[3rd Chapter] INVISIBLE

Invisible - hanhyema design art

Credit : Hanhyema Design Art

INVISIBLE

By. Rebecca Lee

Lee Hyunra, Choi Seunghyun

and some other cast.

Sad, Friendship, Romance | T | Chaptered

Songs :

Taylor Swift ~ Invisible

Taylor Swift ~ Teardrops On My Guitar

[TEASER] , [CHAPTER 1] , [CHAPTER 2]

~~~~

[From Me]

First, I wanna say sorry because it’s a super duper long update. Sebenernya chapter ini udah selesai sejak beberapa waktu lalu, tapi karena beberapa alasan aku baru update ff sekarang. Hope you enjoyed. And a little disclaimer : Tokoh di luar OC aku hanya pinjam nama, sisanya semua milikku. And sorry for any mistakes here.

~~~~

.

Hari-hari setelah sore itu Seunghyun dan Hyunra menjadi lebih dekat dari yang sudah-sudah. Ada perubahan yang setiap hari Hyunra rasakan dari sahabatnya itu. Seunghyun yang sekarang jauh lebih memperhatikannya, memanjakannya dan menjaga perasaannya. Membuat gadis itu sejenak lupa dengan segala rasa yang berkecamuk di hatinya atau kembali berpikir seberapa seharusnya mereka bersama.

“Untukmu,” Seunghyun menyenggol pelan bahu Hyunra dengan punggung tangannya yang memegang kaleng soda untuk Hyunra.

Gomawo,” ucap Hyunra seraya menerima minuman dari Seunghyun. Dengan cekatan jemarinya membuka penutup minuman kaleng itu dan segera menyesap sedikit isinya.

“Tunggu sebentar lagi,” dan tiba-tiba Seunghyun telah berlari kecil menyeberangi jalan.

“Kau mau ke mana?” seru Hyunra.

“Tunggu saja, ada yang harus kubeli!” jawab Seunghyun dengan suara keras yang sama dan ia melangkah memasuki sebuah distro.

“Heish, dasar anak itu!” Hyunra kembali menyesap sodanya.

Sekitar 5 menit menunggu akhirnya Hyunra melihat Seunghyun keluar dari distro dengan sebuah bungkusan kecil di tangannya. Sambil berjalan menghampiri Hyunra, Seunghyun tersenyum manis. Sementara Hyunra hanya diam menanti Seunghyun sampai di hadapannya kembali.

“Untuk dia?” tebakan Hyunra tepat karena Seunghyun mengangguk.

“Apalagi kali ini? Sebuah syal rajut hangat? Aksesoris berbentuk manis?” sejurus kemudian Hyunra tersenyum mengejek.

“Aku membeli sebuah beanie,” jawab Seunghyun yang langsung disambut dengan membulatnya bibir Hyunra. “Mau mencobanya?”

Mwo? Aku, mencoba hadiah untuk gadismu? Yang benar saja, aku tidak akan suka.”

“Jangan cerewet, coba saja dulu. Aku ingin melihat bagaimana jika ini kau yang memakainya,” dengan cepat Seunghyun mengambil benda berwarna baby blue yang ada di dalam bungkusan dan memasangkannya di atas kepala Hyunra.

“Manis. Aku suka melihat kau memakainya. Biru warna kesukaanmu, ‘kan?”

Hyunra yang bingung hanya mengangguk polos dengan Seunghyun. Baru kali ini Seunghyun bersikap seperti ini padanya.

“Wajahmu jangan bodoh seperti itu. Tadi aku hanya bercanda, aku beli beanie itu untukmu. Sekarang ayo kita cari tempat untuk beristirahat, kaki sudah lelah karena mengitari Hongdae seharian. Kau mau kita kemana?” Seunghyun merangkulkan tangannya ke pundak Hyunra dan mengajaknya berjalan.

Gadis itu hanya bisa terpaku dan menurut dengan Seunghyun. Otaknya masih belum cukup memahami apa yang sedang terjadi, bahkan kaleng sodanya yang terjatuh saja gadis itu tak menyadari. Dan saat pikirannya mulai kembali Hyunra dibuat tak berkutik karena menemukan dirinya dalam rengkuhan tangan Seunghyun.

“Hey, kau baik-baik saja?” tanya Seunghyun. Hyunra hanya menoleh, memandang Seunghyun dan mengangguk.

“Kalau begitu sekarang kita kemana? Jangan terlalu lama berpikir karena kakiku sudah lelah berjalan.”

