Volere [2nd]

volere

Volere

by

ellenmchle

Main Cast: f(x)’s Krystal – Jung Soojung & EXO’s Kai – Kim Jongin // Support Cast: Some members of f(x) & EXO // Genre: Romance, Life & (lil bit) Comedy // Length: Chaptered // Rating: PG-15 // Disclaimer: Inspired by Vision in White (2009) & When in Rome (2010) // Big thanks to Lyri for the awesome poster.

                                                                                                                                     

Did you ever wish for the impossible?

Prologue | 1st | 2nd |

§

Soojung memeriksa ruangan demi ruangan, menyingkir sedikit agar tidak menghalangi Jinri dan anak buahnya saat mereka bergegas memenuhi ruangan dengan bunga-bunga, pita-pita dan kain-kain. Ia kemudian memotret kue pengantin yang sudah dipoles Victoria dengan sangat baik, penataan Jinri dan juga membingkai yang lainnya dalam kepala.

“Pernikahan ini pasti akan jadi pernikahan yang indah.” Soojung tersenyum sambil mengecek kembali hasil jepretannya.

“Pasti. Jalanan sudah mulai bersih dari salju, cuaca bagus. Pengantin wanita sudah bangun, sarapan dan dipijat. Pengantin pria sudah berolahraga. Semua pelayan sudah diabsen,” Amber memeriksa jam tangannya. “Jangan lupa pasang headset-mu!”

“Aku tidak akan lupa, Amber,” jawab Soojung kemudian memutar kedua bola matanya dan pergi meninggalkan Amber.

Amber memang tomboy tapi kadang Soojung tidak setuju dengan sebutan itu karena Amber sangat cerewet. Melebihi kecerewatan ibunya sendiri.

Bicara soal ibu, sebenarnya Soojung sudah berpisah dengan ibunya saat ia berusia sebelas tahun. Bukan karena kematian. Ibu dan ayahnya memilih untuk bercerai saat itu dan Soojung tidak akan mungkin mau ikut dengan ibunya karena ibunya akan segera menikahi laki-laki lain. Soojung lebih memilih tinggal bersama ayahnya walaupun pada akhirnya ia memilih untuk meninggalkan ayahnya juga dan memutuskan untuk hidup seorang diri. Saat menginjak usia dua puluh tahun ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dan Soojung tidak akan pernah bisa menerima kehadiran seorang ibu tiri. Sebaik apapun wanita itu, secantik apapun wanita itu, sepandai apapun wanita itu, bagi Soojung tetap tidak ada yang namanya ibu tiri dalam kamus kehidupannya.

“Soojung! Pengantin wanita sudah datang.”

“Oke.”

Soojung segera berlari menuju pintu utama. Begitu mendapati Sunye—si pengantin wanita—dan ibunya, ia memperbesar gambar di layar kameranya, mengubah-ubah bukaan lensa. “Sunye eonnie!”

Sunye melihat ke arah Soojung. Raut kaget berubah menjadi raut ceria saat ia tahu bahwa Soojung sengaja memotret kedatangannya dengan mengejutkannya agar ia melihat tepat ke arah kamera. Sunye akhirnya tersenyum dan membuat gambar-gambar yang diambil Soojung semakin sempurna.

Dan itu—pikir Soojung saat menjepret momen tersebut—adalah awal perjalanan ini.

 

 

§

Dua penata rambut terlihat bekerja keras dengan peralatan dan keahlian mereka, mengeriting, meluruskan, menata sementara yang lainnya berkutat dengan warna-warna dan wadah-wadah. Soojung yang melintasi ruangan itu pun tidak ingin melewatkan pemandangan di dalam sana dan segera mengabadikannya dengan kamera. Feminin sekali—batin Soojung.

Berbeda sekali dengan ibu Sunye yang tampak tidak senang dengan penataan rambut putrinya.

“Kau memiliki rambut yang indah. Tidakkah kau pikir lebih baik kau gerai saja? Setidaknya sebagian. Mungkin—“

Eomma, sudahlah. Kata penata rambut memang lebih bagus jika diangkat seperti ini.”

Ladies!” Amber mendorong kereta champagne beserta buah-buahan. “Para pria sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Sunye eonnie, rambutmu cantik sekali. Sangat cocok denganmu.” pujinya kemudian menuangkan champagne ke gelas anggur yang tinggi dan menawarkannya pada Sunye.

Ibu Sunye tampak tidak senang namun sebelum ia mengeluarkan pendapatnya lagi, Amber dengan segera mengajaknya untuk berkeliling dan mengecek beberapa ruangan yang sudah siap.

