The Red Shoes

BeFunky_redshoes.jpg

The Red Shoes

written by bluemallows

Main Cast: Lee Jieun & 2PM’s Jang Wooyoung || Genre: Romance, Life, Surrealism maksa || Rating: PG-13 || Duration: Vignette || Disclaimer: Inspired by IU’s Red Shoes

Ooma loompa doom dubi dubi
Ooma loompa doom dubi du
ba doom!

            Gadis dengan rambut panjang yang kusut itu bangkit dari tempat tidurnya dan meraih satu album besar yang bersarang di salah satu bilik lemari kayu yang menjulang tinggi hampir menatap langit-langit kamarnya.

Tangannya menyapu debu yang menumpuk berlapis-lapis pada halaman depannya. Mungkin sudah berbulan-bulan tidak ada sidik jari yang menempel pada album tua itu, atau bahkan musim-musim telah berlalu hingga ia tidak ingat kapan album itu muncul di rak buku miliknya.

Lee Jieun, namanya. Rambut kecokelatannya terurai melewati punggungnya dan jatuh mengenai album yang perlahan dibukanya. Juli 2010. Oh, sudah cukup lama rupanya. Satu potret seorang pemuda dengan rambut cokelat yang berdiri tegak karena gel yang dioleskan hingga helai-helai rambutnya mengeras. Laki-laki yang ditemuinya musim panas tiga tahun lalu.

“Jang.. Woo.. young,” lamat-lamat gadis itu mengucapkan sepatah demi sepatah nama lelaki itu sambil meraba tiap inch foto laki-laki itu seolah dapat menyentuh pipi tambunnya dan wajahnya yang menyeringai lebar ke arah kamera.

Gadis itu membuka lembar berikutnya, foto polaroid instan yang menunjukkan wajahnya masih dengan rambut yang disemir warna pirang di beberapa bagian tertentu, dan tangan Wooyoung yang melingkar pada bahunya sambil tersenyum lebar.

Sudah lama, lama sekali kenangan musim panas itu terkubur dalam memorinya yang paling dalam. Sosok Jang Wooyoung yang pernah singgah di hatinya bahkan telah digantikan oleh laki-laki lain yang tak kalah tampan dari seorang Wooyoung yang baru dikenalnya di sebuah pesta musim panas di tempat asing yang dikunjunginya.

Sial, Jieun membuka kembali album yang mengingatkannya kembali pada laki-laki itu. Dan tanpa disadarinya, sepasang sepatu merah telah terpasang di kakinya dan bersiap membawanya pergi—entah kemana—seperti yang dilakukan sepatu misterius itu dulu.

Sepatu itu membawa Jieun keluar dari kamarnya, berputar-putar di tangga spiral, menari-nari di dalam hall yang bahkan tidak diingatnya pernah ada di dalam rumahnya. Sepatu sialan, ia sudah membawa Jieun kembali ke bangunan besar bak istana yang megah itu lagi.

“Ooma loompa doom dubi dubi, ooma loompa doom dubi duba doom!” Wooyoung pernah mengucapkan kalimat ajaib yang membuat sepatu merah itu berhenti mengikuti Jieun dan menggantinya dengan sepatu warna merah jambu.

Tapi, sama seperti nasib, sama seperti takdir, sepatu itu kembali membawa gadis malang yang berusaha membohongi dirinya sendiri hingga masuk kembali ke ruang pesta—melihat dirinya sendiri sedang bersenang-senang dengan orang asing, dengan sahabat-sahabatnya, dengan Jang Wooyoung.

Berulang-ulang Jieun berusaha meneriakkan makian dan umpatan pada sepatu yang mengembalikan serpihan memori padanya, namun sia-sia saja. Sepatu itu membawa Jieun kembali pada Wooyoung, berputar di sekeliling pria itu, namun terlihat tembus pandang.

Sampai akhirnya ia terjatuh, mengaku kalah dan tersungkur di hadapan sosoknya dan Wooyoung yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera. Ia terlalu banyak berbohong pada dirinya sendiri, hingga sepatu merah itu lepas dari kakinya. Berulang kali laki-laki masuk ke dalam hatinya, hanya untuk melindungi perasaannya terhadap cinta-pada-pandangan-pertamanya pada seorang Wooyoung. Lelaki yang semu, tidak nyata, dan tidak mungkin. Ia jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada khayalannya sendiri.

Dia keluar dari ruang yang seolah terus berpesta sepanjang waktu, menjelajahi setiap lorong dalam bangunan dengan nuansa abad pertengahan itu, berharap menemukan kembali kamarnya. Namun yang ditemuinya lagi hanyalah sepatu merah yang mengejarnya lagi, dan memaksa untuk dipakai.

Ia kembali dibuat kalang kabut dengan sepatu merah itu. Berlari, berputar, menari, hingga ia merasa seakan mati lebih baik daripada harus memakai sepatu itu. Sepatu itu akhirnya membawanya ke balkon, menghadapkannya pada hamparan cahaya lampu di malam hari. Ia berhenti di sana hingga nyaris terjungkal.

Ia merasa semuanya menjadi begitu kecil, hingga ia tidak tahu apapun yang terjadi. Ooma loompa doom dubi dubi, ooma loompa doom dubi duba doom, kenyataannya memang seperti itu. Yang diharapkan, yang diharuskan, yang sejalan dengan takdir harusnya seperti ini, menghadapi kenyataan.[]

 

Note: Hai readers, ada yang kangen? Ya, setelah sebulan lebih tanpa nulis fanfiction karena writer’s block, akhirnya lahirlah tulisan-tidak-jelas-dan-tidak-layak-publish ini. Sebenarnya saya bingung dengan tulisan saya sendiri, tapi, review/saran/kritik/pertanyaan langsung masukkan kotak komentar ya!

(Btw, ini dalam rangka mencoba genre surrealism, tapi sayangnya gagal ._.)

9 thoughts on “The Red Shoes

  1. “…jatuh cinta dengan khayalannya sendiri.”
    Fix sukaaak❤ kebayang banget nuansa abad pertengahannya setelah nonton ulang The Red Shoes, dan, berhubung kalimat diatas, khayalan ini lebih cenderung ke subjektif atau serpihan memori tentang Wooyoung ya? Penasaran deh😦
    Tapi….tapi….ini udah nyentuh surrealis juga menurutku, berhubung aku nggak tahu banyak tentang surrealis hahaha, semangat buat nulis lanjutannya ya Tir!😉 ciao!

  2. alurnya bagus tpi kurang ngena feelnya, mian mungkin dibuat sequelnya biar lebih menarik (?) #modus hehe
    but of all it’s great (y)

  3. bingung sih, tapi uda lama nggak baca fict woou. laaaaama banget, lama banget pokonya. jadi seneng aja bisa baca ini. tapi, endingnya sedikit… ya begitulah. sequel pls :3

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s