“Tapi, aku harus pulang bersama Jongwoon oppa.”

“Janji tidak bisa diingkari.”

“Lain kali saja?”

“Yah, mengecewakan benar.”

Naeun tak kuat menahan tawanya sebelum akhirnya Jongwoon menghela nafas panjang. “Son Naeun! Sudahlah, pulang saja sama brengsek kecil ini!” kata Jongwoon lalu ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat.

Kedua orang yang ditinggalkan oleh Jongwoon segera tertawa puas. Naeun tak bisa menahan tawanya, kini tawanya benar-benar meledak. “Aduh! Sunbaenim benar-benar jago!” kata Naeun sambil terus tertawa. “Sebaiknya kita masuk jurusan teater saja!”

**

Setelah kejadian itu, Jongwoon benar-benar kesal. Kemudian ia ingin Naeun menemuinya, dengan senang hati Naeun memenuhi keinginan Jongwoon. Mereka bertemu di rumah Jongwoon alias rumah Myungsoo juga. Kebetulan, disana ada Myungsoo yang tengah nonton televisi di ruang tengah. Son Yejin? Ia sedang istirahat di rumahnya karena masih terpukul akibat kehilangan Dongwoon.

Naeun segera melangkah masuk ke dalam rumah Myungsoo setelah Myungsoo membukakan pintu untuknya. Myungsoo memberikan jempol ke arah Naeun. “Fighting! Putuskan saja dia!” Kata Myungsoo sambil berbisik. Naeun menganggukkan kepalanya.

Di ruang tengah, sudah ada Jongwoon yang menunggu kehadiran Naeun. Myungsoo pun segera pergi meninggalkan mereka berdua, lalu naik ke lantai dua dan berdiri di dekat balkon untuk mendengarkan pertengkaran hebat antara Naeun dan kakaknya.

Myungso yakin Naeun akan memenangkan telak perdebatan itu. Toh, ia juga pernah berdebat dengan Naeun, nyatanya Naeun menang telak. Justru, Myungsoo menyebarkan foto yang tidak senonoh antara Naeun dengan Taemin. Entah, sudah kemana laki-laki itu setelah kabar kedekatannya dengan Naeun.

“Son Naeun.”

Naeun menatap Jongwoon. “Ada apa?”

“Sebenarnya kau ingin kakakmu dalam masalah lagi?”

“Justru, seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau menginginkan dirimu dalam masalah dengan kakakku?”

“Kau gila? Kakakmu bahkan akhir-akhir ini tidak pernah mengikuti kuliah lagi! Apa kau sudah jatuh miskin? Sampai-sampai kakakmu tidak bisa kuliah? Hah? Hah?” tanya Jongwoon. Naeun sudah mengepalkan tangannya, namun ia menahannya. “Ada apa? Kakakmu mati? Ha?”

Naeun bangkit dari tempatnya duduk lalu tangannya menampar pipi Jongwoon.

PLAK!

**

“Howon oppa, apa benar kau tidak marah padaku?”

“Untuk?”

Eunji menggelengkan kepalanya kemudian ia meminum jus jeruknya. “Hanya saja aku merasa bersalah padamu karena sering mengikutimu kemana-mana.” Jelas Eunji. Howon menggelengkan kepalanya kemudian ia tersenyum pada Eunji.

“Lanjutkan saja hobi mu dalam fotografi. Foto-fotomu memang sangat bagus.”

**

“Kau?!”

“Kenapa? Apa kau tidak tahu? Kakakku sudah meninggal, keparat!!! Puas kau, bajingan?! Setelah apa yang kau lakukan pada kakakku. Puas kau? Brengsek! Laki-laki sialan! Aku membencimu! Asal kau tahu, aku berpacaran denganmu hanya karena aku ingin melindungi kakakku! Bukannya melindungi, kakaku justru meninggal!”

Naeun kemudian menampar pipi Jongwoon lagi menggunakan tasnya. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Jongwoon disana. Sendirian. Menatap Naeun tidak percaya. Myungsoo tersenyum senang setelah menyaksikan hal itu.

Namun, bukannya berterimakasih pada Myungsoo, Naeun benar-benar menghilang dari sekolah. Ia tidak pernah muncul lagi. Masuk sekolah lagi. Semua murid bertanya-tanya tentang dirinya. Tak ada yang tahu keberadaannya. Termasuk sahabatnya sekalipun, Jung Eunji.