“Untunglah ada Amber,” Sunye terlihat lega sudah terbebas dari ibunya.

Selama satu jam berikutnya, Soojung sibuk membagi waktu di antara kamar pengantin wanita dan kamar pengantin pria. Ia memotret segalanya yang ada di ruangan itu, mulai dari sebelum berpakain gaun dan tuxedo sampai keduanya sudah benar-benar siap.

Sunye terlihat sangat anggun dalam balutan gaun berwarna putih yang memamerkan keindahan punggungnya begitu juga dengan James Park yang terlihat gagah dengan tuxedo-nya. Pasangan yang sangat serasi.

“Soojung! Aku perlu pengantin pria dan pengiringnya di bawah. Sekarang! Kita sudah terlambat beberapa menit,” perintah Amber lewat headset-nya.

“Astaga!”

“Tamu-tamu sudah tiba. Pengantin pria dan para pengiring pengantin pria ambil posisi. Jinri, cepat kumpulkan gadis-gadis pengiring pengantin wanita.” lanjut Amber beberapa saat kemudian.

“Oke,” jawaban serentak dari Soojung, Jinri dan Victoria.

Soojung menyelinap untuk berdiri di dasar tangga saat Jinri sedang mengatur para pengiring pengantin wanita.

OMG! Aku bisa melihat dengan jelas 2PM Nichkhun dari sini! Victoria eonnie! Apa kau melihatnya juga?” Soojung masih sempat-sempat berbisik lewat headset-nya.

Oh God! Ini seperti lautan para artis!” timpal Jinri melupakan tugasnya sejenak.

“Aku melihatnya, aku melihatnya! Sungguh tampan! Apa kalian juga melihat JYP? Aku tidak menyangka dia terlihat lebih tua jika dilihat langsung seperti ini.” Victoria ikut memandangi tamu-tamu yang hadir.

“YA! Kalian ingin mengacaukan pesta ini?! Soojung, cepat perintahkan rombongan pemain musiknya!” Amber seakan ingin membanting headset-nya mendengar gosipan sahabat-sahabatnya itu.

“Oke oke!”

“Rombongan siap. Mainkan musiknya.”

“Mulai prosesinya.”

 

§

Jongin terlihat acuh tak acuh mendengarkan pembicaraan antara saudara angkat dan ayahnya. Sesekali ia mengetukkan jari telunjuknya ke gagang kursi yang sedikit menimbulkan kebisingan.

“Jadi Jongin, aku harap kau bersedia menjadi pen—“

“Tidak! Aku tidak mau!” tegas Jongin tanpa menghiraukan ayahnya yang sedari tadi menatapnya dengan amarah.

“Kim Jongin!”

“Sudahlah, ini bukan masalah besar. Jika Jongin memang tidak bersedia menjadi pendampingku setidaknya ia bisa hadir sebagai tamu kehormatan di pernikahanku nanti.”

“Aku tidak bilang akan menghadiri pernikahanmu,” dengan entengnya Jongin menjawab.

Jongin muak dengan keadaan seperti ini. Hwang Jongkook yang akan menikah kenapa malah keluarganya yang repot? Mereka memang berstatus saudara tapi Jongkook bukan saudara kandungnya. Jongkook hanya dipungut oleh adik perempuan ayahnya yang saat itu meyandang status janda. Meskipun kini bibi Jongin telah meninggal dan Jongkook tidak memiliki siapapun yang bisa disebut keluarga selain keluarga Jongin tetap saja Jongin tidak pernah suka dengan Jongkook yang dianggapnya pembawa sial.

Pembawa sial dalam kamus Jongin adalah karena Jongkook pernah membuat Jongin diputuskan kekasihnya, membuat Jongin terpeleset dan tercebur ke dalam selokan dekat sekolah, membuat Jongin kehilangan harga diri karena ia pernah dengan tidak sengaja menarik celana olahraga Jongin dan membuat Jongin harus menahan malu karena pakaian dalam bergambar spongebob miliknya harus terpublikasikan di depan murid-murid lainnya dan terakhir yang paling tidak bisa Jongin tolerir adalah ketika Jongkook membeberkan kebiasaan Jongin yang suka bercermin sehabis mandi sambil berkata “Aku terlihat tampan dan gagah” pada gadis-gadis yang selalu memuja Jongin.  Bagi Jongin, Jongkook merupakan bencana besar dalam hidupnya.