“Starbucks?” jawab Hyunra sekenanya.

“Pilihan bagus, kita sudah sampai. Ada di kirimu,” Seunghyun mengarahkan telunjuknya ke sebuah bangunan 2 lantai yang didominasi dengan kaca yang terletak di sisi kiri Hyunra.

“Kita duduk di mana?”

“Seperti biasa saja.”

“Oke kalau begitu kau cari kursi biar aku yang pesan. Kau mau apa?”

Triple grande low-fat cappuccino.”

“Ok.”

Hyunra berjalan ke sebuah meja kosong di luar dekat pintu masuk. Ia mendudukkan tubuhnya dan melepas beanie di kepalanya. Ia menggenggam benda itu dan memandanginya lekat-lekat. Beanie warna biru muda itu tentu akan masuk ke dalam daftar barang-barang kesayangannya setelah ini. Bibirnya tersungging manis pada pemberian sahabatnya itu.

“Kau menyukainya?” tiba-tiba Seunghyun sudah duduk di depannya.

“Eh, kau sudah kembali. Iya aku suka, gomawo,”   jawab Hyunra.

“Jika aku boleh tahu kenapa kau membelikan ini untukku?”

“Hanya ingin membelinya saja. Tidak ada salahnya memberimu hadiah. ‘kan?” Seunghyun tersenyum.

Hyunra menjawabanya dengan sebuah gelengan pelan.

“Bi, kau berubah sejak kita pulang dari pantai hari itu,”Hyunra kembali membuka suaranya dan kemudian bertanya. “Kenapa?”

“Aku? Tidak apa-apa. Hanya ingin menjadi yang lebih baik untukmu, itu saja,” senyuman Seunghyun yang lembut belum terlepas dari bibirnya.

“Lalu dia?”

“Permisi, ini pesanan kalian,” seorang pelayan datang dan memotong pembicaraan keduanya.

“Terima kasih,” ucap Seunghyun setelah pelayan meletakkan pesananan mereka di meja. “Lanjutkan,”

“Dia, Bi. Kau dengannya apa ada perkembangan? Aku tak mendengar lagi kau membicarakannya padaku,” Hyunra mengulang pertanyaannya lebih jelas.

“Mmm… perkembangannya cukup banyak. Hanya saja aku memang sengaja tak menceritakannya padamu. Aku tidak yakin kau mau mendengarnya jadi aku diam,” Seunghyun menyesap americano pesanannya.

“Siapa bilang? Aku masih mau medengarnya, bodoh. Ayo, cepat ceritakan padaku,” Hyunra meletakkan tangannya di punggung tangan Seunghyun dan menggoyangkan tangan itu sedikit. Ia membuat nada suaranya terdengar meyakinkan seolah gadis itu benar-benar menunggu kelanjutan hubungan Seunghyun dengan Dara. Tentu saja ia melakukan itu supaya terlihat ‘sudah lebih baik’.

“Kau yakin mau dengar?” Seunghyun menatap Hyunra penasaran. Sedikit curiga dengan sikap Hyunra yang tak biasanya ini. Hyunra tak pernah benar-benar menunggunya untuk bercerita tentang Dara. Lalu kenapa sekarang seperti itu?

“Aku yakin 100%. Ayo cerita,” Hyunra tersenyum ceria walaupun dalam hatinya ia tahu benar apa yang akan terjadi setelah ini padanya jika cerita Seunghyun tentang Dara benar-benar banyak perkembangan.

“Oke aku cerita. Kami berteman sekarang. Setidaknya untuk beberapa hari terakhir,” wajah Seunghyun berbinar. Hal sama yang akan selalu terjadi jika laki-laki itu bercerita tentang perempuan cantik pujaan hatinya.

DEG!

Spontan kalimat Seunghyun itu membuat Hyunra serasa disambar ribuan petir tepat di jantungnya. Hatinya mencelos luar biasa dan ia hanya mampu terpaku menatap Seunghyun yang terus berkoar tentang hubungannya dengan Dara. Seluruh tubuhnya bergetar bersamaan dengan denyut nadinya yang sudah tak lagi beraturan. Kedekatan itu sama sekali tak ia harapkan terjadi pada Seunghyun-nya.

“Lalu?” bibir Hyunra bertanya tanpa ia sendiri menyadarinya. Kerja otak yang terlalu cepat.