Kim Myungsoo, laki-laki itu mengunjungi rumah Naeun, namun rumah itu hanya kosong. Tak ada siapapun disana. Benar-benar kosong. Myungsoo mengeluh kesal. Kemudian ia hanya bisa menatap rumah itu sedih. Baru kali ini, dia benar-benar merasa sedih kehilangan seorang perempuan. “Sepertinya aku menyukaimu, Son Naeun.”

**

Entah, ini sudah ke berapa kalinya Myungsoo mengantar Naeun ke sekolah. Entah kenapa juga, ‘fans gila’ Kim Myungsoo akhir-akhir ini tidak pernah lagi mengerumuni Kim Myungsoo. Mungkin juga karena guru-guru yang sudah memasang peraturan baru yang sebenarnya konyol.

DILARANG MENGERUMUNI MURID YANG BERNAMA KIM MYUNGSOO, LEE HOWON, DAN NAM WOOHYUN. SANKSI: DIKELUARKAN DARI SEKOLAH.

Atau juga, Ayah dari Lee Howon yang menyuruh Hankeum High School memasang peraturan itu karena terakhir kali Howon digrepe-grepe sama murid perempuan setingkatan yang sangat mengidolakan Howon. Ya, namanya juga fans. Ngomong-ngomong tentang Lee Howon, hari ini dia tidak masuk ke sekolah dan tidak ada yang tahu penyebabnya. Hanya 3 orang yang tahu. Kenapa 3 bukan 2? Bukankah Kim Myungsoo dan Nam Woohyun itu hanya dua orang? Ya, Jung Eunji tentunya.

Darimana gadis itu tahu? Entahlah, dia menjadi sahabat Lee Howon akhir-akhir ini. Kini gadis itu juga ikutan tidak masuk sekolah karena menjenguk Lee Howon yang berada di rumah sakit. Katanya sih, Howon sakit DBD. Coba kita lihat,

Tok Tok Tok

“Masuk.”

Jung Eunji melangkah masuk ke dalam kamar rawat Howon. Ia melihat laki-laki itu tengah terbaring lemah. Wajahnya tampak pucat, juga bibirnya. Kemudian Eunji tersenyum kecil ke arah Howon, Howon ikut membalas senyuman Eunji.

“Apa itu?”

Howon menunjuk tas yang dibawa Eunji, Eunji ikut menoleh ke arah tasnya kemudian ia mengangkatnya. “Ini?” Howon mengangguk. “Kamera dan tentu saja buah-buahan.” kata Eunji sambil tersenyum lebar. Gadis itu kemudian meletakkan tasnya diatas meja lalu mengeluarkan buah-buahan yang dibawanya. Ia memasukkan buah-buahan itu satu-persatu kedalam keranjang yang ada disana. Kemudian ia mengeluarkan kameranya.

“Ada yang berbeda?”

Eunji menganggukkan kepalanya. “Aku baru saja membeli lensa yang lebih pendek. Lensa yang panjang aku simpan di rumah. Oh ya, Eomma titip salam untukmu.”

“Ibumu?”

Eunji menganggukkan kepalanya lagi. “Ada apa? Ada yang salah?” tanya Eunji sambil menatap Howon heran. Howon menggelengkan kepalanya dengan cepat. Eunji tersenyum lalu ia duduk di kursi yang berada disamping tempat tidur Howon. Lalu ia menatap kameranya.

“Ada apa?” kini giliran Howon yang bertanya pada Eunji.

Eunji menggelengkan kepalanya. “Aku rasa aku akan berhenti memotret dirimu.”

“Kenapa?” tanya Howon cepat. Rasa ingin tahunya menjadi besar ketika Eunji mengatakan hal itu. Eunji tersenyum lalu menyalakan kameranya.

“Hanya saja-.”

“Ada apa?”

“Aku merasa tidak enak padamu, sunbaenim.”

Howon terdiam. Pertama kalinya Eunji sehormat itu padanya. Padahal Eunji tidak pernah mengucapkan kata sunbaenim kepada Howon. Eunji selalu memanggilnya ‘Howon Oppa’. Howon berpikir sejenak. Akhirnya ia meraih pergelangan tangan Eunji. Eunji mengangkat kepalanya menatap Howon.

Chu~

**

“Son Naeun?”

Naeun membalikkan tubuhnya lalu menatap Myungsoo yang berada dibelakangnya. “Hm?”

“Apa kau baik-baik saja?”