“Ya, Jongin-ah. Jangan bersikap seperti remaja lagi. Lupakanlah masa lalu. Kita sudah dewasa,” Jongkook seakan bisa membaca pikiran Jongin yang masih menaruh dendam padanya.

“Sudahlah, Jongkook. Tidak ada gunanya berbicara dengan bocah yang otaknya hanya dipenuhi gadis-gadis cantik ini! Aku sudah lapar, kita makan siang saja,” Tuan Kim angkat tangan.

Setelah memastikan Tuan Kim benar-benar sudah keluar dari ruangan dengan setengah bercanda dan menggoda Jongkook melirik Jongin, “Kau akan menyesal jika tidak hadir. Akan ada banyak sekali gadis-gadis sexy yang menari dan menyanyi dengan pakaian yang ketat.”

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

“Akan aku pertimbangkan,” pendirian Jongin akhirnya goyah.

Mungkin hanya ada satu kata yang cocok untuk menggambarkan raut wajah Jongkook dan Jongin saat itu. MESUM.

 

§

Soojung terduduk di kursi aula yang masih belum sempat dibersihkan setelah pesta pernikahan kliennya seraya menikmati segelas wine. Ini sudah menjadi kebiasaan Soojung. Baginya mengingat kembali suasana pernikahan yang baru saja berlalu seakan bisa membantu menenangkan pikirannya setelah bekerja keras sepanjang hari.

“Aku rasa sudah saatnya,” entah sejak kapan Jinri sudah hadir di sana dengan segelas wine juga di tangannya.

“Tidak sekarang. Aku masih ingin di sini sebentar. Jika kalian ingin pulang, pulanglah.”

“Bukan itu maksudku!”

“Lalu?”

Jinri meletakkan gelas wine-nya di kursi sebelah. Ia menatap Soojung dengan serius mungkin lebih serius daripada saat ia mengerjakan soal-soal ujian kelulusan saat masih sekolah.

“Sudah saatnya aku makan? Aku sudah makan. Jangan khawatir, aku tidak akan pingsan lagi karena lupa—“

“Bisakah kau serius untuk sekali saja?” Jinri mulai kesal.

“Aku selalu serius mengerjakan pekerjaanku dan—“

“Soojung-ah, Victoria eonnie akan menikah awal tahun depan, aku sudah dilamar dan Amber yang tomboy saja sudah bertunangan.” Jinri seakan-akan berubah menjadi seorang ibu yang hendak menasihati anak perempuannya.

“Aku tahu,” Soojung merasa tidak perlu diingatkan karena ia pasti akan mencarikan kado pernikahan terbaik dan kalau mampu mungkin juga yang termahal untuk sahabat-sahabatnya itu jika kelak mereka menuju pelaminan.

“Aku rasa sudah saatnya kau mencari atau setidaknya berusaha untuk tidak menutup diri dari mereka yang ingin mendekatimu. Aku tidak ingin sahabatku ada yang menjadi perawan tua.” Jinri tidak bergurau. Ia benar-benar serius mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Jangan menyumpahiku, bodoh!” canda Soojung.

“Aku serius! Kau tahu ada saatnya kita menomor duakan pekerjaan. Jika kau terus menempatkan pekerjaan di atas segala-galanya dalam hidupmu pada akhirnya kau akan hidup seorang diri tanpa teman di masa-masa tuamu. Well, mungkin aku, Amber dan Victoria eonnie bisa tetap menemanimu saat kau sudah menjadi nenek renta tapi kehadiran kami tidak akan pernah bisa menggantikan posisi seorang suami, pasangan hidupmu.”

Sepertinya Jinri melakukan tugasnya dengan baik karena Soojung tampak memaknai setiap kata-kata yang dilontarkan Jinri dengan sangat serius.

“Aku akan mencoba tapi aku tidak mau menaruh harapan,” Soojung tampak ragu dengan jawabannya sendiri tapi setidaknya ucapan itu bisa membuat yang mendengar—Jinri— sedikit lega.

“Aku percaya sebentar lagi jari manis ini pasti akan dihiasi dengan sebuah cincin dari seorang pangeran yang tampan,” Jinri mengangkat jari manis Soojung ke udara seraya melemparkan senyuman terbaiknya.

