Fall in Love

Fall in Love

[icydork] | Jinwoon, Jiyeon, Myungsoo | Romance, Friendship, Sad | Ficlet | All Rated

Inspired by Refrain

Jiyeonrang laki-laki dan perempuan duduk di bangku taman yang membatasi kedua rumah mereka. Keduanya tumbuh bersama sebagai tetangga dan sahabat baik. Yang laki-laki berparas tampan dan memiliki kulit yang sangat putih bagaikan susu serta eyesmile yang selalu terbentuk dimatanya.

Sedangkan yang perempuan berparas cantik dan imut di waktu yang sama, dia memakai bando dan rambutnya terurai sampai di bawah bahunya. Tubuhnya kurus, tubuh yang sangat ideal untuk menjadi model.

Jinwoon dan Jiyeon nama mereka.

“Jinwoon, aku tidak mengerti pelajaran matematika tadi, kau akan mengajarikukan?” Tanya Jiyeon.

Jinwoon menoleh dan tersenyum sekilas, “Sejak kapan aku tidak mengajarimu?”

“Ya, aku khawatir saja.”

“Khawatir apanya?”

“Ah, tidak–tidak apa-apa.”

“Hm, aku bosan. Coba cari topik, Jiyeon.” Ucap Jinwoon.

“Topik apa? Pelajaran? Aku muak. Sahabat? Sudah sering bukan? Bagaimana kalau cinta?” Tanya Jiyeon sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

“Cinta?” Ulang Jinwoon.

“Definisi manakah yang tepat untuk mengdefinisikan arti cinta?” Tanya Jiyeon.

“Hahaha, kenapa pertanyaannya seberat ini?”

“Ayolah, kau ini jenius. Kau pasti biosa menjawabnya.”

“Aku tidak tahu.”

“Kenapa?” Jiyeon mengerutkan kedua alisnya.

“Karena aku belum pernah jatuh cinta.” Jawab Jinwoon samil menatap awan yang bergerak perlahan di langit oranye yang menandakan sore ini.

“Huh, aku juga.” Kata Jiyeon.

“Jika kau jatuh cinta, kau akan menceritakannya kepadaku kan?” Tanya Jinwoon.

Jiyeon meninju lengan Jinwoon pelan, “Pasti akan kuceritakan, Jinwoon-ya.

“Aku juga.”

“Janji?” Jiyeon mengacungkan kelingkingnya.

Jinwoon tersneyum dan melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Jiyeon, “Janji.”

Jinwoon dan Jiyeon mengerjapkan matanya berkali-kali karena melihat guru galak dengan kumis yang ebal dihadapannya. Dengan perut yang agak bunci dan tangan yang dilipat di depan dadanya, guru Lee membentak Jinwoon dan Jiyeon satu persatu.

“Lain kali kalian mau bolos lagi?!” Bentak guru Lee.

Jinwoon menggeleng, “Tidak guru. Kami tidak akan bolos lagi. Kami janji.” Ucap Jinwoon.

“Yang berjanji kau atau kalian?!” Tanya guru Lee dengan suara yang lebih tinggi.

Jinwoon langsung menyikut lengan Jiyeon pelan. Jiyeon mendecak.

“Saya tidak bisa janji, guru. Saya takut jika saya melanggar janji saya. Tapi, guru, saya akan berusaha untuk bolos atau kabur saat jam pelajaran lagi. Saya berusaha.” Ucap Jiyeon panjang lebar.

“Baiklah, kalian tahu hukuman kalian bukan?” Tanya guru Lee.

Mereka mengangguk dan membungkukkan tubuh mereka sebagai pernyataan pamit lalu berlari menuju lapangan sekolah.

Jinwoon dan Jiyeon berlari memuatri lapangan sekolah bersama. Mereka dihukum tapi keduanya masih sangat ceria. Bahkan keceriaan mereka menaklukan terik matahari siang ini.

Tiba-tiba Jiyeonrang siswa yang beramai-ramai menuju lapangan berhenti dengan bola basket di pelukkannya karena melihat dua orang yang sedang berlari di lapangan tersebut. Tidak salah lagi, mereka Jinwoon dan Jiyeon.

“Myungsoo, usir saja mereka.” Suruh salah satu temannya yang ber-name tag, Park Chanyeol.

“Tidak, mereka itu tidak bodoh memutari lapangan di tengah hari.” Ucap Myungsoo.

“Iya, pasti mereka dihukum.” Lanjut Byun Baekhyun, teman mereka.

“Baiklah, ayo kembali ke kelas.” Ajak Chanyeol. Tapi, Myungsoo tidak berkutik dari tempatnya. Dia menatap perempuan yang rambutnya terkuncir rapi yang sedang berlari dan tertawa bersama laki-laki di sebelahnya.