“Kami juga sudah menghabiskan waktu bersama. Aku benar-benar beruntung semua ini bisa terjadi hanya karena aku mengembalikan dompetnya yang terjatuh di parkiran. Ternyata mendekati Dara tak sesulit yang  kupikirkan, dia bukan seorang yang pemilih dalam berteman,” Seunghyun menyela pembicaraannya dengan kembali menikmati americano di hadapannya.

“Tak hanya itu, besok dia memintaku untuk mengantarnya pulang supaya aku bisa dikenalkan dengan kedua orang tuannya. Dara bilang itu kebiasaannya jika punya teman baru, selalu ia kenalkan pada orang tuanya. Awalnya aku menolak, tapi setelah kupikir ini kesempatan bagus jadi aku iyakan. Jadi, maaf kalau besok kita tidak pulang sekolah bersama,” Seunghyun berhenti berbicara.

Kali ini rasa sakit di dadanya semakin bertambah. Air muka Hyunra sudah benar-benar tegang tanpa kontrol, namun gadis it uterus berusaha untuk terlihat biasa. Ia memaksa diri untuk tetap tersenyum, diam dan mendengarkan kebahagiaan sahabatnya.  Dan semakin ia memaksa diri semakin parah pula hatinya terluka.

Chukkae…” hanya itu yang keluar dari Hyunra.

Gomawo. Oh iya, jika aku boleh bertanya, kau dengan pria itu, bagaimana?” Seunghyun bertanya tanpa beban. Terlalu fokus dengan rasa senangnya.

“Aku… entahlah, sepertinya sudah harus menyerah, Bi,” Hyunra menunduk dan tanpa Seunghyun ketahui setetes air mata lolos dari sudut mata kiri Hyunra yang langsung ia hapus secara diam-diam.

“Menyerah? Kenapa?” Seunghyun memajukan sedikit posisi duduknya dan melipat tangannya di atas meja tepat di depan dadanya.

“Memang harus seperti itu, Seungie,” Hyunra mengangkat kepalanya dan tersenyum pahit pada Seunghyun.

“Apa dia menyakitimu lagi? Pria itu?” Seunghyun mengulurkan tangannya untuk mengusap ganti tangan Hyunra yang memeluk cappuccino-nya.

“Pertanyaanmu konyol. Dia kan memang selalu seperti itu padaku. Dan aku dengan bodohnya masih saja terus mencintainya, mencoba untuk meraihnya. Tapi sekarang aku sadar, sebesar apapun aku  mencintainya, dia hanya akan fokus pada pilihan hatinya sendiri.”

“Ssshh, jangan bicara seperti itu. Kau tidak bodoh, Hyunnie. Tidak ada cinta tulus yang bodoh. Laki-laki itu yang bodoh, dia tidak bisa melihat cinta tulus itu terpancar dari mata indahmu. Dan kumohon berhentilah menangis untuknya, air matamu itu tidak pantas untuk menangisinya. Carilah penggantinya untuk mengisi hatimu,” Seunghyun menyeka air mata yang tanpa Hyunra sadari telah meleleh membasahi pipinya.

“Aku tidak bisa, Bi. Aku mati rasa, semuanya beku. Aku tidak akan bisa mencintai orang lain lagi karena semuanya sudah habis untuknya. See, aku adalah wanita yang bodoh,” Hyunra mengungkapkan marahnya pada Seunghyun dengan beruraian air mata. Perasaan itu sudah tak sanggup lagi untuk ia tahan. Semuanya runtuh bersama pertahanannya selama ini detik itu juga.

Sejurus kemudian keduanya saling diam. Hyunra yang bertarung dengan air mata dan segala kepedihan hatinya. Gadis itu menunduk dalam sambil berharap Seunghyun akan beranjak dari duduknya dan memeluk tubuhnya dengan erat. Dan Seunghyun yang berkutat dengan pikirannya sendiri, ia mencoba untuk membuat sahabatnya merasa lebih baik.

“Kalau begitu izinkan aku menghidupkannya lagi,” ucap Seunghyun dengan suaranya yang memecah keheningan antara mereka beberapa menit lalu. Hyunra mendongakkan kepalanya menatap Seunghyun tak percaya.

Gadis itu menatapnya diam dan intens. Kalimat Seunghyun barusan harusnya membuatnya merasa senang atau setidaknya jadi lebih baik. Tapi yang Hyunra rasakan hanyalah sebaliknya bahkan lebih parah. Kalimat itu justru mengiris hatinya. Membuat emosinya tiba-tiba saja meluap dan ia mendecih. Dengan matanya yang masih mengalirkan anak-anak air mata ia menatap Seunghyun dengan kesal dan mengejek.