 

 

§

Seminggu kemudian…

 

 

Jongin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jika tidak ada yang namanya peraturan dan hukum mungkin ia akan menghancurkan trotoar, lampu lalu lintas dan menabrak semua pengguna jalan agar tidak dikutuk oleh ayahnya karena sudah terlambat menghadiri pernikahan Jongkook. Ya, pada akhirnya Jongin menyerah karena penawaran Jongkook akan gadis-gadis cantik dan sexy yang akan hadir namun sebenarnya bukan hanya itu karena Jongin sendiri juga diancam akan dimasukkan wajib militer secepatnya oleh sang ayah jika menolak menghadiri pernikahan Jongkook.

Soojung yang menjadi tamu kehormatan dari mempelai wanita tampak begitu anggun dengan gaun hasil rancangan designer ternama di Seoul. Ia sudah berdiri tepat di samping mempelai wanita sejak sepuluh menit yang lalu di mana harusnya kedua mempelai sudah saling mengucapkan janji sehidup semati mereka di hadapan pendeta. Namun karena permintaan mempelai pria yang tak lain adalah Jongkook untuk menunggu seseorang lagi mereka harus menunda sebentar.

“Orang macam apa yang tidak menghargai momen seperti ini,” sindir Soojung. Sebenarnya ia sudah cukup lelah berdiri dengan high heels yang sama sekali tidak nyaman di kakinya.

Tak lama setelah Soojung mengucapkan sindirannya, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga dengan rambut dan pakaian yang tidak rapi sama sekali. Saat melihat dari kejauhan, Soojung bahkan sempat menilai pemuda itu tidak berpendidikan dan tidak tahu cara berpenampilan yang baik. Semakin banyaklah sindiran terucap dari bibir mungilnya.

Pemuda itu yang tak lain adalah Jongin menatap sekilas mempelai wanita dan tak sengaja matanya menangkap sosok Soojung. Dengan penuh percaya diri—seperti biasa—Jongin memamerkan smirk andalannya—yang selalu ia gunakan untuk memikat hati gadis-gadis cantik—pada Soojung saat Soojung tidak sengaja menoleh ke arahnya. Soojung terpaku untuk sesaat. Walau otaknya dengan jelas mengatakan bahwa perilaku Jongin sangat menjijikkan namun entah mengapa hatinya berkata lain, jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Rasa apa ini? Soojung dengan cepat mengalihkan pandangannya dan berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.

“Silahkan cium istrimu,” ucapan pendeta diikuti tepukan tangan dan senyuman kebahagian dari semua orang yang ada di ruangan itu.

Soojung melewatkan momen terpenting dalam hidup saudara sepupunya karena sibuk dengan Jongin, orang yang sama sekali tidak ia kenal dan Soojung rasa ia sudah mulai tidak waras.

 

§

“Soojung!” Luna—si pengantin wanita yang juga merupakan sepupu dari Soojung—sedikit berteriak sambil berjalan menghampiri Soojung yang tampak asing dengan tamu-tamu di sana.

“Kau tahu, aku hampir mati kebosanan di sini. Aku tidak mengenal satupun dari mereka selain keluarga kita.” Soojung mengeluh.

“Aku tahu tapi itu tidak penting karena sekarang yang terpenting kau harus ikut denganku untuk memecahkan vas di depan semua tamu yang hadir.” Luna menarik Soojung untuk ikut dengannya.

“Memecahkan vas? Kau ingin membuatku disangka seorang kriminal yang berusaha mengacaukan pernikahan sepupuku sendiri?” Soojung menghempaskan tangan Luna dan menuntut penjelasan.

“Bukan bodoh! Ini tradisi.”

“Tradisi? Kau ingin membodohiku? Aku ini salah satu pendiri sekaligus pemilik wedding organizer terbaik di Seoul dan selama aku menangani acara pernikahan orang Korea aku belum pernah mendengar ada tradisi memecahkan vas di depan tamu yang hadir!”

“Ini memang bukan tradisi pernikahan orang Korea melainkan orang Italia. Billy mengikuti saran temannya yang berasal dari Italia bahwa memecahkan vas di hari pernikahan oleh seseorang yang dianggap sebagai tamu kehormatan akan membawa berkah bagi rumah tangga pengantin. Dan Soojung, kau adalah salah satu dari orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku setelah orangtuaku dan Billy. Jadi kau harus menggantikan peran orangtuaku yang tidak bisa hadir hari ini. Pecahkan dengan keras, arra?”

“Kita bukan orang Italia, Luna! Katakan pada Jongkook aku tidak mau!” protes Soojung.

“Aku tidak bisa menghentikan Billy. Aku mohon kali ini saja, anggap saja kado pernikahan untukku, ne?”