“Hm.”

“Sejak kematian kakakmu, kau tidak merasa kesepian?”

“Hm.”

“Apa jawabanmu hanya ‘hm’ saja?”

Naeun berhenti kemudian ia membalikkan tubuhnya menatap Myungsoo. “Aku baik-baik saja, sunbaenim. Aku tidak merasa kesepian. Dan jawabanku bukan hanya ‘hm’ saja. Apa itu cukup?” tanya Naeun. Myungsoo terdiam sejenak, kemudian ia melangkah mendahului Naeun. Namun Naeun hanya diam di tempat.

Myungsoo membalikkan tubuhnya. “Ada apa?”

Ani. Ayo, lanjutkan saja.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya mengerti kemudian ia melangkah lagi. Naeun melangkah di belakangnya. Tak lama kemudian Myungsoo berhenti lagi, Naeun yang berdiri tepat di belakangnya akhirnya ikut berhenti. Kemudian Myungsoo membalikkan tubuhnya.

“Ada apa lagi?”

Myungsoo melangkah mendekati Naeun kemudian ia meraih pergelangan tangan Naeun.

Chu~

**

Sunbaenim?”

Hanya perkataan itu yang dapat keluar dari bibir Eunji setelah kecupan bibir Howon membuat bibirnya beku. Howon hanya tersenyum kecil ke arah Eunji kemudian ia menepuk kepala Eunji. “Pulanglah.” katanya. “Terimakasih sudah menjengukku.”

Eunji hanya mengangguk pelan. Televisi yang diputar Howon daritadi hanya terus bergerak tanpa suara bagaikan saksi bisu dari kecupan bibir antara mereka berdua. Vas yang berisi bunga itu masih tampak segar begoyang-goyang pelan karena tiupan AC dari kamar Howon.

“Pulanglah.”

Kamera yang dipegangnya rasanya ingin jatuh. Namun, dengan cepat ia mengeratkan tangannya pada kamera itu. Kemudian ia memasukkannya ke dalam tas. Lalu, ia melangkah keluar dari kamar Howon tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

**

Sunbaenim?”

Ciuman itu terasa cepat. Naeun dan Myungsoo hanya bisa bertatap-tatapan. Myungsoo akhirnya memberikan senyuman terindahnya. Lalu ia mengelus pelan kepala Naeun. Naeun hanya bisa diam menatap kedua matanya. Jalan yang sepi itu terasa sangat sepi sejak keheningan diantara mereka terus terjadi.

“Naeun?”

Naeun tersadar dari lamunannya kemudian ia menatap kembali menatap Myungsoo. “Ayo kita pulang.”

Mianhae.”

“Untuk?”

“Untuk tadi.”

“Lupakan saja.” jawab Naeun tegas. Kemudian ia melangkah mendahului Myungsoo. Langkahnya kini lebih cepat daripada tadi. Ia merasa bahwa tidak seharusnya ia menerima ciuman dari Myungsoo. Tapi, ia tidak bisa menolaknya. Ciuman itu bagaikan menghipnotis dirinya untuk diam.

Gadis itu kini hanya bisa menyentuh bibirnya pelan sambil membayangkan ciuman tadi. Ahkenapa aku jadi memikirkan hal itu?

**

Sesampainya di rumah, Eunji segera merebahkan tubuhnya. Ia kembali teringat akan ciumannya dengan Lee Howon. Kemudian ia menyentuh bibirnya. Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Dilihatnya layar ponselnya yang tertera nama ‘Son Naeun‘ disana.

“Eoh, ada apa, Naeun-ah?” kata Eunji sambil meletakkan kameranya kedalam sebuah kotak gelas bening. Lalu ia menutupnya rapat-rapat. “Apa katamu? Ke rumahmu? Ya! Ini sudah jam 5, kau saja yang ke rumahku!” teriak Eunji kesal. Terdengar keluhan di ujung telepon.

Pemandangan langit sore itu membuat Eunji menolehkan kepalanya ke arah jendela. Kemudian ia menatap langit itu. “Ya, kutunggu. Jangan ambil gang sepi!” kata Eunji sambil menutup jendelanya. “Ne.” katanya lagi lalu ia memutus sambungan telepon itu.