“Kau bahkan bukan Tuhan, Seunghyun. Tak ada satu hal pun yang bisa kau lakukan untukku karena kau tak pernah tahu seberapa parah aku sudah disakiti dan menyakiti diriku sendiri. Lebih baik kau diam,” Hyunra terdengar menakutkan membuat Seunghyun membulatkan kedua matanya meresponi emosi Hyunra yang tiba-tiba meledak begitu saja.

“Aku pulang, Bi. Thanks untuk kopinya dan juga hari ini kau mau menghabiskan waktu bersamaku. Juga dengan hadiah pemberianmu, sekali lagi terima kasih,” Hyunra memundurkan kursinya dan beranjak pergi.

Gadis itu berjalan cepat menerobos lalu lalang keramaian manusia di sekitarnya. Ia terus berjalan dan memandang lurus ke depan. Ia tidak peduli sudah berapa banyak orang yang berjalan berlawanan arah yang telah tanpa sengaja ia tabrak. Fokusnhya hanyalah untuk secepatnya pergi. Beberapa kali Hyunra mengusap wajahnya kasar untuk menghapus air mata yang tak dapat ia hentikan.

Dan akhirnya Hyunra berhenti berjalan. Ia berhenti dan memandang ke langit di atasnya. Dipejamkannya matanya dan lagi air mata itu keluar. Nyeri di dadanya semakin menggila. Rasa sakitnya terlalu parah untuk ia tahan.

“HYUNRA!”

Sebuah suara memanggilnya, menghentakannya dari dalam pikirannya. Tersadar dan Hyunra kembali melangkahkan kakinya secepat ia mampu. Sial karena entah bagaimana manusaia-manusia yang berjalan di sekitarnya tiba-tiba saja bertambah banyak hingga menghambat jalannya untuk mengindari Seunghyun.

“Hyunra, kenapa kau  lari lagi?” sebuah tangan besar mengcengkeram pergelangan tangannya dan membuatnya tertahan di tempat. Dan untuk pertama kalinya ia merasakan kebencian yang sangat pada laki-laki di belakangnya yang telah berusaha mengejarnya seperti ini.

“Tolong lepaskan aku, aku harus segera pergi,” Hyunra berusaha memutar tangannya agar terlepas dan gagal. Tangan Seunghyun terlalu  kuat untuk ia melepaskan diri.

“Hyunra, aku hanya perlu kau bicara. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau bicara.”

“Kau  mengancamku, huh?” Hyunra menoleh pada Seunghyun dan menatapnya sinis.

Seunghyun menggeleng.

“Aku bilang lepaskan, dasar kau bodoh!” Hyunra berseru dengan tangannya yang meronta minta dilepas. Seunghyun diam tak bergeming.

“Seunghyun, kumohon, lepaskan aku. Aku sudah cukup tersakiti dengan semua ini. Kumohon jangan menambah bebanku. Aku butuh waktu. Aku ingin sendiri sekarang. Jangan paksa aku,” Hyunra membalikkan badannya dan memohon pada Seunghyun.

GREPP!

Seunghyun menarik tangan Hyunra dan gadis itu kembali jatuh dalam dekapannya. Kali ini Hyunra mencoba melawan dengan berontak yang tentu saja Seunghyun hiraukan. Hyunra memukuli dada Seunghyun dengan tangannya agar ia dilepaskan dan tentu saja cara itu juga gagal. Membuat gadis itu akhirnya menyerah dan pasrah. Ia kembali terisak dalam hangatnya dekapan Seunghyun yang menenangkan sekaligus menyiksanya.

“Aku… aku… Seunghyun, kumohon… jika kau  memang akan bersamanya, tolong jangan melupakanku. Jangan tinggalkan aku sendirian. Sudah cukup aku seperti ini. Berjanjilah untuk menjagaku. Tetap jadikan aku prioritasmu meskipun dia kekasihmu, kumohon,” pinta Hyunra di tengah isakannya.

~TBC~

2 thoughts on “[3rd Chapter] INVISIBLE

  1. Kasian bnget deh hyunra,,,, semoga aja part selanjutnya hyunra udh gak sedih lg, ungkapin aja deh semua perasaan …
    Next…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s