Pada akhirnya Soojung mengalah dan menuruti permintaan Luna. Ia melakukannya untuk Luna bukan untuk Jongkook atau Billy—nama samaran Jongkook. Kini Soojung berada di atas panggung dengan tamu hadirin yang sudah siap menunggu aksinya. Tamu-tamu itu sedikit bingung melihat Soojung mengangkat sebuah vas berukuran sedikit besar, hanya beberapa yang merasa itu wajar yaitu teman-teman Jongkook yang berasal dari Italia.

Soojung tersenyum lebar kemudian menjatuhkan vas itu ke lantai. Percobaan pertama gagal. Tidak ada suara pecahan sama sekali, vas itu masih sempurna tanpa retak sedikitpun. Soojung kembali tersenyum, ia rasa mungkin ia memang kurang kuat menjatuhkannya. Mungkin kali ini Soojung harus membantingnya.

Soojung kemudian mengangkat kembali vas itu dan membantingnya dengan sekuat tenaganya. Masih gagal. Tamu-tamu tampak bingung dan mulai berbisik satu sama lain. Soojung kesal bukan main, ia merasa sedang dibodohi dengan tradisi ini. Ia kemudian mengambilnya kembali dan membantingnya ke hadapan para tamu. Sepertinya Soojung memang sedang sial karena vas itu bukannya pecah malah memantul ke arah seorang nenek tua yang pingsan seketika saat vas itu mengenai kepalanya.

Suasana semakin kacau saat Soojung masih nekat membanting vas itu ke arah lain dan mengenai seorang pelayan yang sedang menuangkan champagne di gelas-gelas yang disusun bertingkat. Tetap gagal. Kening Soojung mulai tampak basah oleh keringat.

“Kau tahu, menurut kepercayaan seseorang yang tidak bisa memecahkan vas itu akan sial seumur hidup,” jelas salah seorang teman Jongkook yang berasal dari Italia pada temannya yang lain.

Jongin yang baru kembali setelah menyelesaikan urusannya dengan polisi akibat melanggar lampu lalu lintas saat perjalanan tadi sedikit bingung mengapa suasana gedung sedikit berbeda. Ia memerhatikan nenek tua yang dibawa beberapa orang menuju pintu keluar kemudian melihat pecahan gelas yang memenuhi lantai dan akhirnya ia tertuju pada panggung dimana Soojung masih dengan kesibukannya membanting vas sialan itu.

Jongin berjalan ke arah Soojung dengan gayanya yang sok tampan dan gagah. Ia menahan tangan Soojung dan hal itu membuat Soojung mendongkak melihatnya. Dan di saat-saat seperti itu Jongin masih sempat memamerkan smirk andalannya. Entah apa yang Soojung rasakan tapi sepertinya Soojung terlihat akan segera membanting vas itu tepat di wajah Jongin jika Jongin terlambat sedikit mengambil alih vas itu dan membantingnya ke dinding. Jongin memecahkannya dalam sekali bantingan. Tepukan tangan yang meriah terdengar kembali.

Jongin kembali menatap Soojung yang kini telah terduduk di atas panggung dengan penampilan yang sangat berantakan. Soojung tidak tahu harus berbuat apalagi, tenaganya benar-benar sudah terkuras, dirinya dipermalukan oleh Hwang Jongkook si pemiik nama samara Billy Hwang. Namun di tengah ketidakberdayaannya, Soojung masih mampu membalas tatapan Jongin—seakan ingin memberitahu bahwa ia sangat berterima kasih—dan untuk ke sekian kalinya Jongin memamerkan smirk-nya. Entahlah, mungkin smirk Jongin tidak kenal waktu, tempat, situasi dan kondisi.

 

to be continued…

 

Pertama, maaf karena chapter ini kelamaan dipublish 😦 /deritamahasiswi/

Untuk 3rd chapter aku publish-nya mungkin awal Desember. Semoga masih ada yang mau baca dan nunggu fic ini 🙂

Dan seperti biasa aku membutuhkan komentar, boleh saran atau kritikan tapi jangan bashing yaa hehe                         

Advertisements

10 thoughts on “Volere [2nd]

  1. Lagi2 dibuat ngakak sama part ini.
    hahaaa
    Itu Krystal uda berkali-kali mecahin vas tapi malah ngnain nenek2
    hahahaaa.. Jadi pengen tau kondisi si nenek #lhoo????

    Ditunggu lanjutannya thor 🙂

  2. blm ada interaksi apa” antara soojung sm kai. sumpah suka banget sm fanficnya. msh ada lanjutannya ga chingu?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s