**

Naeun mengambil baju-baju yang diperlukannya, juga seragamnya. Berhubung ibu dan ayahnya tidak akan pulang sampai seminggu, ia akan menginap di rumah Eunji. Orang tua Eunji yang sudah kenal dengan Naeun tentu saja membuka pintu lebar untuk Naeun datang kapan saja. Keluarga Eunji yang kaya raya itu membuat Naeun senang tentunya.

Setelah selesai mengepak barang-barang yang dibutuhkannya, ia menarik kopernya keluar dari rumahnya. Ia segera mengunci rumahnya lalu pagar rumahnya. Saat ia sudah melangkah bersama kopernya, ponselnya bergetar lagi. “Aish! Eunji!” Ia melihat ke arah layar ponselnya, Eomma.

Eomma? Ada apa? Aku baru saja akan berangkat ke rumah Eunji.” kata Naeun. Ia menunggu jawaban dari ibunya. Namun, setelah mendengar jawaban itu ia langsung jatuh dari tempatnya berdiri. Pandangannya kosong. Kopernya ia biarkan ikut terjatuh bersamanya.

“Naeun!!”

Teriakkan itu berasal dari arah belakang Naeun. Dengan cepat laki-laki itu mendorong tubuh Naeun ke arah dinding sebelum sebuah mobil menabraknya. Laki-laki itu Kim Myungsoo.

“Naeun!!”

Naeun masih terdiam dengan pandangan kosong. Tiba-tiba saja air matanya mengalir deras. Lalu, ia jatuh pingsan di pelukan Myungsoo. Myungsoo tidak mengerti, akhirnya ia mengambil ponsel Naeun lalu berbicara dengan Ibu Naeun. Setelah mendengar maksud Ibu Naeun, kini ia mengerti mengapa Naeun seperti itu.

Dipandangnya gadis itu dalam. Ia mengerti bagaimana rasanya itu.

Ia menggendong gadis itu lalu memasukkannya ke dalam mobilnya.

Ia juga memasukkan koper Naeun ke dalam mobilnya.

Ia mengelus kepala gadis itu.

Son Naeun.

Gadis itu.

Memang tampak dingin di depan, namun perasaannya kini sedang terluka.

Ayahnya baru saja meninggal karena kecelakaan.

**

“Naeun-ah?”

Naeun mengangkat kepalanya kemudian ia menatap bukunya yang basah karena air matanya. Lalu ia menatap Guru Jung yang menatapnya iba. “Jika kau belum kuat masuk sekolah, maka di rumahlah dulu. Aku tahu kematian kakakmu dan ayahmu pasti membuatmu sedih.”

Semua murid yang berada di kelas itu hanya bisa diam menatap Naeun. Entah itu kesialan yang didapat Naeun atau itu memang takdir yang sudah ditentukan. Jung Eunji sudah berkali-kali menyuruh Naeun untuk izin dulu beberapa hari sampai rasa sakitnya hilang. Namun, gadis itu menolak.

“Tidak apa-apa. Maafkan aku, Guru Jung. Kau bisa melanjutkannya tanpa memperhatikanku, aku akan duduk disini memperhatikanmu. Aku masih kuat.”

Guru Jung hanya bisa menghela nafas panjang menatap gadis yang sok jagoan itu. Gadis itu memang tampak dingin dan tampak kuat, namun sebenarnya luka di hatinya sangat dalam hingga membuat kedinginan dan kekuatannya menghilang begitu saja.

“Dasar keras kepala.”

Ujaran itu muncul dari bibir Kim Myungsoo yang baru saja dari kamar mandi dan kebetulan menyaksikan kejadian itu. Lelaki itu hanya bisa menggeleng pelan dan melangkah pergi sebelum ia tertangkap basah oleh seorang guru karena malah mampir di kelas hoobae.

**

“Son Naeun, mau sekolah tidak?” tanya Myungsoo untuk ketiga kalinya setelah melihat Naeun yang malas-malasan menggunakan sepatunya. Myungsoo akhirnya mendekati Naeun lalu memakaikan sepatu Naeun. Myungsoo tersenyum kemudian ia mengelus pelan kepala Naeun. “Kalau kau tidak kuat sekolah, ayo kita bolos hari ini.” kata Myungsoo tersenyum.

Aniyosunbaenim sekolah saja. Aku akan di rumah.”

“Baiklah, istirahatlah di rumah.”

Myungsoo bangkit lalu berbalik. Namun, pergelangan tangannya tertahan. Ia membalikkan tubuhnya menatap Naeun yang tengah menahannya. Wajahnya tampak sedih. Lebih tepatnya seperti tidak ingin kehilangan. Myungsoo menatap Naeun bingung. “Ada apa?”