Myungsoo menoleh kanan dan kiri, dia melihat Jiyeonrang perempuan yang menyandarkan tubuhnya ke tiang sambil membaca komik lalu menghampiri perempuan  tersebut.

“Maaf, kalau boleh tahu, dia siapa ya?” Tanya Myungsoo sambil menunjuk ke arah lapangan.

Perempuan itu merespon dan menoleh arah tunjukkan Myungsoo, “Oh, yang laki-laki bernama Jinwoon dan yang perempuan bernama Jiyeon.”

Oh, Jiyeon namanya.

Myungsoo tengah bermain basket bersama kedua temannya, Chanyeol dan Baekhyun. Dia men-dribble bola dengan lincah dan memasukkannya ke dalam ring dengan mudah.

Tapi, ketika Baekhyun melempar bola tersebut ke arah Myungsoo. Myungsoo tidak menangkapnya dan meleset hingga bola tersebut memukul kepala belakang Jiyeonrang perempuan.

“AW!” Erang perempuan tersebut. Myungsoo menoleh ke asal suara dan langsung panik. Myungsoo berlari ke perempuan tersebut.

“Hei, kau terluka?” Myungsoo menepuk bahu perempuan itu. Perempuan itu menoleh ke arah Myungsoo.

Ahhh, rasanya Myungsoo terbang ke langit ke tujuh lalu terhempas ke bumi ketika Myungsoo menatap mata sang perempuan tersebut.

“Ini sakit tapi aku baik-baik saja.” Jawab Jiyeon.

“Serius? Aku minta maaf, seharusnya aku menangkap bola tersebut.”

“Tidak apa. Jinwoon, temani aku ke UKS.” Ajak Jiyeon sambil memegang kepala belakanganya dan menarik lengan Jinwoon.

Tapi, tangan Myungsoo mengangkap lengan Jiyeon.

“Aku yang salah, aku saja yang menemanimu.” Tawar Myungsoo.

“Ta-tapi..”

“Jinwoon-ssi, tidak apakan?”

Jinwoon terdiam. Sebenarnya Jinwoon ingin membalas perkataan orang yang saing baginya itu dengan; kau ini orang asing. Kau punya hak apa?

Ya, sebenarnya ingin seperti itu tapi mau apa? Jinwoon hanyalah sahabat baik Jiyeon, bukan kekasihnya yang mempunyai hak mengekang orang lain untuk dekat dengan Jiyeon.

Lagi pula ini juga salah orang asing–Myungsoo kan?

“Jinwoon–” Kalimat Jiyeon terpotong.

“Boleh, silahkan.” Jinwoon tersenyum sekilas dan menepuk pundak Myungsoo. “Temani Jiyeon sampai pulih, ya?”

Myungsoo mengangguk pelan.

Jinwoon berbaring di atas kasurnya sambil membaca novel yang dia pinjam dari Jiyeon. Tiba-tiba dia mendengar teriakkan namanya dari luar.

“Jinwoon!”

Jinwoon bankgit dari kasurnya dan berjalan ke balkon, dia melihat Jiyeon sedang berdiri dan meneriakkan namanya berkali-kali, “Jinwoon!”

“Iya, aku turun sekarang.” Sahut Jinwoon tampak risih dan Jiyeon hanya tertawa kegelian karena hal itu.

“Kepalamu masih sakit?” Tanya Jinwoon sambil memegang kepala belakang Jiyeon.

“Ah, tidak. Myungsoo menjagaku dengan baik.” Perkataan Jiyeon itu dibuntuti dengan kekehannya.

“Oh, baguslah.” Dengan canggung Jinwoon melepaskan sentuhannya pada kepala Jiyeon.

“Jinwoon-ya, masih ingat janji kemarin?”

“Ya.”

“Aku rasa aku jatuh cinta dengan Myungsoo.”

“Kalian baru kenal bukan?”

“Mungkin cinta pada pandangan pertama?” Tebak Jiyeon.

“Tidak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama.” Balas Jinwoon.

“Jinwoon–”

“Aku ini realistis.”

“Aku jatuh cinta pada Myungsoo.”

Rasanya banyak duri yang tertancap di hati Jinwoon, bukan, di perasaan Jinwoon. Apakah ini yang namanya cemburu? Sepertinya Jinwoon lebih dulu mengetahui apa artinya cemburu dibandingkan cinta.

Jinwoon menutup novel yang dia baca. Setidaknya dia mendapat beberpa kutipan dari novel tersebut yang mampu memotivasi dirinya. Masih ada satu kutipan yang melekat di otak Jinwoon sampai sekarang.

Cemburu muncul karena cinta.

Jinwoon cemburu pada Myungsoo oleh karena dia mencintai Jiyeon? Begitukah?

Jinwoon menanyakan hal ini pada dirinya sendiri sambil meratapi langit-langit kamarnya, “Jadi, aku mencintai Jiyeon?”

END

3 thoughts on “Fall in Love

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s