[FF Freelance] Love Bye Love

sydneyyTitle                : Love Bye Love

Author            : anna6002

Cast                : Shim Changmin, Choi Sooyoung

Genre              : Romance

Length            : Ficlet

Rate                : General

Aku tidak suka hujan. Hujan hanya akan membuat tubuhku basah dan kedinginan. Aku juga tidak suka bau tanah yang tersiram air hujan. Baunya seperti besi berkarat yang membuat kepalaku pusing. Tapi demi dirinya, aku siap menentang itu semua. Seperti sore ini, saat Sydney sedang diguyur hujan, ia justru menelponku dan memintaku untuk keluar menemuinya. Dan tentu saja, aku menyetujuinya. Kalau bukan dia yang memintaku, mungkin aku akan menolak dengan keras. Tapi ini adalah permintaan dari Max Changmin, aku tidak bisa menolaknya. Setiap mendengar suaranya, aku seperti terbius oleh sihir yang entah dari mana datangnya yang bisa membuatku menjadi robot yang patuh pada perkataan tuannya.

Aku berlindung di bawah naungan payung merah besar yang ku bawa, menyusuri trotoar di King Street. Max sudah menungguku di Berkelouw Books’s Newtown, tempat kami biasa menghabiskan waktu luang bersama. Untungnya, tempat tinggalku tidak terlalu jauh dari café itu, jadi aku tidak perlu berlama-lama merasakan hawa dingin yang semakin menusuk ke tulang ini.

Ku letakkan payung merah yang sudah ku lipat sebelumnya, di belakang pintu masuk Berkelouw Books’s Newtown. Suasana hangat terasa dalam ruangan yang didominasi warna kayu di dalamnya ini. Bau kertas menyeruak begitu aku masuk ke dalamnya. Seperti namanya, Berkelouw Books’s Newtown memiliki ribuan koleksi buku yang bisa dibaca oleh pengunjung dengan cuma-cuma. Itulah sebab mengapa aku dan Max sangat menyukai tempat ini. Kami sangat suka membaca. Café-nya terletak di lantai dua gedung. Segera ku langkahkan kaki menjejaki anak tangga menuju lantai dua.

Saat baru menjejakkan kaki di lantai dua, mataku menangkap sosok Max sedang duduk di salah satu kursi yang berada di dekat jendela di sudut ruangan. Nampak ia sedang berbincang dengan seorang pelayan wanita yang sedang meletakkan pesanan di atas meja. Semburat merah terlihat di kedua pipi pelayan itu saat Max berbicara dengan di selingi senyum manisnya. Aku melangkah mendekat saat pelayan wanita itu sudah menjauh dari meja Max.

“Kau benar-benar perayu ulung, Max,” ucapku sebelum aku menarik kursi di depannya. Ku lirik sebuah buku yang berada di sebelah cangkir kopi di depan Max, sepertinya hari ini ia tidak berniat berlama-lama di tempat ini. Aku hafal betul dengan kebiasaannya. Jika ia ingin lama di sini, ia pasti sudah mengambil banyak buku dan menumpuknya di atas meja.

“Ah, kau tiba tepat waktu. Capuccino yang ku pesan untukmu baru saja datang. Masih hangat,” ucapnya seraya menampilkan senyum hangatnya. Senyum menawan yang selalu membuat jantungku ingin keluar dari sarangnya. Senyum yang selalu terbayang di kepalaku sampai aku susah tidur.

“Apa yang kau katakan pada pelayan itu tadi sampai membuat wajahnnya merah padam?” tanyaku penasaran.

Max mengangkat bahu. “Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa. Sepertinya ia tertarik padaku. Kau tahu kan, kalau aku ini begitu menawan. Aku bisa memikat wanita dalam sekali lihat,” jawab Max sambil tersenyum jenaka. Aku hanya memutar bola mataku. Kepercayaan dirinya yang berlebihan kadang membuatku merasa ingin muntah.

“Apa kau mau ku pesankan makanan?” Tanya Max.

“Tidak. Aku sedang tidak bernafsu makan. Mungkin nanti saja.”

Ku gosok-gosokkan kedua telapak tangan pada cangkir capuccino di depanku. Max tersenyum kecil mengetahui hal itu.

“Kau benar-benar tidak bisa tahan dengan hujan,” kata Max yang lebih mirip seperti sindiran ditelingaku.

“Kau tahu sendiri kan, aku tidak menyukai hujan, udara dingin…”

“Ya, aku tahu. Kau lebih menyukai musim panas. Seperti namamu.. Summer Choi,” sela Max. “Tapi kau juga harus tahu nona Choi, ada banyak musim selain musim panas yang kau banggakan. Seperti hujan ini. Hujan ini akan nampak indah jika kau bisa menikmatinya. Bukankah kita harus menikmati berkah dari Tuhan ini juga.” Aku mengangguk-anggukkan kepala, menyesap capuccinoku dan mengalihkan pandangan keluar jendela. Max terkekeh pelan.

“Maaf telah memintamu untuk keluar dihari hujan seperti ini. Sungguh aku tidak bermaksud. Sebenarnya aku hendak menemuimu di flat. Tapi, mobil milik Peter yang tadi kupinjam mendadak mogok, jadi.. yah, karena hujan dan aku tidak membawa payung…”

“Hmm baiklah aku bisa mengerti itu,” selaku. Max tersenyum lebar, manis sekali. Seperti anak kecil yang mendapat izin orangtuanya untuk makan snack di malam  hari. Kau tahu Max, bahkan seandainya aku tidak memiliki payung dii flat, aku akan tetap datang kemari. Aku akan menerjang hujan untuk menemuimu.