“Bisakah sebentar lagi?”

“Ada apa?”

Naeun akhirnya bangkit dari tempat ia duduk sebelumnya. Kemudian ia melepaskan genggaman tangannya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Myungsoo. Ia menutup kedua kelopak matanya dan mencium bibir Myungsoo pelan. Myungsoo terkejut, ia bahkan tidak dapat menutup ke dua matanya. Tak lama kemudian, air mata Naeun mengalir begitu saja, membasahi pipinya.

Ciuman itu ia hentikan. Ia membuka kedua matanya, kemudian ia menatap Myungsoo dalam. “Aku menyukaimu, sunbaenim.” Ujarnya pelan.

**

Ciuman itu memang yang pertama dan mungkin yang terakhir. Karena sejak hari itu, Son Naeun tidak pernah datang ke sekolah. Jika ditanya, semua murid hanya bisa mengangkat bahunya. Hanya Jung Eunji yang tahu kemana Naeun. Namun, Naeun meminta Eunji untuk merahasiakannya dari siapapun.

“Hei! Hei! Hei!”

Minah memasuki kelas itu sambil berteriak-teriak kegirangan. Murid kelas 2-2 langsung mengerumuni Minah, termasuk Eunji. Kini setelah kepergian Naeun, Eunji berteman dengan semua murid. Ya, tidak ada cara lain. Howon? Oh, dia belum menemui laki-laki itu sejak hari dimana ia berciuman dengan Howon.

“Ada apa?” ujar murid-murid kelas 2-2. Mereka tampak penasaran dengan perkataan Minah. Minah memang ratunya dari segala gossip. Dan semua gossip yang ia ceritakan itu benar.

“Aku mendengar dari Guru Jung bahwa Naeun pindah ke luar negeri!”

“Apa?!!”

“Tidak mungkin! Dia kan anak orang kurang mampu!”

“Yaampun, Minah! Dia dengar darimana? Mungkin saja!”

“Minah, kau bercanda?!”

Sialan! Kalau begini, semuanya akan terbongkar.”

Perkataan terakhir itu muncul dari bibir Eunji. Namun semua murid kelas 2-2 itu langsung diam ketika Minah kembali memukul-mukul meja. Pasti ia punya berita lain.

“Sejak kepergian Naeun, Myungsoo sunbaenim tampak killer kembali!! Kita harus waspada!” ujar Minah sambil menampakkan ekspresi ketakutan. “Dan kalian tahu kenapa sejak kepergian Naeun? Karena kudengar, Myungsoo sunbaenim menyukai Naeun!!!”

“APA?!”

Tentu saja satu sekolah langsung heboh. Laki-laki yang tengah dibicarakan itu kini tengah tertidur pulas dengan headphone nya yang memutar lagu di pojok ruang perpustakaan. Kim Myungsoo, kini rasanya ia sedang sakit hati. Sakit hati karena ditinggalkan Son Naeun. Terutama, pertemuan terakhirnya dengan Naeun, ia belum sempat membalas perasaan Naeun.

**

“Jung Eunji!”

Jung Eunji, gadis itu terus menghindar dari laki-laki itu, Lee Howon. Lee Howon terus mengejarnya seharian itu. Entah itu di kantin atau dimanapun. Murid-murid hanya menganggap biasa-biasa saja, karena mereka beranggapan bahwa Jung Eunji pasti punya masalah dengan Lee Howon dan mereka yakin sebentar lagi Lee Howon akan menendang keluar gadis itu.

Namun kenyataannya salah, Lee Howon, laki-laki itu kini tengah mengejar gadis yang disukainya. Apa? Mencintai seorang Jung Eunji? Bukankah itu aneh? Tidak! Tentu saja tidak, sampai kapanpun, Lee Howon akan mengejar Jung Eunji.

Akhirnya Eunji menemukan jalan buntu, dan ia tidak dapat berbuat apapun. Ia menatap Howon yang berjalan mendekatinya. Howon tampak terengah-engah. “Kau gadis macam apa? Cepat sekali larimu!”

“Ada apa, sunbaenim?” tanya Eunji akhirnya.

Howon tampak masih terengah-engah karena lelah mengejar Eunji. “Kenapa kau te-.” Howon terdiam sejenak kemudian ia mengatur nafasnya. Setelah kelelahannya hilang, ia menatap Eunji dalam. “Kenapa kau terus menghindariku?” tanya Howon. “Apa aku ini monster?” tanyanya lalu ia mendekati Eunji.