“Lalu ada hal penting apa yang membuatmu sampai harus bertemu denganku hari ini?” tanyaku antusias. Pria keturunan Jepang itu nampak terkejut dengan pertanyaanku yang tanpa basa-basi. Ia menghentikan aktifitasnya mengaduk kopi hitam di cangkirnya, kemudian menghela napas panjang lalu  menatap keluar jendela sebelum akhirnya kedua bola mata coklatnya menatapku dalam. Aku tahu pasti ia ingin mengatakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan, tapi harus ia ucapkan.

“Sebaiknya kita tidak usah membicarakannya hari ini,” kata Max lalu menyesap kopi hitamnya. Pandangan matanya beralih pada tetesan hujan yang menempel di sisi luar kaca besar Berkelouw Books’s Newtown.

“Max.. Aku ingin mendengarnya. Tolong katakan,” bujukku.

“Aku..” Max menghela napas lagi. “aku akan bertunangan dengan Yuki,” ujar Max lirih, tetapi masih terdengar jelas di telingaku. Rasanya seperti mendapat serangan jantung mendadak. Tapi kali ini ditambah rasa perih yang menyayat dari belasan belati. Apa aku tidak salah dengar. Max akan bertunangan, lalu bagaimana denganku. Mataku terasa panas. Pandanganku sudah mengabur tertutup cairan bening yang menggenangi mataku. Aku sangat tidak menyukai keadaan ini. Aku benci harus menangis di depan Max. Tapi, sekuat apapun aku menahannya, butiran bening itu tetap meluncur membasahi kedua pipiku.

“Setelah hari kelulusanku nanti, aku akan kembali ke Jepang dan bertunangan dengannya.” Max meraih sebelah tanganku, menggenggamnya erat. “Dari awal aku sudah mengatakannya padamu. Kau hanya akan merasakan sakit bila terus bersamaku. Aku tidak bisa menjadikanmu wanita satu-satunya di hatiku, walaupun aku sangat mencintaimu, Summer. Aku…” Max tidak melanjutkan kalimatnya. Kesedihan juga nampak di raut wajahnya yang mendadak suram. Dia pasti juga merasakan sakit seperti yang ku rasakan.

Aku sudah tahu kalau akan seperti ini akhirnya. Aku sudah mengetahuinya sejak aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Max yang sudah memiliki calon tunangan di Jepang. Tapi walaupun aku tahu bahwa akulah yang akan terbuang dalam pertalian ini, perasaanku tidak bisa berbohong. Aku mencintainya dan aku menginginkan pria ini untuk ada di sampingku.

“Tidak bisakah.. tidak bisakah kau membatalkannya? Tidak bisakah kau hanya menjadi milikku saja?” isakan kecil tak bisa ku tahan saat mengatakannya.

Max menggeleng. “Aku tidak memiliki kuasa untuk itu. Pertunangan ini sudah di gariskan sejak kami kecil. Ini sudah menjadi peraturan keluarga. Summer maafkan aku.” Andai aku tidak ingat sedang berada di tempat umum, mungkin aku sudah menjerit-jerit mendengar ucapan Max.

“Aku bukan pria yang pantas untukmu, Summer. Maafkan aku. Aku hanya pria jahat yang menyakiti hatimu. Kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Yang bisa menempatkanmu sebagai wanita satu-satunya di hatinya. Bukan aku yang hanya bisa menempatkanmu di posisi kedua.”

Aku hanya bisa menggeleng. Tidak ada kata yang terucap dari bibirku. Aku terlalu sedih untuk bisa berkata. Walau awalnya hubungan kami hanya sebatas sebagai pengisi kekosongan hati, tapi siapa yang bisa menolak cinta? Cinta telah tumbuh selama kebersamaan kami. Salahkah bila aku mengharap lebih. Mengharapkan ia menjadi milikku satu-satunya?

“Summer,” Max menepuk tanganku yang digenggamnya karena sedari tadi aku hanya menunduk dan terdiam. Ku usap air mata membasahi kedua pipiku lalu mengangkat kepala,  menatapnya. Ku paksa memperlihatkan seulas senyum di depannya.

“Aku tidak apa-apa,” kataku berbohong. “Aku hanya terkejut mendengarnya. Ini hanya tentang waktu. Mungkin awalnya akan sulit bagiku berdiri di tempat asing ini tanpamu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku pasti bisa melakukannya. Aku pasti bisa berdiri tanpamu. Karena namaku adalah Summer. Aku sekuat matahari.”

“Ya. Kau sekuat matahari, Summer,” kata Max lirih, lalu tersenyum hambar.

***

Ku buka jendela kamar yang menghadap ke barat. Nampak sang surya yang hendak berpulang ke peraduan. Memantulkan sinar kemerahan di langit senja.

Max selalu mengatakan padaku, bahwa aku adalah gadis yang kuat, sekuat matahari. Tapi ia lupa jika sudah datang waktu senja, matahari tidak lagi memilliki kuasa untuk memamerkan kekuatannya. Seperti saat ini. Saat matahari semakin bergerak turun di garis cakrawala, langit berubah kelam. Sekelam hatiku yang tiada memiliki matahari sebagai penerang.

2 thoughts on “[FF Freelance] Love Bye Love

  1. aku stuju sma novamp….
    knapa bias couple ku sering berakhir sad ?? nasip ku….
    diharapkan karya lain y yg happy end changsoo yaa….
    FIHGTING….

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s