Eunji yang sudah terpojok di tembok tidak bisa mundur lagi. Tangan Howon menempel di dinding, wajahnya semakin dekat dengan Eunji. Eunji tampak ketakutan. “Jawab.” kata Howon.

Dengan cepat Eunji menggelengkan kepalanya. “Ani, hanya saja aku merasa aku takut jika kau harus berhadapan denganku, sunbaenim.” kata Eunji akhirnya – berbohong.

“Aku menyukaimu.”

Ne?”

“Aku menyukaimu, bodoh!”

Eunji terdiam kemudian ia menatap Howon yang sudah mendekatkan wajahnya. Akhirnya ia menghindari ciuman Howon. Howon terkejut. “Ada apa? Sebelumnya kau tidak menolaknya?” tanya Howon.

Aniyo, kita bisa melakukannya di tempat lain.”

“Jadi? Kau menerimaku?”

Tentu saja Eunji mengangguk pelan.

**

“Hoi, Kim Myungsoo!”

Myungsoo terbangun dari tidur lelapnya itu. Kemudian ia melepaskan headphone-nya dari telinganya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Howon dan disana ada Eunji juga. Perempuan yang dicarinya selama ini, namun selalu menghindar dari Myungsoo.

“Akhirnya aku bertemu denganmu, Jung Eunji. Dimana Son Naeun?”

“Beritahu saja, dia sudah seperti orang frustasi karena kehilangan Son Naeun. Aku barutahu kalau dia menyukai sahabatmu itu.” bisik Howon kepada Eunji. Akhirnya Eunji menganggukkan kepalanya.

“Sebenarnya Naeun tidak ingin kau mengetahuinya.”

“Kenapa?”

“Ia membencimu.”

“Apa?”

 

To be Continued

**

 

Jangan lupa komentar dan like, okay? Hehe. Pasti pada penasaran kan kelanjutannya?
Pokoknya terus ditunggu ya! Dan aku pasti akan mengepostnya akhir bulan ini atau awal bulan depan, karena awal Desember aku ada UAS. Doain ya!^___^

Dan untuk part selanjutnya? Masih rahasia.

 

 

20 thoughts on “[Chapter 5] Hard to Love

  1. huaaaa sedih banget ,sampai nangis bacanya 😥 waktu ayahnya naeun meninggal :-(..

    akhirnya howon dengan eunji jadian juga 😀

    Lho bukanya Naeun bilang sma myungsoo kalau dia menyukainya ???
    tpi kenpa ktnya eunji Naeun sangt membencinya??

    ini masih misteri ..

    Lanjut thor jngan lama” ya 🙂
    faighting Buat FFnya 😀

  2. Loh kok masih benci sih sama myungsoo 😦 tapi gapapa deh kalo ga kayak gitu juga ga seru ..

    Wahh pokoknya keren thor bikin penasaran.. can’t wait to next part 😀 Fighting Author !!

  3. baru baca masa. cerita nya bagus banget T^T
    naeun nya aku suka banget, soalnya di fanfic lain biasanya naeun dibuat lemah gitu deh heheh
    nice story and update soon~

  4. yah, kok sedih sih thor..
    kayaknya Naeun cuma mainin Myungsoo ya, yg bilang dia suka sama nyium Myungsoo.. huaa, sedih dah gue Myungsoo digituin..
    lanjut dah thor, cepet update yaa, udah penasaran banget 😀

  5. Kok Naeun benci L 😮 sebenarnya yg bener yg mana nih ? Suka atau Benci ?? HoJi chukkaeyo~ gak bisa ngebayangin berada diposisi Naeun kehilangan oppa ama appa 😥 ditunggu next partnya thor good luck^^)b

  6. Huh part ini macam roller coaster. Ada sedih,ada romantisnya,ada keselnya. Part ini jauh lebih baik dari yg sebelumnya. Cuma pas bagian scene minah dialognya kurang jelas

  7. HAAA APAPAAN SIH KOK NAEUN JD BENCI SM MYUNGSOO? apa jgn2 naeun beneran ngejalanin rencana awalnya? Dia cuma mau putus dr kingston,permainin perasaan myungsoo aja trus abis itu dia ngejauh dr myungsoo? Plisss jgn T.T

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s